Anda di halaman 1dari 4

Laporan Tugas Mandiri

Nama : Reza Syandika NPM : 1206240013 Referensi : DeVito, J.A. (1997. Komunikasi Antar Manusia, Kuliah Dasar. Alih bahasa oleh Agus Maulana. Jakarta: Profesional Books. Lutfi Fauzan, dkk. 2008. Teknik-Teknik Komunikasi Untuk Konselor. Universitas Negeri Malang. Jalaludin Rakhmat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Peran Persepsi dalam Hubungan Antarpribadi


Persepsi adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Persepsi mungkin saja tidak sesuai dari realitas, namun persepsinya sangat penting karena perilaku individu biasanya didasari oleh persepsinya, bukan oleh realitas itu sendiri. Cara seseorang mempersepsi objek-objek sosial dan kejadian-kejadian bergantung pada unsur sosio budaya di mana dia tumbuh sejak kecil, yang meliputi : Sistem-sistem kepercayaan (belief), nilai (value), sikap (attitude); Pandangan dunia (world view) dan Organisasi sosial (social organization). Proses terbentuknya persepsi terjadi karena adanya stimulus yang merangsang untuk ditangkap oleh panca indra, merangsang dalam arti menarik, kemudian stimulus yang berupa objek tersebut dibawa ke otak dan terjadi adanya kesan atau jawaban (respon) sebagai hasil kerja indra berupa persepsi. Tahap-tahap ini tidaklah saling terpisah benar namun dalam kenyataan ketiganya bersifat kontinyu, bercampur baur dan bertumpah tindih satu dengan yang lain. Tahap tersebut ialah: a. Terjadinya Stimulasi Alat Indra (Sensory Stimulation) Pada tahap pertama alat-alat indra distimulasi (dirangsang), misalnya mendengar suara musik, meskipun kita memiliki kemampuan pengindraan untuk merasakan stimulus, kita tidak selalu menggunakannya. b. Stimulasi Terhadap Alat Indra Diatur.

Pada tahap kedua, rangsangan terhadap alat indra diatur menurut berbagai prinsip. Salah satunya adalah prinsip proksimitas (proximity), atau kemiripan yaitu orang atau pesan yang secara fisik mirip satu sama lain dipersepsikan bersama-sama, atau sebagai satu kesatuan (unit). Prinsip yang lain yaitu kelengkapan (closure), kita memandang atau mempersepsikan suatu gambar atau pesan yang dalam kenyataannya tidak lengkap sebagai gambar atau pesan yang lengkap. c. Stimulasi Alat Indra Ditafsirkan-Dievaluasi. Langkah ketiga dalam perceptual adalah penafsiran-evaluasi. Langkah ketiga ini merupakan proses subyektif yang melibatkan evaluasi di pihak penerima. Penafsiran-evaluasi kita tidak semata-mata didasarkan pada rangsangan luar, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kebutuhan, keinginan, sistem nilai, keyakinan tentang seharusnya, keadaan fisik dan emosi pada saat itu, dan sebagainya yang ada pada kita.

Terdapat 6 proses utama yang mempengaruhi persepsi yaitu Teori kepribadian implisit (implicit personality theory), ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy), aksentuasi perseptual (perceptual accentuation), primasi resensi (primacy-recency), konseisten (consistency), dan setereotiping (stereotyping).

Efektivitas komunikasi dan hubungan bergantung sebagian besar pada keakuratan kita dalam persepsi antarpribadi. Kita dapat meningkatkan akurasi kita dengan startegi untuk mengurangi ketidakpastian. Asumsi umum yang digunakan di sini ialah bahwa komunikasi merupakan proses bertahap gradual di mana orang saling mengurangi ketidakpastian tentang yang lain. Dengan tiap-tiap interaksi anda semakin mengenal pihak lain dan secara beranggsur-angsur mulai mengenal orang itu pada tingkat yang lebih bermakna.

Ada tingkatan-tingkatan/tahapan yang ada dalam persepsi interpersonal yaitu perangsangan, pengaturan (organisasi), interpretasi dan evaluasi, memory, dan daya ingat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu sebagai berikut : a. Karakteristik dari individu yang mempersepsi : 1. Sifat Kepribadian; Orang cenderung berasumsi bahwa orang lain akan berperilaku sama dengan dirinya. 2. Pengalaman Masa Lalu; Orang cenderung memindahkan pengalaman masa lalu ke dalam situasi baru yang

dihadapinya. 3. Keadaan Emosi Sementara; Keadaan emosi seseorang pada saat pertama kali berjumpa akan mempengaruhi kesan terhadap dirinya. 4. Peran yang dipegang; Jabatan atau fungsi yang kita pegang sering kali mempengaruhi cara kita melihat orang lain.

b. karakteristik dari target : 1. Ciri Fisik;Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang rupanya baik akan dinilai memiliki kesan yang berbeda (lebih menarik) dibandingkan dengan orang yang rupanya jelek. 2. Jenis Kelamin;Ada semacam stereotip bahwa Wanitabersifat emosional, kurang rasional, kurang mandiri, mudah menangis dan teliti dalam bekerja, sedangkan Prialebih mandiri, tidak mudah menangis dan lebih rasional. 3. Asal Suku;Kesan yang kurang positif tentang orang dari suku tertentu, akan menyebabkan kita kurang antusias membuat hubungan dengan orang dari suku tersebut. 4. U s i a; Orang yang sudah tua dianggap lebih matang kepribadiannya daripada orang yang masih muda. c. Situasi : 1. Konteks Fisik; Ruang, Meja Kerja, Penerangan, dll. 2. Konteks Sosial;Status sosial ekonomi, Jabatan, Prestise, dll Persepsi memiliki beberapa peran diantaranya 1. Menilai suatu keadaan dan mengenali apa yang tengah kita amati 2. Bertindak sesuai dengan rangsangan yang tertangkap oleh indra

Persepsi yang merupakan bentuk hasil berpikir bisa saja berbeda antara orang satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini biasanya disebabkan oleh perbedaan pengalaman yang pernah dirasakan setiap orang. Misalnya saja bagi si A ketika melihat temannya tertunduk sambil memegang kepala sudah menunjukkan bahwa teman tersebut pusing. Tapi berbeda dengan si B yang memendang bahwa teman tersebut sedang berpikir keras. Perbedaan persepsi ini akan berdampak pada perbedaan perlakuan yang akan kita tunjukkan atau respon kita. Selain hal ini dampak lain misalnya timbulnya konflik karena perbedaan respon.

Di samping menghindari hambatan-hambatan potensial dalam berbagai proses persepsi yang di kemukakan sebelumnya dan menerapkan ketiga strategi untuk mengurangi ketidakpastian serta menyelaraskan persepsi. Beberapa saran yang akan membantu : 1. Sebaiknya kita mencarilah berbagi petunjuk yang menunjuk kearah yang sama. Makin banyak petunjuk perceptual yang menuju ke arah yang sama, makin besar kemungkinan kesimpulan kita benar 2. Berdasarkan pengamatan kita atas perilaku, maka dapat kita rumuskan hipotesis 3. memperhatikan petunjuk-petunjuk yang kontradiktif, petunjuk yang akan menolak hipotesis awal 4. Jangan menarik kesimpulan sampai kita memiliki kesempatan untuk memproses beragam petunjuk 5. Ingat bahwa betapa pun banyaknya perilaku yang kita amati dan betapa pun cermatnya kita meneliti perilaku ini, kita hanya dapat menduga apa yang ada dalam benak orang lain 6. Jangan menganggap orang lain seperti kita, berpikir seperti cara kita berpikir atau bertindak seperti yang kita lakukan, menyadari keragaman manusia 7. Waspada terhadap bias kita sendiri sebagai contoh hanya menerima hal-hal positif pada diri orang yang anda sukai dan hanya menerima hal-hal yang negative pada diri orang yang tidak kita sukai.