Anda di halaman 1dari 25

METODE IP (INDUCED POLARIZATION) SEBAGAI SALAH SATU METODE EKSPLORASI GEOFISIKA DAN CONTOH APLIKASINYA

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Survey Elektromagnetik Dosen Pengampu : Dr. Wahyudi

Disusun oleh: Heru Bagus Hermawan (12/339650/PPA/03985)

PROGRAM STUDI S2 ILMU FISIKA BIDANG MINAT GEOFISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................ DAFTAR GAMBAR ........................................................................... BAB I. PENDAHULUAN ................................................................... A. Latar Belakang .................................................................... B. Ruang Lingkup .................................................................... C. Tujuan .................................................................................. BAB II. PEMBAHASAN .................................................................... A. Dasar Teori .......................................................................... B. Pengumpulan Data Lapangan .............................................. C. Alat-alat Survey ................................................................... D. Interpretasi Data .................................................................. E. Studi Kasus .......................................................................... BAB III. PENUTUP ............................................................................ A. Simpulan.............................................................................. B. Saran .................................................................................... DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... LAMPIRAN .........................................................................................

i ii 1 1 2 2 3 3 11 13 15 19 20 20 20 21 22

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kurva Efek Polarisasi Gambar 2. Polarisasi Membran Gambar 3. Polarisasi Elektroda Gambar 4. Rangkaian Ekivalen Medium Gambar 5. Konfigurasi Diferensial Schlumberger Gambar 6. Konfigurasi Dipole-Dipole Gambar 7. Grafik hasil IP (a) Perbandingan Time-Domain IP dengan FrequencyDomain IP Gambar 7. Grafik hasil IP (b) Fequency-Domain IP sulfida masiv Gambar 8. Kontur Time-Domain dan Frequency-Domain IP Gambar 9. Plot IP Pseudodepth Variabel Frekuensi (a) Konstruksi Grafis untuk Lokasi Titik Data Gambar 9. Plot IP Pseudodepth Variabel Frekuensi (b) Plot Pseudodepth untuk Data pada Gambar 7b Gambar 10. Contoh Model Dike Vertikal dan Dipping Dike

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Eksplorasi adalah penyelidikan geologi yang dilakukan untuk mengidentifikasi, menentukan lokasi, ukuran, bentuk, letak, sebaran, kuantitas, dan kualitas suatu endapan bahan galian untuk kemudian dapat dilakukan analisis/kajian kemungkinan dilakukannya penambangan. Tujuan utama dari kegiatan eksplorasi geofisika adalah untuk

membuat model bawah permukaan bumi dengan mengandalkan data lapangan yang diukur bisa pada permukaan bumi, di bawah permukaan bumi atau bisa juga di atas permukaan bumi dari ketinggian tertentu. Untuk mencapai tujuan ini, idealnya kegiatan survey atau pengukuran harus dilakukan secara terus-menerus, berkelanjutan, dan terintegrasi menggunakan sejumlah ragam metode geofisika. Dalam skala yang berbeda, metode geofisika dapat diterapkan secara global yaitu untuk menentukan struktur bumi, secara lokal yaitu untuk eksplorasi mineral dan pertambangan termasuk minyak bumi dan dalam skala kecil yaitu untuk aplikasi geoteknik (penentuan pondasi bangunan dan lain-lain). Beberapa metode geofisika yang sering digunakan dilapangan untuk keperluan eksplorasi diantaranya adalah: 1) Metode Gravity 2) Metode MT (Magnetotellurik) 3) Metode Resistivity 4) Metode Magnetik 5) Metode IP (Induced Polarization) 6) Metode SP (Self Potential) 7) Metode Seismik 8) Metode GPS

B. Ruang Lingkup Materi tentang metode eksplorasi sangat luas, oleh karena itu ruang lingkup materi yang akan disajikan dalam makalah ini adalah mengenai metode IP (Induced Polarization) sebagai salah satu metode eksplorasi geofisika dan contoh aplikasinya.

C. Tujuan Tujuan dari makalah ini adalah: 1) Mengetahui informasi mengenai metode IP (Induced Polarization), terkait prinsip kerja, manfaat dan metodologinya 2) Mengetahui contoh aplikasi metode IP (Induced Polarization)

BAB II PEMBAHASAN

A. Dasar Teori Metode polarisasi terinduksi (Induced Polarization / IP) adalah metode yang masih relatif baru dibandingkan metode lainnya dan sedang berkembang pesat terutama dalam bidang pertambangan yaitu eksplorasi mineral ekonomis dan geofisika lingkungan. Metode IP

sendiri merupakan bagian dari metode geolistrik yang menggunakan sumber buatan. Metode IP pada dasarnya adalah merupakan

pengembangan dari metode geolistrik resistivity dan metode IP terbukti mampu menutupi kelemahan-kelemahan metode resistivity pada berbagai kasus. Oleh karena metode IP merupakan pengembangan dari metode resistivity maka teknis dan cara pengambilan data atau pengukuran dilapangan tidak jauh berbeda. Metode IP sesuai dengan namanya mengukur adanya polarisasi di dalam medium karena pengaruh arus listrik yang melewatinya. Polarisasi umumnya banyak terjadi pada medium yang memiliki kandungan mineral logam (misalnya senyawa sulfida logam). Sehingga metode IP lebih banyak dan lebih tepat digunakan untuk eksplorasi mineral logam. Bila dalam medium banyak terjadi polarisasi karena pengaruh arus yang dilewatkan padanya, maka beda potensial terukur pada elektroda potensial tersebut tidak segera menjadi nol pada saat arus dimatikan, melainkan timbul potential decay yang akan menjadi nol dalam waktu beberapa detik atau sampai menit. Peristiwa ini bukan disebabkan oleh induksi elektromagnetik (karena induksi elektromagnetik akan hilang hanya dalam beberapa mikrodetik), tetapi disebabkan oleh proses elektrokimia yang terjadi pada daerah yang banyak mengandung senyawa logam. Efek polarisasi terinduksi merupakan elemen dasar yang terjadi pada metode IP, dimana gejala polarisasi terinduksi dapat diilustrasikan sebagai

berikut, jika suatu pengukuran tahanan jenis dengan konfigiurasi empat elektroda (standar), dimana pada elektroda arus (C1 dan C2) dialiri arus searah (DC) maka pada elektroda potensial (P1 dan P2) akan terukur beda potensial (V). Ketika aliran arus pada elektroda (C1 dan C2) dimatikan, pada waktu t0 maka nilai beda potensial tidak langsung kembali menjadi nol, melainkan secara perlahan mengalami penurunan beda potensial menuju nol. Grafik yang menggambarkan efek polarisasi terinduksi dapat dilihat pada gambar.

Gambar 1. Kurva Efek Polarisasi

Apabila arus listrik dialirkan ke dalam medium, maka terjadi penyimpanan energi di dalam medium dalam bentuk energi mekanik, energi listrik atau energi kimia. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa penyimpanan energi dalam bentuk energi kimia adalah hal yang paling penting dalam metode polarisasi. Pada saat arus listrik diputus maka energi yang tersimpan dalam medium akan dilepaskan kembali dalam bentuk energi listrik yang dalam metode IP terukur sebagai potential decay V(t). Energi yang tersimpan dalam medium mengakibatkan variasi mobilitas ion dalam larutan yang mengisi pori-pori batuan, atau variasi daya hantar listrik ionik dan elektronik bila dalam batuan terdapat mineral

logam. Efek polarisasi yang pertama disebut polarisasi membran, sedang yang kedua disebut polarisasi elektroda atau overvoltage.

Polarisasi Membran Polarisasi membran banyak terjadi pada batuan yang pori-porinya terisi dengan elektrolit dimana pori-pori tersebut juga terdapat mineral lempung. Mineral lempung umumnya bermuatan negatif, sehingga disekitarnya akan terkumpul ion-ion positif. Pada saat batuan dialiri arus listrik ion-ion akan bergerak, ion positif kearah katoda dan ion negatif kearah anoda. Adanya ion negatif dari lempung yang tidak dapat bergerak menyebabkan gerakan ion-ion tertahan, setelah arus diputus ion-ion akan kembali ke posisi seimbang memerlukan waktu beberapa detik.

Gambar 2. Polarisasi Membran

Sering kali polarisasi membran terjadi kontak permukaan mineral lempung bermuatan negatif akan menarik ion-ion positif sehingga membentuk awan ion positif disekitar permukaan mineral lempung dan meluas pada larutan. Jika pada kondisi ini kemudian dialiri arus listrik, maka akan terjadi penumpukan ion positif dan negatif di dekat permukaan mineral. Terbentuknya membran-membran tersebut akan mengurangi kemampuan mobilitas ion-ion secara signifikan.

Polarisasi Elektroda atau Overvoltage Polarisasi elektroda merupakan sumber polarisasi terbesar

disebabkan oleh keberadaan mineral logam dalam medium batuan. Penghantaran arus dalam medium batuan yang mengandung mineral logam dilakukan secara elektronik maupun elektrolitik. Reaksi kimia berupa reaksi reduksi-oksidasi dan kemungkinan pertukaran ionik akan terjadi pada bidang batas mineral dengan elektrolit sampai terjadi keadaan setimbang. Apabila arus dialirkan ke dalam medium, akan timbul gangguan kesetimbangan berupa polarisasi pada bidang batas mineral logam yang berfungsi sebagai elektroda dan air pada medium batuan yang berfungsi sebagai elektrolit. Bila dalam pori-pori batuan terdapat mineral logam dan elektrolit, maka pada bidang batas antara mineral logam dan elektrolit terjadi susunan muatan yang berlawanan membentuk suatu susunan kapasitor yang disebut dengan lapisan kembar listrik (electrical double layer). Pada saat batuan dialiri arus listrik ion-ion akan bergerak dan sebagian tertahan oleh adanya mineral logam. Pada bidang batas antara mineral logam dan larutannya akan terjadi reaksi-reaksi kimia yang menimbulkan potensial ekstra yang disebut dengan overvoltage. Besarnya overvoltage

dipengaruhi oleh besarnya arus dan lama arus yang melewatinya, overvoltage dapat bernilai positif atau negatif. Pada saat arus melewati butir-butir mineral logam, maka mineral akan terpolarisasi, karena efek elektrokimia maka satu sisi menjadi kutub positif sedang sisi lain menjadi kutub negatif, seperti dua buah elektroda, maka polarisasi ini disebut juga sebagai polarisasi elektroda. Overvoltage akan hilang secara perlahanlahan pada saat arus dimatikan, sehingga menimbulkan potential decay yang terukur pada elektroda potensial.

Gambar 3. Polarisasi Elektroda

Lapisan kembar listrik didefinisikan sebagai susunan muatan antar bidang batas mineral logam dengan air pada medium batuan. Susunan muatan ini dapat dianggap sebagai suatu kapasitor lempeng dengan rapat muatan .

Pengukuran dengan metode IP dilakukan dalam dua cara yaitu Time Domain IP, yaitu pengukuran polarisasi dengan menghitung harga potential decay; dan Frequency Domain IP, yaitu pengukuran polarisasi dengan mengukur harga resistivitas sebagai fungsi frekuensi arus yang dimasukkan ke dalam medium.

Time Domain IP (Polarisasi Terinduksi Kawasan Waktu) Arus listrik searah dimasukkan ke dalam medium melalui dua buah elektroda arus, kemudian diukur beda potensial pada dua elektroda potensialnya, selama arus masih mengalir dicatat beda potensial Vp. Arus listrik dialirkan selama beberapa detik untuk menimbulkan polarisasi dalam medium. Setelah arus dimatikan, pada elektroda potensial terukur adanya potential decay V(t). Arus listrik dialirkan pada arah yang

berlawanan, setelah arus dimatikan akan terjadi juga potential decay V(t), jadi dalam pengukuran selalu dilakukan urutan pemberian arus listrik positif (+), mati (nol) dan negatif (-). Parameter yang dihitung: Chargeability IP efek (%) ( ) ( ) ( )

Frequency Domain IP (Polarisasi Terinduksi Kawasan Frekuensi) Proses elektrokimia berlangsung lambat, sehingga bila arus bolakbalik dimasukkan kedalam medium yang polarisabel (banyak terjadi polarisasi), maka pada saat arus dengan frekuensi rendah dimasukkan ke dalam medium harga Vp terukur tinggi yang mencerminkan harga resistivitas tinggi, karena pemberian arus yang lama menimbulkan polarisasi yang besar. Sebaliknya polarisasi belum terjadi bila pemberian arus listrik searah hanya sebentar kemudian dibalik arahnya, atau dengan kata lain pemberian arus bolak-balik dengan frekuensi tinggi

menyebabkan harga Vp yang terukur lebih rendah sehingga mencerminkan harga resistivitas pada frekuensi tinggi lebih rendah. Parameter yang diukur (dihitung): Percent Frequency Effect (PFE)

l = resistivitas yang terukur dengan frekuensi rendah h = resistivitas yang terukur dengan frekuensi tinggi
Metal Factor

Rangkaian Listrik Ekivalen Medium Untuk menggambarkan watak medium yang polarisabel, sering diadakan pendekatan medium dengan rangkaian listrik yang terdiri dari resistansi, kapasitansi dan suatu komponen yang mempunyai harga resistansi sebagai fungsi frekuensi (impedansi). Rangkaian pada gambar berikut menunjukkan rangkaian ekivalen untuk polarisasi membran.

Gambar 4. Rangkaian Ekivalen Medium

Rangkaian ini terdiri dari resistansi ionik Rion, terpasang seri dengan resistansi ionik pada daerah membran Rion.p yang terpasang secara paralel dengan resistansi membran yang dituliskan dengan Warburg impedance Rw. Sebagai contoh pada batuan pasir yang mengandung lempung (clay bearing sandstone) mempunyai harga tipikal: Rion = 1000 ohm; Rion.p = 200 ohm; Rangkaian ekivalen untuk ( )

elektroda lebih rumit, karena adanya

komponen Cf yang menyatakan kapasitansi pada lapisan kembar listrik, Rm adalah resistansi daerah mineral, R adalah resistansi yang berhubungan dengan reaksi kimia pada bidang batas mineral dan larutan, Rw adalah 9

Warburg impedance yang harganya berbanding terbalik terhadap akar frekuensi. Pada umumnya harga Rw dinyatakan sebagai:

Parameter Cole-Cole Bila dipandang medium yang polarisabel sebagai suatu material dengan impedansi (resistansi yang besarnya tergantung pada frekuensi) maka analisis dengan menggunakan persamaan dispersi Cole-Cole dapat dipakai untuk menjelaskan peran harga chargeability dan time-constant dalam hubungannya dengan sifat mineral logam. Persamaan dispersi Cole-Cole: ( ) [ ( ( ) )]

R0 = resistansi batuan pada frekuensi rendah M = chargeability c = eksponen dari frekuensi

= 2f (f adalah frekuensi) = time-constant


Dari pengukuran di laboratorium harga c berkisar antara 0,1 sampai 0,5. Dengan harga 0,25 adalah yang paling banyak diperoleh. Sedangkan IP efek berkisar antara 0 sampai 1000 mV/V. Dalam praktek jarang dijumpai yang melebihi 500mV/V. Harga time-constant berkisar antara 1 milidetik sampai 10.000 detik. Alat receiver IP langsung menghitung parameter Cole-Cole dengan cara pencocokan dengan master decay curves yang dihitung secara teoritis untuk bermacam-macam harga c dan time-constant. Dalam praktek harga c memberikan informasi tentang distribusi grain-size dari partikel mineral logam sebagai sumber anomali IP. Harga maksimum c = 0,5 menunjukkan distribusi grain-size yang tunggal, sedang bila tidak tunggal harga c berkisar antara 0,25 sampai dengan 0,35. Harga parameter M, menunjukkan tingkat polarisabilitas mineral,

10

makin tinggi konsentrasi mineral yang polarisabel makin tinggi pula harga M. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa harga time-constant berhubungan langsung dengan grain-size dari mineralisasi sebagai sumber dari efek IP. Harga time-constant yang kecil menunjukkan bahwa butir (grain-size) dari mineral adalah halus, sebaliknya ukuran butir yang kasar ditunjukkan oleh harga time-constant yang besar.

B. Pengumpulan Data Lapangan Elektroda Dalam survey IP selalu dipakai elektroda porouspot sebagai elektroda potensialnya, dimaksudkan untuk mengurangi polarisasi pada elektrodanya sendiri. Sedangkan elektroda arus tetap menggunakan elektroda baja anti karat (stainless steel).

Konfigurasi Elektroda Survei IP biasanya menggunakan susunan elektroda Diferensial Schlumberger untuk pemetaan kearah lateral. Elektroda arus dipasang pada daerah survey pada jarak 2L, sedangkan elektroda potensial diletakkan diantara elektroda arus pada satu garis dengan jarak 2l, dimana 2l<<2L.

Gambar 5. Konfigurasi Diferensial Schlumberger

11

( (

) ( )

Untuk melakukan survey dua dimensi dilakukan dengan susunan elektroda dipole-dipole, yaitu elektroda arus C1&C2 diletakkan pada jarak a, sedang elektroda potensial P1&P2 juga berjarak a, diletakkan diluar elektroda arus dalam satu garis survey dengan jarak C2&P1 sebesar na, dimana n = 1, 2, 3, 4, 5, dst.

Gambar 6. Konfigurasi Dipole-Dipole

)(

Dengan penggambaran semacam ini maka diperoleh data-data pada dua dimensi sesuai harga n yang dipilih pada survey. Selanjutnya dapat dibuat kontur yang menunjukkan variasi resistivitas kearah lateral dan

12

kearah kedalaman. Karena kedalaman belum menunjukkan kedalaman yang sebenarnya, maka kontur ini disebut dengan pseudo depth section.

C. Alat-alat Survey Peralatan yang digunakan dalam survey geofisika metode IP sama dengan metode resistivity. Biasanya metode resistivity dan IP dilakukan bersamaan atau jika memungkinkan dilakukan juga survey geofisika metode SP. Secara umum alat yang digunakan adalah: (a) Transmitter Sebuah generator DC tegangan tinggi yang dapat menghasilkan gelombang kotak yang bervariasi. Terkadang juga generator AC bertegangan 110 atau 208 V, 400 Hz, dengan daya antara 1 sampai 10 kVA atau lebih. Umumnya transmitter portabel untuk time-domain juga ada yang berdaya 100 W, menggunakan baterai yang memungkinkan tegangan tinggi. (b) Receiver Penerima sinyal yang hasilkan oleh transmitter terhadap permukaan tanah. Sederhananya hanya voltmeter saja sudah cukup, hanya saat ini sudah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi yaitu menggunakan komputerisasi. (c) Time-domain Receiver Pada dasarnya sebuah integrator voltmeter dengan jangkauan dari DC sampai AC dengan frekuensi yang sangat rendah, untuk mengukur tegangan decay terhadap waktu. (d) Frequency-domain Receiver Setidak-tidaknya dan kadang-kadang beberapa, frekuensi dapat tersedia dari transmitter, dalam rentang 0,1 samapi 10 Hz. Tipe set lapangan beroperasi dari 0,3 dan 5 Hz frekuensi DC. Untuk frekuensi DC yang rendah lebih efisien untuk mengganti voltase DC dengan mechanical switching. Arus yang keluar 0-5% atau lebih. untuk dilakukan pengisian dan menghasilkan

13

(e) Magnetic IP Equipment (f) Spectral-phase Equipment (g) Electrodes and Cables Elektrode yang umum biasanya berbentuk tiang logam dalam kerja resistivitas. Kadang-kadang bila diperlukan untuk menggunakan aluminium foil dalam lubang dangkal. Pot yang berongga kecil sering digunakan untuk elektrodo potensial karena frekuensi yang rendah. Kabel arus harus dapat menahan voltase yang tinggi pada 5-10 kV. Pemancar IP Time Domain mengirimkan arus dengan cycle ON (+), OFF dan ON (-), gelombang semacam ini disebut Castle Waveform. Durasi (lama) pengiriman arus positif saat mati dan negatif sama dapat dipilih dari 1 sampai 32 detik, terdiri dari 6 pilihan yaitu 1, 2, 4, 8, 16 dan 32 detik. Besar arus yang dikirim dapat dipilih, sedang sumber daya menggunakan generator 5000 watt. Bagian penerima dapat mencatat 8 pasang dipole secara serentak. Parameter yang dicatat adalah tegangan primer Vp, self potensial SP, serta harga M (chargeability). Bila posisi elektroda, jarak dipole, dimasukkan sebagai input data, maka harga faktor geometri akan dihitung langsung oleh alat. Pemilihan durasi dari pengiriman arus (dari transmitter) harus dimasukkan sebagai data ke receiver agar pengukuran yang dilakukan oleh receiver dapat syncron dengan arus yang dikirim. Sebelum memulai pengukuran alat ini juga dapat menampilkan noise pada layar monitornya untuk setiap dipole, sehingga bila noise terlalu besar dapat dicari dulu penyebabnya sebelum memulai pengukuran. Selanjutnya alat ini dapat menghitung lebih lanjut parameterparameter untuk keperluan interpretasi yaitu true chargeability dan time constant (parameter Cole-Cole). Berikut bagian-bagian alat yang digunakan : IP Scintrex, meliputi : Motor Generator TSQ-4

14

Transmitter Control TSQ-3 Receiver Time Domain IPR-12 Peralatan Pendukung, meliputi : 1 gulung meteran @ 200 m 2 kabel gulung @ 200 m (kabel arus I) 5 kabel gulung @ 400 m (kabel potensial P) 2 elektroda arus (logam) 5 elektroda potensial (porous-pot) 1 perangkat tool set 1 buah multimeter 1 buah kompas geologi 3 buah Handy-Talky (HT) CuSO4 1 buah palu geologi 2 buah palu Buku lapangan dan alat tulis Payung

D. Interpretasi Data Interpretasi dalam metode IP masih dilakukan secara semikuantitatif yaitu dengan membandingkan hasil lapangan dengan model

(matematis/teori atau model fisis). Kenampakan hasil dari IP biasanya dibuat dalam profil yang mudah, metal factor atau efek persen frekuensi diplot sebagi ordinat berlawanan lokasi stasiun dibagian horisontal.

15

Gambar 7. Grafik hasil IP (a) Perbandingan Time-Domain IP dengan Frequency-Domain IP; (b) Fequency-Domain IP sulfida masiv

16

Gambar 7a menunjukan kesamaan anomali antara waktu dan frekuensi awal IP. Disana terdapat sedikit perbedaan antara frequency effect dengan metal factor. Bagaimanapun juga gambaran resistivitas agak berbeda untuk 2 metode. Ini mungkin disebabkan karena variabel frekuensi IP menggunakan double dipole spread, sedangkan pulse system menggunakan pole-dipole. Kenampakan ini diambil dari garis 29+00 dalam kontur pada Gambar 8. Dari ilustrasi 2 metode ini dapat menggambarkan hasil yang sama. Gambar 7b menggambarkan profil variabel frekuensi disebuah sulphide yang masiv yang tertutup tumpukan glacial yang merupakan konduktor yang baik.

Gambar 8. Kontur Time-Domain dan Frequency-Domain IP

Metode alternatif untuk menggambarkan yang telah digunakan dalam plotting IP untuk menggambarkan efek dari variabel jarak 17

elektroda, dikembangkan oleh Madden, Cantwell dan Hallof yang diilustrasikan dalam Gambar 8. Untuk deposit sulpida terdapat pada Gambar 7b. Nilai dari frekuensi effect dan apparent resistivity dari setiap stasiun diplot pada bagian vertical pada titik intersection 45o, dimulai dari titik tengah arus dan potencial electrode (double dipole array). Dengan cara ini nilai PFE tampak sebagai titik dibawah electrode spread ditengah pada jarak vertical yang menahan nilai n.

Gambar 9. Plot IP Pseudodepth Variabel Frekuensi (a) Konstruksi Grafis untuk Lokasi Titik Data; (b) Plot Pseudodepth untuk Data pada Gambar 7b

Hasil dari polarisasi induksi (IP) untuk beberapa bentukan seperti seperti bentuk bola, elipsoida dan bentuk dua dimensi seperti kontak vertikal, dike dan dua lapisan horizontal. Pengembangannya mirip dengan sistem resistivitas (tahanan). Memperlihatkan bahwa teori IP dan 18

resistivitas dapat berlaku pada bola dan elipsoida dengan tiga sumbu (dengan sumbu panjang vertikal). Dalam hal ini, pusat dari sistem adalah 2 unit di bawah permukaan dan tingkat kontras resistivitas Persamaan dari resistivitas diberikan dalam bentuk parameter IP diplot sebagai
( ( ) ) ( ( ) )

, sedangkan

Untuk interpretasinya salah satunya ditempatkan untuk mencocokan profil lapangan dari a dan Ma, terhadap kurva khusus. Kekontrasan resistivitas yang lebih besar tidak meningkatkan reaksi/jawaban

maksimum dari IP yang terlihat, padahal efek dari dip (untuk kasus elipsoida) tidak signifikan.

Gambar 10. Contoh Model Dike Vertikal dan Dipping Dike

E. Studi Kasus Pada makalah ini studi kasus yang dipilih terkait dengan metode IP sebagai salah satu metode eksplorasi geofisika adalah Studi Induced Polarization (IP) untuk Eksplorasi Mineral Mangan di Daerah Srati, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Namun penulis tidak akan membahasnya pada makalah ini, hanya melampirkannya saja.

19

BAB III PENUTUP

A. Simpulan 1. Metode polarisasi terinduksi (Induced Polarization / IP) adalah metode yang masih relatif baru dibandingkan metode lainnya dan sedang berkembang pesat terutama dalam bidang pertambangan yaitu eksplorasi mineral ekonomis dan geofisika lingkungan. Metode IP sendiri merupakan bagian dari metode geolistrik yang menggunakan sumber buatan. Metode IP pada dasarnya adalah merupakan pengembangan dari metode geolistrik resistivity dan metode IP terbukti mampu menutupi kelemahan-kelemahan metode resistivity pada berbagai kasus. Oleh karena metode IP merupakan

pengembangan dari metode resistivity maka teknis dan cara pengambilan data atau pengukuran dilapangan tidak jauh berbeda. Metode IP sesuai dengan namanya mengukur adanya polarisasi di dalam medium karena pengaruh arus listrik yang melewatinya. Polarisasi umumnya banyak terjadi pada medium yang memiliki kandungan mineral logam (misalnya senyawa sulfida logam). Sehingga metode IP lebih banyak dan lebih tepat digunakan untuk eksplorasi mineral logam. 2. Metode IP digunakan dalam eksplorasi geofisika terutama untuk mengeksplorasi mineral yang terkandung didalam perut bumi.

B. Saran Interpretasi data seharusnya dibuat lebih detail agar lebih mudah dipahami disertai juga contoh data lapangan dan bagaimana cara menginterpretasikan data lapangan tersebut.

20

DAFTAR PUSTAKA

Telford, dkk. 1990. Applied Geophysics. USA: Press Syndicate of the University of Cambrige Panduan Workshop Eksplorasi Geofisika (Teori dan Aplikasi) http://geoajeh.wordpress.com/2009/03/17/polarisasi-terinduksi/ diakses pada 09 Januari 2013 http://iputuarywijaya.blogspot.com/2009/07/metode-ip.html diakses pada 09 Januari 2013

21

LAMPIRAN

22