Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sebagian besar manusia memilih gaya hidup yang cepat, dengan kondisi yang serba cepat itu kebanyakan manusia sering salah pilih dalam hal ini adalah masalah makanan, namun tidak sebatas itu. Orang sering mengabaikan akan kebutuhan nutrisi tubuhnya, apalagi jaman sekarang orang lebih jarang senang mengkonsumsi makanan sayuran, padahal sayuran itu penting dalam tubuh, salah satunya adalah sebagai penghasil kandungan unsur besi yang terdapat pada sayuran itu. Jika seseorang kurang akan hal itu bisa mengakibatkan terjadinya penyakit yaitu penyakit anemia. Penyebab besar timbulnya penyakit anemia itu adalah kurangnya unsur besi dalam asupan makanan atau terjadinya kehilangan darah atau mengalami perdarahan dalam tubuh dua hal yang menjadi penyebab utama kasus anemia. Studi ini dilakukan mulai tahun 2001 sampai 2004.

B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu sebagai berikut : 1. Apa pengertian Anemia? 2. Apa penyebab/etiologi dari Anemia? 3. Bagaimana patofisiologi/pathway Anemia? 4. Apa tanda dan gejala Anemia? 5. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk Anemia? 6. Bagaimana penatalaksanaan pada Anemia? 7. Bagaimana asuhan keperawatan untuk klien Anemia?

C. Tujuan Memperoleh penjelasan mengenai penyakit Anemia dalam hal pengertian, tanda gejala, penyebab, patofisiologi, penatalaksanaan dan yang terpenting adalah asuhan keperawatan.

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935). Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah, kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price, 2006 : 256).

B. Etiologi Anemia dapat dibedakan menurut mekanisme kelainan pembentukan, kerusakan atau kehilangan sel-sel darah merah serta penyebabnya. Penyebab anemia antara lain sebagai berikut: a. Anemia pasca perdarahan: akibat perdarahan massif seperti kecelakaan, operasi dan persalinan dengan perdarahan atau perdarahan menahun: cacingan. b. Anemia defisiensi: kekurangan bahan baku pembuat sel darah. Bisa karena intake kurang, absorbsi kurang, sintesis kurang, keperluan yang bertambah. c. Anemia hemolitik: terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan. Karena faktor intrasel: talasemia, hemoglobinopatie, dll. Sedang faktor ekstrasel: intoksikasi, infeksimalaria, reaksi hemolitik transfusi darah. d. Anemia aplastik disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang (kerusakan sumsum tulang).

C. Manifestasi klinis 1. Tanda-tanda umum anemia: a. pucat, b. tacicardi, c. bising sistolik anorganik, d. bising karotis, e. pembesaran jantung.

2. Manifestasi khusus pada anemia: a. Anemia pasca perdarahan: ptekie, ekimosis, epistaksis, ulserasi oral, infeksi bakteri, demam, anemis, pucat, lelah, takikardi. b. Anemia defisiensi: konjungtiva pucat (Hb 6-10 gr/dl), telapak tangan pucat (Hb < 8 gr/dl), iritabilitas, anoreksia, takikardi, murmur sistolik, letargi, tidur meningkat, kehilangan minat bermain atau aktivitas bermain. Anak tampak lemas, sering berdebar-debar, lekas lelah, pucat, sakit kepala, anak tak tampak sakit, tampak pucat pada mukosa bibir, farink,telapak tangan dan dasar kuku. Jantung agak membesar dan terdengar bising sistolik yang fungsional. c. Anemia aplastik : ikterus, hepatosplenomegali.

D. Patofisiologi

Produksi SDM sumsum tulang terganggu atau SDM yang terbentuk rusak/hilang. Kapasitas sel-sel pembawa oksigen berkurang yang dipengaruhi oleh invasi sel-sel tumor, racun, obat-obatan/bahan kimia. Kurang nutrisi pembentuk SDM dan zat besi asam folik, B12 atau kekurangan exytroprotein akibat penyakit ginjal. SDM dapat dirusak juga oleh sel-sel pagosit pada RES (Retikulo Endotel Sistem) dalam hati dan lien. SDM rusak/pecah terbentuk bilirubin yang masuk aliran darah. Billirubin diekskresikan melalui kulit kuning Kehilangan darah 1000 ml atau lebih hilangnya beberapa struktur darah yang akut. Kehilangan darah 30 % atau lebih diaphoresisi, gelisah, takikardi, nafas tersengalsengal, shock. HYPOXIA Tubuh mengadakan kompensasi Cardiac output < pernafasan meningkat untuk memperbanyak jumlah oksigen ke jaringan Meningkatkan pelepasan oksigen oleh hemoglobin Meningkatkan volume plasma dengan cara mengeluarkan cairan dari jaringan Distribusi ulang darah ke organ-organ vital

Cerebral Hypoxia

Hypoxia kronis

Gangguan mental Mengantuk, sulit konsentrasi Sakit kepala Pusing Finitas

Gejala GIT

Anoreksia Nausea Konstipasi/diare Stematitis

E. Pathway

F. Komplikasi Komplikasi umum akibat anemia adalah 1. Gagal jantung, 2. Parestisia dan 3. Kejang.
4. Anemia juga menyebabkan daya tahan tubuh berkurang. Akibatnya, penderita

anemia akan mudah terkena infeksi. Gampang batuk-pilek, gampang flu, atau gampang terkena infeksi saluran napas, jantung juga menjadi gampang lelah, karena harus memompa darah lebih kuat. Pada kasus ibu hamil dengan anemia, jika lambat ditangani dan berkelanjutan dapat menyebabkan kematian, dan berisiko bagi janin.

G. Pemeriksaan penunjang 1. Kadar Hb. Kadar Hb <10g/dl. Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata < 32% (normal: 3237%), leukosit dan trombosit normal, serum iron merendah, iron binding capacity meningkat. 2. Kelainan laborat sederhana untuk masing-masing tipe anemia : b. Anemia defisiensi asam folat : makro/megalositosis c. Anemia hemolitik : retikulosit meninggi, bilirubin indirek dan urobilinuria. d. Anemia aplastik : trombositopeni, granulositopeni, pansitopenia, sel patologik darah tepi ditemukan pada anemia aplastik karena keganasan. H. Penatalaksanaan 1. Anemia pasca perdarahan: transfusi darah. Pilihan kedua: plasma ekspander atau plasma substitute. Pada keadaan darurat bisa diberikan infus IV 2. Anemia defisiensi: makanan adekuat, diberikan SF 3x10mg/kg BB/hari. Transfusi darah hanya diberikan pada Hb <5 gr/dl. 3. Anemia aplastik: prednison dan testosteron, transfusi darah, pengobatan infeksi sekunder, makanan dan istirahat. total naik,

ASUHAN KEPERAWATAN
I. Asuhan keperawatan Naskah kasus Nn. A (20 tahun) dirawat di RS karena mengeluh badan terasa sangat lemas, pandangan mata berkunang-kunang, kepala pusing, gemetar, akral dingin, sulit berkonsentrasi, wajah pucat, konjungtiva anemis, Hb 6gr/dl, albumin 1,8 gr/dl, klien mengatakan sedang menjalani progam diet untuk menurunkan berat badannya, pantang makan nasi dan minuman manis, TD 80/60 mmhg, N 68x/menit, RR 30x/menit, TB 150cm, BB sebelum sakit 60 kg, saat dikaji 55kg

1. Data Subjektif a. Identitas pasien Nama Umur : Nn. A : 20 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Gombong

b. Keluhan Utama Klien mengatakan lemas c. Riwayat Kesehatan 1) Riwayat Kesehatan sekarang Kilen mengeluh badan terasa sangat lemas, pandangan mata berkunangkunang, kepala pusing, gemetar, akral dingin, sulit berkonsentrasi, wajah pucat, konjungtiva anemis, Hb 6gr/dl, albumin 1,8 gr/dl, klien mengatakan sedang menjalani progam diet untuk menurunkan berat badannya, pantang makan nasi dan minuman manis, TD 80/60 mmhg, N 68x/menit, RR 30x/menit, TB 150cm, BB sebelum sakit 60 kg, saat dikaji 55kg 2) Riwayat kesehatan dahulu Klien mengatakan belum pernah mengalami sakit yang sama dan belum pernah dirawat dirumah sakit 3) Riwayat kesehatan keluarga

Klien mengatakan bahwa dalam riwayat keluarganya tidak ada yang mempunyai penyakit menurun dan menular

d. Fokus Pola Fungsional Virginia Handersoon 1) Pola pernafasan Sebelum sakit : klien mengatakan bernafas dengan normal dan tidak mengalami gangguan penafasaan Saat dikaji 2) Pola Aktivitas Sebelum sakit: klien mengatakan dapat beraktifitas dengan mandiri Saat dikaji : klien mengatakan lemas dan gemetar 3) Pola Nutrisi Sebelum sakit: klien makan 3 kali sehari dengan nasi, lauk sayur, minum 4 gelas perhari. Saat dikaji: klien mengatakan 1 hari minum 4 gelas perhari 4) Pola Eliminasi Sebelum sakit: klien mengatakan BAB 1x sehari, warna kuning, lunak Saat dikaji: klien mengatakan BAB 1x sehari, Bak 1-3x sehari 5) Pola aman nyaman Sebelum sakit: klien mengatakan sebelum sakit merasa nyaman saat bersama keluarganya. Saat dikaji: klien mengatakan tidak nyaman karena merasakan begitu lemas 2. Data Obyektif a. Keadaan umum b. Kesadaran : Cukup : Compos mentis : klien mengatakan sesak nafas RR : 30x/menit

c. Tanda-tanda vital : TD 80/60 mmHg RR: 30x/menit Suhu: 34C Nadi: 68x/menit

d. Pemeriksaan fisik

1) Kepala: Tidak terdapat hematom, tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan 2) Dada I P P A : Simetris antara kanan dan kiri, tidak ada lesi : Tidak ada nyeri tekan : Sonor : Tidak terdapat bunyi tambahan

3) Abdomen I A P P : Simetris tidak ada udema : Bissing usus normal : tidak ada benjolan : Thympani

4) Kulit 5) Rambut 6) Mulut 7) Mata 8) Leher 9) Ekstermitas 10) Genitalia

: Wajah pucat/syanosis : Rambut tampak kotor : Mukosa bibir kering : Konjungtiva anemis : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid : Lengkap, tidak ada udema :Tidak ada hemoroid

3. Pemeriksaan penunjang Didapatkan hasil laboratorium : Pemeriksaan Hemoglobin Hasil 6 Normal Lkd: 14-18 Prd: 12-16 Albumin 1,8 3,8-5,1 Mg/dl /mm3 Satuan Mg/dl

Eritrosit

1,3

Lk:4,6-6,2 Pr: 4,2-5,4

Hematokrit

30

lk:40-58, pr: 37-43

/0

4. Analisa Data No 1. Data focus Ds: Pasien mengatakan pandangan mata berkunang kunang, kepala pusing, gemetar. Do: Wajah pucat, konjungtiva anemis, Hb 6 gr/dl, Albumin 1,8 gr/dl Masalah Etiologi Gangguan perfusi penurunan jaringan perifer komponen seluler pengangkut gangguan pengikatan oksigen hemoglobin oleh O2,

2.

Ds: Pasien mengeluh badan terasa sangat lemas Do: Berbaring ditempat tidur, Tekanan darah 80/60, Nadi 68 x/menit, RR 30 X/menit

Intoleransi aktivitas

Ketidakseimbanga n suplai dan kebutuhan O2

3.

Ds: Pasien mengatakan sedang mejalani program diit untuk menurunkan berat badannya. Do: A: Berat badan sebelum sakit 60 saat dikaji 55 B: Hb 6 gr/dl, Albumin 1,8 gr/dl C: Wajah pucat, konjungtiva anemis

Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh

Pembatasan pola makan,/gangguan pencernaan

D: Pantang makan nasi

4.

Ds: Klien selalu menanyakan Devisit penyebab penyakitnya dan pengetahuan kapan ia bisa sembuh.

Kurang informasi

Do: Pasien nampak lemas Pasien kurang bersemangan

Diagnosa keperawatan Gangguan perfusi jaringan perifer b.d penurunan komponen seluler pengangkut O2, gangguan pengikatan oksigen oleh hemoglobin Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan O2 Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan pencernaan atau ketidakmampuan mencerna/menyerap nutrisi yang penting dalam pembentukan SDM normal Devisit pengetahuan b.d kurang informasi

5. Intervensi No 1. Diagnosa keperawatan, NOC Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan masalah Gangguan perfusi jaringan perifer teratasi dengan kriteria hasil
-

Intervensi/NIC - Memonitor tanda-tanda vital, pengisian kapiler, wama kulit, membran mukosa. Observasi adanya

a. Perfusi jaringan adekuat b. O2 Adekuat

keterlambatan respon verbal, kebingungan, atau gelisah


-

Mengobservasi dan mendokumentasikan adanya rasa dingin.

Mempertahankan suhu lingkungan agar tetap hangat sesuai kebutuhan tubuh.

Memberikan oksigen sesuai kebutuhan.

2.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam masalah intoleransi aktivitas teratasi dengan kriteria hasil Activity Tolerance (0005) a. Tanda tanda vital setelah beraktivitas dalam rentan normal TD : 120/80 mmHg Nadi : 60-80 x/menit RR : 16-24 x/menit b. Mampu melakukan aktifitas secara mandiri

Energy Management (0180) Monitor intake nutrisi untuk memastikan sumber energy adekuat Kurangi ketidaknyamanan fisik yang dapat menggangu fungsi kognitif dan aktifitas Batasi stimulus lingkungan seperti cahaya dan bising untuk meningkatkan istirahat Batasi pengunjung Anjurkan untuk bedrest Kolaborasi dengan

diberikan therapy fisik untuk membantu

peningkatan

level

aktivitas dan kekuatan

3.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam masalah Kurang nutrisi teratasi dengan kriteria hasil a. Albumin serum 3,8-5,1 b. Hematokrit. lk:40-58, pr: 37-43 c. Hemoglobin lk: 14-18, pr:12-16

Kaji

adanya

alergi

makanan Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah nutrisi dibutuhkan pasien Yakinkan diet yang kalori dan yang

dimakan mengandung tinggi serat untuk

mencegah konstipasi Ajarkan bagaimana catatan harian. Monitor penurunan gula darah Monitor lingkungan adanya BB dan pasien membuat makanan

selama makan Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak

selama jam makan Monitor turgor kulit Monitor kekeringan,

rambut kusam, total

protein, Hb dan kadar Ht Monitor muntah Monitor kemerahan, kekeringan konjungtiva Monitor intake nuntrisi Informasikan klien dan pada keluarga pucat, dan jaringan mual dan

tentang manfaat nutrisi Kolaborasi dokter kebutuhan dengan tentang suplemen

makanan seperti NGT/ TPN sehingga intake cairan yang adekuat dapat dipertahankan.

4.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam masalah deficit pengetahuan teratasi dengan kriteria hasil a. Mampu mendeskripsikan dan menjelaskan kembali apa yang telah dijelaskan oleh perawat atau tim medis. b. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang telah dijelaskan secara baik dan benar

Mengkaji pengetahuan

tingkat pasien

tentang penyakit dan pengobatan Menjelaskan penyebab penyakitnya pada klien Menjelaskan pemeriksaan pengobatan Memberikan pendidikan kesehatan tujuan dan

yang

berhubungan

dengan anemia.

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Anemia merupakan Suatu kondisi rendahnya kadar Hb dibandingkan dengan kadar normal, yang menunjukkan kurangnya jumlah sel darah merah yang bersirkulasi. Akibatnya jumlah oksigen yang diangkut ke jaringan tubuh berkurang. Diagnosa yang muncul pada kasus di atas adalah : 1. Gangguan perfusi jaringan perifer b.d penurunan komponen seluler pengangkut O2, gangguan pengikatan oksigen oleh hemoglobin 2. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan O2 3. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan pencernaan atau ketidakmampuan mencerna/menyerap nutrisi yang penting dalam pembentukan SDM normal 4. Devisit pengetahuan b.d kurang informasi

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta, EGC.