Anda di halaman 1dari 17

PENGERTIAN DAN PEMBINAAN EJAAN BAHASA INDONESIA Edison Parulian Manik, Imelda Sinaga, dan M Dermawan Susanto Jurusan

Kimia, Universitas Negeri Medan ABSTRAK Bahasa Indonesia sudah mengalami tiga kali perubahan sistem ejaan. Perubahan system ejaan itu diawali dari tahun 1901 yaitu Ejaan Van Ophuysen, kemudian Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi pada tahun 1947 hingga menghasilkan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan pada tahun 1972. Ejaan Bahasa Indpnesia Yang Disempurnakan menjadi ejaan yang benar dan masih digunakan hingga saat ini. Pembahasa Ejaan Bahasa Indonesia dilakukan untuk mengetahui bagaimana EYD itu. Ejaan adalah kaidah-kaidah cara untuk menggambarkan kata-kata dalam bentuk tulisan (huruf) serta penggunaan tanda-tanda baca. Pemakaian dan penulisan huruf diatur dalam Ejaan Bahasa Indonesia yaitu EYD seperti abjad (vocal dan konsonan), diftong, persukuan dan nama diri, juga huruf capital dan huruf miring. Selain huruf diatur juga pemakaian kata, penggabungan, pengulangan, singkatan, dan akronim. Selain itu kata serapan dalam EYD diatur dalam dua unsur. Unsure asing yang belum sepenuhnya terserap kedalam Bahasa Indoneisa dan unsure yang penulisan dan pemngucapannya sudah disesuaikan sengan Bahasa Indonesia. Kata kunci: Ejaan, Bahasa Indonesia, EYD 1. PENDAHULUAN Bahasa Indonesia sudah lahir sejak dulu dan sudah dipergunakan oleh masyrakat Indonesia sebelum kemerdekaan. Bahkan jauh sebelum itu. Tetapi Bahasa Indonesia secara resmi digunakan atau disahkan yaitu pada tahun 1928. Tepat pada 28 Oktober 1928, ketika sumpah pemuda diikrarkan, Bahasa Indonesia menjadi resmi sebagai Bahasa Nasional Indonesia. Sebelum menjadi bahasa yang baik dan memilki ejaan yang baik dan benar, bahasa Indonesia mengalami beberapa kali perubahan system ejaan. Dimulai dari Ejaan Van Ophuysen pada 1901 menjadi Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi pada tahun 1947 hingga menghasilkan Ejaan Bahasa Indonesia

yang Disempurnakan pada tahun 1972 yang mana dipergunakan hingga saat ini oleh seluruh masyrakat Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan, ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat) di dalam bentuk tulisan (hurufhuruf) serta penggunaan tanda-tanda baca. Oleh karena itu ejaan perlu dipahami dan dibahas untuk menegetahui bagaimana sebenarnya ejaan yang disempurnakan itu, untuk diketahui dan diaplikasikan kedalam penulisan berbagai karya tulis. 2. EJAAN BAHASA INDONESIA 2.1. Pengertian Ejaan Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang distandardisasikan. Lazimnya, ejaan mempunyai tiga aspek, yakni aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad. Aspek morfologi yang menyangkut penggambaran satuan-satuan morfemis dan aspek sintaksis yang menyangkut penanda ujaran tanda baca (Haryatmo Sri, 2009). Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dinyatakan, ejaan adalah cara atau aturan menuliskan kata-kata dengan huruf. Misalnya kata huruf dahulu adalah hoeroef. Kata itu telah diatur dengan ejaan yang sesuai dan sekarang yang dipergunakan adalah huruf. Ejaan ada dua macam, yakni ejaan fenetis dan ejaan fomenis. Ejaan fenotis merupakan ejaan yang berusaha menyatakan setiap bunyi bahasa dengan huruf, serta mengukur dan mencatatnya dengan alat pengukur bunyi bahasa (diagram). Dengan demikian terdapat banyak lambing atau huruf yang dipergunakan untuk menyatakan bunyi-bunyi bahasa itu. Ejaan fonemas adalah ejaan yang berusaha menyatakan setiap fonem dengan satu lambing atau satu huruf, sehingga jumlah lambing yang diperlukan tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan jumlah lambing dalam ejaan fonetis (Barus Sanggup, 2013)

2.2. Sejarah Sistem Ejaan Bahasa Indonesia Sampai saat ini dalam bahasa Indonesia telah dikenal tiga nama ejaan yang pernah berlaku. Ketiga ejaan yang pernah ada dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut. 1. Ejaan Van Ophuysen 2. Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi 3. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Sebagaimana yang telah umum diketahui, Ejaan van Ophuysen sesuai dengan namanya diprakarsai oleh Ch. A. van Ophuysen, seorang berkebangsaan Belanda. Ejaan ini mulai diberlakukan sejak 1901 hingga munculnya Ejaan Soewandi. Ejaan van Ophuysen ini merupakan ejaan yang pertama kali berlaku dalam bahasa Indonesia yang ketika itu masih bernama bahasa Melayu. Dan ini menjadi dasar dan asal terbentuknya Bahasa Indonesia. Sebelum ada ejaan tersebut, para penulis menggunakan aturan sendiri-sendiri di dalam menuliskan huruf, kata, atau kalimat. Oleh karena itu, dapat dipahami jika tulisan mereka cukup bervariasi. Akibatnya, tulisan-tulisan mereka itu sering sulit dipahami. Kenyataan itu terjadi karena belum ada ejaan yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam penulisan. Dengan demikian, ditetapkannya Ejaan van Ophuyson merupakan hal yang sangat bermanfaat pada masa itu. Setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dan diproklamasikan menjadi negara yang berdaulat, para ahli bahasa merasa perlu menyusun ejaan lagi karena tidak puas dengan ejaan yang sudah ada. Ejaan baru yang disusun itu selesai pada tahun 1947, dan pada tanggal 19 Maret tahun itu juga diresmikan oleh Mr. Soewandi selaku Menteri PP&K (Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan). Ejaan baru itu disebut Ejaan Republik dan dikenal juga dengan nama Ejaan Soewandi. Sejalan dengan perkembangan kehidupan bangsa Indonesia, kian hari dirasakan bahwa Ejaan Soewandi perlu lebih disempurnakan lagi. Karena itu, dibentuklah tim untuk menyempurnakan ejaan tersebut. Pada tahun 1972 ejaan itu
3

selesai dan pemakaiannya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 16 Agustus 1972 dengan nama Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Hingga sekarang EYD menjadi dasar dan kaidah Bahasa Indonesia terutama dalam penulisan. Semua kalangan menggunakan EYD sebagai ejaan yang benar dalam setiap tulisan ataupun karya tulis. Dan sering kita lihat kalau setiap syarat suatu karya tulis adalah sesuai dengan EYD. Berikut tabel dibawah adalah perbedaan ketiga ejaan diatas dalam aspek penghurufan. Van Ophuysen 1901 J Dj Nj Sj Suwandi 1947 J Dj Nj sj EYD 1972 y j ny sy

3. PEMAKAIAN HURUF 3.1. Abjad Jenis huruf dan nama yang digunakan dalam sistem EYD ialah sebagai berikut: Huruf A B C D E F S A B C D E F S Nama A Be Ce De E Ef Es Huruf G H I J K L V G H I J K I V Nama Ge Ha I Je Ka El Ve Huruf M N O P Q R Y M N O P Q R Y Nama Em En O Pe Ki Er Ye

T U

T U

Re U

W X

W X

We Eks

Zet

EYD menggunakan 26 huruf dan setiap huruf melambangkan fonem tertentu.ke-26 huruf ini dapat digolongkan ke dalam dua bagian yaitu vocal dan konsonan. 3.2.Vokal Huruf Contoh pemakaian dan letaknya Di awal A I U e(e) e(e) O Apa Itu Uang Enak Emas Oleh Di tengah pada pintu buka teras kera kota Di akhir Lupa Tetapi Ragu Sore Tipe Toko

3.3.Konsonan Huruf Contoh Pemakaian dan Letaknya Di awal B C D F G H J K Baru Cacat Duri Factor Ganjil Harap Jalan Kami Di tengah kabut kancil kuda tafsir juga tahu kejar takut Di akhir sebab maksud positif gudeg gajah mikraj Baik

Kh L M N Ng Ny P Q R S Sy T V W X Y Z

Khusus Lama Mari Nakal Ngilu Nyata Pagi Quran Rata Sayang Syarat Tujuh Varita Wakil Xenon Yang Zeni

akhir alam aman anak angin banyak Apa furqa harus kasih masyarakat data lava jawab daya lazim

Tarikh Mual Kelam Makan Sedang Tetap Liar Luas Rapat Juz

3.4.Diftong Huruf Contoh Pemakaian dan Letaknya Di awal Ai Au Oi Ain Aula Oikumene Di tengah syaitan saudara boikot Di akhir Pantai harimau Amboi

3.5. Persukuan Di bawah ini dicantumkan pola persukuan kata dalam bahasa indonesia seperti yang tercantum dalam buku Pedoman Umun Jean Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan sebagai berikut.setiap suku kata dalam bahasa Indonesia ditandai oleh sebuah vocal.vokal ini dapat didahului atau diikuti oleh konsonan. Pemisahan suku kata pada kata dasar adalah sebagai berikut: 1. Kalau di tengah kata ada dua vocal yang berurutan,pemisahan tersebut

dilakukan diantara kedua vocal itu.contoh: ma-af,bu-ah,ri-ang 2. Kalau di tengah kata ada konsonan di antara dua vocal,pemisahan

tersebut dilakukan sebelum konsonan itu.contoh: a-nak,a-pa,a-gar.oleh karena ng,sy,ny dan kh melambangkan satu konsonan,pemisahan suku kata terdapat sebelum atau sesudah pasangan huruf itu.contoh : sa-ngat,nyo-nya,isya-rat 3. Kalau di tengah kata ada dua konsonan yang berurutan,pemisahan

terdapat diantara kedua konsonan itu.contoh: man-di,tem-pat,lam-bat,ker-tas 4. Kalau di tengah kata ada tiga konsonan atau lebih,pemisahan tersebut

diantara konsonan yang pertama (termasuk ng)dengan konsonan kedua.contoh:instru-men,bang-krut,ul-tra. 3.6. Nama Diri Penulisan nama-nama sungai,gunung,jalan,kota,dan sebagainya disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan.Misalnya: Kali Brantas, Danau Singkarak, Jalan Diponegoro, dan Sungai Citarum Nama orang badan hukum,dan nama diri diri lain yang sudah lazim disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan kecuali bila ada pertimbangan khusus.Misalnya: S.Soebardi. Universitas Negeri Medan, Institut Teknologi Bandung,

4.

PENULISAN HURUF Penulisan huruf dalam ejaan menyangkut dua hal, yaitu pemakaian huruf

kapital atau huruf besar dan pemakaian huruf miring.

4.1.Huruf Kapital Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama pada hal-hal berikut. 1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat

dan petikan langsung. Misalnya: Anak saya sedang bermain di halaman. 2. Ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci,

termasuk kata ganti untuk Tuhan. Contoh: Allah, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen 3. Nama gelar kehormatan dan keagamaan yang diikuti nama orang

beserta unsur nama jabatan dan pangkat.Misalnya:Mahaputra Yamin, Raden Ajeng Kartini, Nabi Ibrahim, Presiden Megawati, Jenderal Sutjipto, Haji Agus Salim 4. Nama orang, nama bangsa, suku bangsa, bahasa, dan nama tahun,

bulan, hari, hari raya, peristiwa sejarah, serta nama-nama geografi.Misalnya:Hariyati Wijaya, suku Jawa 5. Unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan,

dokumen resmi, serta nama buku, majalah, dan surat kabar.Contoh:Republik Indonesia 6. Unsur singkatan nama gelar, pangkat, sapaan, dan nama kekerabatan

yang dipakai sebagai sapaan. Contoh:S.S. (sarjana sastra) Di samping yang telah disebutkan di atas, huruf kapital juga digunakan sebagai huruf pertama kata ganti Anda. Sehubungan dengan penulisan karya tulis, judul karya tulis, baik yang berupa laporan, makalah, skripsi, disertasi, kertas kerja, maupun jenis karya tulis yang lain, seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. Selain itu, huruf kapital seluruhnya juga digunakan dalam penulisan hal-hal berikut:

(1) judul kata pengantar atau prakata; (2) judul daftar isi; (3) judul grafik, tabel, bagan, peta, gambar, berikut judul daftarnya masingmasing; (4) judul daftar pustaka; (5) judul lampiran. Dalam hubungan itu, judul-judul subbab atau bagian bab huruf pertama setiap unsurnya juga ditulis dengan huruf kapital, kecuali yang berupa kata depan dan partikel seperti, dengan, dan, di, untuk, pada, kepada, yang, dalam, dan sebagai. 4.2.Huruf Miring Huruf miring (dalam cetakan) atau tanda garis bawah (pada tulisan tangan/ketikan) digunakan untuk menandai judul buku, nama majalah, dan surat kabar yang dipakai dalam kalimat. Contoh: Masalah itu sudah dibahas Sutan Takdir Alisjabana dalam bukunya yang berjudul Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Berbeda dengan itu, judul artikel, judul syair, judul karangan dalam sebuah buku (bunga rampai), dan judul karangan atau naskah yang belum diterbitkan, penulisannya tidak menggunakan huruf miring, tetapi menggunakan tanda petik sebelum dan sesudahnya. Dengan kata lain, penulisan judul-judul itu diapit dengat tanda petik. Contoh: Sajak Aku dikarang oleh Chairil Anwar. Sesuai dengan kaidah, kata-kata asing yang ejaannya belum disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia atau kata-kata asing yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia juga harus ditulis dengan huruf miring jika digunakan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, kata go public, devide et impera, dan sophisticated pada contoh berikut. 1. Dewasa ini banyak perusahaan yang go public. 2. Kata asing sophisticated berpadanan dengan kata Indonesia canggih.
9

Berbeda dengan itu, kata-kata serapan seperti sistem, struktur, efektif, dan efisien tidak ditulis dengan huruf miring karena ejaan kata-kata itu telah disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia. Dengan kata lain, kata-kata serapan semacam itu telah diperlakukan seperti halnya kata-kata asli bahasa Indonesia. Dalam dunia ilmu pengetahuan, banyak pula dikenal nama-nama ilmiah yang semula berasal dari bahasa asing. Nama-nama ilmiah semacam itu jika digunakan dalam bahasa Indonesia juga ditulis dengan huruf miring karena ejaannya masih menggunakan ejaan bahasa asing.Misalnya: Manggis atau Carcinia mangostana banyak terdapat di pulau Jawa. Pada nama-nama ilmiah semacam itu huruf kapital hanya digunakan pada unsur yang pertama, sedangkan unsur selebihnya tetap ditulis dengan huruf kecil. 5. PEMAKAIAN KATA

5.1.Kata Dasar Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: pagar, rumah, tanah, sedang. 5.2.Kata turunan 1. Imbuhan (awalan,akhiran,sisipan)ditulis serangkai dengan kata dasar. Contoh: berduri, diangkat, penetapan, mempermainkan, bergerigi. 2. Awalan dan akhiran ditulis serangkai dengan katayang langsung

mengikutinya atau mendahuluinya bila bentuk dasarnya gabungan kata. Contoh: bertanggung jawab, serah terima, membabi buta. 3. akhiran Jika bentuk dasar berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan maka kata-kata itu ditulis serangkai. Contoh:penyalahgunaan,

memberitahukan, diserahterimakan, mempertanggungjawabkan. 4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi,maka itu ditulis serangkai. Contoh: pancasila, nonaktif, antarkota,

gabungan

inkonvensional, amoral, subpokok ,multilateral transmigrasi, infrastruktur, swadaya, tunanetra,dan kolonialisme

10

5.3.Penulisan Gabungan Kata Gabungan kata atau yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. Misalnya: Baku tanda tangan tanggung jawab Tidak Baku tandatangan tanggungjawab

Berbeda dengan itu, gabungan kata yang maknanya sudah dianggap padu unsur-unsurnya ditulis serangkai. Beberapa contohnya dapat diperhatikan pada daftar berikut. Baku acapkali daripada Tidak Baku acap kali dari pada

Gabungan kata lain yang salah satu unsurnya berupa unsur terikat ditulis serangkai. Unsur terikat yang dimaksud, misalnya, pasca-, antar-, panca-, nara-, dan pramu-. Beberapa contoh penulisannya dapat diperhatikan di bawah ini. Unsur Terikat pascaantarBaku pascaperang antarkota Tidak Baku pasca perang antar kota

Kata bilangan yang berasal dari bahasa Sanskerta juga dipandang sebagai unsur yang terikat. Oleh karena itu, penulisannya pun harus diserangkaikan dengan unsur yang menyertainya. Misalnya: Unsur Terikat dwitriBaku dwifungsi tridarma Tidak Baku dwi fungsi tri darma

Beberapa unsur terikat lain yang penulisannya harus diserangkaikan dengan unsur yang mengikutinya adalah a-, adi-, anti-, awa-, audio-, bi-, ekstra-, intra-,

11

makro-, mikro-, mono-, multi-, poli-, pra-, purna-, semi-, sub-, supra-, kontra-, non-, swa-, tele-, trans-, tuna-, dan ultra-. Dalam penulisan unsur terikat perlu dipahami bahwa unsur terikat tertentu apabila dirangkaikan dengan unsur lain yang berhuruf kapital harus diberi tanda hubung di antara kedua unsur itu. Misalnya: non-ASEAN, bukan non ASEAN, non ASEAN non-Islam, bukan non Islam, nonIslam 5.4. Penulisan Bentuk Ulang Sejalan dengan kaidah yang berlaku sekarang, angka dua tidak digunakan sebagai penanda perulangan. Dalam penulisan bentuk ulang, bagian-bagian kata yang diulang ditulis seluruhnya secara lengkap dengan disertai tanda hubung di antara unsur-unsur yang diulang. Dengan demikian, dalam tulisan-tulisan yang bersifat resmi, seperti naskah buku, laporan penelitian, laporan kegiatan, skripsi, dan berbagai karya tulis resmi yang lain, kata ulang harus ditulis secara lengkap, tidak menggunakan angka dua. Misalnya, macam-macam Seperti halnya bentuk ulang yang lain, bentuk ulang yang mengalami perubahan fonem pun unsur-unsurnya yang diulang ditulis seluruhnya dengan disertai tanda hubung di antara keduanya. Jadi, unsur yang diulang itu tidak ditulis dengan menggunakan angka dua ataupun ditulis tanpa menggunakan tanda hubung. Misalnya: Baku gerak-gerik sayur-mayur Tidak Baku gerak gerik sayur mayur

12

Sejalan dengan hal tersebut, bentuk-bentuk di bawah ini, yang lazim disebut kata ulang semu, juga ditulis secara lengkap dengan menyertakan tanda hubung. Misalnya: Baku kura-kura paru-paru 5.5. Penulisan Kata Depan Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali dalam gabungan kata, seperti kepada dan daripada. Jika di dan ke berupa awalan maka ditulis serangkai dengan kata dasarnya, seperti kata dikelola dan ketujuh. 5.6. Penulisan Singkatan atau Akronim Istliah singkatan berbeda dengan akronim. Singkatan ialah kependekan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik dilafalkan huruf demi huruf maupun dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya. Beberapa singkatan yang dilafalkan huruf demi huruf dapat diperhatikan pada contoh berikut. Singkatan SMP UGM Pelafalannya [es-em-pe] [u-ge-em] Tidak Baku kura2, kura kura paru2, paru paru

Singkatan yang dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya, misalnya: Singkatan Bpk. Pelafalannya [bapak], bukan [be-pe-ka]

13

Singkatan yang berupa gabungan huruf awal suatu kata, dalam kenyataan berbahasa, sering ditulis dengan disertai tanda titik pada masing-masing hurufnya, seperti yang terdapat pada contoh berikut. K.B. S.D. keluarga berencana sekolah dasar

Penulisan singkatan itu tidak tepat karena singkatan yang berupa gabungan huruf awal suatu kata tidak diikuti tanda titik, kecuali singkatan nama gelar akademik dan singkatan nama orang. Dengan demikian, penulisan tersebut yang benar adalah LKMD, KB, SD, dan PT. Selain singkatan umum seperti di atas, ada pula yang disebut singkatan lambang, yaitu suatu bentuk singkatan yang terdiri atas satu huruf atau lebih yang melambangkan konsep dasar ilmiah, seperti kuantitas, satuan, dan unsur. Dalam pemakaian dan penulisannya, singkatan lambang berbeda dengan singkatan lain. Perbedaan itu tidak hanya terletak pada cara penulisannya, tetapi juga penandaannya. Dalam hal ini, penulisan dan penandaan singkatan lambang pada umumnya disesuaikan dengan peraturan internasional karena pemakaiannya pun bersifat internasional. Secara umum, singkatan lambang tidal diikuti tanda titik. Misalnya: Cu m kuprum meter

Akronim ialah kependekan yang berupa gabungan hurf awal, gabungan suku kata, atau gabungan huruf awal dan suku kata, yang ditulis dan dilafalkan seperti halnya kata biasa. Misalnya:

14

siskamling Depdiknas

sistem keamanan lingkungan Departemen Pendidikan Nasional

Akronim lain yang berupa gabungan huruf awal suatu kata, seperti halnya singkatan yang berupa gabungan huruf awal, seluruhnya ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti tanda titik. Misalnya: ABRI IKIP Angkatan Bersenjata Republik Indonesia institut keguruan dan ilmu pendidikan

6. PENULISAN UNSUR SERAPAN Bahasa Indonesia berkembang sangat pesat, dan dalam pekembangannya itu bahasa Indonesia banyak menyerap bahasa atau ejaan lain dari berbagai bahasa di dunia. Seperti bahasa Arab, Belanda, Sanskerta, Portugis, dan Inggris. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka. Maksudnya ialah bahwa bahasa ini banyak menyerap kata-kata dari bahasa lainnya. Sehingga banyak kata serapan Bahasa Indonesia dari berbagai bahasa seperti berikut ini: Asal Bahasa Arab Belanda Tionghoa Hindi Inggris Jumlah Kata 1.495 kata 3.280 kata 290 kata 7 kata 1.610 kata Sumber: wikipwedia Berasarkan taraf integrasinya unsure serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi dalam dua golongan yaitu: a. sepenuhnya Unsur terserap asing yang belum Bahasa

kedalam

Indonesia. Unsur-unsur serapan ini dipakai dalam konteks Bahasa Indonesia tetapi pengucapannya masih mengikuti cara bahasa asing. Contoh: reshuffle, shuttle cock.

15

b.

Unsure asing yang pengucapannya dan penulisannya disesuaikan

dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaan asing hanya diubah seperlunya sehingga bentuk indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya. 5. PENUTUP Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang memiliki ejaan yang telah disesuaikan. Ejaan tersebut memiliki perubahan yaitu sebanyak tiga kali setelah bahasa itu digunakan sebagai bahasa nasional. Ketiga sistem ejaan itu menhasilkan ejaan yang baku dan dipergunakan sampai saat ini oleh setiap orang terutama akademisi, penulis, wartawan dan lain sebagainya. ejaan itu adalah Ejaan yang disempurnakan (EYD). Dalam Ejaan Bahasa Indonesia, banyak hal yang harus dilihat dan dipahami. Karena begitu rumit dan banyak jika dilihat dari segi huruf, kata, kalimat, tanda baca baik dalam pemakaian, penulisan dan pelafalannya. Huruf memiliki banyak cara penulisan dan pemakaian, seperti abjad yang merupakan vocal dan konsona, diftong, persukuan, dan nama diri. Sedangkan penulisannya, digunakan pada huruf capital dan huruf miring. Demikian juga kata, memilki kaidah pemakaian yang diatur dalam ejaan bahasa Indonesia. Seperti, kata dasar, turunan, gabungan, kata ganti, singkatan dan akronim. Untuk penulisan huruf menjadi kata dan kata menjadi kalimat, perlu digunakan tanda baca. Tanda baca memiliki peran penting dan itu sudah diatur dalam ejaan bahasa Indonesia. 6. DAFTAR PUSTAKA

Afia, Atep. 2012. Tata Tulis Karya Ilmiah. Surabay:. Unnar Barus, Sanggup. dkk. 2013. Pendidikan Bahasa Indonesia. Medan: Unimed Press

16

Haryatmo, Sri. 2009. Buku Panduan Mengajar Mata Kuliah Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Intitut agama Islam Sunan Kalijaga Pantita Pengembangan Bahasa Indonesia. 2000. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional http://id.wikipedia.org/wiki/Kata_serapan_dalam_bahasa_Indonesia februari, 15.00 WIB) (diakses 16

17