Anda di halaman 1dari 10

Identitas Buku: Judul Buku: Manajemen Bank Syariah (edisi revisi) Penulis: Dr. Muhammad, M.

Ag Penerbit: Unit Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Tahun terbit: Cetakan pertama September 2002 (edisi pertama) Cetakan pertama Februari 2005 Cetakan kedua Maret 2011 Tebal buku: 484 halaman

Rangkuman

Manajemen Risiko Pada Bank Syariah A. Pendahuluan Bisnis adalah suatu aktivitas yang selalu berhadapan dengan risiko dan return. Ban syariah adalah salah satu unit bisnis. Dengan demikian bank syariah juga akan menghadapi risiko manajemen bank itu sendiri. Bahkan jika dicermati mendalam, bank syariah merupakan bank yang sarat dengan risiko. Karena dalam menjalankan aktivitasnya banyak berhubungan dengan produk-produk bank yang mengandung banyak risiko. Demikian pula risiko yang diakibatkan karena ketidakjujran atau kecurangan nasabah dalam melakukan transaksi. Oleh karena itu, para pejabat bank syariah harus dapat mengendalikan risiko seminimal mungkin dalam rangka untuk memperoleh keuntungan yang optimum. B. Jenis-jenis Risiko Kredit Bisnis perbankan akan berhadapan dengan berbagai jenis risiko kredit, diantaranya adalah: 1. Risiko modal (capital risk)

Unsur lain dari risiko yang berhubungan dengan perbankan adalah risko modal yang mereflesikan tingkat leverage yang dipakai oleh bank. Salah satu fungsi modal adalah melindungi para penyimpan dana terhadap kerugian yang terjadi pada bank. Jumlah modal yang dibutuhkan untuk melindungi para penyimpan dana berhubungan dengan kualitas dan risiko dari asset bank. Asset bank dapat diklasifikasikan sebagai asset yang kurang berisiko atau asset berisiko. Risiko modal berkaitan dengan kualitas asset. Bank yang menggunakan sebagian besar dananya untuk mendanai asset yang berisiko perlu memiliki modal penyangga yang besar untuk sandaran bila kinerja aset-aset itu tidak baik. 2. Risiko Pembiayaan Risiko pembiayaan muncul apabila bank tidak bisa memperoleh kembali cicilan pokok dan/atau bungan dari pinjaman yang idberikannya atau investasi yang sedang dilakukannya. Penyebab utama terjadinya risiko pembiayaan adalah terlalu mudahnya bank memberikan pinjaman atau melakukan investasi karena terlalu dituntut untuk memanfaatkan kelebihan likuiditas, sehingga penilaian kredit kurang cermat dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan risiko usaha yang dibiayainya. Risiko ini dapat ditekan dengan cara memberikan batas wewenang keputusan kredit bagi setiap aparat perkreditan, berdasarkan kapabilitasnya dan batas jumlah pembiayaan yang dapat diberikan pada usaha atau perusahaan tertentu, serta melakukan diversifikasi. 3. Risiko Likuiditas a. Risiko likuiditas Likuiditas secara luas dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dana (cash flow) dengan segera dan dengan biaya yang sesuai. Likuiditas penting bagi bank untuk menjalankan transaksi bisnisnya sehari-hari, mengatasi kebutuhan dana yang mendesak, memuaskan permintaan nasabah akan pinjaman dan memberikan fleksibilitas dlam meraih kesempatan investasi menarik dan menguntungkan. Risiko likuiditas muncul manakala bank mengalami ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dana (cash flow) dengan segera, dan dengan biaya yang sesuai, baik untuk memenuhi kebutuhan transaksi sehari-hari maupun untuk memenuhi kebutuhan dana yang mendesak. Besar kecilnya risiko ini banyak ditentukan oleh:

Kecermatan perencanaan arus kas (cash flow) atau arus dana (fund flow) berdasarkan prediksi pembiayaan dan prediksi pertumbuhan dana-dana, termasuk mencermati tingkat fluktuasi dana-dana (volatility of funds). Ketepatan dalam mengatur struktur dana-dana termasuk kecukupan danadana non bagi hasil. Ketersediaan asset yang siap dikonversikan menjadi kas. Kemampuan menciptakan akses ke pasar antar bank atau sumber dana lainnya, termasuk fasilitas lender of last resort (pemberi pinjaman terakhir). b. Risiko Operasional Menurut definisi Basle Committee, risiko operasional adalah risiko akibat dari kurangnya (deficiencies) sistem informasi atau sistem pengawasan internal yang akan menghasilkan kerugian yang tidak diharapkan. Risiko ini berkaitan dengan kesalahan manusiawi (human error), kegagalan sistem, dan ketidakcukupan prosedur dan control. Dalam definisi ini dijumpai semua komponen yang relevan dengan risiko operasional yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Sistem informasi Pengawasan internal Kesalahan manusiawi Kegagalan sistem Ketidakcukupan prosedur dan control

Manajemen operasional merupakan area dimana industri-industri, sectorsektor yang penting dan para kompetitor betul-betul berkemauan untuk membagi informasi dan ide-ide. Setiap industry, sebagai lembaga individu, untuk mencapai sukses memerlukan lingkungan dan ekonomi yang stabil. Ada beberapa istilah yang sering digunakan dalam manajemen risiko operasional adalah sebagai berikut: Hazard Exposure Probability Risk Risk control Risk management Gambling

C. Manajemen Risiko Pembiayaan Bank Syariah

Pembiayaan bank syariah dilhat dari perolehan hasil, dikelompokkan menjadi dua, yaitu: (1) pembiayaan yang memberikan perolehan (hasil) tetap dan (2) pembiayaan yang memberikan perolehan (hasil) tidak tetap. Pembiayaan yang memberikan hasil tetap didapatkan dari pembiayaan berakad jual beli (tijarah) dan sewa-menyewa (ijarah). Sementara pembiayaan memberikan hasil tidak tetap didapatkan dari pembiayaan yang berakad bagi (syirkah). Berdasarkan dua hal tersebut, maka produk pembiayaan di bank syariah memberikan risiko yang berbeda antara akad yang satu dengan yang lainnya. yang yang hasil akan

Investasi atau bisnis yang dijalankan melalui aktivitas pembiayaan adalah aktivitas yang selalu berkaitan dengan risiko. Persoalannya adalah bagaimana investasi atau bisnis dalam pembiayaan tersebut mengandung risiko yang minimal. Risiko pembiayaan tersebut dapat diminimalkan dengan melakukan manajemen risiko secara baik. Manajemen risiko ini dapat diawali dengan melakukan penyaringan terhadap claon nasabah dan proyek yang akan dibiayai. Jika pembiayaan telah direalisasikan, pengendalian risiko pembiayaan dapat dilakukan dengan memberikan perlakuan yang sesuai dengan karakter nasabah maupun proyek. Dengan demikian, manjemen risiko pembiayaan dibank syariah sangat berkaitan dengan risiko karakter nasabah dan risiko proyek. Risiko karakter berkaitan dengan halhal yang berkaitan dengan karakter nasabah. Sementara risiko proyek berkaitan dengan karakter proyek yang dibiayai. Risiko karakter nasabah dapat dilihat dari aspek: 1. Faktor skill (keterampilan), meliputi: kefamiliaran terhadap pasar, mampu mengoreksi risiko bisnis, mampu melakukan usaha yang berkelanjutan, mampu mengartikulasikan bahasa bisnis. 2. Faktor reputasi (reputation), meliputi: track-record aik sebagai karyawan, memiliki track-record aik sebagai pengusaha, direkomendasikan oleh sumber terpercaya, memiliki jaminan usaha. 3. Faktor asal-usul (origin), meliputi: memiliki hubungan keluarga atau persahabatan dengan investor, sebagai pebisnis yang sukses, berasal dari kelas sosial terpandang. Sementara risiko proyek yang dibiayai dapat dilihat dari ciri-ciri atau atribut proyek. Cirri-ciri atau atribut proyek yang harus diperhatikan untuk meminimalkan risiko adalah sistem informasi akuntansi (pelaporan), tingkat return proyek, tingkat risiko proyek, biaya pengawasan, kepastian hasil dari proyek, klausul kesepakatan proyek, jangka waktu kontrak, arus kas perusahaan, jaminan yang disediakan, tingkat kesehatan proyek, prospek proyek.

Berdasarkan atribut-atribut tersebut, risiko proyek yang dibiayai dengan kontrak jual beli atau sewa-menyewa dapat terjadi karena: (1) kemungkinan terjadinya kebangkrutan bisnis (2) jaminan yang diberikan oleh nasabah atas besarnya pembiayaan yang diterima. Risiko kebangkrutan terjadi karena: 1. Risiko industry 2. Kondisi internal perusahaan nasabah 3. Faktor negatif lainnya yang mempengaruhi nasabah, seperti kondisi kelompok usaha, keadaan force majeure, dsb. Sementara itu, risiko yang berkaitan dengan jaminan dapat terjadi karena: 1. Kekurangsempurnaan pengikatan jaminan 2. Nilai jual kembali jaminan 3. Faktor negatif atas jaminan 4. Kredibilitas penjamin Berdasarkan atribut-atribut tersebut, risiko proyek yang dibiayai dengan kontrak bagi hasil atau syirkah dapat terjadi karena: 1. Risiko bisnis 2. Risiko berkurangnya nilai pembiayaan 3. Risiko karakter nasabah Risiko bisnis adalah risiko yang ditimbulkan karena kurang baiknya bisnis yang dijalankan. Dengan kata lain, bisnis tersebut prospeknya kurang bagus. Risiko ini dapat muncul karena: 1. Jenis usaha 2. Faktor negatif lain yang mempengaruhi perusahaan nasabah, seperti kondisi kelompok usaha, keadaan force majeure, dsb. Sedangkan risiko berkurangnya nilai pembiayaan atau shrinking risk, terjadi Karena pengaruh: 1. Risiko yang tak terduga oleh pengusaha 2. Jenis mekanisme bagi hasil 3. Keadaan force majeure yang dampaknya amat besar terhadap bisnis yang dibiayai. D. Masalah Agensi dalam Pembiayaan Bagi Hasil di Bank Syariah Kontrak mudharabah dijalankan oleh bank syariah, merupakan suatu kontrak peluang investasi yang mengandung risiko tinggi. Sebab model kontrak tersebut sarat

dengan asymmetric information. Asimetrik informasi adalah kondisi yang menunjukkan sebgian investor mempunyai informasi dan yang lainnya tidak memilikinya. Arismterik informasi yang dilakukan agen dalam kontrak keuangan biasanya berbentuk moral hazard dan adverse selection. Sadr dan Iqbal mengatakan: adverse selection terjadi pada kontrak utang ketika peminjam memiliki kualitas yang tidak baik atas kredit diluar batas ketentuan tingkat keuntungan tertentu, dan moral hazard terjadi ketika melakukan penyimpangan atau menimbulkan risiko yang lebih besar dalam kontrak. Tingkat adverse selection dan moral hazard adalah berhubungan langsung dengan tingkat asimetrik informasi dan ketidaklengkapan pasar. Sehubungan dengan itu, maka bank syariah harus memiliki alat screening untuk mengurangi asimetrik informasi yang akan terjadi dala pembiayaan mudharabah. Agar dalam kontrak mudharabah dapat diminimalkan risiko dan terjadi maksimal hasilnya. Maka pihak bank syariah perlu melakukan upaya-upaya pencegahan, misalnya melalui monitoring biaya dan proyek.

E. Mekanisme untuk Mengurangi Agensi dalam Kontrak Mudharabah Kontrak bagi hasil yang dalam islam disebut mudharabah/musyarakah merupakan hubungan kontrak antara dua pihak, yang diatur oleh syariah, dengan memadukan sumber daya manusia dengan sumber daya modal untuk menghasilkan profit dari proyek yang dijalankan dengan cara bagi hasil sesuai dengan kesepakatan. Dalam kontrak bagi hasil ini ada dua pihak yang saling berhubungan. Pihak pertama financier, yaitu orang yang menyediakan dana yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha dengan maksud untuk menghasilkan laba. Pihak kedua adalah usahawan (mudharib) yang memiliki keahlian dan sepenuhnya menjalankan peran usaha. Selanjutnya usahawan inilah yang melakukan dan pengawasan manajemen usahanya. Pendapatan yang diperoleh dari usaha tersebut dibagi diantara kedua belah pihak sesuai dengan nisbah yang disepakati kedua belah pihak, sebaliknya, jika usaha mengalami kerugian yang ditimbulkan karena proses normal, maka kerugian ditanggung oleh pemilik modal (shahibul maal). Kontrak bagi hasil tersebut diatas, jika dihubungkan dengan teori agency, maka ada persamaannya. Sehubungan dengan itu, Khail, Rickwood dan Muride menjelaskan: In an agency theoretical framework, however, the ideal risk and profit sharing contract relates to two parties who have identical probability beliefs with respect to the state of nature. One party is the insider (active) who is identified as the agent (entrepreneur); this party has knowledge about a risky profitable investment projct which they wish to undertake, but they have zero initial funds of finance it. The outsider

(passive) party is interpreted as the principal (bank), who provides the full initial funds needed to establish the project. Pihak pengusaha disebut insider, sementara pemberi modal adalah pihak outsider. Pihak insider diberikan hak aktif atas usaha, dan sebaliknya pihak outsider tidak. Hal ini akan berpengaruh terhadap hak kontrol terhadap aktivitas usaha. Dalam hal ini, labih lanjut Khail, Rickwood dan Muride menjelaskan: The control rights of the project exercised by the agent are the right to make decisions concerning investment and financial reporting, ant to know more about the probability distribution of the outcome of the project, given that these outcomes are unobservable by the principal. The bank can be viewed as a passive principal with neither the capability to detect the agents core attribute (skills, abilities, honesty, faithfulness, ect) costlessy, nor with sufficient power to control the project. In terms of the contact, the banks utility is represented in money only, whereas there is the inference that the agents rewards and costs additively with respect to money and effort. The effort is not costlessy observable by the bank. Hal itu juga yang diargumenkan bahwa kontrak mudharabah menunjukkan suatu kekuatan kontrak untuk memilih (nvestasi), ketika pada awalnya agen mengontrol proyek dan menikmati hak untuk membuat keputusan berkenaan dengan investasi dan distribusi berdasarkan arus kas. Ini memberikan kebebasan secara penuh kepada pengusaha atas asset, untuk dikelola sendiri tanpa menanggung risiko kerugian yang diakibatkan karena kerugian keuangan. Dalam kondisi demikian, dapat memberikan alasan bahwa pengusaha dapat dicirikan sebagai agen yang bebas dan dapat bertindak dengan sendirinya. Oleh Karena itu, kualitas dan karakteristk personal mudharib/pengusaha (agent) diharapkan menjadi kriteria penting untuk kontrak mudharabah. Selain itu juga kriteria proyek yang akan dibiayai. Jika karakteristik ini dapat diwujudkan, maka dapat mengurangi timbulnya masalah-masalah agency, sehingga kebijakan investasi mampu memberikan hasil yang optimal.

F. Religiusitas mudharib dan Masalah Agency dalam Kontrak Mudharabah Tingkat religiusitas adalah menunjuk pada kondisi keberagaman seeorang. Dalam konteks ini, religiusitas adalah keadaan dimana seoarng shahibul maal atau mudharib memiliki pengetahuan dan menjalankan ketentuan-ketentuan dalam kontrak mudharabah, meninggalkan prilaku riba dan melakukan pembayaran. Ketentuan ini diysaratkan untuk diikuti, dengan harapan dapat memperkecil masalah-masalah agency. Ketentuanketentuan tersebut dimungkinkan dapat membentuk perlaku kontrak mudharabah dapat

menjalankannya dengan benar dan dapat mengurangi atau mencegah terjadinya perilaku curang, seperti perilaku tidak jujur atau aktivitas lain yang dalam teori keuangan disebut dengn moral hazard. Dalam hubungan ini, Khail, Rickwood, dan Muride (2000) mengatakan bahwa: Placing emphasis on obedience to religious principles attemps to use the voluntary self constrain. It can benefit from informal policing by society at large acting as observers as well as observation by religion officials both informally and formally in the role as members of the shariah board. Evidence of this emphasis provided by contractual provisions may be expected in the face of the significant agrency problem. Prinsip-prinsip agama dapat digunakan sebagai pengendali diri, agar seseorang tidak berbuat bohong (hazard), tetapi mereka dapat jujur dalam menyampaikan hasil usaha yang diperoleh. Oleh karena itu, di bank syariah dibentuk Dewang Pengawas Syariah. Dewan ini yang melakukan tugas berkaitan dengan penegakan prinsip-prinsip syariah dalam kontrak keuangan di bank syariah. Dengan adanya dewan ini, diharapkan dapat membantu proses pengendalian timbulnya masalah agensi. G. Incentive Compatible dan Masalah Agensi dalam Kontrak mudhrabah Penyimpangan-penyimpangan berupa asymmetric information dalam kontrak mudharabah dapat diminimalisasikan, sehingga dapat mengoptimalkan hasil investasinya. Dalam kaitan ini Presley dan Session menunjukkan cara-cara untuk mengendalikan asimetrik informasi dalam kontrak mudharabah, yang dikenal dengan istilah incentive-compatile constraint Incentive-compatible constraint yang diajukan oleh Presley dan Session mencakup empat aspek: 1. 2. 3. 4. Higher stake of net worth High Operating risk firms have higher leverage Lower fraction of unobservable cash-flow Lower fraction of non-controllabe costs

Model yang disarankan oleh Presley dan Session tersebut kemudian diadopsi oleh Karim (2000) untuk mengendalikan peneraan pembiayaan mudharabah di BMI. Karim menjelaskan, bahwa untuk mengurangi kemungkinan terjadinya risiko asimetrik informasi (moral hazard), maka bank syariah (BMI) menerapkan sejumlah batasanbatasan tertentu ketika menyalurkan pembiayaan keada mudharib, yaitu:

1. Menerapkan batasan agar porsi modal dari pihak mudharib-nya lebih besar dan/atau mengenakan jaminan. 2. Menerapkan syarat agar mudharib melakukan bisnis yang risiko operasinya lebih rendah. 3. Menetapkan syarat agar mudharib melakukan bisnis dengan arus kas yang transparan. 4. Menetapkan syarat agar mudharib melakukan bisnis yang biaya tidak kontrolnya rendah. Batasan atau syarat tersebut diatas merupakan bagian dari proses monitoring dan supervise bank syariah atas pembiayaan mudharabah yang disalurkan. Hasil penelitian Sadr dan Iqbal (2000) menyimpulkan bahwa: dengan meningkatkan pengawasan dan pemantauan, meminimalisasi asimetrik informasi dapat memperkecil terjadinya masalah agensi. Sementara Ahmed menawarkan tiga cara untuk mengendalikan masalah agensi pada produk mudharabah, yaitu: 1. Fungsi pengembalian pembiayaan 2. Aturan-aturan auditing 3. Fungsi penghargaan atau hukuman

Kelebihan Kelebihan dari buku ini bila dibandingkan dengan buku Bank Islam, karangan dari Adiwarman A.Karim, S. E., MBA., M. A. E. P, yang diterbitkan di Jakarta oleh PT. RajaGrafindo Persada, edisi keempat, cetaka ke-7, 2010, dengan tebal buku 528 halaman. Yaitu, didalam buku ini diterangkan mengenai hal-hal yang tidak diterangkan dalam buku karangan Adiwarman. Seperi Masalah Agensi dalam Pembiayaan Bagi Hasil di Bank Syariah dan Mekanisme untuk Mengurangi Agensi dalam Kontrak Mudharabah, kemudian Religiusitas Mudharib dan Masalah Agensi dalam Kontrak Mudharabah. Selain itu, didalam buku ini juga diulas mengenai beberapa istilah-istilah yang digunakan dalam manajemen risiko di perbankan syariah, sehingga setidaknya dapat membantu pembaca untuk memahami dan tidak perlu susah payah membuka kamus yang berkaitan dengan hal itu.

Kekurangan Kekurangan buku ini yaitu: Didalam pendahuluan, isi yang disampaikan kurang jelas dan kurang lengkap, berbeda bila dibandingkan dengan buku Bank Islam, karangan dari Adiwarman A.Karim, S. E., MBA., M. A. E. P, yang diterbitkan di Jakarta oleh PT. RajaGrafindo Persada, edisi keempat, cetaka ke-7, 2010, dengan tebal buku 528 halaman. Didalam buku karangan Adiwarman tersebut didalam bab 12, disitu sudah gamblang dijelaskan mengenai pengertian, fungsi, dan tujuan dari manajemn risiko didalam bank syariah itu sendiri, sedangkan didalam buku ini tidak ada. Kemudian, dipandang dari isi pembahasan terkait dengan manajemen risiko pada bank syariah, didalam buku ini pembahasan-pembahasan yang menyangkut materi tersebut tidak lengkap selengkap yang terdapat dibuku karangan Adiwarman. Didalam buku karangan Adiwarman mengenai manajemen risiko bank syariah, terdapat di bab 12. Disitu dijelaskan mengenai karakter manajemen risiko pada bank syariah, sedangkan didalam buku yang saya resensi tidak dijelaskan mengenai hal itu. Kemudian selain itu, didalam buku karangan Adiwarman dijelaskan mengenai proses manajemen risiko pada bank syariah secara jelas, sedangkan dibuku karangan Dr. Muhammad tidak sedikit pun mengulas mengenai hal tersebut. Kemudian mengenai jenis-jenis risiko pada buku karangan Dr. Muhammad didalam ulasan awal disebutkan bahwa jenis-jenis risiko itu ada: risiko kredit, risiko likuiditas, dan risiko tingkat bunga. Tetapi disitu tidak dijelaskan, yang dijelaskan hanyalah mengenai jenis risiko kredit saja. sehingga membuat pembaca tidak paham. Sedangkan didalam buku karangan Adiwarman dijelaskan jenis-jenis risiko yang terkait dalam perbankan syariah, diantaranya: 1. Risiko pembiayaan, kemudian didalam risiko pembiayaan tersebut dibahas lagi mengenai: - risiko yang terkait dengan pembiayaan murabahah, - risiko yang terkait dengan pembiayaan ijarah, - risiko yang terkait dengan pembiayaan IMBT, - serta pembiayaan yang terkait dengan pembiayaa salam dan istishna. 2. Risiko pasar, didalam risiko pasar ini pun dijelaskan lagi mengenai risiko suku bunga, pertukaran mata uang, harga dan likuiditas. 3. Risiko operasional, didalam risiko operasional ini pun dijelaskan lagi mengenai risiko reputasi, kepatuhan, strategic, transaksi dan hukum. Selain itu didalam buku karangan Dr. Muhammad didalam setiap sub bab tidak diberi tanda/ciri untuk menandakan pembeda dari setiap sub bab, sehingga membuat pembaca bingung, bahkan apabila salah memahami ilmu yang didapatpun jadi keliru. Kesimpulan Berdasarkan hasil resensi dapat disimpulkan, bahwa dari kedua buku tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sehingga keduanya saling melengkapi.