Anda di halaman 1dari 13

Laporan Praktikum Titrasi Asam-Basa

Standar kompetensi : memahami sifat larutan asam basa,metode pengukuran dan terapannya. hasil titrasi. Tujuan

Kompetensi dasar : menghitung banyaknya pereaksi dan hasil reaksi dalam larutan elektrolit dan I.

A.menentukan konsentrasi HCL dan larutan NaOH. II. Teori

B.menentukan kadar asam asetat dan cuka dapur dengan titrasi asam basa Titrasi adalah metode analisis kuantitatif untuk menentukan kadar suatu larutan. Dalam titrasi zat yang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat dan disertai penambahan indikator . larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut larutan baku atau larutan tandar. Sedangkan indikator adalah zat yang memberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal dengan istilah titik akhir titrasi.

Berdasarkan pengertian titrasi,maka titrasi asam basa merupakan metode penentuan kadar larutan asam dengan zat peniter (titrant) suatu larutan basa atau penentu kadar larutan basa dengan peniter (titrant) suatu larutan asam , dengan reaksi umum yang terjadi : Asam + basa garam + air

Reaksi penetralan ini terjadi pada proses titrasi . titik akhir titrasi adalah kondisi pada saat terjadi perubahan warna dari indikator .titik akhir titrasi diharapkan mendekati ekuivalen titrasi , yaitu tersebut (titik ekuivalen) berlaku hubungan : Va.Ma.a = Vb.Mb.b Va = volume asam (L) Ma =molaritas asam Vb=Volume basa (L) Mb= molaritas basa kondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa . dengan demikian pada keadaan

a=valensi asam b=valensi basa dan indikator fenolflatein.

Pada percobaan ini akan ditentukan konsentrasi HCL dalam molar menggunakan larutan NaOH titrasi Asam kuat dengan basa kuat Reaksi : HCL + NaOH

Titrasi larutan HCL 0,1 M oleh larutan NaOH 0,1 M Percobaan B : penentuan kadar asam asetat dalam cuka dapur titrasi larutan CH3COOH oleh larutan NaOH 0,1 M Reaksi Ion bersih : CH3COOH + OHReaksi : CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O NaCL + H2O

Dalam titrasi ini dipilih indikator PP . Pemilihan indikator tergantung pada titik setara dan titik akhir titrasi. Indikator PP mempunyai selang pH = 8,3 10,0 , pada kondisi asam (pH < 7) ,

H2O +CH3COO-

indikator PP tidak memberi perubahan warna , sadang pada kondisi basa (pH > 7) indikator PP III. memberi warna merah muda. A. Alat : Alat & Bahan

Labu erlenmeyer 250 mL Pipet volumetrik 10mL Buret Labu ukur

Statif & Klem Corong kecil Pipet tetes B. Bahan : Botol semprot Kertas indikator universal Larutan HCL 0,1 M Larutan asam cuka Indikator PP Cara kerja Larutan NaOH 0,1 M IV.

Percobaan A : titrasi asam kuat dan basa kuat labu erlenmeyer 250 mL

1.ambilah sebanyak 10 mL larutan HCl 0,1 M dengan pipet volumetrik lalu pindahkan ke dalam 2. Tambahkan sebanyak 5 tetes indikator PP ke dalam labu erlenmeyer 3. Siapkan buret , statif dan klem 4. Isi buret dengan larutan NaOH 0,1 M tepat ke garis nol

5. Buka kran buret secara perlahan sehingga NaOH tepat mengalir ke dalam labu erlenmeyer

6. Lakukan titrasi hingga didapatkan titik akhir titrasi (pink muda) . selama penambahan NaOH terjadi . Catat volume NaOH yang dibutuhkan untuk mencapai titk akhir titrasi. 7. Ulangi langkah 1-6 sehinggan didapat 2 data titrasi . Volume NaOH awal = 25 mL No. 1 2 10 mL 10 mL Volume HCL

goyangkan labu erlenmeyer agar NaOH merata ke seluruh larutan . amati perubahan warna yang

Volume NaOH 8,5 mL 8,5 mL

1.ambillah 10 mL larutan asam cuka dengan pipet volumetrik lalu pindahkan ke dalam labu erlenmeyer 100 mL tambahkan air hingga tanda batas . larutan indikator PP 2. Pipet sebanyak 10 mL larutan tersebut ke dalam labu erlenmeyer 125 mL tambahkan 5 tetes 3.Lakukan titrasi sehingga didapat titik akhir titrasi . catat volume NaOH yang dibutuhkan untuk

Percobaan B : titrasi asam cuka dengan basa kuat

mencapai titik akhir titrasi.

4. Ulangi langkah 2 dan 3 hingga diperoleh 2 data titrasi. Volume NaOH awal = 25 mL No. 1 2 VI. Pertanyaan ; 10 mL 10 mL Volume Asam Cuka Volume NaOH 2.1 mL 1,3 mL

1.bagaimana perbedaan titrasi A dan B ditinjau dari pH titik ekuivalennya ? bahwa asam cuka lebih cepat berubah daripada HCL Va.Ma.a=Vb.Mb.b 10.x.1=8,5.0,1.1 2.hitunglah konsentrasi larutan HCL dengan data percobaan A ?

x= 0,85 / 10 = 0,085 M Va.Ma.a=fp.Vb.Mb.b 10.x.1=10.0,1.1.1,7

3.hitunglah konsentrasi asam cuka dengan data percobaan B ?

x= 1,7 / 10 = 0,17 M

4.mengapa pada setiap titrasi asam basa diperlukan indikator ?

untuk mengetahui titik ekuivalen dengan ditandai perubahan warna. 5.buatlah skema grafik pH larutan terhadap volume larutan NaOH !

Titrasi Asam Basa


STANDAR KOMPETENSI : Memahami sifat-sifat larutan asam basa, metode pengukuran dan terapannya. KOMPETENSI DASAR : Menghitung banyaknya pereaksi dan hasil reaksi dalam larutan elektrolit dan hasil titrasi asam basa. I. Tujuan : A. Menentukan konsentrasi HCl dan larutan NaOH. B. Menentukan kadar asam asetat dalam cuka dapur dengan titrasi asam basa. II. Teori Titrasi adalah metode analisis kuantitatif untuk menentukan kadar suatu larutan. Dalam titrasi zat yang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang konsentrasinya diketahui dengna tepat dan disertai penambahan indikator. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya

disebut larutan baku atau larutan tandar, sedangkan indikator adalah zat yang memberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal dengan istilah titik akhir titrasi.

Berdasarkan pengertian titrasi, maka titrasi asam basa merupakan metode penentuan kadar larutan asam dengan zat peniter (titrant) suatu larutan basa atau penentuan kadar larutan basa dengan zat peniter (titrant) suatu larutan asam, dengan reaksi umum yang terjadi: Asam + Basa Garam + Air Reaksi penetralan ini terjadi pada proses titrasi. Titik akhir titrasi adalah kondisi pada saat terjadi perubahan warna pada indikator. Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik ekivalen titrasi, yaitu kondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa. Dengan demikian pada keadaan tersebut (titik ekivalen) berlaku hubungan: Va.Ma.a = Vb.Mb.b Va = Volume Asam (L) Ma = Molaritas Asam (M) Vb = Volume Basa (L) Mb = Molaritas Basa (M) a = Valensi Asam , b = Valensi Basa Pada percobaan ini akan ditentukan konsentrasi HCl dan Molar dengan menggunakan larutan NaOH dan indikator fenolftalein.

Percobaan A : Titrasi Asam kuat dan Basa kuat

Titrasi larutan HCl 0,1 M oleh larutan NaOH 0,1 M

Reaksi: HCl + NaOH NaCl + H2O

Percobaan B : Penentuan kadar asam asetat dalam cuka dapur

Titrasi larutan CH3COOH oleh larutan NaOH 0,1 M Reaksi: CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O Reaksi ion bersih: CH3COOH + OH- H2O + CH3COODalam percobaan ini dipilih indikator PP (Fenolftalein). Pemilihan indikator tergantung pada titik setara (ekivalen) dan titik akhir titrasi. Indikator PP mempunyai selah pH = 8,3 - 10,0. Pada kondisi asam (pH <7), indikator PP tidak memberi perubahan warna. Sedang pada kondisi basa (pH >7) indikator PP memberi warna merah muda. III. Alat dan Bahan

A. Alat :

Labu Erlenmayer 125 ml Pipet volumetrik 10 ml Buret Labu ukur Statif dan Klem Corong kecil Botol semprot Pipet tetes Gelas kimia 100 ml

B. Bahan :

Larutan HCl 0,1 M Larutan asam cuka Larutan NaOH 0,1 M Indikator PP

IV. Cara Kerja

Percobaan A : Titrasi asam kuat dan Basa kuat

1. 10 ml larutan HCl 0,1 M diambil dengan menggunakan pipet volumetrik lalu dipindahkan ke dalam labu erlenmayer 250 ml. 2. 5 tetes indikator PP ditambahkan ke dalam labu erlenmayer tersebut. 3. Buret, statif dan klem disiapkan. 4. Buret diisi dengan larutan NaOH 0,1 M tepat ke garis nol. 5. Kran buret dibuka secara perlahan sehingga NaOH tepat mengalir ke dalam labu erlenmayer. 6. Titrasi dilakukan sehingga didapat titik akhir titrasi (warna merah muda). Selama NaOH ditambahkan labu erlenmayer digoyangkan agar NaOH merata ke seluruh larutan. Perubahan yang terjadi diamati. Vomule NaOH yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir titrasi dicatat. 7. Langkah 1 sampai 6 diulangi sehingga didapatkan dua data titrasi.

Percobaan B : Titrasi Asam Cuka dengan Basa Kuat

1. 10 ml larutan asam cuka diambil dengan menggunakan pipet volumetrik lalu dipindahkan ke dalam labu ukur 100 ml, air ditambahkan hingga tanda batas. 2. Pindahkan 10 ml larutan tersebut ke dalam labu erlenmeyer 125 ml, kemudian 5 tetes larutan indikator PP ditambahkan. 3. Titrasi dilakukan sehingga didapatkan titik akhir titrasi. Volume NaOH yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir titrasi dicatat. 4. Langkah 2 dan 3 diulangi hingga diperoleh dua data titrasi.

V. Hasil Pengamatan A. Volume titik akhir titrasi Asam Kuat - Basa Kuat NO 1 2 Volume HCl 10 ml 10 ml Volume NaOH 9 ml 8,5 ml

B. Volume titik akhir titrasi Asam Cuka - Basa Kuat NO 1 2 VI. Pertanyaan 1. Bagaimana perbedaan titrasi A dan B ditinjau dari pH titik ekivalennya? A = 8,75 B = 4,65 2. Hitunglah konsentrasi larutan HCl dengan data percobaan A Va.Ma.a = Vb.Mb.b 10.Ma.1 = (8,75).(0,1).1 10 Ma = 0,875 Ma = 0,09 Volume HCl 10 ml 10 ml Volume NaOH 4 ml 5,3 ml

3. Hitunglah konsentrasi larutan cuka dengan data percobaan B Fp.Va.Ma.a = Vb.Mb.b 100/10.10.Ma.1 = (4,65).(0,1).1 100 Ma = 0,465 Ma = 0,465.102 = 4,65.103 4. Mengapa pada setiap titrasi asam basa diperlukan indikator? Karena indikator adalah zat yang memberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir. VII. Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa konsentrasi larutan HCl yang mengacu pada data percobaan A adalah sebesar 0,9 M. Sedangkan kadar asam asetat dalam cuka dapur melalui percobaan B adalah sebesar 4,65.103 M.

Kelompok: M. Aufa, Mahersya Eva, Nabilah Calista dan Nurtrian Kelas: XI IPA 2

Penalaran Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit


17-01-2012 00:04:05, pada KX 09 Larutan

Penalaran larutan ini merupakan lanjutan dari pembahasan tentang "Uji daya hantar listrik larutan." "Anak-anak sekarang kita lanjutkan pembahasan tentang hasil pengamatanmu. Larutan NaCl tergolong larutan elektrolit ataukah non elektrolit? Berikan alasanmu." "Elektrolit Bu, karena lampu menyala terang dan gelembung gas banyak." "Jika larutan elektrolit dikelompokkan menjadi 2, elektrolit kuat dan lemah, larutan NaCl masuk kekelompok mana? Berikan alasanmu." "Elektrolit kuat Bu, karena datanya menunjukkan bahwa jumlah ion-ionnya banyak, jadi daya hantar listriknya kuat." "Bagus. Dari data, larutan mana yang tergolong elektrolit lemah? Berikan alasanmu." "Cuka Bu, nyala lampu redup, gelembung gasnya sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah ionnya relatif sedikit Bu, sehingga daya hantar listriknya lemah." "Hebat, terima kasih. Sekarang bagaimana dengan larutan gula? Pembahasan yang lalu jawaban kalian belum benar." Sebagian terdiam. Namun sebagian yang lain tampak berdiskusi dan ada yang berdebat. Ada yang mulai menulis hasil diskusinya. Lumayanlah kelas X bisa seperti ini. "Ayo anak-anak, siapa yang dapat memberikan jawaban." "Bu, gula itu ikatannya kovalen, bukan ion seperti NaCl. Gula terdiri atas molekul-molekul yang dalam air tidak dapat terurai menjadi ion-ion. Partikelnya tetap sebagai molekul baik padatan maupun larutan. Karena itulah larutan ini tidak menghantar listrik dan tergolong larutan non elektrolit."

"Hebat sekali sayang, terima kasih. Wakil kelompok yang lain silakan menjelaskan data yang belum dibahas." "Larutan alkohol lampunya tidak menyala dan tidak terjadi gelembung gas, maka larutan ini seperti larutan gula, tetap sebagai molekul, tergolong non elektrolit." "Benar, ayo kelompok lain lanjutkan." "Air aki dan air kapur tergolong elektrolit kuat, datanya seperti larutan NaCl." "Iya benar. Sekarang perhatikan baik-baik pertanyaan ibu selanjutnya. Apakah yang membedakan antara larutan elektrolit kuat dan lemah?" "Larutan elektrolit kuat daya hantar listriknya kuat, elektrolit lemah daya hantarnya lemah." "Berikan alasannya mengapa daya hantar mereka berbeda?" "Jumlah ion yang terdapat dalam larutan tidak sama Bu, banyak dan sedikit." "Mengapa jumlah ionnya berbeda?" "Kemampuan untuk mengion Bu." "Ya benar sayang, larutan cuka molekulnya hanya sebagian yang terurai menjadi ion, atau dikatakan terionisasi sebagian. Nah persamaan ionisasi asam cuka sebagai berikut: CH3COOH(aq) CH3COO-(aq) + H+(aq). Gunakan tanda panah bolak-balik, karena tanda ini menunjukkan bahwa molekul-molekul cuka masih ada, tidak habis dan reaksi seperti ini dinamakan reaksi kesetimbangan. Sekarang wakil kelompok yang belum menjawab, silakan maju ke papan, tuliskan persamaan ionisasi/penguraian dari larutan elektrolit yang lain." Kemudian anak-anak maju ke papan tulis untuk menuliskan persamaan reaksi larutan elektrolit. Jawaban mereka sebagai berikut: NaCl(aq) Na+(aq) + Cl-(aq) H2SO4(aq) 2H+(aq) + SO42-(aq)

Ca(OH)2(aq) Ca2+(aq) + 2OH-(aq) "Bagus sekali. Sekarang silakan menyimpulkan hasil diskusi ini. Jangan lupa mencatat kesimpulan dalam buku catatanmu." Aku berkeliling kelompok, mereka tidak ada yang bertanya. Tampaknya mereka suka pada topik ini, mungkin karena relatif mudah, melakukan sendiri pengamatannya, semua bahan berasal dari rumah.

http://etnarufiati.guru-indonesia.net/kategori_isi-10253.html

STANDAR KOMPETENSI : Memahami sifat sifat larutan asam basa, metode pengukuran dan terapannya KOMPETENSI DASAR : Menghitung banyaknya pereaksi dan hasil reaksi dalam larutan elektrolit dan hasil titrasi asam basa A. Tujuan 1. Menentukan konsentrasi HCl dan larutan NaOH 2. Menentukan kadar asam asetat dalam cuka dapur dengan titrasi asam basa B. Teori Titrasi adalah metode analisis kuantitatif untuk menentukan kadar suatu suatu larutan. Dalam titrasi zat yang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat dan disertai penambahan indicator. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut larutan baku atau larutan tandar, sedangkan indicator adalah zat yang memberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal dengan istilah titik akhir titrasi. Berdasarkan pengertian titrasi, maka titrasi asam basa merupakan metode penentuan kadar larutan asam dengan zat peniter (titrant) suatu larutan basa atau penentuan kadar larutan basa dengan zat peniter(titrant) suatu larutan asam, dengan reaksi umum yang terjadi ; Asam + Basa > Garam + Air Reaksi penetralan ini terjadi pada proses titrasi. Titik akhir titrasi adalah kondisi pada saat terjadi perubahan warna dari indicator. Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik ekivalen titrasi, yaitu kondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa. Dengan demikian, pada

keadaan tersebut (titik ekivalen) berlaku hubungan : Va.Ma.a = Vb.Mb.b Va = Volume asam (L) Ma=Molaritas asam Vb = Volume basa (L) Mb = Molaritas basa a = valensi asam, b = valensi basa Pada percobaan ini, akan ditentukan konsentrasi HCl dalam Molar dengan menggunakan larutan NaOH dan indikator fenolftalein. Titrasi Asam kuat dengan Basa kuat Titrasi Larutan HCl 0,1 M oleh larutan NaOH 0,1 M Reaksi : HCl + NaOH > NaCl+ H2O Percobaan B adalah Penentuan kadar asam asetat dalam cuka dapur Titrasi larutan CH3COOH oleh larutan NaOH 0,1 M Reaksi : CH3COOH + NaOH > CH3COONa + H2O Reaksi ion bersih : CH3COOH + OH- > H2O + CH3COODalam titrasi ini dipilih indikator PP (fenolftalein). Pemilihan indikator tergantung pada titik setara (ekivalen) dan titik akhir titrasi. Indikator PP mempunyai selang pH = 8,3 10,0. Pada kondisi asam (pH < 7), indikator pp tidak memberi perubahan warna, sedang pada kondisi basa (pH>7) indikator PP memberi warna merah muda.

C. Alat dan Bahan Alat : Labu erlenmayer 125 ml Pipet Volumetrik 10 ml Buret Labu ukur Statif dan Klem Corong Kecil Botol Semprot Pipet tetes Gelas Kimia 100 ml Bahan : Larutan HCl 0,1 M Larutan asam cuka Larutan NaOH 0,1 M Indikator PP D. Cara Kerja Percobaan A : Titrasi Asam Kuat dan Basa Kuat

1. Mengambil 10 ml larutan HCl M dengan pipet volumetrik lalu memindahkannya ke dalam labu erlenmayer 125 ml 2. Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam labu erlenmayer 3. Menyiapkan buret, statif dan klem 4. Mengisi buret dengan larutan NaOH 0,1 M tepat ke garis nol 5. Membuka kran buret secara perlahan sehingga NaOH tepat mengalir ke dalam labu erlenmayer 6. Melakukan titrasi sehingga didapatkan titik akhir titrasi (pink muda). Selama penambahan NaOH kami menggoyangkan labu erlenmayer agar NaOH merata ke seluruh larutan, lalu kami mengamati perubahan warna yang terjadi dan mencatat volume NaOH yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir titrasi. 7. Mengulang langkah 1 dan 6, sampai di dapatkan dua data titrasi Percobaan B : Titrasi Asam cuka dengan Basa Kuat 1. Mengambil 10 ml larutan asam cuka dengan pipet volumetric lalu memindahkan ke dalam labu ukur 100 ml, serta ditambah air hingga tanda batas 2. Pipet sebanyak 10 ml larutan (campuran asam cuka dan air) ke dalam labu erlenmayer 125 ml dan menambahkan 5 tetes larutan indicator PP 3. Melakukan titrasi sampai di dapat titik akhir titrasi. Mencatat volume NaOH yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir titrasi 4. Mengulang langkah 2 dan 3, hingga diperoleh dua data titrasi E. Hasil Pengamatan 1. Volume titik akhir titrasi asam kuat- basa kuat
No. Volume HCL 1. 2. 10 ml 10 ml Volume NaOH 8 ml 8,4 ml

2. Volume titik akhir titrasi asam cuka basa kuat


No. 1. 2. Volume asam cuka 10 ml 10 ml Volume NaOH 1,2 ml 0,9 ml

F. PERTANYAAN 1. Bagaimana perbedaan titrasi A dan B ditinjau dari pH titik ekivalennya? = Titrasi B lebih cepat mengalami titik ekuivalennya, dengan begitu asam lemah dengan basa kuat lebih cepat mengalami titik ekuivalen disbanding dengan asam kuat dan basa kuat. 2. Hitunglah konsentrasi larutan HCl dengan data percobaan A! Ma.Va.A = Mb.Vb.B Ma.10.1 = 0,1.8,2.1 Ma.10 = 0,82 Ma = 0,082 M 3. Hitunglah konsentrasi larutan Cuka dengan data percobaan B! Ma.Va.A = fp.Mb.Vb.B Ma.10.1 = 10.1,05.0,1.1 Ma.10 = 1,05 Ma = 0,105 M 4. Mengapa pada setiap titrasi asam basa diperlukan indikator? = karena indicator dapat mempercepat mencapai titik ekuivalen 5. Buatlah sketsa grafik pH larutan terhadap volum larutan NaOH! G. Kesimpulan : Larutan asam cuka-basa kuat lebih cepat mengalami titrasi ketimbang larutan asam kuat-basa kuat. Mungkin, larutan asam cuka-basa kuat tertitrasi lebih cepat karena memiliki ph basa yang lebih tinggi daripada ph asamnya, sedangkan untuk HCl dan NaOH samasama kuat yaitu ph=7

Hu bungan dari kekuatan asam-basa dengan sifat elektrolitnya


Kekuatan dari asam-basa secara langsung berhubungan dengan sifat elektrolitnya. Karena dapat mempelajari bahwa asam mungkin dikategorikan sebagai asam kuat dan lemah. Dengan cara yang sama, basa mungkin juga dikategorikan sebagai basa kuat dan lemah. Asam kuat seperti HCl, memiliki ionisasi 1. Dalam larutan aquos, semua dari molekul HCl mengalami ionisasi untuk memproduksi ion H+/ H3O+ dan ion Cl-. Oleh karena itu, larutan aquos dari reaksi HCl menjadi elektrolit kuat. Asam lemah seperti asam acetic memiliki derajat ionisasi mendekati O. Dalam larutan aquos, hanya sedikit bagian dari asam acetic molekul mengalami ionisasi untuk menghasilkan ion H+/H3O dan ion CH3COO-. Oleh karena itu larutan aquos dari reaksi asam acetic sebagai elektrolit lemah.

Kuatnya dari basa juga secara langsung berhubungan dengan sifat elektrolitnya. Basa kuat seperti larutan aquos dari NaOH memiliki derajat ionisasi 1. Dalam larutan aquos, seluruh dari partikel NaOH diputus untuk menghasilkan ion Na+ dan OH-. Oleh karena itu, larutan aquos dari NaOH juga bereaksi menjadi elektrolit kuat. Basa lemah seperti larutan aquos dari amoniak memiliki derajat ionisasi mendekati O. Dalam larutan aquos hanya sedikit bagian dari molekul amoniak bereaksi dengan air untuk menghasilkan NH4+ dan ion OH-. Oleh karena itu, larutan aquos dari amoniak bereaksi menjadi elektrolit lemah.