Anda di halaman 1dari 25

PAPER MATA KULIAH TOKSIKOLOGI VETERINER MIKOTOKSIN

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Toksikologi

Nama : Hidayatul Azizah Nim: 1209005041

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2013

KATA PENGANTAR Puji syukur saya haturkan kepada Allah SWT atas segala berkat dan kuasa-Nya, sehingga dapat diselesaikannya tugas paper ini guna memenuhi tugas mata kuliah Toksikologi yang judul Mikotoksin. Dalam penyusunan tugas ini, tidak sedikit hambatan yang saya hadapi. Namun saya menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan paper ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, dosen toksikologi dan temanteman saya. Sehingga kendala-kendala yang saya hadapi teratasi. Semoga paper ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Saya sadar bahwa paper ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Segala kritik dan saran sangat saya harapkan demi kebaikan dari paper ini, dan tak lupa penulis ucapkan terima kasih.

Denpasar, 13 Desember 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i DAFTAR ISI .................................................................................................. ii DAFTAR GAMBAR DAN TABEL.............................................................. iv BAB 1. PENDAHULUAN ........................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ......................................................................... 1 1.2. Rumusan Masalah ..................................................................... 2 1.3. Tujuan ....................................................................................... 3 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 3 2.1. Pengertian Mikotoksin .............................................................. 4 2.2. Jenis Mikotoksin yang Berpotensi Besar Dapat Menimbulkan Penyakit ............................................................. 4 2.2.1.Aflatoksin......................................................................... 5 2.2.2.Okratoksin A. ................................................................... 5 2.2.3. Fumonisin ........................................................................ 6 2.2.4. Patulin .............................................................................. 7 2.2.5. Deoksinivalenol (DON) .................................................. 8 2.3..Dampak Mikotoksin terhadap Kesehatan dan Produktivitas Hewan ................................................................. 8 2.4..Pencegahan dan Penanganan Mikotoksin ................................ 10 2.4.1.Pencegahan ...................................................................... 10 2.4.1.1. Kontrol Kadar Air............................................... 11 2.4.1.2. Penyimpanan Makanan Ternak .......................... 12 2.4.1.3. kondisi Tempat Menyimpan Pakan .................... 14 2.4.1.4. Kontrol Agar pakan Tetap Segar ........................ 15 2.4.1.5. Kebersihan Peralatan .......................................... 15 2.4.2. Penanganan. ..................................................................... 15 2.4.2.1. Penghambat Tumbuhnya jamur (Mold inhibitor) ................................................................... 15 2.4.2.2. Teknik Dekontaminasi........................................ 16 BAB 3. PENUTUP ........................................................................................ 19 3.1 Kesimpulan ................................................................................ 19 3.2 Saran .......................................................................................... 19 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 20

ii

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL Daftar Gambar Gambar 1. Bahan makanan yang dapat terkontaminasi oleh mikotoksin ...... 1 Gambar 2. Struktur Kimia Aflatoksin B1 ...................................................... 5 Gambar 3. Struktur Kimia Okratoksin A ....................................................... 5 Gambar 4. Struktur Kimia Fumonisin B1-B4 ................................................. 6 Gambar 5. Struktur Kimia Patulin ................................................................. 7 Gambar 6. Struktur Kimia Deoksinivalenol................................................... 8 Gambar 7. Kerusakan bahan baku pakan akibat Jamur penghasil Mikotoksin ..................................................................................................... 9 Gambar 8. Kerusakan organ yang terjadi akibat konsumsi mikotoksin pada unggas .................................................................................................... 10 Daftar tabel Tabel 1. Jamur dan Mikotoksin Penting pada Bahan Baku Pangan dan Pakan .............................................................................................................. 9

iii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Makanan merupakan sumber energi yang dibutuhkan oleh setiap makluk hidup yang ada di bumi ini untuk melangsungkan kehidupannya. Namun, makanan dapat menjadi sumber penyakit jika tidak memenuhi kriteria sebagai makanan baik, sehat dan aman. Berbagai kontaminan dapat mencemari bahan pangan dan pakan sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Perlu adanya pengawasan lebih mengenai sumber makanan sebagai

asupan nutrisi bagi hewan, mengingat besarnya pengaruh yang dapat ditimbulkan. Kualitas makanan yang sehat, bersih dan memenuhi asupan nutrisi yang diperlukan hewan sangatlah diharapkan. Kualitas makanan atau bahan makanan di alam ini tidak terlepas dari berbagai pengaruh seperti kondisi dan lingkungan, yang menjadikan layak atau tidaknya suatu makanan untuk dikonsumsi. Berbagai bahan pencemar dapat terkandung di dalam makanan karena penggunaan bahan baku pangan terkontaminasi, proses pengolahan, dan proses penyimpanan. Di antara kontaminan yang sering ditemukan adalah mikotoksin yang dihasilkan oleh jamur.

Gambar 1. Bahan makanan yang dapat terkontaminasi oleh mikotoksin Selama penyimpanan, makanan atau bahan makanan sangat mudah ditumbuhi oleh jamur. Iklim tropis yang dimiliki Indonesia dengan curah hujan, suhu dan kelembaban yang tinggi sangat mendukung pertumbuhan jamur

penghasil mikotoksin. Kontaminasi mikotoksin tidak hanya menurunkan kualitas bahan pangan/pakan dan mempengaruhi nilai ekonomis, tetapi juga

membahayakan kesehatan manusia dan hewan. Berbagai penyakit dapat ditimbulkan oleh mikotoksin, seperti kanker hati yang disebabkan oleh aflatoksin, salah satu jenis mikotoksin yang paling banyak ditemukan di negara beriklim tropis. Tumbuhnya mikotoksin dalam makanan ternak, sangat erat kaitanya dengan cara penyimpanan bahan makanan tersebut. Ditambah lagi iklim tropis yang dimiliki Indonesia dengan curah hujan, suhu dan kelembaban yang tinggi sangat mendukung pertumbuhan kapang penghasil mikotoksin. Kontaminasi mikotoksin tidak hanya menurunkan kualitas bahan pangan/pakan dan mempengaruhi nilai ekonomis, tetapi juga membahayakan kesehatan manusia dan hewan. Berbagai penyakit dapat ditimbulkan oleh mikotoksin, seperti kanker hati yang disebabkan oleh aflatoksin, salah satu jenis mikotoksin yang paling banyak ditemukan di negara beriklim tropis. Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis mencoba menulis mengenai jenisjenis mikotoksin, dampak yang dapat ditimbulkan oleh mikotoksin dan pencegahan dan penanganan mikotoksin. Sehingga yang dapat mengurangi

resiko terkontaminasi mikotoksin. 1.2. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam paper ini adalah: 1. Apa pengertian mikotoksin? 2. Apa saja jenis mikotoksin yang berpotensi besar dapat menimbulkan penyakit? 3. Bagaimana dampak mikotoksin terhadap kesehatan dan produktivitas hewan? 4. Bagaimana pencegahan dan penanganan mikotoksin?

1.3. Tujuan Adapun tujuan yang dapat disampaikan oleh penulis terkait dengan paper ini, yaitu: 1. Mengetahui pengertian mikotoksin 2. Mengetahui jenis mikotoksin yang berpotensi besar dapat

menimbulkan penyakit 3. Mengetahui dampak mikotoksin terhadap kesehatan dan produktivitas hewan 4. Mengetahui cara pencegahan dan penanganan mikotoksin

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Mikotoksin Mikotoksin adalah racun atau toksik hasil dari proses metabolisme sekunder yang dihasilkan oleh spesies jamur tertentu selama pertumbuhannya pada bahan pangan maupun pakan, yang menyebabkan perubahan fisiologis abnormal atau patologis manusia dan hewan. Mikotoksin mulai dikenal sejak ditemukannya aflatoksin yang menyebabkan Turkey X disease pada tahun 1960. Mikotoksin adalah metabolisme sekuder (hasil samping) yang diproduksi oleh jamur yang menempel pada produk-produk pertanian sebelum atau sesudah panen, selama penyimpanan, atau saat transportasi.Namun perlu diketahui bahwa keberadaan jamur tidak berarti bahwa ada toksin,oleh karena itu keberadaan mikotoksin harus diuji dengan cara kimiawi. Penting kiranya untuk mengetahui ada tidaknya mikotoksin dalam pakan, namun secara ekonomis pengujian ini cukup mahal.Pertumbuhan jamur dan produksi mikotoksin dipengaruhi oleh keadaan lingkungan/faktor luar.Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah aktifitas air, dan pH, sedangkan produk mikotoksin dipengaruhi oleh faktor suhu, kelembaban, ketersediaan oksigen, kerusakan bahan pakan, kondisi penyimpanan atau penanganan setelah panen. Tingkat toksisitas masing- masing mikotoksin berbeda-beda terhadap ternak tergantung dari breed, jenis kelamin, umur ternak. Diperkirakan hampir 25% produk komuditi pakan didunia terkontaminasi mikotoksin. Mikotoksin banyak dijumpai di bahan-bahan pakan, sepeti jagung, shorgum, gandum, jawawut, kacang tanah dan yang lainnya.

2.2. Jenis Mikotoksin yang Berpotensi Besar Dapat Menimbulkan Penyakit Hingga saat ini telah dikenal 300 jenis mikotoksin (Cole dan Cox, 1981), lima jenis diantaranya sangat berpotensi menyebabkan penyakit baik pada manusia maupun hewan, yaitu aflatoksin, okratoksin A, zearalenon, trikotesena

(deoksinivalenol, toksin T2) dan fumonisin. Menurut Bhat dan Miller (1991) sekitar 25-50% komoditas pertanian tercemar kelima jenis mikotoksin tersebut. Penyakit yang disebabkan karena adanya pemaparan mikotoksin disebut mikotoksikosis. 2.2.1. Aflatoksin

Gambar 2. Struktur Kimia Aflatoksin B1 Aflatoksin berasal dari singkatan Aspergillus flavus toxin. Toksin ini pertama kali diketahui berasal dari jamur Aspergillus flavus yang berhasil diisolasi pada tahun 1960. A. flavus sebagai penghasil utama aflatoksin umumnya hanya memproduksi aflatoksin B1 dan B2 (AFB1 dan AFB2) Sedangkan A. parasiticus memproduksi AFB1, AFB2, AFG1, dan AFG2. A. flavus dan A. parasiticus ini tumbuh pada kisaran suhu yang jauh, yaitu berkisar dari 10-120C sampai 42-430C dengan suhu optimum 320-330C dan pH optimum 6. 2.2.2. Okratoksin A

Gambar 3. Struktur Kimia Okratoksin A Okratoksin A mempunyai nomor CAS 303-47-9 berupa senyawa berbentuk kristal tidak berwarna dengan titik leleh 168 C dan larut dalam kloroform, metanol, asetonitril, natrium bikarbonat cair. Jenis mikotoksik ini pertama kali diisolasi pada tahun 1965 dari jamur Aspergillus ochraceus.

Secara alami A. ochraceus terdapat pada tanaman yang mati atau busuk, juga pada biji-bijian, kacang-kacangan dan buah-buahan. Selain A.ochraceus, OA juga dapat dihasilkan oleh Penicillium viridicatum (Kuiper-Goodman, 1996) yang terdapat pada biji-bijian di daerah beriklim sedang (temperate), seperti pada gandum di eropa bagian utara. P.viridicatum tumbuh pada suhu antara 0 310 C dengan suhu optimal pada 200C dan pH optimum 6 7. A.ochraceus tumbuh pada suhu antara 8 370C. Saat ini diketahui sedikitnya 3 macam Okratoksin, yaitu Okratoksin A (OA), Okratoksin B (OB), dan Okratoksin C (OC). OA adalah yang paling toksik dan paling banyak ditemukan di alam. 2.2.3. Fumonisin

Gambar 4. Struktur Kimia Fumonisin B1-B4 Struktur fumonisin ialah hidrokarbon panjang yang dihidroksilasi dan mengandung gugus metil dan amino dengan berat molekul 721. Substansi murni fumonisin berbentuk bubuk hidroskopik berwarna putih dan larut dalam air, metanol dan asetonitril-air. Fumonisin sulit larut dalam pelarut organik seperti kloroform. Fumonisin stabil dalam metanol jika disimpan pada -18 C atau pada suhu 25 C dalam asetonitril-air 1:1 selama lebih dari 6 bulan. Pada suhu diatas 25 C akan terdegradasi. Mikotoksin ini sering terdapat bersamaan dengan mikotoksin lain seperti aflatoksin, DON dan zearalenon. Fumonisin cukup stabil dan cukup tahan terhadap panas Fumonisin termasuk kelompok toksin fusarium yang dihasilkan oleh jamur Fusarium spp., terutama F. moniliforme dan F. proliferatum. Mikotoksin ini relatif baru diketahui dan pertama kali diisolasi dari F.

moniliforme pada tahun 1988 (Gelderblom, et al., 1988). Selain F. moniliforme dan F. proliferatum, terdapat pula jamur lain yang juga mampu memproduksi fumonisin, yaitu F.nygamai, F. anthophilum, F. diamini dan F. napiforme. Hingga saat ini telah diketahui 11 jenis senyawa Fumonisin, yaitu Fumonisin B1 (FB1), FB2, FB3 dan FB4, FA1, FA2, FC1, FC2, FP1, FP2 dan FP3. Diantara jenis fumonisin tersebut, FB1 mempunyai toksisitas yang dan dikenal juga dengan nama Makrofusin. FB1 dan FB2 banyak mencemari jagung dalam jumlah cukup besar, dan FB1 juga ditemukan pada beras yang terinfeksi oleh F.proliferatum. 2.2.4. Patulin

Gambar 5. Struktur Kimia Patulin Patulin berupa kristal tidak berwarna, dengan nama kimia 4-hidroksi4H-furo[3,2-c]piran-2(6H)-on dengan nomor CAS 149-29-1; titik leleh 110 C; larut dalam air, metanol, etanol, aseton, etil asetat, amil asetat, dietil eter, dan benzen; memiliki PTMDI 0,0004 mg/kg BB.Pada kondisi asam, patulin stabil meskipun dipanaskan sampai 100 C. Patulin dapat terdekomposisi pada air destilasi. Mikotoksin ini dihasilkan spesies jamur dari genus Penicillium dan Aspergillus seperti A.clavatus, P. expansum, P. patulum, P. aspergillus dan P.Byssochlamys yang dapat mengkontaminasi berbagai jenis buah (apel, anggur, pir), sayuran, sereal dan makanan ternak yang disimpan dalam

gudang. P. expansum terdapat pada jus apel dan apel dan merupakan sumber utama dari patulin.

2.2.5.

Deoksinivalenol (DON)

Gambar 6. Struktur Kimia Deoksinivalenol

Deoksinivalenol

(DON,

vomitoksin)

adalah

mikotoksin

jenis

trikotesena tipe B yang paling polar dan stabil. Jenis mikotoksin ini diproduksi oleh jamur Fusarium graminearium (Gibberella zeae) dan F. culmorum, dimana keduanya merupakan patogen pada tanaman. DON merupakan suatu epoksi-sesquiter-penoid yang mempunyai 1 gugus hidroksil primer dan 2 gugus hidroksil sekunder serta gugus karbonil berkonjugasi yang membedakannya dengan trikotesena tipe lain. Keberadaan DON kadang-kadang disertai pula oleh mikotoksin lain yang dihasilkan oleh Fusarium seperti zearalenon, nivalenol (dan trikotesena lain) dan juga fumonisin. DON merupakan salah satu penyebab terjadinya mikotoksikosis pada hewan. Merupakan mikotoksin yang stabil secara termal, oleh karena itu sangat sulit untuk menghilangkannya dari komoditi pangan yang rentan terkontaminasi senyawa ini, seperti pada gandum.

2.3. Dampak Mikotoksin terhadap Kesehatan dan Produktivitas Hewan Mikotoksikosis adalah keracunan yang diakibatkan oleh mikotoksin. Gejala yang timbul pada hewan tergantung dari status kesehatan hewan secara umum, umur, jenis kelamin, kecukupan nutrisi dalam pakan, kondisi lingkungan sekitar, stres akibat penyakit dan jumlah, tipe serta durasi terpapar oleh mikotoksin. Perbedaan sifat-sifat kimia, biologik dan toksikologik tiap mikotoksin menyebabkan adanya perbedaan efek toksik yang ditimbulkannya. Selain itu, toksisitas ini juga ditentukan oleh: (1) dosis atau jumlah mikotoksin yang

dikonsumsi; (2) rute pemaparan; (3) lamanya pemaparan; (4) spesies; (5) umur; (6) jenis kelamin; (7) status fisiologis, kesehatan dan gizi; dan (8) efek sinergis

dari berbagai mikotoksin yang secara bersamaan terdapat pada bahan pangan (Bahri et al., 2002). Pada konsentrasi yang tinggi, mikotoksin akan menyerang secara langsung organ spesifik seperti hati, ginjal, saluran pencernaan, sistem syaraf dan saluran reproduksi. Sedangkan pada konsentrasi yang rendah, mikotoksin dapat menurunkan pertumbuhan dan mengganggu kekebalan terhadap penyakit, menjadikan hewan ternak lebih rentan terhadap penyakit dan mengalami penurunan produktivitasnya.

Gambar 7. Kerusakan bahan baku pakan akibat Jamur penghasil Mikotoksin Tabel 1. Jamur dan Mikotoksin Penting pada Bahan Baku Pangan dan Pakan Jamur dan Mikotoksin Penting pada Bahan Baku Pangan dan Pakan Mikotoksin yang diproduksi Aflatoksin B1, B2, G1, G2 Aflatoksin B1, B2 T-2 Toksin Deoxynivalenol (nivalenol) Zearolenone Fusarium moniliforme (F. Verticilioides) Fumonisin B1 Penicillium verrucosum Okratoksin A Aspergillus ochraceus Okratoksin A Pakan yang terkontaminasi biasanya mengandung mikotoksin lebih dari satu, seperti zearalenone, aflatoxin, ochratoxin, citrinin, deoxynivalenol, T2 dan fumonisin. Kontaminasi dalam dosis besar mikotoksin secara tunggal dapat menyebabkan toksisitas akut pada ternak, namun dampak yang lebih signifikan pada kesehatan dan produktivitas terjadi jika kontaminasi yang terjadi diakibatkan oleh lebih dari satu mikotoksin. Spesies Jamur Aspergillus parasiticus Aspergillus flavus Fusarium sporotrichioides Fusarium graminearum

Gambar 8. Kerusakan organ yang terjadi akibat konsumsi mikotoksin pada unggas. Dampak negatif dari mikotoksin langsung terjadi sesaat setelah hewan mengkonsumsi pakan yang terkontaminasi. Mikotoksin akan menginduksi terjadinya kerusakan pada intestinal dengan cara degenerasi sel epitel, inflamasi, perlukaan dan hemoragi. Hal ini akan berdampak secara primer terhadap fungsi barrier dari epitel saluran pencernaan, meningkatkan suseptibilitas terhadap infeksi, meningkatkan kolonisasi bakteri patogen pada saluran pencernaan dan jika terserap mikotoksin akan menyebabkan kerusakan pada organ spesifik seperti hati, ginjal, saluran pencernaan, sistem syaraf dan saluran reproduksi. Hal ini menunjukan betapa pentingnya pencegahan terjadinya kerusakan pada saluran pencernaan dan organ spesifik lainnya dengan cara mengikat dan mencegah mikotoksin tersebut terserap oleh saluran pencernaan dan masuk ke dalam peredaran darah. 2.4. Pencegahan dan Penanganan Mikotoksin 2.4.1. Pencegahan Kontrol terhadap mikotoksin sangat penting dilakukan terutama bagi produsen peternakan dan pabrik pakan. Kontrol terhadap timbulnya jamur dapat dilakukan dengan menjaga kadar air di dalam pakan rendah, menjaga pakan selalu segar serta menjaga peralatan agar tetap bersih. Biji-bijian yang telah dikeringkan harus disimpan di tempat yang kering dimana kadar airnya kurang dari 14 % untuk mrncegah tumbuhnya jamur.Aliran udara atau venttilasi yang baik pada tempat penyimpanan pakan (biji-bijian)

10

Penting untuk mengurangi kadar air dan menjaga agar bahan pakan tetap kering. 2.4.1.1. Kontrol Kadar Air Kandungan air dalam pakan menjadi salah satu faktor utama akan berkembang nya jamur. Air yang terkandung didalam pakan didapat dari 3 sumber yaitu : 1. Kandungan pakannya. 2. Proses pakan di pabrik 3. Tempat dimana pakan disimpan Untuk mengendalikan kandungan kadar air maka ketiga faktor tersebut diatas harus diperhatikan. Jagung dan jenis biji-bijian lain merupakan bahan pakan yang tinggi kadar air dan sumber timbulnya jamur dalam pakan.Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah kontrol kadar air agar kadar airnya selalu rendah. Semua pakan mengandung kadar air tertentu , maka kadar air tersebut harus dimonitor dan dikontrol. Umumnya pada biji-bijian jarang timbul jamur, namun jika kondisinya memungkinkan maka jamur juga bisa tumbuh Biji-bijian yang ditumpuk maksimal kadar airnya adalah 15 %. Biji-bijian dengan kadar air yag tinggi memungkinkan tumbuhnya jamur akan tingi pula. Banyaknya jamur yang tumbuh pada biji-bijian yang pecah lima kali lebih banyak dibandingkan pada biji-bijian yang masih utuh. Proses penggilingan bahan pakan digunakan mesin penggiling untuk membantu pencampuran. Proses penggilingan menjadi pecahan ini menimbulkan panas.Jika tidak dikontrol, maka temperatur akan meningkat lebih dari 10 oF sehingga akan timbul titik-titik air. Titik-titik air ini menunjang tumbuhnya jamur. Hal ini juga dapat terjadi terutama jika udara dingin. sehingga perbedaan suhu ini menyebabkan air akan berkondensasi di 11

bagian dinding tempat peggilingan. Disarankan sintem penggilingan (hummer milk) disertai dengan menggunakan sirkulasi udara /ventilasi yang dapat menurunkan / mengurangi panas pada produk pakan dan mengurangi timbulnya titik-titik air. Proses pelleting pakan menggunakan uap air dengan penambahan panas dan penambahan air 3-5% dengan tekanan tertentu. Kemudian pellet tersebut didinginkan untuk menghilangkan panas dan mengurangi kandungan air. Jika proses pelleting dilakukan dengan tepat, maka kelebihan air dapat dikurangi. Namun jika kelebihan air ini tidak dapat dikurangi maka saat pendinginan pellet, dapat menumbuhkan jamur. Saat pendinginan pada proses pelleting,pellet yang masih panas yang keudian ditempatkan pada tempat yag dingin akan menyebabkan kondensasi pada bagian dinding. Hal ini perlu diperhatikan dengan baik, karena jika proses pelleting lambat, maka resiko timbulnya jamur juga akan tinggi. 2.4.1.2. Penyimpanan Makanan Ternak Penyimpanan bahan makanan sangatlah memegang peranan yang penting dalam menjaga kualitas makanan tersebut. Penyimpanan yang kurang tepat dapat menurunkan kualitas bahkan dapat berbahaya bagi kesehatan ternak. Sehingga diperlunya teknik penyimpanan yang tepat agar bahan kualitas bahan makanan tersebut tetap terjaga. Adapun cara-cara yang efektif untuk meyimpan makan ternak antara lain: 1. Hay Hay adalah hijau yang sengaja dipotong dan dikeringkan agar diberikan kepada ternak. Cara penimpanan makanan ini dilakukan dengan memotong (copper) hijauan yang kemudian langsung dijemur. Penjemuran dilakukan dengan disebarkan tipis dan setiap saat terus dibolak balik 2 jam. Usahakan pada penjemuran berlangsung dalam waktu singkat sehingga kadar air menjadi 15 20 %. Setelah kering dikumpul pres dan dikat tali untuk memudahkan tempat penyimpanan. Ciri-ciri hay yang baik

12

adalah warna hijau kekuningan, buanya harum,bentuk daun masih utuh.tidak berjamur. 2. Silage Silage merupakan hijauan yang disimpan dalam bentuk segar yang diawetkan dalam silo. Penyimpanan ini dilakukan dengan memotong hijauan agar berukuran pendek 6 cm agar memudahkan pemadatan dalam penyimpanan. Kemudian bahan itu dilayukan sampai kadar air 60 70 %. Selajutnya dicampur dengan bahan pengawet 4 5 % (dedak/tetas) dan dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam silo. Proses pemasukan campuran tadi akan terus berlangsung hingga silo tadi penuh. Agar silo benar-benar penuh, dalam pemasukan campuran tadi perlu diinjak-injak. Bila silo sudah penuh, permukaannya ditutup rapat sehingga udara dan air tidak dapat masuk. Silase yang baik memiliki ciri-ciri berasa dan berbau asam serta berwarna hijau bukan coklat. Selain itu dalam penyimpanannya silo tadi tidak dijemur tetapi diletakkan di tempat yang teduh. Tidak berlendir dan tidak bergumpal melupakan cirri-ciri lain kalo silo itu baik. 3. Amoniasa Amoniasi merupakan proses perombakan dari struktur keras menjadi struktur lunak. Selain itu pada proses ini juga terjadi penambahan unsure N dengan mengunakan gas (NH3) dari urea untuk meningkat kualitas dari limbah jerami. Peroses penyimpanannya hampir sama dengan silase. Yaitu dengan memasukkan jerami dimasuk kedalam silo sedikit demi sedikit sambil dinjak-injak agar menjadi padat. Sebagai bahan tambahan, larutan dalam ember berisi 400 liter air dengan memasukkan 60 kg urea didauk sampai seluruh urea larut. Kemudian siramkan larutan urea tersebut kedalam silo yang berisi jerami. Agar silo benar-benar kedap udara, tutuplah permukaan silo dengan plastik diikat dengan rapi. Setelah satu bulan silo dapat dibuka dan jerami sudah matang. Jerami tersebut harus diangikan selama 2 hari sebelum diberikan pada

13

ternak. Amoniasa yang baik memiliki cirri-ciri berbau urea (amoniak, memiliki struktur yang lembut dan tidak ditumbuhi jamur. 4. Jerami fermentasi Fermentasi merupakan proses perombahan dari struktur keras secara fisik, kimia dan biologi sehingga bahan dari struktur yang komplek menjadi sederhana. Hal ini akan membuat daya cerna ternak menjadi lebih efesien. Dalam proses pembuatannya, jerami 100 kg dibutuhkan starbio 6 kg dan urea 6 kg (0,6 %). Diawali dengan penyusunan jerami dengan ketebalan 30 cm pada tempat yang teduh. Kemudian tebarkan starbio dan urea sesuai dengan perbandingan secara merata. Siram dengan air bersih (digembor) secara merata diatas tebaran starbio dan urea (agar terjadi reaksi). Usahakan kadar air 60 %. Apabila jerami masih basah (baru disabit/dipotong) penyiraman air dilakukan tidak terlalu banyak. Penyiraman secara optimal dilakukan jika jerami sudah kering, agar air membasahi secara keseluruhan lapiasan jerami. Langkah 2,3,4 ini terus dilakukan secara silih berganti sampai jerami memenuhi tempat,minimal 1,5 meter tingginya. Setelah selesai menumpuk jerami tunggu waktu selama 21 hari, hasil jerami dibongkar dan dianginkan (jemur) agar buanya hilang. Hasil jerami fermentasi saiap diberiakan pada ternak (sapi,kambing,kerbau) dan ternak lain yang membutuhkan HPT atau untuk disiapkan untuk persediaan.untuk menghemat tempat penyimpanan dan memudahkan distribusi jerami fermentasi dipres memakai mesin pres jerami. 2.4.1.3. kondisi Tempat Menyimpan Pakan Untuk mengontrol pertumbuhan jamur, sumber timbulnya air dari tempat penampungan pakan dan peralatan penyimpanan perlu dihindari. Sumber air ini dapat timbul karena kebocoran tempat penyimpanan, bagian atap gudang atau atap tempat pengilingan. Timbulnya air pada pakan seringkali dilewatkan.Pada sistem perkandangan close house banyak dilakukan dengan memberikan rasa dingin yang menyebabkan kondisi

14

lingkungan lebih lembab. Kelembaban pada sistem perkandangan ini harus dikontrol dengan sistem ventilasi yang cukup. 2.4.1.4. Kontrol Agar pakan Tetap Segar Sebaiknya pakan yang diberikan ke ternak masih dalamkeadaan segar.Pakan seharusnya dikonsumsi habis maksimal dalam waktu 10 hari setelah pengiriman. Hal yan perlu dilakukan adalah mengatur sistem pengiriman pakan untuk memastikan bahwa pakan tersebut harus habis.Selain itu pemberian pakan sebaiknya diberikan secara bertahap.Ternak umumnya akan memakan pakan yang ada dibagian atas sedangkan pakan yang ada dibagian bawah telewatkan sehingga kemungkinan jamur bisa tumbuh. Untuk mencegah masalah ini, seharusnya pakan ditempat pakan dihabiskan sebelum datang pakan yang baru.Prinsip pengeluaran dari gudang juga sama yang biasa disebut dengan all in all aut 2.4.1.5. Kebersihan Peralatan Saat pakan dikirim ke farm, dimungkinkan terjadi kontak dengan pakan yang lama yang masih tertinggal pada saat penyimpanan pakan atau pengiriman pakan.pakan lama tersebut seringkali terdapat jamurnya dan jika kontak dengan pakan baru maka kesempatan jamur untuk tumbuh dan membentuk mikotoksin akan meningkat. Untuk mencegahnya, sisa pakan lama sebaiknya dibersihkan dahulu dari peralatan tersebut. 2.4.2. Penanganan 2.4.2.1. Penghambat Tumbuhnya jamur (Mold inhibitor) Penggunaan bahan kimia penghambat tumbuhnya jamur

merupakan salah satu cara yang baik digunakan dalam industri pakan. Tipe mold inhibitor utama antara lain adalah : 1. Asam organik atau kombinasi beberapa asam-asam organik

(Propionat, sorbat, benzoat, dan asam asetat) 15

2. Garam dari asam organik (contohnya : kalsium Propionat dan potasium sorbat) 3. Tembaga sulfat . Bahan-bahan kimia ini baik bentuk padat ataupun cair cara kerjanya sama dan menyebar rata keseluruh paka. Umumnya bentuk asam lebih efektif dibanding bentuk yang lainnya. Banyak faktor yang mempengaruhi keefektifan dari jamur, Mold inhibitor (penghambat jamur) efektif jika inhibitor ini didistribusikan secara merata keseluruh bagian pakan, yang berarti keseluruhan permukaan partikel pakan berkontak langsung dengan inhibitor ini seharusnya juga menembus partikel pakan sehingga bagaian dalam jamur dapat dihambat.ukuran partikel dari mold nhibitor ini seharusnya lebih kecil dari partikel pakan. 2.4.2.2. Teknik Dekontaminasi Upaya untuk mengatasi mikotoksin adalah dengan ekstraksi menggunakan pelarut organik, antara lain dengan kalsium klorida atau sodium bikarbonat atau dengan pemanasan dalam air garam. Penggunaan amonia atau monometylamine dan kalsium hidroksida juga efektif dalam mengatasi toksin tersebut. NaOCl bisa digunakan untuk dekontaminasi pada kacang tanah, formaldehid dan NaOH pada tepung kacang. Perendaman atau pencelupan kacang tanah dalam p-amino benzoat, kalium sulfit, kalium fluorida, ammonia 2%, asam propionat, Na-asetat, dan H2O2. Detoksifikasi dengan ammonia terhadap aflatoksin adalah sangat praktis dan mudah, sehingga banyak dipraktekkan. Toksin dapat juga dihancurkan dengan pemanasan, misal penggarangan kacang tanah pada suhu 150oC selama 30 menit akan mengurangi aflatoksin B1 sebanyak 80% dan aflatoksin B2 sebanyak 60%. Penggorengan dengan minyak pada kacang tanah pada suhu 204oC akan mengurangi kadar aflatoksin B1 dan G1 rata-rata 40 -50%, sedangkan aflatoksin B2 dan G2 akan menurun sebanyak 20 40%. Aflatoksin dianggap stabil terhadap pemanasan, karena pada pemanasan normal 16

(100oC) tidak menyebabkan perubahan. Demikian pula trikhotesen, zeralenon, khloratoksin dan patulin. Sedangkan sitrinin mudah dirusak oleh pemanasan. Pemanasan bertekanan (autoklaf) dapat juga mengurangi kadar aflatoksin. Pada autoklaf suhu 120oC bertekanan 15 lbs selama 4 hari pada tepung kacang dengan kelembaban 60% akan menurunkan kadar aflatoksin dari 7.000 mg/kg menjadi 340 mg/kg. Penyinaran dengan sinar ultra violet selama 45 detik bisa menghancurkan spora A. flavus. Akan tetapi penyinaran ini juga menyebabkan berkurangnya zat-zat gizi dalam bahan pakan. Bahan-bahan kimia tertentu, seperti diklorvos akan menghambat pembentukan aflatoksin pada gandum, jagung, beras dan kacang tanah. Pencegahan aflatoksin dapat dilakukan dengan penggunaan feed aditiv yang dicampurkan dalam bahan pakan , sehingga secara in vivo feed aditiv ini akan aktif melawan mikotoksin. Beberapa mineral dapat memiliki kemampuan mengabsorbsi atau menangkap molekul mikotoksin sehingga tidak berbahaya bagi ternak. Beberapa zat yang dapat bertindak sebagai feed aditiv antara lain activated charcoal, yeast produk dinding sel. Beberapa produk sintetik dapat digunakan, antara lain zeolit,

aluminosilikat dan Gamma Amino Butiric Acid (GABA). Zeolit aktif melawan aflatoksin T2.. Penambahan zeolit 2% sebanyak 1mg/kg bahan pakan terkontamina aflatoksin B1 akan menurunkan kadar aflatoksin dalam hati sampai 30-40%. Upaya menghindari pertumbuhan mikrobia pada bahan pakan bisa dilakukan dengan jalan menjaga kelembaban yang rendah, kurang dari 80% sehingga pertumbuhan fungi akan terhambat. Hindari suhu optimum untuk pertumbuhan fungi A. flavus maupun A. parasiticus, yaitu 25 40
o

C. Penyimpanan dalam keadaan kering, kira-kira kadar air 10-12%

terhadap bahan pakan sangat dianjurkan.

17

Pemilihan bahan pakan yang baik dan utuh, terhindar dari kelukaan atau kerusakan oleh serangan hama harus ditegakkan, karena serangan serangga merupakan predisposisi bagi pertumbuhan fungi pada bahan pakan tersebut. Pada jagung yang terserang serangga menunjukkan kandungan aflatoksin hampir 90%. Hindari pH 5,5 7,0 yang optimum untuk pertumbuhan A. flavus.

18

BAB 3 PENUTUP 3.1. Simpulan Simpulan dari penulisan paper ini adalah: 1. Mikotoksin adalah racun atau toksik hasil dari proses metabolisme sekunder yang dihasilkan oleh spesies jamur tertentu selama

pertumbuhannya pada bahan pangan maupun pakan, yang menyebabkan perubahan fisiologis abnormal atau patologis manusia dan hewan. 2. Mikotoksin yang ada sekarang sudah ditemukan lebih dari 300 jenis, namun ada 5 jenis yang berpotensi besar dapat menimulkan penyakit. Kelima jenis mikotoksin tersebut adalah: Femonisin, Patulin dan Oksinivalenol (DON). 3. Pada konsentrasi yang tinggi, mikotoksin akan menyerang secara langsung organ spesifik seperti hati, ginjal, saluran pencernaan, sistem syaraf dan saluran reproduksi. Sedangkan pada konsentrasi yang rendah, mikotoksin dapat menurunkan pertumbuhan dan mengganggu kekebalan terhadap penyakit, menjadikan hewan ternak lebih rentan terhadap penyakit dan mengalami penurunan produktivitasnya. 4. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengkontrol kadar air, cara Alfatoksian, Okratoksin A,

penyimpanan makanan ternak, kondisi tempat menyimpan pakan, kontrol agar pakan tetap segar dan kebersihan peralatan. Penanganannya dengan cara Penghambat Tumbuhnya jamur (Mold inhibitor) dan Teknik Dekontaminasi. 3.2.Saran-saran 1. Perlunya penelitian lebih lanjut, sehingga nantinya dapat ditemukan obat atau antitoksin dari mikotoksin. Mengingat hewan dapat juga memiliki peluang yang cukup besar terkena efek berbahaya dari mikotoksik. 2. Karena adanya kontaminasi mikotoksin tidak kasat mata, terlebih lagi pada makanan olahan, maka diperlu kewaspadaan dalam memilih makanan terutama bahan makanan atau makanan olahan yang telah disimpan dalam waktu lama.

19

DAFTAR PUSTAKA Ali, N., Sardjono, A. Yamashita, and T. Yoshizawa. 1998. Natural occurrence of aflatoxins and fusarium mycotoxins (fumonisins, deoxinivalenol, nivalenol, and zearalenon) in corn from Indonesia. Jakarta: Food Add Contaminant. 15: 377-384. Anonim. 2009. Batas Maksimum Kandungan Mikotoksik Pada Pangan. Jakarta: SNI. Ariana, Yana. 2013. Dampak Mikotoksin terhadap kesehatan dan produktivitas hewan serta solusi penanggulangannya. Jakarta: novindo. Badan POM.2008. Kontaminasi Mikotoksin Dalam Pangan dan Dampaknya Terhadap Kesehatan. Jakarta: Media Indonesia. Bahri, S., Ohim, Maryam, R. 1995. Residu aflatoksin M1 pada susu sapi dan hubungannya dengan keberadaan afaltoksin M1 pada pakan sapi. Bogor: Kumpulan Makalah Lengkap Kongres Nasional Perhimpunan Mikologi Kedokteran Manusia dan Hewan Indonesia I dan Temu Ilmiah. 21-24 Juli 1994. Hal: 269-275 Maryam, Romsyah. 2000a. Fumonisin: Kelompok mikotoksin Fusarium yang perlu diwaspadai. Jurnal Mikologi Kedokteran Indonesia 1(1): 51-57 Maryam, Romsyah. 2000b. Kontaminasi pada bahan pakan dan pakan ayam di Jawa Barat. Bogor : Presentasi poster pada Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Maryam, Romsyah. 2008. Mewaspadai Bahaya Kontaminasi Mikotoksin pada Makanan. http://mtmiftahulkhoir.wordpress.com/2008/08/05/mewaspadaibahaya-kontaminasi-mikotoksin-pada-makanan/. Diakses pada tanggal 13 Desember 2013 pukul 21.00 WITA. Maryam, Romsyah. 2006. Pengendalian Terpadu Kontaminasi Mikotoksin. Balai Pertanian veteriner. 16:1 Maryam, Romsyah. 1996. Residu Aflatoksin dan Metabolitnya dalam daging dan Hati Ayam. Bogor : Prosiding Temu Ilmiah Nasional Bidang Veteriner, 236-339. Miskiyah dkk. 2008. Pengendalian Aflatoksin Pada Pascapanen Jagung Melalui Penerapan HACCP. Jurnal Standardisasi Vol 10 No 1 Hal 1-10. Rahayu, Endang S. 2009. Mengantisipasi Bahaya Mikotoksin. http://ilmupangan.blogspot.com/2009/12/mengantisipasi-bahayamikotoksin.html. Diakses pada tanggal 13 Desember 2013 pukul 21.00 WITA.

20

Sudjadi, S., Machmud, M., damardjati, D.S., Hidayat, A., widowati, S., Widiati, A. 1999. Aflatoxin research in Indonesia. Elimination of Aflatoxin Contamiation in Peanut. Australian Centre for International Agricultural Research. Canberra, pp.23-25 Sismami, ayu. 2011. Mitotoksin. http://sismamiayu.blogspot.com/2011/10/ mitotoksin.html. Diakses pada tanggal 12 Desember 2013 pukul 21.00 WITA. Sudira, I Wayan dkk. 2013. Mikotoksin dan Penanganannya. Denpasar: Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Suprapta, Dewa Ngurah, dkk. 2012. Isolasi dan Identifikasi Jamur Penghasil Mikotoksin pada Biji Kakao Kering yang Dihasilkan diFlores. Program study bioteknologi pertanian program pasca sarjana universitas udayana. 1:1. Trisiwi. 1996. Identifikasi kapang penghasil mikotoksin pada pakan ayam pedaging dan petelur di kotamadya Bandar Lampung. Lampung: Universitas Lampung.

21