Anda di halaman 1dari 19

Refleksi Kasus

ILMU PENYAKIT MATA

Oleh:
Gunalan Khrisnan Hida Fitriana R.P Elsa Rosalina Dika Ambar Kusuma Indana Zulfa Zakia Adelia Kartikasari Anisa Prastiwi G0007513 G9911112076 G9911112061 G9911112053 G9911112080 G9911112003 G9911112017

Pembimbing dr. Rochasih, Sp.M.

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA

2013

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS Nama Umur Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Alamat Tgl pemeriksaan No. RM : Tn. A : 63 tahun : Laki-laki : Islam : Petani : Jl. Guntur 73, Kentingan, Jebres, Surakarta : 18 Februari 2013 : 989779

II. ANAMNESIS A. Keluhan utama :Mata kanan merah

B. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keluhan mata kanan merah sejak 5 hari yang lalu. Pasien juga mengeluhkan mata terasa gatal, mengganjal, mblobok (+), nrocos (+), nyeri (+), silau (-). Sebelumnya pasien sudah berobat ke Puskesmas, mendapatkan obat tetes mata dan keluhan sudah mulai berkurang tetapi masih merah dan perih.

C. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Hipertensi Riwayat Diabetes Mellitus Riwayat Trauma Riwayat Sakit Serupa : (+) : (+) : disangkal : disangkal

Riwayat Alergi Obat dan Makanan: disangkal Riwayat Memakai Kacamata : (+) sejak 5 tahun yang lalu

D. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Hipertensi Riwayat Diabetes Mellitus Riwayat Sakit Serupa : disangkal : disangkal : disangkal

E. Kesimpulan Anamnesis OD Proses Lokalisasi Sebab Perjalanan Komplikasi Radang Konjungtiva bulbi Belum diketahui Akut Radang Konjungtiva bulbi Belum diketahui Akut OS

III. PEMERIKSAAN FISIK A. Kesan umum KU : baik, compos mentis, gizi kesan cukup

B. Pemeriksaan Subyektif OD 1. Visus Sentralis Visus sentralis jauh Pinhole Koreksi 2. Visus Perifer Konfrontasi test Proyeksi sinar Tidak dilakukan Superior: normal Inferior: normal Temporal: normal Nasal : normal Persepsi warna Baik Tidak dilakukan Superior: normal Inferior: normal Temporal: normal Nasal : normal Baik 6/15 Tidak dilakukan Tidak dilakukan 1/60 Tidak dilakukan Tidak dilakukan OS

C. Pemeriksaan Obyektif OD 1. Sekitar mata Tanda radang Luka Parut Kelainan warna Kelainan bentuk 2. Pasangan Bola Mata dalam Orbita Heteroforia Strabismus Exophtalmus Enophtalmus 3. Ukuran bola mata Mikrophtalmus Makrophtalmus Ptisis bulbi Atrofi bulbi 4. Gerakan Bola Mata Temporal superior Temporal inferior Temporal Nasal Nasal superior Nasal inferior 5. Kelopak Mata Gerakan Lebar rima Dalam batas normal 10 mm Dalam batas normal 10 mm Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada OS

6. Tekanan Intra Okuler Palpasi Tonometer Schiotz 7. Konjungtiva Konjungtiva Palpebra Superior Oedem Hiperemis Sekret Konjungtiva Palpebra Inferior Oedem Hiperemis Sekret Konjungtiva fornix Oedem Hiperemis Sekret Konjungtiva bulbi Penonjolan Oedem Hiperemis Sikatrik Injeksi konjungtiva Injeksi siliar Sekret 8. Sklera Warna Penonjolan Putih Tidak ada Putih Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Ada Tidak ada kental kekuningan Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Ada Tidak ada kental kekuningan Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Kesan normal Tidak dilakukan Kesan normal Tidak dilakukan

9. Kornea Ukuran Limbus Permukaan Sensibilitas Keratoskop (Placido) Fluoresin Test Arcus senilis 10.Kamera Okuli Anterior Isi Kedalaman 11. Iris Warna Bentuk Sinekia Anterior Sinekia Posterior 12. Pupil Ukuran Bentuk Tempat Reflek direct Reflek indirect 13. Lensa Ada/tidak Kejernihan Letak Shadow test 14. Corpus vitreum Kejernihan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Ada Jernih Sentral Tidak dilakukan Ada Jernih Sentral Tidak dilakukan 3 mm Bulat Sentral (+) (+) 3 mm Bulat Sentral (+) (+) Coklat Reguler Tidak ada Tidak ada Coklat Reguler Tidak ada Tidak ada Jernih Dalam Jernih Dalam 12 mm Jernih rata, mengkilap Tidak dilakukan reguler Tidak dilakukan (+) 12 mm jernih rata, mengkilap Tidak dilakukan reguler Tidak dilakukan (+)

D. KESIMPULAN PEMERIKSAAN OD Visus sentralis jauh Pinhole Koreksi Sekitar mata 6/15 Tidak dilakukan Tidak dilakukan Dalam batas normal 1/60 Tidak dilakukan Tidak dilakukan Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Hiperemis Hiperemis Hiperemis, sekret mucopurulen, injeksi konjuctiva Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Tidak dilakukan OS

Pasangan Bola Mata dalam Orbita Dalam batas normal Ukuran bola mata Gerakan bola mata Kelopak mata Tekanan intra okular Konjungtiva palpebra Konjungtiva fornix Konjungtiva bulbi Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Hiperemis Hiperemis Hiperemis, sekret mucopurulen , injeksi konjuctiva Sklera Kornea Kamera oculi anterior Iris Pupil Lensa Corpus vitreum Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Dalam batas normal Tidak dilakukan

V. DIAGNOSIS BANDING ODS konjungtivitis ODS glaukoma ODS keratitis ODS uveitis

VI. DIAGNOSIS ODS konjungtivitis

VII. TERAPI Medikamentosa Floxa ED 6x ODS Ciprofloxacin 2 x 500 mg Na diclofenac 2 x 50 mg

Non medikamentosa Menjaga kebersihan mata Melindungi mata saat bepergian atau berinteraksi dengan orang lain agar tidak bertambah berat penyakit dan mencegah penularan

VIII. PLANNING Slit lamp NCT Flouresin test

IX. PROGNOSIS OD Ad vitam Ad sanam Ad fungsionam Ad cosmeticum Bonam Bonam Bonam Bonam OS Bonam Bonam Bonam Bonam

TINJAUAN PUSTAKA

I.

Definisi Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi pada konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang menutupi bagian berwarna putih pada mata dan permukaan bagian dalam kelopak mata. Konjungtivitis terkadang dapat ditandai dengan mata berwarna sangat merah dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak. Beberapa jenis Konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, tapi ada juga yang memerlukan pengobatan. Konjungtivitis dapat mengenai pada usia bayi maupun dewasa. Konjungtivitis pada bayi baru lahir, bisa mendapatkan infeksi gonokokus pada konjungtiva dari ibunya ketika melewati jalan lahir. Karena itu setiap bayi baru lahir mendapatkan tetes mata (biasanya perak nitrat, povidin iodin) atau salep antibiotik (misalnya eritromisin) untuk membunuh bakteri yang bisa menyebabkan konjungtivitis gonokokal. Pada usia dewasa bisa mendapatkan konjungtivitis melalui hubungan seksual (misalnya jika cairan semen yang terinfeksi masuk ke dalam mata). Biasanya konjungtivitis hanya menyerang satu mata. Dalam waktu 12 sampai 48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi merah dan nyeri. Jika tidak diobati bisa terbentuk ulkus kornea, abses, perforasi mata bahkan kebutaan. Untuk mengatasi konjungtivitis gonokokal bisa diberikan tablet, suntikan maupun tetes mata yang mengandung antibiotik1.

II.

Anatomi Konjungtiva Konjungtiva merupakan membran mukosa tipis yang membatasi permukaan dalam dari kelopak mata dan melipat ke belakang membungkus permukaan depan dari bola mata, kecuali bagian jernih di tengah-tengah mata (kornea). Membran ini berisi banyak pembuluh darah dan berubah merah saat terjadi inflamasi. Konjungtiva terdiri dari tiga bagian:

1. Konjungtiva palpebralis (menutupi permukaan posterior dari palpebra). 2. Konjungtiva bulbaris (menutupi sebagian permukaan anterior bola mata). 3. Forniks (bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian posterior palpebra dan bola mata). Meskipun konjungtiva agak tebal, konjungtiva bulbar sangat tipis. Konjungtiva bulbar juga bersifat dapat digerakkan, mudah melipat ke belakang dan ke depan. Pembuluh darah dengan mudah dapat dilihat di bawahnya. Di dalam konjungtiva bulbar terdapat sel goblet yang mensekresi musin, suatu komponen penting lapisan air mata pre-kornea yang memproteksi dan memberi nutrisi bagi kornea. Tanda konjungtivitis2 Gejala penting konjungtivitis adalah sensasi benda asing, yaitu tergores atau panas, sensasi penuh di sekitar mata, gatal dan fotofobia. Tanda penting konjungtivitis adalah hiperemia, epifora, eksudasi, pseudoptosis, hipertrofi papiler, kemosis (edem stroma konjungtiva), folikel (hipertrofi lapis limfoid stroma), pseudomembranosa dan membran, granuloma, dan adenopati preaurikuler.

III.

IV.

Klasifikasi konjuntivitis A. Konjungtivitis bakteri Konjungtivitis bakteri akut disebabkan oleh streptococcus,

corynebacterium diphtherica, pseudomonas, neisseria dan haemophilus. Gambaran klinis berupa konjungtivitis mukopurulen dan purulen. Pada kasus akut dapat juga menjadi kronis. Konjungtivitis bakteri ditandai hiperemi konjungtiva, edema kelopak, papil dan kornea yang jernih. Pada konjungtivitis yang disebabkan gonorrea, infeksi yang terjadi lebih berat, radang konjungtiva lebih berat dan disertai sekret purulen. Pada neonatus infeksi terjadi saat berada pada jalan lahir, ditularkan oleh

10

ibu yang menderita penyakit GO. Pada orang dewasa penularan melalui hubungan seksual. Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bakteri tergantung dari temuan agen mikrobiologisnya. Sambil menunggu hasil laboratorium, dapat diberikan antibiotik topikal. Setelah hasil laboratorium diperoleh, dapat diberikan terapi sistemik3.

B. Konjungtivitis virus 1. Demam faringokonjungtival Demam faringokonjungtival ditandai oleh demam 38,3-400C, sakit tenggorokan dan konjungtivitis folikuler pada satu atau dua mata. Folikuler sering pada kedua konjungtiva dan mukosa faring. Mata merah dan berair sering terjadi. Limfadenopati preaurikuler yang tidak nyeri tekan khas ditemukan pada demam faringokonjungtival. Penyakit ini berjalan akut dengan gejala hiperemi konjungtiva, folikel konjungtiva, sekret serous, fotofobia, kelopak bengkak dengan pseudomembran. Pengobatan spesifik tidak diperlukan karena dapat sembuh sendiri. Biasanya hanya diberi antibiotik dan terapi simtomatik3. 2. Keratokonjungtivitis epidemi Penyakit ini disebabkan oleh adenovirus 8 dan 19. Menyerang pada kedua mata. Tahap awal infeksi pasien merasa nyeri sedang dan mengeluarkan air mata diikuti 5-14 hari kemudian merasa fotofobia, keratitis epitel dan kekeruhan sub epitel. Pada penyakit ini khas ditemukan nodus preaurikuler yang nyeri tekan. Fase akut ditandai edema palpebra, kemosis dan hiperemi konjungtiva. Dapat juga terbentuk pseudomembran dan diikuti simblefaron2,3. Konjungtivitis epidemi berlangsung paling lama 3-4 minggu. Kekeruhan kornea ditemukan ditengah kornea dan menetap berbulanbulan namun dapat sembuh sempurna. Pada orang dewasa terbatas di

11

luar mata. Namun pada anak-anak dapat ditemukan gejala infeksi seperti demam, diare, otitis media. Terapi spesifik belum ada, namun dapat dikompres untuk

mengurangi gejala. Kortikosteroid sebaiknya dihindari. Antibiotik diberikan hanya bila terjadi infeksi sekunder. 3. Konjungtivitis virus herpes simpleks Biasanya dijumpai pada anak-anak. Ditandai hiperemi, iritasi, sekret mukoid, nyeri dan fotofobia ringan. Pada kornea tampak lesi epitelial yang membentuk ulkus yang bercabang banyak (dendritik). Vesikel herpes muncul pada palpebra dan disertai oedema yang berat. Nodus preaurikuler nyeri bila ditekan. Diagnosis pasti dengan ditemukannya sel raksasa pada pengecatan Giemsa, kultur virus dan sel inklusi intranuklear. Pengobatan yang sesuai dengan kompres dingin. Pengobatan saat ini yang biasa diberikan adalah asiklovir 400 mg/hari selama 5 hari. Steroid sebaiknya dihindari karena memperburuk infeksi herpes.

C. Konjungtivitis Chlamydia Konjungtivitis chlamydia juga disebut trakoma, disebabkan oleh Chlamydia trakomatis. Dapat menyerang segala umur tapi biasanya pada anak muda dan anak-anak. Cara penularan melalui kontak langsung dengan penderita. Inkubasinya berkisar selama 5-14 hari. Pada pewarnaan giemsa terlihat sel polimorfonukleat, tetapi juga dapat ditemukan sel plasma, sel leber dan sel folikel (limfoblas). Sel leber dapat menyokong diagnosa trakoma, tetapi sel limfoblas adalah tanda diagnosa yang penting bagi trakoma. Pasien biasanya mengeluhkan fotofobia, mata gatal dan berair. Penyakit ini mempunyai 4 stadium: 1. Stadium insipien Terdapat hipertrofi dengan folikel kecil-kecil pada konjungtiva palpebra superior, yang memperlihatkan penebalan dan kongesti

12

pembuluh darah konjungtiva. Sekret jernih dan sedikit bila tidak ada infeksi sekunder. Kelainan kornea jarang didapatkan. 2. Stadium established Terdapat hipertrofi papiler dan folikel yang matang dan besar pada konjungtiva palpebra superior. Dapat ditemukan pannus konjungtiva (pembuluh darah yang terletak di daerah limbus atas dengan infiltrat) yang jelas. Terdapat hipertrofi papil yang berat seolah-olah mengalahkan gambaran folikel pada konjungtiva superior. 3. Stadium parut Terdapat parut pada konjungtiva palpebra superior yang terlihat sebagai garis putih halus sejajar margo palpebra. Parut pada limbus kornea disebut lengkungan herbert. Gambaran papil mulai berkurang. 4. Stadium sembuh Pembentukan parut sempurna pada konjungtiva palpebra superior sehingga menyebabkan perubahan bentuk tarsus yang dapat mengakibatkan enteropion dan trikiasis. Pengobatan trakoma adalah dengan tetrasiklin salep mata, 2-4 kali sehari selama 3-4 minggu. Pencegahan dilakukan dengan vaksinasi dan menjaga higienie3. D. Konjungtivitis Alergi 1. Konjungtivitis vernalis Disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe I yang mengenai kedua mata dan bersifat rekuren. Pada kedua mata ditemukan papil besar dengan permukaan rata pada konjungtiva palpebra, rasa gatal yang berat, sekret gelatin berisi eosinofil, pada kornea terdapat keratitis, neovaskularisasi dan tukak indolen. Pada tipe limbal terdapat benjolan pada daerah limbus dan bercak Horner Trantas berwarna keputihan yang terdapat di dalam benjolan. Penyakit ini mengenai pada usia muda dan insidensi pada laki-laki sama dengan perempuan. Dua bentuk utama berupa:

13

Bentuk Palpebra Terutama mengenai konjungtiva palpebra superior. Terdapat pertumbuhan papil yang besar (Cobble stone) yang diliputi sekret mukoid. Konjungtiva palpebra inferior edema dan hiperemi, kelainan kornea lebih berat dari bentuk limbal. Papil tampak sebagai tonjolan bersegi banyak dengan permukaan yang rata dengan kapiler ditengahnya. Bentuk Limbal Hipertrofi papil pada limbus superior dapat membentuk jaringan hiperplastik gelatin, dengan Trantas dot yang merupakan degenerasi epitel kornea atau oesinofil pada bagian epitel limbus kornea, terbentuk pannus dengan sedikit eosinofil. Penyakit ini biasanya sembuh sendiri tanpa diobati. Dapat diberi kompres dingin, natrium bikarbonat dan vasokonstriktor. Bila terdapat tukak kornea dapat diberi antibiotik untuk mencegah infeksi sdekunder disertai siklopegik3. 2. Konjungtivitis flikten Merupakan konjungtivitis nodular yang disebabkan reaksi alergi tipe IV terhadap tuberkuloprotein, stafilokokus, limfogranuloma venerea, leismaniasis, infeksi parasit. Terdapat kumpulan sel leukosit netrofil dikelilingi sel limfosit, makrofag, dan kadang sel datia berinti banyak. Flikten merupakan infiltrasi seluler subepitel yang terutama terdiri atas sel limfosit. Biasanya terlihat unilateral dan kadang mengenai kedua mata. Di konjungtiva terlihat sebagai bintik putih dikelilingi daerah hiperemi. Gejalanya adalah mata berair, iritasi dengan rasa sakit, fotofobia ringan hingga berat. Bila kornea ikut terkena akan terjadi silau dan blefarospasme. Penyakit ini dapat sembuh dalam 2 minggu dan dapat kambuh, dan bila terkena kornea keadaan akan lebih berat. Pengobatannya adalah steroid topikal dan midriatik bila ada penyulit.

14

E. Konjungtivitis kimia atau iritan Asap, asam, alkali, angin dan hampir semua substansi iritan yang masuk ke saccus konjungtiva dapat menimbulkan konjungtivitis. Beberapa iritan umum adalah pupuk, sabun, deodorant, spray rambut, berbagai asam dan alkali. Di daerah tertentu, asap dan kabut dapat menyebabkan konjungtivitis ringan. Pada luka karena asam, asam mengubah sifat protein jaringan dan berefek langsung. Alkali tidak mengubah sifat protein dan cenderung cepat menyusup dan menetap dalam jaringan konjungtiva, merusak selama berjam-jam atau berhari-hari. Perlekatan konjungtiva bulbi dan palpebra dan leukoma kornea lebih besar terjadi bila penyebabnya alkali. Gejala utamanya adalah rasa sakit, pelebaran pembuluh darah, fotofobia dan blefarospasme. Pembilasan segera dan menyeluruh pada saccus konjungtiva dengan air atau larutan fisiologis. Dapat juga diberi kompres dingin selama 20 menit setiap jam, atropin 2 kali sehari,bila perlu beri analgetik sistemik. Parut kornea mungkin memerlukan transpalantasi kornea, simblefaron memerlukan bedah plastik. Luka bakar berat pada konjungtiva dan kornea prognosis buruk meskipun di bedah. Namun bila ditangani segera prognosisnya lebih baik.

15

PEMBAHASAN

Konjungtivitis (pink eye) merupakan suatu inflamasi pada konjungtiva. Penyakit ini ditandai dengan mata yang berwarna sangat merah dan menyebar begitu cepat sehingga dapatmengakibatkan kerusakan mata. Beberapa jenis Konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, namun ada juga yang memerlukan pengobatan. Pada kasus ini pasien didiagnosis dengan ODS konjungtivitis. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan ophtalmologi dan

pemeriksaan fisik. Pada anamnesis didapatkan mata kanan merah sejak lima hari yang lalu. Keluhan ini disertai dengan tanda-tanda inflamasi, seperti mata terasa gatal, mengganjal, nrocos, nyeri dan mblobok. Tidak didapatkan adanya pandangan silau. Sebelumnya pasien sudah berobat ke Puskesmas dan diberi obat tetes mata, namun karena keluhan tidak banyak berkurang pasien berobat ke RSD Dr. Moewardi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesan umum baik, composmentis, gizi kesan cukup. Pada pemeriksaan ophtalmologi didapatkan hiperemis pada konjungtiva superior, konjungtiva inferior dan forniks konjungtiva. Sedangkan pada konjungtiva bulbi didapatkan hiperemis, injeksi konjungtiva dan sekret kental kekuningan. Gejala-gejala tersebut mengarah pada proses infeksi. Pemeriksaan ophtalmologi yang lain, seperti pemeriksaan pada area sekitar mata, pasangan bola mata, ukuran bola mata, gerakan bola mata, kelopak mata, tekanan intraookuler, sklera kornea, COA, iris, pupil dan lensa dalam batas normal. Pada pemeriksaan refraksi didapatkan visus sentralis jauh 6/15 pada mata kanan dan 1/60 pada mata kiri. Jika menggunakan kacamata, visus mata kanan dan kiri 6/6. Pasien ini memiliki prognosis yang baik dari segi ad vitam, ad sanam, ad fungsionam maupun ad cosmeticum. Pada pasien ini diberi terapi antibiotik dan analgetik. Pemberian antibiotik pada pasien ini bertujuan untuk menghilangkan bakteri penyebab infeksi, sedangkan analgetik bertujuan untuk mengurangi nyeri. Antibiotik yang diberikan adalah antibiotik spektrum luas dengan tujuan untuk mengeradikasi pertumbuhan bakteri, baik bakteri gram positif maupun negatif.

16

Pada pasien ini diberikan terapi tetes mata Floxa yang diteteskan 6 kali sehari pada kedua mata yang merupakan antibiotic topikal, antibiotik oral ciprofloxacin 2x 500 mg, dan Na diclofenac 2 x 50 mg untuk meredakan nyeri. Edukasi perlu diberikan pada pasien ini, di antaranya adalah menjaga kebersihan mata serta melindungi mata saat bepergian atau berinteraksi dengan orang lain agar tidak bertambah berat penyakit dan mencegah penularan penyakit.

17

PENUTUP

A. Kesimpulan Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan ophtalmologi pasien didiagnosa dengan konjungtivitis. Adapun penatalaksanaan pasien ini adalah pemberian antibiotik spektrum luas dan analgetik. Pada pasien ini diberikan terapi tetes mata Floxa ED 6x ODS, Ciprofloxacin 2x 500 mg, dan Na diclofenac 2 x 50 mg. Konjungtivitis (pink eye) merupakan suatu inflamasi pada konjungtiva. Penyakit ini ditandai dengan mata yang berwarna sangat merah dan menyebar begitu cepat sehingga dapatmengakibatkan kerusakan mata. Beberapa jenis Konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, namun ada juga yang memerlukan pengobatan

B. Saran Menjaga kebersihan mata Melindungi mata saat bepergian atau berinteraksi dengan orang lain agar tidak bertambah berat penyakit dan mencegah penularan

18

DAFTAR PUSTAKA

1. http://blognyayoan.blogspot.com/2010/04/konjungtivitis.html 2. Vaughan, Daniel G.dkk. Oftalmologi Umum. Widia Medika. Jakarta.2000 3. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakata. 2009

19

Anda mungkin juga menyukai