Anda di halaman 1dari 10

EKSISTENSI CETI K DALAM USADA BALI

DI DESA PAKRAMAN PAYANGAN, MARGA, TABANAN


(KAJIAN FILOSOFI HINDU)

OLEH:
I MADE ADI PURNA JAYA
Adipurna91@yahoo.com
INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI DENPASAR
Pembimbing I
Made Sri P. Purnamawati, S.Ag., M.A., M.Erg
Pembimbing II
I Gusti PT. Gede Widiana, S.Fil., M.A
ABSTRAK
Cetik adalah istilah bahasa Bali yang sering digunakan untuk menyebutkan racun yang
khas di Bali. Cetik adalah sejenis racun khas Bali, yang digunakan untuk "mencelakai"orang lain.
Cetik juga dalam persepsi masyarakat Bali tidak hanya sebagai racun, namun juga sebagai salah
satu sarana untuk membunuh orang lain yang juga didukung dengan kekuatan gaib dan mantra-
mantra. Dalam penelitian ini dirumuskan suatu permasalahan yaitu (1) Bagaimana Cetik dalam
perspektif filsafat Hindu. (2) Apa sajakah yang termasuk dalam golongan jenis-jenis Cetik di
Desa Pakraman Payangan, Marga, Tabanan .(3) Bagaimana cara menanggulangi Cetik sesuai
dengan Usada Bali di Desa Pakraman Payangan, Marga, Tabanan.
Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) Untuk mengetahui Eksistensi Cetik dalam perspektif
Filsafat Hindu, (2). Untuk mengetahui racun apa saja yang masuk dalam golongan jenis-jenis
Cetik di Desa Pakraman Payangan, Marga, Tabanan,(3) Untuk mengetahui cara menanggulangi
Cetik dalam Usada Bali di Desa Pakraman Payangan, Marga, Tabanan (Kajian Filosofi Hindu).
Penelitian ini menggunakanpendekatan kualitatif dengan teori yang digunakan yakni teori
animisme, teori simbol, teori religi. Data yang dipakai dalam karya ilmiah ini adalah data primer
yang bersumber dari lapangan dan data skunder yang bersumber dari pustaka, sehingga data
dikumpulkan melalui metode observasi, wawancara, dokumentasi, kepustakaan, analisis data.
Penelitian ini dapat dikemukakan hasilnya sebagai berikut : (1) Cetik dalam perspektif
filsafat Hindu, keterkaitan cetik dengan filsafat Hindu terdapat dari cara memperolehnya. Dalam
filsafat Hindu suatu pengetahuan dapat diperoleh dari pengamatan langsung maupun secara tidak
langsung. Begitu juga dalam ilmu cetik, jika dikaji dari cara penanggulangannya dapat dilakukan
secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara langsung dapat diperoleh dengan berobat
kepada balian dan secara tidak langsung dapat dengan mapakeling ke hadapan Ida Sang Hyang
Widi Wasa, (2) Golongan jenis-jenis Cetik di Desa Pakraman Payangan, Marga, Tabanan yakni
Cetik Warangan, Cetik Kerawang, dan Cetik Grinsing.(3) cara menanggulangi Cetik dalam
Usada Bali di Desa Pakraman Payangan, Marga, Tabanan. Pengobatannya dengan
menggunakan,sesikepan, mirah, serta mempercayai intuisi (kleteg bayu) yang didukung dengan
keyakinan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kata kunci: Cetik, Usada Bali, Filosofis Hindu.

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Agama Hindu di Bali merupakan unsur-unsur aliran Siwa, Waisnawa dan Brahma dengan
kepercayaan lokal (local genius) orang di Bali.
Bali dan dunia gaib, seakan satu paduan yang tidak dapat dipisahkan. Bali merupakan salah
satu daerah yang memang terkenal akan sangat kentalnya pengaruh budaya dalam setiap
pelaksanaan ritual keagamaannya.
Aktifitas spiritual yang bernuansa mistis, upacara dan persembahan telah menempatkan
pulau ini dipandang unik dimata dunia.
Kepercayaan masyarakat Bali terhadap hal-hal magic masih sangat dapat dirasakan, terutama
terhadap hal yang disebut dengan alam sekala (tampak) dan niskala (tidak tampak). Oleh
karena kentalnya aura mistis di Bali, kisah-kisah kematian atau sakit yang tidak
tersembuhkan selalu dikait-kaitkan dengan Cetik. Cetik adalah bahasa Bali yang sering
digunakan untuk menyebutkan istilah sebuah racun khas Bali.
Selain itu juga tujuan penulis membahas topik ini adalah untuk meminimalkan keresahan
masyarakat dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana Cetik dalam perspektif filsafat Hindu ?
2. Apa sajakah yang termasuk dalam golongan jenis-jenis Cetik di Desa Pakraman
Payangan, Marga, Tabanan ?
3. Bagaimana cara menanggulangi Cetik sesuai dengan Usada Bali di Desa Pakraman
Payangan, Marga, Tabanan ?
TEORI
Teori Animisme (E.B Taylor) : yang membahas tentang keberadaan suatu benda yang tidak
terlihat tapi keberadaannya diyakini ada . Teori ini membantu untuk membedah masalah
tentang cetik dalam Perspektif Filsafat Hindu.
Teori Simbol (Titib) : untuk menggambarkan sesuatu yang in material, abstrak, suatu ide,
kwalitas, tanda-tanda suatu objek, proses dan lain-lain. Teori ini berkontribusi dalam
membedah permasalahan jenis-jenis racun yang tergolong ke dalam cetik.
Teori Religi (Koentjaraningrat) : yang menerangkan azas religi pada berbagai suku bangsa
di dunia. Teori ini sangat membantu penulis dalam memecahkan permasalahan yang dapat
digunakan sebagai sebuah pendekatan cara menanggulangi cetik sesuai dengan Usadha Bali.
Model penelitian :
Model penelitian adalah sintesis atau abstraksi yang dirumuskan berdasarkan teori-teori
terpilih dengan masalah penelitian. Dengan kata lain model penelitian yang dibuat dalam bentuk
diagram merupakan kerangka pikir yang memuat arah yang jelas dari tema atau objek yang
dibahas. Secara skematis atau diagramatis model penelitian ini dapat digambarkan di bawah ini:



















Keterangan :
: Hubungan langsung satu arah.
Keterangan bagan :
Agama Hindu adalah agama yang penuh dengan simbol-simbol.
Weda adalah kitab suci yang mencakup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh
manusia, yang juga dibagi menjadi Weda Sruti dan Smerti.
Wedangga adalah sumber buku untuk mempelajari dan mendalami mantra-mantra Weda.
Sedangkan Upaweda adalah kelompok kedua yang sama pentingnya dengan Wedangga.
Ayurweda adalah ilmu yang mengajarkan tentang kesehatan dan teknik-teknik penyembuhan,
dan Usadha Bali merupakan salah satu bagiannya.
Cetik adalah racun khas Bali.
Seradha bhakti, diharapkan dapat lebih meningkat setelah lebih memahami tentang cetik dan
Usadha Bali sebagai salah satu cara menanggulangi cetik
AGAMA HINDU
WEDA
SRUTI
SMERTI
WEDANGGA
UPAWEDA
AYURWEDA
USADA BALI
PERSPEKTIF
FILSAFAT HINDU
CETIK
JENIS-JENIS
CETIK
CARA
MENANGGULANGI
SRADHA BHAKTI
METODE
Rancangan Penelitian : Kualitatif, merupakan jenis penelitian yang jenis temuannya
tidak melalui prosedur statistik atau hitung-hitungan (Strauss & Corbin). Penelitian kualitatif
pada umumnya bertujuan mengembangkan konsep atau pemahaman terhadap suatu fenomena,
dalam hal ini tentang eksistensi cetik dalam Usadha Bali.
Jenis dan Sumber Data
Data Primer :
data asli yang kebenarannya dapat diyakini dan dipertanggungjawabkan
Data Skunder :
data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan

Teknik Penentuan Informan :
Subyek penelitian adalah orang-orang yang mengetahui seluk beluk tentang ritual dan spiritual
serta perkembangan secara spesifik tentang keunikan racun khas Bali (Cetik)
Teknik Pengumpulan Data
Teknik Observasi:
Hasil pengamatan baik manual atau perekaman VCD dijadikan ilustrasi yang dapat
mempertajam analisis terhadap berbagai gejala yang tampak
Teknik wawancara:
Wawancara dilaksanakan dengan beberapa informan yang dianggap mengetahui objek
penelitian serta dapat dipercayai kebenarannya . Dilakukan dengan percakapan langsung dan
tatap muka (face to face)
Teknik dokumentasi:
Pengumpulan data dengan mengamati dan menganalisa dokumen yang ada sebelumnya baik
dalam berupa gambar, diagram, maupun foto-foto (Muleong, 1988).
Metode Analisis Data
Analisis Deskriptif :
adalah prosedur pemecahan masalah yang menggambarkan atau melukiskan keadaan objek
penelitian pada saat sekarang, yang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana
mestinya.
Analisis Kualitatif :
adalah metode yang menggunakan cara mengamati, memahami, dan mentafsirkan setiap fakta-
fakta atau hipotesa.
HASIL PENELITIAN
Tidak semua balian mau mengungkapkan bahan cetik tersebut, kebanyakan masih
enggan mengungkapkan dengan menyatakan tidak mengetahui. Ada sebuah sumber yang dapat
diproleh, berisikan beberapa bahan atau komposisi untuk membuat cetik tersebut, yakni:
No Nama Cetik Komposisi bahan
1 Gringsing Yuyu gringsing, semacam gurita yang
berwarna merah. Yuyu ini dimasukkan ke
dalam botol, disimpan dalam tanah selama
enam bulan. Minyak yang keluar inilah
yang digunakan sebagai cetik ditambah
dengan minyak untuk menambah
volumenya
2 Krawang Kerikan gong gangsa yang dicampur
dengan medang tiing gading dan
medang tiing buluh [medang=bulu halus
pada bambu]
3 Buntek Usus ikan buntek
4 Sigar mangsi Lateng layar dilaut
5 Jinten Tulang manusia
6 Badung Air yang keluar dari orang yang telah
meninggal (banyeh) didiamkan, ambil
bagian beninga dengan kapas, lalu ditaruh
dipertigaan desa, kemudian disebut nama
atau tempat tinggal orang yang ingin
disakiti dengan matra-mantra tertentu.


Secara umum dapat dilihat peredaran jumlah cetik khususnya di masyarakat Bali sangat
banyak, dengan pengkajian yang mendalam tentang cetik ini, dapat terungkap sejak jaman nenek
moyang telah sangat terbiasa menggunakan dan mengembangkan cetik sehingga memiliki jenis
yang sangat beraneka ragam. Adapun jumlah cetik yang sangat beraneka ragam, hanya beberapa
jenis saja yang pernah diketahui serta dirasakan keberadaannya di Desa Pakraman Payangan
sesuai dengan hasil wawancara dan penelusuran bersama beberapa Balian, segenap warga, tokoh
masyarakat serta staf desa yang dilakukan pada tanggal 12-20 Februari 2013,yakni mengarah
kepada jenis cetik berikut:
1. Cetik Warangan
Jika seseorang terkena cetik jenis ini maka si penderita akan mengalami ciri-ciri,
penyakitnya mata merah, serta pada kukunya terlihat seperti tergores darah (bintik putih pada
kuku) serta dibarengi dengan muntah darah, dan berak darah.
Sarana yang digunakan untuk mengobati disarankan dengan minyak cukli ditambah
dengan minyak lungsir serta tiga irisan kunyit, air hangat dan setelah semua bahan ini dicampur
untuk diminum oleh penderita
Sesuai dengan hasil wawancara bersama Budiasa selaku sekretaris Desa Payangan,
menyatakan bahwa dulunya cetik jenis ini sering digunakan oleh masyarakat Desa Pakraman
Payangan untuk menyakiti seseorang dan juga ditambahkan olehnya cetik ini biasa diperoleh
dengan cara dibeli dari luar wilayah Payangan.
(Sumber: Budhi, 1990: 16)



2. Cetik Kerawang
Efek yang ditimbulkan jika seseorang terkena cetik jenis ini diantaranya penderita
mulai mengalami batuk-batuk, sesak hingga muntah darah.
Beberapa bahan yang disarankan jika terkena cetik jenis ini dan dirasakan telah menjadi
akut, seperti: campuran sereh yang ditumbuk, ditambah minyak kelapa yang dibungkus dengan
daun pisang, lalu dibakar. Pemakaian obat ini digunakan dengan cara dihirup. Jika penderita
telah dikatakan dalam kondisi yang kronis maka disarankan dalam pengobatannya didahului
dengan matra, kemudian baru diobati dengan cara diatas.
3. Cetik Grinsing
Cetik jenis ini dapat menyebabkan si penderita dapat mengalami muntah-muntah,
bahkan dapat hingga menyebabkan muntah darah.
Adapun beberapa ramuan yang disarankan,yakni: minyak cukli dan minyak lungsir
yang dicampur kemudian diminumkan kepada pasien.
Dalam dunia pengobatan sering didengar kata-kata bahwa mencegah lebih baik
daripada mengobati. Khusus dalam hal ini akan dibahas cara mencegah agar dapat terhindar dari
serangan cetik, berdasarkan hasil wawancara bersama Ida Bagus Mega pada tanggal 13 Februari
2013 sehingga dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Dengan membangkitkan keyakinan terhadap diri sendiri dan keyakinan terhadap kebesaran
Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa.
2 Dengan sesikepan (penolak bala), yang terdiri dari emas, perak (skala), tembaga, mirah, yang
disurati atau dipuji. Perlu waktu khusus untuk hari pemujaannya. Untuk pemakaiannya ada
beberapa pantangan, yaitu bagi orang yang beragama Hindu: dilarang memakan daging sapi.
sedangkan orang yang beragama Islam: dilarang memakan daging babi dan daun kelor.
3. Untuk di rumah: kayu Birak Ketemu, Pacek Peran, Kaswa Desti, kayu Sulaiman, diberi
mantra dan dibungkus dengan kain putih.
4. Untuk dibawa: giok hijau (komalasari), giok ungu, permata air bun, Biru Safir (Mesna Dana),
mirah Delima. Pantangan yang disarankan pada saat membawa penangkal ini adalah pada saat
haid/ menstruasi bagi perempuan dan dilarang dibawa pada saat berhubungan seksual.
5. Dengan memakai sabuk (ikat pinggang dari kain putih yang diisi dengan rerajahan [tulisan
aksara Bali atau gambar-gambar dengan makna tertentu]).
6. Dengan garam dan arang dapur yang dijiwai.
Selain itu juga sesuai dengan informasi yang diperoleh dari sejumlah Balian di Desa
Pakraman Payangan serta didukung oleh Atmaja dalam bukunya yang berjudul Penangkal Cetik
, dapat dirumuskan cara untuk menangkal serangan cetik yaitu dengan tetenger(peringatan):
a. Jangan menuangkan minuman ke lepekan (piring kecil) untuk diminum, karena
biasanya cetik diletakkan di bawah cangkir atau gelas.
b. kiruk kuping (bersihkan telinga) dengan jari, kemudian jari dicelupkan ke minuman
dan dilihat bayangan nampak, bila tidak berarti minuman tersebut ada cetiknya.
c. Dengan mengoleskan gusi dan mulut beberapa kali dengan minyak lungsir hijau dan
cukli. Cara ini dilakukan menjelang pergi kepesta atau kundangan untuk makan-
makan. Khasiatnya ini bertahan kurang lebih satu hari.
7. Untuk diminum dapat juga gunakan:
a. Daun janggar ulam (salam), air buah jenggurit, padang tampak liman dibuat loloh,
kemudian ditambah uyah areng, untuk diminum. Khasiat obat ini selama tujuh hari.
b. Mirah yang diberi mantra yang diperuntukkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,
kemudian ditelan.
Dari rangkuman di atas dapat disimpulkan bahwa pasrah diri kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa, dan kewaspadaan dalam menjalani hidup ini, akan dapat mencegah kita tidak terkena
cetik.
SIMPULAN

1. Cetik dalam Perspektif Filsafat Hindu. Filsafat agama Hindu membagi waktu atau dunia
menjadi tiga kategori, yakni Sekala (waktu manusia dan waktu empiris), Sekala-Niskala
(waktu empiris manusia dan waktu non-empiris manusia), dan Niskala (non-waktu, non-
empiris). Untuk menghubungkan dunia atas dan bumi inilah diperlukan dunia tengah. Serta
dalam filsafat Hindu suatu pengetahuan didapatkan secara langsung maupun tidak langsung
dan begitu juga cetik, dapat ditanggulangi baik secara langsung maupun tidak langsung.
2. Jenis-jenis cetik di Desa Pakraman Payangan, Marga, Tabanan dapat digolongkan menjadi
tiga jenis yaitu: Cetik Warangan, Cetik Kerawang, dan Cetik Grinsing.
3. Cara penanggulangan cetik sesuai dengan Usada Bali di Desa Pakraman Payangan, Marga,
Tabanan yakni dengan meningkatkan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
menggunakan sesikepan (penolak bala), mirah, atau sesabukan agar terhindar dari serangan
cetik.

SARAN

1. Cetik dalam Perspektif Filsafat Hindu. Filsafat agama Hindu membagi waktu atau dunia
menjadi tiga kategori, yakni Sekala (waktu manusia dan waktu empiris), Sekala-Niskala
(waktu empiris manusia dan waktu non-empiris manusia), dan Niskala (non-waktu, non-
empiris). Untuk menghubungkan dunia atas dan bumi inilah diperlukan dunia tengah. Serta
dalam filsafat Hindu suatu pengetahuan didapatkan secara langsung maupun tidak langsung
dan begitu juga cetik, dapat ditanggulangi baik secara langsung maupun tidak langsung.
2. Jenis-jenis cetik di Desa Pakraman Payangan, Marga, Tabanan dapat digolongkan menjadi
tiga jenis yaitu: Cetik Warangan, Cetik Kerawang, dan Cetik Grinsing.
3. Cara penanggulangan cetik sesuai dengan Usada Bali di Desa Pakraman Payangan, Marga,
Tabanan yakni dengan meningkatkan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
menggunakan sesikepan (penolak bala), mirah, atau sesabukan agar terhindar dari serangan
cetik.


UCAPAN TERIMA KASIH
Om Swastyastu,
Puji syukur sebesar-besarnya peneliti panjatkan kehadapan I da Sang Hyang Widhi Wasa, karena
atas asung kerta wara nugraha Beliaulah tugas akhir ini dapat selesai tepat pada waktunya.
Maka dengan menyatakan syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan dengan segala
kerendahan hati tugas akhir ini saya persembahkan untuk:
Kedua orang tua yang sangat saya cintai, Bapak Jero Mangku I Made Dera, S.E dan Ibu
Jero Mangku Ni Nyoman Artini yang telah mempertaruhkan segalanya, demi menjadikan saya
seseorang yang lebih baik. Bapak dan ibu adalah anugrah terindah yang saya miliki. Kasih
sayang dan cinta tak terhingga yang telah bapak dan ibu berikan merupakan semangat untuk saya
agar tetap hidup dan selalu tegar menghadapi kehidupan ini.
Kakakku I Wayan Deddy Putra Wirawan yang selalu memberikan motivasi dalam
menyelesaikan tugas akhir ini. Aku ingin menjadi seseorang yang sukses untuk dapat
memberikan contoh yang terbaik untukmu.
Sahabat-sahabatku di Jurusan Filsafat Timur semua yang tidak dapat aku sebutkan satu
persatu, terima kasih atas kerja sama kalian selama ini. Seluruh motivasi serta canda tawa kalian
membuat hidupku lebih berwarna.
TERIMA KASIH
Om Santih, Santih, Santih, Om

DAFTAR PUSTAKA
Atmaja. Jiwa. 2003. Penangkal Cetik Bali Sekala & Niskala. Denpasar
CV. Bali Media Adhikarsa.
Budhi, I Made. 1993. Studi Pendahuluan Tentang Cetik Bali. dalam Majalah Ilmiah Unud,
Nomor 35. Denpasar: Unud.
Branen, Yulia. 2004. Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar Offset.
Donder, I Ketut. 2007. Kosmologi Hindu (Penciptaan, Pemeliharaan dan Peleburan serta
penciptaan kembali alam semesta). Denpasar: Paramitha.
Gorda, I Gusti Ngurah. 1999. Manajemen dan Kepemimpinan Desa Adat di Provinsi Bali dalam
Perspektif Era Globalisasi. Singaraja: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satya Dharma
Singaraja.
Gulo. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta : Gramedia Widia Sarana Indonesia.
Hamidi. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Malang : UMM Press. Rineka Cipta Jakarta.
Iqbal, Hasan. 2002. Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta : Ghalia
Indonesia
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta : Universitas Indonesia Pers.
Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: PT Rineka Cipta.
Koentjaraningrat. 1989. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Angkasa Baru
Miles, B.B., dan A.M. Huberman, 1992, Analisa Data Kualitatif, UI Press Jakarta.
Moleong, Lexy. 1994. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Moleong, Lexy. 1995. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Moleong, Lexy. 2001. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Nala, Ngurah. 1981. Penggolongan Balian di Bali. Seminar Kedokteran Tradisional Bali, Denpasar.
Nala, Ngurah. 1993. Usadha Bali. Denpasar: PT. Upada Sastra.
Nala, Ngurah. 2001. Ayurveda Ilmu Kedokteran Hindu I. Denpasar: Upada Sastra.
Nala, Ngurah. 2006. Aksara Bali Dalam Usada. Surabaya : Paramita.
Narbuko, Cholid. 2003. Metodelogi Penelitian, Jakarta: Gramedia.
Nawawi, Hasan Martini. 1993. Penelitian Terapan. Yogyakarta : UGM Press.
Nazir, Moch. 1983. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Gorda, I Gusti Ngurah. 1999. Manajemen dan Kepemimpinan Desa Adat di Provinsi Bali dalam
Perspektif Era Globalisasi. Singaraja: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satya Dharma
Singaraja.
Pritchard, Evans. 1984. Teori-teori Tentang Agama Primitif. Yogyakarta: PT Jaya
Purusha
Shurpha, I Wayan. 2004. Eksistensi Desa Adat dan Desa Dinas di Bali. Denpasar : Pustaka Bali
Post.
Simpen, I Wayan AB, 1983. Kamus Bahasa Bali. Denpasar: PT Mabhakti.
Strauss Anselm dan Yuliet Corbin. 2003. Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta:
Pustaka Belajar.
Sudikan, Setya W. .2001. Metode Penelitian Kebudayaan, Citra Wacana, Surabaya.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : CV. Alpa Betha.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: CV Alfabeta.
Suharsini-Arikunto.. 1993. Prosedur Penelitian Pendekatan Praktik. Jakarta: Bina Aksara.
Sukadana, Ir. I Putu. 2007. Aksara Dalam Tubuh Manusia. Denpasar: IHDN Pasca Sarjana.
Suprayoga, Iman dan Tabroni. 2001. Metodelogi Penelitian Sosial Agama. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Titib, I Made. 2003. Teologi & Simbol-Simbol dalam Agama Hindu.Surabaya : Paramita.
Tri Guna, 2000. Teori Tentang Simbol. Denpasar: Penerbit Widya Dharma UNHI.
Wuisman, J.J, 1996, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Asas- Asas, (Penyunting : M. Hisyam), FE UI,
Jakarta.
Zambroni. 1992. Pengantar Pengembangan Teori Sosial: 13. Yogyakarta: Tiara Wacana.
http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Hindu_Dharma