Anda di halaman 1dari 57

Cavum Oris Berkovitz (1995) dan William (1995) menyatakan bahwa otot-otot yang berperan dalam proses penelanan

adalah otot-otot didalam kavum oris proprium yang bekerja secara volunteer. Terbagi 2 : 1. vestibulum oris mukosa 2. kavum oris proprium : permukaan lingual : ruag gigi geligi dan batas

gigi geligi dan prosesus alveolaris Cavum oris (Rongga mulut) adalah jalan asuk Menuju SISTEM pencernaan Dan berisi organ aksesori Yang berfungsi Illustrasi proses penelaahan Mutasi pencernaan. Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan dan sistem pernafasan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lender Proses mengunyah terjadi di dalam mulut. Mengunyah makanan bersifat penting untuk pencernaan semua makanan, selain itu mengunyah akan membantu pencernaan makanan untuk alasan sederhana yaitu karena enzim enzim pencernaan hanya bekerja pada permukaan partikel makanan. Dalam proses mengunyah terjadi proses mencerna secara mekanik maupun secara kimiawi. Secara mekanik dilakukan oleh gigi dan dengan bantuan lidah, secara kimiawi karena adanya kerja enzim pencerna. (Campbell Reece-Mitchell, (2002).

Histologi Cavum Oris a. Batas/ Dinding 1. Depan : Labium Oris meliputi a. Merah Bibir b. Pars Marginal c. Pars Mukosa 2. Dinding Samping : Buccale a. Kulit : Lanjutan kulit wajah b. Permukaan dalam : Membran Mucosa c. Bagian tengah : Musculus Buccinatorius 3. Atap Cavum Oris : Palatum Dorum dan Palatum Mole Struktur : a. Membran Mucosa Epitel : epitel gepeng berlapis tanpa keratinasi

Lamina propria b. Palatum Durum Bagian depan Lempeng tulang Lamina propria menyatu dengan periosteum c. Palatum Molle Bagian belakang : tepi bebas Otot serat lintang Uvula di tengah 4. Lantai Cavum Oris : Diaphragma Oris a. Otot serat lintang (otot lurik) b. Bagian tengah : Lingua 5. Batas Belakang Cavum Oris : Faucium a. Isthmus Faucium : Uvula, Archus Pharyngopalatina, Radix Linguae b. Anulus Tonsilillaris Waldeyer : Tosil Palatina, Tonsil Lingualis, Tonsil Pharyngealis b. Isi : Lidah dan Gigi Geligi 1. Lidah : a. Bagian-bagian : ApexLinguae, Corpus Linguae, Radix Linguae b. Permukaan : Dorsum Linguae c. Histologi : Membran Mukosa, Papilia Linguae, Otot Lurik 2. Gigi Geligi : Enamel, Dentin, Pulpa, dll c. Glandula Salivarius a) Macam-macam kelenjar saliva : 1. Kelenjar ludah utama / mayor Kelenjar-kelenjar ludah mayor terletak agak jauh dari rongga mulut dan sekretnya disalurkan melalui duktusnya ke dalam rongga mulut. Kelenjar ludah mayor sangat memegang peranan penting dalam proses mengolah makanan. Kelenjar saliva mayor terdiri dari : a. Kelenjar Parotis Kelenjar parotis merupakan kelenjar ludah terbesar yang terletak antara prossesus mastoideus dan ramus

mandibula (di bawah telinga di belakang ramus mandibula). Duktus kelenjar ini bermuara pada vestibulum oris pada lipatan antara mukosa pipi dan gusi dihadapan molar 2 atas. Kelenjar parotis dibungkus oleh jaringan ikat padat, mengandung sejumlah besar enzim antara lain amilase lisozim, fosfatase asam, aldolase, dan kolinesterase. Jaringan ikat masuk kedalam parenkim dan membagi organ menjadi beberapa lobus dan lobulus. Secara morfologis kelenjar parotis merupakan kelenjar tubuloasinus (tubuloalveolar) bercabang-cabang (compound tubulo alveolar gland). Asinus-asinus murni serus kebanyakan mempunyai bentuk agak memanjang dan kadang-kadang

memperlihatkan percabangan-percabangan. Antara sel-sel asinus membran basal terdapat sel-sel basket. Saluran keluar utama (duktus interlobaris) disebut duktus stenon (stenson) terdiri dari epitel berlapis semu. Ke arah dalam organ duktus ini bercabang-cabang menjadi duktus interlobularis dengan sel-sel epitel berlapis silindris. Duktus interlobularis tadi kemudian bercabang-cabang menjadi duktus

intralobularis. Kebanyakan duktus intralobularis merupakan duktus Pfluger yang mempunyai epitel selapis silindris yang bersifat acidophil dan menunjukkan garis-garis basal. Duktus Boll pada umumnya panjang-panjang dan

menunjukkan percabangan. Duktus Pfluger agak pendek. Sel-selnya pipih dan memanjang. Pada jaringan ikat interlobaris dan interlobularis terlihat banyak lemak yang berhubungan dengan kumpulan lemak bichat. Juga pada jaringan tersebut terlihat cabang-cabang dari Nervus Facialis dan pembuluh darah

b. Kelenjar submandibularis Kelenjar ini terletak disebelah dalam korpus mandibula dan mempunyai duktus ekskretoris (Duktus

Wharton) yang bermuara pada dasar rongga mulut pada frenulum lidah, di belakang gigi seri bawah. Merupakan kelenjar yang memproduksi air liur terbanyak. Seperti juga kelenjar parotis, kelenjar ini diliputi kapsel yang terdiri dari jaringan ikat padat yang juga masuk ke dalam organ dan membagi organ tersebut menjadi beberapa lobulus. Secara morfologis kelenjar ini merupakan kelenjar tubuloalveolar / tubuloacinus bercabang-cabang (compound tubulo alveolar gland). Percabangan duktusnya sama dengan glandula parotis demikian pula sel-selnya. Bentuk sinus kebanyakan memanjang. Antara sel-sel asinus membran basal terdapat sel-sel basket. Duktus Boll: pendek, sempit sehingga sukar dicari dalam preparat bila dibandingkan glandula parotis. Selnya pipih dan memanjang. Duktus Pfluger : lebih panjang daripada duktus pfluger kelenjar parotis dan menunjukkan banyak percabangan sehingga dalam preparat lebih mudah dicari. c. Kelenjar sublingualis Merupakan kelenjar terkecil dari kelenjar-kelenjar ludah besar. Terletak pada dasar rongga mulut, dibawah mukosa dan mempunyai saluran keluar (duktus

ekskretorius) yang disebut Duktus Rivinus. Bermuara pada dasar rongga mulut dibelakang muara duktus Wharton pada frenulum lidah. Glandula sublingualis tidak memiliki kapsel yang jelas tetapi memiliki septa-septa jaringan ikat yang jelas / tebal. Secara morfologis kelenjar ini merupakan kelenjar tubuloalvioler bercabang-cabang (compound

tubuloalveolar gland). Merupakan kelenjar tercampur dimana bagian besar asinusnya adalah mukus murni. Duktus ekskretoris sama dengan glandula parotis. Duktus Pfluger sangat pendek, Duktus Boll sangat pendek dan bentuknya sudah tidak khas sehingga dalam preparat sukar ditemukan.

2. Kelenjar ludah tambahan / minor / kecil-kecil

Kebanyakan kelenjar ludah merupakan kelenjar kecil-kecil yang terletak di dalam mukosa atau submukosa (hanya menyumbangkan 5% dari pengeluaran ludah dalam 24 jam) yang diberi nama lokasinya atau nama ludah pakar yang

menemukannya.

Semua

kelenjar

mengeluarkan

sekretnya kedalam rongga mulut. Kelenjar labial (glandula labialis) terdapat pada bibir atas dan bibir bawah dengan asinus-asinus seromukus Kelenjar bukal (glandula bukalis) terdapat pada mukosa pipi, dengan asinus-asinus seromukus Kelenjar Bladin-Nuhn ( Glandula lingualis anterior) terletak pada bagian bawah ujung lidah disebelah menyebelah seromukus Kelenjar Von Ebner (Gustatory Gland = albuminous gland) terletak pada pangkal lidah, dnegan asinus-asinus murni serus Kelenjar Weber yang juga terdapat pada pangkal lidah dengan asinus-asinus mukus . Kelenjar Von Ebner dan Weber disebut juga glandula lingualis posterior. garis, median, dengan asinus-asinus

Saliva Saliva adalah cairan eksokrin yang terdiri dari 99% air, berbagai elektrolit yaitu sodium, potasium, kalsium, kloride, magnesium, bikarbonat, fosfat, dan terdiri dari protein yang berperan sebagai enzim, immunoglobulin, antimikroba, glikoprotein mukosa, albumin, polipeptida dan oligopeptida yang berperan dalam kesehatan rongga mulut.

Komposisi Saliva Saliva terdiri dari 99,5% air dan 0,5% subtansi yang larut. Beberapa komposisi saliva adalah :

1. Protein Beberapa jenis protein yang terdapat didalam saliva adalah : Mucoid

Merupakan sekelompok protein yang sering disebut dengan mucin dan memberikan konsistensi mukus pada saliva. Mucin juga berperan sebagai glikoprotein karena terdiri dari rangkaian protein yang panjang dengan ikatan rantai karbohidrat yang lebih pendek. Enzim

Enzim yang ada pada saliva dihasilkan oleh kelenjar saliva dan beberapa diantaranya merupakan produk dari bakteri dan leukosit yang ada pada rongga mulut. beberapa diantaranya merupakan produk dari bakteri dan leukosit yang ada pada rongga mulut. Beberapa enzim yang terdapat dalam saliva adalah amylase dan lysozyme yang berperan dalam mengontrol pertumbuhan bakteri di rongga mulut. Protein Serum

Saliva dibentuk dari serum maka sejumlah serum protein yang kecil ditemukan didalam saliva. Albumin dan globulin termasuk kedalam serum saliva Waste Products

Pada saliva juga ditemukan sebagian kecil dari waste product pada serum, urea dan uric acid. 2. Ion-ion Inorganik Ion-ion utama yang ditemukan dalam saliva adalah kalsium dan fosfat yang berperan penting dalam pembentukan kalkulus. Ion-ion lain yang memiliki jumlah yang lebih kecil terdiri dari sodium, potasium, klorida, sulfat dan ion-ion lainnya.5 3. Gas Pada saat pertama sekali saliva dibentuk, saliva mengandung gas oksigen yang larut, nitrogen dan karbon dioksida dengan jumlah yang sama dengan serum. Ini memperlihatkan bahwa konsentrasi karbon dioksida cukup tinggi dan hanya dapat dipertahankan pada larutan yang memiliki tekanan didalam kelenjar duktus, tetapi pada saat saliva mencapai rongga mulut banyak karbon dioksida yang lepas. Zat-zat Aditif di Rongga Mulut
Merupakan berbagai substansi yang tidak ada didalam saliva pada saat saliva mengalir dari dalam duktus, akan tetapi menjadi bercampur dengan saliva didalam rongga mulut. Yang termasuk kedalam zat-zat aditif yaitu mikroorganisme, leukosit dan dietary substance.5

Volume rata-rata saliva yang dihasilkan perhari berkisar 1-1,5 liter. Pada orang dewasa laju aliran saliva normal yang distimulasi mencapai 1-3 ml/menit, rata-rata terendah mencapai 0,7-1 ml/menit dimana pada keadaan hiposalivasi ditandai dengan laju aliran saliva yang lebih rendah dari 0,7 ml/menit. Laju aliran saliva normal tanpa adanya stimulasi berkisar 0,25-0,35 ml/menit, dengan rata-rata terendah 0,1-0,25 ml/menit dan pada keadaan hiposalivasi laju aliran saliva kurang dari 0,1 ml/menit.1,3,19 Nilai pH saliva normal berkisar 6 7. 3,19,20 Konsumsi karbohidrat padat maupun cair dapat menyebabkan terjadinya perubahan pH saliva dimana karbohidrat akan difermentasi oleh bakteri dan akan melekat ke permukaan gigi. Dengan adanya sistem buffer pada saliva, pH akan kembali netral setelah 20 menit terpapar karbohidrat yang berkonsistensi cair dan 40-60 menit pada karbohidrat yang berkonsistensi padat.

Fungsi saliva itu sendiri adalah: 1. Melicinkan dan membasahi rongga mulut sehingga membantu proses mengunyah dan menelan makanan 2. Membasahi dan melembutkan makanan menjadi bahan setengah cair ataupun cair sehingga mudah ditelan dan dirasakan 3. Membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan kuman 4. Mempunyai aktivitas antibacterial dan sistem buffer 5. Membantu proses pencernaan makanan melalui aktivitas enzim ptyalin (amilase ludah) dan lipase ludah 6. Berpartisipasi dalam proses pembekuan dan penyembuhan luka karena terdapat faktor pembekuan darah dan epidermal growth factor pada saliva 7. Jumlah sekresi air ludah dapat dipakai sebagai ukuran tentang keseimbangan air dalam tubuh. 8. Membantu dalam berbicara (pelumasan pada pipi dan lidah)

ANATOMI, HISTOLOGI DAN FISIOLOGI DARI KELENJAR SALIVA

Kelenjar saliva merupakan suatu kelenjar eksokrin yang berperan penting

dalam mempertahankan kesehatan jaringan mulut. Kelenjar saliva mensekresi saliva ke dalam rongga mulut. Saliva terdiri dari cairan encer yang mengandung enzim dan cairan kental yang mengandung mukus. Menurut struktur anatomis dan letaknya, kelenjar saliva dapat dibagi dalam dua kelompok besar yairu kelenjar saliva mayor dan kelenjar saliva minor. Kelenjar saliva mayor dan minor menghasilkan saliva yang berbeda-beda menurut rangsangan yang diterimanya. Rangsangan ini dapat berupa rangsangan mekanis (mastikasi), kimiawi (manis, asam, asin dan pahit), neural, psikis (emosi dan stress), dan rangsangan sakit. Besarnya sekresi saliva normal yang dihasilkan oleh semua kelenjar ini kira-kira 1-1,5 liter per hari.

1. KELENJAR SALIVA MAYOR


Kelenjar saliva ini merupakan kelenjar saliva terbanyak dan ditemui berpasangpasangan yang terletak di ekstraoral dan memiliki duktus yang sangat panjang. Kelenjar-kelenjar saliva mayor terletak agak jauh dari rongga mulut dan sekretnya disalurkan melalui duktusnya kedalam rongga mulut. Menurut struktur anatomi dan letaknya, kelenjar saliva mayor dapat dibagi atas tiga tipe yaitu parotis, submandibularis dan sublingualis. Masingmasing kelenjar mayor ini menghasilkan sekret yang berbedabeda sesuai rangsangan yang diterimanya. Saliva pada manusia terdiri atas sekresi kelenjar parotis (25%), submandibularis (70%), dan sublingualis (5%).
1.1 Kelenjar Parotis Anatomi:

Kelenjar

ini

merupakan

kelenjar

terbesar

dibandingkan kelenjar saliva lainnya.


-

Letak kelenjar berpasangan ini tepat di bagian bawah

telinga terletak antara prosessus mastoideus dan ramus mandibula.

Kelenjar ini meluas ke lengkung zygomatikum di depan telinga dan mencapai dasar dari muskulus masseter.
-

Kelenjar parotis memiliki suatu duktus utama yang dengan duktus Stensen. Duktus ini berjalan

dikenal

menembus pipi dan bermuara pada vestibulus oris pada lipatan antara mukosa pipi dan gusi dihadapkan molar dua atas.

Kelenjar ini terbungkus oleh suatu kapsul yang

sangat fibrous dan memiliki beberapa bagian seperti arteri temporal superfisialis, vena retromandibular dan nervus fasialis yang menembus dan melalui kelenjar ini. Histologi:
-

Kelenjar ini dibungkus oleh jaringan ikat padat dan

mengandung sejumlah besar enzim antara lain amylase, lisozim, fosfatase asam, aldolase, dan kolinesterase.
-

Kelenjar parotis adalah kelenjar tubuloasinosa kompleks,

yang pada manusia adalah serosa murni. Kelenjar ini dikelilingi oleh kapsula jaringan ikat yang tebal, dari sini ada septa jaringan ikat termasuk kelenjar dan membagi kelenjar menjadi lobulus yang kecil. Kelenjar parotis mempunyai sistem saluran keluar yang rumit sekali dan hampir semua duktus ontralobularis adalah duktus striata.

Saluran

keluar

yang

utama

yaitu

duktus

parotidikius steensen terdiri dari epitel berlapis semu, bermuara kedalam vestibulum rongga mulut berhadapan dengan gigi molar kedua atas. Kelenjar parotis secara khas dipengaruhi oleh mumps yaitu parotitis epidemika. Fisiologi:
-

Kelenjar parotis menghasilkan suatu sekret yang

kaya akan air yaitu serous.


-

Saliva pada manusia terdiri atas 25% sekresi kelenjar

parotis.

1.2 Kelenjar Submandibularis Anatomi:

Kelenjar ini merupakan kelenjar yang berbentuk

seperti kacang dan memiliki kapsul dengan batas yang jelas.


-

Di dalam kelenjar ini terdapat arteri fasialis yang

melekat erat dengan kelenjar ini.


-

Kelenjar ini teletak di dasar mulut di bawah ramus

mandibula dan meluas ke sisi leher melalui bagian tepi bawah mandibula dan terletak di permukaan muskulus mylohyoid.
-

Pada proses sekresi kelenjar ini memiliki duktus

Wharton yang bermuara di ujung lidah. Histologi:


-

Kelenjar ini terdiri dari jaringan ikat yang padat.


Kelenjar submandibularis adalah kelenjar

tubuloasinosa kompleks, yang pada manusia terutama pada kelenjar campur dengan sel-sel serosa yang dominan, karena itu disebut mukoserosa. Terdapat duktus interkalaris, tetapi saluran ini pendek karena itu tidak banyak dalam sajian, sebaliknya duktus striata berkembang baik dan panjang.
-

Saluran keluar utama yaitu duktus submandibularis

wharton bermuara pada ujung papila sublingualis pada dasar rongga mulut dekat sekali dengan frenulum lidah, dibelakang gigi seri bawah. Baik kapsula maupun jaringan ikat stroma berkembang baik pada kelenjar submandibularis.

Fisiologi:
-

Kelenjar submandibularis menghasilkan 80% serous

(cairan ludah yang encer) dan 20% mukous (cairan ludah yang padat).
-

Kelenjar submandibularis merupakan kelenjar yang

memproduksi air liur terbanyak.

Saliva pada manusia terdiri atas 70% sekresi kelenjar

submandibularis.
1.3 Kelenjar Sublingual Anatomi:

Kelenjar ini terletak antara dasar mulut dan

muskulus mylohyoid merupakan suatu kelenjar kecil diantara kelenjar kelenjar mayor lainnya.
-

Duktus utama yang membantu sekresi disebut

duktus Bhartolin yang terletak berdekatan dengan duktus mandibular dan duktus Rivinus yang berjumlah 8-20 buah. Kelenjar ini tidak memiliki kapsul yang dapat

melindunginya. Histologi:
-

Kelenjar sublingualis adalah kelenjar tubuloasinosa

dan kelenjar tubulosa kompleks. Pada manusia kelenjar ini adalah kelenjar campur meskipun terutama kelenjar mukosa karena itu disebut seromukosa. Sel-sel serosa yang sedikit hampir seluruhnya ikut membentuk demilune. Duktus interkalaris dan duktus striata jaringan terlihat.
-

Kapsula jaringan ikat tidak berkembang baik, tetapi kelenjar

ini lobular halus biasanya terdapat 10-12 saluran luar yaitu duktus sublingualis, yang bermuara kesepanjang lipatan mukosa yaitu plika sublingualis, masing-masing mempunyai muara sendiri. Saluran keluar yang lebih besar yaitu duktus sublingualis mayor bartholin bermuara pada karunkula sublingualis bersama-sama dengan duktus wharton, kadang-kadang keduanya menjadi satu.

Fisiologi:
- Kelenjar sublingualis menghasilkan sekret yang mukous

dan konsistensinya kental.

- Saliva pada manusia terdiri atas 5% sekresi kelenjar

sublingualis.

2. KELENJAR SALIVA MINOR


Kebanyakan kelenjar saliva minor merupakan kelenjar kecil-kecil yang terletak di dalam mukosa atau submukosa. Kelenjar minor hanya menyumbangkan 5% dari pengeluaran ludah dalam 24 jam. Kelenjarkelenjar ini diberi nama berdasarkan lokasinya atau nama pakar yang menemukannya. Kelenjar saliva minor dapat ditemui pada hampir seluruh epitel di bawah rongga mulut. Kelenjar ini terdiri dari beberapa unit sekresi kecil dan melewati duktus pendek yang berhubungan langsung dengan rongga mulut. Selain kelenjar saliva minor tidak memiliki kapsul yang jelas seperti layaknya kelenjar saliva mayor, kelenjar saliva minor secara keseluruhan menghasilkan sekret yang mukous kecuali kelenjar lingual tipe Van Ebner. Saliva yang dihasilkan mempunyai pH antara 6,07,4 sangat membantu didalam pencernaan ptyalin.

2.1 Kelenjar Glossopalatinal Lokasi dari kelenjar ini berada dalam isthimus dari lipatan glossopalatinal dan dapat meluas ke bagian posterior dari kelenjar sublingual ke kelenjar yang ada di palatum molle. 2.2 Kelenjar Labial Kelenjar ini terletak di submukosa bibir. Banyak ditemui pada midline dan memiliki banyak duktus. 2.3 Kelenjar Bukal Kelenjar ini terdapat pada mukosa pipi, kelenjar ini serupa dengan kelenjar labial.

2.4 Kelenjar Palatinal

Kelenjar ini ditemui di sepetiga posterior palatal dan di palatum molle. Kelenjar ini dapat dilihat secara visual dan dilindungi oleh jaringan fibrous yang padat.

2.5 Kelenjar Lingual

Kelenjar ini dikelompokkan dalam beberapa tipe yaitu : 2.5.1Kelenjar anterior lingual Lokasi kelenjar ini tepat di ujung lidah. 2.5.2Kelenjar lingual Van Ebner Kelenjar ini dapat di temukan di papila sirkumvalata. 2.5.3Kelenjar posterior lingual Dapat ditemukan pada sepertiga posterior lidah yang berdekatan dengan tonsil. Mekanisme pembentukan atau sekresi saliva Saliva di bentuk dari bagian proksimal duktus yang tersusun dari sel-sel yang di sebut asinus.sel asinus adalah tipe sel yang paling banyak membentuk kelenjar saliva.Kelenjar serous yaitu kelenjar yang terbentuk dari sel-sel spherical sedangkan kelenjar mucous tersusun dalam konfigurasi tubuler dengan lumen sentral yang besar. Kelenjar saliva terdiri dari unit sekretori asinus,duktus intercalate,dan duktus striata. Unit sekretori bertemu di duktus skretori utama yang menyalurkan massa kelenjar ke dalam rongga mulut.Sekresi saliva berada di bawah kontrol syaraf.Rangsangan pada syaraf parasimpatik memegang peran utama stimulus sekresi saliva, dan berpengaruh terhadap komposisinya.Syaraf parasimpatik dari nucleus salivatorius superior menyebabkan sekresi liur cair dalam jumlah besar dengan kandungan bahan organik yang rendahRangsangan syaraf simpatis cenderung mempengaruhi volume sekresinya. Syaraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi dan sekresi sedikit saliva yang kaya akan organik dari kelenjar submandibularis.Volume saliva yang dihasilkan setiap hari berkisar antara 1-1,5 liter dengan komposisi yang bervariasi berupa unsur-unsur organik dan anorganik Rensburg, BGJ.1995. Oral Biology. Chicago: Quistessence Publishing Co,Inc.

KELAINAN KELENJAR SALIVA

Terdapat beberapa kelainan pada kelenjar saliva antara lain; mucocele, ranula, sialadenitis, sjorgen syndrome dan sialorrhea. 1. MUCOCELE

Mucocele adalah Lesi pada mukosa (jaringan lunak) mulut yang diakibatkan oleh pecahnya saluran kelenjar liur dan keluarnya mucin ke jaringan lunak di sekitarnya. Mucocele bukan kista, karena tidak dibatasi oleh sel epitel. Mucocele dapat terjadi pada bagian mukosa bukal, anterior lidah, dan dasar mulut. Mucocele terjadi karena pada saat air liur kita dialirkan dari kelenjar air liur ke dalam mulut melalui suatu saluran kecil yang disebut duktus. Terkadang bisa terjadi ujung duktus tersumbat atau karena trauma misalnya bibir sering tergigit secara tidak sengaja, sehingga air liur menjadi tertahan tidak dapat mengalir keluar dan menyebabkan pembengkakan (mucocele). Mucocele juga dapat terjadi jika kelenjar ludah terluka. Manusia memiliki banyak kelenjar ludah dalam mulut yang menghasilkan ludah. Ludah tesebut mengandung air, 16iopsy, dan enzim. Ludah dikeluarkan dari kelenjar ludah melalui saluran kecil yang disebut duct (pembuluh). Terkadang salah satu saluran ini terpotong. Ludah kemudian mengumpul pada titik yang terpotong itu dan

menyebabkan pembengkakan, atau mucocele. Pada umumnya mucocele didapati di bagian dalam bibir bawah. Namun dapat juga ditemukan di bagian lain dalam mulut, termasuk langit-langit dan dasar mulut. Akan tetapi jarang didapati di atas lidah. Pembengkakan dapat juga terjadi jika saluran ludah (duct) tersumbat dan ludah mengumpul di dalam saluran.

ETIOLOGI

Umumnya disebabkan oleh trauma 17iops, misalnya bibir yang sering tergigit pada saat sedang makan, atau pukulan di wajah. Dapat juga disebabkan karena adanya penyumbatan pada duktus (saluran) kelenjar liur minor. Mucocele Juga dapat disebabkan oleh obat-obatan yang mempunyai efek mengentalkan ludah.

GAMBARAN KLINIS Batas tegas konsistensi lunak Warna transluscent Ukuran biasanya kecil Tidak ada keluhan sakit kadang-kadang pecah, hilang tapi tidak lama kemudian akan

timbul lagi

DIAGNOSIS Diagnosis mukokel bisa secara langsung daririwayat penyakit, keadaan klinis dan palpasi.

Langkah-langkah cara mendiagnosis ranula adalah : Melakukan anamnesa lengkap dan cermat secara visual Bimanual palpasi intra & extraoral Aspirasi Melakukan pemeriksaan laboratories Pemeriksaan radiologis dengan kontras media Pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan 18iopsy/PA

DIFFERENTIAL DIAGNOSA Differential diagnosis dari mukokel adalah sebagaiberikut :

Adenoma Pleomorfik

Suatu nodula keras kebiru-biruan Kista Nasolabial

Suatu nodula berfluktuasi pada palpasi Kista Implantasi

PENATALAKSANAAN

Mucocele adalah lesi yang tidak berumur panjang, bervariasi dari beberapa hari hingga beberapa minggu, dan dapat hilang dengan sendirinya. Namun banyak juga lesi yang sifatnya kronik dan membutuhkan pembedahan eksisi. Pada saat di eksisi, dokter gigi sebaiknya mengangkat semua kelenjar liur minor yang berdekatan, dan dilakukan pemeriksaan mikroskopis untuk menegaskan Biopsydan menentukan apakah ada kemungkinan tumor kelenjar liur. Selain dengan pembedahan, mucocele juga dapat diangkat dengan laser. Beberapa dokter saat ini ada juga yang menggunakan menggunakan injeksi Kortikosteroid sebelum melakukan pembedahan, ini terkadang dapat mengempiskan pembengkakan. Jika berhasil, maka tidak perlu dilakukan pembedahan. Penatalaksanaan mukokel biasanya dilakukan dengan eksisimukokel dengan modifikasi teknik elips. yaitu setelah pemberian anesthesi lokal dibuat dua insisi elips yang hanya menembus mukosa,

kemudian lesi dipotong dengan teknik gunting lalu dilakukan penjahitan.

2. RANULA

ETIOLOGI DAN PATOGENESIS Ranula terbentuk sebagai akibat normal melalui duktus ekskretorius major yang membesar atau terputus atau terjadinya rupture dari saluran kelenjar terhalangnya aliran liur yang sublingual (duktus Bartholin) atau kelenjar submandibuler (duktus Wharton), sehingga melalui rupture ini air liur keluar menempati jaringan disekitar saluran tersebut. Selain terhalangnya aliranliur, ranula bisa juga terjadi karena trauma dan peradangan. Ranulamirip dengan mukokel tetapi ukurannya lebih besar. Bilaletaknya didasar mulut, jenis ranula ini disebut ranulaSuperfisialis. Bila kista menerobos dibawah otot milohiodeusdan menimbulkan pembengkakan submandibular, ranula jenisini disebut ranula Dissecting atau Plunging.

GAMBARAN KLINIS

Bentuk dan rupa kista ini seperti perut kodok yang menggelembung keluar (Rana=Kodok)

Dinding sangat tipis dan mengkilap Warna translucent Kebiru-biruan Palpasi ada fluktuasi Tumbuh lambat dan expansif

DIAGNOSIS Diagnosis mukokel bisa secara langsung daririwayat penyakit, keadaan klinis dan palpasi. Langkah-langkah cara mendiagnosis ranula adalah : Melakukan anamnesa lengkap dan cermat Secara visual Bimanual palpasi intra & extraoral Punksi dan aspirasi Melakukan pemeriksaan laboratories Pemeriksaan radiologis dengan kontras media Pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan 21iopsy/PA

DIFFERENTIAL DIAGNOSA Kista Dermoid

Kista dermoid yang tampak sebagai suatu pembengkakan jaringan lunak dalam mulut

Batu kelenjar liur (sialolit)

PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan ranula biasanya dilakukan dengan caramarsupialisasi ranula atau pembuatan jendela pada lesi.Biasanya menggunakan anestesi blok lingual ditambah denganinfiltrasi regional. Di sekitar tepi lesi ditempatkan rangkaianjahitan menyatukan mukosa perifer dengan mukosa lesi danjaringan dasar lesi. Kemudian dilakukan juga drainase denganpenekanan lesi. Setelah itu dilakukan eksisi pada atap lesisesuai dengan batas penjahitan kemudian lesi ditutup dengan tampon.

3. SIALADENITIS

Sialadenitis adalah infeksi bakteri dari glandula salivatorius, biasanya disebabkan oleh batu yang menghalangi atau hyposecretion kelenjar. Proses inflamasi yang melibatkan kelenjar ludah disebabkan oleh banyak faktor etiologi. Proses ini dapat bersifat akut dan dapat menyebabkan pembentukan abses terutama sebagai akibat infeksi bakteri. Keterlibatannya dapat bersifat unilateral atau bilateral seperti pada infeksi virus. Sedangkan Sialadenitis kronis nonspesifik merupakan akibat dari obstruksi duktus karena sialolithiasis atau radiasi eksternal atau mungkin spesifik,yang disebabkan dari berbagai agen menular dan gangguan imunologi.

ETIOLOGI

Sialadenitis biasanya terjadi setelah obstruksi hyposecretion atau saluran tetapi dapat berkembang tanpa penyebab yang jelas. Terdapat tiga kelenjar utama pada rongga mulut,diantaranya adalah kelenjar parotis, submandibular, dan sublingual. Sialadenitis paling sering terjadi pada kelenjar parotis dan biasanya terjadi pada pasien dengan umur 50an sampai 60-an, pada pasien sakit kronis dengan xerostomia, pasien dengan sindrom Sjgren, dan pada mereka yang melakukan terapi radiasi pada rongga mulut. Remaja dan dewasa muda dengan anoreksia juga rentan terhadap gangguan ini. Organisme yang merupakan penyebab paling umum pada penyakit ini adalah Staphylococcus aureus; organisme lain meliputi Streptococcus, koli, dan berbagai bakteri anaerob.

GEJALA UMUM

meliputi gumpalan lembut yang nyeri di pipi atau di bawah dagu, terdapat pembuangan pus dari glandula ke bawah mulut dan dalam kasus yang parah, demam, menggigil dan malaise (bentuk umum rasa sakit).

PENATALAKSANAAN

Perawatan awal harus mencakup hidrasi yang memadai, kebersihan mulut baik, pijat berulang pada kelenjar, dan antibiotik intravena. Evaluasi USG atau computed tomography (CT) akan menunjukkan apakah pembentukan abses telah terjadi. Sialography merupakan kontraindikasi.Insisi dan drainase paling baik dilakukan dengan mengangkat penutup parotidectomy standar dan kemudian menggunakan hemostat untuk membuat beberapa bukaan ke dalam kelenjar, tersebar di arah umum dari syaraf wajah. Sebuah saluran kemudian ditempatkan di atas kelenjar dan luka tertutup. Dalam beberapa kasus, dimungkinkan untuk melakukan aspirasi jarum yang dipandu CT atau USG-pada abses parotis, yang dapat membantu menghindari prosedur operasi terbuka. Hal ini juga untuk diingat bahwa fluktuasi kelenjar parotis tidak terjadi sampai fase sangat terlambat karena beberapa investasi fasia dalam kelenjar. Jadi, adalah mustahil untuk menentukan adanya pembentukan abses awal berdasarkan pemeriksaan fisik saja.

4. SJORGEN SYNDROME

Sjorgen syndrome merupakan suatiupenyakit auto imun yang ditandai oleh produksi abnormal dari extra antibodi dalam darah yang diarahkan terhadap berbagai jaringan tubuh. Ini merupakan suatu penyakit autoimun peradangan pada kelenjar saliva yang dapat menyebabkan mulut kering dan bibir kering

DIAGNOSIS

Peradangan kelenjar saliva dapat dideteksi dengan radiologic scan, juga dapat dilihat dengan berkurangnya kemampuan kelenjar saliva memproduksi air liur. Dapat juga didiagnosis dengan cara biopsi. Untuk mendapatka sampel biopsi, biasa diunakan pada kelenjar dari bibir bawah. Prosedur biopsi kelenjar saliva bibir bawah diawali dengan anastesi lokal kemudian dibuat sayatan kecil dibagian dalam bibir bawah.

GEJALA

Gejala dari sjorgen syndrome antara lain; mulut kering, kesulitan menelan, kerusakan gigi, penyakit gingiva, mulut luka dan pembengkakan, dan infeksi pada kelenjar parotis bagian dalam pipi.

PENATALAKSANAAN

Mulut yang kering dapat dibantu dengan minum air yang banyak dan perawatan gigi yang baik untuk menghindari kerusakan pada gigi. Kelenjar dapat dirangsang dengan menghisap tetesan air lemon tanpa gula atau gliserin pembersih. Perawatan tambahan untuk gejala mulut

kering adalah obat resep untuk menstimulasi air liur seperti pilocarpine dan ceuimeline. Obat-obatan ini harus dihinari oleh orang yang berpenyakit jantung, asma, dan glukoma.

PENYEBAB

Penyebab sjorgen syndrome tidak diketahui, ada dukungan ilmiah yang menyatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit turunan atau adanya faktor genetik yang dapat memicu terjadinya sjorgen syndrome, karena penyakit ini kadang-kadang penyakit ditemukan pada anggota keluarga lainnya. Hal ini juga ditemukan lebih umum pada orang yang memiliki penyakit autoimun lainnya seperti lupus eritematous sistemik, autoimun penyakit tiroid, diabetes, dll.

5. SIALORRHEA

Sialorrhea adalah suatu kondisi medIs yang detandai dengan menetesnya air liur atau sekresi saliva yang berlebihan.

PENYEBAB

Penyebab dari sialorrhea dapat bevariasi berupa gejala dan gangguan neurologis, infeksi atau keracunan logam berat dan insektisida serta efek samping dari obat-obatan tertentu.

PENATALAKSANAAN

Pengobatan dan perawatan sialorrhea biasanya tergantung pada sumber penyebabnya. Apabila disebabkan oleh efek samping obat-

obatan maka penanggulangannya hanya sebatas mengatur kelebihan sekresi saliva. Pada tahap awal dapat diberikan obat, jika terjadi dalam jangka waktu yang lama dapat dilakukan operasi dengan mengangkat satu atau lebih glandula salivarius mayor.

KELENJAR LAKRIMAL Kelenjar lakrimal adalah suatu struktur glanduler yang terletak dekat dengan mata yang berperan untuk menghasilkan air mata, yang membasahi bola mata (Sloane, 2004) . Kelenjar air mata menghasilkan airmata. Kelenjar airmata terletak dibawak di kelopak mata Fungsi dari kelenjar airmata adalah membasahi dan membersihkan bola mata,selain itu air mata menganung zat yang dapat membunuh bibit penyakit seperti bakteri dan virus. Kelenjar air mata di produksi di glandula lakrimalis dengan salurannya. Kemudian dari glandula lakrimalis menuju ke meatus nasi inferior. Komposisi dari air mata: 98% air,1,5 NaCl dan enzim lisosim yang mempunyai efek antibakteri.

Mekanisme pengeluaran air mata Adanya tekanan yang di berikan saat berkadip memyebabkan kelenjar lakrimal mengeluarkan air mata. Air mata keluar melalui pungtum papila lakrimal, yang menyambung kantong lakrimal. Kantong membuka ke dalam duktus nasolakrimal, yang pada gilirannya akan masuk ke rongga nasal, dan keluar. Air mata mengandung garam, mukosa, dan lisozim, yang merupakan suatu bakterioksida. Cairan ini membasahi permukaan mata dan mempertahankan kelembapan (Sloane, 2004) . Bagian bagiannya Aparatus lakrimalis Aparatus Lakrimalis. Aparatus Lakrimalis ini terdiri atas

kelenjar lakrimalis, kelenjar aksesori ( Kelenjar Wolfring dan Kelenjar

Krause ), pungtum lakrimalis, kanalikuli lakrimalis, kantong lakrimalis, dan ductus nasolakrimalis (Sloane, 2004) . .

ANATOMI

Aparatus lakrimalis terdiri dari 2 bagian : Kelenjar lakrimalis yang berhubungan dengan pembentukan air mata (sistem sekresi lakrimal) Saluran air mata yang diteruskan ke dalam hidung (sistem

ekskresilakrimal)

Bagian-bagian dari aparatus lakrimalis adalah:

Kelenjar lakrimalis terdapat pada fossa lakrimal, sisi medial prosesus zigomatikum os frontal. Berbentuk oval, kurang lebih bentuk dan besarnya menyerupai almond , superior kelenjar dan terdiri dari dua dan 6-12, bagian, inferior berjalan

disebutkelenjar

lakrimal Duktus

(pars ini,

orbitalis) berkisar

(pars palpebralis).

pendek menyamping di bawah konjungtiva (Sloane, 2004) . Kelenjar lakrimalis utama terletak pada sudut superolateral rongga mata. Ukurannya sebesar biji kenari, tubuloasinar dan serosa, dengan sel mioepitel yang menyolok. Lobus kelenjar yang terpisah mencurahkan isinya melalui 10-15 saluran keluar ke dalam bagian lateral forniks superior konjungtiva. Juga ditemukan banyak kelenjar lakrimal tambahan/assesoris dalam lamina propria kelopak mata atas dan bawah. Kelenjar lakrialis menghasikan air mata (Sloane, 2004) . Air mata mengandung banyak air dan lisosim suatu zat anti bakteri. Air mata berfungsi untuk memelihara agar epitel konjungtiva tetap lembab, kedipan kelopak mata akan menyebabkan air mata tersebar di atas kornea seperti wiper pada kaca mobil dan berguna untuk mengeluarkan benda asing seperti partikel debu. Penguapan air mata yang berlebihan dicegah oleh suatu lapisan/film mukus (dari sel goblet konjungtiva tarsal) di atas film air dan minyak (dari kelenjar meibom) (Sloane, 2004) . Air mata disapukan ke arah medial dan kelebihannya memasuki pungta lakrimal (lacrimal puncta) yang terletak disetiap sudut medial palpebra superior dan inferior. Dari sini air mata kemudian masuk ke kanalikuli lakrimal (lacrimal canaliculi), dan akhirnya masuk sakus lakrimal. Dinding kanalikuli lakrimal tersusun oleh epitel bertingkat silindris bersilia. Sakus lakrimalis merupakan bagian superior duktus

nasolakrimalis yang melebar. Air mata kemudian masuk ke duktus nasolakrimal yang juga dilapisi epitel bertingkat silindris bersilia. Dari sini air mata kemudian dikeluarkan ke meatus inferior yang terletak di dasar rongga hidung. Ini yang menyebabkan mengapa pada saat

menangis, hidung pun ikut menangis, karena rongga yang dilewati oleh air mata adalah dasar ronggga hidung (Sloane, 2004) . Kelenjar aksesori ( kelenjar wolfring dan kelenjar Krause ) Kelenjar asesoris ini termasuk kelenjar Krause dan kelenjar Wolfring. Kedua kelenjar ini terletak dalam dibawah substansi propria (Sloane, 2004) . Pungtum lakrimalis : ukuran punctum lakrimalis dengan diameter 0.3 mm terletak di sebelah medial bagian superior dan inferior darikelopak mata. Punctum relatif avaskular dari jaringan disekitarnyaselain itu warna pucat dari punctum ini sangat membantu jikaditemukan adanya sumbatan. Punctum lalkrimalis biasanya tidak terlihat kecuali jika kelopak bawah mata dibalik sedikit. Jarak superior dan inferior punctum 0,5 mm, sedangkan jarak masing-masing kecanthus medial kira-kira 6,5mm dan 6,0 mm. Air mata dari canthusmedial masuk ke punctum lalu masuk ke canalis lakrimalis (Sloane, 2004) . Kanalikuli lakrimalis : orifisium yang Lacrimal ducts (lacrimal canals), berawal pada kecil, bernama puncta lacrimalia,

sangat

pada puncak papilla lacrimales, terlihat pada tepi ekstremitas lateral (Sloane, 2004) . Lacrimal apparatus (apparatus lacrimalis) Apparatus lakrimal terdiri dari (a) kelenjar lakrimal, yang mensekresikan air mata, dan duktus ekskretorinya, yang menyalurkan cairan ke permukaan mata; (b) duktus lakrimal, kantung (sac) lakrimal, dan duktus nasolakrimal, yang menyalurkan cairan ke celah hidung (Khurna, 2007). Lacrimal gland (glandula lacrimalis) terdapat pada fossa lakrimal, sisi medial prosesus zigomatikum os frontal. Berbentuk oval, kurang lebih bentuk dan besarnya menyerupai almond, dan terdiri dari dua bagian, disebut kelenjar lakrimal superior (pars orbitalis) dan inferior (pars palpebralis). Duktus kelenjar ini, berkisar 6-12, berjalan pendek menyamping di bawah konjungtiva (Khurna, 2007). . Lacrimal ducts (lacrimal canals), berawal pada orifisium yang sangat kecil, bernama puncta lacrimalia, pada puncak papilla

lacrimales, terlihat pada tepi ekstremitas lateral lacrimalis. Duktus superior, yang lebih kecil dan lebih pendek, awalnya berjalan naik, dan kemudian berbelok dengan sudut yang tajam, dan berjalan ke arah medial dan ke bawah menuju lacrimal sac. Duktus inferior awalnya berjalan turun, dan kemudian hamper horizontal menuju lacrimal sac. Pada sudutnya, duktus mengalami dilatasi dan disebut ampulla. Pada setiap lacrimal papilla serat otot tersusun melingkar dan membentuk sejenis sfingter (Khurna, 2007). . Lacrimal sac (saccus lacrimalis) adalah ujung bagian atas yang dilatasi dari duktus nasolakrimal, dan terletak dalam cekungan (groove) dalam yang dibentuk oleh tulang lakrimal dan prosesus frontalis maksila. Bentuk lacrimal sac oval dan ukuran panjangnya sekitar 12-15 mm; bagian ujung atasnya membulat; bagian bawahnya berlanjut menjadi duktus nasolakrimal (Khurna, 2007). . Nasolacrimal duct (ductus nasolacrimalis; nasal duct) adalah kanal membranosa, panjangnya sekitar 18 mm, yang memanjang dari bagian bawah lacrimal sac menuju meatus inferior hidung, dimana saluran ini berakhir dengan suatu orifisium, dengan katup yang tidak sempurna, plica lacrimalis (Hasneri), dibentuk oleh lipatan membran mukosa. Duktus nasolakrimal terdapat pada kanal osseous, yang terbentuk dari maksila, tulang lakrimal, dan konka nasal inferior (Khurna, 2007).

Selain itu juga, Aparatus lakrimalis dibagi menjadi dua bagian yaitu sistem sekresi dan sistem ekskresi air mata 1. Sistem Sekresi Air Mata Permukaan mata dijaga tetap lembab oleh kelenjar lakrimalis. Sekresi basal air mata perhari diperkirakan berjumlah 0,75-1,1 gram dan cenderung menurun seiring dengan pertambahan usia. Volume terbesar air mata dihasilkan oleh kelenjar air mata utama yang terletak di fossa lakrimalis pada kuadran temporal di atas orbita. Kelenjar yang berbentuk seperti buah kenari ini terletak didalam palpebra superior. Setiap kelenjar ini dibagi oleh kornu

lateral aponeurosis levator menjadi lobus orbita yang lebih besar dan lobus palpebra yang lebih kecil. Setiap lobus memiliki saluran pembuangannya tersendiri yang terdiri dari tiga sampai dua belas duktus yang bermuara di forniks konjungtiva superior. Sekresi dari kelenjar ini dapat dipicu oleh emosi atau iritasi fisik dan menyebabkan air mata mengalir berlimpah melewati tepian palpebra (epiphora). Persarafan pada kelenjar utama berasal nukleus lakrimalis pons melalui nervus intermedius dan menempuh jalur kompleks dari cabang maksilaris nervus trigeminus (Khurna, 2007).. Kelenjar lakrimal tambahan, walaupun hanya

sepersepuluh dari massa utama, mempunya peranan penting. Kelenjar Krause dan Wolfring identik dengan kelenjar utama yang menghasilkan cairan serosa namun tidak memiliki sistem saluran. Kelenjar-kelenjar ini terletak di dalam konjungtiva, terutama forniks superior. Sel goblet uniseluler yang tersebar di konjungtiva menghasilkan glikoprotein dalam bentuk musin. Modifikasi kelenjar sebasea Meibom dan Zeis di tepian palpebra memberi substansi lipid pada air mata. Kelenjar Moll adalah modifikasi kelenjar keringat yang juga ikut membentuk film prekorneal (Khurna, 2007). 2. Sistem Ekskresi Air Mata Sistem ekskresi terdiri atas punkta, kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus nasolakrimalis. Setiap berkedip, palpebra menutup mirip dengan risleting mulai di lateral, menyebarkan air mata secara merata di atas kornea, dan menyalurkannya ke dalam sistem ekskresi pada aspek medial palpebra. Setiap kali mengedip, muskulus orbicularis okuli akan menekan ampula sehingga memendekkan kanalikuli horizontal. Dalam keadaan normal, air mata dihasilkan sesuai dengan kecepatan

penguapannya, dan itulah sebabnya hanya sedikit yang sampai ke sistem ekskresi. Bila memenuhi sakus konjungtiva, air mata akan masuk ke punkta sebagian karena hisapan kapiler (Khurna, 2007)..

Dengan menutup mata, bagian khusus orbikularis pretarsal yang mengelilingi ampula mengencang untuk

mencegahnya keluar. Secara bersamaan, palpebra ditarik ke arah krista lakrimalis posterior, dan traksi fascia mengelilingi sakus lakrimalis berakibat memendeknya kanalikulus dan menimbulkan tekanan negatif pada sakus. Kerja pompa dinamik mengalirkan air mata ke dalam sakus, yang kemudian masuk melalui duktus nasolakrimalis karena pengaruh gaya berat dan elastisitas jaringan ke dalam meatus inferior hidung. Lipatan-lipatan mirip-katup dari epitel pelapis sakus cenderung menghambat aliran balik air mata dan udara. Yang paling berkembang di antara lipatan ini adalah katup Hasner di ujung distal duktus nasolakrimalis (Khurna, 2007).

Kelainan Kelenjar mata Kelainan pada aparatus lakrimalis bisa dikarenakan sistemsekresinya dan ekskresinya. Pada sistem aparatus lakrimalis ini sangat berguna pada mata karena aparatus juga menghasilkan air mata yang dimana bergunauntuk kesehatan mata (Ilyas, 2009) Karsinoma Kelenjar Lakrimal

Karsinoma Kelenjar Lakrimal adalah kondisi medis yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel keganasan (kanker) di kelenjar lakrimal. Kelenjar lakrimal adalah suatu struktur glanduler yang terletak dekat dengan mata yang berperan untuk menghasilkan air mata, yang membasahi bola mata. Karsinoma kelenjar lakrimal adalah suatu tipe kanker jarang yang terjadi lebih sering pada orang-orang yang berusia 30 tahunan. Gejala-gejala biasanya termasuk penonjolan bola mata (proptosis), nyeri di sekitar bola mata dan gangguan penglihatan. Penanganan biasanya termasuk pengangkatan tumor secara bedah dan terapi radiasi (Ilyas, 2009)

Fisiologi kelenjar air mata

Lapisan Air Mata Lapisan air mata sendiri terdiri dari tiga lapisan yaitu: a. Lapisan minyak; merupakan lapisan terluar yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar kecil pada pinggir kelopak mata yang bernama kelenjar Meibom. Fungsi dari lapisan minyak ini adalah untuk melicinkan permukaan mata dan mengurangi penguapan air mata. Lapisan minyak merupakan lapisan terluar yang dihasilkan. b. Lapisan air; merupakan lapisan tengah yang dihasilkan oleh sel sel yang tersebar pada konjungtiva (selaput bening mata). Lapisan ini berfungsi membersihkan mata dan mengeluarkan benda-benda asing ataupun iritan yang masuk ke dalam mata. c. Lapisan lendir; merupakan lapisan terdalam yang berfungsi membantu agar air mata tersebar rata pada permukaan mata dan membantu agar mata tetap lembab.

Kelainan Kelenjar Air Mata 1. Dakriosistitis (Infeksi Kantong Air Mata)

Dakriosistitis adalah suatu infeksi pada kantong air mata (sakus lakrimalis). PENYEBAB Dakriosistitis biasanya terjadi akibat penyumbatan pada duktus nasolakrimalis (saluran yang mengalirkan air mata ke hidung) GEJALA

Infeksi menyebabkan nyeri di daerah sekitar kantong air mata yang tampak merah dan membengkak. Mata menjadi merah dan berair serta mengeluarkan nanah. Jika kantong air mata ditekan secara perlahan, akan keluar nanah dari lubang di sudut mata sebelah dalam (dekat hidung). Penderita juga mengalami demam. Jika infeksi yang ringan atau berulang berlangsung lama maka sebagian besar gejala mungkin menghilang hanya pembengkakan ringan yang menetap. Kadang infeksi menyebabkan tertahannya air mata di dalam kantong air mata sehingga terbentuk kantong yang berisi cairan (mukokel di bawah kulit. Infeksi berulang bisa menyebabkan penebalan dan kemerahan diatas kantong air mata. Bisa terbentuk kantong nanah (abses) yang kemudian pecah dan mengeluarkan nanahnya. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil

pemeriksaan fisik. PENGOBATAN Infeksi diobati dengan antibiotik per-oral (melalui mulut) atau intravena (melalui pembuluh darah). Daerah kantong air mata juga boleh dikompres hangat. Jika terbentuk abses, dilakukan pembedahan untuk membuka dan membuang nanahnya. Untuk infeksi menahun, penyumbatan duktus

nasolakrimalis bisa dibuka dengan bantuan jarum atau melalui pembedahan. 2. Hordeolum (Stye) Hordeolum (Stye) adalah suatu infeksi pada satu atau beberapa kelenjar d.

PENYEBAB Hordeolum adalah infeksi akut pada kelenjar minyak di dalam kelopak mata yang disebabkani tepi atau di bawah kelopak mata. Bisa terbentuk lebih dari 1 hordeolum pada saat yang bersamaan. Hordeolum biasanya timbul dalam beberapa hari dan bisa sembuh secara spontan. Oleh bakteri dari kulit (biasanya disebabkan oleh bakteri stafilokokus) Hordeolum sama dengan jerawat pada kulit. Hordeolum kadang timbul bersamaan dengan atau sesudah blefaritis. Hordeolum bisa timbul secara berulang. GEJALA Hordeolum biasanya berawal sebagai kemerahan, nyeri bila ditekan dan nyeri pada tepi kelopak mata. Mata mungkin berair, peka terhadap cahaya terang dan penderita merasa ada sesuatu di matanya. Biasanya hanya sebagian kecil daerah kelopak yang membengkak, membengkak. Di tengah daerah yang membengkak seringkali terlihat bintik kecil yang berwarna kekuningan. Bisa terbentuk abses (kantong nanah) yang cenderung pecah dan melepaskan sejumlah nanah. meskipun kadang seluruh kelopak

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil

pemeriksaan fisik. PENGOBATAN Hordeolum bisa diobati dengan kompres hangat selama 10 menit sebanyak 4 kali/hari. Jangan mencoba memecahkan hordeolum, biarkan pecah sendiri. Krim antibiotik kadang digunakan untuk hordeolum yang berulang atau menetap (yang disebabkan oleh bakteri). Hordeolum interna adalah hordeolum yang terbentuk pada kelenjar yang lebih dalam. Gejalanya lebih berat dan jarang pecah sendiri, karena itu biasanya dokter akan menyayatnya supaya nanah keluar. PENCEGAHAN Selalu mencuci tangan terlebih dahulu sebelum

menyentuh kulit di sekitar mata. Bersihkan minyak yang berlebihan di tepi kelopak mata secara perlahan.

3. Kalazion

Kalazion adalah sebuah massa kecil di dalam kelopak mata yang disebabkan oleh penyumbatan kelenjar minyak yang kecil di dalam kelopak mata. PENYEBAB Kalazion tumbuh di dalam kelenjar Meibom pada kelopak mata. Hal ini terjadi akibat penyumbatan pada saluran kelenjar Meibom. Kelenjar Meibom adalah kelenjar sebasea, yang menghasilkan minyak yang membentuk permukaan selaput air mata. GEJALA Pada awalnya, kalazion tampak dan terasa seperti hordeolum, kelopak mata membengkak, nyeri dan

mengalami iritasi. Beberapa hari kemudian gejala tersebut menghilang dan meninggalkan pembengkakan bundar tanpa rasa nyeri pada kelopak mata dan tumbuh secara perlahan. Di bawah kelopak mata terbentuk daerah kemerahan atau abu-abu. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan kelopak mata. Kadang saluran kelenjar Meibom bisa tersumbat oleh suatu kanker kulit; untuk memastikan hal ini maka perlu dilakukan biopsi. PENGOBATAN Pengobatan utama adalah kompres hangat selama 10-15 menit, minimal 4 kali/hari. Pengompresan akan melunakkan minyak yang mengeras yang menyumbat saluran dan mempermudah pengaliran serta penyembuhan.

Kalazia seringkali menghilang tanpa pengobatan dalam waktu 1 bulan. Jika kalazion terus membesar mungkin perlu diangkat melalui pembedahan. Pembedahan biasanya dilakukan dari bawah kelopak mata untuk menghindari

pembentukan jaringan parut di kulit. Obat tetes mata yang mengandung antibiotik biasanya digunakan beberapa hari sebelum dan sesudah

pengangkatan kalazion. 4. Blefaritis Blefaritis adalah suatu peradangan pada kelopak mata. Blefaritis ditandai dengan pembentukan minyak berlebihan di dalam kelenjar di dekat kelopak mata yang merupakan lingkungan yang disukai oleh bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di kulit. PENYEBAB Terdapat 2 jenis blefaritis: o Blefaritis anterior : mengenai kelopak mata bagian luar depan (tempat melekatnya bulu mata). Penyebabnya adalah bakteri stafilokokus dan ketombe pada kulit kepala. o Blefaritis posterior ; mengenai kelopak mata bagian dalam (bagian kelopak mata yang lembab, yang bersentuhan dengan mata). Penyebabnya adalah kelainan pada kelenjar minyak.

2 penyakit kulit yang bisa menyebabkan blefaritis posterior adalah rosasea dan ketombe pada kulit kepala (dermatitis seboreik). Alergi atau infestasi kutu pada bulu mata juga bisa menyebabkan blefaritis. GEJALA Blefaritis menyebabkan kemerahan dan penebalan, bisa juga terbentuk sisik dan keropeng atau luka terbuka yang dangkal pada kelopak mata.

Blefaritis bisa menyebabkan penderita merasa ada sesuatu di matanya. Mata dan kelopak mata terasa gatal, panas dan menjadi merah. Bisa terjadi pembengkakan kelopak mata dan beberapa helai bulu mata rontok Mata menjadi merah, berair dan peka terhadap cahaya terang. Bisa terbentuk keropeng yang melekat erat pada tepi kelopak mata; jika keropeng dilepaskan, bisa terjadi perdarahan. Selama tidur, sekresi mata mengering sehingga ketika bangun kelopak mata sukar dibuka. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil

pemeriksaan kelopak mata.

PENGOBATAN Pengobatan utama adalah membersihkan pinggiran kelopak mata untuk mengangkat minyak yang

merupakan makanan bagi bakteri. Bisa digunakan sampo bayi atau pembersih khusus. Untuk membantu membasmi bakteri kadang diberikan salep antibiotik atau (misalnya antibiotik eritromisin per-oral atau

sulfacetamide) tetracycline).

(misalnya

Jika terdapat dermatitis seboroik, harus diobati. Jika terdapat kutu, bisa dihilangkan dengan mengoleskan jeli petroleum pada dasar bulu mata. 5. Dakriostenosis

Dakriostenosis

adalah

penyumbatan

duktus

nasolakrimalis (saluran yang mengalirkan air mata ke hidung). PENYEBAB Dalam keadaan normal, air mata dari permukaan mata dialirkan ke dalam hidung melalui duktus

nasolakrimalis. Jika saluran ini tersumbat, air mata akan menumpuk dan mengalir secara berlebihan ke pipi. Penyumbatan duktus nasolakrimalis (dakriostenosis) bisa terjadi akibat: o Gangguan perkembangan sistem nasolakrimalis pada saat lahir o Infeksi hidung menahun o Infeksi mata yang berat atau berulang o Patah tulang (fraktur) hidung atau wajah o Tumor. o Penyumbatan bisa bersifat parsial (sebagian) atau total. GEJALA Penyumbatan karena tidak sempurnanya sistem

nasolakrimalis biasanya menyebabkan pengaliran air mata yang berlebihan ke pipi (epifora) dari salah satu ataupun kedua mata (lebih jarang) pada bayi berumur 3-12 minggu. Penyumbatan ini biasanya akan menghilang dengan sendirinya pada usia 6 bulan, sejalan dengan perkembangan sistem nasolakrimalis.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang lainnya adalah: o Pemeriksaan hidung bagian dalam o Pewarnaan mata dengan zat fluoresensi untuk menilai pengaliran air mata o Sinar X khusus untuk menilai duktus nasolakrimalis. PENGOBATAN Jika penyumbatannya parsial, bisa dilakukan pemijatan pada daerah kantong air mata sebanyak beberapa kali/hari. Jika terjadi peradangan diberikan obat pada tetes konjungtiva mata yang

(konjungtivitis)

mengandung antibiotik. Jika penyumbatan tetap terjadi biasanya saluran harus dibuka dengan bantuan jarum kecil yang dimasukkan melalui lubang saluran di sudut kelopak mata. Pada penderita dewasa dilakukan pembedahan untuk membuka kembali saluran air mata

(dakriosistorinostomi).

PENCEGAHAN Pengobatan yang adekuat terhadap infeksi hidung dan mata bisa mengurangi resiko terjadinya dakriostenosis. 6. Sindroma mata kering Untuk mengenali gejala awal terjadinya serangan mata kering, bisa dilihat dari keluhan pasien ketika datang berobat ke rumah sakit. Keluhan itu, biasanya pasien

merasakan sesuatu mengganjal di dalam mata, atau di dalam mata seperti ada benda asing (Kertia,2009). Gejala lain yang kemudian bisa diketahui adalah pasien akan merasakan matanya seperti berpasir, terkadang mata terasa terbakar, silau jika terkena cahaya walaupun sebenarnya cahaya yang masuk tidak terlalu terang (Kertia,2009). Selain memberikan air mata buatan, untuk mencegah terjadinya sindrom mata kering, disarankan kepada pasien untuk menggunakan kaca mata pelindung, yang berfungsi melindungi (Kertia,2009). Sindrom mata kering merupakan gangguan pada permukaan mata yang ditandai dengan ketidakstabilan produksi dan fungsi dari lapisan air mata. Angka kejadian sindrom mata kering ini lebih banyak pada wanita (Kertia,2009). Peningkatan angka terjadinya sindrom mata kering ini disebabkan oleh adanya peningkatan angka harapan hidup dari populasi, peningkatan polusi, penggunaan obat-obatan tertentu seperti obat alergi dan obat hipertensi, peningkatan pengguna lensa kontak dan peningkatan penggunaan komputer (Kertia,2009). Sindrom mata kering dapat pula terjadi berkaitan dengan penyakit sendi (arthritis), yaitu penyakit Sjogren, yang ditandai dengan mata kering, mulut kering dan radang sendi (Kertia,2009). Sindrom mata kering ditandai oleh adanya rasa iritasi, berpasir, panas, pedih, nrocoh dan rasa lengket terutama pada saat bangun pada pagi hari, kadang timbul rasa gatal dan penglihatan yang kabur. Gejala-gejala ini dirasakan lebih buruk pada saat berada pada kondisi lingkungan yang berangin, pada ruangan ber-AC, atau setelah membaca /bekerja dengan komputer dalam jangka waktu yang lama. mata dari panas berlebih atau debu

Salah satu solusi untuk kondisi ini adalah menggunakan tetes mata yang merupakan air mata buatan dapat digunakan sebagai pelumas mata serta menggantikan cairan mata yang hilang (Kertia,2009). Air mata buatan ini boleh dipakai setiap hari sebanyak 1-2 tetes setiap 4 jam, atau bahkan dengan adanya kemasan air mata buatan yang non preservative (tanpa bahan pengawet), air mata buatan ini boleh dipakai sesering mungkin sampai beberapa kali dalam satu jam, ujarnya (Kertia,2009). Cara lain untuk menjaga kelembaban permukaan mata ialah dengan menggunakan humidifier di saat cuaca kering dan kaca mata pelindung di saat berada pada kondisi berangin. Hal-hal yang meningkatkan kekeringan seperti asap rokok dan cuaca panas harus dihindari (Kertia,2009). Penderita sindrom mata kering pada fase awal mungkin hanya memerlukan tetes air mata buatan untuk mengurangi gejala yang dirasakan, namun pada mata yang sangat kering dapat menimbulkan kerusakan yang serius pada mata, karena itu pemeriksaan ke dokter spesialis mata sangat diperlukan (Kertia,2009). SJORGENS SYNDROME

PENGERTIAN Sindrom sjorgen adalah suatu penyakit autoimun yang

menyebabkan berkurangnya sekresi kelenjar saliva dan kelenjar eksotrin tubuh lain. Sjorgen terjadi apabila suatu sistem imun tubuh menyerang dan mengahancurkan sel sel penyusun kelenjar saliva, kelenjar air mata dan kelenjar eksotrin tubuh lainnya. (Hanri,2009). Sumber : Hanri, 2009. Kerusakan sistem imunitas pada sjorgen syndrome. Medan : FKG Universitas Sumatera Utara GEJALA KLINIS

Gejala-gejala utama pada sindrom ini adalah kekeringan mulut dan mata. Lainnya, sindrom Sjgren juga dapat menyebabkan kekeringan pada kulit, hidung, dan vagina. Sindrom ini juga dapat memengaruhi organ lainnya seperti ginjal, pembuluh darah, paru-paru, hati, pankreas, dan otak. Sembilan dari sepuluh pasien Sjgren adalah wanita dan usia rata-rata pada akhir 40-an. Selebihnya penyakit ini dapat timbul pada pria dan wanita segala umur. (Scofield,2005)

SUMBER : Scofield RH, Asfa S, Obeso D, Jonsson R, Kurien BT. 2005. Immunization withshort peptides from the 60-kDa Ro antigen recapitulates the serological and pathological findings as well as the salivary gland dysfunction of Sjgren's syndrome.J Immunol. Dec 15;175(12):8409-14.

Menurut Hartono (1995), tanda dan gejala sindrom Sjogren yaitu : 1. Mulut Kering Meskipun terdapat berbagai penyebab, mulut kering pada sindrom Sjogren adalah salah satu yang paling sulit ditangani. Antibodi yang menyerang dan menghancurkan sel-sel kelenjar eksokrin menyebabkan kehancuran sel-sel kelenjar ludah. Karena itu, penderita akan mengalami penurunan produksi air liur. Kondisi ini menyebabkan mulut kering, sulit menelan, serta sulit mengunyah dan berbicara. 2. Karies Gigi Air liur memiliki banyak fungsi penting. Salah satu fungsi utama, selain lubrikasi, adalah air liur membantu memerangi kerusakan gigi. Air liur mengandung banyak senyawa antibakteri seperti tiosianat, hidrogen peroksida, dan imunoglobulin A. Semua senyawa ini membantu memerangi dan mencegah karies gigi.

3. Pembengkakan Kelenjar Ludah Gejala lain sindrom Sjogren adalah pembengkakan kelenjar ludah.Pembengkakan sering terlihat dekat sudut mulut akibat pembengkakan kelenjar parotis. 4. Mata kering Mata kering disebabkan karena sel-sel kelenjar lakrimal dihancurkan oleh antibodi sehingga terjadi kekurangan produksi ari mata. Kondisi ini menyebabkan banyak masalah seperti iritasi parah, mata sangat kering dan gatal serta ulserasi kornea. 5. Hidung dan tenggorokan kering Gejala sekunder dari sindrom sjogren termasuk kekeringan pada hidung, tenggorokan dan paru-paru. Hal ini menyebabkan batuk, suara serak, epistaksis (mimisan) dll. Kondisi ini juga akan meningkatkan kerentanan

seseorang mengalami penyakit paru dan pernapasan seperti pneumonia dan bronkitis. 6. Kulit Kering Karena penurunan aktivitas kelenjar sebasea dan kelenjar keringat, kulit menjadi kering dan bersisik. Kulit kering menyebabkan iritasi dan peningkatan kerentanan terhadap penyakit kulit lainnya. 7. Depresi dan Kelelahan Pasien sindrom sjogren mengeluh lekas marah hingga mengalami depresi. Orang tersebut mungkin mengeluh mengalami kelemahan dan kelelahan. Semua kondisi ini pada ujungnya menyebabkan pasien kehilangan antusiasme untuk melakukan aktivitas apapun yang biasanya diikuti dengan serangan depresi. 8. Perubahan Internal Perubahan tertentu pada organ dalam mungkin juga terjadi seperti pada hati, karena fungsi berbagai kelenjar terganggu. Penderita mungkin mengalami gangguan pencernaan dan masalah lain.

SUMBER : Hartono. 1995. Buku Saku Neurologi. Jakarta: EGC. sindrom Sjgren juga dapat menyebabkan kekeringan pada kulit, hidung, dan vagina. Sindrom ini juga dapat memengaruhi organ lainnya seperti ginjal, pembuluh darah, paru-paru, hati, pankreas, dan otak. Sembilan dari sepuluh pasien Sjgren adalah wanita dan usia rata-rata pada akhir 40an. Selebihnya penyakit ini dapat timbul pada pria dan wanita segala umur. Penyebab Penyakit Autoimun Ada beberapa penyebab penyakit autoimun diantaranya : 1. Terjangkitnya virus 2. Adanya UV dari sinar matahari 3. Lodine 4. Stress dan kecemasan yang berkepanjangan 5. Karena sedang masa kehamilan 6. Lemahnya kekebalan tubuh yang dikarenakan alcohol, tembakau dan mereka yang melaksanakan diet dengan cara tidak benar. Dalam spesifiknya penyakit autoimun disebabkan karena autoimmune disorders yaitu mekanisme tubuh untuk

mempertahankan tubuh dari serangan penyakit dan ketika kekebalan tubuh rusak maka biasanya akan terjadi

penyerangan balik (counter attack). Dan kebanyakan faktor genetik atau keturunan yang menjadi penyebab penyakit autoimun ini. Mekanisme Penyakit Autoimun Diagnosis penyakit autoimun ditegakkan bila keadaan autoimun (respons imun terhadap diri sendiri) berhubungan dengan pola gejala dan tanda klinik yang dikenali. Keadaan autoimun biasanya ditetapkan berdasarkan deteksi adanya antibodi yang khas dalam sirkulasi penderita (Porter, 2000).
Ada dua teori utama yang menerangkan mekanisme terjadinya penyakit autoimun. Yang pertama adalah autoimun

disebabkan oleh kegagalan pada delesi normal limfosit untuk mengenali antigen tubuh sendiri. Teori yang berkembang terakhir adalah autoimun disebabkan oleh kegagalan regulasi normal dari sistem imunitas (yang mengandung beberapa sel imun yang mengenali antigen tubuh sendiri namun mengalami supresi). Nampaknya kombinasi faktor lingkungan, genetik dan tubuh sendiri berperan dalam ekspresi penyakit autoimun (Porter, 2000). Penyebab Reaksi autoimun dapat dicetuskan oleh beberapa hal (Fatmah, 2006) :

1.

Senyawa yang ada di badan yang normalnya dibatasi di area tertentu (dan demikian disembunyikan dari sistem kekebalan tubuh) dilepaskan ke dalam aliran darah.Misalnya, pukulan ke mata bisa membuat cairan di bola mata dilepaskan ke dalam aliran darah.Cairan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali mata sebagai benda asing dan menyerangnya.

2.

Senyawa normal di tubuh berubah, misalnya, oleh virus, obat, sinar matahari, atau radiasi. Bahan senyawa yang berubah mungkin kelihatannya asing bagi sistem kekebalan tubuh. Misalnya, virus bisa menulari dan demikian mengubah sel di badan. Sel yang ditulari oleh virus merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menyerangnya.

3.

Senyawa asing yang menyerupai senyawa badan alami mungkin memasuki badan. Sistem kekebalan tubuh dengan kurang hati-hati dapat menjadikan senyawa badan mirip seperti bahan asing sebagai sasaran. Misalnya, bakteri penyebab sakit kerongkongan

mempunyai beberapa antigen yang mirip dengan sel jantung manusia. Jarang terjadi, sistem kekebalan tubuh dapat menyerang jantung orang sesudah sakit kerongkongan (reaksi ini bagian dari demam reumatik). 4. Sel yang mengontrol produksi antibodi misalnya, limfosit B (salah satu sel darah putih) mungkin rusak dan menghasilkan antibodi abnormal yang menyerang beberapa sel badan.

Keturunan

mungkin

terlibat

pada

beberapa

kekacauan

autoimun.Kerentanan kekacauan, daripada kekacauan itu sendiri, mungkin diwarisi.Pada orang yang rentan, satu pemicu, seperti infeks virus atau kerusakan jaringan, dapat membuat kekacauan berkembang.Faktor Hormonal juga mungkin dilibatkan, karena banyak kekacauan autoimun lebih sering terjadi pada wanita. Gejala Autoimun yang biasa terjadi adalah demam, peradangan dan kerusakan jaringan, rasa sakit, merusak bentuk sendi, kelemahan, pengendapan laju eritrosit (ESR) seringkali meningkat, jumlah sel darah merah berkurang (anemia), gatal, kesukaran pernafasan, penumpukan cairan (edema),

Penatalaksanaan sindrom sjorgen PENATALAKSANAAN MEDIS Banyak orang yang dapat mengatasi mata kering dan mulut kering yang terkait dengan sindrom Sjogren dengan

menggunakan obat tetes mata yang dijual bebas dan minum air lebih sering. Tetapi beberapa orang mungkin membutuhkan resep obat dari dokter, atau bahkan operasi. Pengobatan A.Obat-obatan Tergantung pada gejala yang terjadi pada pasien, obat yang biasa diberikan oleh dokter, antara lain: 1. Obat untuk meningkatkan produksi air liur Obat-obatan jenis ini antara lain, pilocarpine (Salagen) dan cevimeline (Evoxac) dapat meningkatkan produksi air liur, dan kadang-kadang juga meningkatkan produksi air mata. Efek samping yang dapat terjadi, antara lain berkeringat, sakit perut, diare, dan sering buang air. 2. Obat untuk komplikasi tertentu dari sindrom Sjogren Jika sindrom ini berkembang menjadi gejala-gejala seperti arthritis, dapat diatasi dengan obat nonsteroidal anti-

inflammatory drugs (NSAIDs) atau obat arthritis yang lain. Jika terjadi infeksi jamur oleh karena keringnya rongga mulut, harus diobati dengan obat antijamur.

3. Obat untuk mengatasi semua gejala sindrom Sjogren secara luas Hydroxychloroquine (Plaquenil) merupakan obat yang

dirancang untuk mengobati malaria, obat ini sering membantu dalam mengobati sindrom Sjogren. Obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh, seperti methotrexate atau siklosporin, mungkin juga akan

diresepkan oleh dokter. b. Oprasi Untuk mengurangi kering pada mata, dapat

dipertimbangkan untuk menjalani prosedur bedah minor untuk menutup saluran air mata. Saluran air mata tersebut merupakan saluran yang mengeluarkan air mata dari mata (punctal occlusion) dan menyebabkan air mata habis, sehingga mata kering. Kolagen atau silikon dapat dimasukkan ke dalam saluran sebagai penutup sementara. Tindakan operasi yang lain juga dapat dengan menggunakan laser untuk menutup saluran air mata secara permanen.

Saraf yang berhubungan dengan Sindrom Sjorgen N. alveolaris superior medius dapat ditemukan pada

50% kasus. Saraf ini dapat terletak pada salah satu sisi wajah, tidak ada pada sisi berlawanan Saraf mengeluarkan n. infraorbitalis di antara a. alveolaris superior anterior dan fissura orbitalis inferior. Saraf biasanya berjalan turun pada dinding lateral sinus jauh kedalam processus zygomaticus maxillae dan karena itu akan terletak tidak jauh dari permukaan tulang. Saraf akan bergabung dengan plexus saraf yang dibentuk melalui n. alveolaris superir posterior dan rami posterior n. alveolaris anterior yang bertumpang tindih. Saraf berfungsi mempersarafi gigi premolar dan membantu

mempersarafi jaringan pendukung gigi kaninus dan molar pertama tetap. Saraf ini mengeluarkan cabang-cabangnya ke membrana mukosa sinus.

N. alveolaris superior posterior atau n. alveolaris merupakan cabang n. maxillaris ketika a. maxillaris berjalan melewati fossa pterygopalatina. Saraf ini berjalan turun pada bagian belakang maxilla bersama arteri. Beberapa cabang akan tetap berjalan pada permukaan tulang untuk mempersarafi gingiva yang berhubungan dengan molar tetap dan pipi. Cabang-cabang lainnya masuk ke satu atau beberapa foramina pada bagian belakang maxilla, berjalan horizontal dakam canalis tulang dibawah processus zygomaticus maxillae, ke arah facies, facialis tulang, membentuk plexus bersama dengan n. alveolaris sperior anterior dan n. alveolaris superior medius. N. alveolaris superior posterior berfungsi

mempersarafi gigi molar dan membrana mukosa sinus maxillaris. Plexus yang dibentuk oleh n. alveolaris superior berhubungan erat dengan apex gigi geligi tas dan terbentuk melalui distribusi tiga cabang-cabang saraf yang bertumpang tindih. Incivus mendapat persarafan dari rami interior;

kaninus mendapat persarafan dari rami interior dan media bila ada; premolar mendapat persarafan dari rami interior dan/ atau rami media bila ada; molar pertama tetap mendapat suplai dari rami medius bila ada dan rami posterior, sedangkan rami medius selalu mempersarafi molar dua dan tiga. Persarafan gigi geligi bawah berasal dari n alveolaris inferior, cabang prosterior truncus mandibularis n trigeminus (n cranialis V) gingiva pada facies lingualis gigi geligi bawah mendapat persarafan serabut sensorik dari n lingualis. Gingiva pada facies buccalismolar dan premolar bawah mendapat suplai dari n buccalis yang merupakan cabang terminal (sensorik) dari divisi anterior n mandibulari. Saraf ini berjalan pada permukaan luar m buccinator dengan disertai arteri. N mentalis berfungsi mempersarafi mukosa labial pada regio kaninus dan incisivus.

Saraf lain yang mensuplai jaringan cavum oris mandibula N lingualis seperit n alveolaris inferior, adalah merupakan cabang divisi mandibularis dari n trigeminus. Saraf ini keluar dari truncus saraf di balik m pterygoideus lateralllis dan di depan n alveolaris inferior, di hubungkan dengan saraf ini melalui rami communicater. Saraf ini membawa serabut sensorik panas untuk persepsi sensasi umum (sentuhan, panas, dingin, dan sakit) dua pertiga anterior lingua, dasar mulut, gingiva serta serabut pengecap dari dua pertiga anterior

lingua. Serabut pengecap berjalan keluar dari n lingualis untuk bergabung dengan n facialis melalui n chorda tympani. N buccalis adalah cabang terminal dari divisi anterior n mandibularis. Saraf ini berjalan jauh ke dalam ke daieah insersi m termporalis pada permukaan m buccinator dan menuju cutis yang terletak di atasnya. M buccalis merupakan saraf sensorik utama yang mempersarafi cutis, membrana mukosa dari vertiulum oris dan gingiva pada facies buccalis gigi geligi. Distribusi saraf ini dapat meluas jauh ke depan sampai angulus mandubulae. Walaupun cabang n buccalis berhubungan dengan cabang-cabang n facialis, n buccalis adalah saraf sensorik dan blok anastesi lokal yang

didepositkan pada saraf ini tidak akan menimbulkan gangguan fungsi otot. N buccalis dan n mentalis merupakan cabang divisi mandibularis yang terdapat pada pipi. Labium oris inferius medapat persarafan dari n mentalis cabang divisi

mandibularis. Saraf-saraf inijuga mengeluarkan percabangan ke sekitar jaringan gingiva.

Xerostomia
Umumnya perhatian terhadap saliva sangat kurang. Perhatian terhadap saliva baru timbul apabila terjadinya pengurangan sekresi saliva yang akan menimbulkan gejala mulut kering atau xerostomia

Definisi Xerostomia adalah keadaan di mana mulut kering akibat pengurangan atau tiadanya aliran saliva. Xerostomia bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan gejala dari pelbagai kondisi seperti perawatan yang diterima, efek samping dari radiasi di kepala dan leher, atau efek samping dari pelbagai jenis obat. Dapat berhubungan atau tidak berhubungan dengan penurunan fungsi kelenjar saliva. Faktor penyebab timbulnya xerostomia: 1. Gangguan pada kelenjar saliva: Ada beberapa penyakit lokal tertentu yang mempengaruhi kelenjar saliva dan menyebabkan berkurangnya aliran saliva.7,12 Sialodenitis kronis lebih sering mempengaruhi kelenjar submandibula dan parotis. Penyakit ini menyebabkan degenerasi dari sel asini dan penyumbatan duktus.7 Kistakista dan tumor kelenjar saliva, baik yang jinak maupun ganas dapat menyebabkan penekanan pada struktur-struktur duktus dari kelenjar saliva dan dengan demikian mempengaruhi sekresi saliva.7,8 Sindroma Sjogren merupakan penyakit autoimun jaringan ikat yang dapat mempengaruhi kelenjar airmata dan kelenjar saliva.1,2,6-12 Sel-sel asini kelenjar saliva rusak karena infiltrasi limfosit sehingga sekresinya berkurang.7,6 2. Keadaan fisiologis: Tingkat aliran saliva biasanya dipengaruhi oleh keadaan-keadaan fisiologis. Pada saat berolahraga, berbicara yang lama dapat menyebabkan berkurangnya aliran saliva sehingga mulut terasa kering. 7,12 Bernafas melalui mulut juga akan memberikan pengaruh mulut kering.7,9,11 Gangguan emosionil, seperti stress, putus asa dan rasa takut dapat menyebabkan mulut kering. Hal ini disebabkan keadaan emosionil tersebut merangsang terjadinya pengaruh simpatik dari sistem syaraf autonom dan menghalangi sistem parasimpatik yang menyebabkan turunnya sekresi saliva.7-12 3. Penggunaan obat-obatan: Banyak sekali obat yang mempengaruhi sekresi saliva. Obat-obatan tersebut mempengaruhi aliran saliva secara langsung dengan memblokade sistem syaraf dan menghambat sekresi saliva. Oleh karena sekresi air dan elektrolit terutama diatur oleh sistem syaraf parasimpatis, obat-obatan dengan pengaruh antikolinergik akan menghambat paling kuat pengeluaran saliva. Obatobatan dengan pengaruh anti -adrenergik (yang disebut -bloker) terutama akan

menghambat sekresi ludah mukus.7,12,27 Obat-obatan juga dapat secara tidak langsung mempengaruhi saliva dengan mengubah keseimbangan cairan dan elektrolit atau dengan mempengaruhi aliran darah ke kelenjar.7,12 4. Usia: Keluhan mulut kering sering ditemukan pada usia lanjut. Keadaan ini disebabkan oleh adanya perubahan atropi pada kelenjar saliva sesuai dengan pertambahan umur yang akan menurunkan produksi saliva dan mengubah komposisinya.7 Seiring dengan meningkatnya usia, dengan terjadinya proses aging, terjadi perubahan dan kemunduran fungsi kelenjar saliva, dimana kelenjar parenkim hilang yang digantikan oleh jaringan lemak, lining sel duktus intermediate mengalami atropi. Keadaan ini mengakibatkan pengurangan jumlah aliran saliva. 1,7,12 Selain itu, penyakit- penyakit sistemik yang diderita pada usia lanjut dan obat-obatan yang digunakan untuk perawatan penyakit sistemik dapat memberikan pengaruh mulut kering pada usia lanjut. 5. Terapi kanker: Xerostomia paling sering berhubungan dengan terapi radiasi kepala dan leher. Xerostomia akut karena radiasi dapat menyebabkan suatu reaksi peradangan, bila xerostomia kronik terjadi sampai 1 tahun setelah mendapat terapi radiasi, dapat menyebabkan fibrosis kelenjar saliva dan biasanya permanen. Radiasi menyebabkan perubahan di dalam sel sekresi serous, mengakibatkan pengurangan pengeluaran saliva dan peningkatan kepekatan saliva. Biasanya, keluhan awal dari terapi radiasi adalah saliva pekat dan berlendir. 1,6,7 Kadar permanennya xerostomia bergantung pada banyaknya kelenjar saliva yang terpapar radiasi dan dosis radiasi. Apabila jumlah dosis radiasi yang diterima melebihi 5,200 cGy, aliran saliva akan berkurang dan sedikit atau tidak ada saliva yang dikeluarkan dari kelenjar saliva. Perubahan ini biasanya permanen.2,6 Beberapa obat kemoterapi kanker juga dapat mengubah komposisi dan aliran saliva, mengakibatkan xerostomia, tetapi perubahan ini biasanya sementara.

2.3 Nyeri 2.3.1 Pengertian Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan kerusakan jaringan baik

aktual maupun potensial atau yang digambarkan dalam kerusakan tersebut. Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak

menyenangkan. Sifatnya sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala

atautingkatannya,dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya. Secara umum, nyeri diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik maupun dari serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik, fisiologis, maupun emosional. 2.3.2 Klasifikasi nyeri Klasifikasi nyeri secara umum dibagi menjadi dua,yakni : 1. nyeri akut,nyeri akut merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat menghilang,tidak melebihi 6

bulan,serta ditandai dengan adanya peningkatan tegangan otot. 2. Nyeri kronis merupakan nyeri yang timbul secara perlahanlahan,biasanyaberlangsung dalam waktu cukup lama,yaitu lebih dari enam bulan yang termasuk dalam kategori nyeri kronis adalah nyeri terminal,sindrom nyeri kronis,dan nyeri psikosomatis. Jenis nyeri yang spesifik 1. Nyeri somatis 2. Nyeri viseral 3. Nyeri menjalar(referent pain) 4. Nyeri psikogenik 5. Nyeri phantom 6. Nyeri ekstemitas 7. Nyeri neurologis Berdasarkan Letak Nyeri : 1. Nyeri Neuropatik Perifer Pada nyeri neuropatik perifer Letak lesi di sistem perifer, mulai dari saraf tepi, ganglion radiks dorsalis sampai ke

radiks dorsalis. Contoh: Diabetik Periferal Neuropati (DPN), Post Herpetik Neuralgia (PHN), Trigeminal neuralgia, CRPStipe I, CRPS tipe II. 2. Nyeri Neuropatik Sentral Letak lesi dari medula spinalis sampai ke korteks. Contoh: Nyeri post stroke, Multiple Sclerosis, Nyeri post trauma medula spinalis.

Berdasarkan waktu terjadinya : 1. Nyeri Neuropatik Akut Nyeri yang dialami kurang dari 3 bulan. Contoh Neuralgia herpetika, Acute Inflammatory Demyelinating Neurophaty 2. Nyeri Neuropatik Kronik Nyeri yang dialami lebih dari 3 bulan. Nyeri neuropatik kronis juga dibedakan menjadi: a. Malignan (nyeri keganasan, post operasi, post

radioterapi, post chemoterapi b. Non Malignan (neuropati diabetika, Carpal Tunnel Syndrome, traumamedula neuropati spinalis, toksis, avulsi post pleksus, herpes

neuralgia