Anda di halaman 1dari 28

I.

MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANATOMI KULIT Adapun ciri-ciri kulit adalah: Pembungkus yang elastis yang melindungi kulit dari pengaruh lingkungan. Alat tubuh yang terberat : 15 % dari berat badan. Luas : 1,50 1,75 m. Tebal rata rata : 1,22mm. Daerah yang paling tebal (66 mm), pada telapak tangan dan telapak kaki dan paling tipis (0,5 mm) pada daerah penis.

Kulit terbagi menjadi 3 lapisan:

1) Epidermis Terbagi atas 5 lapisan:

keterangan: A B C D = = = = 1 2 3 4 5 Melanocyt Langerhans cell Merkels cell Nervnda = Stratum corneum = Stratum granulosum = Stratum spinosum = Stratum basale = Basal membran

a. Stratum korneum/Lapisan tanduk Terdiri dari beberapa lapis sel gepeng yang mati dan tidak berinti Protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk) b. Stratum Lusidum Lapisan sel gepeng tanpa inti protoplasma berubah menjadi protein (eleidin) Biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan Tidak tampak pada kulit tipis c. Stratum granulosum / Lapisan Granular Merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng Sitoplasma berbutir kasar yang terdiri atas keratohialin dan terdapat inti diantaranya Mukosa tidak mempunyai lapisan ini d. Stratum spinosum / lapisan Malphigi Lapisan epidermis yang paling tebal Terdiri dari sel polygonal, besarnya berbeda-beda karena ada proses mitosis Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen dan inti terletak ditengah Terdapat jembatan antarsel (intecelluler bridges) yg tdd: protoplasma dan tonofibril Perlekatan antar jembatan membentuk nodulus Bizzozero Terdapat juga sel langerhans yang berperan dalam respon respon antigen kutaneus. Seperti ditunjukan dibawah e. Stratum basale Terdiri dari sel sel kuboid yang tegak lurus terhadap dermis Tersusun sebagai tiang pagar atau palisade Lapisan terbawah dari epidermis Mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif

Terdapat melanosit (clear cell) yaitu sel dendritik yang yang membentuk melanin melindungi kulit dari sinar matahari. Dengan sitoplasma yang basofilik dan inti gelap, mengandung butir pigmen (melanosomes)

Setiap kulit yang mati banyak mengandung keratin yaitu protein fibrous insoluble yang membentuk barier terluar kulit yang berfungsi: Mengusir mikroorganisme patogen Mencegah kehilangan cairan yang berlebihan dari tubuh Unsur utam yang mengerskan rambut dan kuku. Setiap kulit yang mati akan terganti tiap 3-4 minggu. Epidermis akan bertambah tebal jika bagian tersebut sering digunakan. Persambungan antara epidermis dan dermis di sebut rete ridge yang berfunfgsi sebagai tempat pertukaran nutrisi yang essensial. Dan terdapat kerutan yang disebut fingers prints.

2) Dermis (korium) Merupakan lapisan dibawah epidermis. Terdiri dari jaringan ikat yang terdiri dari 2 lapisan: a. Pars papilare o o Bagian yang menonjol ke epidermis Berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah

b. Pars retikulare o o Bagian yang menonjol ke subkutan Terdiri atas: serabut-serabut penunjang (kolagen, elastin, retikulin), matiks (cairan kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat serta fibroblas) Terdiri dari sel fibroblast yang memproduksi kolagen dan retikularis yang terdapat banyak p. darah, limfe, akar rambut, kelenjar kerngat dan k. sebaseus.

3) Jaringan Subkutan atau Hipodermis / Subcutis Terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Pada lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah dan getah bening. a. Sel lemak o o Sel lemak dipisahkan oleh trabekula yang fibrosa Lapisan terdalam yang banyak mengandung sel liposit yang menghasilkan banyak lemak. Disebut juga panikulus adiposa yang berfungsi sebagai cadangan makanan Berfungsi juga sebagai bantalan antara kulit dan setruktur internal seperti otot dan tulang. Sebagai mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan panas. Sebagai bantalan terhadap trauma. Tempat penumpukan energi

b. Vaskularisasi Dikulit diatur oleh 2 pleksus: o o Pleksus superfisialis Pleksus profunda

ADNEKSA KULIT 1) Kelenjar-Kelenjar Pada Kulit a. Kelenjar keringat (glandula sudorifera) Terdapat di lapisan dermis. Diklasifikasikan menjadi 2 kategori: Kelenjar Ekrin terdapat disemua kulit Melepaskan keringat sebgai reaksi penngkatan suhu lingkungan dan suhu tubuh. Kecepatan sekresi keringat dikendalkan oleh saraf simpatik. Pengeluaran keringat pada tangan, kaki, aksila, dahi, sebagai reaksi tubuh terhadap setress, nyeri dll

Kelenjar Apokrin Terdapat di aksil, anus, skrotum, labia mayora, dan berm,uara pada folkel rambut Kelenjar ininaktif pada masa pubertas,pada wanit a akan membesar dan berkurang pada sklus haid Kelenjar Apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu yang diuraikan oleh bajkteri menghasilkan bau khas pada aksila Pada telinga bagian luar terdapat kelenjar apokrin khusus yang disebut K. seruminosa yang menghasilkan serumen (wax)

2) Kelenjar Sebasea Berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang antara folikel rambut dan batang rambut yang akan melumasi rambut sehingga menjadi halus lentur dan lunak. II.MEMAHAMI DAN MENJELASKAN FISIOLOGI KULIT 1) Sebagai Proteksi Masuknya benda-benda dari luar (benda asing, invasi bacteri) Melindungi dari trauma yang terus menerus Mencegah keluarnya cairan yang berlebihan dari tubuh Menyerap berbagai senyawa lipid vit. Adan D yang larut lemak Memproduksi melanin mencegah kerusakan kulit dari sinar UV.

2) Pengontrol/Pengatur Suhu Vasokonstriksi pada suhu dingn dan dilatasi pada kondisi panas peredaran darah meningkat terjadi penguapan keringat

3) Proses Hilangnya Panas Dari Tubuh Radiasi: pemindahan panas ke benda lain yang suhunya lebih rendah Konduksi: pemindahan panas dari ubuh ke benda lain yang lebih dingin yang bersentuhan dengan tubuh Evaporasi: membentuk hilangnya panas lewat konduksi Kecepatan hilangnya panas dipengaruhi oleh suhu permukaan kulit yang ditentukan oleh peredaran darah kekulit.(total aliran darah N: 450 ml/menit)

4) SENSIBILITAS Mengindera suhu, rasa nyeri, sentuhan dan rabaaan. 5) KESEIMBANGAN AIR Sratum korneum dapat menyerap air sehingga mencegah kehilangan air serta elektrolit yang berlebihan dari bagian internal tubuh dan mempertahankan kelembaban dalam jaringan subcutan. Air mengalami evaporasi (respirasi tidak kasat mata)+ 600 ml / hari untuk dewasa. 6) PRODUKSI VITAMIN Kulit yang terpejan sinar Uvakan mengubah substansi untuk mensintesis vitamin D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK GANGGUAN SISTEM INTEGUMENT 1) Biopsi Kulit Mendapatkan jaringan untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopik dengan cara eksisi dengan scalpel atau alat penusuk khusus (skin punch) dengan mengambil bagian tengah jaringan Indikasi: Pada nodul yang asal nya tidak jelas untuk mencegah malignitas. Dengan warna dan bentuk yang tidak lazim - Pembentukan lepuh 2) Patch Test Untuk mrngenali substansi yang menimbulkan alergi pada pasien dibawah plester khusus (exclusive putches) Indkasi:

Dermatitis, gejalak kemerahan, tonjolan halus, gatal- gatal. Reaksi + lemah Blister yang halus, papula dan gatal gatal yang hebat reaksi + sedang Blister/bullae, nyeri, ulserasi reaksi + kuat

*Penjelasan pada pasien sebelum dan sesudah pelksanaan patch test. Jangan menggunakan obat jenis kortison selam satu minggu sebelum tgl pelaksanaan. Sample masing masing bahan tes dalam jumlah yang sedikit dibubuhkan pada plester berbentuk cakaram kemudian ditempel pada punggung,dengan jumlah yang bervariasi.(20-30 buah) Pertahankan agar daerah punggung tetap kering pada saat plester masih menempel. Prosedur dilaksanakan dalam waktu 30 menit. 2-3 hari setelah tes plester dilepas kemudian lokasi dievaluasi. 3) Pengerokan Kulit Sampel kulit dikerok dari lokasi lesi, jamur, yang dicurigai.dengan menggunakan skatpel yang sudah dibasahi dengan minyak sehingga jaringan yang dikerok menempel pada mata pisau hasil kerokan dipindahkan ke slide kaca ditutup dengan kaca objek dan dipriksa dengan mikroskop. 4) Pemeriksaan Cahaya Wood (Light Wood) Menggunakan cahaya UV gelombang panjang yang disebut black light yang akan menghasilakan cahaya berpedar berwarna ungu gelap yang khas.cahaya akan terlihat jelas pada ruangan yang gelap, digunakan untuk memebedakan lesi epidermis dengan dermis dan hipopigmentasi dengan hiperpigmentasi. 5) Apus Tzanck Untuk memeriksa sel-sel kulit yang mengalami pelepuhan. Indikasi: Herpes zoster, varisella, herpes simplek dan semua bentuk pemfigus Sekret dari lesi yang dicurigai dioleskan pada slide kaca diwarnai dan periksa

Rofanty. 2009. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM INTEGUMEN. http://www.desktopsmiley.com/fileNotFound.do?&url=http%3A%2F%2Fdokterrosfanty.blogspot.com% 2F Tri, Agustina. 2010. ANATOMI DAN FISIOLOGI KULIT. http://musculoskeletalbedah.blogspot.com/&url=http%3A%2F% %2F

III.MEMAHAMI DAN MENJELASKAN DERMATOMIKOSIS DEFINISI Penyakit pada kulit yang disebabkan oleh jamur. Penyakit jamur atau mikosis dibagi menjadi : mikosis profunda dan mikosis superfisialis KLASIFIKASI A.Mikosis profunda Mikosis profunda terdiri atas beberapa penyakit yang disebabkan jamur, dengan gejala klinis tertetentu yang menyerang alat di bawah kulit, misalnya traktus intestinalis, traktus respiratorius, traktus urogenitalis, susunan saraf sentral, otot, tulang, susunan kardiovaskular. Kelainan kulit pada mikosis profunda dapat berupa afek primer, maupun akibat proses dari jaringan di bawahnya (per kontinuitatum). Dikenal beberapa penyakit jamur profunda yang klinis dan manifestasinya berbeda satu dengan yang lain. CONANT dkk. (1977) misalnya mencantumkan dalam bukunya Manual of Clinical Mycology berbagai penyakit, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Aktinomikosis Nokardiosis Antinomikosis misetoma Blastomikosis Parakoksidiodomikosis Lobomikosis Koksidiodomikosis Histoplasmosis Histoplasmosis Afrika Kriptokokosis Kandidiosis Geotrikosis Aspergillosis Fikomikosis Sporotrikosis Maduromikosis Rinosporidiosis Kromoblastomikosis Infeksi yang disebabkan jamur Dematiceae ( berpigmen coklat)

Diantara 19 macam penyakit jamur profunda yang disebutkan di atsa aktinomikosis menurut RIPPON (1974) sudah bukan penyakit jamur asli. Ia cenderung memasukkan Actinomyces dan Nocardia atau bacteria-like fungi ini di dalam golongan bakteri, walaupun masih mempunyai sifat sifat jamur , yaitu branching di dalam jaringan, membentuk anyaman luas benang jamur pada jaringan maupun pada

media biakan, dan menyebabkan penyakit kronik. Namun Actinomyces dan Nocardia mempunyai sifat khas bakteri , yaitu adanya asam muramik pada dinding sel, tidak mempunyai inti sel yang karakteristik, tidak mempunyai mitokondria, besar mikoorganisme khas untuk bakteri, dan dapat dihambat oleh obat obatan anti bacterial. Mikosis profunda biasanya dalam klinik sebagai penyakit kronik dan residif. Manifestasi klinik morfologik dapat ebrupa tumor, infiltasi peradangan vegetatif, fistel, ulkus, atau sinus, tersendiri maupun bersamaan. Mengingat banyaknya penyakit yang dapat memenuhi kedua syarat tersebut, misalnya tuberculosis, lepra, sifilis, frambusia, keganasan, sarcoidosis, dan pioderma kronik, maka pemeriksaan tambahan untuk verifikasi sangat diperlukan. Pemeriksaan tersebut adalah sediaan langsung dengan KOH, biakan jamur, pemeriksaan histopatologik dan pemeriksaan imunologik termasuk tes kulit, maupun serologic dan pemeriksaan imunologik yang lain. Pemeriksaan tambahan ini diperlukan untuk memastikan atau menyingkirkan mikosis profunda dan penyakit yang disebut sebagai diagnosis banding. Sebagai contoh, pemeriksaan lapangan gelap, histopatologik, dan pemeriksaan tes serologic untuk sifilis yang spesifik, maupun yang non spesifik. Demikian pula pemeriksaan pemeriksaan khusus untuk penyakit tertentu. MISETOMA Definisi: Misetoma adalah penyakit kronik, supuratif granulomatosa yang dapat disebabkan Actinomyces, Nocardia , dan Eumycetes atau jamur berpigmen. Etiologi : Actinomyces disebut Actinomycotic mycetoma Botryomycosis yang disebabkan oleh bakteri Madurromycosis yang disebabkan oleh jamur berfilamen Gejala klinis : Pembengkakan Abses Sinus, didalamnya ditemukan butir-butir (granula) yang berpigmen kemudian dikeluarkan melalui eksudat Fistel multiple Gejala klinis biasanya merupakan lesi kulit yang sirkumskrip dengan pembengkakan seperti tumor jinak dan ahrus disertai butir-butir. Inflamasi dapat menjalar dari permukaan sampai ke bagian dalam dan dapat menyerang subkutis, fasia, otot dan tulang. Sering terbentuk fistel, yang mengeluarkan eksudat. Butir butir sering bersama sama eksudat mengalir ke luar dari jaringan.

Diagnosis: Diagnosis dibuat berdasarkan klinis morfologik sesuai dengan uraian diatas. Namun bila disokong dengan gambaran histologic dan hasil biakan, diagnosis akan lebih mantap. Lagi pula penentuan spesies penyebab sangat penting untuk terapi dan prognosis Tatalaksana: Pengobatan misetoma biasanya harus disertai radikal, bahkan amputasu kadang kadang perlu dipertimbangkan. Obat obat , misalnya kombinasi kotrimoksazol dengan streptomisin dapat bermanfaat , bila penyakit yang dihadapi adalah misetoma aktinomikotik, tetapi pengobatan memerlukan waktu lama ( 9bulan-1tahun) dan bila kelainan belum meluas benar. Obat obat baru antifungal , misalnya itrakonazol dapat dipertimbangkan untuk misetoma maduromikotik. Prognosis: Quo ad vitam umumnya baik. Pada maduromikosis prognosis quo ad sanationam tidak begitu baik bila dibandingkan dengan aktinomikosis/botriomikosis. Diseminasi limfogen atau hematogen dengan lesi pada alat alat dalam merupakan kecualian SPOROTRIKOSIS Infeksi koronis yang disebabkan Sporotrichium schenkii dan ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening. Kulit dan jaringan subkutis di atas nodus sering melunak dan pecah membentuk ulkus yang indolen. Penyakit jamur ini mempunyai insidens yang cukup tinggi pada daerah tertentu, dan ditemukan pada pekerja hutan maupun petani (HUTAPEA,1978;SIREGAR dan THAHA 1978) Bila tidak terjadi diseminasi melalui saluran getah bening diagnosis agak sukar dibuat. Selain gejala klinis, yang dapat menyokong diagnosis adalah pembiakan terutama pada mencit atau tikus, dan pemeriksaan histopatologik. Pernah dilaporkan sekali-sekali selain bentuk kulit yang khas, beberapa bentuk di paru dan alat dalam lain. Pada kasus-kasus ini rupanya terjadi infeksi melalui inhalasi. Pengobatan yang memuaskan biasanya dicapai dengan pemberian larutan kalium yodida jenuh oral. Dalam hal yang rekalsitran pengobatan dengan amfoterisin B atau itrakonazol dapat diberikan. KROMOMIKOSIS Kromomikosis atau kromoblastomikosis atau dermatitis verukosa adalah penyakit jamur yang disebabkan bermacam-macam jamur berwarna (dematiaceous). Penyakit ini ditandai dengan pembentukan nodus verukosa kutan yang perlahan-lahan, sehingga akhirnya membentuk vegetasi papilomatosa yang besar. Pertumbahan ini dapat menjadi ulkus atau tidak, biasanya ada di kaki dan tungkai, namun lokalisasi di tempat lain pernah ditemukan, misalnya pada tangan, muka, telinga, leher, dada, dan bokong. Penyakit ini kadang-kadang dilihat di Indonesia. Sumber penyakit biasanya dari alam dan terjadi infeksi melalui trauma.

Penyakit tidak ditularkan dari manusia ke manusia dan belum pernah dilaporkan terjadi pada binatang. Diseminasi dapat terjadi melalui autoinokulasi, ada juga kemungkinan penyebaran melalui darah dengan terserangnya susunan saraf sentral pernah dilaporkan. Walaupun penyakit jamur ini biasanya terbatas pada kulit, bila lesinya luas dapat mengganggu kegiatan penderita sehari-hari. Pengobatannya sulit. Terapi sinar x pernah dilakukan dengan hasil yang berbeda-beda. Kadangkadang diperlukan amputasi. Pada kasus lain reseksi lesi mikotik disusul dengan skin graft memberi hasil yang memuaskan. Obat-obatan biasanya memberikan hasil yang kurang memuaskan dan harus diberikan dalam waktu yang lama. Pada akhir-akhir ini hasil pengobatan yang memuaskan dicapai dengan kombinasi amfoteresin B dan 5-fluorositosin. Demikian pula pengobatan dengan kantong-kantong panas di JEpang. Prognosis, seperti diuraikan oada hasil terapi di atas. Itrakonazol pada akhir-akhir ini memberikan harapan baru pada penyakit ini, terutama bila penyebabnya adalah Cladosporium carrionii. ZIGOMIKOSIS, FIKOMIKOSIS, MUKORMIKOSIS Penyakit jamur ini terdiri atas pelbagai infeksi jamur dan disebabkan oleh bermcam-macam jamur pula yang taksonomi dan peranannya masih didiskusikan, oleh karena itu di dalam buku-buku baru diberikan nama umum, yaitu zigomikosis Zygomycetes meliputi banyak genera, yaitu Mucor, Rhizopus, Absidia, Mortierella dan Cunninghamella. Penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur ini dapat disebut sesuai dengan lokalisasi atau alat dalam yang terserang. Contohnya rinozigomikosis, otozigomikosis, zigomikosis subkutan, zigomikosis fasiale, atau zigomikosis generalisata. Golongan penyakit jamur ini dapat dinamakan juga sesuai dengan jamur penyebabnya, misalnya mukomikosis dan sebagainya. Oleh karena penyakit ini disebabkan jamur yang pada dasarnya oportunistik, maka pada orang sehat jarang ditemukan. Diabetes mellitus, misalnya merupakan factor predisposisi. Demikian pula penyakit primer berat yang lain. Fikomikosis subkutan adalah salah satu bentuk penyakit golongan ini yang kadang-kadang dilihat di bagian kulit dan kelamin. Penyakit ini untuk pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1956. Setelah itu banyak kasus dilaporkan di Indonesia, Afrika, dan India. Kelainan timbul di jaringan subkutan Antara lain di dada, perut, atau lengan atas sebagai nodus subkutan yang perlahan-lahan membesar setelah sekian waktu. Nodus tersebut konsistensinya keras dan kadang-kadang dapat terjadi infeksi sekunder. Penderita pada umumnya tidak demam dan tidak disertai pembesaran kelenjar getah bening regional. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologik dan biakan. Jamur agak khas, hifa lebar 6-50 miu, seperti pita, tidak bersepta dan coenocytic. Sebagai terapu fikomikosis subkutan dapat diberikan larutan jernih kalium yodida. Mulai dari 1015 tetes 3 kali seharu dan perlahan-lahan dinaikan sampai terlihat gejala intoksikasi, penderita mual dan muntah. Kemudian dosis diturunkan 1-2 tetes dan dipertahankan terus sampai tumor menghilang.

Itrakonazo; berhasil mengatasi fikomikosis subkutan dengan baik. Dosis yang diberikan sebanyak 200mg sehari selama 2-3 bulan. Prognosis bentuk klinis ini umumnya baik B.Mikosis superfisialis Terbagi menjadi : 1. 2. Dermatofitosis Non-dermatofitosis, terdiri atas pelbagai penyakit: Pitriasis versikolor Piedra hitam Piedra putih Tinea nigra palmaris Otomikosis Keratomikosis

IV. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN DERMATOFITOSIS 1.DEFINISI DERMATOFITOSIS adalah setiap infeksi fungal superfisial yang disebabkan oleh dermatofit dan mengenai stratum korneum kulit, rambut dan kuku, termasuk onikomikosis dan berbagai macam bentuk tinea. Disebut juga epidermomycosis dan epidermophytosis. 4 Jamur dermatofit dinamai sesuai dengan genusnya (mycrosporum, trichophyton, dan epidermophyton) dan spesiesnya misalnya, microsporum canis, t. rubrum). Beberapanya hanya menyerang manusia (antropofilik), dan yang lainya terutama menyerang hewan (zoofilik), walau kadang bisa menyerang manusia. Apabila jamur hewan menimbulkan lesi dikulit pada manusia, keberadaaan jamur tersebut sering menyebabkan suatu reaksi inflamasi yang hebat (misalnya, cattle ringworm).1 2. ETIOLOGI Berdasarkan sifat makro dan mikro, dermatofita dibagi menjadi: microsporum, tricopyton, dan epidermophyton. Yang paling terbanyak ditemukan di Indonesia adalah T.rubrum. dermatofita lain adalah: E.floccosum, T.mentagrophytes, M. canis, M. gypseum, T.cocentricum, T.schoeleini dan T. tonsurans.5 2.1 Microsporum Kelompok dermatofita yang bersifat keratofilik, hidup pada tubuh manusia (antropofilik) atau pada hewan (zoofilik). Merupakan bentuk aseksual dari jamur. Terdiri dari 17 spesies, dan yang terbanyak adalah: 6 SPECIES CLASSIFICATION (NATURAL RESERVOIR)

Microsporum audouinii Microsporum canis Microsporum cooeki Microsporum ferrugineum Microsporum gallinae Microsporum gypseum Microsporum nanum Microsporum persicolor Tabel 2.1 Spesies Microsporum.

Anthropophilic Zoophilic (Cats and dogs) Geophilic (also isolated from furs of cats, dogs, and rodents) Anthropophilic Zoophilic (fowl) Geophilic (also isolated from fur of rodents) Geophilic and zoophilic (swine) Zoophilic (vole and field mouse)

Koloni mikrosporum adalah glabrous, serbuk halus, seperti wool atau powder. Pertumbuhan pada agar Sabouraud dextrose pada 25C mungkin melambat atau sedikit cepat dan diameter dari koloni bervariasi 1- 9 cm setelah 7 hari pengeraman. Warna dari koloni bervariasi tergantung pada jenis itu. Mungkin saja putih seperti wol halus yang masih putih atau menguning sampai cinamon.6 2.2 Epidermophyton Jenis Epidermophyton terdiri dari dua jenis; Epidermophyton floccosum dan Epidermophyton stockdaleae. E. stockdaleae dikenal sebagai non-patogenik, sedangkan E. floccosum satu-satunya jenis yang menyebabkan infeksi pada manusia. E. floccosum adalah satu penyebab tersering dermatofitosis pada individu tidak sehat. Menginfeksi kulit (tinea corporis, tinea cruris, tinea pedis) dan kuku (onychomycosis). Infeksi terbatas kepada lapisan korneum kulit luar.koloni E. floccosum tumbuh cepat dan matur dalam 10 hari. Diikuti inkubasi pada suhu 25 C pada agar potato-dextrose, koloni kuning kecoklat-coklatan

2.3 Tricophyton Trichophyton adalah suatu dermatofita yang hidup di tanah, binatang atau manusia. Berdasarkan tempat tinggal terdiri atas anthropophilic, zoophilic, dan geophilic. Trichophyton concentricum adalah endemic pulau Pacifik, Bagian tenggara Asia, dan Amerika Pusat. Trichophyton adalah satu penyebab infeksi pada rambut, kulit, dan kuku pada manusia.8 NATURAL HABITATS OF TRICHOPHYTON SPECIES

Species Ajelloi Concentricum Equinum Erinacei Flavescens Gloriae Interdigitale Megnini Mentagrophytes

Natural Reservoir Geophilic Anthropophilic zoophilic (horse) zoophilic (hedgehog) geophilic (feathers) Geophilic Anthropophilic Anthropophilic zoophilic (rodents, rabbit) / anthropophilic Geophilic Anthropophilic Anthropophilic zoophilic (monkey, fowl) Anthropophilic Geophilic Anthropophilic Geophilic zoophilic (cattle, horse) Anthropophilic anthropophilic

Phaseoliforme Rubrum Schoenleinii Simii Soudanense Terrestre Tonsurans Vanbreuseghemii Verrucosum Violaceum Yaoundei Tabel 2.2 Spesies Trichophyton.

3.EPIDEMIOLOGI

Indonesia termasuk wilayah yang baik untuk pertumbuhan jamur, sehingga dapat ditemukan hampir di semua tempat. Menurut Adiguna MS, insidensi penyakit jamur yang terjadi di berbagai rumah sakit pendidikan di Indonesia bervariasi antara 2,93%-27,6%. Meskipun angka ini tidak menggambarkan populasi umum. Dermatomikosis atau mikosis superfisialis cukup banyak diderita penduduk negara tropis. Di Indonesia angka yang tepat, berapa sesungguhnya insiden dermatomikosis belum ada. Di Denpasar, golongan penyakit ini menempati urutan kedua setelah dermatitis. Angka insiden tersebut diperkirakan kurang lebih sama dengan di kota-kota besar Indonesia lainnya. Di daerah pedalaman angka ini mungkin akan meningkat dengan variasi penyakit yang berbeda. Sebuah penelitian retrospektif yang dilakukan pada penderita dermatomikosis yang dirawat di IRNA Penyakit Kulit Dan Kelamin RSU Dr. Soetomo Surabaya dalam kurun waktu antara 2 Januari 1998 sampai dengan 31 Desember 2002. Dari pengamatan selama 5 tahun didapatkan 19 penderita dermatomikosis. Kasus terbanyak terjadi pada usia antara 15-24 tahun (26,3%), penderita wanita hampir sebanding dengan laki-laki(10:9). Dermatomikosis terbanyak ialah Tinea Kapitis, Aktinomisetoma, Tinea Kruris et Korporis, Kandidiasis Oral, dan Kandidiasis Vulvovaginalis. Jenis organisme penyebab dermatomikosis yang berhasil dibiakkan pada beberapa rumah sakit tersebut yakni: T.rubrum, T.mentagrophytes, M.canis, M.gypseum, M.tonsurans, E.floccosum, Candida albicans, C.parapsilosis, C.guilliermondii, Penicillium, dan Scopulariopsis. Menurut Rippon tahun 1974 ada 37 spesies dermatofita yang menyebabkan penyakit di dunia.9 Di luar seperti India, berdasarkan penelitian di India yang mengambil sampel sebanyak 121 kasus (98 pria & 23 perempuan), dermatomikosis menempati urutan pertama untuk kasus penyakit kulit, 103 kasus (70,5%), diikuti candidiasis 30 kasus (20,5%) dan pitiriasis versikolor. Di Amerika endemik dermatomikosis di daerah Utara dan barat Venezuela, brasil, dan beberapa kasus di laporkan di Columbia dan argentina. Di Eropa infeksi tinea adalah hal yang umum. Perkiraan insidensi penyakit ini sekitar 10-20%. Di Eropa dermatomikosis merupakan penyakit kulit yang menempati urutan kedua. Penyakit ini disebabkan oleh tinea pedis, tinea corporis, tinea cruris, dan tinea rubrum. Tinea rubrum ditemukan pada 76,2% kasus dermatomikosis melalui pemeriksaan sampel di Eropa.

Onset usia terjadi pada anak kecil yang baru belajar berjalan (toddlers) dan anak usia sekolah. Paling sering menyerang anak berusia 6-10 tahun dan juga pada usia dewasa.9 Frekuensi infeksi pada spesies tertentu antara lain: Sekitar 58% dermatofita yang terisolasi adalah trichophyton rubrum 27% Trichophyton mentagrophytes 7% Trichophyton verrucosum

3% Trichophyton tonsurans Kecil dari 1 % yang terisolasi: Epidermophyton floccosum, Microsporum audouinii, Microsporum canis, Microsporum equinum, Microsporum nanum, Microsporum versicolor, Trichophyton equinum, Trichophyton kanei, Trichophyton raubitschekii, and Trichophyton violaceum.10 4. KLASIFIKASI Klasifikasi yang paling sering dipakai oleh para spesialis kulit adalah berdasarkan lokasi: a. Tinea kapitis, tinea pada kulit dan rambut kepala b. Tinea barbe, dermatofitosis pada dagu dan jengggot. c. Tinea kruris, dermatofita pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong, dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah. d. Tinea pedis et manum, dermatofitosis pada kaki dan tangan. e. Tinea unguium, tinea pada kuku kaki dan tangan. f. Tinea facialis, tinea yang meliputi bagian wajah g. Tinea korporis, dermatofitosis pada bagian lain yang tidak termasuk 5 bentuk tinea diatas. Selain 6 bentuk tinea di atas masih dikenal istilah yang mempunyai arti khusus, yaitu: 1. 2. 3. 4. Tinea imbrikata: dermatofitosis dengan susunan skuama yang kosentris dan disebabkan oleh tricophyton concentricum. Tinea favosa atau favus: dermatofitosis yang terutama disebabkan oleh tricophyton schoenleini: secara klinis antara lain berbentuk skutula dan berbau seperti tikus (mousy odor). Tinea sirsinata, arkuata yang merupakan penamaan deskriptif dari morfologinya. Tinea incognito: dermatofitosis dengan bentuk klinis tidak khas oleh karena telah diobati dengan steroid topical kuat.

5. GEJALA KLINIS 5.1 Tinea Pedis Infeksinya anthropophilic dermatophytes biasanya disebabkan oleh adanya elemen hifa dari jamur yang mampu menginfeksi kulit. Skala desquamasi kulit bisa terinfeksi di lingkungan selama berbulan-bulan atau tahun. Oleh karena itu transmisi bisa terjadi dengan kontak tidak langsung lama setelah infeksi terjadi. Bahan seperti karpet yang kontak dengan kulit vektor sempurna. Begitu, transmisi dermatophytes suka Trichophyton rubrum, T. interdigitale dan Epidermophyton floccosum yang biasnya pada kaki. infeksi di sini sering kronis dan tidak menimbulkan keluhan selama beberapa tahun dan hanya ketika menyebar kebagian lain, biasanya di kulit.

5.2 Tinea unguium (dermatophytic onycomicosis, ringworm of the nail)

Trichophyton rubrum dan T. interdigitale adalah spesies yang sering menyebabkan tinea unguium. Dermatofita jenis unguium digolongkan menjadi dua bagian utama: (1). Superficial whiteonycomycosis yang menempel atau membuat lubang pada permukaan kuku. (2). Invasif, subungual dermatofita yang lateral dari proximal atau pun distal. Diikuti dengan menetapnya infeksi pada dasar kuku. Onycomycosis subungual distal adalah bentuk umum dari onycomycosis dermatofita. Jamur menyerang bagian distal bantalan jari yang menyebabkan hiperkeratosis dari bantalan kuku dengan onycolisis dan menyebabkan penebalan lempeng kuku. Seperti namanya onycomycosis subungual lateral dimulai dari bagian lateral kuku dan sering menyebar melibatkan semua lempeng kuku. Pada onycomycosis subungual proximal jamur menginvasi kebawah kutikula dan menginfeksi bagian proximal daripada bagian distal karena spot yellow-white akan menyerang lunula terlebih dahulu kemudian meluas ke lempeng kuku. 5.3 Tinea kruris (eczema marginatum, dhobie itch, ringworm of the groin) Tinea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum, dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut ataupun menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup. Lesi kulit dapat berbatas pada daerah genito-krural saja, atau meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus, dan perut bagian bawah, atau bagian tubuh yang lain. Kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah di tengahnya. Fluoresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk yang primer dan sekunder (polimorfik). Bila menahun dapat disertai bercak hitam dan bersisik. Erosi dan keluarnya cairan terjadi akibat garukan. Dan tinea kruris merupakan bentuk klinis tersering di Indonesia. Dermatofit T rubrum menjadi penyebab yang paling umum untuk tinea cruris. T rubrum menjadi dermatofit yang lazim 90% dari kasus tinea cruris, diikuti T tonsurans ( 6%) dan T mentagrophytes ( 4%). Organisme lain, termasuk E floccosum dan T verrucosum, menyebabkan suatu kondisi klinis yang serupa. Infeksi T rubrum dan E floccosum lebih cenderung untuk menjadi kronis dan non-inflamatori, sedangkan infeksi oleh T mentagrophytes sering dihubungkan dengan suatu presentasi klinis merah, menyebabkan peradangan akut. Agen yang pada umumnya menyebabkan tinea kruris antara lain: T. rubrum, T. interdigitale dan E. floccosum. 5.4 Tinea kapitis Tinea kapitis adalah kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies dermatofita. Kelainan ini dapat ditandai dengan lesi bersisik, kemerahan, alopesia dan kadang-kadang terjadi gambaran klinis yang lebih berat, yang disebut kerion. Ada tiga bentuk tinea kapitis: 1. Gray patch ring-worm, merupakan tinea kapitis yang biasanya disebabkan oleh genus microsporum dan sering ditemukan pada anak-anak. Penyakit mulai dengan papul merah yang

2.

3.

kecil di sekitar rambut. Papul ini melebar dan membentuk bercak, yang menjadi pucat dan bersisik. Keluhan penderita adalah rasa gatal. Warna rambut menjadi abu-abu dan tidak berkilat lagi. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya sehingga mudah dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri. Semua rambut di daerah tersebut terserang oleh jamur dan menyebabkan alopesia setempat. Tempat-tempat terlihat sebagai gray patch, yang pada klinik tidak menunjukan batas daerah sakit dengan pasti. Pada pemeriksaan lampu wood terlihat fluoresensi hijau kekuningan pada rambut yang sakit, melampaui batas dari gray patch tersebut. Tinea kapitis disebabkan oleh microsporum audouini biasanya disertai tanda peradangan, hanya sesekali berbentuk kerion. Kerion, merupakan tinea kapitis yang terutama disebabkan oleh Microsporum canis (Mulyono, 1986). Bentuk yang disertai dengan reaksi peradangan yang hebat. Lesi berupa pembengkakan menyerupai sarang lebah, dengan sebukan radang di sekitarnya. Kelainan ini menimbulkan jaringan parut yang menetap. Black dot ring-worm, merupakan tinea kapitis yang terutama disebabkan oleh Trichophyton tonsurans dan Trichophyton violaceum (Mulyono, 1986). Gambaran klinis berupa terbentuknya titik-titik hitam pada kulit kepala akibat patahnya rambut yang terinfeksi tepat di muara folikel. Ujung rambut yang patah dan penuh spora terlihat sebagai titik hitam. Diagnosis banding pada tinea kapitis adalah alopesia areata, dermatitis seboroik dan psoriasis (Siregar, 2005).

5.5 Tinea korporis (tinea sirsinata, tinea glabrosa, scherende flechte, kurap, herpes sircine trichophytique) Merupakan dermatofitosis pada kulit tubuh yang tidak berambut (glabrous skin). 1. Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atu lonjong, berbatas tegas terdiri dari eritema, squama, kadang-kadang dengan vesikel dan papul ditepi. Daerah tengah biasanya tenang. Kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu dengan yang lain. Dapat terlihat sebagai lesi dengan tepi polisiklik, karena beberapa lesi kulit menjadi satu. Tinea korporis yang menahun tanda radang yang mendadak biasanya tidak terlihat lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama-sama dengan kelainan pada sela paha. Dalalm hal ini disebut tinea korporis et kruris atau sebaliknya tinea kruris et korporis. Bentuk menahun dari trichophyton rubrum biasanya dilihat bersama-sama dengan tinea unguium. Bentuk khas dari tinea korporis yang disebabkan oleh trichophyton concentricum disebut tinea imbrikata. Tinea imbrikata dimulai dengan bentuk papul berwarna coklat, yang perlahan menjadi besar. Stratum korneum bagian tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar. Proses ini setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah, sehingga terbentuk lingkaranlingkaran berskuama yang kosentris. Bentuk tinea korporis yang disertai kelainan pada rambut adalah tinea favosa atau favus. Penyakit ini biasanya dimulai dikepala sebagai titik kecil di bawah kulit yang berwarna merah kuning dan berkembang menjadi krusta berbentuk cawan (skutula) dengan berbagai ukuran. Krusta tersebut biasanya tembus oleh satu atau dua rambut dan bila krusta diangkat terlihat

2.

3.

4.

dasar yang cekung merah dan membasah. Rambut tidak berkilat lagi dan terlepas. Bila tidak diobati, penyakit ini meluas keseluruh kepala dan meninggalkan parut dan botak. Berlainan dengan tinea korporis yang disebabkan oleh jamur lain, favus tidak menyembuh pada usia akil balik. Biasanya tercium bau tikus (mousy odor) pada para penderita favus. Tiga spesies dermatofita yang menyebabkan favus, yaitu trichophyton schoenleini, trichophyton violaceum, dan microsporum gypseum. Berat ringan bentuk klinis yang tampak tidak bergantung pada spesies jamur penyebab, akan tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh tingkat kebersihan, umur, dan ketahanan penderita penderita. 6 DIAGNOSIS Mikroskopik langsung Sediaan basah dibuat dengan meletakan bahan di atas gelas alas, kemudian ditambah 1-2 tetes larutan KOH. Konsentrasi 10% untuk rambut dan untuk kulit, dan untuk kuku 20%. Setelah sedian dicampur dengan KOH, tunggu 15-20 menit untuk melarutkan jaringan.untuk mempercepat pelarutan dilakukan pemanasan sediaan basah di atas api kecil. Pada saat mulai keluar uap, pemanasan dihentikan. Untuk melihat elemen jamur lebih nyata dapat ditambahkan zat warna pada sedian KOH, misalnya tinta parker superchroom blue black. Kerokan kulit, kuku, dan epitel rambut diuji dengan KOH 10% dan sediaan tinta Parker atau calcofluor white. Kultur Spesimen akan diinokulasi ke dalam media isolasi primer, seperti agar sabourauds dextrose yang terdiri dari sikloheksimid (actidione) dan masa inkubasi 26-28o C selama 4 minggu. Pertumbuhannya signifikan pada banyak dermatofita.11 Umumnya dermatofitosis pada kulit memberikan morfologi yang khas yaitu bercak-bercak yang berbatas tegas disertai efloresensi-efloresensi yang lain, sehingga memberikan kelainan-kelainan yang polimorfik, dengan bagian tepi yang aktif serta berbatas tegas sedang bagian tengah tampak tenang. Gejala objektif ini selalu disertai dengan perasaan gatal, bila kulit yang gatal ini digaruk maka papulapapula atau vesikel-vesikel akan pecah sehingga menimbulkan daerah yang erosit dan bila mengering jadi krusta dan skuama. Kadang-kadang bentuknya menyerupai dermatitis (ekzema marginatum), tetapi kadang-kadang hanya berupa makula yang berpigmentasi saja (Tinea korporis) dan bila ada infeksi sekunder menyerupai gejala-gejala pioderma (impetigenisasi). Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakan diagnosa terdiri atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pemeriksaan lain misalnya pemeriksaan histopatologik, percobaan binatang, dan imunologik tidak diperlukan.2

7.DIAGNOSIS BANDING

Tinea pedis et manum harus dibedakan dengan dermatitis, yang biasanya batasnya tidak jelas, bagian tepi lebih aktif dari pada bagian tengah. Adanya vesikel-vesikel steril pada jari-jari kaki dan tangan (pomfoliks) dapat merupakan reaksi id, yaitu akibat setempat hasil reaksi antigen dengan zat anti pada tempat tersebut. Efek samping obat juga dapat memberi gambaran serupa yang menyerupai ekzem atau dermatitis, pertama-tama harus dipikirkan adanya suatu dermatitis kontak. Pada hiperhidrosis terlihat kulit yang mengelupas (maserasi). Kalau hanya terlihat vesikel-vesikel, biasanya terletak sangat dalam dan terbatas pada telapak kaki dan tangan. Kelainan tidak meluas sampai di sela-sela jari. 2 Penyakit lain yang harus mendapat perhatian adalah kandidiosis, membedakannya dengan tinea pedis murni kadang-kadang sangat sulit. Pemeriksaan sediaan langsung dengan KOH dan pembiakan dapat menolong. Infeksi sekunder dengan spesies candida atau bakteri lain sering menyertai tinea pedis, sehingga pada kasus-kasus demikian diperlukan interpretasi bijaksana terhadap hasil-hasil pemeriksaan laboraturium. Sifilis II dapat berupa kelainan kulit di telapak tangan dan kaki. Lesi yang merah dan basah dapat merupakan petunjuk. Dalalm hal ini tanda-tanda lain sifilis akan terdapat misalnya: kondiloma lata, pembesaran kelenjar getah bening yang menyeluruh, anamnesa tentang afek primer dan pemeriksaan serologi serta lapangan gelap dapat menolong. Tinea unguium yang disebabkan oleh bermacam-macam dermatofita memberikan gambaran akhir yang sama. Psoriasis yang menyerang kuku pun dapat berakhir dengan kelainan yang sama. Lekukan-lekukan pada kuku (nail pits), yang terlihat pada psoriasis tidak didapati pada tinea unguium. Lesi-lesi psoriasis pada bagian lain badan dapat menolong membedakannya dengan tinea unguium. Banyak penyakit kulit yang menyerang bagian dorsal jari-jari tangan dan kaki dapat menyebabkan kelainan yang berakhir dengan distrofi kuku, misalnya: Paronikia, yang etiologinya bermacam-macam ekzem/dermatitis, akrodermatitis perstans. Tidak begitu sukar menentukan tinea korporis pada umumnya, namun ada beberapa penyakit kulit yang dapat mericuhkan diagnosa itu, misalnya dermatitis seboroika, psoriasis, dan pitiriasis rosea. Kelainan kulit pada dermatitis seboroika selain dapat menyerupai tinea korporis, biasanya terlihat pada tempat-tempat predileksi, misalnya di kulit kepala (scalp), lipatan-lipatan kulit , misalnya belakang telinga, daerah nasolabial, dan sebagainya. Psoriasis dapat dikenal pada kelainan kulit pada tempat predileksinya, yaitu daerah ekstensor misalnya lutut, siku dan punggung. Kulit kepala berambut juga sering terkena pada penyakit ini. Adanya lekukan-lekukan pada kuku dapat pula menolong menentukan diagnosa. Ptiriasis rosea distribusi kelainan kulitnya simetris dan terbatas pada bagian tubuh dan bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea korporis. Pemeriksaan laboraturiumlah yang dapat memastikan diagnosanya. Tinea korporis kadang sukar dibedakan dengan dermatitis seboroik pada sela paha. Lesi-lesi ditempat predileksi sangat menolong dalm menentukan diagnosa. Psoriasis pada sela paha dapat menyerupai tinea kruris. Lesi pada psoriasis lebih merah, skuama lebih banyak dan lamelar. Adanya lesi psoriasis pada tempat lain dapat membantu menentukan diagnosa.

Kandidosis pada daerah lipat paha mempunyai konfigurasi hen and chicken. Kelainan ini biasanya basah dan berkrusta. Pada wanita ada tidaknya flour abus dapat membantu pengarahan diagnosa. Pada penderita diabetes mellitus, kandidosis merupakan penyakit yang sering dijumpai. Eritrasma merupakan penyakit yang tersering berlokasi di sela paha. Efloresensi yang sama yaitu eritema dan skuama, pada seluruh lesi merupakan tanda-tanda khas dari penyakit ini. Pemeriksaan dengan lampu wood dapat menolong dengan adanya floresensi merah (coral red). Tinea barbe kadang sukar dibedakan dengan sikosis barbe, yang disebabkan oleh piokokus. Pemeriksaan sediaan langsung dapat membedakan kedua penyakit ini.2

8.TATA LAKSANA Pengobatan dermatofitosis sering tergantung pada klinis. Sebagai contoh lesi tunggal pada kulit dapat diterapi secara adekuat dengan antijamur topikal. walaupun pengobatan topikal pada kulit kepala dan kuku sering tidak efektif dan biasanya membutuhkan terapi sistemik untuk sembuh. Infeksi dermatofitosis yang kronik atau luas, tinea dengan implamasi akut dan tipe "moccasin" atau tipe kering jenis t.rubrum termasuk tapak kaki dan dorsum kaki biasanya juga membutuhkan terapi sistemik. Idealnya, konfirmasi diagnosis mikologi hendaknya diperoleh sebelum terapi sistemik antijamur dimulai. Pengobatan oral, yang dipilih untuk dermatofitosis adalah Infeksi Rekomendasi Alternatif Itraconazole 200 mg/hr /3-5 bulan atau 400 mg/hr seminggu per bulan selama 3-4 bulan berturut-turut. Fluconazole 150-300 mg/ mgg s.d sembuh (6-12 bln) Griseofulvin 500-1000 mg/hr s.d sembuh (12-18 bulan) Terbinafine 250 mg/hr/4 mgg Itraconazole 100 mg/hr/4mgg Fluconazole 100 mg/hr/4 mgg

Tinea unguium Terbinafine 250 mg/hr 6 (Onychomycosis) minggu untuk kuku jari tangan, 12 minggu untuk kuku jari kaki Tinea capitis Griseofulvin 500mg/day ( 10mg/kgBB/hari) sampai sembuh (6-8 minggu) Griseofulvin 500 mg/hr sampai sembuh (4-6 minggu), sering dikombinasikan dengan imidazol. Griseofulvin 500 mg/hr sampai sembuh (4-6 minggu)

Tinea corporis

Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 minggu Itraconazole 100 mg/hr selama 15 hr atau 200mg/hr selama 1 mgg. Fluconazole 150-300 mg/mggu selama 4 mgg.

Tinea cruris

Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 mgg Itraconazole 100 mg/hr selama 15 hr atau 200 mg/hr selama 1 mgg. Fluconazole 150-300 mg/hr selama 4 mgg.

Tinea pedis

Griseofulvin 500mg/hr sampai sembuh (4-6 minggu) Terbinafine 250 mg/hr selama 4-6 minggu

Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 mgg Itraconazole 100 mg/hr selama 15 hr atau 200mg/hr selama 1 mgg. Fluconazole 150-300 mg/mgg selama 4 mgg. Itraconazole 200 mg/hr selama 4-6 mgg. Griseofulvin 500-1000 mg/hr sampai sembuh (3-6 bulan).

Chronic and/or widespread non-responsive tinea.

Tabel 2.3 Pilihan terapi oral untuk infeksi jamur pada kulit11 Pada pengobatan kerion stadium dini diberikan kortikosteroid sistemik sebagai antiinflamasi, yakni prednisone 3x5 mg atau prednisolone 3x4 mg sehari selama dua minggu, bersamaaan dengan pemberian grisiofulvine yang diberikan berlanjut 2 minggu setelah lesi hilang. Terbinafine juga diberikan sebagai pengganti griseofulvine selama 2-3 minggu dosis 62,5-250 mg sehari tergantung berat badan. Efek samping griseofulvine jarang dijumpai, yang merupakan keluhan utama ialah sefalgia yang didapati pada 15% penderita. Efek samping lain berupa gangguan traktus digestifus yaitu: nausea, vomitus, dan diare. Obat tersebut bersifat fotosensitif dan dapat mengganggu fungsi hepar.

Efek samping terbinafine ditemukan kira-kira 10% penderita, yang tersering gangguan gastrointestinal diantaranya nausea, vomitus, nyeri lambung, diarea, konstipasi, umumnya ringan. Efek samping lain berupa ganguan pengecapan, persentasinya kecil. Rasa pengecapan hilang sebagian atau keseluruhan setelah beberapa minggu minum obat dan hanya bersifat sementara. Sefalgia ringan dilaporrkan pula 3,3%-7% kasus. Pada kasus resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan ketokonazol sebagai terapi sistemik 200 mg per hari selam 10 hari sampai 2 minggu pada pagi hari setelah makan. Ketokonazol kontraindikasi untuk kelainan hepar. http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/03/penyakit-dermatofitosis.html

NONDERMATOFITOSIS
PITRIASIS VERSIKOLOR Definisi: disebabkan Malassezia furfur Robin merupakan penyakit jamur superfisial yang kronik, bisanya tidak memberikan keluhan subjektif, berupa bercak berskuama halus yang berwarna putih sampai coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadang-kadang dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka, dan kulit kepala yang berambut. Epidemiologi: merupakan penyakit universal dan terutama ditemukan di daerah tropis Patogenesis: pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan dengan timbulnya pitriasis versikolor ialah Pityrosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau Pityrosporum ovale yang berbentuk oval. Keduanya merupakan organisme yang sama yang dapat berubah sesuai dengan lingkungan misalnya suhu, media, dan kelembaban. Malassezia furfur merupakan fase spora dan miselium. Faktor predisposisi menjadi pathogen dapat endogen atau eksogen. Endogen dapat disebabkan oleh defisiensi imun. Eksogen dapat karena faktor suhu, kelembaban udara, dan keringat. Gejala klinis: kelainan terihat seperti bercak-bercak berwarna-warni, bentuk tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. Bercak-bercak tersebut berfluoresensi bila dilihat dengan lampu Wood. Bentuk papulo-vesikulerdapat dilihat walaupun jarang. Kelainan biasanya asimtomatik sehingga terkadang penderita tidak mengetahui sedang berpenyakit tersebut. Kadang dapat merasakan gatal ringan yang merupakan alasan berobat. Pseudoakromia, akibat tidak terkena sinar matahari atau kemungkinan pengaruh toksik jamur terhadapa pembentukan pigmen. Beberapa faktor yang mempengaruhi infeksi, yaitu faktor herediter, penderita yang sakit kronik atau mendapatkan pengobatan steroid dan malnutrisi. Diagnosis: dapat ditegakkan atas dasar gambaran klinis, pemeriksaan fluoresensi, lesi kulit dengan lampu Wood, dan sediaan langsung. Fluoresensi lesi kulit pada pemeriksaan lampu Wood berwarna kuning keemasan dan pada sediaan langsung kerokan kulit dengan larutan KOH 20% terlihat campuran hifa pendek dan spora-spora bulat yang berkelompok. Diagnosis banding: dermatitis seboroika, eritrasma, sifilis II, achromia parasitic, pitriasis alba, serta vitiligo Pengobatan: Suspensi selenium sulfide (selsun) dapat dipakai sebagai shampoo 2-3 kali seminggu. Obat digosokka pada lesi dan didiamkan 15-30 menit, sebelum mandi. Obat lain seperti salisil spiritus 10%, derivate-derivat azol, misalnya mikonazol, klotrimazol, isokonazol, dan ekonazol, terdapat sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4-20%, toksiklat, tolnaflat, dan haloprogin. Jika sulit disembuhkan, ketokonazol dapat dipertimbangkan dengan dosis 1 x 200 mg sehari selama 10 hari. Prognosis: prognosis baik bila pengobatan dilakukan secara menyeluruh, tekun, dan konsisten. Pengobatan harus diteruskan 2 minggu setelah fluoresensi negatif dengan pemeriksaan lampu Wood dan sediaan langsung negatif.

PITIROSPORUM FOLIKULITIS (MALASSEZIA FOLIKULITIS) Definisi: merupakan penyakit kronis pada folikel piosebasea yang disebabkan oleh spesies Pitrosporum berupa papul dan pustule folikular, yang biasanya gatal dan terutama berlokasi di batang tubuh, leher, dan lengan bagian atas. Etiologi: sepsis Pityrosporum yang identic dengan Malassezia furfur, penyebab pitriasis versikolor. Patogenesis: sifat Malessezia adala dimorfik, lipofilik, dan komensal. Bila pada hospes terdapat faktor predisposisi Malessezia yang tumbuh berlebihan daalam folikel sehingga folikel dapat pecah. Dalam hal ini reaksi peradangan terhadap produk, tercampur dengan lemak bebas yang dihasilkan melalui aktivitas lipase. Faktor predisposisi Antara lain adalah suhu dan kelembaban udara yang tinggi, penggunaan bahan-bahan berlemak untuk pelembab badan yang berlebihan, antibiotik, kortikosteroid local/sistemik, sitostatik dan penyakit tertentu misalnya: diabetes mellitus, keganasan, keadaan imunokompromais dan AIDS. Gejala klinis: gatal pada tempat predileksi. Klinis morfologi terlihat papul dan pustule perifolikular, berukuran 2-3 mm diameter, dengan peradangan minimal. Tempat predileksi adalah dada, punggung dan lengan atas. Kadang di leher dan jarang di wajah. Diagnosis banding: Akne vulgaris, folikulitis bacterial, dan erupsi akneformis Pengobatan: antimikotik oral, misalnya: ketokonazol 200 mg selama 2-4 minggu, itrakonazol 200 mg selama 2 minggu, flukonazol 150 mg seminggu 2-4 minggu. Antimikotik topical biasanya kurang efektif walaupun dapat menolong.

PIEDRA Definisi: infeksi jamur pada rambut, ditandai dengan benjolan (nodus) seoanjang rambut, dan disebabkan oleh Piedraia hortai (black piedra) atau Trichosporon beigelii (white piedra). Gejala klinis: piedra hanya menyerang rambut kepala, janggut dan kumis tanpa memberikan keluhan. Krusta melekat erat sekali dengan rambut yang terserang dan dapat sangat kecil sehingga hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Benjolan yang besar mudah dilihat, diraba, dan teraba kasar bila rambut diraba dengan jari-jari. Bila rambut disisr terdengar suara metal (klik). Piedra hitam yang hanya ditemukan di daerah tropis merupakan penyakit endemis di tempat tertentu, terutama yang banyak hujan. Piedra hortai hanya menyerang rambut kepala. Jamur ini menyerang rambut di bawah kutikel, kemudian membengkak dan pecah untuk menyebar di sekitar rambut dan membentuk benjolan tengguli dan hitam. Piedra putih yang lebih jarang ditemukan terdapat didaerah beriklim sedang, hanya sekali saja ditemukan di daerah tropis. Infeksi ini menyerang janggut dan kumis. Benjolan berwarna coklat muda dan tidak begitu melekat pada rambut. Diperkirakan bahwa Trichosporon beigelii hanya dapat menyerang rambut yang telah rusak. Diagnosis: berdasarkan gambaran klinis. Pada sediaan langsung dengan larutan KOH 10% rambut yang sakit dan telah dipotong terlihat seperti benjolan yang disebabkan P. hortai berukuran bermacam-macam dan terpisah satu dengan yang lainnya. Benjolan berwarna

tengguli hitam ini terdiri atas hifa berseptum, teranyam padat dan diantaranya terdappat askusaskus. Di dalam askus terdapat 4-8 askospora. Diagnosis piedra putih yang disebabkan oleh Trichosporon beigelii juga dapat berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan sediaan langsung, dan biakan. Benjolan-benjolan tidak begitu terpisah satu sama lain seperti pada piedra hitam. Anyaman hifa terlihat seperti mengelilingi rambut sebagai selubung. Benjolan lebih mudah dilepas dari rambut dan berwarna kehijauan yang transparan. Rambut yang terserang mungkin terlihat sebagai kutikel yang terangkat, akan tetapi biasanya terlihat kerusakan yang lebih berat sampai menghasilkan trikoreksis atau trikoptilosis. Sekeliling rambut terlihat anyaman hifa. Pengobatan: memotong rambut yang terkena infeksi atau mencuci rambut dengan larutan sublimat 1/2000 setiap hari. Obat antijamur konvensional dan yang baru pun berguna.

TINEA NIGRA PALMARIS Definisi: disebabkan oleh Cladosporium wermeckii adalah infeksi jamur superfisial yang asimtomatik pada statum korneum. Kelainan kulit berupa macula tengguli sampai hitam. Telapak tangan yang biasa nya terserang, walaupun telapak kaki dan permukaan kulit lain dapat terkena. Epidemiologi: terutama terdapat di Amerika Selatan dan tengah. Kadang ditemukan di Amerika Serikat dan Eropa. Di Asia penyakit ini juga ditemukan; di Indonesia penyakit ini jarang terlihat. Etiologi: Penyakit ini disebabkan oleh Cladosporium wemeckii di Amerika Utara dan Selatan, sedangkan di Asia dan Afrika organiseme ine disebut Cladosporium mansonii. Gejala klinis: kelainan kulit telapak tangan berupa bercak-bercak tengguli hitam dan sesekali bersisik. Penderita umumnya berusia muda dibawah 19 tahun dan penyakitnya berlangsung kronik sehingga dapat terlihat pada penderita dewasa diatas 19 tahun. Perbandingan wanita 8x lebih banyak dari pria. Faktor predisposisi penyakit ini belum diketahui kecuali hipperhidrosis. Kekurangan respon imun penderita rupanya tidak berpengaruh. Diagnosis: berdasarkan pemeriksaan kerokan kulit dan biakan. Pada pemeriksaan langsung dan KOH 10% jamur terlihat sebagai hifa bercabang, berserat ukuran 1,5-3miu berwarna coklat muda sampai hijau tua. Biakan pada agar Saborroud (suhu kamar) menghasilkan koloni yang menyerupai koloni ragi dan koloni filament berwarna hijau tua atau hitam Diagnosis banding: dermatitis kontak, tiena versikolor, hiperkromia, nevus pigmetosus, dan kulit yang terkena zat kimia, misalnya perak nitrat. Pengobatan: salap salisil sulfur, Whitefield, dan tincture jodii Prognosis: tinea nigra oleh karena asimtomatik tidak memberi keluhan pada penderita kecuali keluhan estetukk, kalo tidak segera diobati akan menjadi kronik.

OTOMIKOSIS Definisi: infeksi jamur kronik atau subakut pada liang telinga luar dan lubang telinga luar, yang ditandai dengan inflamasi eksudatif dan gatal Etiologi: jamur kontaminan, misalnya Aspergillus, Penisillium, dan Mukor. Dermatofita kadangkadang dapat merupakan hasil biakan bahan pemeriksaan dari tempat tersebut. Biasanya terdapat juga bakteri misalnya Pseudomonas aeruginosa, Proteus spp., Micrococcus aureus, Streptococcus hemolyticus, difteroid dan basil-basil koliformis. Epidemiologi: merupakan penyakit kosmopolit yang terutama terdapat di daerah panas dan lembab, misalnya Indonesia. Infeksi terjadi secara kontak langsung Gejala klinis: panas dan lembab yang berlebihan merupakan faktor predisposisi. Penderita mengeluh rasa penuh dan sangat gatal pada telinga dalam. Liang telinga merah sembab dan banyak krusta. Inflamasi disertai eksfoliasi permukaan kulit atau pendengaran dapat terganggu oleh karena liang telinga tertutup oleh massa kotoran kulit dan jamur. Infeksi bakteri dan invasi pada jaringan di bawah kulit menyebabkan nyeri dan supurasi. Bila infeksi berlanjut eksema dan likenifikasi dapat jelas terlihat dan kelainan ini dapat meluas ke telinga bagian luar hingga bawah kuduk. Tulang rawan telinga dapat juga terserang. Hal yang menguntungkan membrane timpani jarang terserang. Diagnosis: memeriksa kerokan kulit dan kotoran telinga. Pada sediaan langsung dengan KOH 20% akan terlihat hifa tanpa spora. Biakan pada agar Saborroud pada suhu kamar menghasilkan koloni jamur penyebab Pengobatan: infeksi akut bila disertai edema memerlukan pengobatan konservatif untuk menghilangkan bengkak dan kemungkinan pembersihan liang telinga. Misalnya dengan memasukkan kapas yang telah dibasahi dengan larutan permanganas kalikus 1/10.000. tindakan ini dapat diulang dan kalau perlu dapat dilakukan irigasi untuk membersihkan serumen atau kotoran lain. Kemajuan atau kesembuhan akan terlihat akibat pembersihan yang dilakukan dan pengeringan liang telinga selama beberapa hari. Liang telinga yang menderita infeksi kronik harus dibersihkan untuk menghilangkan kotoran dan sisik yang mengandung jamur. Irigasi dengan larutan garam faal dilanjutkan dengan pemberian salisil spiritus 2% selama beberapa menit, biasa nya cukup membersihkan daerah tersebut supaya tetap kering dapat diberikan obat-obat antiseptic, antibiotik, atau antifungal. Prognosis: infeksi kronik sangat resisten terhadap pengobatan, akan tetapi prognosis cukup baik bila diagnosis dibuat tepat dan pengobatan dilaksanakan secara bijaksana

KERATOMIKOSIS Definisi: infeksi jamur pada kornea mata yang menyebabkan ulserasi dan inflamasi setelah trauma pada bagian tersebut diobat dengan obat antibiotik dan kortikosteroid Etiologi: Berbagai macam jamur yang menyerang kornea yang rusak dan menyebabkan ulkus kornea. Spesies spesie yang pernah ditemukan Antara lain adala Aspergillus, Fusarium, Cephalosporum, Curvularia, dan Penicillium.

Gejala klinis: setelah mengalami trauma atau abrasi pada mata dapat terbentuk ulkus pada kornea. Melalui perkembangan yang lambat kelainan dapat membentuk hipopion. Lesi mulai dengan benjolan yang menonjol sedikit di atas permukaan, berwarna putih kelabu dan berambut halus. Pencairan lapisan teratas kornea di sekitarnya membentuk ulkus dangkal. Terbentuk Halo lebar berbatas tegas berwarna putih kelabu mengelilingi titik pusatnya. Dalam Halo tersebut dapat terlihat garis-garis radial. Terlihat pula, inflamasi pada kornea. Vaskularisasi sering tidak tampak. Pada stadium inis erring digunakan antibiotik dan steroid yang bersifat antiinflamasi sehingga mencegah jaringan parut. Dengan pengobatan demikian ulkus dapat menjalar dan meluas sampai ruang depan mata. Biakan dari bahan hapus dasar ulkus tidak menghasilkan bakteri, maupun jamur, akan tetapi bahan yang diambil dari kerokan dalam dasar atau pinggir ulkus menghasilkan jamur pada pemeriksaan. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan mikologik sediaan langsung dan biakan. Diagnosis banding: ulkus kornea yang disebabkan oleh paralisis fasialis, keratitis dendriti dan lain-lain Pengobatan: larutan nistatin dan amfoterisin B yang diberikan tiap jam. Pemberian dapat dijarangkan, bila telah terjadi perbaikan. Larutan Amfoterisin B mengandung 1,0 mg per ml larutan garam faal atau akua destilata. Pada tahun-tahun akhir larutan derivate azol juga digunakan dengan hasil yang cukup bauk. Prognosis: baik, bila diagnosis dilakukan dini dan pengobatan cepat dan tepat.