Anda di halaman 1dari 22

AKUNTANSI ASET TETAP DAN NON KAS

Oleh : Andy Setiawan, Fernandhi Dwi Prakoso, dan M. Haykel

Akuntansi Aset Tetap


Standar Akuntansi Pemerintahan Pernyataan no.7 merupakan Standar yang mengatur tentang Akuntansi Aset Tetap. Tujuannya adalah mengatur perlakuan akuntansi akuntansi untuk aset tetap, yang meliputi pengakuan, penentuan nilai tercatat, serta penentuan dan perlakuan akuntansi atas penilaian kembali dan penurunan nilai tercatat aset tetap. Standar ini tidak diterapkan untuk : 1. Hutan dan sumber daya alam yang dapat diperbaharui (regenerative natural resources)

2. Kuasa pertambangan, eksplorasi dan penggalian mineral, minyak, gas alam, dan sumber daya alam serupa yang tidak dapat diperbaharui (non-regenerative natural resources)

Aset Tetap
Aset Tetap Pemerintah - Sebagaimana akuntansi komersial, dalam akuntansi pemerintahan juga dikenal istilah aset tetap. Lebih lanjut dalam modul Sistem Informasi dan Manajemen Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN), Tim PPAKP ( 2008, 8 ) menyatakan bahwa BMN dalam SIMAK-BMN terbagi menjadi aset lancar, aset tetap, aset lainnya, dan aset bersejarah, yang selanjutnya akan dilaporkan di neraca pemerintah pada sisi aset. Pengertian aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

Klasifikasi Aset Tetap


Berdasarkan kesamaan dalam sifat atau fungsinya dalam aktivitas operasi entitas, klasifikasi aset tetap adalah sebagai berikut : 1. Tanah yaitu tanah yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap pakai. 2. Peralatan dan Mesin mencakup mesin-mesin dan kendaraan bermotor, alat elektronik, inventaris kantor, dan peralatan lainnya yang nilainya signifikan dan masa manfaatnya lebih dari 12 bulan dan dalam kondisi siap pakai. 3. Gedung dan Bangunan mencakup seluruh gedung dan bangunan yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap pakai.

Klasifikasi Aset Tetap


4. Jalan, Irigasi, dan Jaringan mencakup jalan, irigasi, dan jaringan yang dibangun oleh pemerintah serta dimiliki dan atau dikuasai oleh pemerintah dan dalam kondisi siap pakai. 5. Aset Tetap lainnya merupakan aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam aset tetap di atas, yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap pakai.

6. Konstruksi dalam Pengerjaan mencakup aset tetap yang sedang dalam proses pembangunan namun pada tanggal laporan keuangan belum selesai seluruhnya.

AKUNTANSI PEROLEHAN ASET TETAP


Pengakuan Berdasarkan klasifikasi aset tetap, suatu aset dapat diakui sebagai aset tetap apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut, yaitu : Mempunyai wujud Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 bulan Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan Pemerintah mengakui suatu aset tetap apabila aset tetap tersebut telah diterima atau diserahkan hak kepemilikannya, dan atau pada saat penguasaannya berpindah. Oleh karena itu apabila belum terdapat bukti bahwa suatu aset dimiliki atau dikuasai oleh suatu entitas maka aset tetap tersebut belum dapat dicantumkan pada neraca.

AKUNTANSI PEROLEHAN ASET TETAP


Pengukuran Aset tetap yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah harus dinilai atau diukur untuk dapat dilaporkan dalam neraca. Pengukuran aset tetap dapat menggunakan dua cara, yaitu : biaya perolehan, dan nilai wajar pada saat perolehan. Biaya perolehan adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap sampai dengan aset tetap tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk digunakan.

AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP


Adalah alokasi yang sistematis atas nilai suatu asset tetap yang dapat disusutkan (depreciable asset) selama masa manfaat aset yang bersangkutan. Nilai penyusutan untuk masing-masing periode diakui sebagai pengurang nilai tercatat aset tetap dalam neraca dan beban penyusutan dalam laporan operasional.

AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP


Untuk menerapkan penyusutan, prasyarat yang perlu dipenuhi adalah: Identitas aset yang kapasitasya menurun Aset tetap yang dapat menurun kapasitas dan manfaatnya dengan aset tetap yang tidak dapat menurun kapsitas dan mafaatnya Nilai yang dapat disusutkan Standar Akuntansi Pemerintahan menganut nilai historis, sehingga kecuali karena kondisi yang tidak memungkinkan diperoleh nilai historis, nilai aset tetap yang diakui secara umum adalah nilai perolehannya. Masa manfaat dan kapasitas aset tetap Terhadap aset tetap yang indikasi potensi manfaatnya dikaitkan dengan panjang masa manfaat, perhitungan penyusutan membutuhkan ketetapan perkiraan mengenai masa manfaatnya.

PENGHENTIAN DAN PELEPASAN


Bila aset tetap sudah rusak berat dan tidak dapat digunakan lagi maka aset tetap tersebut akan dihapuskan dari pembukuan. Suatu aset tetap dieliminasi dari neraca ketika dilepaskan atau bila aset secara permanen dihentikan penggunaannya dan tidak ada manfaat ekonomik masa yang akan datang. Proses penghapusan seringkali memerlukan waktu yang lama, maka sementara menunggu surat keputusan penghapusan terbit aset yang rusak atau tidak dapat digunakan lagi dipindahkan dari kelompok aset tetap menjadi akun Aset Lain-lain dalam kelompok aset lainnya di neraca dan diungkapkan dalam CALK.

Pihak-Pihak yang Terkait dalam Prosedur Akuntansi Aset Tetap Pihak-pihak yang terkait dalam prosedur akuntansi aset tetap di SKPD adalah: a. PPK-SKPD b. Penyimpan Barang Milik Daerah c. Pengurus Barang SKPD d. Kuasa BUD e. Bendahara Pengeluaran

Dokumen dalam Prosedur Akuntansi Aset Tetap


Buku-buku yang dapat digunakan dalam prosedur akuntansi aset adalah sebagai berikut. 1. Buku jurnal umum. Buku ini digunakan untuk membukukan jurnal korolari atas penambahan dan/atau pengurangan aset tetap. 2. buku besar. Buku ini digunakan untuk membukukan posting dari jurnal korolari terkait dengan aset tetap 3. buku besar pembantu (kalau diperlukan). Buku ini digunakan untuk merinci akun-akun yang terdapat dalam buku besar aset tetap.
Catatan : Jurnal korolari adalah jurnal yang dibuat untuk mengakui rekening rekening neraca yang timbul akibat transaksi rekening-rekening APBD (lihat: Abdul Halim, 2007, Akuntansi Keuangan Daerah, halaman 155). Artinya, jurnal korolari adalah jurnal ikutan atau jurnal kedua yang dibuat setelah jurnal anggaran.

AKUNTANSI TRANSAKSI NON KAS DI SKPD


Akuntansi Transaksi Non Kas meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang meliputi transaksi : koreksi kesalahan pencatatan; pengakuan aset, hutang, dan ekuitas; depresiasi; dan transaksi yang bersifat accrual dan prepayment Koreksi kesalahan pencatatan merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam membuat jurnal dan telah diposting ke buku besar.

Pengakuan Aset merupakan pengakuan terhadap perolehan aset yang dilakukan oleh SKPD. Pengakuan aset dan ekuitas sangat terkait dengan belanja modal yang dilakukan oleh SKPD

AKUNTANSI TRANSAKSI NON KAS DI SKPD


Pengakuan Hutang, dalam hal ini adalah pengakuan hutang perhitungan fihak ketiga di SKPD sangat terkait dengan transaksi belanja yang mengharuskan pemotongan pajak atau potongan-potongan belanja lainnya. Depresiasi dilakukan untuk menyusutkan nilai aset yang dimiliki oleh SKPD (apabila diperlukan). Transaksi yang bersifat accrual dan prepayment muncul karena adanya transaksi yang sudah dilakukan SKPD namun pengeluaran kas belum dilakukan (accrual) atau terjadi pengeluaran kas untuk belanja di masa yang akan datang (prepayment).

Koreksi Kesalahan Pencatatan, Depresiasi, dan Transaksi yang bersifat accrual dan prepayment
Koreksi kesalahan pencatatan merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam membuat jurnal dan telah diposting ke buku besar. Depresiasi dilakukan untuk menyusutkan nilai aset yang dimiliki oleh PPKD (apabila diperlukan). Transaksi yang bersifat accrual dan prepayment muncul karena adanya transaksi yang sudah dilakukan PPKD namun pengeluaran kas belum dilakukan (accrual) atau terjadi pengeluaran kas untuk belanja di masa yang akan datang (prepayment).

Pihak-Pihak yang Terkait dalam Prosedur Akuntansi Koreksi Kesalahan di SKPD

1. Bendahara Penerimaan 2. Bendahara Pengeluaran 3. Kuasa BUD 4. PPK-SKPD 5. Pengurus Barang

Dokumen Sumber yang Digunakan

Standar Jurnal Transaksi Non Kas

Sekian dan Terima Kasih