Anda di halaman 1dari 30

Kelompok 1

Plasenta previa merupakan plasenta yang


letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum(OUI).

Penyebab (terkait dengan) :

Usia ibu lebih dari 30

Endometrium cacat pada bekas persalinan berulangulang, bekas operasi.

Corpus

luteum

bereaksi

lambat,

dimana

endometrium belum siap menerima hasil konsepsi. Adanya tumor; mioma uteri, polip endometrium.

Klasifikasi
1. Plasenta previa totalis

2. Plasenta previa lateralis


3. Plasenta previa marginalis

4. Plasenta previa letak rendah

Tanda dan gejala plasenta previa :


1. 2. 3.

4.
5.

Pendarahan tanpa sebab, tanpa rasa nyeri. Darah biasanya berwarna merah segar. Terjadi pada saat tidur atau saat melakukan aktivitas. Bagian terdepan janin tinggi (floating), sering dijumpai kelainan letak janin. Pendarahan pertama (first bleeding) biasanya tidak banyak dan tidak fatal.

HDK adalah komplikasi kehamilan setelah


kehamilan 20 minggu yang ditandai dengan timbulnya hipertensi, disertai salah satu dari edema, proteinuria, atau kedua-duanya.

Faktor predisposisi :
1) Primigravida atau nullipara

2)
3)

Multigravida dengan kondisi klinis


Hiperplasentosis.

4)

Riwayat keluarga

5)
6)

Obesitas dan hidramnion


Gizi yang kurang dan anemi

Pre-eklamsia
Pre-eklamsia ialah timbulnya hipertensi disertai proteinuria atau edema akibat kehamilan, setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan.

1. Pre-Eklamsia Ringan Kriteria : 1) Tekanan darah > 140/90 mmHg atau tekanan darah sistolik naik > 30 mmHg atau kenaikan tekanan darah diastolik > 15 mmHg tetapi < 160/110 mmHg. 2) Edema 3) Proteinuria, setelah kehamilan 20 minggu.

Gejal a

2. Pre-Eklamsia Berat Kriteria : 1) Tekanan darah 160/110 mmHg. 2) Proteinuria lebih 5 gram/24 jam atau kualitatif 3+/4+. 3) Oliguria 500 ml/24 jam. 4) Nyeri kepala frontal atau gangguan penglihatan. 5) Nyeri epigastrium. 6) Edema paru atau sianosis. 7) Pertumbuhan janin intrauterin yang terlambat (IUFGR).

3. Eklamsia
Eklamsia adalah kelainan akut pada wanita

hamil, dalam persalinan atau nifas yang ditandai


dengan timbulnya kejang dan atau koma. Sebelumnya wanita tadi menunjukkan gejalagejala pre-eklamsia (kejang-kejang timbul bukan akibat kelainan neu- rologik).

Definisi : Terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal sebelum janin lahir pada kehamilan > 28 mgg (TM 3).

Etiologi : 1. Preklamsia, dekompresi uterus mendadak 2. Tali pusat yang pendek, anomali atau tumor uterus defisiensi gizi 3. Trauma, merokok, konsumsi alkohol 4. Tekanan oleh rahim yang membesar pada vena cava inferior 5. Umur lanjut 6. Multiparitas

Patogenesis

Gambaran klinis : 1. Perdarahan antepartum disertai rasa nyeri perut terus menerus. 2. Warna darah kehitaman 3. Anemia / syok yang tidak sesuai dengan jumlah darah yang keluar. 4. Uterus tegang seperti papan (en bois, wooden womb) 5. Nyeri tekan di tempat plasenta terlepas 6. Bagian janin sukar diraba 7. DJJ (-)

USG : - Terlihat daerah terlepasnya plasenta - Untuk melihat adanya hematoma retroplasenter - Membantu menentukan presentasi, ukuran, & kesejahteraan janin

Oligohidramnion

adalah suatu keadaaan dimana air ketuban sangat sedikit yakni kurangdari normal, yaitu kurang dari 500cc saat usia kehamilan 32-36 minggu

Etiologi Ada kebocoran atau pecahnya dinding ketuban Usia kehamilan sudah melewati batas

Gambaran Klinis Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada ballotemen. Ibu merasa nyeri di perut pada setiap pergerakan anak. Sering berakhir dengan partus prematurus. Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan kelima dan terdengar lebih jelas. Persalinan lebih lama dari biasanya. Bila ketuban pecah, air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar.

Pemeriksaan Penunjang - USG ibu (menunjukkan oligohidramnion serta tidak adanya ginjal janin atau ginjal yang sangat abnormal) - Rontgen paru-paru bayi - Analisa gas darah.

Persalinan postterm adalah persalinan melampaui umur hamil 42 minggu dan pada janin terdapat tanda postmaturitas (Manuaba, 2007).

Angka kejadian kehamilan postterm kirakira 10%, bervariasi antara 3,5-14%. Data statistik menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat waktu lebih tinggi ketimbang dalam kehamilan cukup bulan, dimana angka kematian kehamilan postterm mencapai 5 -7 %.

faktor penyebab kehamilan postterm adalah : Pengaruh Progesteron Teori Oksitosin Teori Kortisol/ACTH janin Saraf Uterus Heriditer

Stadium

I Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas. Stadium II keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban.

Stadium

III Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada jaringan tali pusat.

Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan oksitosin sehingga tidak menyebabkan adanya his, dan terjadi penundaan persalinan. Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga janin mempunyai resiko asfiksia sampai kematian dalam rahim ( Manuaba, 1998).

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mendiagnosis kehamilan postterm : HPHT jelas. Dirasakan gerakan janin pada umur kehamilan 16-18 minggu. Terdengar denyut jantung janin (normal 1012 minggu dengan Doppler, dan 19-20 minggu dengan fetoskop)

Umur

kehamilan yang sudah ditetapkan dengan USG pada umur kehamilan kurang dari atau sama dengan 20 minggu. Tes kehamilan (urin) sudah positif dalam 6 minggu pertama telat haid.

Pemeriksaan penunjang yaitu USG untuk menilai usia kehamilan, oligohidramnion, derajat maturitas plasenta. KTG untuk menilai ada atau tidaknya gawat janin.