Anda di halaman 1dari 17

UJIAN TENGAH SEMESTER AGAMA ISLAM Nama NIM Kelas : Rizka Annur Putri : I21111039 : Reguler A Program Studi

Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak 2013

1. Mengapa Allah menciptakan manusia? Allah menciptakan manusia agar mereka beribadah. Allah memberikan pahala yang baik kepada orang yang beribadah, dan menghukum dengan hukuman yang berat bagi orang yang tidak mau beribadah. Abdurrahman bin Nashir as-Sadi berkata ketika menafsirkan ayat ini, Allah mengabarkan tentang kesempurnaan kekuasan-Nya, dan kesempurnaan

kebijaksanaan-Nya. Bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi dengan main-main, siasia, dan hampa tanpa berguna. Allah menciptakan keduanya adalah dengan kebenaran, yaitu penciptaan itu sendiri adalah bentuk kebenaran, dan penciptaan itu sendiri mengandung kebenaran. Dia menciptakan keduanya adalah untuk menyembah-Nya semata, tidak ada sekutu baginya, Dia menciptakan keduanya adalah untuk memberikan perintah kepada hamba-hamba, untuk melarang hamba-hamba, dan untuk memberikan hukuman kepada mereka. (Abdurrahman bin Nashir as-Sadi). Allah menciptakan manusia untuk memberikan balasan atas semua yang kita kerjakan. Allah berfirman:

Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiaptiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak didzalimi. (Qs. AlJaatsiyah[45]: 22) Abdurrahman bin Nashir as-Sadi berkata, Allah menciptakan langit dan bumi dengan bijaksan, supaya hanya Dia yang disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya, kemudian Dia akan menghisab orang-orang yang Dia perintahkan untuk beribadah, memberikan kepada mereka (yang melaksanakan ibadah) kenikmatan lahir dan kenikmatan batin, maka apakah mereka besyukur kepada Allah, apakah mereka melaksakan perintah? Ataukah mereka ingkar, hingga mereka berhak untuk diberi balasan seperti balasan yang diberikan kepada orangorang yang kafir? (Abdurrahman bin Nashir as-Sadi). Ketika kita beribadah berarti kita sudah melaksanakan tujuan hidup, ketika kita sudah melaksanakan tujuan hidup berarti kita sudah mengusahakan diri untuk mendapatkan kenikmatan jasmani dan kenikmatan rohani. Ingatlah kenikmatan jasmani dan kesenangan rohani itu adalah balasan dari pelaksanaan ibadah. Menurut saya, Allah menciptakan manusia agar manusia beribadah kepada-Nya. Allah memerintahkan manusia untuk menetapkan tujuan hidup dan melaksanakan tujuan hidup, agar mereka bisa maju dan bisa berkembang. Perekembangan yang pesat dan kemajuan yang tak terkalahkan adalah perekembangan dan kemajuan yang dicapai dengan pelaksanaan ibadah. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada QS. Adz Dzaariyat ayat 56 yaitu:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu. (Qs. Adz-Dzaariyat[51): 56) 2. Mengapa manusia perlu beragama dan mengapa Anda beragama Islam? Berikut beberapa alasan mengapa manusia memerlukan agama : a. Agama sebagai moral Dapat disimpulkan bahwa pentingnya agama dalam kehidupan disebabkan oleh sangat diperlukannya moral oleh manusia. Agama menjadi moral karena agama mengajarkan iman kepada manusia tengtang Tuhan dan kehidupan akhirat serta karena adanya perintah dan larangan dari agama. b. Agama sebagai petunjuk kebenaran

Allah SWT telah menurunkan nabi dan rsulnya serta telah memberikan wahyu kepada nabi dan rasulnya untuk menyampaikan kebenaran, yaitu kebenaran yang mutlak dan universal. c. Agama sebagai informasi metafisika Sesungguhnya persoalan tentang metafisika hanya Allah lah yang mengetahuinya. Agama dapat menjadi informasi tentang metafisika dan dengan agama dapat diketahu hal-hal yang berkaitan dengan alam barzah, alam akhirat, surga dan neraka, Tuhan dan sifat-Nya serta hal-hal gaib lainnya. Dapat disimpulkan bahwa agama sangat penting bagi manusia karena manusia jika hanya dengan akal, dengan ilmu filsafatnya tidak sanggup menyingkpa rahasia metafisika. d. Agama sebagai pembimbing rohani bagi manusia Rasulullah bersabda, Hendaknya orang yang beriman bersyukur kepada Allah pada saat memperoleh kebahagian dan tetap tabah pada saat mendaptkan musibah. Seorang psikiater, Dr. A.A. Brill mengatakan bahwa Setiap orang yang benar-benar

menjalankan agamanya, tidak bisa terkena penyakit syaraf, yaitu penyakit gelisah dan merasakan kerisauan yang terus menerus. Ada sepuluh alasan mengapa kita beragama Islam, yakni: a. Karena kita ingin hidup di dalam naungan ridha Allah SWT. Sedangkan Allah SWT telah menegaskan di dalam Kitab-Nya bahwa satu-satunya agama yaitu jalan hidup yang diridhai-Nya hanyalah agama Islam. Tidak ada seorangpun Muslim yang pernah membaca ayat di bawah ini kecuali pasti akan menjadikan Islam sebagai satu-satunya pilihan agama yang ia anut. Karena Allah SWT hanya meridhai atau melegalisir agama Islam, bukan agama selain Islam.


Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imran [3] : 19) Ayat di atas bukan saja menegaskan bahwa penganut agama Islam bakal memperoleh ridha dan restu Allah SWT, tetapi secara implisit juga menegaskan bahwa barangsiapa mencari agama selain Islam berarti ia hidup di dunia tanpa keridhaan Allah SWT. Jika Allah SWT tidak ridha kepadanya berarti ia bakal menderita kerugian di akhirat nanti

sebab murka Allah SWT menanti dirinya. Allah SWT telah memberikan begitu banyak nikmat lahir maupun batin kepadanya, namun ia malah tidak bersyukur terhadap nikmat yang paling utama, yaitu hidayah agama Islam. Bukti tidak bersyukurnya ialah dia memilih agama selain Islam yang sesungguhnya menjauhkan dirinya dari ridha Allah SWT.


Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran [3] : 85) b. Kita menganut agama Islam karena ingin hidup seirama dengan gerak alam semesta. Seluruh makhluk di langit maupun di bumi bersikap Islam atau berserah diri, bersujud, tunduk dan patuh kepada Allah SWT . Maka kita tidak ingin memilih irama yang berbeda dengan gerak alam. Kita kaum Muslimin sangat merasa perlu untuk hidup dalam harmoni keserasian dengan alam seluruhnya.

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. AlHajj [22] : 18) c. Kita menganut agama Islam karena ingin dikumpulkan bersama orang-orang terbaik sepanjang zaman. Dari zaman ke zaman, dari negeri ke negeri Allah SWT mengutus para Nabi dan Rasul-Nya untuk menyampaikan pesan Allah SWT bahwa hidup di dunia ini adalah untuk menjalankan misi beribadah kepada Allah SWT semata dan menjauhkan

diri dari musuh-musuh-Nya yaitu parathaghut. Berpihak kepada al-haq (kebenaran) dan tidak berkompromi dengan al-bathil (kebatilan). Para Nabi dan Rasul Allah merupakan manusia-manusia terbaik sepanjang zaman. Kita ingin dikumpulkan bersama mereka kelak di Akhirat nanti. Oleh karena itu kita menganut Islam. Sebab Islam merupakan agama yang telah dianut bahkan diperjuangkan oleh setiap Nabi dan Rasul Allah sepanjang sejarah.

Katakanlah, Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menjadi kaum muslimun (menyerahkan diri). (QS. Ali Imran [3] : 84) d. Kita menganut agama Islam karena ingin mati sebagai Muslim yaitu sebagai orang yang berserah diri kepada Allah SWT. Kita tidak mau mati sebagai seorang yang kafir kepada Allah SW . Demikian pula, kita tidak ingin mati sebagai orang yang berpura-pura atau bermain-main menjadi seorang yang beriman alias menjadi seperti kaum munafik. Begitu pula, kita tidak mau mati dalam keadaan sebagai seorang yang murtad. Mengapa? Karena Allah SWT menyuruh kita untuk tidak mati kecuali dalam keadaan sebagai seorang Muslim.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran [3] : 102) e. Kita menganut agama Islam karena ingin meneladani Nabi Muhammad SAW yang

disebut Allah SWT merupakan rahmat bagi semesta alam. Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya [21] : 107) f. Kita menganut agama Islam karena ingin kehidupan yang baik di dunia dan kehidupan yang jauh lebih baik lagi di akhirat kelak nanti. Sebab seorang Muslim yakin bahwa hidupnya belum berakhir ketika ia meninggal dunia. Ia sangat yakin bahwa kehidupan dunia ini fana dan masih ada kehidupan akhirat yang menantinya. Di Dunia ini ia hanya menjalani kehidupan sementara dan sangat singkat. Sedangkan di Akhirat nanti ia bakal menjalani kehidupan yang abadi dan hakiki. Kesenangan serta penderitaan di dunia merupakan kesenangan dan penderitaan yang artifisial. Sedangkan kesenangan dan derita di Akhirat merupaka n kesenangan dan derita yang sejati. Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl [16] : 97) g. Kita menganut agama Islam karena tidak mau menjadi orang yang berdusta sesudah mengaku beriman. Kita sadar bahwa sekedar berikrar syahadatain tidak serta-merta memastikan diri menjadi seorang yang benar imannya. Bahkan berpeluang masuk ke dalam golongan kaum munafik.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orangorang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang

benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3) h. Kita menganut agama Islam karena menyadari bahwa iman tidak bisa diwarisi dari orangtua atau nenek moyang kita. Iman dan Islam bukanlah perkara yang secara otomatis diwariskan dari orang-tua kepada anak-keturunannya. Menjadi orang beriman harus melalui sebuah perjuangan memelihara iman dan tauhid serta kesungguhan doa kepada Allah SWT agar senantiasa menunjuki kita jalan hidayah dan keselamatan di Dunia dan di Akhirat. Hal ini kita dapati di dalam kisah Nabiyullah Nuh alaihis-salam. Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata, Ya Rabbku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. Allah berfirman, Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepadaKu sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.(QS. Huud [11] : 45-46) i. Kita menganut agama Islam karena faham bahwa zaman yang sedang berlangsung dewasa ini merupakan era penuh fitnah dimana ancaman utama ialah munculnya gejala Murtad Tanpa Sadar. Sehingga Nabi Muhammad SAW menggambarkannya seperti sepenggal malam yang gelap-gulita. Nabi SAW bersabda, Segeralah kalian beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki masih dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki masih dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia. (Hadits Shahih Riwayat Muslim). j. Kita menganut agama Islam karena sadar bahwa saat ini kaum Muslimin sedang hidup di babak keempat perjalanan sejarah ummat Islam. Dan babak ini merupakan The Darkest Ages of The Islamic Era (babak paling kelam dalam sejarah Islam). Di babak ini kaum muslimin hidup di bawah dominasi kepemimpinan mulkan jabbriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan Rasul-Nya). Belum

pernah di dalam sejarah ummat Islam kita mengalami babak yang lebih kelam daripada babak ini. Simak hadits Nabi SAW berikut ini: Masa (1) kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa (2) Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian, selama beberapa masa hingga Allah mengangkatnya, kemudian datang masa (3) Raja-raja yang Menggigitselama beberapa masa, selanjutnya datang masa (4) Raja-raja/para penguasa yang Memaksakan kehendak (diktator) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali (5) Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian. Kemudian Rasul SAW terdiam. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad). Menurut saya, manusia itu perlu beragama karena agama merupakan hal yang penting untuk dianut oleh setiap individu. Beragama merupakan fitrah manusia. Manusia tidak harus dipaksa beragama, namun cukup kembali pada dirinya untuk menyambut suara dan panggilan hatinya, bahwa ada sesuatu yang menciptakan dirinya dan alam sekitarnya. Saya beragama Islam karena selain saya memang terlahir sebagai seorang muslim juga karena Islam adalah agama dengan ajaran yang paling sempurna. Dan sesuai firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran:19 bahwa agama yang diridhai Allah adalah Islam. 3. Apakah tujuan Allah menurunkan wahyu dan mengutus Rasul ke muka bumi? Tujuan Allah menurunkan wahyu adalah sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai pembeda mana yg haq (benar) dan mana bathil (salah). Hal ini sesuai firman Allah yaitu

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS. Al-Baqarah [2] : 2)

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah [2] : 185) Tujuan Allah mengutus Rasul ke muka bumi adalah (Tim Kajian Manhaj Tarbiyah, 2010): a. Allah swt mengutus para rasul as untuk mengenalkan manusia tentang Rabb dan Pencipta mereka serta mendakwahkan mereka untuk beribadah hanya kepada-Nya.

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlaholehmu sekalian akan Aku. (Al-Anbiya (21): 25). b. Kita mengetahui bahwa semua bagian tubuh kita telah diciptakan untuk tujuan dan manfaat tertentu (memiliki hikmah). Mata kita diciptakan dengan tujuan dan tidak diciptakan sia-sia, demikian pula hidung kita, telinga kita, bahkan bagian tubuh paling kecil pun diciptakan dengan manfaat tertentu dan tidak ada yang sia-sia. Maka tidak dapat lagi Kita diragukan bahwa secara

keseluruhan pasti telah diciptakan untuk sebuah hikmah (tujuan) yang jelas dan tidak mungkin diciptakan sia-sia.

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) arsy yang mulia. (Al-Muminun [23]: 115-116). Menurut saya, tujuan Allah menurunkan wahyu dan mengutus Rasul ke muka bumi adalah untuk membenahi apa yang ada di muka bumi ini. Salah satu wahyu Allah yang masih kita amalkan sampai sekarang adalaha Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan mengutus para Rasul-Nya Allah menyampaikan kepada kita jalan hidup yang benar dan bagaimana bersikap dengan baik di muka bumi ini. Hanya melalui wahyu Allah itulah, kita bisa mengetahui bagaimana kita bersikap dan perbuatan apakah yang lebih baik dan lebih sesuai dengan nilai-nilai Al Quran. Hanya melalui wahyunya itulah kita bisa mengetahui perbuatan yang diridhoi oleh Allah dan diganjar dengan pahala tak terbatas, maupun perbuatan yang menyebabkan hukuman dari-Nya. 4. Apakah Allah Maha Adil atau Maha Berkehendak terhadap perbuatan manusia atau nasib manusia? Niat merupakan syarat layak diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat karena Allah. Adapun bukti yang menunjukkan bahwasanya Allah Maha Adil di sini adalah segaimana disebutkan dalam dua hadist di bawah ini : ..Barangsiapa berniat akan berbuat kebaikan tanpa sempat mengerjakannya, maka Allah mencatat untuknya satu kebaikan...(HR. Bukhari Muslim) ..Jika orang berniat melakukan kejahatan, tetapi tidak dikerjakan, maka Allah memberinya satu kebaikan. (HR. Bukhari Muslim) Dari dua hadist tersebut kita tahu betapa Allah Maha Adil. Bagaimana tidak, andai saja jika kita berniat melakukan kejahatan kemudian Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kita satu kejahatan meskipun kita tidak mengerjakannya seperti halnya Allah mencatat satu kebaikan bagi yang berniat berbuat kebaikan meskipun tidak mengerjakannya, bisa dibayangkan berapa kejahatan yang sudah tercatat hanya karena niat buruk kita.

Adalah dalam hal perbuatan yang tentunya tidak terlepas dari catatan Allah Azza wa Jalla lewat dua malaikat-Nya (Rakib Atid) yang senantiasa menemani kita di setiap langkah kita, apapun dan bagaimanapun bentuknya. Barang siapa berbuat kebaikan mendapat sepuluh kali lipat amalnya.. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi). (Al-Anam: 160). ..Apabila orang berniat kebaikan, kemudian dia mengerjakannya, maka Allah mencatat untuknya sepuluh kebaikan atau lebih banyak lagi.(HR. Bukhari Muslim) Jika orang berniat jahat, kemudian dia laksanakan, maka dicatat baginya satu kejahatan. (HR. Bukhari Muslim) Dari ayat dan hadist tadi kita dapat menarik kesimpulan bahwasanya Allah Azza wa Jalla betul-betul Maha Adil. Segala sesuatu tidak dapat terjadi kecuali atas kehendak dan izin Allah. Apapun keinginan manusia, sama sekali tidak dapat direalisasikan, apabila Allah tidak menghendaki dan tidak mengizinkannya. Hal ini dijelaskan secara tegas dalam Al Quran surah At Takwir ayat 29 :


Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S 81:29) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Khatab, ketika itu malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dan bertanya yang artinya Coba ceritakan apa iman itu ?. lalu Rasulullah mnjawab : Iman itu percaya kepada adanya Allah, malikat-Nya, kitab-kitab-Nya , para rasul-Nya, hari kiamat dan percaya kepada takdir baik dan buruknya berasal dari Allah SWT. (HR. Muslim). Kewajiban untuk percaya terhadap takdir telah dijelaskan secara tegas di dalam AlQuran dan hadits Rasulullah SAW. Seorang yang tidak percaya kepada takdir, maka

imannya cacat bahkan dapat mengeluarkannya dari Islam. Surah yangmejelaskan tentang kepercayaan terhadap takdir salah satunya adalah surah Al Qamar ayat 49 :

Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut taqdirnya/ukurannya (QS. AlQamar: 49). Dalam menafsirkan ayat ini Imam Asy-Syuyuti menyatakan : Kepercayaan yang dipegang oleh Ahlus Sunah Wal Jamaah adalah bahwa Allah SWT. Telah mentakdirkan segala sesuatu . artinya telah mengetahui ukuran ,kondisi, peraturan, dan waktunya, jauh sebelum sesuatu itu terjadi. Oleh karena itu tidak ada sesuatu kejadian dilangit dan bumi kecuali seluruhnya muncul dari ilmu, qudrah (kekuasaan) dan iradah (kehendak) Allah SWT. (lihat tafsir Imam Qurthubi juz XVII hal. 148). Makna dari semua ini adalah bahwa Allah SWT telah mengetahui segala sesuatu tentang manusia sebelum ia diciptakan. Dia juga mengetahui ketetapan nasib seseorang didunia ini maupun di akhirat kelak (bahagia atau celaka, sukses atau gagal, kaya atau iskin, umurnya dsb). Pahamilah, pembahasan masalah takdir sebenarnya hanyalah kekuasaan Allah SWT. Takdir merupakan ilmu Allah dan kekhususan bagi-Nya (ilmu Allah mencakup segala sesuatu karena ia memang bersifa Al-Alim) dan mustahil ada sesuatu yang tidak diketahuiNya. Hadits berikut ini menunjukkan wajibnya Iman kepada takdir dan larangan mengingkarinya: Bagi setiap umat akan muncul segolongan manusia yang berperilaku seprti majusi. Orang-orang majusi mengatakan bahwa tidak ada takdir. Jika diantara mereka ada yang meninggal, maka janganlah kalian menghadiri jenazahnya. Jika mereka sakit,janganlah dijenguk,(sebab) mereka adalah (sama dengan) golongan dajjal. Memang pantas ketentuan tersebut,yaitu menghubungkan perilaku mereka yang mirip dengan dajjal, adalah ketentuan yang hak (benar) dari Allah SWT. (HR. Abu Dawud dari Hudzaifah, lihat sunah Abu dawud. Juz, IV hal. 222). Meskipun kita beriman kepada takdir (ilmu) Allah SWT, tetapi janganlah mencampuradukkan antara iman kepada takdir tersebut dengan amal perbuatan manusia, karena keduanya tidak ada hubungan sama sekali. Artinya, Ilmu Allah ( takdir ) tidak pernah memaksa seseorang untuk berbuat sesuatu dan juga tidak pernah memaksa seseorang untuk tidak berbuat sesuatu. Rasuullah SAW. Telah melarang para shahabatnya mencampur adukkan pemahaman takdir dengan amal perbuatan manusia yang dapat menyebabkan manusia tidak mau

berusaha. Harus dipahami bahwa ada perbedaan antara: apa-apa yang harus diyakini dengan apa-apa yang harus dikerjakan. Telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Ali bin Abi Thalib ra. Yang artinya : Rasululah SAW. suatu hari duduk-duduk (bersama para shahabat). Di tangan beliau ada sepotong kayu, lalu dengan kayu tersebut beliau menggores-gores (tanah). lalu nabi mengangkat kepala dan berkata : Setiap kalian yang bernyawa sudah ditetapkan tempatnya di jannah (surga) dan jahannam:, para shahabat (terkejut) lalu bertanya: kalau demikian ya Rasulullah apa gunanya kita beramal ? apakah tidak lebih baik kita bertawakal saja (kepada takdir) ? Beliau menjawab : jangan! tetaplah beramal, setiap orang akan dimudahkan oleh Allah jalan yang sudah ditentukan baginya. Lalu Rasulullah membaca surat Al-Ail ayat 510. (lihat Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawin, juz XVI , hal . 196-197). Sesungguhnya Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan dengan bekal

akal,kekuatan , persiapan tenaga dan ilmu agar ia mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar sebagai standar perbuatannya. Dengan demikian maka secara sukarela manusia akan memilih (tanpa adanyaunsur paksaan) suatu kehendaknya sendiri . karena sesungguhnya takdir hanyalah pemberitahuan tentang ilmu Allah yang sangat luas. meliputi segala sesuatu dari ilmu Allah tersebut tidak pernah memaksa seseorang untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.(lihat Imam Al-Khattabi dalam aqidah sabbiq , hal. 151) Tak ada seorang manusiapun yang tahu apa yang tertulis bagi dirinya di lauhul mahfuzh. Karena tidak bisa di benarkan jika ada seseorang yang berkata: saya berbuat begini karena telah di tuliskan Allah SWT di luhul mahfuz harus berbuat begini. Karena, dari mana ia tahu bahwa Allah telah menuliskan perbuatan tersebut baginya di luhul mafhuz? Sesungguhnya beriman kepada takdir dalam pemahaman yang benar, pasti akan memberikan semangat juang yang luar biasa. Pemahaman yang utuh akan memberikan dorongan yang positif untuk meraih kehidupan yang bahagia yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasulnya dalam garisan syariat islam. Selain itu hal tersebut juga akan memberikan juga ketabahan dan keberanian dalam membela yang hak, berhati baja dalam merealisasikan yang hal-hal yang haq serta menetapi segala kewajiban yang di bebankan kepadanya. Tidak ada istilah lemah dan putus asa dalam kamus orang yang beriman kepada takdir dengan pemahaman yang benar. Ia akan menjadi orang yang bersyukur ketika Islam Sayyid

langkah-langkahnya memberikan keberhasilan/kebaikan dan ia akan menjadi orang yang sabar ketika langkah-langkahya tidak memberikan keberhasilan. 5. Bagaimana proses Allah menciptakan manusia dan mengapa Allah menciptakan manusia lebih sempurna dibandingkan makhluk-makhluk lain? Sejak abad 14 yang lalu, Al Quran telah menegaskan bahwa manusia bukanlah keturunan kera. Manusia pertama (Adam) diciptakan oleh Allah dari tanah. Manusia terdiri dari materi dan roh, diciptakan dari tanah kemudian dari lumpur hitam yang diberi petunjuk kemudian menjadi tanah kering seperti tembikar dan disederhankan bentuknya. Allah meniupkan roh (ciptaan-Nya), maka terjadilah Adam. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Hijr : 28 dan 29 Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat,Sesungguhnya Aku menciptakan seseorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah Kutiupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Dengan penciptaan seperti itu, manusia dibedakan dari seluruh makhluk lainnya. Allah SWT telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna. Hal ini tertuang dalam Al- Quran di Surah At-Tin ayat 4 yaitu Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. 6. Apakah yang dimaksud dengan Al Quran dan apa fungsi Al Quran bagi manusia? Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan bahwa Al-Qur'an adalah Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah. Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas. Menurut saya, Al-Quran merupakan kitab umat Islam yang wajib dibaca dan dipelajari,dan berarti himpunan karena merupakan himpunan firman-firman Allah SWT (wahyu). Menurut istilah, Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang berisi firman-firman

Allah SWT yang diwahyukan dalam bahasa Arab kepada rasul/nabi terakhir Nabi Muhammad SAW, yang membacanya adalah ibadah. Adapun fungsi dari Al-Quran antara lain: a. Sebagai bukti berasal dari Allah SWT. Dan apabila engkau(Muhammad) tidak membacakan satu ayat kepada mereka, mereka berkata, "Mengapa tidak engkau buat sendiri ayat itu?" Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. (Al-Qur`an) ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman". (QS. 7/Al-A`rof: 203). Orang kafir beranggapan bahwa Al-Qur`an itu adalah karangan Nabi Muhammad saw, sehingga apabila wahyu tidak turun, maka mereka meminta kepada beliau untuk mengarang ayat. Tentu saja hal ini merupakan ejekan mereka kepada Nabi Muhammad. b. Sebagai pembenar kitab-kitab suci sebelumnya, yakni Taurat, Zabur, dan Injil. "Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) yaitu Kitab (Al-Qur`an) itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya." (QS. 35/Fathir: 31) c. Sebagai pelajaran dan penerangan. "Al-Qur`an itu tidak lain adalah pelajaran dan kitab yang jelas." (QS. 36/Ya Sin: 69) d. Sebagai pembimbing yang lurus. "Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok, sebagai bimbingan yang lurus.." (QS. 18/ Al-Kahfi: 1-2). Yang dimaksud "Dia tidak menjadikannya bengkok" adalah tidak ada dalam Al-Qur`an makna yang berlawanan dan tidak ada penyimpangan dari kebenaran. e. Sebagai pedoman hidup bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi yang meyakininya. "AlQur`an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini." (QS. 45/Al- Jatsiyah: 20) f. Sebagai peringatan. "Al-Qur`an itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam" (QS. 68/Al-Qolam: 52) g. Sebagai petunjuk dan kabar gembira. "Kami turunkan Kitab (Al- Qur`an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim). (QS. 16/An-Nahl: 89)

h.

Sebagai obat penyakit jiwa. "Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur`an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman". (QS. 10/Yunus: 57)

DAFTAR PUSTAKA Abatasa. 2012. Fungsi Al Quran. http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/tauhid/kitab-kitabislam/787/fungsi-al-quran.html Abdurrahman bin Nashir as-Sadi. Taisiril Karimir Rahman fii Tafsiril Kalamil Manan. Cet. Jamiyatut Turats al-Arabi. Drajat Z., Sadali A., and Feisal A.Y. Dasar-Dasar Agama Islam: Buku Teks Pendidikan Agama Islam Perguruan Tinggi Umum. Bulan Bintang Hidayat, Nur. 1999. Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar. Bandung: Pustaka Setia Mulkhan, Abdul Munir. 1993. Paradigma Intelektual Muslim: Pengantar Pendidikan Islam dan Dakwah. Yogyakarta: Sipress Nasution, Harun. 1996. Islam Rasional. Bandung: Mizan Subhi As-Shalih,2004. Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur'an.Pustaka Firdaus Jakarta Tim Kajian Manhaj Tarbiyah. 2010. Hikmah Diutusnya Para Rasul.

http://www.dakwatuna.com/2010/07/30/6607/hikmah-diutusnya-para-rasul-bagian-ke1/#axzz2SfP3NDEo Yusuf Qardhawi,1997. Madkhal Li Diraasat Li Marifatil Islam Muqawwimatuhu,

Khashaishuhu, Mashadiruhu. Maktabah Wahbah. Kairo