Anda di halaman 1dari 9

Tugas Paper Mandiri

Sistem Pertanian Terpadu Berkelanjutan


Pengaruh Pemberian Pupuk terhadap Produktivitas Tanaman Stroberi

Disusun Oleh: Nama NIM Kelas : Deagisti Prima Yoriska : H0912032 : SPTB A

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2014

BAB I PENDAHULUAN

Stroberi merupakan tanaman buah berupa herba yang ditemukan pertama kali di Chili, Amerika. Salah satu spesies tanaman stroberi yaitu Fragaria chiloensis L. menyebar ke berbagai negara Amerika, Eropa dan Asia. Selanjutnya spesies lain, yaitu F. vesca L. lebih menyebar luas dibandingkan spesies lainnya. Jenis stroberi ini pula yang pertama kali masuk ke Indonesia. Buah stroberi memiliki warna, bentuk, aroma dan rasa yang khas, membuat buah stroberi semakin popular. Buah stroberi mengandung lemak dan kalori yang rendah, secara alami mengandung vitamin C, asam folat, kalium dan antioksidan dalam jumlah tinggi. Kandungan tersebut menjadikan stroberi sebagai alternatif yang baik untuk meningkatkan kesehatan jantung, mengurangi resiko terserang beberapa jenis kanker, dan memberikan dorongan positif terhadap kesehatan tubuh (Setyowati, 2012). Dapat dikatakan bahwa budidaya stroberi belum banyak dikenal dan diminati. Karena memerlukan temperatur rendah, budidaya di Indonesia harus dilakukan di dataran tinggi. Lembang dan Cianjur (Jawa Barat) adalah daerah sentra pertanian di mana petani sudah mulai banyak membudidayakan stroberi. Dapat dikatakan bahwa untuk saat ini, kedua wilayah tersebut adalah sentra penanaman stroberi. Pengembangan produksi stroberi di Indonesia belum mencapai optimal karena beberapa kendala yaitu: keadaan iklim yang kurang mendukung, teknik budidaya yang belum tepat, kultivar stroberi yang digunakan masih

berproduktivitas rendah, serta adanya serangan hama dan penyakit. Kendala produksi tersebut mengakibatkan rendahnya tingkat produktivitas. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas yaitu dengan memperbaiki pengelolaan teknik budidaya tanaman khususnya pemupukan. Pemupukan yang tepat akan menghasilkan buah yang berkualitas dan meningkatkan produktivitas tanaman.

BAB II ISI

A. Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Stroberi Tanaman stroberi termasuk dalam famili Rosaceae, genus Fragaria, spesies Fragaria sp. Tanaman stroberi memiliki batang pendek sekali, seolaholeh tidak berbatang. Daunnya trifoliata, tumbuh dekat tanah dan sebagai pelindung buah. Dari batangnya tumbuh sulur, sulur tersebut berakar dan berbunga pada dasar daun. Buahnya ialah buah agregat yang terdiri dari beberapa biji (achene) yang membengkak pada dasar biji. Apabila achene tersebut tidak terserbuk, buah tidak akan terbentuk. Ukuran dan berat buahnya berkolerasi dengan banyaknya achene yang serbuki (Ashari, 1995). Di daerah tropis seperti Indonesia, tanaman stroberi akan tumbuh dengan baik di daerah dengan ketinggian lebih dari 600 mdpl. Ketinggian tersebut, suhu udara optimum 17-20oC dan minimum 4-5oC. Pada suhu yang sejuk dan kelembapan udara relatif (RH) yang tinggi atau 80-90%, pertumbuhan stroberi akan baik karena tidak mengalami stress akibat tingginya suhu dan tingginya laju transpirasi (Kurnia, 2005). Derajat keasaman atau pH tanah yang ideal bagi tanaman stroberi adalah 5,8-6,5. Tanaman stroberi akan tumbuh dengan baik jika ditanaman dengan tanah yang kaya bahan organik. Tanah yang mengandung bahan organik tinggi memiliki porositas yang baik sehingga akar bisa tumbuh dengan optimal. Stroberi akan tumbuh dengan baik di tanah yang drainasenya baik. Kondisi tanah yang berdrainase buruk ditandai dengan sering muncul genangan air jika hujan atau setelah disiram (Kurnia, 2005). Drainase yang buruk dapat menghambat pertumbuhan stroberi yang nantinya akan berpengaruh negatif terhadap hasil produksinya. B. Kebutuhan Pupuk dan Pemupukan Pengembangan produksi stroberi di Indonesia belum mencapai optimal karena beberapa kendala yaitu: keadaan iklim yang kurang

mendukung, teknik budidaya yang belum tepat, kultivar stroberi yang digunakan masih berproduktivitas rendah, serta adanya serangan hama dan penyakit. Kendala produksi tersebut mengakibatkan rendahnya tingkat produktivitas. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas yaitu dengan memperbaiki pengelolaan teknik budidaya tanaman khususnya pemupukan. Pemupukan yang tepat akan menghasilkan buah yang berkualitas dan meningkatkan produktivitas tanaman. Pemupukan merupakan suatu usaha penyediaan nutrisi di dalam tanah, sehingga kebutuhan tanaman terpenuhi dan akhirnya tercapai produktivitas yang maksimal. Pemupukan yang tepat bertujuan untuk mencapai respon yang maksimal dari tanaman dengan pengurangan kehilangan nutrisi dan pembuatan keberadaan nutrisi pada waktu dan kecepatan dimana mereka dibutuhkan. Pupuk ialah bahan yang dapat memberikan hara bagi tanaman yang biasanya diberikan pada tanah dengan maksud untuk memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, tetapi pemberian hara tersebut dapat pula melalui daun atau batang sehingga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Menurut Nurhayati (1986), pemupukan ialah penambahan nutrisi baik bahan organik maupun bahan anorganik ke dalam tanah untuk mencukupi kebutuhan nutrisi tanaman. Biasanya dikatakan juga bahwa pemupukan adalah suatu kegiatan untuk menambahkan unsur hara yang diperlukan tanaman ke dalam tanah yang nantinya dapat menunjang penyediaan hara dalam tanah yang diperlukan bagi tanaman. Umumnya pupuk daun merupakan pupuk majemuk karena

mengandung unsur makro dan mikro. Kalium merupakan unsur hara yang berperan dalam pembentukan bunga, pembentukan karbohidrat, dan gula yang berfungsi untuk membuat kualitas bunga dan buah yang dihasilkan akan lebih baik, serta memperkuat kondisi tanaman agar tidak terserang penyakit (Purwa, 2007). Larutan nutrisi yang digunakan mengandung 12 unsur yaitu unsur makro (N, P, K, Ca, Mg dan S) dan unsur mikro (Fe, Mn, Cu, Mo dan B). Hal

tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman stroberi, sehingga tanaman dapat tumbuh secara optimum dan berproduksi secara kontinyu. Petani biasanya menggunakan tiga teknik pemupukan pada tanaman stroberi (Fragaria sp.), dengan penggunaan lima jenis pupuk dan satu jenis larutan nutrisi. Jenis pupuk yang digunakan dalam budidaya tanaman stroberi adalah pupuk kandang ayam, NPK (15:15:15), NPK (16:16:16), ZA, dan ZK. C. Faktor - Faktor yang Berpengaruh Terhadap Efektifitas Pemberian Pupuk Terdapat berbagai cara yang dilakukan untuk memberikan pupuk pada tanaman, agar memberikan hasil yang optimal harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Tepat dosis Untuk menentukan dosis pupuk yang akan diberikan tanaman harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Jenis tanaman Karena masing-masing tanaman membutuhkan unsur hara yang berbeda dalam jumlah dan jenisnya untuk tumbuh dan berproduksi maksimal. b. Kesuburan tanah Masing-masing tanah memiliki tingkat kesuburan yang berbeda, dimana tanah yang memiliki ksuburan rendah akan membutuhkan pupuk yang lebih banyak. c. Jenis pupuk Kandungan unsur hara masing-masing pupuk berbeda, oleh karena itu dalam menentukan dosis pupuk untuk tiap jenis tanaman perlu diperhatikan prosentase masing-masing unsur hara tiap pupuk yang digunakan.

d. Segi ekonomi Ditekankan untuk memberikan pupuk hingga tingkat optimum yang dibutuhkan tanaman, oleh karena itu dianjurkan pemberian pupuk secukupnya saja supaya menguntungkan dari segi ekonomi. 2. Tepat waktu Pengambilan unsur hara selama pertumbuhan tanaman tidak sama banyak, tergantung tingkat pertumbuhan tanaman. Ada waktu dimana tanaman tumbuh dengan sangat giat dan cepat sehingga pertukaran zat pun intensif. Pada masa tersebut tanaman akan banyak mengambil unsur hara. Waktu pemberian pupuk yang tepat tergantung pada beberapa hal seperti: a. Kebutuhan dan respon tanaman Pada pertumbuhan vegetatif tanaman banyak membutuhkan unsur N dan saat pertumbuhan generatif tanaman banyak membutuhkan unsur P. b. Kelarutan dan macam pupuk Ada pupuk yang sukar larut dan lambat tersedianya untuk tanaman dan ada yang cepat dan mudah tercuci oleh air. Untuk pupuk yang daya larutnya rendah seperti TSP sebaiknya diberikan sebelum dan pada saat tanam. Sedangkan yang daya larutnya sedang atau cepat seperti ZA, NPK, KCl diberikan pada waktu tanam dan pada saat tanaman sedang tumbuh dan sebaiknya diberikan sedikit demi sedikit dalam 2-3 kali pemupukan karena pupuk ini mudah tercuci. c. Keadaan iklim Sebelum unsur hara yang terkandung di dalam pupuk tersedia bagi tanaman, unsur tersebut harus melarut dulu sehingga butuh air yang cukup tapi tidak terlalu basah. Oleh karena itu dianjurkan untuk tidak melaksanakan pemupukan pada saat hujan lebat.

3. Tepat tempat Menurut Hardjowigeno (1995), cara penempatan pupuk juga harus diperhatikan pelaksanaannya. Pentingnya cara penempatan pupuk yaitu agar mudah diserap oleh tanaman dengan efisien, tidak merusak biji yang ditanam dan akar tanaman, serta dicari cara yang mudah dilakukan baik dari segi tenaga kerja dan segi ekonomis. Cara penempatan pupuk dapat disebar, disamping tanaman, disamping larikan, dalam larikan, bersama biji, pemupukan lewat daun dan lewat air irigasi atau fertigasi terutama untuk pupuk N atau pupuk lain yang mudah larut. 4. Tepat jenis Pemupukan harus tepat jenisnya sesuai dengan tanaman yang dibudidayakan dan kebutuhan nutrisi tanaman tersebut. D. Pengaruh Pemupukan Pada Produktivitas Tanaman Stroberi Hasil penelitian (Susilowati & Tujiyanta, 2008) menunjukkan bahwa penggunaan macam pupuk organik berpengaruh nyata pada jumlah tandan bunga dan berpengaruh sangat nyata pada jumlah bunga, jumlah buah, berat buah, dan berat per buah. Penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara dan air yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman. Air dan hara merupakan bahan baku untuk berlangsungnya proses fotosintesis pada tanaman. Pada proses fotosintesis, hasil fotosintesis akan ditransportasikan ke buah. Pembentukan buah merupakan hasil akumulasi asimilat yang dipengaruhi kemampuan tanaman melakukan fotosintesis. Dengan

fotosintesis maka terbentuk hasil fotosintesis yang diedarkan ke seluruh bagian tanaman yang memerlukan, termasuk untuk pembentukan tandan, bunga jumlah buah dan berat buah.

BAB III PENUTUP

Tanaman stroberi termasuk dalam famili Rosaceae, genus Fragaria, spesies Fragaria sp. Di daerah tropis seperti Indonesia, tanaman stroberi akan tumbuh dengan baik di daerah dengan ketinggian lebih dari 600 mdpl, suhu udara optimum 17-20oC, dan minimum 4-5oC. pH tanah yang ideal bagi tanaman stroberi adalah 5,8-6,5. Pada suhu yang sejuk dan kelembaban udara relatif (RH) yang tinggi atau 80-90%, pertumbuhan stroberi akan baik karena tidak mengalami stress akibat tingginya suhu dan tingginya laju transpirasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemupukan agar memberikan hasil yang optimal antara lain adalah tepat dosis, tepat waktu, tepat tempat, dan tepat jenis. Pemupukan tepat waktu mampu menghindarkan tanaman dari kekurangan unsur hara, sehingga kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi dan tanaman tumbuh dengan subur sehingga menghasilkan buah yang memiliki kualitas dan mutu yang tinggi. Penggunaan macam pupuk organik berpengaruh nyata pada jumlah tandan bunga dan berpengaruh sangat nyata pada jumlah bunga, jumlah buah, berat buah, dan berat per buah. Penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara dan air yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman. Air dan hara merupakan bahan baku untuk berlangsungnya proses fotosintesis pada tanaman. hasil fotosintesis yang terbentuk diedarkan ke seluruh bagian tanaman yang memerlukan, termasuk untuk pembentukan tandan, bunga jumlah buah dan berat buah.

DAFTAR PUSTAKA

Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kurnia, A. 2005. Petunjuk Praktis Budidaya Stroberi. Jakarta: Agromedia Pustaka. Nurhayati, dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas Lampung. Purwa. 2007. Petunjuk Pemupukan. Jakarta: Agromedia Pustaka. Setyowati, M. L. 2012. Teknik Pemupukan Tanaman Stroberi (Fragaria sp.) Untuk Memperoleh Hasil dan Mutu Tinggi. Seminar Umum Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Gadjah Mada, 1-16. Susilowati, Y. E. dan Tujiyanta. 2008. Penggunaan Macam Pupuk Organik Pada Hasil Beberapa Varietas Stroberi. Jurnal Penelitian Inovasi Vol. 30, No. 2, 126-139.

Anda mungkin juga menyukai