Anda di halaman 1dari 23

Disampaikan pada Acara : Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan Bidang Penataan Ruang Bengkulu, 4 Mei 2012

Oleh:

Dr. H. SJOFJAN BAKAR, M.Sc Direktur Fasilitasi Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup

DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

PENATAAAN RUANG
merupakan kegiatan yang strategis dan bersifat multidimensi multifungsi, dan multisektor
harus ditangani secara terpadu oleh Lembaga/ Instansi yang memiliki tupoksi koordinatif melalui pendekatan pengembangan wilayah bukan pendekatan sektor.

sehingga

KOORDINASI DIPERLUKAN

Tatanan Kewenangan di bidang Penataan Ruang


Penyelenggaraan penataan ruang harus dilakukan secara koordinatif baik di tingkat Pusat maupun di Daerah sesuai dengan kewenangan masing-masing.
(Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, pasal 10)

Sinkronisasi Kelembagaan
Penyelenggaraan penataan ruang harus didukung oleh kelembagaan pada masingmasing tingkat pemerintahan secara serasi, selaras, terpadu dan berkelanjutan.
(Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang)

Belum terwujudnya kesamaan pola pikir dan cara pandang para aparatur pemerintah (unsur eksekutif) dan anggota dewan (unsur legislatif) di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Kurangnya komitmen politik dan koordinasi antar sektor guna mendukung terselenggaranya penataan ruang yang baik. BKPRD belum efektif dalam melakukan koordinasi dan pembinaan penataan ruang di daerah. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 mengenai Organisasi Perangkat Daerah, terdapat banyak variasi susunan organisasi tata kerja. Lemahnya kapasitas SDM penyelenggara penataan ruang.

Mengapa Kelembagaan Penataan Ruang diperlukan ???

Isu Permasalahan Penataan Ruang Kompleksitas Sifat Penataan Ruang (multifungsi, multidimensi, dan multisektor) Tuntutan Fungsi Koordinatif Eksistensi Lembaga Daerah tidak parsial/nonsektoral Peran Strategis Kepala Daerah (Gubernur/Bupati/ Walikota) sebagai penanggungjawab penyelenggaraan penataan ruang daerah Persiapan penyusunan Raperda RTR Konsultasi dan Evaluasi Raperda RTR

KEBERADAAN KELEMBAGAAN PENATAAN RUANG DAERAH

Penyelenggaraan urusan kewenangan wajib di bidang tata ruang. Perumusan berbagai kebijakan penataan ruang Provinsi dan Kabupaten/Kota. Penyusunan RTRWP, RTR Kawasan strategis Provinsi, RTRWK/K, RTR Kawasan Strategis Kabupaten/Kota, dan RDTR Kabupaten/Kota. Penanganan dan penyelesaian masalah atau konflik yang timbul dalam penyelenggaraan penataan ruang di Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Pelaksanaan kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang.

Dalam rangka menserasikan dan mensinergikan penataan ruang daerah dipandang perlu optimalisasi koordinasi antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota serta instansi terkait di Daerah.

Koordinasi di PUSAT ditetapkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2009 tentang Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN). Di DAERAH ditetapkan Permendagri Nomor 50 Tahun 2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah.

Implikasi dari Permendagri tersebut adalah penetapan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Provinsi dan Kabupaten/Kota di masing-masing daerah.

Inmendagri Nomor 19 Tahun 1996 tentang Pembentukan TKPRD Tingkat I dan Tingkat II

Kepmendagri No. 147 Tahun 2004 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah

Permendagri No. 50 Tahun 2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah

Perubahan perubahan antara lain:

Struktur Organisasi dilakukan reorganisasi terkait dengan PP No.41/2007.

REVISI

Tugas BKPRD dirinci berdasarkan aspek perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, pengendalian pemanfaatan ruang, proses pengawalan substansi RTR, dan penetapan Raperda RTR. Keanggotaan Pokja disesuaikan dengan urusan yang membidangi perencanaan ruang. Mekanisme kerja BKPRD dan Pokja. Frekuensi pelaporan.

PERMENDAGRI NOMOR 50/2009 Tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah

Perbandingan antara Kepmendagri 147/2004 dan Permendagri 50/2009

KEPKEPMENDAGRI 147/2004
PROVINSI
a. b. c. d. e. Penanggung Jawab Ketua Ketua Harian Sekretaris Wakil Sekretaris : : : : : Gubernur Wakil Gubernur Sekda Provinsi Kepala Bappeda Provinsi Kepala dinas yang mengurusi tata ruang a. Anggota : Disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan potensi daerah a. b. c. d.

PERMENDAGRI 50/2009
PROVINSI
Penanggung Jawab Ketua Sekretaris Anggota: : : : : Gubernur dan Wakil Gubernur Sekda Provinsi Kepala Bappeda Provinsi SKPD disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan daerah

KABUPATEN/KOTA
a. b. c. d. e. Penanggung Jawab Ketua Ketua Harian Sekretaris Wakil Sekretaris : : : : : Bupati/Walikota Wakil Bupati/ Wakil Walikota Sekda Kabupaten/Kota Kepala Bappeda Kab/Kota Kepala dinas yang mengurusi tata ruang b. c. d. Ketua Sekretaris Anggota: a.

KABUPATEN/KOTA
Penanggung Jawab : - Bupati dan Wakil Bupati - Walikota dan Wakil Walikota : : : Sekda Kab/Kota Kepala Bappeda Kab/Kota SKPD disesuaikan dengan

f.

Anggota:

Disesuaikan dengan tingkat


kebutuhan dan potensi daerah

kebutuhan dan
kemampuan daerah

Pembentukan BKPRD sebagai pembantu Gubernur/ Bupati/Walikota dalam melaksanakan koordinasi penataan ruang daerah (bagi provinsi dan kabupaten/kota yang belum mempunyai BKPRD). Perlu segera melakukan penyesuaian BKPRD berdasarkan Permendagri Nomor 50 Tahun 2009 (bagi provinsi dan kabupaten/kota yang telah mempunyai BKPRD). Komitmen semua pihak baik Pemerintah maupun Pemerintah Daerah dalam mendukung eksistensi fungsi dan peran BKPRD. Adanya fungsi dan peran BKPRD sebagai sarana koordinatif yang efektif sehingga hasilnya dapat operasional.

:
Sekretariat BKPRD Provinsi dipimpin oleh

Sekretaris Bappeda Provinsi


(Pasal 8 ayat 1)

Sekretariat

Sekretariat BKPRD Kab/Kota dipimpin oleh Sekretaris Bappeda Kabupaten/Kota (Pasal 18 ayat 1)

Kelompok Kerja Perencanaan Tata Ruang Kelompok Kerja Kelompok Kerja Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Revitalisasi BKPRD sesuai Permendagri 50 tahun 2009, misalnya dengan optimalisasi tugas Kelompok Kerja (Pokja) Perencanaan Tata Ruang dan Pokja Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang. Peningkatan peran BKPRD Provinsi dalam memfasilitasi konflik pemanfaatan ruang Kabupaten/Kota sebelum BKPRD Kabupaten Kota berkonsultasi ke instansi pusat terkait BKPRN Komitmen semua pihak untuk meningkatkan fungsi dan peran BKPRD. Membangun mekanisme kerja yang efektif.

BKPRD Provinsi menyelenggarakan pertemuan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan untuk menghasilkan rekomendasi alternatif kebijakan penataan ruang (Pasal 4 ayat 2). BKPRD Provinsi menyampaikan laporan pelaksanaan tugas BKPRD Provinsi dan rekomendasi secara berkala kepada Gubernur (Pasal 4 ayat 3). Gubernur memerintahkan SKPD terkait untuk menindaklanjuti rekomendasi BKPRD Provinsi (Pasal 6).
Gubernur melaporkan pelaksanaan koordinasi penataan ruang provinsi dan pembinaan penataan ruang kabupaten/kota kepada Menteri Dalam Negeri disampaikan paling sedikit 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun pada bulan Mei dan September.

Lanjutan
o BKPRD Kabupaten/Kota menyelenggarakan pertemuan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan untuk menghasilkan rekomendasi alternatif kebijakan penataan ruang (Pasal 14 ayat 2). o BKPRD Kabupaten/Kota menyampaikan laporan pelaksanaan tugas BKPRD Kabupaten/Kota dan rekomendasi secara berkala kepada Bupati/Walikota (Pasal 4 ayat 3). o Bupati/Walikota memerintahkan SKPD terkait untuk menindaklanjuti rekomendasi BKPRD Kabupaten/Kota (Pasal 16).
Bupati/Walikota melaporkan pelaksanaan koordinasi penataan ruang Kabupaten/Kota kepada Gubernur dengan tembusan Menteri Dalam Negeri disampaikan paling sedikit 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun pada bulan April dan Agustus.

Bupati / Walikota
Rekomendasi Rekomendasi

Gubernur
Input/masukan

4a`
Raker Regional BKPRN

Agenda BKPRD Kab/Kota

Agenda BKPRD Provinsi

3
Rakernas BKPRD

4b`
Raker Regional BKPRN

Input/masukan

6
Tindak Lanjut Kementerian /Lembaga

Isu Strategis Rakernas BKPRN Program Kerja

A. Dalam Perencanaan Tata Ruang


Skala Perencanaan Tata Ruang RTRWP dan RTRW Kab/Kota Rencana Kawasan Strategis (Provinsi dan Kabupaten/Kota) Substansi Struktur dan pola ruang Rencana Blok (zoning) Instansi Bappeda Mekanisme Koordinasi (BKPRD) Koordinasi (BKPRD) Koordinasi (BKPRD)

Bappeda Dinas Tata Ruang/ Tata Kota dengan persetujuan Bappeda

Rencana Detail Tata Ruang Kab/Kota

Rencana Blok (zoning)

Catatan: Apabila Dinas Tata Ruang/Kota belum terbentuk, diserahkan kepada Dinas Teknis yang membidangi urusan tata ruang.

Lanjutan
B. Dalam Pemanfaatan Ruang
Skala Perencanaan Tata Ruang
RTRWP dan RTRW Kab/Kota Rencana Kawasan Strategis (Provinsi dan Kabupaten/ Kota) Rencana Detail Tata Ruang Kab/Kota

Program
Pemanfaatan Ruang Pembiayaan berdasarkan indikasi program (20 th) Pemanfaatan Ruang Pembiayaan berdasarkan indikasi program (20 th) Pemanfaatan Ruang Pembiayaan berdasarkan indikasi program (20 th)

Instansi
Seluruh Instansi Seluruh Instansi

Mekanisme
Koordinasi (BKPRD) Koordinasi (BKPRD)

Seluruh Instansi

Koordinasi (BKPRD)

Catatan: Apabila Dinas Tata Ruang/Kota belum terbentuk, diserahkan kepada Dinas Teknis yang membidangi urusan tata ruang.

Lanjutan
C. Dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Skala Perencanaan
Pola & Struktur Ruang (RTRW)

Izin yang dikeluarkan

Instansi

Mekanisme
Pertimbangan (BKPRD)

Ijin Prinsip/ Bappeda fatwa tata ruang

Rencana Blok

Ijin Site Plan/Rencana Tapak


Ijin Mendirikan Bangunan

Dinas Tata Ruang dengan persetujuan Bappeda


Dinas Tata Bangunan (jika dinas ini belum ada, diserahkan pada Dinas Tata Ruang)

Pertimbangan (BKPRD)
Pertimbangan (BKPRD)

Rencana Perpetakan

Catatan: Apabila Dinas Tata Ruang/Kota belum terbentuk, diserahkan kepada Dinas Teknis yang membidangi urusan tata ruang.

INTERNAL
Prioritas

BKPRD PROV BENGKULU

EKSTERNAL
Terhadap Raperda

Simultan

Penyusunan RTRWP
Legalitas

(Sesuai amanat dalam Perda)

RTR KAWASAN STRATEGIS PROVINSI

RTRW KAB/KOTA RTR KAWASAN STRATEGIS KAB/KOTA RDTR KAB/KOTA PERATURAN ZONASI KAB/KOTA
Melakukan pembahasan

PERDA No. ... Th 2012

ARAHAN PERATURAN ZONASI PROVINSI


Dilakukan

Dilakukan PEMANFAATAN RUANG (kroscek terhadap pelaksanaan indikasi program dalam Perda) PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG (Pokja pengendalian dalam upaya penegakan Perda)

PENYUSUNAN PERDA

PEMBERIAN REKOMENDASI

EVALUASI

No 1 2 3 4 5

Provinsi Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan Riau Kepulauan Riau Jambi Bengkulu Bangka Lampung Banten DKI Jawa Barat Jawa Tengah DIY Jawa Timur Kalimantan Barat

SK Penetapan SK No. 050/07/2010 SK No. 050/2032/K/2010 SK No. 50-219-2012 SK No. 599/KPTS/Bappeda/2010 SK No. 759/III/2010 SK No. 245/2010 117/Kep. Gub/Bappeda/2011 SK. No. B.2425.XXVII Tahun 2010 SK No. 24/2009 SK No. G/293/11.01/HK/2010 Revisi masih di Biro Hukum Draf SK No. 120/Kep. 697.Bapp/2010 SK No. 650/27/2010 SK No. 129/Kep/2010 SK No. 299/Bappeda/2010

No 18 19

Provinsi Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Sulawesi Barat Gorontalo Bali NTB NTT Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat

SK Penetapan SK No. 188.44/0272/KUM/2010 SK No. 05/2010

20
21 22 23

SK No. 650/K.397/2010
Draf SK No. 050/565/BappedaGTS/2010 Draf

6
7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

24
25 26 27 28 29 30 31 32 33

SK No. 73 Tahun 2011


Draf SK No. 183/01/VII/2007 SK No. 19/02-C/HK/2010 SK No. 13 Tahun 2009 Draf Draf Draf Revisi masih di Biro Hukum Draf

1.

BKPRD sebagai wadah koordinasi yang membantu sebagian tugas Gubernur dan Bupati/Walikota dalam penyelenggaraan penataan ruang daerah. BKPRD perlu didayagunakan untuk terselenggaranya penataan ruang di Daerah yang akan berdampak langsung terhadap masyarakat secara transparan, akuntabel, dan partisipatif. Pemerintah Provinsi memfasilitasi pelaksanaan konsultasi Raperda Rencana Tata Ruang Kabupaten/ Kota dalam forum BKPRD Provinsi, guna memberikan rekomendasi kepada Kabupaten/Kota sebelum dilakukan pembahasan di BKPRN. Menteri Dalam Negeri bersama dengan Menteri terkait BKPRN berkewajiban melakukan pembinaan fungsi dan peran BKPRD dalam penyelenggaraan penataan ruang di daerah.

2.

3.

4.