Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN AKHIR PERTANIAN BERLANJUT

Pengamatan Pertanian Berlanjut di Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang, Malang

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Oleh : Rizky Darmawan Sasono Devy Ratna Wijayanti Riko Aditya P Yohana Avelia S Realita Deka AP Gema Rizky Ibrahim Reza Vidyastanto Nevi Linda P Dyah Ayu Laras S Kelas : Q

(115040200111088) (115040200111104) (115040200111107) (115040207111058) (115040200111110) (115040200111086) (115040200111103) (115040200111054) (115040200111098)

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pertanian berkelanjutan adalah gerakan pertanian menggunakan prinsip ekologi, studi hubungan antara organisme dan lingkungannya. Pertanian berkelanjutan telah didefinisikan sebagai sebuah sistem terintegrasi antara praktek produksi tanaman dan hewan dalam sebuah lokasi dan dalam jangka panjang memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan pangan dan serat manusia, meningkatkan kualitas lingkungan dan sumber daya alam berdasarkan kebutuhan ekonomi pertanian, menggunakan sumber daya alam tidak terbarukan secara sangat efisien, menggunakan sumber daya yang tersedia di lahan pertanian secara terintegrasi, dan memanfaatkan pengendalian dan siklus biologis jika memungkinkan, meningkatkan kualitas hidup petani dan masyarakat secara keseluruhan. Keberlanjutan bisa dianggap sebagai pendekatan ekosistem dalam pertanian.[3] Praktek yang bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang terhadap tanah, termasuk pengolahan tanah berlebih yang mampu memicu erosi, dan irigasi tanpa drainase yang cukup yang mampu menyebabkan salinisasi tanah. Sistem pertanian berkelanjutan juga beisi suatu ajakan moral untuk berbuat kebajikkan pada lingkungan sumber daya alam dengan memepertimbangkan tiga matra atau aspek yaitu Kesadaran Lingkungan (Ecologically Sound), sistem budidaya pertanian tidak boleh mnyimpang dari sistem ekologis yang ada. Keseimbanganadalah indikator adanya harmonisasi dari sistem ekologis yang mekanismena dikendalikanoleh hukum alam. Bernilai ekonomis (Economic Valueable), sistem budidaya pertanian harus mengacu pada pertimbangan untung rugi, baik bagi diri sendiri dan orang lain, untuk jangka pandek dan jangka panjang, serta bagi organisme dalam sistem ekologi maupun diluar sistem ekologi. Berwatak sosial atau kemasyarakatan (Socially Just), sistem pertanian harus selaras dengan norma-noma sosial dan budaya yang dianut dan di junjung tinggi oleh masyarakat disekitarnya sebagai contoh seorang petani akan mengusahakan peternakan ayam diperkaangan milik sendiri. Mungkin secra ekonomis dan ekologis menjanjikkan keuntungan yang layak, namun ditinjau dari aspek sosial dapat memberikan aspek yang kurang baik misalnya, pencemaran udara karena bau kotoran ayam. Norma-norma sosial dan budaya harus diperhatikan, apalagi dalam sistem pertanian berkelanjutan di Indonesia biasanya jarak antara perumahan penduduk dengan areal pertanian sangat berdekatan. Didukung dengan tingginya nilai sosial pertimbangan utama sebelum merencanakan suatu usaha pertanian dalam arti luas. Pada fieldtrip kami, bertempat di Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang, mempelajari berbagai aspek Pertanian Berlanjut yang terdapat di daerah tersebut. Kami meneliti apakah didaerah tersebut melakukan penerapan prinsip Pertanian Berlanjut. Pada laporan ini, kami akan membahas hasil penelitian tentang system Pertanian Berlanjut yang terjadi didaerah tersebut

1.2 TUJUAN Mengetahui masalah pada system pertanian yang muncul pada daerah tersebut : 1. Mengetahui secara langsung system pertanian di daerah tertentu 2. Mampu menganalisa permasalahan di lahan pengamatan 3. Memberikan rekomendasi yang sesuai dengan aspek pertanian berlanjut pada daerah tersebut

BAB II METODOLOGI
2.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Fieldtrip pertanian berlanjut dilaksanakan pada tanggal 30 November , bertempat di Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang , Kabupaten Malang. 2.2 Metode Pelaksanaan 2.2.1 Pemahaman Karakteristik lansekap Karakter lanskap diidentifikasikan sebagai kunci dalam menganalisis karakter visual suatu lanskap. Karakter lanskap ini meliputi penutupan lahan, tata guna lahan, dan bentukan lahan. Karakteristik bentukan lahan diperoleh melalui interpretasi data survei tanah, sedangkan penutupan lahan dan tata guna lahan diperoleh melalui perkiraan foto udara, peta topografi, peta geologi, dan peta permukaan air. Bentuk, garis, warna, dan tekstur merupakan elemen dasar yang sering digunakan untuk menentukan respons visual pada karakteristik lanskap (Stone, 1978). Karakteristik lanskap yang memiliki kualitas estetik tinggi di antaranya adalah dominasi vegetasi, keteraturan, dan tidak adanya dominasi bangunan (Meliawati, 2003). Karakter lanskap merupakan suatu area yang memiliki keharmonisan atau kesatuan antarelemen lanskap di dalamnya (Simonds,1983). Karakteristik bangunan seperti tekstur, detil, dan proporsi dapat menentukan kualitas lingkungan tempat bangunan tersebut berada (Booth, 1983). Meliawati (2003) menyatakan bahwa karakteristik lanskap dengan bangunan yang cukup padat dan kurang tertata dengan baik memiliki kualitas keindahan rendah Menurut Simonds (1983), lanskap merupakan suatu bentang alam dengan karakteristik tertentu yang dapat dinikmati oleh seluruh indera manusia dengan karakter yang menyatu secara alami dan harmonis untuk memperkuat karakter lanskap tersebut. Dalam hal ini manusia memegang peranan penting dalam merasakan lanskap dan memberikan penilaian terhadap kualitas suatu lanskap. Faktor Pembentuk Lanskap. Lanskap terbentuk dari beberapa faktor yang masing-masing saling berinteraksi. Faktor pembentuk lanskap meliputi vegetasi, tanah, batuan, air, bentuk lahan, iklim makro maupum mikro, hewan maupun manusianya. Lanskap terbentuk dari interaksi yang kompleks antara vegetasi, iklim mikro kawasan, tata air, bentukan lahan dan tanah serta keberadaan penggunanya yaitu manusia dan hewan. Masing masing faktor tersebut merupakan suatu ikatan yang erat yang akan memberikan nuansa dan bentuk lanskap yang berbeda-beda.

Gambar Faktor Pembentuk Lanskap Karakteristik utama Lanskap yang mempengaruhi pola dan diversitas hewan dan tanaman (Harvey, 2007: Farming with Nature hal 148) Komposisi Struktur Managemen Managemen tanaman: pengolahan tanah, cara pemanenan, rotasi tanaman, Konteksregional Native ecosystem, biofical characteristics

Land use saat ini

Patchy dari segi ukuran dan bentuk

Floristic dan komposisi structural Land use membentuk matriks pertanian

Pengaturan secara Ladang spasial lahan Lokasi relatif terhadp penggembalaan dan pertanian non kawasan konservasi pengelolaan ternak pertanian Letak patch antar native habitat (jarak, pengaturan) Pengendalian tanaman atau hewan penggangu Temporal Land Use change

Proporsi lanscape Tingkat konektivitas Degradasi dari patch Sejarah pertanian di dengan native habitat native dalam native vegetation lanskap vegetation lanskap pertanian yang tersisa Heterogenitas Lanskap, tepi/border Temporal dynamics ofland use change

2.2.2 Pengukuran Kualitas Air Kualitas Air adalah istilah yang menggambarkan kesesuaian atau kecocokan air untuk penggunaan tertentu, misalnya: air minum, perikanan, pengairan/irigasi, industri, rekreasi dan sebagainya. Peduli kualitas air adalah mengetahui kondisi air untuk menjamin keamanan dan kelestarian dalam penggunaannya. Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna) (ICRF,2010). Kualitas air yaitu sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat energi atau komponen lain di dalam air. Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter yaitu parameter fisika (suhu, kekeruhan, padatan terlarut dan sebagainya), parameter kimia (pH, oksigen terlarut, BOD, kadar logam dan sebagainya), dan parameter biologi (keberadaan plankton, bakteri, dan sebagainya) (Effendi, 2003). Lima syarat utama kualitas air bagi kehidupan ikan adalah (O-fish, 2009): 1. Rendah kadar amonia dan nitrit 2. Bersih secara kimiawi 3. Memiliki pH, kesadahan, dan temperatur yang sesuai

4. Rendah kadar cemaran organik, dan 5. Stabil Pengukuran kualitas air dapat dilakukan dengan dua cara, yang pertama adalah pengukuran kualitas air dengan parameter fisika dan kimia (suhu, O2 terlarut, CO2 bebas, pH, Konduktivitas, Kecerahan, Alkalinitas ), sedangkan yang kedua adalah pengukuran kualitas air dengan parameter biologi (Plankton dan Benthos) (Sihotang, 2006). Kecerahan suatu perairan menentuan sejauh mana cahaya matahari dapat menembus suatu perairan dan sampai kedalaman berapa proses fotosintesis dapat berlangsung sempurna. Kecerahan yang mendukung adalah apabila pinggan seichi disk mencapai 20-40 cm dari permukaan. (Chakroff dalam Syukur, 2002) Novotny dan Olem, 1994 (dalam Effendi, 2003) menyatakan bahwa sebagian besar biota akuatik sensitive terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7 8,5. niali pH sangat mempaengaruhi proses biokomia perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Sedangkan menurut Haslam, 1995 (dalam Effendi, 2003) menambahkan bahwa pada pH < 4, sebagian besar tumbuhan air mati karena tidak dapat bertolerensi terhadap pH rendah. Kelarutan oksigen dalam air tergantung dari suhu air. Kelarutan oksigen dalam air akan berkurang dari 14,74 mg/l pada suhu 0 0C menjadi 7,03 m/l pada suhu 35 0C. dengan kenaikkan suhu air terjadi pula penurunan kelarutan oksigen yang disertai dengan naiknya kecepatan pernapasan organisme perairan, sehingga sering menyebabkan terjadinya kenaikkan kebutuhan oksigen yang disertai dengan turunnya kelarutan gas-gas lain di dalam air. Peningkatan suhu sebsar 1 0C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10. Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan organik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai nol (Brown dalam Effendi, 2003). Kasry (1995) mengemukakan bahwa tingginya tingkat CO2 bebas dalam air dihasilkan dari proses perombakan bahan organic dan mikroba. Kadar karbondioksida bebas yang dikehendaki tidak lebih dari 12 mg/l dan kandungan terendah adalah 2 mg/l. Kandungan karbondioksida bebas diperairan tidak lebih dari 25 mg/l dengan catatan kadar oksigen terlarut cukup tinggi. Parameter Fisika Suhu Pola temparatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya, ketinggihan geografis dan juga oleh faktor kanopi (penutupan oleh vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di tepi. Di samping itu pola temperatur perairan dapat di pengaruhi oleh faktor-faktor anthropogen (faktor yang di akibatkan oleh aktivitas manusia) seperti limbah panas yang berasal dari air pendingin pabrik, penggundulan DAS yang menyebabkan hilangnya

perlindungan, sehingga badan air terkena cahaya matahari secara langsung (Barus, 2003). Suhu tinggi tidak selalu berakibat mematikan tetapi dapat menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka panjang, misalnya stres yang ditandai dengan tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal. Pada suhu rendah, akibat yang ditimbulkan antara lain ikan menjadi lebih rentan terhadap infeksi fungi dan bakteri patogen akibat melemahnya sistem imun. Pada dasarnya suhu rendah memungkinkan air mengandung oksigen lebih tinggi, tetapi suhu rendah menyebabkan stres pernafasan pada ikan berupa menurunnya laju pernafasan dan denyut jantung sehingga dapat berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen (Irianto, 2005). Parameter Kimia pH (Derajat Keasaman) pH adalah suatu ukuran keasaman dan kadar alkali dari sebuah contoh cairan. Kadar pH dinilai dengan ukuran antara 0-14. Sebagian besar persediaan air memiliki pH antara 7,0-8,2 namun beberapa air memiliki pH di bawah 6,5 atau diatas 9,5. Air dengan kadar pH yang tinggi pada umumnya mempunyai konsentrasi alkali karbonat yang lebih tinggi. Alkali karbonat menimbulkan noda alkali dan meningkatkan farmasi pengapuran pada permukaan yang keras (iCLEAN, 2007). Perubahan pH berkaitan dengan kandungan oksigen dan karbondioksida dalam air. Pada siang hari jika oksigen naik akibat fotosintesa fitoplankton, maka pH juga naik. Pada pagi jika pH kurang dari 7, hal ini menunjukan bahwa tambak atau kolam banyak mengandung bahan organik. Kestabilan pH perlu dipertahankan karena pH dapat mempengaruhi pertumbuhan organisme air, mempengaruhi ketersediaan unsur P dalam air dan mempengaruhi daya racun amoniak dan H2S dalam air (Subarijanti, 2005). DO (Disolved Oxigent) Oksigen adalah unsur fital yang di perliukan oleh semua organisme untuk respirasi dan sebagai zat pembakar dalm proses metabolisme. Oksigen juga sangat dibutuhkan mikro organisme (bakteri) untuk proses dekomposisi. Kandungan oksigen dalam air yang ideal adalah antara 3-7 ppm. Jika kandungan oksigen kurang dari 3 ppm, maka ikan maupun udang akan berada di permukaan air bahkan bagi udang yang sedang molting, jika oksigen 1-2 ppm, udang bisa mati, demikian pula jika oksigen terlalu tinggi, ikan maupun udang bisa mati karena terjadi emboli dalam darah (Subarijanti, 2005). Sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah penyerapan oksigen dari udara melalui kontak antara permukaan air dengan udara, dan dari proses fotosintesis. Selanjutnya aur kehilangan oksigen melalui pelepasan dari permukaan ke atmosfer dan melalui kegiatan respirasi dari semua organisme (Barus, 2003).

Karbondioksida (CO ) Pada perairan umum dan kolam budidaya intensif, karbondioksida, bikarbonat atau karbonat terlarut membentuk suatu reservoir karbon untuk fotosintesis tumbuhan air. Pada kondisi gelap, maka aktivitas utama tumbuhan yaitu melakukan respirasi, pada kesempatan tersebut dibebaskan CO2 dan ionion hidorgen sehingga menyebabkan penurunan pH. Perubahan pH diurnal pada kolam ikan hingga 1 unit biasanya disebabkan oleh proses biologis (Irianto, 2005). Sumber karbon utama di bumi adalah atmosfer dan perairan terutama laut. Laut mengandung karbon lima puluh kali banyak dari pada karbon di atmosfer. Perpindahan karbon dari atmosfer ke laut terjadi melalui proses difusi. Karbon yang terdapat di laut cenderung mengatur karbondioksida di atmosfer. Karbon yang terdapat di atmosfer da perairan diubah menjadi karbon organik melalui proses fotosintesis, kemudian masuk kembali ke atmosfer melalui proses respirasi dan dekomposisi yang merupakan proses biologis mahluk hidup (Effendi, 2003). 2.2.3 Pengukuran Biodiversitas 2.2.3.1 Aspek Agronomi Diversitas vegetasi Untuk mengkaji struktur dan komposisi komunitas vegetasi, pembuatan sampel plot biasanya dilakukan. Dalam hal ini ukuran plot, bentuk, jumlah plot, posisi plot dan teknik analisis perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Ukuran plot tergantung pada ukuran tumbuhan, jenis tumbuhan, kerapatan tumbuhan, diversitas spesies, tingkat heterogenitas jenis tumbuhan dan tujuan pengukuran diversitas. Salah satu cara untuk menentukan ukuran dan jumlah plot sampel adalah dengan menggunakan Area kurve spesies, yang pada prinsipnya mengikuti prosedur sbb: 1. Buat plot sampel berukuran 1 x 1 m2 atau dalam bentuk lingkaran dengan radius 0,56 m. 2. Catat semua spesies yang ditemukan di dalam plot 1 (PS-1) 3. Buat plot sampel kedua dengan ukuran 2 kali ukuran plot sampel pertama (2 x PS1) dan catat semua spesies di dalam plot. 4. Buat plot sampel ketiga (PS-3) dengan ukuran 2 x PS-2, catat semua spesies di dalam plot, dan seterusnya sampai jumlah spesies relatif stabil. 5. Penambahan ukuran plot dihentikan bila tambahan jumlah spesies kurang dari 10 %. 6. Buat kurve di mana sumbu X sebagai ukuran plot dan sumbu Y sebagai jumlah spesies. Ukuran plot sampel minimal diperoleh bila kurve mulai mendatar.

2 3 5

4 6

7 Gambar 1. Pelipatan ukuran plot Jumlah spesies

Ukuran plot Bentuk plot juga penting untuk dipertimbangkan. Ada tiga macam bentuk plot: lingkaran, persegi (quadrat square) dan empat persegi panjang (rectangular). Untuk analisis vegetasi bentuk lingkaran lebih akurat dan biasanya dipergunakan untuk mengukur komunitas rumput, herba dan semak. Bentuk persegi panjang lebih efisien dibanding persegi bila untuk mengukur perubahan gradien lingkungan.

Ukuran plot yang direkomendasikan No. Tipe vegetasi 1 Komunitas briofita dan lumut 2. Padang rumput dan kerangas kerdil 3. Kerangas, herba tinggi, komunitas padang rumput

Ukuran plot 0,5 x 0,5 m 1 x 1 m atau 2 x 2 m 2 x 2 m atau 4 x 4 m

Belukar, belukar berpohon Hutan tingkat pohon tingkat tiang tingkat pancang tingkat semai Keterangan: Semai: juvenil, tinggi < 1,5m Pancang: juvenil, tinggi 1,5 m dan diameter < 10 cm Tiang: pohon kecil dengan diameter antara 10-19 cm Pohon: tumbuhan berkayu dengan diameter 20 cm Parameter vegetasi dan perhitungannya Jumlah individu spesies A Kerapatan spesies (D) = Ukuran plot sampel Kerapatan spesies A Kerapatan relatif (DR) = Kerapatan spesies total

4. 5.

10 x 10 m 20 x 20 m atau 50 x 50m 10 x 10 m 5x5m 2 x 2 m, 1x1m atau 2x5m

Jumlah plot spesies A ditemukan Frekuensi spesies (F) = Jumlah total plot Frekuensi spesies A Frekuensi relatif (FR) = Frekuensi total spesies

Luas bidang dasar spesies A Dominansi spesies (Do) = (untuk pohon, Ukuran plot tiang,pancang) Proyeksi luas tajuk = (untuk semai dan Luas plot tumbuhan bawah) Dominansi spesies A Dominansi relatif (DoR) = x 100 % Dominansi total spesies Indeks nilai penting = DR +FR+ DoR = DR + FR (untuk tumbuhan bawah) (Anonymous,2013)

2.2.3.2 Aspek Hama Penyakit Studi habitat merupakan studi ekologi yang mengkaji keanekaragaman species yang ada serta mengukur apakah sistem pengendalian alami akan berjalan dalam menekan populasi hama dan penyakit. Pengendali alami tersebut dapat berupa pesaing, musuh alami, ataupun agen antagonis. Keanekaragaman species juga akan menentukan kestabilan dan kerapuhan agroekosistem terhadap serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). Pegangan umum yang berlaku adalah semakin beragam suatu lingkungan biotik semakin stabil sistem tersebut, semakin tidak beragam semakin rapuh dan mudah terjadi goncangan ekstrim lingkungan, seperti terjadinya ledakan populasi OPT. Ukuran keanekaragaman dapat berupa kekayaan spesies yaitu jumlah jenis/spesies di suatu habitat/ekosistem, atau dapat berupa keseimbangan peran/relung ekologi spesies-spesies yang ditemukan (herbivora, karnivora,/parasitoid/predator, pengurai, dll). Kondisi sistem ekologi dalam agroekosistem juga dapat dikaji dengan melihat dinamika komposisi peran dari jumlah individu spesies yang terkoleksi, lintas waktu ataupun lokasi dalam hamparan (lansekap) yang sama. Cara ini sangat sesuai dalam menilai/memahami kondisi ekologis yang dikaitkan dengan pengembangan tindakan preventif dalam pengelolaan hama. Dalam hal ini yang dikoleksi adalah komunitas arthropoda dan peran yang dimaksud adalah sebagai hama, musuh alami (predator). (Anonymous,2013) 2.2.4 Pendugaan Cadangan Karbon Berkaitan dengan kemampuan hutan dalam penyerapan karbon, perdagangan emisi atau perdagangan karbon merupakan sebuah paradigma baru dalam sektor kehutanan dan dapat menjadi peluang bagi Indonesia yang notabene merupakan negara berkembang untuk mendapatkan devisa melalui sektor ini. Melalui Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism, CDM) inilah negara berkembang seperti Indonesia dapat berpartisipasi dalam rangka perdagangan karbon. Dalam sektor kehutanan, kegiatan yang tergolong dalam mekanisme ini adalah Aforestasi dan Reforestasi. Aforestasi merupakan kegiatan penanaman hutan kembali pada lahan yang sudah tidak berhutan 50 tahun yang lalu sedang reforestasi adalah penanaman hutan kembali pada lahan yang tidak berupa hutan sebelum tahun 1990. Meskipun kegiatan konservasi dan rehabilitasi tidak masuk dalam mekanisme CDM namun kegiatan tersebut masuk dalam kategori kegiatan adaptasi terhadap perubahan iklim dengan mekanisme yang diatur oleh Konvensi Perubahan Iklim sehingga kegiatan inipun berpotensi untuk mendapatkan pembiayaan. Perdagangan karbon adalah paradigma baru

sehingga kita perlu banyak persiapan, kesiapan ini juga menyangkut teknik dan penilaian informasi kandungan karbon yang dimiliki. Peranan Hutan sebagai penyerap karbon mulai menjadi sorotan pada saat bumi dihadapkan pada persoalan efek rumah kaca, berupa kecenderungan peningkatan suhu udara atau biasa disebut sebagai pemanasan global. Penyebab terjadinya pemanasan global ini adalah adanya peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer dimana peningkatan ini menyebabkan kesetimbangan radiasi berubah dan suhu bumi menjadi lebih panas. Gas Rumah Kaca adalah gas-gas di atmosfer yang memiliki kemampuan menyerap radiasi gelombang panjang yang dipancarkan kembali ke atmosfer oleh permukaan bumi. Sifat termal radiasi inilah menyebabkan pemanasan atmosfer secara global (global warming). Di antara GRK penting yang diperhitungkan dalam pemanasan global adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan nitrous oksida (N2O). Dengan kontribusinya yang lebih dari 55% terhadap pemanasan global, CO2 yang diemisikan dari aktivitas manusia (anthropogenic) mendapat perhatian yang lebih besar. Tanpa adanya GRK, atmosfer bumi akan memiliki suhu 30oC lebih dingin dari kondisi saat ini. Namun demikian seperti diuraikan diatas, peningkatan konsentrasi GRK saat ini berada pada laju yang mengkhawatirkan sehingga emisi GRK harus segera dikendalikan. Upaya mengatasi (mitigasi) pemanasan global dapat dilakukan dengan cara mengurangi emisi dari sumbernya atau meningkatkan kemampuan penyerapan. Hutan berperan dalam upaya peningkatan penyerapan CO2 dimana dengan bantuan cahaya matahari dan air dari tanah, vegetasi yang berklorofil mampu menyerap CO2 dari atmosfer melalui proses fotosintesis. Hasil fotosintesis ini antara lain disimpan dalam bentuk biomassa yang menjadikan vegetasi tumbuh menjadi makin besar atau makin tinggi. Pertumbuhan ini akan berlangsung terus sampai vegetasi tersebut secara fisiologis berhenti tumbuh atau dipanen. Secara umum hutan dengan net growth (terutama dari pohonpohon yang sedang berada fase pertumbuhan) mampu menyerap lebih banyak CO2, sedangkan hutan dewasa dengan pertumbuhan yang kecil hanya menyimpan stock karbon tetapi tidak dapat menyerap CO2 berlebih/ekstra (Kyrklund, 1990). Dengan adanya hutan yang lestari maka jumlah karbon (C) yang disimpan akan semakin banyak dan semakin lama. Oleh karena itu, kegiatan penanaman vegetasi pada lahan yang kosong atau merehabilitasi hutan yang rusak akan membantu menyerap kelebihan CO2 di atmosfer. Untuk perhitungan karbon stock dapat menggunakan persamaan alometik yang didapat dari perhitungan dari total biomassa dan c-organiknya. Selain itu dalam pendugaan cadangan karbon juga dapat dilihat dari biodiversitas tanaman tahunan, dimana pada dengan keragaman tahunan maka cadangan karbon

yang disimpan juga lebih banyak karena daya simpan karbon tiap pohon atau tanaman tahunan berbeda-beda. 2.2.5 Identifikasi Keberlanjutan Lahan Dari Aspek Sosial Ekonomi Sumberdaya alam termasuk didalamnya sumberdaya pertanian agar bisa memberikan manfaat tidak hanya untuk generasi sekarang, namun juga bagi generasi yang akan datang, diperlukan pengelolaan yang memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan (sustainability). Dalam pembangunan di bidang pertanian, peningkatan produksi seringkali diberi perhatian utama, namun ada batas maksimal produktivitas ekosistem. Jika batas ini dilampaui, maka ekosistem akan mengalami degradasi. Seringkali pula pemilihan investasi atau penggunaan sumberdaya pertanian, selalu menjadikan pertimbangan finansial sebagai dasar pertimbangan utama, artinya apabila dihadapkan pada beberapa pilihan penggunaan lahan, maka keputusan akan diambil pada aktivitas yang memberikan keuntungan finansial yang terbesar. Hal ini cenderung mengabaikan aspek lingkungan. Agar sistem bertanian bisa berkelanjutan, maka harus mempetimbangkan tidak hanya aspek finansial semata, dan juga tidak hanya mengejar produksi yang tinggi semata, namun juga harus memperhatikan aspek ekologis, produktivitas jangka panjang serta sosial ekonomi yang lainnya. Pertanian berkelanjutan (FAO, 1996) merupakan pengelolaan dan konservasi sumber daya alam, dan orientasi perubahan teknologi dan kelembagaan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan manusia secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang. Dengan demikian pembangunan di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan harus mampu mengkonservasikan tanah, air, tanaman dan sumber genetik binatang, tidak merusak lingkungan, secara teknis tepat guna, secara ekonomi layak dan secara sosial dapat diterima masyarakat. Kriteria pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) menurut SEARCA (2005) adalah sistem pertanian yang : (1) berkelangsungan hidup secara ekonomi (economically viable); (2) ekologis dan bersahabat atau ramah lingkungan (ecologically sound and friendly/environmentally); (3) berkeadilan sosial (socially just equitable); (4) cocok secara budaya (culturally appropriate); dan (5) merupakan pendekatan sistem dan holistik / terintegrasi (systems and holistic/ integrated approach). Sistem pertanian yang layak secara ekonomi mempunyai pengembalian yang layak dalam investasi tenaga kerja dan biaya yang terkait dan menjamin penghidupan yang layak bagi keluarga petani. Sistem ini minimal dapat menyediakan makanan dan kebutuhan dasar yang lain bagi keluarga petani. Economically viable juga berarti minimisasi biaya eksternalitas dari kegiatan usahatani (SEARCA, 1995). Sistem pertanian yang berkeadilan sosial (socially just equitable) adalah sistem pertanian yang menghargai martabat, hak asasi individu dan kelompok-kelompok dan

memperlakukannya secara adil. Sistem tersebut menyediakan akses ke informasi, pasar dan usahatani lain yang terkait dengan sumberdaya, khususnya lahan. Akses tersebut tidak membedakan jenis kelamin, status sosial, agama dan suku. Praktek-praktek atau metode-metode yang diterapkan dapat diterima masyarakat. Sedangkan system pertanian yang cocok secara budaya (culturally appropriate) memberikan perhatian kepada nilai-nilai budaya, termasuk kepercayaan-kepercayaan religius dan tradisi-tradisi serta pengetahuan teknis tradisional (indigenous technical knowledge) dalam pembangunan sistem pertanian, perencanaan dan programnya. Sistem ini mengenalkan sistem pengetahuan dan visi petani yang dipertimbangkan sebagai mitra dalam proses pembangunan. Sistem pertanian bertanian berkelanjutan merupakan pendekatan sistem dan holistik / terintegrasi (systems and holistic/ integrated approach), yaitu sistem pertanian yang berdasar pada ilmu pengetahuan yang holistik pertanian sebagai suatu sistem usahatani dan pendekatan sistem yang berhubungan dengan faktor-faktor biofisik, sosial, ekonomi dan budaya (SEARCA, 1995). Tujuan keseluruhan dari pertanian yang berkelanjutan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup. Hal ini dapat dicapai melalui (SEARCA, 1995): (1) pembangunan ekonomi; (2) memberikan prioritas pada ketahanan pangan (food security); (3) menempatkan nilai yang tinggi pada pembangunan sumberdaya manusia dan pemenuhan kebutuhannya; (3) pemberdayaan dan pembebasan petani; (4) menjamin suatu lingkungan yang stabil (aman, bersih, seimbang dan dapat diperbarui); dan (5) memfokuskan pada tujuan produktivitas jangka panjang. (Anonymous,2013)

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Kondisi Umum Wilayah 3.1.1 Kondisi Umum Wilayah PLOT 4. HUTAN PINUS N o. 1 2 3 Pengguna an Lahan Hutan produksi Tanaman Semusim Tutup an Lahan Pinus Rump ut Gajah Manfa at K D Posisi Leren g A A Tingkat Tutupan Kano Seres pi ah S T S R Jumla h spesi es S T Kerap atan S T Cstock Cukup tinggi Cukup tinggi Cukup tinggi

Tanaman Pisang B A S R R R Semusim Isikan kode hurufnya saja TaManfaat: B (buah), D (daun), A (akar), K (kayu), B (biji). Posisi Lereng: A (atas), T (tengah), B (bawah). Tingkat Tutupan Kanopi dan Seresah: T (tinggi), S (sedang), R (rendah). Kerapatan: T (tinggi), S (sedang), R (rendah). PLOT 3. AGROFORESTRI N o. 1 Penggun aan Lahan Tanaman Semusim Tanaman Tahunan Tutupa n Lahan Pisang Lamtor o Manfa at B,D Posisi Leren g T Tingkat Tutupan Kano Seres pi ah R R Jumla h spesi es S Kerap atan R

Cstock Cukup tinggi Cukup tinggi

B,K

Isikan kode hurufnya saja Manfaat: B (buah), D (daun), A (akar), K (kayu), B (biji). Posisi Lereng: A (atas), T (tengah), B (bawah). Tingkat Tutupan Kanopi dan Seresah: T (tinggi), S (sedang), R (rendah).

Kerapatan: T (tinggi), S (sedang), R (rendah). PLOT 2. TANAMAN SEMUSIM N o. 1 Pengguna an Lahan Tutup an Lahan Manfa at Posisi Leren g Tingkat Tutupan Kano Seres pi ah Jumla h spesi es Kerap atan Cstock Renda h

Tanaman Kubis D B R R T T Semusim Isikan kode hurufnya saja Manfaat: B (buah), D (daun), A (akar), K (kayu), B (biji). Posisi Lereng: A (atas), T (tengah), B (bawah). Tingkat Tutupan Kanopi dan Seresah: T (tinggi), S (sedang), R (rendah). Kerapatan: T (tinggi), S (sedang), R (rendah). PLOT 1. TANAMAN SEMUSIM DAN PEMUKIMAN No . 1 Penggun aan Lahan Tutup an Lahan Manfa at Posisi Leren g Tingkat Tutupan Kano Seres pi ah Jumla h spesi es Kerap atan

Cstock Renda h Renda h

Tanaman Kubis D B R R T T Semusim Tanaman 2 Cabai B B R R T R Semusim Isikan kode hurufnya saja Manfaat: B (buah), D (daun), A (akar), K (kayu), B (biji). Posisi Lereng: A (atas), T (tengah), B (bawah). Tingkat Tutupan Kanopi dan Seresah: T (tinggi), S (sedang), R (rendah). Kerapatan: T (tinggi), S (sedang), R (rendah).

Fieldtrip Pertanian Berlanjut ini dilaksanakan di dua lokasi yaitu di Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang dan Dusun kekep, Kota Batu. Tetapi pada kelas Q yaitu kelas kami bertepatan di Desa Tulungrejo Kecamatan Ngantang. Di lokasi ini memiliki keanekaragaman jenis penggunaan lahan dalam satu lanskap, dan lokasi ini masuk dalam kawasan Sub Daerah Aliran Sungai Kalikonto. Susunan penggunaan lahan di lokasi ini terdapat Perkebunan Pinus + rumput gajah dilereng bagian atas yaitu pada plot 1, pada plot 2 terdapat kebun campuran atau agroforestry di lereng bagian tengah, plot 3 termasuk tanaman semusim di lereng bagian tengah dan bawah, serta pada plot 4 yang terletak di bagian lereng bawah dan terdapat pemukiman ditanami tanaman semusim.

Kondisi Umum Wilayah pada Plot 1 terdapat komoditas tanaman tahunan yaitu Pinus, dan tanaman semusim yaitu pisang serta rumput gajah. Pinus disini termasuk tanaman yang dapat dimanfaatkan kayunyan dan termasuk dalam hutan produksi. Sedangkan pisang dapat dimanfaatkan dari daunya sebagai tempat bungkus dan dapat buahnya juga dapat dikonsumsi. Sedangkan rumput gajah daunya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Posisi Lereng Pinus termasuk dalam posisi atas, rumput gajah termasuk posisi lereng bagian atas, dan pisang termasuk bagian atas. Tingkat tutupan lahan disini dibedakan menjadi dua yaitu kanopi dan seresah , kanopi pinus dan pisang termasuk pada kategori sedang karena tidak memiliki banyak tajuk dan tidak menutupi tanah secara keseluruhan, sedangkan rumput gajah yang tanamanya tidak terlalu tinggi ini termasuk dalam kategori kanopi rendah. Selain itu kita juga mengamati seresah yang ada disekitar tanaman tersebut, seresah pada tanaman pinus tidak terlalu banyak tetapi dalam kategori sedang, sedangkan pada tanaman rumput gajah dan pisang masih dalam kategori rendah, ini disebabkan karena sedikit ranting ataupun daunan yang jatuh dari pohon sehingga tidak menjadi seresah. Jumlah spesies yang ada pada plot satu ini berbeda-beda tergantung pada tanamanya, pada tanman pinus spesies yang ditemukan dalam kategori sedang, rumput gajah jumlah spesiesnya tergolong tinggi karena disana tanamanya rapat dan banyak spesies yang tinggal disekitar tanaman rumput gajah. Sedangkan pada tanaman pisang tidak banyak ditemukan spesies serangga maupun hama dan ini masih dalam kategori rendah. Kerapatan tanaman pinus termasuk dalam kategori sedang, rumput gajah termauk dalam kategori tinggi karena banyak anakan yang tumbuh dan menjadikan tanaman ini terlihat rapat, sedangkan pada tanman pisang ditanam dalam kondisi jarak tanam yang lebar dan kerapatanya termasuk dalam kategori rendah karena tidak rapat. C- karbon pada plot 1 ini termasuk dalam kategori cukup tinggi karena disini terdapat pohon pinus yang dapat menyerap karbon dalam cukup tinggi. Kondisi umum wilayah pada plot 2 terdapat tanaman semusim dan tahunan, tahunanya berupa lamtoro dan semusimnya berupa pisang, Lamtoro disini dapat dimanfaatkan dari segi buah dan kayunya, sedngkan pisang dapat dimanfaatkan dari daunya sebagai bungkus dan juga buahnya bias dikonsumsi, posisi lereng pada plot 2 ini termasuk dalam kategori tengah, tingkat tutupan kanopi dan seresah pada tanaman lamtoro dan pisang ini termasuk dalam kategori rendah karena tidak banyak tajuknya dan tidak menutupi tanaman dibawahnya, sedangkan seresah disekitar tanamanya tergolong sedikit dan dalam kategori rendah. Jumlah spesies pada plot 2 ini tergolong rendah karena tanaman ini jarak tanamanya luas dan kerapatanya tergolong rendah atau tidak rapat dan tidak banyak ditemukan spesies tinggal disini selain itu karena kawasan ini masih agroforestry sehingga agroekosistemnya masih berjalan baik, tidak terjadi peledakan satu spesies saja. Sedangkan C-karbon nya dalam plot 2 ini dalam kategori cukup tinggi dikarenakan terdapat tanaman tahunan yang dapat menyerap karbon dalam jumlah lebih banyak.

Kondisi umum wilayah pada plot 3 terdapat tanaman semusim yaitu monokultur kubis, kubis dapat dimanfaatkan daunya, plot 3 ini termasuk pada lereng bagian bawah, sedangkan tutupan lahan serta seresahnya dalam kategori rendah karena kubis ini tidak termasuk tanaman kayu dan tidak memiliki tajuk sehingga tidak terdapat kanopi dan seresahnya juga tidak sebanyak yang di tanaman tahunan karena disini tanahnya diolah menjadi guludan dan tidak terlihat adanya seresah. Jumlah spesies yang ditemukan ditanaman kubis ini tergolong tinggi karena disini ditanami monokultur dan berpengaruh terhadap perkembangan serangga, serta tanaman kubis disini terlihat tidak terawat jadi banyak tanaman yang layu serta busuk dan terdapat OPT. Kerapatan tanaman kubis ini jarak tanamnya sempit sehingga dalam kategori rapat dan C-Stock nya tergolong rendah. Kondisi umum wilayah pada plot 4 termasuk pada tanaman semusim dan pemukiman, tanaman semusim disini terdapat cabai dan kubis, tetapi kubisnya disini hanya ditanam pada pinggiran, kubis dapat dimanfaatkan daunya, sedangkan cabai dapat dimanfaatkan buahnya, posisi lereng pada plot 4 ini termasuk pada bagian bawah, tingkat tutupan kanopi dan seresahnya rendah, jumlah spesies nya tinggi, dan kerapatanya kubis termasuk kategori tinggi dan cabai kerapatanya termasuk rendah dabn tidak rapat, sedangkan C- Stoknya termasuk dalam kategori rendah karena tanaman semusim tidak menyerap karbon dalam jumlah banyak. 3.1.2. Indikator Pertanian Berlanjut dari Aspek Biofisik 3.1.2.1. Kualitas Air PLOT 1 Parameter

Satuan 1 45 23 3,54 0,01

Kekeruhan cm Suhu C pH DO mg/liter PLOT 2 Parameter

Ulangan 2 45 23 5,66 0,04

3 42 23 5,83 0,05

Kelas (PP no.82 tahun 2001) IV IV IV IV

Satuan 1 45 23 6,21 1,49

Kekeruhan cm Suhu C pH DO mg/liter

Ulangan 2 45 23 6,24 1,59

3 42 23 6,47 1,61

Kelas (PP no.82 tahun 2001) II - III II - III II - III II - III

PLOT 3 Parameter

Satuan 1 45 24 6,11 1,33

Kekeruhan cm Suhu C pH DO mg/liter PLOT 4 Parameter

Ulangan 2 3 45 45 25 26 6,28 5,61 1,33 1,34

Kelas (PP no.82 tahun 2001) II - III II - III II - III II - III

Satuan 1 45 26 6,77 1,37

Kekeruhan cm Suhu C pH DO mg/liter

Ulangan 2 45 25 7,17 2,28

3 45 26 7,23 2,23

Kelas (PP no.82 tahun 2001) IV IV IV IV

Berdasarkan hasil data diatas , kualitas air pada daerah pengamatan (plot 1) masih dapat dikatakan buruk karena dari data hasil pengamatan kualitas air masuk dalam Pada kriteria yang diatur oleh PP no.82 tahun 2001 dijelaskan bahwa kualitas air yang masuk ke dalam Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut, sehingga dapat dikatakan kondisi penggunaan lahan kurang baik, karena tingakat pencemaran air didaerah tersebut yang cukup tinggi, sehingga tidak termasuk dalam kategori pertanian berlanjut. Dalam fieldtrip yang dilaksanakan kemarin pendugaan jenis kualitas air sungai dilakukan dengan cara pendugaan secara fisik dan kimia saja. Untuk kekeruhan air , pada plot 1 dengan 3 ulangan memiliki hasil yang sama, hal tersebut dikarenakan saat Secci disc dimasukkan sampai dasar, untuk warna putih dan hitamnya masih terlihat sehingga untuk kedalaman kejernihan sampai bawah/dasar yaitu 45cm. Maka dengan demikian air pada daerah pengamatan tergolong jernih. Pengukuran Kekeruhan digunakan untuk menghitung banyaknya bahan terlarut dalam air misalnya lumpur dll dengan menggunakan alat secchi disc, Apabila kondisi air makin keruh maka cahaya matahari yang masuk kedalam air makin berkurang hal ini mempengaruhi proses fotosintesis tumbuhan air, hal ini menyebabkan suplai oksigen dari hasil fotosintesis tanaman air menjadi berkurang. Makin dangkal batas penglihatan maka makin keruh berarti kadar oksigen terlarutnya sedikit.(Gunawan, 2004) Suhu air merupakan factor penting dalam keberlangsungan proses biologi dan kimia yang terjadi di dalam air. Tinggi rendahnya suhu berpengaruh pada kandungan oksigen didalam air, proses fotosintesis tumbuhan air, laju metabolisme organisme air dan kepekaan organism terhadap polusi, parasit, dan penyakit. Suhu Air yang diambil pada plot 1 sebanyak 3 ulangan pada plot pengamatan yang sama

dengan titik pengambilan yang berbeda didapat hasil suhu sebesar 23o Dilihat dari hasil tersebut, suhu yang tetap sama. Hal tersebut dikarenakan titik pengambilan sampel tidak berbeda jauh dengan titik sampel yang lainnya, atau dapat dikatakan berdekatan sehingga suhunya cenderung (Soemtrat, 2002). Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran, untuk pH pada plot 1 berbeda antara ulangan 1 3. Untuk ulangan 1 sebesar 3,54 untuk ulangan 2 sebesar 5,66 dan untuk ulangan 3 sebesar 5,83,sehingga dapat dikatakan pH pada plot pengamatan cukup asam (<7). Berdasarkan hasil pengamatan juga tidak ditemukan makhluk hidup. , kadar PH berpengaruh terhadap biota air yang hidup didalamnya, pH yang terlalu masam ataupun basa akan mengakibatkan matinya makhluk hidup , pH masam < 7 ,pH netral = 7 ,pH basa > 7 .pH optimum bagi makhluk hidup pada kisaran 6,5 8,2. Kadar PH dapat dipengaruhi oleh faktor alami dan faktor manusia. Pengendapan mineral tanah dan zat-zat asam dari air hujan merupakan faktor alami siklus kadar asam. Faktor pendorong terjadinya tingkat pencemaran terbesar yaitu aktivitas manusia sehari-hari. Pembuangan limbah industry baik kecil maupun besar menjadi pemicu besar pencemaran airselain itu penggunaan pestisida dalam lingkup pertanian juga mendukung penbcemaran air pada sungai. Zat-zat asam ataupun basa akan mengikat kadar oksigen dalam air sehingga menyebabkan tingkat pencemaran air meningkat. (Soemitrat, 2002) Kadar oksigen terlarut / DO merupakan oksigen yang ada didalam air yang berasal dari oksigen di udara dan hasil fotosintesis tumbuhan air. Oksigen terlarut sangat dibutuhkan tumbuhan dan hewan air untuk hidup Untuk Kadar Oksigen pada lokasi pengamatan plot 1, menunjukkan hasil yang sangat rendah pada semua ulangan. Yaitu berkisar 0.01-0.05, hal berarti bahwa kadar oksigen sangat sedikit, hal tersebut juga didukung dengan tidak adanya makhluk hidup seperti ikan dll. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar (Hefni, 2003), sehingga dapat dikatakan bahwa air pada plot pengamatan tercemar karena nilai DO nya yang sangat rendah. Pada plot 2 dan plot 3 , jika dilihat dari segi kualitas airnya masuk ke dalam kelas II III, dimana kualitas air kelas tersebut merupakan kualitas air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut. Untuk Plot 2 dari segi kekeruhannya rata rata berkisar 43 cm , untuk suhu nya pada 3 kali ulangan sama besar yaitu 23oC dan untuk pH nya masuk dal kategori agak asam karena berkisar antara 6,21 6,47 dan unutk kadar DO nya cukup baik yaitu antara 1,49 1,61 jadi masih memungkinkan biota air untuk hidup, berbeda dengan plot 1 yang kadar DO nya sangat rendah dan tidak memungkinkan biota air untuk hidup. Pada Plot 3 tidak jauh berbeda dengan plot 2 , dimana jika dilihat dari segi kekeruhannya cukup baik yaitu rata rata 45cm, sehingga dapa dikatakan bahwa air pada plot tersebut masih jernih, utnuk suhunya berkisar antara 24-26oC, untuk pH

berkisar antara 5,61 6,11 dapat dikatakan pada plot 3 ini kualitas airnya masih tergolong agak asam dan untuk kadar Donya cukup tinggi yaitu berkisar antara 1,33 1,34, kadar Donya masih cukup tinggi jadi masih dimungkinkan untuk biota air untuk hidup. Untuk Plot 4 sama dengan plot 1 yaitu masuk ke dalam plot 4, untuk kekeruhan airnya masih cukup jernih karena tingkat kekeruhannya mencapai 45 cm, utnuk suhu sekitar antara 25- 26 dan untuk pH berbda dengan plot sebelumnya (1,2,3) pH nya tergolong netral yaitu 6,77 7,23 dan untuk kadar Donya cukup tinggi juga yaitu berkisar 1,37 2,23 , kadar DO pada plot ini paling tinggi diantara plot lainnya. Dapat diketahui bahwa dari semua kualitas air yang diamatai plot 1 plot 4, plot 1 merupakan plot yang memiliki kualitas air paling buruk, hal tersebut dapat diketahui bahwa dari nilai pH dan kadar Donya yang berbda dengan plot-plot lainnya, dimana pHnya 3,54 5,83 yang tergolong asam, dan untuk Donya sangat rendah yaitu 0,01-0,05. 3.1.2.2 Biodiversitas Tanaman Plot 1 Titik Semusim/ Informasi Tutupan Lahan & Tanaman dalam Lanskap Pengambila Tahunan/ Luas Jarak Tanam Populasi Sebaran n sampel Campuran tutupan lahan Plot 1 Titik Tahunan Pinus = Pinus = 20 Pinus = Tidak 1 4mx4m pohon Merata Kopi = 1m x Kopi= 15 Kopi = Tidak 1m pohon Merata Waru= 10m x Waru = 8 Waru = Tidak 10m Sengon=5 merata Sengon= Sengon = Tidak 10m x 10m merata Plot 1 titik 2 Semusim Pohon Pisang Pisang= 5 a. Pohon Pisang = 4m x 4m Kopi = 5 = Tidak Merata Kopi = 1m x b. Kopi = Tidak 1m Merata Form Identifikasi dan analisis Gulma Titik Kelebatan Gulma Pengambilan Lebat Agak Lebat Sampel >50% 25-50% Plot 1 titik 1 Lebat Plot 1 titik 2 Lebat

Jarang <25% -

Form Pengamatan Biodiversitas Gulma Nama Ilmiah 1. Chromolaena odorata 2. Monochonia vaginalis 3. Cyperius iria 4. Eleusine indica 1. Cyperius iria 2. Eleusine indica Lokasi Sampel Plot 1 Titik 1 Jumlah 1. 5tanaman 2. 6 tanaman 3. 12 tanaman 4. 15 tanaman Fungsi Gulma Tanaman

Nama Lokal 1. Gulma siam 2. Bengok 3. Rumputa n 4. Semak

5. Rumputa n 6. Semak

Plot 1 Titik 2

1. 15Tana man 2. 15 tanaman

Gulma Tanaman

Form Tabulasi Data Kelompok Gulma Teki-Tekian Daun Sempit/Rumput Daun Lebar

Tutupan lahan (Tanaman Pinus) Titik 1 Titik 2 27 30 11 -

Berdasarkan data pengamatan diatas diketahui bahwa pada plot 1 dengan dua titik pengamatan yaitu titik satu dengan sistem agroforestry tanaman pinus, kopi, waru, dan sengon dengan populasi, sebaran, dan jarak tanam yang sangat beragam. Untuk tanaman pinus dengan jarak tanam 4x4m mempunyai populasi sebesar 20 pohon dengan sebaran tidak merata. Sedangkan untuk tanaman kopi dengan jarak tanam 1x1m dengan populasi 15 pohon sebarannya tidak merata. Untuk tanaman waru dengan jarak tanam 10x10m populasinya 8 dengan sebaran tidak merata dan tanaman sengon dengan jarak tanam 10x10m memiliki populasi 5 pohon dengan sebaran tidak merata. Dari data tersebut dapat dikatakan biodiversitasnya baik karena tanaman pada plot 1 ini beragam dengan jumlah populasi cukup banyak. Pada titik pengamatan kedua bisa dikatakan kurang beragam. Tanaman yang ada di titik kedua ini terdiri dari dua tanaman, yaitu pisang dan kopi. Tanaman pisang dengan jarak tanam 4mx4m mempunyai populasi 5 pohon dengan sebaran yang tidak merata, sedangkan tanaman kopi dengan jarak tanam 1mx1m memiliki populasi sebanyak 5 pohon dengan sebaran tidak merata juga. Berdasarkan

pengamatan analisis gulma dapat diketahui pada kedua titik pengamatan gulmanya masuk kategori lebat dengan persentase lebih dari 50%. Gulma yang ditemukan pada kedua plot ini diantaranya ada gulma siam, bengok, rerumputan, dan semak. Untuk pengamatan biodiversitas gulma berdasarkan hasil pengamatan pada titik 1 terdapat beberapa gulma diantaranya gulma siam, bengok, rumput-rumputan, dan semak. Dari data pengamatan tersebut dapat dikatakan bahwa gulma dititik pengamatan 1 cukup beragam. Hal ini dapat dilihat dari jumlah atau populasi gulmanya cukup banyak. Jumlah keseluruhan gulma di titik pengamatan 1 sebanyak 38. Sedangkan untuk titik pengamatan 2, hanya terdapat rumput-rumputan dan semak. Dimana jumlah gulmanya sebanyak 30 tanaman. Dari tabel tabulasi data kelompok gulma, pada tutupan lahan tanaman pinus terdapat dua jenis rumput yaitu rumput berdaun sempit dan rumput berdaun sempit. Dari pengamatan pada titik 1 didapatkan gulma sebanyak 27 rumput berdaun sempit dan 11 rumput berdaun lebar. Sedangkan dari titik pengamatan 2 hanya didapatkan gulma berdaun sempit/ rumput sebanyak 30. PLOT 2 Titik Pengambila n sampel tutupan lahan Plot 1 Titik 1

Semusim/ Tahunan/ Campuran

Informasi Tutupan Lahan & Tanaman dalam Lanskap Luas Jarak Tanam Populasi Sebaran

Campuran

Pinus-Pinus = 10mx10m Pinus-Pisang = 3mm Rumput Gajah = Rapat Pinus-Pinus = 10mx10m Pinus-Pisang = 3mm Rumput Gajah = Rapat

Plot 1 titik 2

Campuran

Pinus = 20 pohon Pohon Pisang= 10 Rumput Gajah = Tak terhitung Pinus = 10 pohon Pohon Pisang= 5 Rumput Gajah = Tak terhitung

a. Pinus = Tidak Merata b. Pohon Pisang = Tidak Merata c. Rumput Gajah = Merata

c. Pinus = Tidak Merata d. Pohon Pisang = Tidak Merata e. Rumput Gajah = Merata

Form Identifikasi dan analisis Gulma Titik Kelebatan Gulma Pengambilan Lebat Agak Lebat Jarang Sampel >50% 25-50% <25% Plot 1 titik 1 Lebat Plot 1 titik 2 Lebat Form Pengamatan Biodiversitas Gulma Nama Lokal Nama Ilmiah Lokasi Jumlah Fungsi Sampel Bebandotan 1. Ageratum Plot 3 21 Tanaman Gulma conyzoides Ls Titik 1 Tanam an 1. Bebandotan 2. Semanggi 1. Ageratum conyzoides Ls 2. Oxalis corniculata L Plot 3 Titik 2 3. 23 Tanaman 4. 15 tanaman Gulma Tanam an

Form Tabulasi Data Kelompok Gulma Teki-Tekian Daun Sempit/Rumput Daun Lebar

Tutupan lahan (Tanaman Pinus) Titik 1 Titik 2 21 38 -

Berdasarkan hasil pengamatan biodiversitas tanaman pangan dan tahunan pada plot pengamatan (plot 2), didapatkan 2 titik sampel dalam 1 plot yaitu plot 1 titik 1 dan plot 1 titik 2. Unutk luas lahan pada ke-2 plot pengamatan tidak diketahui karena pada saat pengamatan tidak mengukur luas lahannya. Pada Plot 1 titik 1 memiliki biodiversitas yang cukup, yaitu terdiri dari pohon pinus 20 pohon, pohon pisang 10 pohong dan rumput gajah yang jumlahnya cukup banyak, dengan sebaran untuk pohon pinus dan pohon pisang yang tidak merata sedangkan untuk rumput gajah memiliki sebaran yang merata. Pada plot 1 titik 2 tingkat biodiversitasnya juga cukup , dimana komoditasnya sama dengan plot 1 titik 1 yaitu pohon pinus sebanyak 10 pohon, untuk pohon pisang sebanyak 5 pohon dan rumput gajah yang jumlahnya juga cukup banyak. Untuk sebaran pada plot 1 titik 2 hampir sama dengan plot 1 yaitu untuk pohon pinus dan pohon pisang tidak merata sedangkan untuk rumput gajah yang merata.

Untuk identifikasi dan analisis gulma dari plot pengamatan plot 3, dengan 2 titik pengamatan, keduanya memiliki tingkat kelebatan gulma yang masuk ke dalam kategori lebat (50%) sehiingga dapat dikatakan bahwa kondisi gulma pada plot pengamatan cukup lebat. Berdasarkan pengamatan biodiversitas gulma ditemukan jenis gulma yaitu gulma bebandotan (Ageratum conyzoides Ls) ditemukan sebanyak 21 tanaman pada plot 2 titik 1 , untuk plot 2 titik 2 ditemukan 2 jenis gulma yaitu bebandotan (Ageratum conyzoides Ls) sebanyak 23 tanaman dan Semanggi (Oxalis corniculata L) sebanyak 15 tanaman. Dari data tersebut dapat diketahui gulma yang ditemukan pada frame pada tiap plot pengamatan baik titik 1 dan titik 2 cukup banyak, hal tersebut banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pengolahan tanah yang kurang baik, kurangnya tingkat sanitasi pada lahan pengamatan, sealin itu kurangnya perawatan pada tanaman budidaya. Berdasarkan tabulasi data untuk kelompok gulma teki-tekian tidak ditemukan baik pada titik1 dan titik 2 begitu pula untuk jenis gulma yang berdaun lebar juga tidak diteukan sama sekali. Seangkan untuk jenis gulma kelompok daun sempit / rumput ditenukan sebanyak 21 tanaman pada titik 1 dan 38 tanaman pada titik 2. Menurut Barus, 2003. Gulma menimbulkan kerugian-kerugian karena mengadakan persaingan dengan tanaman pokok, mengotori kualitas produksi pertanian, menimbulkan allelopathy, mengganggu kelancaran pekerjaan para petani, sebagai perantara atau sumber hama dan penyakit, dengan Adanya persaingan gulma dapat mengurangi kemampuan tanaman untuk berproduksi. Persaingan atau kompetisi antara gulma dan tanaman yang kita usahakan di dalam menyerap unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah, dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam produksi baik kualitas dan kuantitas. Biodiversitas (kenaekaragaman hayati) memang memegang peranan penting dalam suatu ekosistem seperti dalam proses-proses ekologi seperti pengendalian hama, penyerbukan, penentu kesuburan tanah, penyedia sumber daya air serta meningkatkan kendungan nutrien dalam tanah. Suatu kegiatan pertanian dapat berjalan dengan baik sampai dengan proses produksinya, jika didukung oleh faktor ketersediaan biodiversitas di dalamnya. Biodiversitas disediakan oleh alam dan keberadaannya dapat dipengaruhi oleh tindakan-tindakan manusia dalam mengolah lahan pertanian. Biodiversitas secara umum dapat diartikan sebagai keanekaragaman hayati atau sumber daya hayati termasuk di dalamnya adalah flora, fauna maupun mikroorganisme. Dengan adanya komponen tersebut maka akan terbentuk suatu interaksi sesuai dengan prinsip keseimbangan ekologi sehingga servis ekosistem pada lahan pertanian dapat berlangsung seacara maksimal. (Djamaluddin, 2010) Dapat diketahui bahwa kondisi ekologi plot pengamatan (plot 2) dapat dilihat dari faktor biotik dan abiotik. Dalam faktor biotik yaitu tanaman memiliki jumlah tingkat kenakeragaman hayati tanaman yang cukup banyak karena selain tanaman pinus, terdapat pula rumput gajah, dan pohon pisang, sehingga dapat dikatakan

tingkat biodiversitas di lokasi pinus tersebut cukup tinggi, sedangakan untuk faktor abiotiknya kita ketahui bahwa curah hujan dan suhu didaerah tersebut yang cukup tinggi namun dapat diseimbangi oleh tutupan lahan yang cukup rapat, sinar matahari yang dibutuhkan untuk fotosintesis oleh tanaman masih dapat diterima cukup baik oleh tanaman, karena tutupan lahannya yang tidak terlalu rapat hal ini dapat dilihat dari keadaan biofisik tanaman pinus, pohon pisang dll yang tampak hijau tumbuh dengan baik, walaupun terdapat cukup banyak gulma pada lahan pengamatan, tanaman masih tetap dapat tumbuh dengan cukup baik, berarti hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi pada plot pengamatan cukup mendukung daripada pertumbuhan tanaman-tanaman tersebut, sehingga dapat dikatakan padalokasi pengamatan (plot2) cukup memenuhi persyaratan suatu sistem pertanian berlanjut. Menurut Ida ayu, 2013 dengan adanya kondisi faktor abiotik dan biotik yang saling mendukung, memberikan keuntungan bagi masyarakat, serta interaksi antar masyarakat yang sinergi dapat dikatakan pada lokasi tanaman pinus dapat dikatakan sebagai menuju pertanian berlanjut yang telah memenuhi persyaratan terwujudnya suatu pertanian berlanjut. PLOT 3 Form pengamatan biodiversitas tanaman pangan dan tahunan Titik pengambilan sampel tutupan lahan 1 2 3 Semusim/ Tahunan/ Campuran Informasi tutupan lahan dan tanaman dalam lankap Luas Jarak tanam Populasi Sebaran

Semusim ( Kubis) Semusim ( Kubis) Semusim ( Kubis)

1 m2 1 m2 1 m2

25 x 25 cm 25 x 25 cm 25 x 25 cm

7 8 8

Merata Merata Merata

Form identifikasi dan analisis gulma Komoditas Kelebatan Gulma Agak lebat Lebat (>50%) Jarang (<25%) (25%-50%)

Titik pengambilan sampel 1 2 3 1 2 3 1

Kubis

Jagung

Form pengamatan biodiversitas gulma Lokasi Nama lokal Nama Ilmiah sampel

Jumlah

Fungsi Sebagai gulma, pengganggu tanaman budidaya (perebut unsure hara ) Sebagai gulma, pengganggu tanaman budidaya (perebut unsure hara ) Sebagai gulma, pengganggu tanaman budidaya (perebut unsure hara ) Sebagai gulma, pengganggu tanaman budidaya (perebut unsure hara )

Krema Kebo

Alternanthera sessilis

Pos 3

Banyak

Selada darat

Lactuca sativa

Pos 3

Banyak

Krokot

Portulaca oleracea L

Pos 3

Banyak

Bayam

Amaranthus spinosus L

Pos 3

Banyak

Form Tabulasi data Kelompok gulma Tutupan lahan Pos 2 Pos 3

Pos 1

Pos 4

Teki-tekian Daun sempit /rumput Daun lebar

Pengamatan hasil biodiversitas tanaman dapat diketahui bahwa pada titik pengamatan 1, 2, dan 3 tanaman yang ada yaitu tanaman semusim kubis dengan populasi rata-rata 7 dan sebarannya merata. Dengan jarak tanam 25cmx25cm dalam luasan lahan 1m2 dapat dikatakan kurang beragam. Dalam hal ini hanya ada satu jenis tanaman saja yang dibudidayakan. Dari data identifikasi dan analisis gulma dapat diketahui bahwa gulma pada plot 3 untuk tanaman semusim kubis masuk kategori agak lebat yaitu pada titik pengamatan 1 dan 2 dengan persentase 25%-50%. Untuk titik pengamatan ketiga kelebatan gulmanya diatas 50%. Sedangkan untuk tanaman jagung gulmanya masuk kategori lebat dengan persentase 50%. Pada plot ketiga dengan pengamatan terhadap 3 titik pengamatan bisa dikatakan lebat karena persentase kelebatan gulmanya rata-rata diatas 50%. Pengamatan biodiversitas gulma pada plot 3 dengan 3 titik pengamatan diperoleh hasil sebagai berikut. Gulma yang ditemukan diantaranya ada krema kebo, selada darat, krokot, dan bayam. Masing-masing gulma yang ditemukan di plot ini jumlahnya banyak dengan sebaran yang merata. Maka dapat dikatakan bahwa biodiversitas gulma diplot 3 beragam. Hal ini menyebabkan persaingan unsur hara pada lahan ini cukup besar sehingga tanaman utama pada plot 3 yaitu kubis produktivitasnya bisa terganggu. Hal ini tidak baik apabila dibiarkan terus-menerus tanpa adanya pengendalian yang nantinya akan menurunkan hasil atau perolehan panen petani akibat produktivitas menurun. PLOT 4 Titik Semusim/ Informasi Tutupan Lahan & Tanaman dalam Lanskap Pengambila Tahunan/ Luas Jarak Tanam Populasi Sebaran n sampel Campuran tutupan lahan Plot 4 Titik Semusim 1m x Kubis - Kubis Kubis = 5 d. Kubis = Merata 1 1m = 30cm x 40cm Plot 4 titik 2 Semusim 1m x Kubis - Kubis Kubis = 4 f. Kubis = Merata 1m = 30cm x 40cm

Form Identifikasi dan analisis Gulma Titik Kelebatan Gulma Pengambilan Lebat Agak Lebat Sampel >50% 25-50% Plot 4 titik 1 Lebat Plot 4 titik 2 Lebat N O Form Pengamatan Biodiversitas Gulma Gambar Nama Ilmiah Nama Lokal

Jarang <25% -

Jumla h

Fungsi

Axonopus compressus

Jukut Pahit

Gulma Tanam an

Lokas i samp el Plot 4

Agreatum conyzides L

Bebandot an

Gulma Tanam an

Plot 4

Asystasia coromandelia na

Rumput kenop

Gulma Tanam an

Plot 4

Alternanthera brasiliana

Bayam

Gulma Tanam an

Plot 4

Berdasarkan hasil pengamatan , pada plot 4 dapat dikatakan memiliki biodiversias yang kurang, hal tersebut dikarenakan hanya satu jenis komoditas saja yang ada pada plot tersebut yaitu hanya kubis pada kedua titik pengamatan. Apabila biodiversitas nya kurang akan menimbulkan persaingan unsur hara antar

tanaman, selain itu serangan hama penyakit juga semakin tinggi, persaingan cahaya matahari dll. Untuk tabel biodiversitas gulma, gulma cukup banyak karena ditemukan jenis gulma sebanyak 4 jenis yaitu Axonopus compressus (3 tanaman), Agreatum conyzides L (4 tanaman), Asystasia coromandeliana (4 tanaman) dan Alternanthera brasiliana (3 tanaman), utnuk tingkat ketebalan gulma pada sama tebal >50%. Sehingga dapat dikatakan bahwa kondisi biodiversitasnya kurang baik, karena hanya terdapat 1 jenis tanaman yang dibudidayakan, sehingga munculnya berbagai jenis gulma lain., apabila jenis gulma lebih banyak daripada jenis komoditas yang dibudidayakan akan menyebabkan persaingan hara antar gulma dan tanaman yang dibudidayakan, yang nantinya akan menyebabkan kerugian pada tanaman budidaya. 3.1.2.3 biodiversitas Hama dan Penyakit a) Plot 1 Pada plot 1, dapat diketahui bahwa persentase hama sebesar 22,22%, persentase MA sebesar 33,33% dan persentase serangga lain sebesar 44,44%. Dan disajikan dalam segitiga fiktorial di bawah ini :

Serangga Lain

Hama

Musuh Alami

b) Plot 2 Pada plot 2 persentase hama adalah sebesar 35,29%, persentase MA sebesar 35,29% dan persetase serangga lain adalah sebesar 29,41%. Disajikan dalan segitiga fiktorial seperti dibawah ini :

Serangga Lain

Hama

Musuh Alami

c) Plot 3 Pada plot 2, dapat dilihat bahwa persentase hama adalah sebesar 63,15%, persentase MA adalah sebesar 10,52%, dan persentase serangga lain adalah sebesar 26,31%. Dapat dilihat pada segitiga fiktorial dibawah ini : Serangga Lain

Hama

Musuh Alami

d) Plot 4 Pada plot 4, persentase hama adalah sebesar 81,18%, persentase MA adalah sebesar 18,81% sedangkan persentase serangga lain adalah sebesar 0%. Dapat dilihat pada segitiga fiktorial dibawah ini :

Serangga Lain

Hama

Musuh Alami

- Form Pengamatan Biodiversitas Serangga Lokasi Pengambilan Nama Lokal Nama Ilmiah sampel Belalang hijau Oxya chinensis

Jumlah

Fungsi (H, MA, SA)

Hama

Plot 1 Semut hitam Dolichoderus sp 1 Musuh alami

Laba-laba Heteropoda venatoria 5 Musuh alami

Jangkrik Gryllus bimaculatus Belalang coklat Melanoplus differentialis 3 Hama 5 Serangga lain

Kepik hijau Nezara viridula 1 Hama

Bapak pucung Dysdercus cingulatus 2 Serangga lain

Belalang hijau Oxya chinensis 1 Hama

Semut hitam Plot 2 Dolichoderus sp 1 Musuh alami

Laba Laba

Araneus diadematus

Musuh alami

Jangkrik Gryllus assimilis 5 Serangga lain

Belalang Coklat Melanoplus differentialis 3 Hama

Kepik Coklat

Nilaparvata lugens

Hama

Belalang Hijau Oxya chinensis 6 Hama

Belalang Coklat Melanoplus differentialis Plot 3 Kepik Coklat 2 Hama

Nilaparvata lugens

Serangga lain

Kupu Kupu

Lycaena

Serangga

phlaeas

lain

Capung Anax junius 1 Musuh Alami

Jangkrik Gryllus assimilis 2 Serangga lain

Lalat Musca domestica 2 Serangga lain

Laba Laba Araneus diadematus 1 Musuh Alami

Belalang Hijau Atractomorpha cewnulata Tomcat Plot 4 Paederus littorlis 1 Musuh Alami 4 Hama

Laba Laba

Araneus diadematus

Musuh Alami

Walang Sangit Letocorisa acuta thumberg 2 Hama

Kepik Hijau Nezara viridula 1 Hama

Penggerek polong Riptortus linearis

Hama

3.1.2.4 Cadangan karbon No Penggu naan Lahan Tutupan Lahan Campuran: Pinus, pisang, rumput gajah, lamtoro Pisang dan lamtoro Manfaat Posisi Lereng Tingkat Tutupan Kan Seres opi ah Jumla h spesi es Kera pata n Cstok

Plot 1

Hutan produksi

B, D, K

Cuku p tinggi Cuku p tinggi Rend ah

Plot 2 Plot 3

Agrofore stry

B, D, K

Tanama n

Kubis

semusim Tanama n Plot semusim Kubis dan B, D B R R T T Rend 4 dan cabai ah pemukim an Keterangan: Manfaat: B (buah), D (daun), A (akar), Bj (biji), K (kayu); Posisi Lereng: A (atas), T (tengah), B (bawah); Tingkat tutupan Kanopi dan seresah: T (tinggi), S (sedang), R (rendah); Kerapatan: T (tinggi), S (sedang), R (rendah). Berdasarkan hasil pengamatan terhadap cadangan karbon pada setiap plotnya diperoleh hasil seperti pada tabel diatas. Dapat diketahui pada plot 1 terdapat hutan produksi dengan komoditas tanaman pinus, pisang, rumput gajah, dan lamtoro. Dari tanaman-tanaman tersebut manfaat yang diperoleh oleh petani diantaranya adalah produksi kayu, buah, dan daun. Plot 1 dengan posisi lereng dibawah, tingkat tutupan lahannya masuk dalam katergori sedang. Jumlah spesies dan kerapatan tanaman yang terdapat pada plot 1 termasuk sedang. Dari data tersebut dapat diketahui analisa tentang cadangan karbon untuk tanaman di plot 1 termasuk cukup tinggi. Sedangkan plot 2 dengan sistem pola tanam agroforestri dengan tanaman budidaya pisang dan lamtoro, hasil yang diperoleh dari usaha tani yang dilakukan tersebut diantaranya buah, daun, dan kayu. Dilihat dari posisi lereng yang tinggi, tingkat tutupan lahan di plot ini sedang. Jumlah spesies dan kerapatan tanaman diplot ini dikatakan sedang karena jarak tanamnya sangat lebar. Berdasarkan analisa dari data uang diperoleh dapat diketahui bahwa cadangan karbon di plot 2 termasuk cukup tinggi. Dengan jenis tanaman tahunan lamtoro yang mampu mengikat karbon sehingga menjadi nilai tambah untuk plot 2. Pada plot 3 dengan lahan tanaman semusim dengan komidtas kubis dengan hasil yang diperoleh yaitu daun dan dengan posisi lereng bawah dengan tingkat tutupan kanopi dan sereshyang rendah dan jumlah spesies dan kerapatan yang tinggi dapat diketahui bahwa cadangan karbon masuk ke dalam kategori rendah, hal tersebut dipengaruhi oleh jenis komoditasnya yang merupakan tanaman semusim yang tidak mampu menyerap karbon , berbeda dengan tanaman tahunan yang mamapu menyerap karbon lebih banyak, selain itu besar kanopi dan ukuran tanaman juga mempengaruhi laju penyerapan karbon, sepertti kita ketahui bahwa kubis memiliki kanopi yang kecil dan ukuran tanamanya yang kecil. Untuk plot 4 dengan jenis penggunaan lahan tanaman semusim dan pemukiman dengan tutupan lahan yaitu tanaman kubis dan cabai dimana dengan tanaman tersebut akan memperoleh produksi berupa buah dan daun. Untuk plot 4

ini berada pada posisi lereng dibagian bawah dan tingkat tutupan kanopi dan seresah yang sama-sama rendah. Jumlah spesies dan kerapatannya plot ini tinggi memiliki cadangan karbon yang rendah, hal ini disebabkan oleh jenis tanaman yang dibudidayakan, selain karena tanaman budidaya yang kurang mampu menyerap karbon dengan baik serta orientasinya menuju produksi guna menghasilkan keuntungan. Jika dibandingkan dari semua plot dapat diketahui bahwa jenis penggunaan lahan yang memiliki cadangan stok paling tinggi yaitu plot 1 dan plot 2 yang penggunaan lahanya yaitu hutan produksi dan agroforesty, karena pada dua jenis penggunaan lahan menggunakan tanaman tahunan untuk hutan produksi dan kombinasi antara tanaman tahunan dan musiman untuk agroforesty mampu menyimpan lebih banyak cadangan karbon jika dibandingkan dengan jenis penggunaan lahan, selain itu dalam agroforesty memiliki tingkat biodiverstas yang cukup tinggi sehingga juga mendukung dalam tingkat penyerapan karbon. Menurut Hairiah, 2007 , Cadangan karbon penting dalam pertanian berlanjut karena dapat mengurang isu pemanasan global yang berkembang saat ini. Cadangan karbon dapat ditingkatkan dengan menambah jumlah pohon dan ekosistem yang terbentuk serta menjaga keberadaan hutan. Hal tersebut tgerjadi karena keberadaan hutan berfungsi sebagai penyerap karbon diudara dan menyimpannya dalam waktu yang lama. Namun, besarnya karbon tersimpan bervariasi antar penggunaan lahan tergantung pada jenis, kerapatan, dan usia pohon 3.1.3 Indikator Pertanian Berlanjut Dari Aspek Sosial-Ekonomi 3.1.3.1 Economically viable (keberlangsungan secara ekonomi) Pada praktikum di Desa Tulungrejo Kecamatan Ngantang plot 4, petani yang diwawancarai adalah bapak Wibowo. Bapak Wibowo berumur 45 tahun. Adapun luas lahan yang dimiliki bapak Wibowo akan dijelaskan pada tabel dibawah ini. Tabel.... Luas Penguasaan Lahan Petani Jenis Lahan Tanah Milik Sewa Sawah Tegal Pekarangan Jumlah 5000 m2 1000 m2 6000 m2 4000 m2 4000 m2

Sekap (Bagi Hasil) -

Jumlah 4000 m2 5000 m2 1000 m2 10000 m2

Tabel ..... Tanaman yang diusahakan Jenis Luas Tanam Jumlah Produksi Tanaman Kubis 4000 m2 14 ton /musim

Umur Tanaman 3 bulan

Harga Jual (Rp/unit) 700

Kopi Pisang

5000 m2

Untuk pengamatan kali ini, pada lahan bapak Wibowo yang digunakan adalah lahan sewa 4000 m2 yang ditanami tanaman kubis. Sedangkan lahan tegal ditanami tanaman kopi dan pisang namun belum saatnya panen. Sehingga untuk analisis usaha tani hanya dilakukan pada penanaman tanaman kubis. Berikut adalah tabel analisis usaha tani. 1. Analisis Biaya Biaya Tetap (TFC) No Input 1 Sewa lahan 2 Cangkul 3 Sprayer 4 Traktor TOTAL Biaya Variabel ( TVC ) Input Bibit Pupuk 1. Urea 2. ZA 3. Phonska Pestisida Kimia: 1. Endore 2. Primaton Pestisida Organik TenagaKerja 1. DalamKeluarga 2. LuarKeluarga: 3. Laki-Laki 4. Perempuan Biaya Lain-lain 1. Solar JumlahBiaya Nilai Produksi Jenistanaman

Harga/unit (Rp) (P) 1 000.000 50.000 100.000 500.000

Jumlah (Q) 0,5 Ha 2 1 1 Rp 1.200. 000

Total (Rp) (PxQ) 500. 000 100.000 100.000 500.000

Unit 2 bungkus 1,5 kw 2 botol 2 botol 5 5 liter -

Harga/Unit Rp 50.000 Rp 150.000 Rp 250.000 Rp 100.000 Rp 175.000 Rp 125.000 Rp 6000 -

JumlahBiaya Rp 100.000 Rp 150.000 Rp 250.000 Rp 100.000 Rp 350.000 Rp 250.000 Rp 30.000 Rp 1.230.000

Jumlahproduksi

Harga/unit

NilaiProduksi

Kubis

(kg) 14.000 kg

700/kg

(Rp) 9.800.000

2. Analisis Pendapatan Pendapatan usahatani merupakan selisih antara jumlah penerimaan produk dengan seluruh biaya yang digunakan dalam proses budidaya. Pendapatan usahatani dapat dinyatakan dengan perhitungan :

Keterangan : = Pendapatan Usahatani (Rp) TR (total revenue) = Penerimaan Total Usahatani (Rp) TC (total cost) = Biaya Produksi Total (Rp) P (price) = Harga Jual Produk per unit (Rp/kg) Q (quantity) = Jumlah Produksi (kg) Analisis pendapatan usahatani pada komoditas kubis. Total Pendapatan ( TR ) = 14.000 kg x Rp.700 = Rp 9.800.000 Total Biaya (TC) = TFC + TVC = Rp 1.200.000 + Rp1.230.000 = Rp 2.430.000 = TR-TC = Rp 9.800.000 - Rp 2.430.000 = Rp 7.370.000 Dengan luas lahan 4000 m2 produksi Kubis sebesar 14 ton dan bapak Wibowo menerima uang sebesar Rp 7.370.000. Penjualan kubis dengan menjual ke tengkulak dihargai Rp 700,00 per kilogram. 3. Analisis Kelayakan Usahatani Analisis kelayakan usaha tani ini dilakukan untuk mengetahui apakah usaha tani yang dilakukan oleh bapak jungamat layak untuk diusahakan. Untuk menganalisis kelayakan usaha tani yang perlu dihitung adalah R/C Rasio dan BEP (break event point). Berikut adalah perhitungan R/C Rasio dan BEP Usaha tani yang dilakukan oleh bapak Wibowo: R/C Rasio

= 14.000 x 700 2.430.000 = 4,033

Keterangan: P = Harga jual barang Q = Jumlah barang Dari hasil perhitungan tersebut dapat dilihat bahwa R/C Rasio dari usahatani yang dilakukan oleh Bapak Widodo termasuk layak untuk dikembangkan karena jika hasil perhitungan R/C Rasio lebih dari 1 maka usaha tersebut dapat dikatakan layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan. 4. Break Event Point ( BEP ) BEP Produksi BEP Produksi (unit) = 1.200.000 700 - 1.230.000 14.000 = 1.960,33 kg Jadi, produksi tanaman kubis bapak Wibowo minimal yang harus dihasilkan agar tidak mengalami kerugian dalam berusaha tani adalah 1.960,33 kg. BEP Penerimaan (Rp) BEP Penerimaan (Rp) = = =

1.200.000 1 - 1.230.000 9.800.000 = Rp 1.372.228,705 BEP Penerimaan ini merupakan titik impas penerimaan, hasil perhitungan didapatkan bahwa titik impas penerimaan usaha yang dilakukan oleh Bapak Jungamat yaitu RP 1.372.228,705, namun fakta hasil yang diterima oleh Bapak Wibowo yaitu Rp 9.800.000,00, dengan ini dapat dikatakan bahwa usahatani yang dijalankan oleh bapak Wibowo layak. BEP Harga (Rupiah) BEP Harga (Rupiah) = = 2.430.000 14.000 =Rp 173,57 BEP harga ini menggambarkan harga produk persatuan unit dimana didapatkan hasil bahwa harga produk persatuan unitnya adalah Rp

173,57 pada harga ini usaha Bapak Widodo mengalami titik impas usaha. 3.1.3.2 Ecologically sound (ramah lingkungan) Dapat dilihat dari segi kualitas dari lahan pertanian di Ngantang termasuk baik karena pada dasarnya di Ngantang telah menerapkan sistem Agroforestry membantu mengurangi resiko terjadinya erosi yang dapat menurunkan kualitas maupun kuantitas dari hasil produksi komoditas yang ditanam. Sisterm pertanian yang ditandai dengan penanaman berbagai tanaman seperti yang dilakukan oleh bapak Wibowo yaitu menanam Kopi dengan tanaman pisang di sebelah lahan yang ditanami kubis merupakan sistem pertanian yang baik. Dan sistem tersebut perlu dipertahankan yang bertujuan menjaga kondisi ekosistem di Ngantang tetap stabil serta menjaga biodiversitas dilahan tersebut seperti tanaman, hewan serta organisme didalam tanah tetap saling ada timbal balik satu sama lain. Dilihat dari kemampuan agroekosistem dilahan Ngantang sangat baik karena dilahan tersebut menggunakan sistem Agroforestry yang saling terikat serta adanya timbal balik antara tanaman, hewan, organisme didalam tanah serta manusia yang dikelola oleh manusia dibentuk sistem tersebut bertujuan mengurangi resiko terjadinya dampak negatif dilahan tersebut seperti contohnya limpasan permukaan air yang berlebihan dapat mengakibatkan resiko erosi atau banjir pada lahan tersebut. Oleh karena itu secara aktual petani setempat telah membentuk sistem Agroforestry yang dimana tanaman tahunan menopang tanaman semusim dengan contoh: pohon pinus atau pohon kopi maupun pisang sebagai kanopi untuk menghambat laju turunnya hujan yang deras agar tidak air yang jatuh langsung ke tanah dan memecah partikel tanah. a. Sistem pertanian berorientasi pada ramah lingkungan & keragaman hayati (biodiversitas) Dari keadaan aktual dilahan pertanaman monokultur kubis masih menggunakan pestisida dalam memberantas atau mengendalikan gangguan hama maupun penyakit, namun tetap dengan dosis dan waktu yang tepat. Seharusnya dilahan tersebut menggunakan sistem tumpangsari yang bertujuan mengurangi resiko peledakan hama serta penanaman gulma yang berakar pendek tetapi berbunga yang bertujuan sebagai inang alternative musuh alami serta sebagai makanan alternatifnya. Dengan menggunakan sistem tersebut akan mengurangi resiko penggunaan zat kimia yang berlebihan serta lebih ramah terhadap lingkungan dan keragaman hayati tetap terjaga. b. Pelestarian sumberdaya alam yang dilakukan oleh masyarakat Pada lahan di Ngantang Pelestarian sumberdaya alam atau pemanfaatan lingkungan sekitar dengan cara memanfaatkan, menjaga, merawat biodiversitas

di daerah tersebut seperti menjaga keadaan pohon tahunan secara alami dan tidak menebang pohon tahunan secara liar karena dapat menyebabkan tidak stabilnya biodiversitas di daerah tersebut atau terganggunya keragaman hayati. Para petani setempat juga menggunakan sistem tumpangsari yang bertujuan mengurangi resiko serangan hama serta menggunakan sistem agroforestry yang bertujuan mengurangi resiko dampak erosi yang besar. Dapat disimpulkan bahwa lahan pertanian di Desa Tulungrejo Kecamatan Ngantang masih baik dan didukung oleh keanekaragaman atau biodiversitas baik flora maupun fauna. Oleh karena itu, lahan pertanian di Ngantang masih tergolong berlanjut., 3.1.3.3 Ecologically sound (ramah lingkungan) Dapat dilihat dari segi kualitas dari lahan pertanian di Ngantang termasuk baik karena pada dasarnya di Ngantang telah menerapkan sistem Agroforestry membantu mengurangi resiko terjadinya erosi yang dapat menurunkan kualitas maupun kuantitas dari hasil produksi komoditas yang ditanam. Sisterm pertanian yang ditandai dengan penanaman berbagai tanaman seperti yang dilakukan oleh bapak Wibowo yaitu menanam Kopi dengan tanaman pisang di sebelah lahan yang ditanami kubis merupakan sistem pertanian yang baik. Dan sistem tersebut perlu dipertahankan yang bertujuan menjaga kondisi ekosistem di Ngantang tetap stabil serta menjaga biodiversitas dilahan tersebut seperti tanaman, hewan serta organisme didalam tanah tetap saling ada timbal balik satu sama lain. Dilihat dari kemampuan agroekosistem dilahan Ngantang sangat baik karena dilahan tersebut menggunakan sistem Agroforestry yang saling terikat serta adanya timbal balik antara tanaman, hewan, organisme didalam tanah serta manusia yang dikelola oleh manusia dibentuk sistem tersebut bertujuan mengurangi resiko terjadinya dampak negatif dilahan tersebut seperti contohnya limpasan permukaan air yang berlebihan dapat mengakibatkan resiko erosi atau banjir pada lahan tersebut. Oleh karena itu secara aktual petani setempat telah membentuk sistem Agroforestry yang dimana tanaman tahunan menopang tanaman semusim dengan contoh: pohon pinus atau pohon kopi maupun pisang sebagai kanopi untuk menghambat laju turunnya hujan yang deras agar tidak air yang jatuh langsung ke tanah dan memecah partikel tanah. a. Sistem pertanian berorientasi pada ramah lingkungan & keragaman hayati (biodiversitas) Dari keadaan aktual dilahan pertanaman monokultur kubis masih menggunakan pestisida dalam memberantas atau mengendalikan gangguan hama maupun penyakit, namun tetap dengan dosis dan waktu yang tepat. Seharusnya dilahan tersebut menggunakan sistem tumpangsari yang bertujuan

mengurangi resiko peledakan hama serta penanaman gulma yang berakar pendek tetapi berbunga yang bertujuan sebagai inang alternative musuh alami serta sebagai makanan alternatifnya. Dengan menggunakan sistem tersebut akan mengurangi resiko penggunaan zat kimia yang berlebihan serta lebih ramah terhadap lingkungan dan keragaman hayati tetap terjaga. c. Pelestarian sumberdaya alam yang dilakukan oleh masyarakat Pada lahan di Ngantang Pelestarian sumberdaya alam atau pemanfaatan lingkungan sekitar dengan cara memanfaatkan, menjaga, merawat biodiversitas di daerah tersebut seperti menjaga keadaan pohon tahunan secara alami dan tidak menebang pohon tahunan secara liar karena dapat menyebabkan tidak stabilnya biodiversitas di daerah tersebut atau terganggunya keragaman hayati. Para petani setempat juga menggunakan sistem tumpangsari yang bertujuan mengurangi resiko serangan hama serta menggunakan sistem agroforestry yang bertujuan mengurangi resiko dampak erosi yang besar. Dapat disimpulkan bahwa lahan pertanian di Desa Tulungrejo Kecamatan Ngantang masih baik dan didukung oleh keanekaragaman atau biodiversitas baik flora maupun fauna. Oleh karena itu, lahan pertanian di Ngantang masih tergolong berlanjut.

3.1.3.3.

Socially just (berkeadilan menganut azas keadilan)

Kebutuhan dasar sebagai pengelola pertanian (hak-hak) Penggunaan fungsi lahan pertanian Penggunaan lahan pertanian sejak jaman dahulu bahkan sebelum desa Tulung Rejo terbentuk. Selain lahan pertanian semusim juga digunakan untuk perkebunan taitu kebun kopi, pinus dan tanaman agroforestry lainnya. Untuk tanaman semusim yang ditanam di lahan sawah adalah kubis sebagai tanaman utama dan tanaman berdernya yaitu tomat. Sedangkan tanaman tahunan yang ditanam di kebun yaitu kopi sebagai tanaman utama dan tanaman bordernya adalah alpukat, durian, dan pisang. Keanekaragaman, kepemilikan & melestarikan keanekaragaman hayati Keanekaragaman hayati pada lahan yang dikelola masyarakat umumnya sudah termasuk beragam. Dalam satu lahan tidak hanya satu atau dua tanaman yang dibudidayakan, melainkan bisa tiga sampai empat tanaman. Kepemilikan lahan yang digarap oleh petani tidak seratus persen milik petani sendiri. Untuk lahan sawah yang dikelola petani merupakan lahan yang disewa. Untuk ladang dan pekarangan seluruhnya milik petani sendiri. Keanekaragaman hayati didaerah tersebut bisa dikatakan sudah beragam. Untuk menjaganya petani tidak hanya menggunakan satu jenis tanaman saja, tetapi petani menggunakan system tanam tumpangsari. Pemuliaan & pengembangan Sampai saat ini masih belum diterapkan dan diinformasikan kepada

masyarakat tentang pemuliaan tanaman. Untuk pengembangan komoditas tanaman masyarakat hanya mengikuti perkembangan dipasaran. Apabila ada produk baru dan sudah terbukti keunggulanya maka petani mau menggunakan produk baru tersebut, dengan syarat sudah dibuktikan oleh petani-petani yang lain. Saling menukar & menjual benih di masyarakat Untuk benih yang akan dibudidayakan biasanya petani membelinya pada tengkulak. Untuk tanaman kubis petani membelinya seharga Rp. 75.000,00/1000 bibit. Di daerah ini tidak ada system tukar menukar benih antar masyarakat sesame petani. Memperoleh informasi pasar (harga & kuantitas Demand Supply) Informasi yang diperoleh warga mengenai harga pasar biasanya diperoleh ketika petani menjual hasil panennya. Di pasar biasanya petani saling tukar informasi dengan sesama petani ataupun dengan pedagang mengenai infoinfo seputar produk pertanian mereka. Memiliki karakter yang humanistik (manusiawi), artinya semua bentuk kehidupan baik tanaman, hewan dan manusia dihargai secara proporsional Masyarakat di daerah Tulung Rejo mayoritas mempunyai karakter yang humanistik. Dapat dilihat dari cara bercocok tanam petani yang begitu memperhatikan kondisi lingkungan. Hal ini dilakukan agar interaksi antara komponen dalam lingkungan tersebut termasuk didalamnya manusia, hewan, serta tanaman tidak tercemari dengan adanya bahan- bahan kimia secara barlebihan. Selain interaksi antar komponen, hubungan antara manusia juga terbangun secara baik. Terbukti dari partisipasi masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan di lingkungan baik lingkungan tempat tinggal dan lingkungan pertanian dengan cara bergotong-royong. Martabat dasar semua mahluk hidup dihormati Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa hubungan antara komponenkomponen di dalam agroekosistem tersebut benar dijaga agar semua komponen bisa berjalan secara seimbang.

3.1.3.4. Culturally Acceptable (Berakar Pada Budaya Setempat) Selaras atau sesuai dengan sistem budaya yang berlaku Bahwa suatu system yang berjalan di daerah ini bisa dikatakan selaras atau seimbang. Hal ini dapat diketahui pada saat musim tanam dan musim panen tiba petani masih mengadakan slamatan yang berupa tumpeng dan jenang merah dibawa ke lahan pertanian. Hal ini sudah menjadi budaya dan tradisi di daerah tersebut agar hasil panen berlimpah dan sebagai wujud syukur terhadap Tuhan YME. Hubungan serta institusi yang ada mampu menggabungkan nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti kepercayaan, kejujuran, harga diri, kerja sama dan rasa kasih sayang.

Erat hubungan diantara beberapa komponen tersebut diatas. Kepercayaan, kejujuran, harga diri, kerja sama dan rasa kasih sayang rasanya masih terjaga dilingkungan tempat kami pengamatan. Gotong royong dalam pembuatan akses jalan untuk menuju ke ladang atau kebun menunjukkan kerja sama yang tinggi dan saling ketergantungan antara masyarakat dan komponen agroekosistem di dalamnya. Fleksibel atau luwes, yang berarti bahwa masyarakat pedesaan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usahatani yang berlangsung terus. Untuk penerimaan perubahan kondisi dalam melakukan usaha tani, masyarakat sepertinya belum bisa menyesuaikan diri. Sebab kepercayaan yang melekat tentang prinsip bagaimana cara-cara berusaha tani sudah diterapkan secara turun temurun. 3.2 Pembahasan Umum 3.2.1 Keberlanjutan system pertanian di lokasi pengamatan. Indikator Plot 1 Plot 2 Plot 3 keberhasilan Produksi vvvv vv vvv Air v vvv vvv Carbon vvv vvv v Hama vv vvv v Gulma vv vv vvv

Plot 4 vvvv v v vvv vvvv

Berdasarkan pengamatan pada plot 1 dapat diketahui bahwa keberlanjutan produksi untuk tanaman budidaya di plot tersebut sudah sangat baik. Dengan sistem agroforestri maka petani tidak hanya menerima hasil produksi dari satu komoditas saja, melainkan ada beberapa tanaman yang memberikan hasil produksi yang baik. Tanaman yang dibudidayakan diantaranya pisang, pinus, serta rumput gajah yang dapat dipanen sepanjang tahun. Untuk keberlanjutan air pada plot 1 termasuk kurang, sebab berdasarkan uji laboratorium menunjukkan pH air di plot 1 sebesar 3,54-5,83, sedangkan untuk kadar DO 0,005. Sedangkan untuk keberlanjutan cadangan karbon di plot 1 termasuk kategori baik Tanaman yang dibudidayakan disini yaitu merupakan tanaman tahunan karena masih terdapat hutan pada plot pengamatan. Untuk pengamatan keberlanjutan hama dan gulma termasuk katergori sedang. Pada plot 1 dengan komoditas utama tanaman tahunan yaitu pinus hama yang menyerang tidak terlalu banyak, sedangkan gulma yang tumbuh tidak mengganggu tanaman utama tetapi membantu menutup lahan yang tidak ternaungi oleh kanopi tanaman pinus. Dari penjabaran data diatas dapat diketahuai bahwa pada plot 1 dapat dikatakan berlanjut, hal tersebut dikarenakan pada setiap faktornya masuk kategori sedang baik sedangkan hanya satu faktor saja yang kurang.

Dilihat dari beberapa indikator pada plot 2 berdasarkan tabel pengamatan keberlanjutan sistem pertanian, diketahui bahwa hasil produksi pada plot 2 dapat dikategorikan dalam tingkatan sedang. Hal itu dikarenakan pada plot 2 merupakan sistem pertanian agroforestry yang terdiri dari tanaman tahunan dan tanaman semusim, dimana masa panennya berbeda dan lahannya tidak hanya terfokuskan pada satu tanaman saja sehingga hasil produksinya tidak maksimal. Untuk kualitas air pada plot 2 dikategorikan dalam tingkatan baik, karena dapat dilihat bahwa keadaan air disana masih sangat jernih dan ketersediaan untuk musim kemarau masih mencukupi. Kandungan karbon pada plot 2 dikategorikan baik, karena termasuk dalam sistem agroforestry dimana tanaman tahunan memiliki cadangan karbon yang lebih banyak dan lebih lama daripada tanaman semusim. Sedangkan untuk jumlah hamanya tidak terlalu banyak, karena komoditas yang ditanam tidak sama sehingga hama yang menyerang tidak begitu banyak. Dan pada indikator keberlanjutan sistem pertanian, dilihat dari banyaknya gulma masuk dalam kategori sedang. Sehingga dapat dilihat dari indikator diatas dapat dikatakan BERLANJUT. Dari tabel Plot 3 pengamatan diatas didapatkan hasil produksi pada plot tiga masuk dalam kategori baik dikarenakan pada lahan tersebut tingkat produksinya tinggi karena dalam setahun dapat memanen hasil tanaman semusim sebanyak 2 kali. Dengan ini tingkat pengolahan lahan juga semakin tinggi serta banyaknya aktivitas manusia pada lahan tersebut. Sedangkan pada kualitas air yang ada di plot tersebut dapat dikategorikan baik karena air secar visual masih terlihat jernih dan ketersediaan masih cukup bila dilihat pada musim kemarau (akhir kemarau). Untuk kandungan karbonnya dapat dikatakan cukup bila dinilai dari segi jenis tanaman yang merupaka semusim, karena tanaman semusim hanya berumur pendek sehingga cadangan carbon juga sedikit karena tidakbisa menyimpan lama dan apabila di panen menjadi berkurang. Sedangkan untuk jumlah hama yang ditemukan sangat banyak bila dibandingkan kelompok dalam pengamatannya sehingga bila dikaitkan dengan point pertanian berlanjut maka dapat dikategorikan ke dalam kurang memadai, hal ini disebabkan sedikitnya jumlah musuh alami yang ada di lahan pengamatan. Dan yang terkahir adalah aspek budidaya yang menyangkut banyaknya gulma yang ada di lokasi pengamatan, dapat dikatakan baik dalam keberlanjutan pertanian dikarenakan petani sering melakukan pembersihan/ sanitasi pada lahan. Diketahui semakin sedikit gulma yang ada maka semakin baik dalam menunjang produksi yang ada di lahan tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada plot 3 dari segi lingkungan dapat dikatakan masuk kategori BERLANJUT. Dari hasil pengamatan pada plot 4 diketahui produksi tanaman kubis yang dihasilkan bisa dikatakan sangat baik, baik itu produksi hasil panen maupun pendapatan. Untuk indikator keberhasilan air masuk kategori kurang, hal ini dapat diketahui berdasarkan uji laboratorium tentang pengukuran kualitas air. Sedangkan untuk ketersediaan karbon pada plot empat dapat berdasarkan analisa tutupan lahan dapat diketahui bahwa karbonnya kurang, sebab tanaman yang dibudidayakan disini merupakan tanaman semusim yang kanopi dan jenis tanamannya kurang

memberikan cadangan karbon yang baik. Berbeda dengan tanaman tahunan yang memiliki tutupan lahan, ukuran pohon, dan umur yang lama sehingga mampu menyimpan dan menyerap cadangan karbonnya lebih tinggi. Untuk analisis hama dan gulma pada plot empat keberlanjutannya baik dan sangat baik. Pada tanaman yang dibudidayakan di plot empat ini sangat dijaga karena produksinya sangat penting bagi petani. Untuk tanaman semusim yang dibudidayakan disini apabila tumbuh gulma dan serangan hama maka petani akan segera melakukan upaya pengendalian terhadap hama dan gulma tersebut. Dari penjabaran data diatas, pada plot 4 dapat dikatakan bahwa sistem pertaniannya belum berlanjut, karena hanya ada beberapa faktor pendukungnya yang masih dalam kategori kurang Sehingga apabila dibandingkan antar plot yang ada di landscape tersebut dapat disimpulkan bahwa system pertanian yang ada di Desa Tulungrejo (1), kecamatan Ngantang dapat dikategorikan kedalam Pertanian yang Berkelanjutan. Hal ini didasarkan atas evaluasi evaluasi khusus per plot yang menyatakan bahwa mayoritas mendukung dalam pertanian berkelanjutan, walaupun pada plot 4 tidak mendukung karena bebeberapa aspek tidak mendukung seperti kualitas air yang tidak memadai untuk di konsumsi, namun apabila dilihat dari segi social dan ekonomi sudah sangat mendukung dalam pertanian berlanjut hal tersebut diketahui dari keakraban warga khususnya petani di sekitar lokasi pengamatan yang masih menjunjung tinggi hubungan sosial antar warganya. Kemudian dari segi ekonomi kesejahteraan sudah petani dapat mereka dapatkan walaupun masih sederhana kehidupannya, hal ini juga didukung adanya hasil produksi yang tinggi pada plot 4. Menurut Abdurachman (2012) bahwa dalam sistem pertanan berlanjut ini lebih mengutamakan keberlanjutan dalam hal ekonomi, ekologi (lingkungan), maupun sosial. Jadi, dikatakan berlanjut apabila sistem pertanian membawa dampak yang mendukung kesehteraan sosial, ekonomi, dan lingkungan pada suatu daerah. Dalam pertanian berlanjut mencakup beberapa hal, salah satunya yaitu bisa berlanjut secara ekonomis, yang berarti bahwa petani bisa cukup menghasilkan untuk pemenuhan kebutuhan dan/atau pendapatan sendiri, serta mendapatkan hasil yang mencukupi untuk mengembalikan tenaga dan biaya yang dikeluarkan. Keberlanjutan ekonomis ini bisa diukur bukan hanya dalam hal produk usaha tani yang langsung, namun juga dalam hal fungsi seperti melestarikan sumberdaya alam dan meminimalkan risiko. Kegagalan dalam sistem pertanian berkelanjutan dapat menimbulkan ancaman-ancaman pada kualitas tanah, air, udara, serta diversitas flora dan fauna yang terlibat di dalamnya. Sehingga dapat menghasilkan komoditas yang tidak sesuai dengan keinginan para konsumen, dan konsumenpun dapat merasa kecewa atas hasil pertanian yang dipanen. Abdurachman, 2000 juga mengatakan bahwa Konsep pertanian berkelanjutan berorientasi pada tiga dimensi keberlanjutan, yaitu: a. Keberlanjutan usaha ekonomi(profit) b. Keberlanjutan kehidupan sosial manusia (people) dan

c. Keberlanjutan ekologi alam (planet). Dimensi ekonomi berkaitan dengan konsep maksimisasi aliran pendapatan yang dapat diperoleh dengan setidaknya mempertahankan asset produktif yang menjadi basis dalam memperoleh pendapatan tersebut. Indicator utama dimensi ekonomi ini ialah tingat efisiensi dan daya saing, besaran dan pertumbuhan nilai tambah dan stabilitas ekonomi. Dimensi ekonomi menekankan aspek pemenuhan nebutuhan ekonomi manusia baik untuk generasi sekarang ataupun mendatang. Dimensi sosial adalah orientasi kerakyatan, berkaitan dengan kebutuhan akan kesejahteraan sosial yang dicerminkan oleh kehidupan sosial yang harmonis (termasuk tercegahnya konflik sosial), preservasi keragaman budaya dan modal sosio-kebudayaan, termasuk perlindungan terhadap suku minoritas. Untuk itu, pengentasan kemiskinan, pemerataan kesempatan berusaha dan pendapatan, partisipasi sosial politik dan stabilitas sosial budaya merupakan indikator-indikator penting yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pembangunan. Dimensi lingkungan alam menekankan kebutuhan akan stabilitas ekosistem alam yang mencakup sistem kehidupan biologis dan materi alam. Termasuk dalam hal ini ialah terpeliharanya keragaman hayati dan daya tekstur bilogis, sumber daya tanah, air dan agroklimat, serta kesehatan dan kenyamanan lingkungan. Penekanan dilakukan pada preservasi daya lentur dan dinamika ekosistem untuk beradaptasi terhadap perubahan bukan pada konservasi sustu kondisi ideal statis yang mustahil dapat diwujudkan. Ketiga dimensi tersebut saling mempengaruhi sehingga ketiganya harus dipertimbangkan secara berimbang. Sistem sosial yang stabil dan sehat serta sumberdaya alam dan lingkungan merupakan basis untuk kegiatan ekonomi, sementara kesejahteraan ekonomi merupakan prasyarat untuk terpeliharanya stabilitas sosial budaya maupun kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup. Sistem sosial yang tidak stabil atau sakit akan cenderung menimbulkan tindakan yang merusak kelestarian sumber daya alam dan merusak kesehatan lingkungan, sementara ancaman kelestarian sumber daya alam dan lingkungan dapat mendorong terjadinya kekacauan dan penyakit sosial. Menurut Adyana, 2001.ada beberapa ciri-ciri pertanian berkelanjutan yaitu antara lain : a. Secara ekonomi menguntungkan dan dapat dipertanggung jawabkan (economically viable). Petani mampu menghasilkan keuntungan dalam tingkat produksi yang cukup dan stabil, pada tingkat resiko yang bisa ditolerir/diterima. b. Berwawasan ekologis (ecologically sound). Kualitas agroekosistem dipelihara atau ditingkatkan, dengan menjaga keseimbangan ekologi serta konservasi keanekaragaman hayati. Sistem pertanian yang berwawasan ekologi adalah sistem yang sehat dan mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap tekanan dan gangguan (stress dan shock).

c.

d.

e.

Berkeadilan sosial. Sistem pertanian yang menjamin terjadinya keadilan dalam akses dan kontrol terhadap lahan, modal, informasi, dan pasar, bagi yang terlibat tanpa membedakan status sosialekonomi, gender, agama atau kelompok etnis. Manusiawi dan menghargai budaya lokal. Menghormati eksistensi dan memperlakukan dengan bijak semua jenis mahluk yang ada. Dalam pengembangan pertanian tidak melepaskan diri dari konteks budaya lokal dan menghargai tatanan nilai, spirit dan pengetahuan lokal Mampu berdaptasi (adaptable). Mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi yang selalu berubah, seperti pertumbuhan populasi, tantangan kebijaksanaan yang baru dan perubahan konstalasi pasar.

Sedangkan menurut Adyana, 2001 untuk indikator pertanian berkelanjutan antara lain 1. Menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dengan kuantitas memadai 2. Membudidayakan tanaman secara alami 3. Mendorong dan meningkatkan siklus hidup biologis dalam ekosistem pertanian 4. Memelihara dan meningkatkan kesuburan tanah jangka panjang, 5. Menghindarkan seluruh bentuk cemaran yang diakibatkan penerapan teknik pertanian, 6. Memelihara keragaman genetik sistem pertanian

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan Dari hasil pembahasan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Dalam lokasi pengamatan tingkat landscape, yaitu terdiri dari hutan pinus, lahan agroforestry (pinus, pisang, rumput gajah), lahan tanaman semusim dan pemukiman penduduk. 2. Kerbelanjutan suatu system pertanian dapat dilihat dari segi tingkat produksi pada suatu lahan yang didukungnya, kualitas air dan ketersediaan air dalam suatu landscape, kandungan karbon yang tersedia disuatu ekosistem, jumlah biodiversitas yang seimbang serta jumlah gulma yang memenuhi standar penutupan lahan serta kaitannya dengan ketersediaan karbon. 3. Bila dibandingkan dengan antar plot, kendala yang masih tersedia dalam menunjang pertanian berlanjut dalam landscape adalah jumlah hama yang banyak, adanya kualitas air yang buruk, serta cadangan carbon pada tingkat bawah landscape yang sedikit. 4. Sehingga dapat dikatakan pada landscape yang kita amati sudah mendukung system Pertanian Berlanjut walaupun tidak semua aspek antar plot dalam kategori baik melainkan rata rata sedang. 4.2 Saran Untuk saran dilokasi pengamatan lahan yang kosong lebih baik dioptimalkan dengan tanaman budidaya serta penggunaan bahan kimia diminimalisir sehingga keseimbangan lingkungan dapat terjaga dalam jangka waktu yang lebih lama. Sedangkan untuk praktikum, agar memberikan format laporan dengan jangka waktu yang lebih jauh dari deadline (untuk semua jurusan).

DAFTAR PUSTAKA

Ana. 2010. Pengukuran Kualitas Air. http://ana-teamo.blogspot.com/2011/08/ekoperpengukuran-kualitas-air.html Aditya. 2011. Anasir dan Analisis Bentang Wilayah. http://id.shvoong.com/societyand-news/environment/2173197-anasir-dan-analisis-bentang-lahan/ Anwar, Hadi. 2007. Prinsip Pengelolan Pengambilan Sample Lingkungan. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Barus, T. A, 2003. Pengantar Limnologi. Jurusan Biologi FMIPA USU. Medan Dahuri,R dan A. Damar. 1994. Metoda dan Teknik Analisis Kualitas Air, Kursus AMDAL Tipe B, kerjasama PSL UNDANA dan BAPEDAL, Kupang. 7 November 17 Desember 2004. Djamaluddin. 2010. Faktor biotik dan abiotik dalam ekosistem. http://t djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!286.entry(online ). Diakses tanggal 27 Desember 2013 Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta Gunawan, Suratno. 2004. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta Hefni ,Effendi. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius, Yogyakarta iCLEAN, 2007. pH.http://www.mysaltz.net. Diakses tanggal 26 Mei 2009. Harvey. 2007. Farming with Nature. http :// pertanian berlanjut. lecture. ub. ac. id/ files/ 2011/ 03/Bab04_Karakteristik-Lansekap.pdf Institut Pertanian Bogor, 1992. Limnologi Metoda Analisa Kualitas Air. Edisi I. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor. Bogor. 120 hal. Irianto, A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta Kyrklund, B. 1990. The Potential of Forest Industry in Reducing Excess Atmospheric Carbon Dioxide. Unasylva 163. Vol 41. FAO Kasry, A., 2002. Diktat Pengantar Perikanan Dan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 136 hal. Raflis. 2010. Rencana Tata Ruang Riau. http://rencanatataruangriau.blogspot.com/ Sihotang,C. dan Efawani. 2006. Penuntun Praktikum Limnologi. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan UNRI : Pekanbaru. 26 hal. Soemitrat, Slamet. ,2002. Kesehatan lingkungan.Gadjah Mada University,Yogyakarta Subarijanti, H. U. 2005. Pemupukan dan Kesuburan Perairan. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang Syukur, A., 2002. Kualitas Air dan Struktur Komunitas Phytoplankton di Waduk Uwai. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 51 hal. (tidak diterbitkan)