Anda di halaman 1dari 123

Materi Ekonomi Teknik

62
BAB I
PENDAHULUAN


1.1 APA DAN MENGAPA EKONOMI TEKNIK ITU PENTING ?

Reaksi awal dari banyak orang teknik (engineer) terhadap pernyataan itu adalah
Urusan keuangan akan diurus oleh orang lain, bukan hal yang perlu kita
pikirkan. Dalam kenyataan, setiap proyek keteknikan tidak hanya harus mampu
untuk diwujudkan (realizable) secara teknis, melainkan juga harus layak
(feasible) secara ekonomis. Secara garis besar, agar rancangan teknik itu
berhasil, rancangan itu harus secara teknik sehat dan menghasilkan mamfaat.
Mamfaat-mamfaat itu harus lebih besar daripada biaya sehubungan dengan
rancangan agar rancangan itu dapat mempunyai keuntungan. Bidang studi
ekonomi teknik berurusan dengan evaluasi sitematis terhadap mamfaat dan
biaya dari proyrk-proyek yang melibatkan rancangan dan analisis keteknikan .
Dengan kata lain ekonomi teknik mengkuantifikasi mamfaat-mamfaat dan biaya-
biaya sehubungan dengan suatu proyek keteknikanuntuk menentukan apakah
proyek-proyek itu menghasilkan/ menghemat cukup banyak uang untuk
membenarkan invesatsi modal. Dengan demikian ekonomi teknik memerlukan
penggabungan analisis te n knis dan kelayakan ekonomis untuk menetapkan
arah tindakan terbaik yang harus diambil untuk berbagai sekenario keteknikan.

Ekonomi teknik diperlukan oleh insinyur perancangan dalam memilih jenis bahan
sampai denga chief executive officier yang memberi persetujuan terhadap
pemakaian modal untuk suatu usaha baru.

1.2 Apa saja prinsip-prinsip ekonomi teknik ?.

Perkembangan, studi, dan aplikasi dari setiap disiplin ilmu harus dimulai dengan
pondasi dasar. Kita mendepenisikan pondasi untuk ekonomi teknik sebagai
suatu himpunan prinsip-prinsip, atau konsep-konsep dasar, yang menyediakan
doktrin komprehensif dalam mengembangkan metodologinya. Prinsip-prinsip
ekonomi teknik terdiri darai :

Materi Ekonomi Teknik

63
1. Kembangkan alternatif-alternatif
Pilihan (keputusan) ada di antara alternatif-alternatif. Alternatif-alternatif
perlu diidentifikasi dan kemudian didefinisikan untuk analisis-analisis
selanjutnya.
2. Berfokuslah pada perbedaan-perbedaan
Hanya perbedaan-perbedaan dalam hasil-hasil masa depan yang
diharapkan yang relevan dengan perbandingannya dan yang harus
dipertimbangkan dalam keputusan ini.
3. Gunakan sudut pandang yang konsistem
Hasil-hasil yang propestif dari alternatif-laternatif, ekonomi dan lainya,
harus dikembangkan secara konsisten dari suatu sudut pandang
(perspektif) yang telah didefinisikan.
4. Gunakan satuan pengukuran yang umum
Dengan menggunakan pengukuran yang umum untuk menghitung
sebanyak mungkin hasil-hasil prospektif akan mempermudah analisis dan
perbandingan alternatif-alternatif yang didapat.
5. Pertimbangkan semua kriteria yang relevan
Pemilihan alternatif (pengambilan keputusan) yang disukai memerlukan
penggunaanb suatu (atau beberapa) criteria. Proses keputusan ini harus
mempertimbangkan baik hasil yang dinyatakan dalam satuan moneter
maupun yang dinyatakan dalam suatu satua pengukuran yang lain atau
dibuat ekspelit secara deskriptif.
6. Bentuk ketidakpastian menjadi eksplisit
Ketidakpastian terkandung langsung (inherent) dalam memproyeksikan
(atau memperkirakan) hasil-hasil alternatif di masa dating dan harus
dikenali dalam analisis dan perbandingannya.
7. Tinjaulah kembali keputusan-keputusan anda
Tingkatkan hasil-hasil pengambilan keputusan, dari suatu proses
penyesuaian (adaptive process) ke tingkat kepraktisan yang luas, hasil-
hasil yang diproyeksikan semula dari alternatif terpilih harus kemudian
dibandingkan dengan hasil-hasil sebenarnya yang dicapai.

Materi Ekonomi Teknik

64
Dalam melakukan usul suatu proyek yang berhubungan dengan keteknikan,
maka timbul pertanyaan-pertanyaan untuk ditinjau :
- Mengapa melakukan hal ini ?
- Mangapa melakukannya sekarang ?
- Mengapa melakukannya dengan cara itu ?

Mengapa melakukan hal ini ? haruskah kegiatan baru yang diusulkan
dilaksanakan ?. Haruskan kegiatan yang ada diperluas, dikurangi, atau
ditinggalkan ?. Haruskah standar yang ada atau prosedur operasi diperbaiki ?.

Mengapa melakukan sekarang ?. harus kita bangun sekarang dengan
kapasitas berlebihan yang melebihi permintaan, atau hanya dengan kapasitas
untuk memenuhi kebutuhan yang segera dalam prospeknya ?. Apakah biaya
modal dan kondisi bisnis lainnya menguntungkan bagi pembangunan saat ini ?.

Mengapa melakukannya dengan cara ini ?. Pilihan ini diantara cara alternatif
mengerjakan hal yang sama adalah biasa untuk segala macam kegiatan teknis.

1.3 Ekonomi Teknik dan Proses Rancangan

Suatu studi ekonomi teknik dilakukan dengan menggunakan suatu prosedur
terstruktur dan teknik-teknik pemodelan secara matematis. Hasil-hasil
ekonominya kemudian digunakan dalam suatu situasi keputusan yang
melibatkan dua alternatif atau lebih dan biasanya mencakup pengetahuan dan
masukan teknik.
Menurut Middendorf (1986), perancangan teknik (engineering design)
merupakan suatu kegiatan pengambilan keputusan yang iterative, yang disini
informasi ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan untuk menghasilkan suatu
sistem, alat, atau proses yang berbeda, dalam tingkat tertentu, dari apa yang
oleh perancang diketahui sudah dikerjakan sebelumnya dan dimaksudkan untuk
mengetahui kebutuhan manusia.

Hubungan antara prosedur analisis ekonomi dan proses perancangan teknik
sebagai berikut :
Materi Ekonomi Teknik

65

Prosedur Analisis Ekonomi
Langkah

1. Mengenal, merumuskan, dan mengevaluasi masalah.
2. Pengembangan alternatif-alternatif yang layak
3. Pengembangan aliran kas untuk masing-masing alternatif
4. Pemilihan suatu criteria (atau criteria-kriteria)
5. Analisis dan perbandingan dari aternatif-alternatif
6. Pemilihan alternatif yang disukai
7. Pemantauan kinerja dan pasca evaluasi

Proses Perancangan Teknik
Kegiatan

1. Masalah/defenisi keperluan
2. Masalah/formulasi dan evaluasi keperluan
3. Sintesis-sintesis dari solusi-solusi yang mungkin (alternatif-alternatif)
4. Analisis, optimasi, dan evaluasi
5. Spesifikasi dari alternatif yang disukai
6. Komonikasi


1.4 Defenisi Masalah

Tidak cukup sederhana untuk memikirkan suatu pertanyaan atau situasi yang
membingungkan. Sebaliknya, suatu masalah harus dimengerti dengan baik dan
dinyatakan secara eksplisit tegas sebelum insinyur melangkah pada analisis
selanjutnya. Langkah pertama dari prosedur analisis ekonomi teknik (definisi
masalah) adalah sesuatu yang sangat penting, karena langkah ini akan menjadi
basis untuk analisis selanjutnya.

Istilah masalah disini digunakan secara umum. Masalah mencakup semua
situasi keputusan yang untuk itu suatu analisis ekonomi teknik diperlukan.
Materi Ekonomi Teknik

66
Pengenalan masalah biasanya dirangsang oleh kebutuhan-kebutuhan atau
keinginan-keinginan internal atau eksternal organisasi. Suatu masalah
pengoperasian di dalam suatu perusahaan (kebutuhan internal) atau suatu
harapan pelanggan terhadap suatu produk atau jasa (kebutuhan eksternal)
merupakan contoh-contohnya. Begitu dikenal, perumusan masalah itu harus
dipandang dari perspektif sistem. Dengan demikian, batas-batas atau luasnya
situasi perlu didefinisikan secara cermat, yang berarti menetapkan elemen-
elemen masalah dan apa yang menyusun lingkungannya.

Evaluasi masalah itu mencakup penyempurnaan kebutuhan-kebutuhan dan
keinginan-keinginan, dan informasi dari fase evaluasi dapat mengubah rumusan
asli masalah. Dalam kenyataannya, pendefinisian ulang masalah itu kiranya
merupakan bagian yang paling penting dari proses pemecahan masalah.

1.5. Pencarian Alternatif-Alternatif

Dalam pembahasan mengenai prinsip 1, kreativitas dan kekayaan sumber daya
ditekankan sebagai sesuatu yang sangat penting untuk pengembangan
alternatif-alternatif yang layak. Perbedaan antara alternatif-alternatif baik dan
alternatif-alternatif hebat sangat tergantung pada efisiensi pemecahan masalah
suatu individu atau kelompok. Efisiensi semacan ini dapat ditingkatkan dengan
cara-cara sebagai berikut :
1. Kembangkan banyak pendefinisian ulang untuk masalah dalam prinsip 1
2. Berkonsentrasi pada pendefinisian ulang satu masalah pada setiap saat
3. Hindari membuat penilaian sewaktu definisi-defenisi masalah baru
terbentuk.
4. Usahakan untuk mendefinisikan kembali suatu masalah dalam cara yang
secara deramastis berbeda dari pernyataan masalah yang asli pada
prinsip 1.
5. Pastikan bahwa masalah yang sebenarnya telah diteliti dan dimengerti
dengan baik.

Dalam penyelidikan alternatif-alternatif terdapat beberapa pembatasan yang
bermacam-macam, termasuk (1) kelambatan waktu dan uang, (2) konsepsi
Materi Ekonomi Teknik

67
konsepsi awal tentang apa yang tidak akan dikerjakan, dan (3) kelambatan
pengetahuan. Konsekwensinya, analis akan mengerjakan dengan kurang
sempurna untuk solusi-solusi masalah dalam praktek teknik.

1.6 Akuntansi Dan Studi-Studi Ekonomi Teknik

Para insinyur dan manager harus menggunakan prinsp-prinsip dan metodologi
ekonomi teknik untuk membantu pengambilan keputusan. Jadi, studi-studi
ekonomi teknik menyediakan informasi mengenai bagaimana memberi dasar
keputusan-keputusan di waktu sekarang yang berkaitan dengan pengoperasian
suatu organisasi dimasa depan.

Setelah suatu keputusan untuk menanamkan modal dalam sebuah proyek telah
diambil dan uang telah ditanamkan, maka yang memasok dan mengelola modal
itu ingin mengetahui hasil-hasil keuangannya. Dengan demikian prosedur-
prosedur akuntansi harus ditetapkan agar kejadian-kejadian keuangan yang
berkenaan dengan investasi itu dapat dicatat dan diringkas dan kinerka
keuangan (finacial performance) dapat ditetapkan. Pada saat yang sama ,
melalui penggunaan informasi keuangan yang baik, dapat ditetapkan kontrol-
kontrol dan digunakan untuk mengarahkan operasi menuju cita-cita keuangan
yang diinginkan. Akuntansi umum (general accounting) dan akutansi biaya (cost
accounting) merupakan prosedur-prosedur yang menyediakan layanan-layanan
yang diperlukan dalam suatu organisasi bisnis. Jadi, data akuntansi terutama
berurusan dengan kejadian-kejadian keuangan di masa lalu dan sekarang,
meskipun data seperti itu sering digunakan untuk membuat proyeksi-proyeksi
mengenai masa depan.

Prosedur-prosedur akuntansi sama dengan pencatatan data dalam suatu
eksprimen ilmiah. Suatu recorder membaca patokan dan meteran yang berkaitan
dan mencatat semua data penting selama suatu eksprimen berjalan. Dari data ini
dimungkinkan utnuk menentukan hasil-hasil eksprimen itu dan menyiapkan
suatu laporan. Serupa dengan itu, seorang akuntan mencatat semua kejadian
kejadian keuangan yang penting sehubungan dengan suatu investasi dan
operasi suatu organisasi dan dari data ini ia dapat menetapkan apa yang telah
Materi Ekonomi Teknik

68
terjadi dan dapat menyiapkan laporan-laporan keuangan. Sama seperti seorang
insiyur, dengan memahami apa yang terjadi selama berlangsungnya sebuah
eksprimen, dan dengan mebuat koreksi-koreksi yang sesuai dapat dapat
diperoleh lebih banyak informasi dan hasil-hasil yang lebih baik dari eksprimen
itu, para manager juga harus mengandalkan laporan-laporan akuntansi untuk
membuat keputusan-keputusan perbaikan untuk memperbaiki kinerja keuangan
bisnis itu pada saat ini maupun di masa yang akan datang.

Akuntansi umum merupakan suatu data keuangan masa lalu yang diperlukan
untuk memperkirakan kondisi-kondisi keuangan di masa yang akan datan.
Akuntansi juga merupakan sumber data untuk menganalisis mengenai sebaik
mana hasil-hasil penanaman modal yang terjadi dibandingkan hasil-hasil yang
diramalkan dalam analisis ekonomi teknik.

Akuntansi biaya, atau akuntansi manajemen, merupakan bagian dari akuntansi
dengan kegunaan khusus karena terutama berurusan dengan pengambilan
keputusan dan pengendalian dalam sebuah perusahaan. Konsekuensinya,
keduanya merupakan sumber dari beberapa data biaya yang diperlukan dalam
studi-studi ekonomi teknik. Akuntansi modern harus memenuhi salah satu atau
semua tujuan-tujuan berikut :
1. Untuk menentukan biaya produk atau jasa
2. Untuk menyediakan suatu basis yang rasional dalam penetapan harga
barang atau jasa.
3. Untuk menyediakan suatu cara untuk mengendalikan pengeluaran.
4. Untuk menyediakan informasi yang mungkin menjadi dasar keputusan
keputusan pengoperasian dan hasil-hasil yang dievaluasi.

Meskipun tujuan-tujuan dasar akuntansi biaya itu sederhana, penentuan yang
persis dari biaya-biaya biasanya tidak sederhana. Sebagai hasilnya, beberapa
prosedur yang digunakan merupakan konvensi-konvensi yang diambil begitu
saja (arbitrary conventions) yang memungkinkan mendapatkan biaya-biaya yang
boleh dikatakan cukup akurat dalam beberapa situasi, tetapi dalam banyak hal
Materi Ekonomi Teknik

69
yang lain, informasi ini tidak terinci dan terdistorsi sehingga tidak relevan dalam
perencanaan manajerial dan keputusan-keputusan pengendalian.

Bebarapa ketidakakuratan teknik-teknik akuntansi biaya tradisional telah
diperbaiki oleh suatu metode yang relatif baru yang akuntansi berdasarkan
kegiatan (activity-based accounting). Metodologi ini diarahkan untuk
menghasilkan informasi biaya yang lebih akurat dan tepat waktu terutama
dengan : (1) dengan cermat melacak overhead ke kegiatan-kegiatan
penyebabnya, dan (2) menerapkan biaya-biaya teknologi sama besar terhadap
keseluruhan siklus hidup produk.Karena biaya overhead dan teknologi
bertanggung jawab sampai sebesar 60% dari biaya produk total dalam
kebanyakan industri, perbaikan laporan dan pengendalian biaya dimungkinkan
dengan adanya kemampuan untuk melacak kedua komponen utama biaya ini
sampai ke kegiatan-kegiatannya, dan seterusnya produk-produk yang benar-
benar membentuknya.

BAB II

KONSEP KONSEP BIAYA DAN LINGKUNGAN EKONOMI

2.1 Terminology biaya

2.1.1 Biaya-Biaya Tetap, Variabel, dan Inkremental

Biaya-biaya tetap (fixed costs) adalah baiya-biaya yang tidak terpengaruh oleh tingkat
kegiatan di atas jangkauan pengoperasian yang layak untuk kapasitas atau kemampuan
yang tersedia. Biaya-biaya tetap yang khas termasuk asuransi dan pajak terhadap
pasilitas, gaji manajemen umum dan administrative, biaya lisensi, dan baiaya bunga
terhadap pinjaman modal.

Biaya-biaya variabel (variable costs) adalah biaya-biaya yang dihubungkan terhadap
pengoperasian yang secara total berubah-ubah sesuai dengan banyaknya keluaran
(output) atau ukuran-ukuran tingkat kegiatan yang lain. Sebagai contoh, biaya material
dan biaya buruh yang digunakan dalam suatu produk atau jasa.

Biaya incremental (incremental cost) atau pendapatan inkeremental (incremental
revenue) adalah biaya atau pendapatan tambahan yang diakibatkan dari peningkatan
keluaran dari suatu sistem dengan satu unit atau lebih. Biaya incremental sering kali
dihubungkan dengan keputusan-keputusan go/no go yang mencakup perubahan
terbatas terhadap keluaran atau tingkat kegiatan.

Materi Ekonomi Teknik

70

2.1.2 Biaya-biaya Langsung, Tidak Langsung, dan Overhead

Biaya-biaya langsung (direct costs) adalah biaya-biaya yang secara beralasan dapat
diukur dan dialokasikan ke suatu keluaran atau kegiatan kerja tertentu. Biaya buruh dan
biaya material yang dihubungkan langsung dengan produk, jasa, atau kegiatan konstruksi
adalah biaya-biaya langsung.

Biaya-biaya tidak langsung (indirect costs) adalah biaya-biaya yang sulit untuk
dimasukkan atau dialokasi ke suatu keluaran atau kegiatan kerja tertentu. Isttilah ini
biasanya menunjukkan jenis-jenis biaya yang kiranya memerlukan terlalu banyak untuk
secara langsung mengalokasikannya ke keluaran tertentu. Dalam penggunaan biaya-biaya
ini adalah biaya-biaya yang dialokasikan melalui rumus-rumus tertentu (seperti, secara
proporsional terhadap tenaga jam langsung, nilai uang tenaga kerja langsung, atau nilai
uang material langsung) ke suatu keluaran atau kegiatan kerja. Senagai contoh, biaya-
biaya peralatan umum, alat kantor, dan perawatan peralatan dalam pabrik diperlukan
sebagai biaya-biaya tidak langsung.

Overhead terdiri dari biaya-biaya pengoperasian pabrik yang bukan merupakan biaya-
biaya kerja langsung ataupun material langsung. Dalam hal ini istilah-istilah biaya tidak
langsung, overhead, dan beban (burden) dipakai saling bertukaran satu dengan yang lain.
Contoh-contoh overhead termasuk biaya listrik, perbaikan umum, pajak kepemilikan, dan
supervisi
2.1.3 Biaya-biaya Standar

Biaya-biaya standar (standard costs) adalah biaya-biaya representatif per satuan keluaran
yang ditetapkan sebelum produksi maupun penyampaian jasa sebenarnya. Biaya-biaya
standar ini dikembangkan dari waktu ke awaktu tenaga kerja langsung, material, dan
fungsi pendukung (dengan biaya yang ditetapkan untuknya per satuan) yang
direncanakan untuk proses produksi dan penyampaian. Sebagai contoh, biaya standar
untuk memperoduksi satu satuan suku cadang mobil, misalnya sebuah starter dapat
dikembangkan sebagai berikut :

Elemen Biaya standar Sumber Data untuk biaya standar
Tanaga kerja langsung Lembaran rute proses, waktu standar, tariff tenaga
+ kerja standar
Material langsung Jumlah material per unit, biaya material satuan
+ standar
Biaya overhead pabrik Biaya overhead total pabrik yang dialokasikan ber
Dasarkan biaya-biaya primer (biaya buruh
langsung ditambah biaya material langsung)
------------------------------ +
Biaya standar (per unit)

Biaya-biaya standar memainkan peranan yang penting dalam pengendalian biaya dan
fungsi-fungsi manajemen lainnya. Beberapa macam pemakaiannya adalah :
1. Memperkirankan biaya-biaya manufaktur atau penyampaian jasa di masa depan
2. Mengukur kinerja pengoperasian dengan mebandingkan biaya actual per unit
terhadap biaya standar per unit
3. Menyiapkan penawaran produk atau jasa yang diminta pelanggang
4. Menetapkan nilai persediaan barang dalam proses dan persedian barang jadi.
Materi Ekonomi Teknik

71

2.1.4 Biaya Tunai versus Biaya Buku

Suatu biaya yang melibatkan pembayaran tunai disebut biaya tunai /cash cost (dan
berakibat pada arus kas) untuk membedakannya dari biaya lain yang tidak melibatkan
transaksi tunai dan direfleksikan dalam sistem akuntansi sebagai biaya bukan tunai
(noncash cost). Biaya bukan tunai ini sering dinyatakan sebagai biaya buku (book cash).

Biaya tunai diperkirakan dari perspektif yang ditetapkan untuk analisis dan merupakan
beban-beban di masa depan yang terjadi untuk alternatif-alternatif yang sedang dianalisis.
Biaya buku adalah biaya yang tidak melibatkan pembayaran tunai, melainkan lebih
menyatakan pemulihan pengeluaran-pengeluaran di masa lalu selama suatu priode waktu
yang tetap. Contoh yang paling umum dari biaya buku adalah dedpresiasi yang
dibebankan pemakaian asset seperti pabrik dan peralatan.

2.1.5 Biaya Hangus

Biaya hangus (sunk cost) biaya yang terjadi di masa lalu dan tidak relevan untuk
diperkirakan macam-macam biaya dan pendapatan di masa depan sehubungan dengan
alternatif tindakan. Biaya ini biasanya diabaikan dalam ekonomi teknik.

2.1.6 Biaya kesempatan

Biaya kesempatan (Opportunity cost) terjadi akibat penggunaan sumber-sumber daya
yang terbatas, seperti hilangnya kesempatan untuk mempergunakan sumber-sumber itu
untuk mendapatkan keuntungan keuangan dengan cara lain. Jadi biaya ini adalah biaya
kesempatan terbaik yang ditolak (artinya hilang) dan sering kali tersembunyi atau tersirat.
Sebagai contoh, misalkan suatu proyek mencakup pemakaian ruang gudang kosong yang
saat ini dimiliki perusahaan. Biaya ruang tersebut terhadap proyek seharusnya berupa
pendapatan atau penghematan dari pemakaian alternatif yang mungkin dari ruang gudang
tersebut untuk perusahaan.

2.1.7 Biaya operasi dan pemeliharaan ( Operation & Maintanence costs)

Biaya operasi & pemeliharaan adalah biaya tahunan untuk keperluan rutin selama umur
ekonomik.

2.1.8 Biaya tak terduga ( Contingencies)

Karena semua biaya dihitung/diperkirakan jauh sebelum waktu dikeluarkan, maka selalu
ada kemungkinan terdapat kesalahan dalam perhitungan, dan untuk itu perlu diadakan
tambahan suatu jumlah pada biaya konstruksi. Biaya-biaya dapat lebih besar daripada
yang diperlukan semula, umpamanya karena pekerjaan ternyata lebih sukar, atau
memerlukan waktu yang lebih lama dari pada yang diduga semula.

2.1.9 Biaya yang tidak dapat dinyatakan dengan jelas (Biaya Intangible)

Disamping biaya-biaya tersebut di atas, sering terdapat biaya yang tidak dapat dinyatakan
dengan jelas (intangible) seperti pengotoran udara, pengotoran air, suara/berisik,
Materi Ekonomi Teknik

72
rusaknya pemandangan karena adanya jaringan listrik, dan lain-lain. Biaya (cost) ini
adalah riil, tetapi sulit dihitung dalam ukuran uang.

2.2 Lingkup Ekonomi Umum

Terdapat berbagai konsep ekonomi umum yang harus diperhitungkan dalam studi-studi
teknik. Dalam istilah luasnya, ekonomi berhubungan dengan insteraksi antara manusia
dan harta, sedangkan teknik berurusan dengan penggunaan yang efektif biaya dari ilmu
pengetahuan untuk dimamfaatkan oleh umat manusia.

2.2.1 Konsumen dan Produsen Barang dan Jasa

Barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan dan diugunakan dapat dengan mudah dibagi
kedua kelas. Barang-barang dan jasa-jasa konsumen (Custumer goods and services)
adalah produk-produk atau jasa-jasa yang langsung digunakan ioleh manusia untuk
memuaskan keinginannya. Beberapa contohnya adalah makanan, pakaian, rumah, mobil,
televisi, pangkas rambut dan jasa medis. Para penghasil barang dan jasa konsumen
haruslah waspada, dan terpengaruh oleh perubahan keinginan-keinginan manusia yang
merupakan konsumen dari produk-produk dan jasa-jasa mereka.
Barang dan jasa produsen (producer goods and services) digunakan untuk menghasilkan
barang dan jasa konsumen atau barang-barang produsen lainnya. Misalnya mesin-mesin
perkakas, bangunan-bangunan pabrik, dan mesin-mesin pertanian. Dalam jangka panjang,
barang-barang produsen berfungsi untuk memuaskan keinginan manusia, tetapi hanya
sebagai cara ke arah itu.

2.2.2 Kebutuhan, Kemewahan, dan Permintaan Harga

Barang dan jasa dapat dibagi menjadi dua jenis : Kebutuhan (necessities) dan kemewahan
(Luxuries). Senemarnya, kedua istilah ini bersifat relatif, karena untuk kebanyakan
barang dan jasa, apa yang dianggap kebutuhan oleh seseorang dapat dianggap
kemewahan oleh orang lain.
Untuk semua barang dan jasa, terdapat suatu hubungan antara harga yang harus dibayar
dan jumlah yang akan diminta atau dibeli. Hubungan umum ini dilukiskan dalam gambar
dibawah ini :















P




P= a- bD






Unit Permintaan D

Materi Ekonomi Teknik

73

Dengan menghitung harga jual per unit (P) maka permintaan (D) untuk produk ini akan
berkurang, dan apabila harga jual turun, permintaan bertambah. Hubungan antara harga
dan permintaan dapat dinyatakan sebgai suatu fungsi linier :

P = a bD untuk 0 , 0 . , / 0 b a dan b a D s s (2.1)


Untuk a adalah perpotongan pada sumbu harga dan b adalah koefisien arah. Jadi b
adalah banyaknya peningkatan permintaan untuk setiap unit turunnya P. baik a maupun b
adalah konstanta. Selanjutnya, dapat dinyatakan bahwa

) 0 ( , =

= b
b
P a
D (2.2)

Walaupun gambar tersebut melukiskan hubungan umum antara harga dan permintaan,
hubungan ini mungkin akan berbeda untuk kebutuhan dan kemewahan. Konsumen dapat
langsung mengabaikan konsumsi barang mewah jika harganya meningkat jauh, tetapi
mereka akan lebih sulit untuk mengurangi konsumsi kebutuhan mereka yang
sesungguhnya. Juga mereka akan mengurangi uang yang dihemat dengan tidak membeli
barang mewah untuk membayar peningkatan biaya untuk kebutuhan ini.

2.2.3 Fungsi Pendapatan Total

Pendapatan total /total revenue (TR) yang dihasilkan dari suatu usaha bisnis selama
priode waktu tertentu adalah hasil perkalian dari harga jual per unit (P) dengan
banyaknya unit yang terjual (D). Jadi

TR = harga x permintaan = P (D) (2.3)

Jika hubungan antara harga dan permintaan pada pers. 2.1, maka diperoleh :

TR = (a bD) D = aD bD
2
untuk 0 s Ds
b
a
dan a > 0, b > 0 (2.4)

Hubungan antara pendapatan total dan permintaan untuk keadaan dinyatakan dalam
pers.2.4. dapat digambarkan dalam kurva seperti gambar 2.2. Secara matematis
permintaan yang akan menghasilkan pendapatan total maksimum dapat diperoleh dengan
menyelesaikan

0 2 = = bD a
dD
dTR
(2.5)

sehingga

b
a
r
2
^
= (2.6)

Materi Ekonomi Teknik

74
Untuk menjamin bahwa
^
r yang memaksimumkan pendapatan total, periksa turunan
kedua untuk memastikan hasilnya negatif :

b
dD
TR d
2
2
2
=



Sebagai contoh, jika dinyatakan sebagai 50.000 200D, maka permintaan yang
maksimumkan apendapat total sama dengan 50.000/400 = 125 unit. Harus ditekankan
bahwa, dikarenakan hubungan-hubungan biaya-volume yang akan dibahas nantinya,
kebanyakan bisnis tidak akan mendapatkan laba maksimum dengan memaksimal
poendapatan. Jadi hubungan antara biaya-volume harus dipertimbangkan dan
dihubungkan terhadap pendapatan























2.2.5 Hubungan Biaya, Volume, dan Titik Impas

Biaya-biaya tetap bersifat konstan pada jangkauan kegiatan yang luas selama bisnis ini
tidak secara permanen menghentikan operasinya, tetapi biaya-biaya variabel secara total
bervariasi sesuai dengan volume output. Jadi tiap permintaan D, biaya total adalah

V F T
C C C + = (2.7)

dimana
T
C dan
V
C adalah biaya tetap dan biaya variabel. Dengan mengasumsikan
adanya hubungan linier, maka

) )( ( D c C
V V
= (2.8)

TR Maksimum TR = aD-bD
2
=
b
a
b
a
b
a
4 4 2
2 2 2
=




Harga = a - bD


D =
b
a
2


D
Gambar 2.2 Pendapatan Total Fungsi Permintaan
Materi Ekonomi Teknik

75
dimana
V
c adalah biaya variabel per unit. Dalam bagian ini kita menggunakan dua
scenario untuk mendapat titik impas. Pada scenario pertama permintaan merupakan
fungsi dari harga. Skenario kedua menganggap bahwa harga dan permintaan tidak
tergantung sama sekali.

Apabila pendapatan total, seperti dilukiskan dalam gambar 2.2, dan biaya total,
sebagaimana diberikan pada pers 2.7. dan 2.8. dikombinasikan, hasil-hasil khasnya
sebagai fungsi permintaan dapat dilukiskan pada gambar 2.3. Pada titik impas (breakeven
point)
1
' D , pendapatan total sama dengan biaya total, dan pertambahan permintaan akan
menghasilkan laba operasi. Lalu pada permintaan optimal (D*) laba dimaksimumkan
(pers. 2.10). Pada titik impas
2
' D , pendapatan total dan biaya total sama. Tetapi volume
tambahan akan berakibat pada kerugian operasi, bukannya laba. Jelas bahwa kondisi-
kondisi yang mengakibatkan terjadinya laba maksimum merupakan keinginan utama kita.
Pertama pada sembarang volume permintaan (D).

Laba(rugi) = Pendapatan total biaya-biaya total

= (aD bD
2
) (C
F
+c
V
D)


= -C
F
+ (a - c
V
)D bD
2
untuk 0s Ds a/b (2.9)

Agar terjadi laba, berdasarkan persamaan 2.9, dan untuk mencapai hasil-hasil khas seperti
dalam gambar 2.3, ada dua persyaratan yang harus dipenuhi :

1. (a-c
V
) > 0; artinya harga per unit yang akan dihasilkan pada keadaan tanpa
permintaan harus lebih besar daripada biaya variabel per unit (hal ini untuk
menghindari permintaan negatif).
2. Pendapatan total (TR) harus melebihi biaya total (C
T
) untuk priode yang tercakup.




















TR Pendapatan total
Laba Maksimum C
V


Rugi
Laba



V
C
C
F


D
F
D* D
2


D
Gambar 2.3
Materi Ekonomi Teknik

76



Jika persyaratan-persyaratan ini terpenuhi, kita dapat memperoleh permintaan optimal
yang pada permintaan itu akan terjadi laba maksimum dengan cara menghitung turunan
pertama dari pers. 2.9 terhadap D dan menetapkannya sama dengan nol.

0 2
) (
= = bD c a
dD
laba d
V


Nilai optimal D yang memaksimumkan laba adalah

b
c a
D
V
2
*

= (2.10)
Untuk memastikan bahwa kita telah memaksimumkan laba (bukannya meminimalkan),
tanda dari turunan kedua haruslah negatif. Maka diperoleh

b
dD
laba d
2
) (
2
2
=

yang akan menjadi negatif untuk b > 0.

Suatu titik impas ekonomis untuk suatu operasi terjadi apabila pendapatan sama dengan
biaya total. Lalu untuk pendapatan total dan biaya total, seperti digunakan dalam
pengembangan per 2.9 dan 2.10 dan pada tiap permintaan D.

Pendapatan total = biaya total (pada titik impas)

aD bD
2
= C
F
+ c
V
D

-bD
2
+ (a-c
V
)D-C
F
=0 (2.11)

Karena persamaan 2.11 merupakan persamaan kuadratik dengan satu variabel yang tidak
diketahui (D), kita dapat menyelesaikannya untuk mendapatkan titik impas D
1
dan D
2

(akar-akar persamaannya)

D =
) ( 2
)] )( ( 4 ) [( ) (
2
1
2
b
C b c a c a
F V V


(2.12)

Dengan persyaratan-persyaratan untuk laba yang terpenuhi (pers.2.9), jumlah dalam
tanda kurung pembilang (diskriminan) dalam pers 2.12. akan lebih besar dari nol. Hal ini
akan memastikan bahwa D1 dan D2 berupa nilai-nilai positif real.





Materi Ekonomi Teknik

77
BAB III
KONSEP NILAI UANG TERHADAP WAKTU

3.1 Ekivalensi

Umumnya persoalan di dalam ekonomi melibatkan dan menentukan apa yang ekonomis
dalam jangka panjang, yaitu selama waktu yang panjang. Di dalam persoalan semacan itu
perlu untuk mengenal nilai waktu dari uang; karena terdapatnya bunga, satu dollar
sekarang berharga lebih banyak daripada prospek satu dollar tahun depan atau saat
mendatang lainnya.

3.1.1 Defenisi Bunga
Suku bunga bisa didefenisikan sebagai uang yang dibayarkan untuk penggunaan uang
dipinjam. Atau, berbicara secara luas, suku bunga bisa diperkirakan sebagai
pengembalian yang bisa diperoleh dari investasi modal yang produktif.

3.1.2 Tingkat Suku bunga
Tingkat suku bunga adalah rasio antara bunga yang dibebankan atau dibayarkan di akhir
priode waktu, biasanya satu tahun atau kurang, dan uang yang dipinjam pada awal priode
itu. Jadi bila bunga sebesar Rp. 6 dibayarkan per tahunnya untuk pinjaman sebesar Rp.
100, tingkat suku bunga adalah Rp.6/Rp.100 = 0,06 per tahun. Ini biasanya dinyatakan
sebagai tingkat suku bunga 6% per tahun.

3.1.3 Cara-cara pembayaran Kembali Uang Pinjaman
Tinjau keempat cara pembayaran tabel 4.1, dimana pinjaman sebesar $ 10.000 bisa
dibayar kembali dalam waktu 10 tahun dengan bunga 6% dibayar per tahun.

Tabel 3.1 Empat Cara untuk membayar kembali $ 10.000
dalam 10 tahun dengan bunga 6%


Akhir
Tahun
Bunga (6%
dari uang
pinjaman
pada awal
tahun)
Pinjaman total
sebelum
pembayaran
akhir tahun
Pembayaran
akhir tahun
Uang
pinjaman
setelah
pembayaran
akhir tahun




Cara 1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

600
600
600
600
600
600
600
600
600
600
10.000
10.600
10.600
10.600
10.600
10.600
10.600
10.600
10.600
10.600

600
600
600
600
600
600
600
600
600
10.600
10.000
10.000
10.000
10.000
10.000
10.000
10.000
10.000
10.000
10.000
0
Materi Ekonomi Teknik

78




Cara 2
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

600
540
480
420
360
300
240
180
120
60

10.600
9.540
8.480
7.420
6.360
5.300
4.240
3.180
2.120
1.060

1.600
1.540
1.480
1.420
1.360
1.300
1.240
1.180
1.120
1.060
10.000
9.000
8.000
7.000
6.000
5.000
4.000
3.000
2.000
1.000
0




Cara 3
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

600,00
554,48
506,23
455,08
400,86
343,40
282,48
217,91
149,46
76,90

10.600,00
9.795,80
8.943,35
8.039,75
7.081,93
6.066,65
4.990,45
3.849,68
2.640,46
1.358,68

1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
10.000,00
9.241,32
8.437,12
7.584,67
6.681,07
5.723,25
4.707,98
3.631,77
2.491,00
1.281,78
0





Cara 4
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

600,00
636,00
674,16
714,61
757,49
802,94
851,11
902,18
956,31
1.013,69

10.600,00
11.236,00
11.910,16
12.624,77
13.382,26
14.185,20
15.036,31
15.938,49
16.894,80
17.908,49

0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
17.908,49
10.000,00
10.600,00
11.236,00
11.910,16
12.624,77
13.382,26
14.185,20
15.036,31
15.938.49
16.894,80
0,00

Kita harus dengan teliti memeriksa keempat cara ini karena mewakili berbagai rencana
di dalam penggunaan umum untuk membayar kembali uang yang dipinjam dalam jangka
waktu tahunan.

3.1.4 Ekivalensi

Konsep bahwa pembayaran-pembayaran yang berbeda dalam jumlah totalnya tetapi yang
dibayarkan di tanggal yang berbeda bisa ekivalen satu sama lain adalah salah satu hal
yang penting dalam ekonomi teknik. Dalam mengembangkan konsep ini, kita bisa
menempatkan secara berdampingan untuk perbandingan seperti pada tabel 3.2


Tabel 3.2 Empat cara Pembayaran-pembayaran seri ekivalen

Tahun Investasi Cara 1 Cara 2 Cara 3 Cara 4
Materi Ekonomi Teknik

79
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
10.000 -
600
600
600
600
600
600
600
600
600
10.600
-
1.600
1.540
1.480
1.420
1.360
1.300
1.240
1.180
1.120
1.060
-
1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
1.358,68
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
17.910

Jika bunga 6%, keempat cara pembayaran ini adalah ekivalen satu dengan yang lainnya.
Hal ini ekivalen ditinjau dari pandangan prospektif si pemberi pinjaman (investor)
dengan $ 10.000, karena dengan jumlah itu ia bisa memperoleh salah satu dari keempat
seri pembayaran tadi di masa depan sebagai ganti untuk $ 10.000 sekarang. Dari segi
perspektif sipeminjam, keempat seri masa depan tadi adalah ekivalen satu sama lainnya
terhadap $ 10.000 sekarang, karena dengan menyetujui untuk mebayar dengan salah satu
dari keempat seri mendatang ini, ia bisa mengamankan jumlah sekarang yang
dibutuhkan.

4.1.5 Arti Ekivalen di dalam Analisa-analisa Ekonomi Teknik

Kelima kolom pada tabel 3.2 menunjukkan seri pembayaran yang ekivalen; namun
jumlah pembayarannya sangat berbeda, berturut-turut berjumlah $ 10.000, $ 16.000, $
13.300, $ 13.590 dan $ 17.910. Makin lama periode pembayaran makin besar perbedaan
yang tampak. Jadi, jika periode pembayaran adalah 20 tahun, pembayaran total untuk seri
ekivalen yang serupa berturut adalah $ 10.000, $ 22.000, $ 16.300, $ 17.436 dan $
32.070.

Studi-studi ekonomi teknik biasanya melibatkan pengambilan pilihan dari beberapa
rencana alternatif untuk memenuhi tujuan memberikan jasa yang ditetapkan. Jika jasa
yang ditetapkan dapat diperoleh dengan ke lima alternatif tersebut. Semua alternatif
tersebut akan sama ekonomis dengan bunga 6%; ialah mereka masing-masing dapat
dibiayai dengan jumlah sekarang $ 10.000. Kenyataan ini bukan merupakan bukti dari
perbandingan pembayaran total yang diperlukan pada cara yang berlaian, hal ini hanya
akan jelas jika seri uang yang berbeda di ubah baik menjadi pembayaran-pembayaran
tunggal ekivalen (misalnya nilai sekarang) atau menjadi seri uniform ekivalen.

Jumlah sekarang selalu ekivalen pada tingkat suku bunga tertentu dengan jumlah
pembayaran di masa datang. Banyak persoalan ekonomi teknik, jawaban yang disukai
adalah tingkat suku bunga yang akan membuat dua seri ekivalen satu sama lain; tingkat
itu sering disebut dengan rate of return.

3.2 Rumus Rumus Bunga

Simbol-simbol yang digunakan mengenai rumus-rumus bunga adalah :

i : tingkat suku bungan perperiode bunga
Materi Ekonomi Teknik

80
n : Jumlah periode bunga
P : jumlah uang sekarang
F : jumlah uang pada akhir n periode dari saat sekarang yang ekivalen
dengan P dengan bunga i.
A : pembayaran pada akhir periode atau penerimaan seri uniforn yang
berlanjut untuk n periode mendatang, seri seluruhnya ekivalen dengan P
pada tingkat bunga i.
Rumus
Rumus bunga fundamental yang menyatakan hubungan di antara P, F dan A dalam
bentuk i dan n adalah sebagai berikut :
Diketahui P, untuk mencari F (Componding Factor for One)

F = P (1+i )
n


Diketahui F, untuk mencari P (Discount Factor)
P = F
(

+
n
i) 1 (
1

Diketahui F, Untuk mencari A (Sinking Factor)
A = F
(

+ 1 ) 1 (
n
i
i

Diketahui P, untuk mencari A ( Capital Recovery Factor)
A = P
(

+
+
1 ) 1 (
) 1 (
n
n
i
i i
atau
A = P
(

+
+
i
i
i
n
1 ) 1 (

Diketahui A, untuk mencari F (Componding Factor for i per Annum)
F = A
(

+
i
i
n
1 ) 1 (

Diketahui A, Untuk mencari P (Peresent Wort of Annuity Factor)
P = A
(

+
+
n
n
i i
i
) 1 (
1 ) 1 (
atau
P = A
(
(
(
(

+
+
i
i
i
n
1 ) 1 (
1


3.2.1 Pengembangan Rumus Rumus untuk Pembayaran Tunggal

Jika P diinvestasikan pada tingkat suku bunga i, bunga pada tahun pertama ialah iP dan
jumlah total pada akhir tahun pertama ialah P + iP = P (1+i). Tahun kedua bunga dari P
(1+i) ialah iP (1+i)
2
, dan jumlah pada akhir tahun kedua adalah P(1+i) +iP(1+i) = P(1+i)
2
.
Dengan yang sama, pada akhir tahun ke-tiga jumlahnya ialah P(1+i)
3
dan pada akhir
tahun ke n menjadi P(1+i)
n
.
Materi Ekonomi Teknik

81

Ini adalah rumus untuk jumlah majemuk, F, yang diperoleh dalam n tahun dari pokok
sebesar P.
F = P(1+i)
n
(4.1)

Jika dinyatakan P dalam bentuk F, i dan n, maka pers 4.1 menjadi

P = F
(

+
n
i) 1 (
1
(4.2)
Karena P bisa dikatakan sebagai pokok yang akan memberikan jumlah F yang diinginkan
dalam n tahun dengan perkataan lain, P adalah nilai sekarang dari F, n tahun lagi.

3.2.2 Pengembangan Rumus Rumus untuk seri Tahunan Uniform

Jika A diinvestasikan pada akhir tiap tahun selama n tahun, jumlah total pada akhir tahun
n adalah total dari jumlah majemuk dari investasi individu. Uang yang diinvestasikan
pada akhir tahun pertama akan menghasilkan bunga selama ( n 1) tahun, jumlahnya
akan menjadi A (1+i)
n-1
.

Pembayaran tahun kedua akan berjumlah A(1+i)
n-2
, tahun ke tiga menjadi A(1+i)
n-3
,
dan seterusnya sampai pembayaran terakhir, yang dibuat pada akhir n tahun, yang tidak
mempunyai bunga. Jumlah total F adalah

A[1++(1+i)+(1+i)
2
+(1+i)
3
++(1+i)
n-1
]

Persamaan ini untuk F dalam bentuk A bisa disederhanakan menjadi bentuk biasa dengan
manipulasi aljabar sebagai berikut :

F=A[1+(1+i)+(1+i)
2
+(1+i)
3
+..+(1+i)
n-2
+(1+i)
n-1
]

Dengan mengalikan ke dua sisi persamaan dengan (1+i)

(1+I)F=A[(1+i)+(1+i)
2
+(1+i)
3
++(1+i)
n-1
+(1+i)
n
]

dengan mengurangi persamaan asal dari persamaan kedua diperoleh

iF = A[(1+i)
n-1
]

maka
A = F
(

+
1
) 1 (
n
i
i
( 4.3 )
Dana yang ditetapkan untuk menghasilkan sejumlah yang diinginkan pada akhir waktu
periode yang diketahui dengan melakukan pembayaran-pembayaran seri pada akhir
periode disebut sunking fund (Penyimpanan dana)
Bentuk

Materi Ekonomi Teknik

82

(

+
1
) 1 (
n
i
i


Untuk mencari pembayaran akhir tahun yang uniform, A, yang dapat diperoleh untuk n
tahun dari investasi sekarang, P (seperti di dalam cara pembayaran 3 tabel 4.2), masukkan
pers 4.3 ke persamaan 4.1.

A=F
(

+
+ =
(

+ 1 ) 1 (
) 1 (
1 ) 1 (
n
n
n
i
i
i P
i
i

=
(

+
+
1 ) 1 (
) 1 (
n
n
i
i i
P ( 4.4 )

Atau dinyatakan sebagai

A =
(

+
+
i
i
i
P
n
1 ) 1 (
( 4. 4.a)

Bentuk ini disebut capital recovery factor (factor pengembalian modal). Sama dengan
faktor sinking fund ditambah tingkat bunga. Jika dikalikan dengan utang sekarang (yang
dari segi pandangan si pemberi pinjaman, adalah investasi sekarang), memberikan
pembayaran akhir tahun yang uniform yang penting mebayar kembali (investasi si
pemberi pinjaman) dalam n tahun dengan tingkat bunga i%. Faktor ini atau
pendekatannya, digunakan untuk memecahkan banyak persoalan di dalam ekonomi
teknik.
Persamaan (4.3) dan (4.4) bisa digunakan untuk mencari nilai F dan P dalam bentuk A
adalah

F = A
(

+
i
i
n
1 ) 1 (
( 4.5 )
P = A
(

+
+
n
n
i i
i
) 1 (
1 ) 1 (
(4.5.a )
Bentuk


(

+
i
i
n
1 ) 1 (



disebut uniform series compound amount factor (faktor jumlah majemuk seri uniform).
Ini biasanya disingkat menjadi series compound amount factor (faktor jumlah mejemuk
seri)

Model persamaann :

Materi Ekonomi Teknik

83

(

+
+
n
n
i i
i
) 1 (
1 ) 1 (

disebut uniform series present worth factor (faktor nilai sekarang seri uniform) atau biasa
disingkat dengan series present worth factor (faktor nilai sekarang).

3.2.3 Simbol-simbol Fungsional

( ) ) %, , / n i P F adalah single payment compound amount faktor (faktor jumlah majemuk
pembayaran tunggal)

n
i) 1 ( +

( ) ) %, , / n i F P adalah single payment present worth factor (faktor nilai sekarang
pembayaran tunggal)

n
i
i
) 1 ( +


( ) n i F A %, , / adalah sinking fund factor (faktor penyimpangan dana)

1 ) 1 ( +
n
i
i


( ) ) %, , / n i P A adalah capital recovery factor (Faktor pengembalian modal)

1 ) 1 (
) 1 (
+
+
n
n
i
i i

( ) n i A F %, , / adalah uniform series compound amount factor (faktor jumlah majemuk
seri uniform)

i
i
n
1 ) 1 ( +


( ) n i A P %, , / adalah uniform series present worth factor (Faktor nilai sekarang seri
uniform)

n
n
i i
i
) 1 (
1 ) 1 (
+
+

3.2.4 Tingkat Bunga Nominal dan Efektif

Banyak tarnsaksi utang menetapkan bahwa bunga dihitung dan dibebankan lebih sering
dari pada sekali setahun. Sebagai contoh, bunga dari tabungan di bank, tabungan biasa
dihitung dan ditambahkan pada neraca tabungan dua belas kali setahun; hal ini disebut
dengan bunga majemuk per per bulan.

Misalkan ada transaksi utang di mana bunga dibebankan sebesar 1% per bulan. Kadang-
kadang transaksi demikian dinyatakan dengan tingkat bunga 12% pertahun. Lebih tepat
lagi, tingkat ini harus dinyatakan sebagai nominal 12% per tahun yang dimajemukkan per
bulan.

Materi Ekonomi Teknik

84
Lebih disukai untuk mengetahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata di antara 1% per
bulan yang dimajemukkan per bulan dan 12% per tahun yang dimajemukkan per tahun.
Asumsikan bahwa $ 1.000 dipinjamkan dengan bunga 1% per bulan.Dengan
menggunakan tabel discound faktor, diperoleh jumlah pinjaman pada akhir 12 bulan
adalah :
F = $ 1.000 (F/P,1%,12)
$ 1.000 (1,1268) = $ 1.126,8
Jika $ 1.000 yang sama dipinjam dengan 12 % per tahun dan dimajemukkan, jumlah yang
dipinjam pada akhir tahun hanya akan menjadi $ 1.120, berarti $ 6,80 lebih kecil.Per
bulan yang dimajemukkan pada 1% mempunyai pengaruh yang sama pada jumlah
majemuk akhir tahun seperti yang dibebankan pada 12,68 % yang dimajemukkan
pertahun. Dalam bahsa matematik keuangan, tingkat bunga efektif ialah 12,68 %.
Tingkat bunga efektif dan tingkat bunga nominal bisa didefenisikan lebih tepat sebagai
berikut :
Jika bunga majemuk m kali setahun pada tingkat bunga
m
r
per periodie majemuk, maka
Tingkat bunga nominal per tahun = r
m
r
m = ) (
Tingkat bunga efektif per tahun = 1 ) 1 ( +
m
m
r

Tingkat bunga nominal untuk jumlah pemajemukan tahunan yang berlaian tidak dapat
dibandingkan satu sama lain sampai mereka telah diubah menjadi tingkat bunga efektif
yang bersesuaian.

BAB IV

ANALISIS EKONOMI DAN SUMBER DANA PROYEK

3.1 Analisis Finansial Dan Analisis Ekonomi
Dalam evaluasi proyek biasanya diadakan dua macam analisis, yaitu analis finansial dan
analisis ekonomi. Dalam analisis finansial proyek dilihat dari sudut badan atau orang
yang menanam modalnya dalam proyek atau yang berkepentingan langsung dalam
proyek. Dalam analisis ini yang diperhatikan adalah hasil untuk modal/saham (equity
capital) yang ditanam dalam royek. Hasil finansial sering disebut "private returns".
Analisis ini penting artinya dalam memperhitungkan rangsangan (incentive) bagi mereka
yang turut serta dalam mensukseskan pelaksanaan proyek. Sebab tidak ada gunanya
melaksanakan proyek yang menguntungkan dilihat dari sudut perekonomian sebagai
keseluruhan, jika mereka yang menjalankan kegiatan produksi tidak bertambah baik
keadaannya.

Yang perlu diperhatikan dalam analisis finansial adalah waktu didapatkannya hasil
(returns). Negara dapat mengadakan investasi dalam suatu proyek yang menguntunkan
jika dilihat dalam jangka waktu dua puluh tahun, tetapi dalam waktu lima tahun yang
pertama belum meberikan hasil sama sekali. Tetapi dari seorang pengusaha swasta tidak
Materi Ekonomi Teknik

85
dapat diharapkan untuk mengadakan investasi dalam proyek-proyek semacam itu, karena
dalam jangka waktu lima tahun pertama ia sudah akan kehabisan modal.

Dalam analisis ekonomi proyek dilihat dari sudut perekonomian sebagai keseluruhan.
Dalam analisis ini yang diperhatikan adalah hasil total atau produktivitas atau keuntungan
yang diperoleh dari semua sumber yang dipakai dalam proyek untuk masyarakat atau
perekonomian sebagai keseluruhan, tanpa melihat siapa yang menyediakan sumber-
sumber tersebut dan siapa dalam masyarakat yang menerima hasil proyek tersebut. Hasil
ini disebut "the sosial return atau economic return" bagi priyek.

Bagi orang-orang yang menentukan kebijaksanaan (policy makers), yang penting adalah
mengarahkan penggunaan sumber-sumber yang langka kepada proyek-proyek yang dapat
memberikan hasil yang paling banyak bagi perekonomian sebagai keseluruhan; artinya,
yang menghasilkan "sosial returns" atau "economic returns" yang paling tinggi.

Secara rinci analisis ekonomi dilakukan dengan alasan karena adanya :
1. Ketidak sempurnaan pasar (termasuk didalamnya berbagai distorsi yang timbul
karena peraturan pemerintah). Contoh yang bisa dijumpai adalah adanya
pengendalian harga (termasuk pengendalian suku bunga kredit), proteksi,
kedudukan monopoli, dan sebagainya.
2. Adanya pajak dan subsidi. Pajak berarti pendistribusian sebagaian kekayaan
konsumen (dalam hal pajak penjualan) atau perusahaan (dalam pajak penghasilan)
ke pemerintah. Adanya pajak penghasilan akan mengurangi protabilitas proyek di
mata perusahaan, tetapi meningkatkan kekayaan pemerintah.
3. Berlakunya konsep consumers surplus dan producers surplus . Pada saat terjadi
penambahan supply karena adanya suatu proyek, maka mungkin sekali terjadi
penurunan harga. Bagi perusahaan yang melaksanakan proyek tersebut, harga
yang relevan tentu saja harga yang baru (yang lebih rendah dari harga yang lama
karena terjadi penurunan harga). Dari sisi konsumen, sebaliknya, mereka
diuntugkan dalam hal bisa memperoleh barang sama dengan harga yang lebih
murah. Bukankah ada mamfaat yang dinikamati oleh konsumen kalau mereka
bisa membeli produk dengan harga yang lebih murah ?. demikian pula kalau
terjadi demand karena adanya suatu proyek (misal demand akan bahan baku
meningkat) sehingga terjadi kenaikan harga. Perusahaan seponsor proyek tersebut
harus membayar harga yang lebih mahal, tetapi bukankah kenaikan harga tersebut
sekarang dinikmati oleh produsen bahan baku tersebut.

Ada beberapa unsur yang berbeda penilaiannya dalam kedua macam analisa
tersebut di atas, ialah :

1. Harga
Dalam analisis ekonomi selalu dipakai harga bayangan (shadow prices atau
accounting prices), ialah harga yang menggambarkan nilai sosial atau nilai
ekonomi yang sesungguhnya bagi unsur-unsur biaya maupun hasil, sedang dalam
analisis finasial selalu dipakai harga pasar.
2. Biaya
Dala analisis ekonomi biaya input proyek adalah manfaat yang hilang (the benefit
foregone) bagi perekonomian karena input itu dipakai dalam proyek, atau "
opportunity cost" bagi input.
Materi Ekonomi Teknik

86
3. Penbayaran Transfer
a. Pajak. Dalam analisis ekonomi pembayaran pajak tidak
dikurangkan/dikeluarkan dari mamfaat proyek. Pajak adalah bagian dari hasil
neto proyek yang diserahkan kepeda pemerintah untuk digunakan bagi
kepentingan masyarakat sebagai keseluruhan, dan oleh karenanya tidak
dianggap sebagai biaya.
b. Subsidi. Subsidi menimbulkan persoalan dalam penghitungan biaya suatu
proyek. Subsidi ini sesunguhnya adalah suatu pembayaran transfer dari
masyarakat kepada proyek, sehingga
i. dalam analisis finansial, sebsidi mengurangi (menurunkan)biaya
proyek, jadi menambah mamfaat proyek.
ii. Dalam analisis ekonomi harga pasar harus disesuaikan untuk
menghilankan pengaruh subsidi. Jika subsidi ini menurunkan harga
barang-barang input, maka besarnya n subsidi harus ditambahkan
pada harga pasar barang-barang input tersebut.
c. Bunga. Dalam analisis ekonomi bunga modal tidak dipisahkan atau
dikurangkan dari bruto. Dalam analisis finansial diadakan perbedaan antara :
i. bunga yang dibayarkan kepada orang-orang dari luar yang meminjamkan
uangnya kepada proyek. Bunag ini dianggap sebagai biaya, sedang
pembayaran kembali hutang dari luar proyek dikurangkan dari hasil bruto
sebelum didapatkan arus mamfaat.
ii. bunga atas modal proyek tidak dianggap sebagai biaya, karena
bunga merupakan bagian dari "financiasl returns" yang
diterima oleh modal proyek.

Ada babaerapa macam biaya yang dalam perhitungan mamfaat/biaya
(benefit/cost) ekonomi tidak dianggap sebagai biaya, ialah :

Sunk costs.
Sunk costs adalah biaya yang sudah dikeluarkan pada waktu yang lampau untuk suatu
proyek, atau biaya yang sudah dikeluarkan sebelum diambil keputusan untuk
melaksanakan proyek. Biaya ini tidak dihitung dalam analisis ekonomi proyek dan tidak
mempengaruhi pilihan proyek. Yang dihitung sebagai pengeluaran proyek hanya biaya-
biaya dalam waktu yang akan datang (future costs) yang akan mendatangkan mamfaat
dalam waktu yang akan datang.

Penyusutan
Penyusutan atau depresiasi sesungguhnya hanya merupakan pengalokasian biaya
investasi setiap tahun sepanjang umur ekonomik proyek untuk menjamin bahwa biaya
modal itu diperhirungkan dalam laporan/neraca rugi laba tahunan. Tetapi sesungguhnya
penyusutan itu tidak merupakan pengeluaran biaya riil, sebab yang betul-betul
merupakan pengeluaran biaya adalah investasi semula, atau kalau investasi proyek itu
dibiayai dengan pinjaman terikat, maka yang dianggap sebagai biaya adalah arus
pelunasan kredit (angsuran) beserta bunganya pada waktu kedua arus itu betul-betul
dilaksanakan.

Pelunasan hutang beresta bunganya
Apakah pelunasan hutang (pembayaran angsuran) dan bunganya itu dihitung sebagai
biaya ekonomik atau tidak, tergantung pada apakah penulunasan itu merupakan beban
Materi Ekonomi Teknik

87
sosial atau tidak. Dalam hal pinjaman untuk investasi ini ada pengeluaran yang dihitung
sebagai biaya :
a. Pada waktu diadakan investasi, atau
b. Pada waktu pelunasan pinjaman dan bunganya

ad.a. Jika pinjaman itu tidak terikat pada suatu proyek tertentu, maka dana itu
sesungguhnya dapat dipakai untuk melaksanakan berbagai macam proyek. Hal ini berarti,
bahwa jika dana itu dipakai untuk investasi dalam suatu proyek, umpamanya proyek
irigasi, maka pada waktu pengeluaran untuk investasi itu perekonomian kehilangan
kesmpatan untuk menggunakan dana tersebut dalam proyek lain, umpamanya proyek
jembatan, proyek jalan, dan lain sebagainya, yang dapat memberikan mamfaat pada
perekonomian. Artinya pada waktu penggunaan pinjaman tersebut untuk investasi pada
proyek irigasi, ada mamfaat yang hilang bagi perekonomian. Dalam hal ini biaya
diperhitungkan pada waktu diadakan investasi.

ad.b. Sebaliknya, jika suatu proyek dibiayai dengan pinjaman/kredit terikat, maka
pinjaman/kredit itu hanya diberikan untuk pelaksanaan proyek tertentu, umpamanya
proyek rumah sakit. Artinya, jika rumah sakit itu tidak jadi dilaksanakan, pinjaman itu
akan batal, dan tidak dapat dipakai untuk proyek lain. Hal ini berarti, bahwa pada waktu
dana/sumber itu dinvestasikan pada proyek rumah sakit tersebut, bagi perekonomian
tidak ada proyek lain yang dikorbankan (tidak ada benefit foregone), sehingga investasi
pada proyek rumah sakit itu dilihat dari sudut perekonomian/ masyarakat tidak
merupakan pengorbanan. Untuk proyek-proyek semacam ini beban sosial/ekonomi baru
terasa pada waktu pelunasan angsuran beserta bunganya, sehingga "the social opportunity
cost" dibebankan pada proyek pada waktu pelunasan pinjaman dan bunganya di
kemudian hari, dan bukan pada waktu investasi.

3.2 KEBUTUHAN DAN SUMBER DANA

3.2.1 Kebutuhan Dana untuk Aktiva Tetap

Aktiva tetap yang diperlukan untuk investasi bisa diklasifikasikan sebagai berikut :
1. aktiva tetap berwujud
- Tanah dan pengembangan lokasi
- Bangunan dan perlengkapannya
- Pabrik dan mesin-mesin
- Aktiva tetap lainnya
2. Aktiva tetap tidak berwujud
- Aktiva tidak berwujud
- Biaya-biaya pendahuluan
- Biaya-biaya sebelum operasi

3.2.1.1 Aktiva tetap berwujud

Tanah dan pengembangan lokasi. Biaya ini termasuk harga tanah, baiay pendaftaran,
pembersihan, penyiapan tanah, pembuatan jalan ke jalan yang terdekat, pemagaran dan
sebagainya.

Materi Ekonomi Teknik

88
Bangunan dan perlengkapannya. Ini termasuk bangunan untuk pabrik, bangunan untuk
administrasi, gudang, pembangkit tenaga, pos-pos keamanan, jasa-jasa arsitektur, dan
sebagainya.

Pabrik dan mesin-mesin. Ini merupakan komponen terbesar dari investasi. Termasuk
didalamnya adalah biaya pembangunan pabrik, harga mesin, baiya pemasangan, biaya
pengangkutan, suku cadang dan lain sebagainya.

Aktiva tetap lainnya. Ini termasuk perlengkapan angkutan dan material handling,
perlengkapan untuk penelitian, perlengkapan kantor dan sebagaianya.

3.2.1.2 Aktiva tetap tidak terwujud

Aktiva tidak terwujud. Misalnya patent, lisensi, pembayaran "lumpsunt" untuk
penggunaan teknologi, engineering fees, copyright, goodwill dan sebagainya.
Biaya pendahuluan. Biaya ini terdiri dari biaya untuk studi pendahuluan, penyiapan
pembuatan laporan studi kelayakan, survey pasar, dan sebagainya.

Biaya sebelum operasi. Ini adalah biaya-biaya yang dikeluarkanoleh perusahaan sebelum
berproduksi secara komersial. Komponen yang utama adalah biaya penarikan tenaga
kerja, biaya pelatihan, beban bunga, biaya-biaya selama masa produksi percobaan.

Seringkali pengeluaran untuk aktiva tetap ini berlangsung beberapa tahun, sehingga perlu
disusun jadwal pengeluaran untuk keperluan investasi tersebut.

TAHUN 1 TAHUN 2 TAHUN 3
Rp. $ Rp. $ Rp. $
Aktiva Tetap Berwujud
Tanah dan pengembengan
lokasi

Bangunan
Pabrik dan mesin-mesin
Aktiva tetap berwujud lain

Aktiva tetap tidak berwujud
Aktiva tidak berwujud
Biaya pendahuluan
Biaya sbelum operasi
Total

Untuk menghitung kebutuhan modal kerja tersedia beberapa metode. Ketepatan metode
tersebut akan tergantung pada pengertian/defenisi yang kita pergunakan. Untuk
perhitungan ini, modal kerja kita artinya sebagai modal kerja bruto. Metode yang
dipergunakan adalah didasarkan atas waktu keterikatan nada dalam modal kerja; yaitu
waktu diperlukan sejak kita mengeluarkan kas sampai dengan kembali menjadi kas dan
pengeluaran kas perhari. Contoh ;

Materi Ekonomi Teknik

89
Misalkan perusahaan akan memperoduksi sebanyak 72.000 unit dalam satu tahun.
Produksi perbulan diperkiran stabil selama tahun tersebut. Biaya perunit untuk membuat
72.000 unit tersebut diperkirakan sebagai berikut :

Biaya bahan mentah Rp. 1.000,-
Biaya tenaga kerja 300,-
Biaya pabrik tidak langsung 400,-
----------------------
Biaya produksi Rp. 1.700,-
Harga jual Rp. 2.500,-

Biaya produksi perbulan, untuk membuat 6.000 unit adalah sebagai berikut :
Biaya bahan mentah Rp. 6.000.000,-
Biaya tenaga kerja 1.800.00,-
Biaya pabrik tidak langsung 2.400.000,-
--------------------------
Total biaya Rp. 10.200.000,-

Misalkan bahwa tahap-tahap operasi adalah sebagai berikut :
Tahap bahan mentah 3 bulan
Tahap barang dalam proses 1 bulan
Tahap barang jadi 1 bulan
Tahap dalam piutang 2 bulan

Tahap-tahap tersebut berarti bahwa rata-rata bahan ada dalam gudang selama 3 bulan,
rata-rata proses produksi memerlukan 1 bulan, rata-rata barang jadi disimpan selama 1
bulan, dan rata-rata pembeli membayar pembelian mereka dalam waktu 2 bulan.
Misalnya bahwa biaya untuk mengubah (convertion cost) terjadi secara sama dalam
proses produksi. Maka investasi dalam bahan mentah, barang dalam proses, barang jadi,
dan piutang akan nampak seperti yang tercantum pada tabel berikut .

Input Priode
(bulan)
Bahan
Mentah
Barang
Dalam
proses
Barang
Jadi
Piutang Total
A. Bahan mentah
- Persediaan 3 18
- Pada barang dalam
proses
1 6
- Pada barang jadi 1 6
- Pada piutang 2 12
42

B. Tenaga Kerja
- Pada barang dalam
proses
1/2 0,9
- Pada barang jadi 1 1,8
- Pada piutang 2 3,6
6,3
C. Biaya Pabrik Tidak
Materi Ekonomi Teknik

90
Langsung
- Pada barang dalam
proses
1/2 1,2
- Pada barang jadi 1 2,4
- Pada piutang 2 4,8
8,4

D. Laba Kotor 2 9,6 9,6

18 8,1 10,2 30,0 66,3


Misalkan perusahaan mengiinginkan persediaan suku cadang sebesar Rp.
6.000.000,- dan persediaan kas untuk berjaga-jaga sebesar Rp. 5.000.000,- maka
kebutuhan modal kerjanya adalah :

Rp. 66.300.000,- + Rp.6.000.000,- + Rp.5.000.000,- = Rp. 77.300.000,-

Dari contoh di atas terlihat bahwa besar kecilnya kebutuhan modal kerja tergantung dari
lama keterikatan dana dan volume kegiatan produksi.

3.2.2 Sumber Dana

Setelah diketahui berapa banyak dana yang akan diperlukan dan kapan dana tersebut akan
diperlukan untuk investasi, maka pertanyaan selanjutnya adalah dari mana atau dalam
bentuk apa dana tersebut akan ditarik. Pada dasarnya pemilihan sumber dana bertujuan
untuk memilih sumber dana yang pada akhirnya bisa memberikan kombinasi dengan
biaya yang terendah, dan tidak menimbulkan kesulitan likuditas bagi proyek atau
perusahaan yang mensponsori proyek tersebut (artinya jangka waktu pengembalian
sesuai dengan jangka waktu penggunaan dana).

Sumber-sumber dana yang utama adalah ;
1. Modal sendiri yang disetor oleh pemilik perusahaan. Apabila perusahaan tidak
berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang berniat go public ( artinya menjual
saham di pasar modal), maka modal sendiri hanya bisa diperoleh dari pemilik
perusahaan. Karena itulah bagi perusahaan yang ingin menghimpun dana yang
besar mereka mungkin memilih untuk go public.
2. Saham biasa atau saham preferen (yang juga merupakan modal sendiri) yang
diperoleh dari penerbitan saham di pasar modal. Perusahaan yang memutuskan
untuk go public dapat menghimpun dana masyarakat dengan jalan menerbitkan
saham yang nanti akan dipeejual belikan di bursa. Secara ringkas perusahaan
yang bisa menerbitkan saham di pasar modal Indonesia adalah perusahaan yang
berbentuk PT, besar dan baik dalam artian menghasilkan keuntungan.
3. Obligasi, yang diterbitkan oleh perusahaan dan dijual di pasar modal. Obligasi
yang diterbitkan bisa berbentuk :
a. Obligasi Biasa. Obligasi ini menawarkan suku bunga yang tetap (bungan
tersebut mungkin dibayarkan per semester atau per tahun) untuk jangka
waktu usia obligasi dan dicantumkan nilai pelunasannya.
Materi Ekonomi Teknik

91
b. Obligasi dengan suku bunga mengambang (floating rate). Besarnya
bungan yang dibayarkan akan tergantung pada tingkat bunga yang
berlaku. Apabila suku bunga meningkat, bunga obligasi juga meningkat.
Demikian pula apabila suku bunga menurun. Suku bungan yang dipakai
sebagai patokan biasanya adalah suku bunga deposito (biasanya jangka
waktu 6 bulan ) dari beberapa bank ditambah dengan persentase tertentu.
Misalnya dikatakan bahwa bunga yang dibayar adalah 1 % di atas suku
bungan deposito jangka waktu 6 bulan.
c. Obligasi Tanpa Bunga (zero coupon bonds). Meskipun resminya obligasi
ini tidak membayarkan bunga, tetapi pembeli obligasi tersebut tetap
menerima penghasilan karena obligasi tersebut dijual dengan discount.
Misalnya obligasi akan jatuh tempo 5 tahun lagi, dengan nilai pelunasan
Rp. 1.000.000,- dijual saat ini dengan harga hanya Rp. 519.000,-
Dikatakan bahwa obligasi tersebut dijual dengan discount 48,1 %.
Seringkali penerbitan zero coupon bonds dimaksudkan untuk menghemat
present value pembayaran pajak.
d. Obligasi Konversi (convertible bonds). Ini merupakan jenis obligasi yang
bisa diubah menjadi saham pada waktu tertentu (misalnya 5 tahun lagi).
Kalu calon pembeli obligasi konversi mengharapkan bahwa sewaktu
obligasi tersebut dikonversikan menjadi saham biasa, harga saham telah
sangat tinggi, maka mereka mungkin bersedia untuk membeli obligasi
tersebut meskipun bungan yang ditawarkan relatif rendah. Bagi
perusahaan, membayar bunga yang rendah pada masa awal proyek
mungkin akan menghindarkan diri dari kesulitan likuiditas. Misalkan
obligasi biasa, dengan jangka waktu pelunasan 5 tahun, memberikan
bungan 14 % per tahun. Obligasi tersebut laku terjual sesuai dengan harga
pelunasan sebesar Rp. 1.000.000,-. Obligasu konversi ditawarkan hanya
dengan bungan 7 % per tahun, tetapi pemilik obligasi tersebut bisa
menukar obligasinya dengan 100 lembar saham biasa pada lima tahun
yang akan datang atau minta dilunasi. Kalau harga saham diperkirakan
akan mencapai Rp. 20.000,- per lembar, berarti pembeli obligasi konversi
akan lebih beruntung dari pada pembeli obligasi biasa.

4. Kredit Bank, baik kredit investasi maupun non-investasi. Harus diakui bahwa
sampai saat ini bahwa kredit bank masih merupakan sumber dana yang terbesar
bagi dunia usaha. Misalnya, selama tahun 1992, jumlah kredit yang diberikan
oleh bank-bank baik dalam rupiah maupun valuta asing mencapai sekitar Rp.
10,081 triliun. Sedangkan dana yang dihimpun perusahaan-perusahaan dari
penerbitan saham di pasar modal mencapai hanya Rp.0,578 triliun dan untuk
obligasi (termasuk obligasi konversi) sebesar Rp. 0,134 triliun. Masalahnya
adalah seringkali spread yang ditentukan bank masih terlalu besar. Misalnya bank
menghimpun dana masyarakat dengan membayar bungan 12 %, tetapi menyalur
kannya sebagai kredit dengan bungan 18 %. Berarti spread yang diambil adalah
6 %. Semakin besar spread ini, semakin besar keinginan perusahaan untuk
memotong biaya intermediasi keuangan tersebut. Cara yang dilakukan adalah
dengan menerbitkan obligasi. Perusahaan mungkin menawarkan obligasi dengan
bunga 15 % per tahun. Dibandingkan dengan kredit bank, obligasi tersebut lebih
murah 3 % biayanya. Dari sudut pandang pembeli obligasi, obligasi tersebut
memberikan keuntungan 3 % di atas tingkat bungan simpanan. Apabila risiko
Materi Ekonomi Teknik

92
membeli obligasi dipandang sama dengan resiko menyimpan uang di bank (toch
bank juga bisa bangkrut), maka obligasi tersebut akan lebih menarik. Tentu saja
perusahaan tidak bisa menerbitkan obligasi kalau jumlahnya terlalu kecil (di
Bursa Efek Jakarta disyaratkan minimal Rp. 25 miliar) atau hanya berjangka
pendek (misal hanya untuk beberapa bulan). Dalam situasi itulah perusahaan
akan tetap memerlukan kredit dari bank.
5. Leasing (sewa guna), dari lembaga keuangan non bank. Beberapa lembaga
keuangan (tetapi bukan bank) menawarkan jasa untuk menyediakan aktiva
(misalnya mesin) yang diperlukan oleh perusahaan. Secara resmi lembaga
keuangan tersebutlah yang memiliki aktiva tersebut dan perusahaan hanya
menyewanya. Bagi perusahaan, tentu saja yang penting adalah apakah
perusahaan bisa menggunakan kativa tersebut dan apakah biaya sewanya
jatuhnya lebih kecil (setelah memoerhatikan kemungkinan penghematan pajak)
dibanding dengan kalau meminjam dari bank dan membeli aktiva tersebut.
6. Project Finance. Tipe pendanaan ini merupakan tipe pendanaan yang makin
banyak dipergunakan untuk membiayai proyek-proyek besar. Pada dasarnya
project finance merupakan bentuk kredit yang pembayarannya didasarkan atas
kemampuan proyek tersebut melunasi kewajiban finansialnya. Dengan
demikian, perusahaan yang mensponsori proyek tersebut tidak akan diminta untuk
melunasi kewajiban finansial dari proyek tersebut, apabila terjadi gangguan cash
flow dari proyek tersebut. Jadi misalkan, PT A (yang telah mempunyai berbagai
divisi dan bisnis) mendapatkan kesempatan untuk membangun dan mengelola
jalan tol. Untuk membangun jalan tol tersebut diperlukan dana yang sangat besar
(misalkan Rp. 200 miliar). Kalau tipe pendanaan proyek finansial digunakan,
maka lembaga-lembaga keuangan yang menyediakan dana untuk proyek tersebut
akan dilunasi berdasarkan atas penghasilan jalan tol tersebut. PT. A tidak perlu
mengambil cash flow dari bisnis lainnya untuk memnuhi kewajiban finansial
tersebut (tentu saja juga tidak diizinkan untuk mengambil cash flow proyek
tersebut untuk memenuhi kewajiban finansial bisnis yang lain). Karena sifat
ketergantungan hanya pada proyek tersebut saja, para sponsor pendanaan akan
sangat hati-hati dalam melakukan analisis. Akan lebih disukai kalau ada
kepastian arus kas (seperti adanya kontrak penjulan).


BAB V
EVALUASI PROYEK

5.1 Pengertian Proyek
Pengertian mengenai proyek banyak terdapat dalam berbagai buku yang dikemukakan
oleh beberapa ahli, dibawah ini dikutipkan pendapat-pendapat tersebut antara lain :
1. Menurut DR. J.B. Sumarlin didalam bukunya Pokok-pokok Perencanaan Proyek
menyatakan bahwa proyek adalah ; Unit kegiatan yang direncanakan dan bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan akan sesuatu barang dan jasa yang diinginkan.
2. Menurut Ir. Sutomo Kayatmo didalam bukunya Uraian lengkap Metode Network
Planning mengetengahkan suatu pengertian proyek sebagai berikut; Proyek adalah
suatu rangkaian kegiatan-kegiatan aktifitas yang mempunyai tujuan tertentu dan
mempunyai saat permulaan dan saat berakhir. Jadi yang dimaksud adanya tujuan
Materi Ekonomi Teknik

93
tertentu di sini merupakan ujung akhir baik dipandang dari sudut logika maupun dari
sudut waktu.
3. Menurut Prof. H. Bintor Tjokroamidjojo dalam bukunya Manajemen Pembangunan
mengemukakan bahwa proyek adalah unit; Unit yang paling baik untuk
pelaksanaan perencanaan operasional dari aktifitas investasi dengan kegiatan yang
saling berkaitan untuk mencapai suatu hasil tujuan tertentu, dalam jangka waktu
tertentu. Jangka waktu tertentu dalam hal ini dimaksudkan merupakan kegiatan yang
tidak berlaku terus menerus non repetitive.
4. Ir. Agus Maulana MSM dalam terjemahannya Sistem Pengendalian Manajemen
Robert N. An. Theori, menyebutkan bahwa proyek adalah seperangkat kegiatan yang
dimaksudkan untuk mencapai hasil akhir yang cukup penting bagi manajemen.
5. A. Koolma dan C.J.M de Schoot terjemahan Soeheba Kramadibrata Manajemen
Proyek menyebutkan bahwa; Proyek adalah suatu tugas yang perlu didefinisikan dan
terarah ke suatu sasaran yang dituturkan secara konkrit serta yang harus diselesaikan
dalam kurun waktu yang tertentu dengan menggunakan tenaga manusia terbatas dan
menggunakan alat-alat terbatas pula dan semakin rumit dan barunya sehingga
diperlukan suatu jenis pimpinan dan bentuk kerjasama yang berlainan dari biasa yang
digunakan.

Jadi pada dasarnya proyek merupakan seperangkat kegiatan untuk menyelesaikan produk
tertentu secara efektif dan efisien. Aktifitas suatu proyek selalu ditujukan untuk suatu
tujuan ( objective), mempunyai suatu titik tolak ( starting point) dan suatu titik akhir
(ending point). Baik biaya-biayanya maupun hasilnya yang pokok dapat diukur.

5.2 Evaluasi Proyek

5.2.1 Cara Mengevaluasi Proyek
Dalam menganalis suatu proyek ada beberapa kriteria yang sering dipakai untuk
menentukan diterima tidaknya suatu usulan proyek, atau untuk menentukan pilihan antara
berbagai macam usulan proyek. Dalam suatu kriteria tentunya, baik manfaat (benefit)
maupun biaya dinyatakan dalam nilai sekarang (the present value-nya). Masing-masing
kriterium mempunyai kebaikan dan kelemahan.
Cara mengevaluasi sebuah proyek, antara lain:
1. Gross benefit / cost ratio ( Gross B/C ratio )
Adalah perbandingan benefit secara kotor dengan biaya secara kotor. Rumusnya
adalah
Gros B/C ratio =
t gross dari V P
benefits gros dari V P
cos . . . .
. . . .

Di dalam Gross B/C Ratio merupakan perbandingan / ratio dari jumlah benefit kotor
dengan biaya kotor yang telah di present valuekan.
Kriteria ini memberikan pedoman bahwa proyek yang akan dipilih apabila B/C Ratio
> 1. Juga sebaliknya, bila suatu proyek mempunyai Gross B/C < 1, maka tidak akan
dipilih.
Pada umumnya dapat disimpulkan bahwa jumlah investasi tidak berubah, maka hasil
Net B/C selalu konsisten dengan hasil NPV ( yaitu naik / turun dengan semakin
banyak dipakainya sarana produksi rutin ). Sedang gross B/C dapat memberikan hasil
yang berlawanan dengan itu.

Materi Ekonomi Teknik

94
2. Net benefit / cost ratio ( Net B/C ratio ).
Adalah perbandingan antara present value dari net benefit yang positif dengan present
value net benefit yang negatif (net cost ).Rumusnya adalah

Net B/C =
negatif yang B Net V P
positf yang B Net V P
. . . . .
. . . . .


=
C Net
B Net
.
.

Kriteria ini memberi pedoman bahwa proyek akan dipilih apabila Net B/C ratio > 1.
Dan begitu pula sebaliknya, bila suatu proyek memberi hasil Net B/C ratio < 1,
proyek tidak diterima.

3. Profitability Ratio

Kadang-kadang orang ingin tahu besarnya net return bagi modal investasi yang
ditanam dalam proyek. Besarnya net return bagi modal investasi adalah gross benefit
dikurangi biaya O & M. Selisih ini dianggap sebagai net return bagi modal investasi.
Selisih bdibai biaya investasi disebut Profitability Ratio :


Profitability ratio =
investasi biaya dari V P
M O biaya Benefit Gross dari V P
. . . .
) & . . ( . .

4. Net Present Value ( NPV)

Adalah selisih present value dari benefit dengan present value dari cost.
Metode ini memperhatikan time preference atau faktor bunga yang mempengaruhi
cash inflow atau procednya. Proceed tiap-tiap tahun didiskontokan pada awal
tahun investasi dengan suku bunga diskonto yang diinginkan (cash outflow) dengan
proceed yang telah didiskontokan tiap-tiap tahunnya tersebut dinamakan Net
Present Value ( nilai sekarang bersih ).
Net Present Value (NPV) inilah yang menjadi dasar apakah investasi bisa diterima
ataukah ditolak.
Bila NPV > 0 maka investasi bisa diterima, sebaliknya bila NPV s 0 maka investasi
sebaiknya ditolak. Artinya ada penggunaan lain yang lebih menguntungkan untuk
sumber-sumber yang diperlukan proyek. Rumusnya adalah

Net P.V. dari proyek = PV Benefit PV Cost.
NPV =

C B , dimana

B dan

C adalah B dan C yang sudah didiscount.



Untuk menentukan ratio-ratio atau net present value tersebut di atas harus ditetapkan
dahulu discount rate yang akan digunakan untuk menghitung the present value baik
dari benefit maupun dari biaya. Karena yang dibicarakan di sini adalah proyek-
proyek untuk kepentingan masyarakat dalam arti luas, maka yang dipakai adalah the
oppurtunity costs of capital ( OCC ), ialah manfaat (benefit) yang hilang karena
Materi Ekonomi Teknik

95
modal dipakai untuk sesuatu proyek. Yang dimaksud dengan manfaat yang hilang itu
adalah manfaat/benefit yang dapat diperoleh dengan memakai modal tersebut dalam
penggunaan alternatif yang paling menguntungkan yang belum terpenuhi.
Dalam perhitungan ada kebiasaan untuk mendiscount semua biaya dan benefit mulai
tahun pertama. Semua biaya yang dikeluarkan dan benefit yang diperoleh mulai
permulaan tahun sampai akhir tahun (artinya : sepanjang tahun) dianggap sebagai
pengeluaran atau penerimaan pada akhir tahun.
Jika B/C ratio lebih kecil dari satu, maka hal ini berarti bahwa dengan discount rate
yang dipakai, the present value dari benefit lebih kecil daripada the present value dari
cost, dan hal ini berarti bahwa proyek itu tidak menguntungkan.
Besarnya B/C ratio dipengaruhi oleh tingginya discount rate yang dipakai. Makin
tinggi discount rate, makin kecil B/C ratio, dan jika discount rate tinggi sekali, B/C
ratio dapat turun sampai menjadi lebih kecil dari satu.
Jika dipakai B/C ratio, maka sebagai kriterium untuk menerima proyek adalah B/C
ratio sama dengan atau lebih besar dari satu, kecuali dalam mutually exclusive
projects. Demikian juga dengan profitability ratio. Sedang jika dipakai the net
present value (NPV), maka sebagai ukuran untuk menerima proyek adalah NPV yang
positif ( lebih besar dari nol).

Hubungan antara gross B/C ratio, net B/C ratio, profitability ratio, dan NPV.
Untuk melihat hubungan antara keempat kriteria tersebut di atas, dapat dicoba untuk
menerapkannya pada contoh proyek di depan: Untuk perhitungan ini dimisalkan the
oppurtinity cost of capital (OCC) = 15 %.



Tahun Investasi O & M Total C Benefit Disc. Fact. 15%
1
2
3-11
12
13-21
22
23-31
32
33-41
42
400
600
-
150
-
150
-
150
-
-
-
-
100
100
100
100
100
100
100
100
400
600
100
250
100
250
100
250
100
100
-
-
350
350
350
350
350
350
350
400
0.870
0.756
3.608
0.187
0.892
0.046
0.220
0.011
0.054
0.003

Gross dan Net B/C ratio
Tahun P.V.Gr C P.V.Gr B Net C- B
Materi Ekonomi Teknik

96
1
2
3-11
12
13-21
22
23-31
32
33-41
42
348
453,6
360,8
46,8
89,2
11,5
22,0
2,8
5,4
0,3
1.340,4
-
-
1.262,8
65,5
312,2
16,1
77,0
3,9
18,9
1.2
1.757,6
348
453,6
+ 902,0 801,6
+ 18,7
+ 223,0
+ 4,6
+ 55,0
+ 1,1
+ 13,5
+ 0,9 + 1.218,8

1. Gross B/C ratio = 1.757,6/1.340,4 = 1,31 > 1
2. Net B/C ratio = 1.218,8/801,6 = 1,52 > 1
Profitability ratio
Tahun Investasi Gross
B- (O & M)
Disc. F
15 %
P.V. Inv P.V. Gr
B (O & M)
1
2
3-11
12
13-21
22
23-31
32
33-41
42
400
600
-
150
-
150
-
150
-
-
-
-
250
250
250
250
250
250
250
300
0,870
0,756
3,608
0,187
0,892
0,046
0,220
0,011
0,054
0,003
348
453,6
-
28,1
-
6,9
-
1,7
-
-
838,3
-
-
902
46,8
223,0
11,5
55,0
2,8
13,5
0,9
1.255,5

3. Profitability ratio = 1.255,5 / 838,3 = 1,50 > 1
4. Net Present Value = 1.757,6 1.340,4 = 417,2 > 0
atau = 1.218,8 801,6 = 417,2 > 0
atau = 1.255,5 838,3 = 417,2 > 0
Sekarang dapat dihitung kalau dalam proyek itu benefit adalah sebesar 250 setiap
tahunnya, pada tahun terakhir ditambah dengan salvage value 50 sehingga menjadi 300.
Maka hasilnya akan menjadi sebagai berikut :
1. Gross B/C ratio = 1.255,4 / 1.340,4 = 0,94 < 1
2. Net B/C Ratio = 716,7/801,6 = 0,89 < 1
3. Profotability ratio = 753,4 / 838,3 = 0,90 < 1
4. Net present Value = 1.255.4 1.340,4 = - 85 < 0 jumlah agak
atau = 716,7 801,6 = - 84,9 < 0 berbeda karena
atau = 753,4 838,3 = - 84,9 < 0 pembulatan
Dari contoh diatas dapat dilihat bahwa : jika Gross B/C ratio adalah lebih besar dari 1,
maka demikian pula Net B/C ratio dan Profitability ratio, dan Net present value adalah
Materi Ekonomi Teknik

97
lebih besar dari nol, artinya positif. Sebaliknya, jika gross B/C ratio adalah lebih kecil
dari satu, maka demikian value adalah negatif.

5. Internal rate of return (IRR)
Internal rate of return adalah discount rate yang dapat membuat besarnya the net present
value ( NPV) proyek sama dengan nol ( 0 ), atau yang dapat membuat B/C ratio = 1.
Dalam perhitungan IRR ini diasumsikan bahwa setiap benefit neto tahunan secara
otomatis ditanam kembali dalam tahun berikutnya dan memperoleh rate of return yang
sama dengan investasi-investasi sebelumnya. Besarnya IRR ini tidak ditemukan secara
langsung, dan harus dengan coba-coba . Rumus IRR adalah.

IRR = i + ( ) ' ' '
' ' '
'
i i
NPV NPV
NPV


Kalau rumus ini diterapkan pada soal di atas, maka hasilnya adalah sebagai berikut :
Tahun Net
B-C
D.F
22%
NPV
22%
D.F
22%
NPV
23%
1
2
3-11
12
13-21
22
23-31
32
33-41
42
- 400
- 600
250
100
250
100
250
100
250
300
0,820
0,672
2,544
0,092
0,348
0,013
0,048
0,002
0,007
-
- 328
- 403,2
636
9,2
87
1,3
12
0,2
1,7

16,2
0,813
0,661
2,428
0,083
0,306
0,01
0,039
0,001
0,005
-
- 325,2
- 396,6
607
8,3
76,5
1,1
9,8
0,1
1,3
-
-17,7

IRR = 22 % + % 1 .
) 7 , 17 ( 2 , 16
2 , 16
x


= 22 % + % 48 , 22 % 48 , 0 225 15 % 1 .
9 , 33
2 , 16
= + = = x
Pada discount rate 22,48 % ini net present value adalah sebesar nol (0).

Keunggulan dan kelemahan kriterium the internal rate of return ( IRR )
The internal rate of retrun (IRR) lebih banyak disukai daripada kriteria lain, dan dipakai
sebagai kriterium utama di kalangan Bank Dunia untuk mengukur profitability proyek-
proyek pembangunan, baik secara finansial maupun secara ekonomik.

IRR mempunyai beberapa keunggulan praktis yang menonjol, ialah :
1. kriterium ini menghindari kesukaran dalam memilih discount rate yang sesuai, dan
2. karena dinyatakan dalam bentuk rate of return, hasilnya dapat dibandingkan dengan
tingkat bunga yang berlaku.

Materi Ekonomi Teknik

98
Disamping keunggulan-keunggulan tersebut, IRR mempunyai beberapa kelemahan ialah:
1. IRR dianggap tidak ada hubungannya dengan the opportunity cost of capital
(OCC), ialah the earning power dari proyek marginal. Karenanya maka kalangan
yang membela OCC sebagai reward yang sebenarnya bagi modal mengganggap
IRR sebagai rate dalam khayalan ( an illusory rate ).
2. IRR mengandung arti ( implies) bahwa untuk tiap proyek hanya ada satu rate of
return. Hal ini berlaku bagi proyek dengan manfaat neto (net benefit) yang negatif
pada tahun-tahun pertama dan kemudian mempunyai manfaat neto yang negatif dan
positif, kemudian negatif lagi, dan seterusnya, maka tidak ada satu unique rate bagi
proyek tersebut. Hal semacam ini dapat terjadi pada proyek-proyek dengan capital
item utama yang harus sering diganti (replaced).

Penyusunan urut-urutan ( rangking ) proyek-proyek menurut besarnya berbagai kriteria
diatas tidak dapat langsung diterapkan, karena :
1. Dalam pembangunan ada tujuan-tujuan lain yang perlu diperhitungkan, dan
2. Ukuran-ukuran B/C ratio, NPV, dan IRR itu mencerminkan analisa partial yang
didasarkan pada asumsi bahwa proyek yang dianalisa itu kecil sekali dibandingkan
dengan perekonomian sebagai keseluruhan, sehingga tidak mempengaruhi harga-
harga. Untuk proyek-proyek yang besar sekali, yang dapat mempengaruhi seluruh
perekonomian, ukuran-ukuran tersebut diatas tidak cukup. Dalam hal ini diperlukan
analisa yang lebih mendalam dan lebih sesaui.






Pengaruh tingginya discount rate pada hasil perhitungan.

Dis1count rate yang dipakai untuk menghitung nilai sekarang ( the present value)
dari manfaat dan biaya sangat menentukan nilai hasil perhitungan. Contohnya adalah
sebagai berikut :

Jika diketahui besarnya investasi dan manfaat neto dari investasi ( = manfaat bruto
biaya operasi dan pemeliharaan ) adalah sebagai berikut :

Tahun Investasi Manfaat neto Investasi
1 10.000 0
2 8.000 0
3 2.000 8.000
4 2.000 10.000
5 2.000 12.000
6 - 3.000 ( nilai salvage )
24.000 30.000

Materi Ekonomi Teknik

99
maka jika dipakai discount rate sebesar ; a) 10 perosen, tau b) 20 perosen, atau c) 5
perosen, besarnya profitability ratio dan net present value ( NPV ) akan berbeda sebagai
berikut :
a. Discount rate = 10 persen
Tahun Investasi
( Rp ribu )
Manfaat neto
Investasi
( Rp ribu )
Disc. F.
10 %
Nilai Sekarang
Invest . Manf. Neto I
( Rp. ribu ) ( Rp. ribu )
1
2
3
4
5
6


10.000
8.000
2.000
2.000
2.000
-

24.000
0
0
8.000
10.000
12.000
3.000

33.000
0,909
0,826
0,751
0,683
0,621
0,565

9.090
6.608
1.502
1.366
1.242


19.808
0
0
6.008
6.830
7.452
1.695

21.985


1. nilai salvage
2. Profitability ratiop = 21.985 / 19.808 = 1,11
3. NPV = 21.985 19.8008 = Rp. 2.177 ribu


b. Discount rate = 20 persen

Tahun Investasi
( Rp ribu )
Manfaat neto
Investasi
( Rp ribu )
Disc. F.
20 %
Nilai Sekarang
Invest . Manf. Neto I
( Rp. ribu ) ( Rp. ribu )
1
2
3
4
5
6


10.000
8.000
2.000
2.000
2.000
-

24.000
0
0
8.000
10.000
12.000
3.000

33.000
0,833
0,694
0,579
0,482
0,402
0,335

8.330
5.552
1.158
964
804


16.808
0
0
4.632
4.820
4.824
1.005

15.281

1. nilai salvage
2. Profitability ratiop = 15.281 / 6.808 = 0.91
3. NPV = 15.281 16.808 = Rp. 1.527 ribu


Materi Ekonomi Teknik

100
c. Discount rate = 5 persen

Tahun Investasi
( Rp ribu )
Manfaat neto
Investasi
( Rp ribu )
Disc. F.
5 %
Nilai Sekarang
Invest . Manf. Neto I
( Rp. ribu ) ( Rp. ribu )
1
2
3
4
5
6


10.000
8.000
2.000
2.000
2.000
-

24.000
0
0
8.000
10.000
12.000
3.000

33.000
0,952
0,907
0,864
0,823
0,784
0,746

9.520
7.256
1.728
1.646
1.568


21.718
0
0
6.912
8.230
9.408
2.238

26.788
1. nilai salvage
2. Profitability ratiop = 26.788 / 21.718 = 1.23
3. NPV = 26.788 21.718 = Rp. 5.070 ribu

BAB VI

PENILAIAN BIAYA INVESTASI

Jika biaya investasi dikeluarkan dan dihitung satu kali, umpamanya investasi sebesar Rp.
4. juta, jumlah itu dimasukkan pada tahun nol (0), dan depresiasi serta bunga pinjaman
tidak dihitung sebagai biaya. Dan perhitungannya adalah sebagai berikut :

Tahun Biaya investasi Nilai Sekarang (P.V)
0 Rp. 4.000.000 Rp. 4.000.000
Seringkali, karena biaya operasi (operating cost) dinyatakan dalam biaya tahunan, maka
investasi yang dikeluarkan sekali pada permulaan proyek, umpamanya biaya untuk
bangunan pabrik, mesin, dan alat produksi lainnya, harus dibagi menjadi biaya tahunan
sebagai biaya penyusutan (depresiasi). Cara yang paling mudah ialah dengan
mengadakan penyusutan secara garis lurus (strainght line), ialah jumlah investasi dibagi
jumlah tahun. Dalam hal ini yang dihitung sebgai biaya depresiasi dan bunga pinjaman,
sedang amortisasi (pengembalian pinjaman) tidak dihitung sebagai biaya, dan dianggap
sebagai transfer finansial. Kalau, baik depresiasi maupun amortisasi dihitung sebagai
biaya, akan terjadi penghitungan ganda (double counting),. Bunga modal pinjaman
dihitung sebagai biaya agar nilai sekarang ( the present value dari biaya modal ( =
depresiasi + bunga pinjaman ) sama dengan besarnya investasi.

Materi Ekonomi Teknik

101
Kalau biaya investasi dihitung dibagi biaya tahunan, dan bunga tidak diperhitungkan
dalam biaya, maka nilai-sekarang ( the present value dari depresiasi menjadi lebih kecil
daripada invesasi yang sesunguhnya).

Sebagai contoh kita ambil investasi sebesar Rp. 4. juta yang dipakai / tersusut dalam lima
tahun, dan tidak meninggalkan nilaisalvage.

A. Kalau dipakai depresiasi secara garis lurus ( strainght line tanpa
diperhitungkan bunga.

Tahun Investasi Depresiasi
( Rp ribu ) ( Rp. ribu )
0 4.000 -
1 800
2 800
3 800
4 800
5 800

Untuk perhitungan secara financial ( swasta ) dengan discount rate = 7 %, maka nilai
sekarang ( P.V. ) dari biaya investasi itu adalah Rp. 800 ribu x
7
5
) / ( A P = Rp. 800
ribu x 4,100197 = Rp. 3.280 ribu < Rp. 4 juta.

Untuk perhitungan secara ekonomik dengan discount rate sebesar the oppurtunity cost
of capital, misalnya 15 %, maka nilai-nilai ( P.V.) dari biaya investasi itu adalah : Rp.
800 ribu x
15
5
) / ( A P = Rp. 800 ribu x 3,352155 = Rp. 2.681, 7 ribu < Rp. 4 juta.

Dari contoh diatas dapat dilihat bahwa jika biaya investasi dikeluarkan sekaligus, dan
dihitung sebagai biaya tahunan (depresiasi), dan tidak diperhitungkan bunganya ( untuk
analisa finansial sebesar tingkat bunga, dan untuk analisa ekonomik sebesar OCC), maka
pembebanan biaya investasi menjadi lebih rendah daripada yang sesungguhnya. Lain
halnya kalau pengeluaran untuk investasi itu memang diadakan secara tahunan. Dalam
hal ini nilai sekarang ( P.V) biaya tersebut memang < Rp. 4 juta.

B. Kalau dipakai depresiasi secara garis lurus (strainght line) dan bunga
diperhitungkan.

( i ). Untuk perhitungan secara finansial / swasta, dengan bunga 7 %.

Tahun Investasi Depresiasi Nilai buku Bunga 7 % Depresiasi + bunga
(Rp ribu) (Rp ribu ) (Rp ribu) (Rp ribu ) ( Rp. ribu )
0 4.000 4.000
1 800 3.200 280 1.080.
2 800 2.400 224 1.024
3 800 1.600 168 968
Materi Ekonomi Teknik

102
4 800 800 112 912
5 800 56 856
4.000 840 4.840


Tahun Depresiasi + bunga Disc. F.7 % Nilai sekarang
( Rp ribu ) ( Rp ribu )
0
1 1.080 0,934579 1.009,3
2 1.024 0,873439 894,4
3 968 0,816298 790,2
4 912 0,762895 695,8
5 856 0,712986 610,3
4.840 4.000,0





( ii). Untuk perhitungan secara ekonomik, dengan bunga setinggi OCC = 15 %

Tahun Investasi Depresiasi Nilai buku Bunga 15 % Depresiasi + bunga
(Rp ribu) (Rp ribu ) (Rp ribu) (Rp ribu ) ( Rp. ribu )

0 4.000 4.000
1 800 3.200 600 1.400.
2 800 2.400 480 1.280
3 800 1.600 360 1.160
4 800 800 240 1.040
5 800 120 920
4.000 1.800 5.800




Tahun Depresiasi + bunga Disc. F.15 % Nilai sekarang
( Rp ribu ) ( Rp ribu )
0
1 1.400 0,869565 1217,4
2 1.280 0,756144 967,9
3 1.160 0,657516 762,7
4 1.040 0,571753 594,6
5 920 0,4971777 457,4

5.800 4.000,0


Materi Ekonomi Teknik

103
Dalam contoh diatas terlihat bahwa jika investasi sebesar Rp. 4 juta dikeluarkan pada
tahun nol ( 0 ), tetapi dihitung sebagai biaya tahunan sebesar depresiasi ( deprection
charge ), maka bunga harus dihitung sebagai biaya ( untuk perhitungan finansial = 7 %
dan untuk perhitungan ekonomi = 15 % ), sebab :
a. Kalau bunga tidak dihitung, maka biaya yang dibebankan / dihitung mempunyai nilai
sekarang yang lebih kecil daripada biaya yang sesungguhnya.
b. Kalau bunga dihitung, maka nilai sekarang dari pembebanan biaya adalah tepat sama
dengan biaya yang sesungguhnya ( Rp. 4 juta ).

Jika tingkat bunga yang harus diperhitungkan adalah setinggi the oppourunity cost of
capital, ialah 15 persen, dan tingkat bunga itu dianggap sebagai biaya luar negeri (foreign
cost ), sedang sisanya setinggi 7 perosen, dianggap sebagai biaya dalam negeri (domestik
cost ).




Jika biaya investasi itu dikeluarkan / dipakai sekaligus pada permulaan proyek, tetapi
dihitung sebagai biaya tahunan, maka perhitungan sebagai berikut :




Tahun Investasi Depresiasi Nilai buku Bunga sebagai Bunga Jumlah
( Rp ribu ) ( Rp. ribu ) ( Rp. ribu ) biaya biaya total (3) + ( 7)
LN 8% DN 7% 15% ( Rp.ribu)

0 4.000 - 4.000 - - - -
1 800 3.200 320 280 600 1.400
2 800 2.400 256 224 480 1.080
3 800 1.600 192 168 360 1.160
4 800 800 128 112 240 1.040
5 800 0 64 56 120 920
4.000 4.000 12.000 960 840 1.800 5800







Tahun Depresiasi + bunga Disc. F.15 % Nilai sekarang
( Rp ribu ) ( Rp ribu )
0
Materi Ekonomi Teknik

104
1 1.400 0,869565 1217,4
2 1.280 0,756144 967,9
3 1.160 0,657516 762,7
4 1.040 0,571753 594,6
5 920 0,4971777 457,4

5.800 4.000,0







C. Dapat juga investasi diadakan pada permulaan proyek ( = tahun 0 ), dan biaya
dibebankan secara tahunan dengan memakai capital recovery factor
i
n
P A ) / (
Capital recovery ini sudah mengandung bunga.

(i) Untuk perhitungan secara finansial / swasta, dengan bunga = 7 %
7
5
) / ( P A = 0,243891.
Pembebanan tahunan = Rp. 4.000 ( ribu x 0,243891 = Rp. 975.546 ribu.


Tahun Investasi Capital recovery Disc. F . 7 % Nilai - sekarang
(Rp ribu) (Rp ribu ) ( Rp. ribu )

0 4.000
1 975,564 0,934579 911,7
2 975,564 0,873439 852,1
3 975,564 0,816298 796,4
4 975,564 0,762895 744,2
5 975,564 0,712986 695,6

4.000 4.877.820 4.000,0

atau 975, 564 X ( P/A)
7
5
= 975.564 X 4,100197 = 4.000,0 ( Rp. ribu )

(ii). Untuk perhitungan secara ekonomik, dengan bunga 15 % . (A/P)
15
5
= 0,298316.
Pembebanan tahunan = Rp. 4.000 ( ribu ) X 0,298316 = Rp. 1.193.264


Tahun Investasi Capital recovery Disc. F . 15 % Nilai - sekarang
(Rp ribu) (Rp ribu ) ( Rp. ribu )

Materi Ekonomi Teknik

105
0 4.000
1 1.193,264 0,869565 1.037,6
2 1.193,264 0,756144 902,3
3 1.193,264 0,657516 784,6
4 1.193,264 0,571753 682,2
5 1.193,264 0,497177 593,3

4.000 5.966,320 4.000,0

Kalau menurut perhitungan, modal tetap (fixed assets) pada akhir umur proyek masih
mempunyai nilaisalvage, maka dalam pembebanan depresiasi jumlah tersebut
diperhitungkan. Umpamanya investasi dalam modal tetap adalah sebesar Rp. 4.000 yang
akan dipakai dalam 5 tahun, dan pada akhir tahun ke lima ada nilaisalvagesebesar Rp.
800 ( ribu). Dengan demikian nilai yang tersusut adalah sebagai berikut :

( i ) Untuk perhitungan secara finansial / swasta, dengan bunga 7 %

Tahun Investasi Depresiasi Nilai buku Bunga 7 % Depresiasi + bunga
(Rp ribu) (Rp ribu ) (Rp ribu) (Rp ribu ) ( Rp. ribu )
0 4.000 4.000 -
1 640 3.360 280 920
2 640 2.720 235,2 875,2
3 640 2.080 190,4 830,4
4 640 1.440 145,6 785,6
5 640 800 100,8 740,8
Salv. + 800,0

3.200






Tahun Depresiasi + bunga Disc. F.7 % Nilai sekarang
( Rp ribu ) ( Rp ribu )
0
1 920 0,869565 1217,4
2 875,2 0,756144 967,9
3 830,4 0,657516 762,7
4 785,6 0,571753 594,6 = 3.429,6
5 740,8 0,497177 457,4
Salv. + 800,0 0,713000 +570,4

Materi Ekonomi Teknik

106
4.000,0


Dalam hal ini biaya investasi yang dapat dibebankan bukan Rp. 4.000 ribu, dan bukan
Rp. 3.200 ribu, melainkan Rp. 4.000 ribu nilai sekarang dari Rp. 800 ribu = Rp. 4.000
ribu 0,7130 X Rp. 800 ribu = Rp. 3.429, 6 ribu.






( ii) Untuk perhitungan secara ekonomik, dengan bunga ( discount rate ) 15 %.

Tahun Investasi Depresiasi Nilai buku Bunga 15 % Depresiasi + bunga
(Rp ribu) (Rp ribu ) (Rp ribu) (Rp ribu ) ( Rp. ribu )

0 4.000 4.000 -
1 640 3.360 600 1.240
2 640 2.720 504 1.144
3 640 2.080 408 1.048
4 640 1.440 312 952
5 640 800 216 856
Salv. + 800,0

4.000 3.200


Tahun Depresiasi + bunga Disc. F.15 % Nilai sekarang
( Rp ribu ) ( Rp ribu )
0
1 1.240 0,8696 1.078,3
2 1.144 0,7561 865,0
3 1.048 0,6575 689,1
4 952 0,5717 544,2
5 856 0,4972 425,6
+ 800 0,4972 397,8

4.000,0


Dari perhitungan di atas dapat dilihat bahwa biaya investasi yang dapat dibebankan
secara ekonomik adalah sebesar Rp. 4.000 ribu Rp. 397,8 ribu = Rp 3.602,2 ribu.
Kalau dipakai capital recovery factor, dan ada nilaisalvagesebesar Rp. 800 ribu, maka
nilai salvageitu harus didiscount dulu, kemudian selisih antara nilai modal total
sebesar Rp. 4.000 ribu dan nilai sekarang dari Rp 800 ribu = Rp. 4.000 ribu Rp. 397,8
ribu = Rp. 3.602,2 ribu dibagi selama 5 tahun dengan menggunakan capital recovery
factor.
Materi Ekonomi Teknik

107

Capial recovery factor = (A/P)
15
5
= 0,298316
Rp 3.602,2 X 0,298316 = Rp 1.074.594.





Tahun Investasi Capital recovery Disc. F . 15 % Nilai - sekarang
(Rp ribu) (Rp ribu ) ( Rp. ribu )
0 4.000
1 1.074,594 0,869565 934.429
2 1.074,594 0,756144 812.548
3 1.074,594 0,657516 706.563
4 1.074,594 0,571753 614.402
5 1.074,594 0,497177 534.263
800.000 0,497177 397.742
4.000 5.966,320 4.000,0

Atau nilai sekarang dapat dihitung sebagai berikut :
Rp. 1.074.594 x ( P/A)
15
5
x ( P/A)
15
5
+ Rp 800.000 x ( P/F)
15
5
=
Rp 1.074.584 x 3,352155 + Rp. 800.000 x 0,497177 =
Rp 3.602.206 + Rp 397.742 = Rp 3.999.948 = Rp 4.000.000



BAB VII
MUTUALLY EXCLUSIVE PROJECTS


Dua proyek adalah mutually exclusive apabila diterimanya proyek yang satu berarti
proyek yang lain harus ditolak. Hal ini terjadi jika harus dipilih antara dua proyek yang
berlainan, atau antara bentuk atau ukuran yang berbeda dari proyek yang sama. Persoalan
pemilihan antara mutually exclusive projects ini hanya timbul apabila tidak mungkin atau
tidak dikehendaki pelaksanaan lebih dari satu alternatif. Sebab, jika semuanya dapat
dilaksanakan, maka prosedur pengambilan keputusan adalah seperti biasa.

Dalam pemilihan antara dua mutually exclusive projects, pengunaan IRR atau R/C atau
B/C ratio dapat menyesatkan, karena proyek yang kecil dapat mempunyai IRR atau B/C
ratio yang lebih tinggi daripada proyek besar, sedang proyek besar tersebut dapat
Materi Ekonomi Teknik

108
mendatangkan kemakmuran yang lebih besar. Jika menurut semua kriteria ( B/C ratio,
NPV, IRR ) proyek yang satu lebih menguntungkan daripada proyek yang lain, maka
sudah terang akan dipilih proyek yang menguntungkan tersebut. Yang menjadi soal
adalah jika penghitungan menurut berbagai macam kriteria tersebut memberi hasil yang
berbeda, umpamanya., ada dua mutually exclusive projects, yang satu lebih kecil;
daripada yang lain, dan menurut perhitungan hasilnya adalah sebagai berikut : Misalkan
OCC = 18 %.
1. Gross dan net B/C ratio ( 18%) proyek kecil > proyek besar.
2. Net present value ( NPV ) ( 18 % ) proyek kecil < proyek besar
3. Internal Rate of Return ( IRR) proyek kecil > proyek besar.
Dalam hal ini maka yang perly dinilai adalah selisih antara arus benefit dari kedua
alternatif tersebut. Apabila the opportunity cost of capital (OCC) diketahui dengan pasti,
maka biasanya besarnya NPV sudah cukup untuk pemilihan ini.
Cara lain adalah dengan menghitung IRR dari selisih antara sumber-sumber yang
diperlukan. Hal ini sama dengan membandingkan MR dan MC . ( marginal revenue dan
marginal cost ).

Sebagai contoh misalkan ada dua mutually exclusive projects sebagai berikut :
Tahun
P r o y e k K e c i l P r o y e k B e s a r
Gross costs Gross Benefit Gross costs Gross Benefit
1
2
3
4
5
6-20
550,0
6,0
6,0
6,0
6,0
6,0
-
155
155
155
155
155
1.650,0
1.100,0
110,0
110,0
110,0
110,0
-
-
500,0
600,0
750,0
900,0
Total 664,0 2.945 4.730,0 15.350,0

Proyek Kecil
Tahun D.F. 18 % PV. Gr. Cost PV. Gr. Benefit PV. Net C-B
1
2
3
4
5
6-20
0,847
0,718
0,609
0,519
0,437
2,226
465,85


27,04


492,89
-


698,32


698,32
- 465,85


+ 671,28


+ 205,43


Materi Ekonomi Teknik

109
Tahun Net B-C D.F. 26 % PV. 26 % D.F. 27 % PV. 27 %
1
2
3
4
5
6-20
- 550,0
+ 149,0
149,0
149,0
149,0
149,0

0,794
0,630
0,500
0,397
0,315
1,173
- 436,70


+ 449,24


+ 12,54
0,787
0,620
0,488
0,384
0,303
1,090
698,32
- 432,85


+ 429,87


- 2,98

1. Gross B/C ratio 18 % = 698,32 / 492, 89 = 1.42
2. Net B/C ratio 18 % = 671,28/ 465,85 = 1,44
3. Net Present Value 18 % = Rp. 205, 43 juta
4. IRR = 26 % + 12,54 / ( 12,54 + 2,98) x 1 % = 26,81 %.







Proyek Besar
Tahun D.F 18 % Gross C. Gross BEn P.V.GR. C P.V Ben Net
1
2
3
4
5
6-20
0,847
0,718
0,609
0,516
2,226
1.650,0
1.100,0
110,0
110,0
110,0
110,0
4.730,0
-
-
500,0
600,0
750,0
900,0
15.350,0
1.397,55
789,80
66,99
56,76
48,07
244,86
2.604,03
-
-
304,50
309,60
327,75
2.003,40
2.945,25
- 1.397,55
- 789,80
+ 237,51
252,84
279,68
1.758,54
341,22




Materi Ekonomi Teknik

110
Tahun Net B-C D.F. 20 % Net 20 % D.F. 21 % Net. 21 %
1
2
3
4
5
6-20
- 1.650,0
- 1.100,0
+ 390,0
490
640
790

0,833
0,694
0,579
0,482
0,402
1,879
- 1.374,45
- 763,40
+ 225,81
236,18
257,28
1.484,41
+ 65,83
0,826
0,683
0,564
0, 467
0,386
1,731

- 432,85
- 751,3
+ 219,96
228,83
247,04
1.367,49
- 50,88


1. Gross B/C ratio 18 % = 2.945,25/2.604,03 = 1,13
2. Net B/C ratio 18 % = 2.528, 57/2.187,35 = 1,16
3. Net Present Value 18 % = Rp 341,22 juta
4. IRR = 20 % + 65,83 /(65,83 + 50,88) x 1 % = 20,56 %




Sekarang kita bandingkan hasil perhitungan.

Proyek Kecil Proyek Besar
1. Gross B/C ratio 18 % 1,42 > 1,13
2. Net B/C ratio 18 % 1,44 > 1,16
3. N.P.V. 18 % ( Rp. juta ) 205,43 < 341,22
4. I.R.R 26,81 % > 20,56 %

Dari hasil perhitungan tersebut menurut 3 kriteria proyek yang kecil lebih
menguntungkan, tetapi menurut satu kriterium, ialah NPV, proyek besar lebih
menguntungkan. Dalam hal ini perlu dinilai IRR dari selisih antara sumber-sumber yang
dipakai dalam kedua proyek tersebut.


Tahun Net C B Net C B Selisih
Materi Ekonomi Teknik

111
Proyek Besar Proyek Kecil
1
2
3
4
5
6-20
- 1.650,0
- 1.100,0
+ 390,0
490,0
640,0
790,0
- 550,0
+ 149,0
149,0
149,0
149,0
149,0
- 1.100
- 1.249
+ 241
341
491
641









Tahun Selisih D.F. 19 % PV. 19 % D.F. 20 % PV. 20 %
1
2
3
4
5
6-20
- 1.100
- 1.249
+ 241
341
491
641

0,840
0,706
0,593
0,499
0,419
2,043
- 924,0
- 881,8
+ 142,9
170,2
205,7
1.309,6
+ 22,6
0,833
0,694
0,579
0,482
0,402
1,879

- 916,3
- 866,38
+ 139,5
164,4
197,4
1.204,4
- 77,4


IRR selisih arus net benefit = 19 % +
4 , 77 6 , 22
6 , 22
+
x 1 %

= 19 % +
0 , 100
6 , 22
x 1 % = 19,23 %
Kalau dengan selisih modal itu dapat ditemukan proyek yang mempunyai IRR lebih besar
dari 19,23 % , maka lebih baik dipilih proyek yang kecil, dan selisih modal ditanam
dalam proyek yang lebih menguntungkan tersebut. Jika tidak, maka lebih baik dipilih
Materi Ekonomi Teknik

112
proyek yang kecil, masyarakat akan kehilangan kesempatan untuk mendapat NPV
sebesar Rp. 341,22 juta Rp. 205,43 juta = Rp. 135, 79 juta. Jumlah ini yang harus dapat
dicapai oleh selisih modal proyek besar dan proyek kecil. Jika dengan selisih modal
proyek besar dan proyek kecil itu dapat dicapai NPV yang lebih besar dari Rp. 135,79
juta, maka dipilih proyek yang kecil, dan selisihnya ditanam dalam proyek tersebut. Jika
tidak, maka lebih baik dipilih proyek yang besar.

Hasil yang bertentangan antara penilaian menurut IRR dan B/C atau
NPV
Ada kalanya dua mutually exclusive projects memerlukan invesatasi modal yang sama
besarnya, proyek yang satu mempunyai IRR lebih tinggi daripada yang lain, proyek yang
satu mempunyai IRR lebih tinggi daripada yang lain, tetapi pada OCC yang dipakai
sebagai discount rate, mempunyai NPV yang lebih kecil. Antara kedua proyek tersebut
terdapat cross- over discount rate.



























Pada gambar di atas , proyek A mempunyai IRR 26 % sedang proyek B 22 %; tetapi pada
discount rate 18 % yang dianggap sebagai the opportunity cost of capital, proyek A
mempunyai NPV yang lebih rendah dari pada proyek B ( umpamanya: proyek A = Rp. 3
juta, proyek B = Rp 4,4 juta). Karena kedua proyek itu mutually exclusive, dan sama
besarnya, maka harus dipilih salah satu diantaranya menurut relative desirability.


NPV (Rp.jt)

B



A

B.4,4
A.3,0




0 18% 19,5% 22 % 26%

Gambar 5.1 Dua mutual excluxive projects dengan investas yang sama besar
Cross-over discount rate
Materi Ekonomi Teknik

113
Kalau orang percaya bahwa the opportunity cost of capital sebesar 18% itu betul-betul
mencerminkan nilai modal dalam masyarakat, maka proyek B lebih menguntungkan
dilihat dari sudut besarnya NPV. Tetapi kdang-kadang orang tidak tahu dengan tepat
besarnya OCC. Umpamanya diperkirakan OCC adalah antara 18 % dan 22 % . Maka
dalam hal ini perlu dicari criteria lain untuk menentukan pilihan.

Penentuan Waktu
Persoalan khusus dalam mutually exclusive projects adalah jika harus dipilih antara
melaksanakan proyek sekarang atau pada sesuatu saat dalam waktu yang akan datang.
Dalam hal ini proyek yang sama tetapi dilaksanakan pada waktu yang berbeda itu
dianggap sebagai dua proyek yang berbeda.
Ada dua cara pendekatan untuk menentukan waktu yang optimal ( optimum time )
untuk memulai proyek :
1. Yang paling sederhana ialah menghitung NPV proyek yang dimulai pada beberapa
tahun yang berlainan, dan mendiscountnya dengan OCC ( atau the cut off rate).
Dalam hal ini tahun yang sama dipakai sebagai t
q
( tahun nol) untuk semua alternatif.
Waktu untuk memulai proyek yang paling baik adalah waktu yang memberikan NPV
yang paling besar. Sebelum tahun itu, pengunduran ( postponing) pelaksanaan proyek
akan menaikkan NPV, sedang sesudah tahun itu pengunduran pelaksanaan proyek
akan menurunkan NPV.
2. Cara yang kedua ialah mendiscount selisih antara net benefit daripada alternatif-
alaternatif ( = proyek yang dilaksanakan pada beberapa waktu yang berbeda). Tetapi
cara ini sukar. Dalam cara ini waktu yang terbaik untuk memulai proyek adalah
waktu yang memberikan IRR dari selisih antara arus-arus net benefit dari tahun
berturut-turut, yang sama dengan OCC ( atau the cut off rate).
Skala
Banyak usulan proyek yang sebagai keseluruhan ( total package ) menunjukkan NPV
yang positif, atau IRR yang lebih besar daripada OCC. Tetapi kalau package itu
dipecah-pecah, maka adakalanya dapat dilihat bahwa skala optimal bagi investasi adalah
jauh lebih kecil daripada total package tersebut. Artinya , sesudah skala optimal
tersebut, pada OCC (social discount rate), investasi tambahan (incremental investment)
akan mempunyai NPV yang negatif, atau IRR yang lebih kecil daripada the social
discount rate ( OCC ).

Untuk menghindari proyek-proyek berupa total package yang lebih besar daripada
skala optimum tersebut, perlu dibuat serangkaian skala operasi alternatif ( a range of
alternative scales of operations) yang memnunjukkan present value masing-masing
komponen tersendiri, agar diperoleh alternatif yang optimal yang mempunyai NPV yang
maksimal.

Ada kalanya cara untuk mengubah skala proyek adalah dengan mengubah waktu
pelaksanaan (time of initiation) masing-masing komponen proyek (umpamanya untuk
Materi Ekonomi Teknik

114
dermaga di pelabuhan ). Masing-masing komponen mempunyai present value of cost dan
present value of benefit yang berbeda jika dimulai pada tahun ( waktu ) yang berbeda.

Dalam hal pelabuhan dapat dibuat dermaga (berths) beberapa buah sekaligus pada waktu
yang sama, atau dapat dibuat secara bertahap sesuai perkembangan lau-lintas ( traffic).
Time alternatives disini merupakan mutually exclusive projects.

Cara menentukan apakah sudah waktunya untuk melaksanakan sesuatu komponen adalah
dengan melihat return investasi pada tahun operasi lebih besar daripada the investasi
itu terlambat . Jika return tahun pertama itu lebih berarti bahwa investasi itu terlambat ,
Jika return tahun pertama itu lebih kecil daripada the social discount rate, maka hal
ini berarti diundurkan (postponed). Waktu yang tepat untuk memulai investasi ialah
waktu yang memberikan returntahun pertama sama dengan the social discount rate.


Cara pendekatan Cost Effectiveness
Cara pendekatan cost effectiveness dipakai dalam pemilihan di antara beberapa
alternatif untuk mencapai benefit (manfaat) yang sama. Disini manfaat dianggap sama,
dan yang dicari adalah alternatif dengan biaya yang paling murah. Artinya, dicari the
least cost untuk mencapai manfaat yang sama.

Dalam analisa proyek ada biaya finansial ( financial cost) dan ada biaya social/ekonomis.
Dalam analisa ini yang dicari adalah biaya soaail yang paling rendah.
Misalkan ada suatu proyek yang dapat dijalankan dengan tiga macam teknik ialah teknik
A, B, da C. Pada teknik A hanya dipakai tenaga manusia dengan pengeluaran Rp. 18 juta
setiap tahunnya. Pada teknik B diperlukan investasi sebesar Rp 30 juta ( setahun sebelum
mulai produksi) yang dapat menekan biaya buruh menjadi Rp. 15 juta setahun. Investasi
ini akan dapat diapkai selama sepuluh ( 10 ) tahun. Teknik C memakai alat untuk
menghemat tenaga buruh (a labor saving device), sehingga biaya buruh dapat ditekan
menjadi Rp. 12 juta setahun. Alat ini harganya Rp 30 juta dan susut ( worn out) dalam
lima( 5 ) tahun, dan sesudah itu tidak ada nilainya lagi.

Untuk mengadakan perbandingan antara dua lalternatif dengan umur yang berbeda,
diambil kelipatan persekutuan yang terkecil ( the least commom multiple ) daripada
umur-umur alternatif itu. Umpamanya jika alternatif yang satu umurnya 8 tahun, dan
yang lain 12 tahun, maka diambil periode perhitungan 24 tahun; yang berarti 3 life
cycles untuk alternatif pertama, dan 2life cyclesuntuk alternatif kedua.

Karena investasi pada teknik B umurnya 10 tahun, dan alat penghemat tenaga kerja pada
teknik C umurnya 5 tahun, maka untuk perbandingan ini diambil jangka waktu 10 tahun.
Jadi dalam jangka waktu itu pada teknik C perlu dibel ialat penghemat tenaga kerja
sebanyak dua kali, yang pertama dipasang setahun sebelum tahun pertama untuk dipakai
dalam tahun 1 sampai dengan 5, yang kedua dipasang pada tahun kelima untuk dipakai
dalam tahun-tahun 6 amapi dengan 10. Investasi pada teknik B diadakan setahun sebelum
tahun pertama dan dipakai dalam tahun 1 sampai dengan 10.
Materi Ekonomi Teknik

115









Struktur biaya ( dalam Rp 100 )
Tahun Teknik A Teknik B Teknik C
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
-
18.000
18.000
18.000
18.000
18.000
18.000
18.000
18.000
18.000
18.000

180.000
30.000
15.000
15.000
15.000
15.000
15.000
15.000
15.000
15.000
15.000
15.000

180.000
30.000
12.000
12.000
12.000
12.000
42.000
12.000
12.000
12.000
12.000
12.000

180.000

Untuk mengadakan perbandingan disini dapat dipakai dua metode ialah :
1. metode perbandingan biaya tahunan ( the annual cost method of comparison );
2. metode perbandingan the present value( the present worth method of comparison ).

1. Metode perbandingan biaya tahunan
Dalam metode biaya tahunan ( annual cost method), semua pengeluaran ( biaya) yang
terjadi dalam suatu jangka waktu dikonversikan dalam ekuivalen biaya tahunan.
Biaya yang tidak uniform dan yang sporadis dikonversikan menjadiannuity dengan
bantuan discounting/compounding factors, dan kemudian dijumlahkan dengan biaya
tahunan yang konstan. Prosedur ini diterapkan pada semua alternatif dan alternatif
yang memberikan biaya ekuivalen yang terendah yang dipilih.
2. Metode perbandingan the present worth.
Dalam metode ini semua biaya yang dikeluarkan pada tahun nol (0) dihitung menurut
nilainya, sedang biaya sesudah itu ditambahkan pada biaya pertama menurut present
worthnya. Pengeluaran yang berupa annuity dihitung dengan the present worth of
an annuity factor,( P/A )
i
n
, sedang jumlah-jumlah yang dibayar sekaligus (lumsum)
dihitung dengan the present worth of a future amount ( P/F)
i
n

atau discount factor.
Materi Ekonomi Teknik

116
Periode untuk perbandingan ini harus sama, yang berarti harus diambil the least
common multiple daripada waktu /periode.
Sekarang kita buat perbandingan antara ketiga tehnik tersebut diatas ( A, B, dan C )
menurut kedua metode itu, jika a) OCC = 8 % , dan b) OCC 15 %.

a. Jika OCC 8 %
1. Metode perbandingan biaya tahunan
Teknik A.
Biaya tahunan untuk teknik A ini sudah terang , ialah sebesar Rp. 18 juta setahun,
berapapun tingginya OCC.
Teknik B.
Pada tehnik B biaya investasi pertama sebesar Rp. 30 juta disebarkan sepanjang
10 tahun. Untuk ini dipakai the capital recovery factor ( A/P)
i
n
, ialah faktor
untuk mengkonversikan suatu nilai sekarang ( present value ) menjadi annuity.

A = P ( A/P)
8
10
= Rp 30 juta x 0, 149029]
= Rp. 4.470.870.
Jumlah ini ditambah dengan biaya buruh tahunan untuk mendapatkan biaya
tahunan total bagi tehnik B. Jadi biaya tahunan untuk teknik B = Rp. 15 juta + Rp.
4.470.870 = Rp 19.470.870 yang ternyata lebih tinggi dari biaya tehnik A.

Teknik C
Periode yang dipakai untuk membandingkan biaya teknik A dan teknik B adalah
10 tahun, yang sama dengan dualife cycles untuk teknik C. Tetapi karena cycle
yang pertama, maka penghemat tenaga kerja untuk 5 tahun yang pertama.
Biaya tahunan untuk teknik C = biaya buruh + ekuivalen biaya tahunan alat
penghemat tenaga buruh =
Biaya buruh + ( A/P)
8
5
x Rp. 30 juta.
= Rp. 12 juta + 0,250456 x Rp. 30 juta
= Rp. 12 juta + Rp. 7.513.680 = Rp 19.513.680
Dengan demikian maka biaya tahunan adalah :
Teknik A = Rp. 18.000.000
Teknik B = Rp. 19.470.870
Teknik C = Rp. 19.513.680
Jadi urut-urutannya adalah A, B, dan C

2. Metode perbandingan the present value dari biaya.

Teknik A
Biaya tahunan untuk buruh dikonversikan menjadi the equipment present value
dengan ( P/A)
i
n

Present worth biaya tehnik A
= Rp. 18 juta x (P/A)
8
10

= Rp 18 juta x 6,710081 =
Rp 120.781.458

Teknik B
Present worth biaya teknik B
Materi Ekonomi Teknik

117
= Rp. 30 juta x ( P/A)
8
10

= Rp 30 juta + Rp. 15 juta x 6,710081
=Rp. 30 juta + Rp. 100.651.215 = Rp. 130.651.215.

Teknik C
Pada metode ini harus diperhitungkan dua life cycles daripada alat penghemat
tenga buruh. Rp. 30 juta yang pertama dihitung menurut nilainya, sedang Rp. 30
juta yang kedua dikonversikan dengan discount factor ( P/F)
8
5
. Pengeluaran untuk
buruh sebesar Rp 12 juta per tahun ( annuity ) dikonversikan dengan ( P/A)
8
5

Present worth biaya teknik C
= Rp. 30 juta + Rp. 30 juta x ( P/F)
8
5
+ Rp. 12 juta x ( P/A)
8
5

= Rp. 30 juta + Rp. 30 juta x 0,680583 + Rp 12 juta x 6,710081
= Rp 30 juta + Rp. 20.417.490 + Rp. 80.520972= Rp. 130.938.462

Dengan demikian maka ketiga tehnik tersebut mempunyai present worth biaya
sebagai berikut :
Teknik A = Rp. 120. 781.458
Teknik B = Rp. 130.651.215
Teknik C = Rp. 130.938.462
Jadi urut-urutannya adalah A, B, dan C
Disini kita lihat bahwa metode perbandingan dengan the present worth method
memberikan hasil yang sama, ialah teknik A menunjukkan biaya yang terendah,
sedang teknik C yang tertinggi.

a. Jika OCC 15 %
1. Metode perbandingan biaya tahunan

Teknik A
Biaya tahunan adalah Rp. 18 juta

Teknik B.
Biaya tahunan adalah Rp. 15 juta + Rp. 30 juta x ( A/P)
15
10

= Rp. 15 juta + Rp. 30 juta x 0,199252
= Rp. 15 juta + Rp. 5.977.560 = Rp. 20.977.560

Teknik C
Biaya tahunan adalah Rp. 12 juta + Rp. 30 juta x ( A/P)
15
5

= Rp. 12 jua + Rp. 30 juta x 0,298316
=Rp. 12 juta + Rp. 8.949.480 = Rp. 20. 949.480

Dengan demikian maka biaya tahunan ketiga teknik tersebut adalah :
Teknik A = Rp. 18.0000
Teknik B = Rp. 20.977.560
Teknik C = Rp. 20.949.480
Jadi urut-urutannya adalah A, C, dan B

2. Metode perbandinganthe present value
Materi Ekonomi Teknik

118

Teknik A
Present value dari biaya = Rp. 18 juta x ( P/A)
15
10

= Rp. 18 juta x 5,018769 = Rp. 90.337.842

Teknik B.
Present value dari biaya
= Rp. 30 juta + Rp. 15 juta x ( P/A)
15
10

= Rp. 30 juta + Rp. 15 juta x 5,018769
= Rp. 30 juta + Rp. 75.281.535 = Rp. 105.281.535

Teknik C
Present value dari biaya
= Rp 30 juta + Rp 30 juta x ( P/F)
15
5
+ Rp. 12 juta x ( P/A)
15
10

= Rp. 30 juta + Rp. 14.915.310 + Rp. 60. 225.228
Rp. 105.140.538
Jadi perbandingan the present value dari biaya adalah :
Teknik A = Rp. 90.337.842
Teknik B = Rp. 105.281.535
Teknik C = Rp. 105.140.538
Dengan urut-urutan A, C, dan B , yang sama dengan metode 1.
Jadi kalau OCC = 8 %, maka teknik B lebih baik dari teknik C,

Kalau OCC = 15 %, maka teknik C lebih dari teknik B, sedangkan teknik A tetap
paling menguntung dilihat sudut biaya.























Materi Ekonomi Teknik

119









BAB VIII
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
INVESTASI

Alokasi modal yang paling efisien merupakan salah satu kegiatan yang sangat
penting dalam melakukan suatu investasi. Tindakan ini berkaitan dengan kemampuan
pendanaan perusahaan tersebut dalam bisnis yang digelutinya dalam jangka panjang.

1. Pengambilan Keputusan Investasi
pengambilan keputusan investasi lebih dikenal dengan istilah capital budgeting atau
pengambilan keputusan untuk alokasi modal. Pengambilan keputusan investasi mencakup
kegiatan ekspansi, akuisisi, divestasi, rekapitalisasi aset dan sebagainya. Setiap
perubahan dalam penerapan suatu teknologi atau metode proses produksi, distribusi
penjualan, promosi atau program penelitian dan pengembangan (research and
development) yang dapat mempengaruhi pendapatan dan pengeluaran perusahaan dalam
jangka panjang dapat digolongkan sebagai keputusan perubahan investasi. Dengan
demikian kita perlu melakukan analisis dan evaluasi terhadap perubahan rencana
investasi tersebut.

2. Kriteria Evaluasi Investasi
untuk melakukan evaluasi terhadap suatu rencana investasi, kita perlu melakukan tiga
tahap kegiatan :
a. Estimasi cash flow.
Materi Ekonomi Teknik

120
b. Estimasi rencana pendapatan yang ingin diperoleh
c. Evaluasi rencana investasi berdasarkan ukuran-ukuran yang jelas.

Kriteria untuk mengukur suatu rencana investasi dapat dikelompokkan menjadi dua
bagian besar, yaitu :
(1) Kriteria Discounted Cash Flow (DCF) terdiri dari :
(a) Net Present Value (NPV)
(b) Internal Rate of Return (IRR)
(c) Profitability Index (PI).

(2) Non Discounted Cash Flow (NDCF), terdiri dari :
(a) Payback Period (PP)
(b) Accounting Rate of Return (ARR)


3. Metode Net Present Value (NPV)
Metode Net Present Value merupakan metode penilaian investasi klasik yang sampai saat
ini paling populer digunakan.

Contoh Kasus :
Tuan A merencanakan membuat kegiatan bisnis yang disebut bisnis masa depan (Bmd).
Proyek ini memerlukan biaya sebesar Rp. 2.500. Berdasarkan perhitungan cash flow
perusahaan ini diharapkan dapat menghasilkan keuntungan pada tahun 1, 2, 3, 4, dan 5,
masing-masing sebesar Rp. 900, 800, 700, 600, dan 500. Opportunity cost dari modal
yang ditanamkan diasumsikan adalah sebesar 10%

Net Present Value dari Proyek Bmd dapat dihitung sebagai berikut :
Materi Ekonomi Teknik

121
NCF DF 10% cash inflow
Tahun
1 900 0.9091 818
2 800 0.8264 661
3 700 0.7513 526
4 600 0.6830 410
5 500 0.6209 310
2,726


Proyek Bmd tersebut memiliki nilai cash inflow sebesar Rp. 2.726. Apabila
dibandingkan dengan cash outflow sebesar Rp. 2.500, proyek ini masih memiliki
kelebihan sebesar Rp. 2.726 Rp. 2.500 = Rp. 226. Ini berarti bahwa proyek ini memiliki
nilai NPV positif sebesar Rp. 226. Kesimpulannya adalah proyek ini dapat dilanjutkan
karena dapat memberikan keuntungan kepada Tuan A.


Jadi rumus untuk menghitung NPV adalah :

NPV = Co
t
) k 1 (
Ct
n
1 t

+

=


di mana :
- Ct dimulai dari C1, C2 Cn dan merupakan net cash flow mulai dari tahun 1, 2
sampai dengan tahun ke k.
- Co adalah initial cost atau biaya investasi yang diperlukan.
- n adalah perkiraan umur proyek


Kriteria untuk menerima dan menolak rencana investasi dengan metode NPV adalah
sebagai berikut :
- Terima kalau NPV > 0.
- Tolak kalau NPV < 0.
- Kemungkinan diterima kalau NPV = 0.

Materi Ekonomi Teknik

122
NPV > 0 berarti proyek tersebut dapat menciptakan cash inflow dengan persentase lebih
besar dibandingkan opportunity cost modal yang ditanamkan. Apabila NPV = 0, proyek
kemungkinan dapat diterima karena cash inflow yang akan diperoleh sama dengan
opportunity cost dari modal yang ditanamkan. Jadi semakin besar nilai NPV, semakin
baik bagi proyek tersebut untuk dilanjutkan.

4. I nternal Rate of Return (IRR)
IRR adalah salah satu metode untuk mengukur tingkat investasi. Tingkat investasi adalah
suatu tingkat bunga dimana seluruh net cash flow setelah dikalikan discount factor atau
telah di-present value-kan, nilainya sama dengan initial investment (biaya inventasi).
Secara sederhana, konsep ini digambarkan dalam contoh berikut :
Seandainya anda mendepositokan uang di Bank sebesar Rp. 10.000 dan tahun depan anda
akan memperoleh Rp. 800 sebagai hasil bunga deposito, maka uang anda di bank saat itu
menjadi Rp. 10.800. Tingkat pengembalian modal anda dapat dihitung dengan rumus rate
of return sebagai berikut :

Rate of return = 000 . 10
000 . 10
800 . 10

= 1,08 1
= 0,08
= 8%

Berdasarkan contoh tersebut, kita dapat memperoleh rumus untuk menghitung rate of
return ( r ) dari suatu investasi setelah satu periode yang akan datang ( C1 ) sebagai
berikut :
r =
Co
Co 1 C

atau
r = 1
Co
1 C


Selanjutnya rumus tersebut dapat dinyatakan dengan :

Materi Ekonomi Teknik

123
r 1
Co
1 C
+ =

Co =
) r 1 (
1 C
+


Jadi, nilai IRR dapat dihitung dengan mencari tingkat bunga (discount rate) yang akan
menghasilkan NPV sama dengan 0

0 Co
t
) r 1 (
Ct
n
1 t
=
+

=

di mana :
- Ct yang dimulai dari C1, C2 .... Cn merupakan net cash flow mulai dari tahun 1,2
sampai dengan tahun ke n.
- Co adalah initial cost atau biaya investasi yang diperlukan.
- n perkiraan umur proyek.
- r adalah tingkat bunga.

Apabila kita membandingkan rumus IRR tersebut dengan rumus NPV, kita akan
melihat sedikit perbedaan, yaitu pada metode NPV rate of return (k) diasumsikan
diketahui. Sedangkan pada metode IRR, nilai r harus diketahui dengan asumsi nilai NPV
sama dengan nol.
Pada umumnya, masalah yang sering kita hadapi dalam perhitungan IRR adalah
menentukan berapa besar nilai r pada kondisi NPV sama dengan nol. Nilai r ini dapat
diketahui dengan cara trial & error. Caranya adalah dengan menentukan sembarang nilai
r untuk dapat perhitungan discount rate, sehingga kita dapat menghitung nilai present
value dari cash inflow. Apabila hasil perhitungan present value dari cash inflow tersebut
lebih rendah dari present value cash outflow, maka tingkat bunga sebagai dasar
perhitungan discount factor harus diturunkan.

IRR =
neg pos
1 2
1
PV PV
) i i ( PV
i
+

+
di mana :
- IRR adalah internal rate of return.
Materi Ekonomi Teknik

124
- PV adalah present value positif dengan discount rate tertentu yang lebih rendah (i
1
).
- NV adalah present value negatif dengan discount rate tertentu yang lebih tinggi (i
2
).

Contoh kasus :
Suatu proyek memiliki nilai NPV sebesar Rp. 771.000 dengan discount rate sebesar
15%. Untuk mengetahui nilai IRR dari proyek ini, kita harus menghitung NPV dengan
menggunakan discount rate yang lebih tinggi agar kita memperoleh nilai NPV sama
dengan nol. Dengan cara trial & error, kita menghitung discount rate 17% dan 18%.

NCF DF 17 % NPV DF 18 % NPV
Tahun
1 -3300 0.8547 (2,821) 0.8475 (2,797)
2 -5000 0.7305 (3,653) 0.7182 (3,591)
3 -535 0.6244 (334) 0.6086 (326)
4 1,755 0.5337 937 0.5158 905
5 2,240 0.4561 1,022 0.4371 979
6 3,270 0.3898 1,275 0.3704 1,211
7 3,500 0.3332 1,166 0.3139 1,099
8 1,140 0.2848 325 0.2660 303
9 2,140 0.2434 521 0.2255 482
10 2,140 0.2080 445 0.1911 409
11 2,140 0.1778 381 0.1619 347
12 5,640 0.1520 857 0.1372 774
120 (204)


Berdasarkan tabel di atas, kita mengetahui bahwa NPV dengan discount factor
sebesar 17% memiliki nilai positif 120, sedangkan discount factor 18% menghasilkan
nilai negatif 204. Dengan demikian, nilai IRR pasti terletak di antara 17% sampai 18%.
IRR tepatnya dapat dihitung dengan cara interpolasi sebagai berikut :

IRR = % 37 , 17
204 120
) 17 18 ( 120
% 17 =
+

+

Jadi IRR sebesar 17,37% terletak pada nilai NPV = 0.

5. Profitabilitas Index (PI)
Materi Ekonomi Teknik

125
Kriteria lain untuk mengukur rencana investasi adalah dengan menggunakan metode
Profitabilitas Index (PI). Rumusnya adalah sebagai berikut :


PI =
PV (CI )
=
Co
PV dari cash inflow
Initial cash outlay


Contoh Kasus :
Initial cash outlay yang bisa disebut biaya investasi proyek, misalnya adalah sebesar
Rp. 100.000. Apabila suatu proyek dibangun dengan dana sebesar ini, proyek tersebut
diharapkan dapat menghasilkan cash inflow setiap tahun sebesar Rp. 40.000 pada tahun
pertama, Rp. 30.000 pada tahun kedua, Rp. 50.000 pada tahun ketiga, Rp. 20.000 pada
tahun keempat dan Rp. 30.000 pada tahun kelima. Tingkat bunga di asumsikan sebesar
10%. Profitabilitas Index (PI) dapat dihitung sebagai berikut :

NCF DF 10 % Present
Tahun Value
1 40,000 0.9091 36,364
2 30,000 0.8264 24,793
3 50,000 0.7513 37,566
4 20,000 0.6830 13,660
5 30,000 0.6209 18,628
131,011


Net Present Value (NPV) = Rp. 131.011 Rp. 100.000
= Rp. 31.011

PI =
000 . 100 . Rp
011 . 131 . Rp


= 1,31

Materi Ekonomi Teknik

126

Kriteria nila Profitabilitas Index adalah sebagai berikut :
- Diterima kalau PI > 1.
- Ditolak kalau PI < 1.
- Kemungkinan dapat diterima kalau PI = 1.

Pada saat nilai PI lebih besar daripada 1, rencana investasi tersebut akan memiliki
nilai net present value positif. Sedangkan apabila nilai PI lebih kecil daripada 1, maka
rencana investasi tersebut memiliki nilai net present value negatif. Rencana investasi
kemungkinan dapat dilanjutkan apabila nilai PI sama dengan nol. Hal ini berarti bahwa
total nilai present value dari cash inflow selama umur proyek memiliki jumlah yang sama
dengan biaya investasi (initial investment). Karena itu, kita perlu memperhatikan faktor-
faktor lain yang dapat mendukung keberhasilan proyek ini di masa yang akan datang.

6. Payback Period (PP)
Definisi Payback Period adalah suatu periode yang menunjukkan berapa lama modal
yang ditanamkan dalam proyek tersebut dapat kembali. Rumusnya adalah :

Initial Investment CO
Payback Period (PP) = =
Annual cash inflow C


Contoh Kasus :
Sebuah rencana investasi membutuhkan dana sebesar Rp. 20.000. Selama lima tahun
yang akan datang proyek ini akan menghasilkan cash inflow sebesar Rp. 7.000 pada
tahun pertama, Rp. 6.000 pada tahun kedua, Rp. 5.000 pada tahun ketiga, Rp. 4.000 pada
tahun keempat, dan Rp. 4.000 pada tahun kelima.
Payback period proyek tersebut adalah : pada tahun 1, 2, dan 3 proyek tersebut telah
dapat menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 18.000. Ini berarti bahwa tersisa Rp. 20.000
Rp. 18.000 = Rp. 2.000 lagi. Waktu yang diperlukan untuk memenuhi kekurangan
tersebut adalah (Rp. 2.000/Rp. 8.000) x 12 bulan = 3 bulan. Berarti Payback period untuk
proyek ini adalah selama 3 tahun 3 bulan.
Materi Ekonomi Teknik

127
Kesimpulannya adalah : semakin pendek waktu yang diperlukan untuk
mengembalian biaya investasi, rencana investasi tersebut semakin menguntungkan. Atau
dengan kata lain semakin kecil waktu payback period, proyek tersebut semakin baik.

7. Analisis Payback Period
Dua rencana investasi dalam bentuk proyek A dan B sama-sama memiliki payback
period 2 tahun. Tetapi proyek A memiliki NPV (dengan discount rate 10%) = Rp. 806,
sedangkan proyek B memiliki NPV (dengan discount rate 10%) = - Rp. 530. Keputusan
yang terbaik adalah memilih proyek A karena NPV nya positif. Keputusan yang diambil
oleh manajemen ini dapat menyesatkan karena, berdasarkan analisis cash flow, proyek B
pada tahun pertama telah dapat menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 2.000, sedangkan
proyek A belum menghasilkan apa-apa. Jadi kesimpulannya, kita harus menggunakan
metode payback period secara hati-hati. Metode payback period hendaknya hanya
digunakan sebagai pelengkap. Karena itu, kita perlu menggunakan metode analisis
investasi lainnya, seperti NPV, IRR, PI, dan ARR.

8. Discounted Payback Period
Untuk memperoleh hasil analisis yang lebih akurat, kita sebaiknya melakukan discount
pada metode payback period. Contohnya adalah pada tabel di bawah ini :

Cash Flow (Rp) Discount
Co C1 C2 C3 C4 Payback Payback NPV 10%
Proyek A 4000 3000 1000 1000 1000 2 tahun
PV cash flow 4000 2727 826 751 683 2.56 988
Proyek B 4000 0 4000 1000 2000 2 tahun
PV cash flow 4000 0 3306 751 1366 2.84 1423


Proyek A dan proyek B sama-sama memiliki payback period selama 2 tahun. Tetapi,
apabila kita menghitung payback period yang telah di-discount, kita memperoleh
perbedaan durasi proyek, yaitu proyek A selama 2 tahun 5 bulan dan proyek B selama 2
tahun 8 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa proyek A lebih cepat pengembalian modalnya
dibandingkan proyek B. Namun apabila dihitung NPV dengan tingkat bunga sebesar
10%, ternyata proyek B jauh lebih menguntungkan dibandingkan proyek A, karena NPV-
nya lebih besar. Kesimpulannya, proyek B adalah lebih baik dibandingkan proyek A.
Materi Ekonomi Teknik

128

9. Accounting Rate of Return (ARR)
Metode ARR juga disebut metode perhitungan ROI (Return on investment). Rumusnya
adalah :

Rata-rata income
PI =
Rata-rata investasi


Rata-rata income dihitung sebagai laba bersih setelah pajak (EAT).

Sebuah rencana investasi proyek memerlukan biaya investasi sebesar Rp. 40.000.
Nilai EBDIT (earrning before depreciation, interest, tax) pada tahun pertama sampai
tahun kelima adalah sebesar Rp. 10.000, Rp. 12.000, Rp. 14.000, Rp. 16.000, Rp. 20.000.
Asumsi tingkat pajak adalah sebesar 5% dan depresiasi menggunakan metode garis lurus.
Hitunglah ARR.

1 2 3 4 5 Rata-rata
Laba sebelum D, I dan Tax 10,000 12,000 14,000 16,000 20,000 14400
Depresiasi 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000
Laba sebelum I dan Tax 2,000 4,000 6,000 8,000 12,000 6400
Tax 50% 1000 2000 3000 4000 6000 3200
Laba sebelum I dan setelah Tax 1,000 2,000 3,000 4,000 6,000 3200
(EBIT ( 1 - Tax )
Nilai buku investasi
Awal 40,000 32,000 24,000 16,000 8,000
Akhir 32,000 24,000 16,000 8,000 0
Rata-rata 36000 28000 20000 12000 4000 200000
ARR (3200/20.000 x 100) 16%


Kesimpulan :
Semakin besar nilai ARR atau nilai ROI suatu proyek, proyek tersebut semakin menarik.




Materi Ekonomi Teknik

129



BAB IX
ANALISIS INVESTASI DENGAN
METODE CASH FLOW

Aliran kas (cash flow) adalah gerakan aliran kas masuk dan kas keluar. Pengertian
cash flow hendaknya tidak dicampur adukkan dengan pengertian profit, karena cash flow
tidak sama dengan profit (laba). Perubahan profit tidak selalu diikuti oleh perubahan cash
flow.
Perbedaannya adalah :
Profit = Revenues Expenses Depreciation
Sedangkan.
Cash flow = Revenues Expenses Capital Expenditure

Cash flow juga dapat dihitung dengan cara :
Cash flow = Profit + Depreciation Capital Expenditure

Pajak dihitung dengan cara :
Pajak = tingkat pajak X profit
Pajak = tingkat pajak (Revenues Expenses Depreciation)

1. Contoh Kasus
Tabel 9.1 Laba-Rugi
(dalam Rp)
Pendapatan (revenues) 25,000
Pengeluaran (expenses) 10,000
EBDIT (earming before depresiasi, interest, tax) 15,000
Penyusutan (depresiasi) 5,000
EBIT (earming before interest and Tax) 10,000
Pajak (Tax) 55 % 5,500
Laba setelah pajak (profit after tax) 4,500

Materi Ekonomi Teknik

130

Pajak (tax) = Tingkat Pajak (Revenues Expenses Depresiasi)
= 0,55 (25.000 10.000 5.000)
= 0,55 (10.000)
= Rp. 5.500

Net Cash Flow (NCF) = Revenues Expenses Pajak
= 25.000 10.000 5.500
= Rp. 9.500
Cara Perhitungan Depresiasi untuk Pajak
Penilaian depresiasi (penyusutan) sejumlah aset untuk tujuan pajak dihitung sebagai
berikut : biaya investasi dikurangi persentase penyusutan yang nilainya berbeda-beda
tergantung dari jenis aset yang akan diukur. Pada umumnya, aset berupa tanah tidak
memiliki nilai penyusutan. Aset berupa mesin, gedung, disusutkan dengan persentase
sebesar 25%.

2. Contoh Kasus
Mesin A dengan biaya investasi sebesar Rp 5.000.000 dan umur pakai selama 3 tahun
akan didepresiasi setiap tahun sebesar 25%. Nilai depresiasi dapat dilihat pada tabel
berikut :

Tabel 9.2 Perhitungan Depresiasi
Initial Cost Depresiasi Nilai saat ini
Tahun
0 5,000,000 - 50,000,000
1 1,250,000 3,750,000
2 937,500 2,812,500
3 703,125 2,109,375


3. Contoh Kasus :
Sebuah perusahaan makanan berencana memasarkan produk baru makanan ringan untuk
anak-anak. Proyek ini membutuhkan biaya investasi sebesar Rp. 10.000 (untuk biaya
pembangunan pabrik dan mesin). Mesin diperhitungkan dapat dijual kembali setelah
masa pakainya berakhir dengan harga Rp. 1000 (umur ekonomis mesin ini 5 tahun).
Materi Ekonomi Teknik

131
Perusahaan ingin mengetahui nilai depresiasi setiap tahunnya dengan rata-rata 25% per
tahun dan mengetahui nilai depresiasi berdasarkan tingkat pajak, yaitu sebesar 55%
dengan discount factor sebesar 18%.

Tabel 9.3 Investasi untuk Produk Baru
Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5
1 Investasi awal 1,000
2 Depresiasi 250 188 141 105 79
3 Kumulatif 250 438 578 684 763
4 Nilai Buku 1,000 750 563 422 316 237
5 Modal Kerja 20 30 50 60 70 0
6 Total Nilai buku 1,020 780 613 482 386 237
7 Nilai Sisa 100


Secara sederhana, kita dapat membuat laporan laba rugi (lihat tabel laporan laba
rugi). Tabel Investasi Produk Baru dengan Tabel Laba Rugi tersebut dapat digabungkan
menjadi tabel baru mengenai Net Cash Flow. Tanda negatif artinya terjadi outflow
sedangkan tanda positif artinya inflow.

Tabel 9.4 Laporan Laba Rugi untuk Produk Baru
Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5
1 Pendapatan (Revenue) 537 890 1,840 2,020 1,680
2 Pengeluaran (expenses) 300 472 958 1,075 890
3 Depresiasi 250 188 141 105 79
4 EBIT (1-2-3) (13) 230 741 840 711
5 Pajak (55%) 119 408 462 391
6 EAT (4-5) (13) 111 333 378 320


Apabila opportunity cost dari biaya investasi untuk produk baru tersebut
diasumsikan sebesar 18%, perusahaan akan memperoleh NPV sebesar Rp 134.000.
Perhitungannya dapat dilihat pada Tabel Net Cash Flow berikut.





Materi Ekonomi Teknik

132



Tabel 9.5 Net Cash Flow
Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4
1 Biaya Investasi -1000
2 Pendapatan (Revenue) 537 1,840 2,020 1,680
3 Pengeluaran (expenses) 300 958 1,075 890
4 Pajak - 408 462 391
5 Cash Flow Operasional
(2 - 3 - 4) 237 474 483 399
6 Perubahan Modal Kerja (20) (10) (20) - 40
7 Nilai sisa setelah pajak 100
8 Net Cash Flow (1+5+6) (1,020) 227 454 483 539
9 Discounted faktor 18% 1.000 0.847 0.609 0.516 0.437
10 PV (8x9) (1,020) 192 276 249 236
11 NPV 134


Nilai IRR dari rencana proyek ini dapat dihitung dengan cara trial & error.
Seandainya kita menggunakan tingkat discounted factor 22%, kita akan memperoleh nilai
NPV sebesar Rp. 21.000.

Tabel 9.6 Perhitungan NPV Positif
Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5
8 Net Cash Flow (1+5+6) (1,020) 227 279 454 483 539
9 Discounted faktor 22% 1,000 0.820 0.672 0.551 0.451 0.370
10 PV (8x9) (1,020) 186 187 250 218 199
11 NPV 21

Sedangkan apabila kita menggunakan tingkat discounted factor sebesar 24%, kita
akan memperoleh nilai NPV sebesar negatif Rp. 29.000.

Tabel 9.7 Perhitungan NPV Negatif
Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5
8 Net Cash Flow (1+5+6) (1,020) 227 279 454 483 539
9 Discounted faktor 24% 1,000 0.806 0.650 0.524 0.423 0.341
10 PV (8x9) (1,020) 183 181 238 204 184
11 NPV 29

Materi Ekonomi Teknik

133
Dengan demikian nilai IRR dari rencana proyek ini berkisar antara 22% sampai
24%. Melalui metode interpolasi, kita dapat mengetahui secara tepat nilai IRR yaitu :

IRR = ]
NPV NPV
NPV
%)[ 22 % 24 ( % 22
negatif positif
positif

+

= ]
) 000 . 29 ( 000 . 21
000 . 21
%[ 2 % 22

+

= 22% + 0,8%

= 22,84%

4. Contoh Kasus :
Sebuah perusahaan memiliki dua alternatif pilihan untuk melakukan investasi (proyek A
atau proyek B). Kedua proyek ini masing-masing membutuhkan initial cash outlay
sebesar Rp. 10.000 dan memiliki umur perencanaan 5 tahun. Manajemen menginginkan
IRR sebesar 10% dan tingkat pembayaran pajak diasumsikan sebesar 50%. Proyek ini
akan dideprisiasi dengan metode garis lurus. Informasi mengenai cash flow sebelum
pajak adalah sebagai berikut :

Tabel 9.8 Net Cash Flow Proyek A dan B
Net Cash Flow (dalam Rp)
Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5
Proyek A 4,000 4,000 4,000 4,000 4,000
Proyek B 6,000 3,000 2,000 5,000 5,000


Hitunglah untuk kedua proyek tersebut :
a. Payback period.
b. IRR.
c. NPV.
d. Profitability Index (PI).
e. Proyek mana yang paling baik untuk dipilih.
Pemecahan :
Materi Ekonomi Teknik

134
Depresiasi dengan menggunakan metode garis lurus adalah :
Rp. 10.000 / 5 tahun = Rp. 2.000 setiap tahunnya.
Net cash flow = EBDIT (1 tingkat pajak) + tingkat pajak ( Depresiasi)

Jadi NCF untuk proyek A adalah :

NCF = (4.000)(1 0,5) + 0,5 (2.000)
= Rp. 3.000

Proyek A memiliki net cash flow setiap tahun (selama lima tahun) rata-rata sebesar
Rp. Rp. 3.000.

NCF untuk proyek B adalah :
NCF tahun 1 = (6.000) (1-0,5) + 0,5 (2.000)
= Rp. 4.000
NCF tahun 2 = (3.000) (1-0,5) + 0,5 (2.000)
= Rp. 2.500
NCF tahun 3 = (2.000) (1-0,5) + 0,5 (2.000)
= Rp. 2.000
NCF tahun 4 dan 5 = (5.000) (1-0,5) + 0,5 (2.000)
= Rp. 3.500

Payback Period untuk Proyek A :

PB = Tahun 3 , 3
000 . 3 Rp
000 . 10 Rp
=

Payback Period untuk Proyek B :
Selama tiga tahun pertama :
Rp 4.000 + Rp 2.500 + Rp 2.000 = Rp 8.500
Sisa Rp 10.000 Rp 8.500 = Rp 1.500 akan diperoleh pada tahun keempat.
Jadi :

Materi Ekonomi Teknik

135
PP = Tahun 4 , 3
500 . 3 Rp
500 . 1 Rp
tahun 3 = +


Rata-rata Rate of Return
Net income = (EBDIT DEP) (1 T)

Proyek A :
Rata-rata Income = (1.000 + 1.000 + 1.000 + 1.000 + 1.000)/5
= Rp 1.000
Rata-rata Investasi = Rp 10.000/2 = Rp 5.000
ARR (Average Rate of Return) = 1.000/5.000 = 0,20 atau 20%

Proyek B :
Rata-rata Income = (2.000 + 500 + 0 + 1.500 + 1.500)/5 = Rp 1.100
Rata-rata Investasi = Rp 10.000/2 = Rp 5.000
ARR (Adverage Rate of Return) = 1.100/5.000 = 0,22 atau 22%

Net Present Value (NPV) dan Profitability I ndex (PI)
Proyek A:
NPV = Rp. 3.000 (PV Interest 0.1 dan 5 tahun) Rp. 10.000
= 3.000 x 3,791 10.000
= Rp 1.373
PI = Rp 1.373/Rp 10.000 = 1,137

Proyek B :
NPV =
{Rp 4.000 (PV interest 0,1 dan 1 tahun) +
Rp 2.500 (PV interest 0,1 dan 2 tahun) +
Rp 2.000 (PV interest 0,1 dan 3 tahun) +
Rp 3.500 (PV interest 0,1 dan 4 tahun) +
Rp 3.500 (PV interest 0,1 dan 5 tahun)} Rp 10.000

Materi Ekonomi Teknik

136
NPV = { Rp 4.000 x 0,909) +
Rp 2.500 x 0,826) +
Rp 2.000 x 0,751) +
Rp 3.500 x 0,683) +
Rp 3.500 x 0,621)} Rp 10.000

NPV = Rp 11.767

PI = Rp 11.767/Rp 10.000 = 1,177

I nternal Rate of Return (IRR)

Proyek A :
NPV = Rp 3.000 (PV 5 tahun, 0,1) = Rp 10.000
PV (5tahun 0,1) = Rp 10.000/Rp 3.000 = 3,3333

Dengan menggunakan Tabel present value (lampiran), nilai yang terdekat adalah sebesar
3,352 terletak pada 15%. Sedangkan pada 16% terletak pada nilai 3,274. Dengan
demikian kita dapat memastikan bahwa IRR terletak antara 15 sampai 16%. Untuk
memperoleh nilai IRR yang tepat, kita menggunakan metode interpolasi, yaitu :

PV F yang dibutuhkan 3,333
0,019
PV F pada 15% 3,352
0,078
PV F pada 16% 3,274

Jadi IRR = 15% + 1% (0,019/0,078)
= 15,24%

Proyek B :
Mengingat cash flow proyek B tidak sama, kita menggunakan metode trial and error.
Misalnya, jika kita menggunakan asumsi 20% rate of discount, maka NPV pada
Materi Ekonomi Teknik

137
20% = -Rp 684. Karena NPV pada 20% nilainya negatif, maka persentase ini harus kita
turunkan lagi, misalnya menjadi 16%. Pada 16% NPV diperoleh + Rp 186. Berdasarkan
hasil ini IRR dapat dipastikan terletak pada nilai antara 16 - 18 persen. Selanjutnya
dengan menggunakan metode interpolasi, kita dapat memperoleh nilai IRR dengan cepat
sebagai berikut :

PV F yang dibutuhkan Rp 10.000
186
PV pada 16% 10.186
470
PV pada 18% 9.716

Jadi IRR = 16% + 2% (186/470)
= 16,79%


Kesimpulan :
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, kita dapat membuat ringkasan sebagai berikut :

Tabel 9.9 Kriteria Investasi Proyek A dan B
Proyek A Proyek B
ARR 20% 22%
NPV Rp. 1.373 Rp. 1.767
PI 1,137 1,177
IRR 15,24% 16,79%
Payback Period 3,3 tahun 3,4 tahun


Meskipun payback period proyek A lebih baik dibandingkan proyek B, namun
ukuran-ukuran investasi lainnya, seperti ARR, NPV, PI dan IRR untuk proyek B jauh
lebih baik, sehingga manajemen dapat memilih proyek B untuk dijadikan investasi.

5. Contoh Kasus :
Sebuah perusahaan ingin melakukan tambahan investasi dengan cara membeli mesin baru
untuk mempercepat proses produksi. Mesin ini membutuhkan cash outlay sebesar
Materi Ekonomi Teknik

138
Rp. 600.000 dan membutuhkan modal kerja sebesar Rp. 80.000. Masa pakai mesin ini
diharapkan 6 tahun. Estimasi cash flow sebelum pajak adalah sebagai berikut :

Tabel 9.10 Cash Flow sebelum Pajak
Cash Flow Sebelum Pajak (dalam Rp)
Tahun 1 2 3 4 5 6
210 180 160 150 120 100


Asumsi tingkat pajak adalah sebesar 50%. Seandainya perusahaan memiliki
opportunity cost untuk modal sebesar 12%, hitunglah NPV dan IRR untuk investasi
mesin tersebut.

Pemecahan :
- Initial cost mesin adalah sebesar Rp 600.000 + Rp 80.000 = Rp 680.000
- Depresiasi dengan metode garis lurus = Rp 600.000/6 = Rp100.000
- Net cash flow dapat dihitung dengan rumusan :
NCF = Cash flow sebelum pajak (1 T) + pajak x depresiasi





Tabel 9.11 Perhitungan NPV

Cash Flow (dalam ribuan Rp)
0 1 2 3 4 5 6
Initial cost -680
Cash flow sebelum pajak 210 180 160 150 120 100
Pajak (50%) 105 90 80 75 60 50
Cash flow setelah pajak 105 90 80 75 60 50
Depresiasi (TXDepresiasi) 50 50 50 50 50 50
Net Cash flow -680 155 140 130 125 110 180
PV Faktor 12% 1 0.893 0.797 0.712 0.636 0.567 0.507
Present Value -680 138.42 111.58 92.56 79.5 62.37 91.26
NPV -104.3

Materi Ekonomi Teknik

139


Analisis :
Nilai NPV adalah negatif Rp 104,32 sehingga IRR kemungkinan besar kurang dari
opportunity cost (sebesar 12%). Dengan melakukan metode trial & error, NPV (8%)
menghasilkan nilai negatif Rp 33 dan pada tingkat Rp 6% menghasilkan nilai positif Rp
8. Dengan demikian nilai IRR terletak di antara 6% dan 8%, tepatnya sebesar :

IRR = 6% + 2% {(688-680)/(688-647)}
= 6% + 0,39%
= 6,39%

6. Contoh Kasus :
PT. Telbis berencana menanamkan modalnya dalam investasi pembuatan TV untuk
mobil pribadi. Proyek ini membutuhkan biaya investasi untuk pembangunan pabrik
sebesar Rp 550.000. Biaya intalasi adalah Rp 50.000 dan modal kerja sebesar Rp
125.000.
Kapasitas produksi setiap tahun direncanakan sebesar 20.000 unit. Harga jual
ditetapkan sebesar Rp 12.000 per unit. Rasio biaya variabel adalah 65%. Biaya tetap
per tahun sebesar Rp 300.000 (belum termasuk depresiasi). Perusahaan juga akan
mengeluarkan biaya untuk promosi sebesar Rp 120.000 pada tahun pertama. Tingkat
pajak diperkirakan sebesar 25%. Kebutuhan modal kerja diperkirakan sebesar 25% dari
total penjualan per tahun. Umur ekonomis proyek ini diharapkan 7 tahun.
Apakah proyek ini layak untuk dilanjutkan?









Materi Ekonomi Teknik

140


Pemecahan :

0 1 2 3 4 5 6 7
Kapasitas (%) 25 40 50 75 100 100 100
Unit (000) 5 8 10 15 20 20 20
Penjualan (Rp) 600 960 1200 1800 2400 2400 2400
Dikurangi Biaya Var 390 624 780 1170 1560 1560 1560
Konstribusi 210 336 420 630 840 840 840
Dikurangi Biaya Tetap 420 300 300 300 300 300 300
Profit sebelum D, I, Tax -210 36 120 330 540 540 540
Dikurangi Depresiasi 150 112.5 84.5 63.3 47.5 35.6 26.7
Profit sebelum I & Tax -360 -76.5 35.5 266.7 492.5 504.4 513.3
Dikurangi Pajak (52%) -187.2 -39.78 18.46 138.7 256.1 262.3 266.9
EAT -172.8 -36.72 17.04 128 236.4 242.1 246.4
Ditambah Depresiasi 150 112.5 84.5 63.3 47.5 35.6 26.7
Total -22.8 75.78 101.54 191.3 283.9 277.7 273.1


NPV untuk proyek ini adalah sebagai berikut :
NPV = -725 + (-47,8 x 0,877) + (-14,2 x 0,769) + (41,5 x 0,675) + (41,3 x 0,592) +
(133,9 x 0,519) + (277,7 x 0,456) + (973,1 x 0,400)
= -140,01
Karena NPV nilainya negatif, proyek ini sebaiknya tidak perlu dilanjutkan. IRR proyek
ini adalah sebesar 10,4%.

Asumsi :
a. Biaya tetap pada tahun pertama, termasuk biaya promosi, adalah Rp 420.000
(Rp 120.000 + Rp 300.000).
b. Perusahaan mengalami cash flow negatif pada dua tahun pertama.
c. Modal kerja diasumsikan mulai pada saat berakhirnya umur ekonomis proyek.
d. Depresiasi dihitung berdasarkan asumsi 25% dari aset.
e. Terminal value dihitung berdasarkan asumsi biaya pabrik (di luar biaya instalasi),
sehingga perhitungannya menjadi 0,2 x Rp 500.000 = Rp 100.000.
f. Apabila diasumsikan bahwa pajak dibayarkan pada saat perusahaan memiliki
keuntungan, maka terminal value menjadi :
Materi Ekonomi Teknik

141
100.0 0,52(100.000-80.000) = 896.000

7. Contoh Kasus :
Sebuah perusahaan kosmetik sedang mempertimbangkan meluncurkan produk baru
tahun depan. Biaya peralatan yang dibutuhkan adalah Rp 560.000. Umur mesin tersebut
diperkirakan 8 tahun. Perusahaan itu sedang mempertimbangkan untuk menjual produk
tersebut dalam kemasan kecil seberat 50 gram dengan harga Rp 12 per pak. Biaya
variabel diperkirakan sebesar Rp 5 dan biaya tetap setiap tahun sebesar Rp 450.000.
Biaya tetap ini termasuk depresiasi sebesar Rp 70.000. Selain itu, perusahaan juga
mengalokasikan biaya overbead sebesar Rp 300.000.
Perusahaan mengharapkan dapat menjual 100.000 pak setiap tahun. Tingkat pajak
diasumsikan sebesar 45%. Apabila opportunity cost sebesar 12%, apakah perusahaan ini
perlu meluncurkan produk baru tersebut? Berapa besar nilai break even yang harus
dihasilkan?

Pemecahan :
Net Cash Flow (NCF) = {unit (harga jual biaya variabel) biaya tetap}(1 tingkat
pajak) + depresiasi
= {100.000 (12 6) 420.000} ( 1 0,45) + 70.000
= (600.000 420.000) (0.55) + 70.000
= (180.000 x 0,55) + 70.000
= Rp 169.000

NPV = -560.000 + 169.000 x PV(8 tahun, 0,12)
= -560.000 + (169.000 x 4,968)
= Rp 279.592
Break Even Point pada NPV = 0 dapat dihitung sebagai berikut :
{Q(12-6) 420.000 ( 1 0,45) + 70.000} x 4,968 560.000 = 0

{6Q 420.000 (0,55) + 70.000} x 4,968 560.000 = 0

{16,3944 Q 1.147.608 + 347.760 560.000 = 0

Materi Ekonomi Teknik

142
16,3944 Q = 1.359.848

Q = 82.946 pak

Kesimpulannya adalah perusahaan ini dapat meneruskan rencana untuk
meluncurkan produk baru tersebut karena ia memiliki nilai NPV positif serta nilai IRR
cukup besar (25,2%), yaitu diatas tingkat opportunity cost (12%). Jumlah produk yang
akan dijual juga sudah berada di atas nilai break even point sebesar 82.946 pak.

8. Contoh Kasus :
Sebuah perusahaan ingin memilih salah satu dari empat rencana investasi dalam bentuk
proyek A, B, C dan D. Informasi yang diberikan berupa hasil perhitungan cash flow
sampai dengan tahun ketiga, yaitu sebagai berikut :

Tabel 9.12 Cash Flow Proyek A, B, C dan D
Cash Flow
Proyek Co C1 C2 C3
A (10,000) 10,000
B (10,000) 7,500 7,500
C (10,000) 2,000 4,000 12,000
D (10,000) 10,000 3,000 3,000


a. Buatlah ranking rencana investasi keempat proyek di atas dengan menggunakan
metode Payback Period, ARR, IRR, NPV, (asumsi discount rate sebesar 10% dan
30%)
b. Seandainya diasumsikan bahwa masing-masing proyek tersebut bersifat independen,
proyek mana yang paling menarik?

Pemecahan :
(a) Perhitungan Payback Period, ARR, IRR, NPV 10% dan NPV 30%

Payback Period :
Proyek A : 10.000/10.000 = 1 tahun
Proyek B : 10.000/7.500 = 1,33 tahun
Materi Ekonomi Teknik

143
Proyek C : 2 tahun + {(10.000 6.000)/12.000 = 2,33 tahun
Proyek D : 1 tahun

ARR :
Proyek A : 0
2 / 1 ) 000 . 10 (
2 / 1 ) 000 . 10 000 . 10 (
=



Peoyek B : % 50
000 . 5
500 . 2
2 / 1 ) 000 . 10 (
2 / 1 ) 000 . 10 000 . 15 (
= =



Proyek C : % 53
000 . 5
667 . 2
2 / 1 ) 000 . 10 (
3 / 1 ) 000 . 10 000 . 18 (
= =



Proyek D : % 40
000 . 5
000 . 2
2 / 1 ) 000 . 10 (
3 / 1 ) 000 . 10 000 . 16 (
= =


IRR :
Proyek A :
Net Cash yang diperoleh pada tahun pertama sama dengan biaya investasi sehingga
IRR = 0

Proyek B :
Proyek ini menghasilkan pendapatan setiap tahun sebesar Rp 7.500 selama dua tahun.
Dengan demikian PV yang diperoleh adalah 10.000/7.500 = 1,33. Selanjutnya dengan
menggunakan tabel Present Value Annuity (lihat lampiran), pada posisi periode selama 2
tahun diperoleh angka sebesar 32%. Jadi IRR = 32%.

Proyek C :
Karena cash flow proyek ini tidak sama setiap tahunnya, maka kita menggunakan metode
trial & error. Caranya adalah sebagai berikut :
Seandainya kita menggunakan tingkat discounted sebesar 26%, maka NPV adalah
+ Rp 105. Untuk itu kita harus menggunakan tingkat discounted yang lebih besar dari
26%, yaitu, 27%, sehingga kita memperoleh NPV sebesar Rp 86. Dengan menggunakan
metode interpolasi IRR yang kita peroleh adalah sebesar 26,5%.
Materi Ekonomi Teknik

144

Proyek D :
IRR pada proyek ini dihitung berdasarkan metode interpolasi. Dengan menggunakan
tingkat discounted sebesar 37%, kita memperoleh NPV mendekati 0; untuk itu IRR-nya
adalah 37,6%.

NPV :
Proyek A :
Pada tingkat discounted sebesar 10% adalah (-10.000 + (10.000 x 0,909) = - 910
Pada tingkat discounted sebesar 30% adalah (-10.000 + (10.000 x 0.769) = - 2.310

Proyek B :
Pada tingkat discounted sebesar 10% adalah (- 10.000 + (7.500 x 0.909) + (7.500 x
0,826) = + 3.013
Pada tingkat discounted sebesar 30% adalah (-10.000 + (7.500 + x 0.769) + (7.500 x
0,592) = + 208

Proyek C :
Pada tingkat discounted sebesar Rp 10% adalah (-10.000 + (2.000 x 0.909) + (4.000 x
0,826) + (12.000 x 0,751) = + 4.134
Pada tingkat discounted sebesar Rp 30% adalah 10.000 + (2.000 x 0.769) + (4.000 x
0,592) + (12.000 x 0,751) = - 633

Proyek D :
Pada tingkat discounted sebesar Rp 10% adalah 10.000 + (10.000 + 0.909) + (3.000 +
0,826) + (3.000 x 0,751) = + 3.821
Pada tingkat discounted sebesar Rp 30% adalah 10.000 + (10.000 x 0.769) + (3.000 x
0,592) + ( 3.000 x 0,4555) = + 832,5

Berdasarkan hasil di atas kita membuat ranking sebagai berikut :



Materi Ekonomi Teknik

145

Tabel 9.13 Ranking Kriteria Investasi Proyek A, B, C dan D
Ranking
Proyek Payback ARR IRR NPV 10% NPV 30%
A 1 4 4 4 4
B 2 2 2 3 2
C 3 1 3 1 3
D 1 3 1 2 1


(b) Analisa Ranking
Kriteria pemilihan investasi yang menggunakan tingkat discounting factor adalah IRR
dan NPV, sedangkan metode payback period dan ARR tidak menggunakan metode
discounting factor, sehingga hasilnya pada umumnya tidak konsisten.
Seandainya proyek investasi tersebut bersifat independen, artinya tidak ada
pertimbangan modal di dalamnya, IRR dan NPV dapat digunakan. Dalam kasus di atas,
proyek yang layak dipertimbangkan adalah proyek B, C dan D.
Apabila kita menggunakan tingkat discounted factor sebesar 10%, proyek yang
layak untuk dipertimbangkan adalah proyek B, C dan D. Sedangkan apabila kita
menggunakan tingkat discounted factor sebesar 30%, yang layak dipertimbangkan
hanyalah proyek B dan D.
Apabila kita menggunakan tingkat discounted factor sebesar 30% dan menggunakan
kriteria IRR dan NPV, maka proyek D menghasilkan ranking yang sama, sehingga
pilihan yang terbaik adalah proyek D.
Tetapi apabila kita menggunakan tingkat discounted factor sebesar 10%, dan
menggunakan kriteria NPV, maka proyek yang layak dipilih adalah proyek C. Kriteria
NPV pada umumnya memberikan hasil yang lebih konsisten untuk melihat kemampuan
proyek tersebut dalam menghasilkan laba.
Penggunaan metode ranking ini kadang-kadang menghasilkan konflik antara satu
proyek dan proyek yang lain. Contohnya dapat kita lihat pada kasus berikut :

Tabel 9.14 Perhitungan NPV dan IRR Proyek C dan D
Proyek Co C1 C2 C3 NPV 10% IRR
C -10000 2000 4000 12000 4134 26.5
D -10000 10000 3000 3000 3821 37.6


Materi Ekonomi Teknik

146
NPV dengan tingkat discounted factor sebesar 10% menghasilkan nilai yang lebih
tinggi terhadap proyek C dibandingkan proyek D. Tetapi apabila dilihat berdasarkan nilai
IRR, proyek D nilainya lebih tinggi dibandingkan proyek C. Penentuan proyek mana
yang terbaik dapat kita hitung berdasarkan berbagai kriteria tingkat discounted factor
berikut :

Tabel 9.15 NPV Proyek C dan D
Discount Rate (%) NPV C NPV D
0 8000 6000
10 4134 3821
15 2660 2942
30 -634 831
40 -2164 -238


Berdasarkan tabel di atas, kita dapat melihat bahwa proyek C semakin lama
memiliki cash flow yang lebih besar daripada proyek D. Selain itu, pada tingkat
discounted yang lebih rendah, proyek C memiliki nilai NPV yang lebih besar
dibandingkan proyek D. Hal ini disebabkan karena cash flow terbesar pada proyek C
munculnya belakangan. Jadi pengaruh waktu sangat berperan.
Seandainya opportunity cost dari modal adalah sebesar 10%, maka proyek C
merupakan proyek yang sangat menguntungkan, karena perusahaan akan memperoleh
keuntungan sebesar Rp 313 (Rp 4.134 Rp 3.821). Keuntungan ini akan terlihat lebih
jelas apabila kita menghitung kemungkinan peningkatan investasi antara proyek C D.

Tabel 9.16 Cash Flow Proyek C dan D
Cash Flow
Proyek Co C1 C2 C3 NPV 10% IRR
C - D 0 -8000 1000 9000 313 12.5


Perubahan peningkatan antara proyek C D dengan outlay Rp 8.000 pada tahun
pertama dan selanjutnya menghasilkan cash inflow sebesar Rp 1.000 pada tahun kedua
dan Rp 9.000 pada tahun ketiga. Opportunity cost modal sebesar 10% menghasilkan NPV
positif Rp 313. Artinya, proyek C memiliki jauh lebih banyak keuntungan dibandingkan
proyek D.

Materi Ekonomi Teknik

147

9. Contoh Kasus :
Sebuah perusahaan mendapat penawaran mesin baru (mesin A) dengan biaya sebesar
Rp 75.000 dan net cash flow Rp 20.000 setiap tahun sampai 6 tahun berikutnya.
Sedangkan mesin lainnya (mesin B) memiliki penawaran biaya sebesar Rp 50.000
dengan net cash flow sebesar Rp 15.000 setiap tahun selama 6 tahun berikutnya.
Persyaratan untuk kedua mesin tersebut adalah 11 persen. Hitunglah berapa besar IRR
dan NPV untuk kedua mesin tersebut dan mesin mana yang paling baik.

Pemecahan :
Mesin A :
NPV = 20.000 x PV(6;0,11) 75.000
= 20.000 x 4,231 75.000
= 84.642 75.000
= Rp 9.620
PV (6, r) = 75.000/20.000 = 3,75

Dengan menggunakan tabel PV annuity (lihat lampiran) kita peroleh :

PV (6; 0,15) = 3,784
PV (6; 0,16) = 3,685

3.784 - 375
Jadi IRR = 0,15 + 0,1 [( )
3.784 - 3.685
= 0,15 + 0,0034
= 0,1534 atau 15,34%


Mesin B :
NPV = 14.000 x PV (6;0,11) 50.000
= 14.000 x 4,231 50.000
= 59.234 50.000
= Rp 9.234
Materi Ekonomi Teknik

148

PV (6, r) = 50.000/14.000 = 3,571

Dengan menggunakan tabel PV annuity (lihat lampiran) kita peroleh :
PV (6; 0,17) = 3,589
PV (6; 0,18) = 3,498

3.589 - 3.571
Jadi, IRR = 0,17 + 0,1 [( )
3.589 - 3.498
= 0,17 + 0,002
= 0,172 atau 17,2%


Analisis :
Mesin A memiliki nilai NPV yang lebih besar dibandingkan mesin B, tetapi ia memiliki
nilai IRR yang lebih rendah dibandingkan mesin B. Karena itu, pilihan yang terbaik
adalah mesin A, karena itu dapat memaksimalkan keuntungan perusahaan.

10. Contoh Kasus :
PT. X membeli mesin tiga tahun yang lalu dengan biaya sebesar Rp 10.000. Mesin ini
memiliki umur pakai selama 8 tahun. Penyusutan (depresiasi) dilakukan dengan metode
declining balance sebesar 15%. Manajemen sedang memikirkan untuk mengganti mesin
tersebut dengan mesin baru dengan biaya investasi sebesar Rp 20.000 dan umur pakai
selama 5 tahun. Laba sebelum penyusutan diestimasikan meningkat Rp 4.445 setiap
tahunnya. Seandainya diasumsikan bahwa mesin tua dan mesin baru didepresiasi sebesar
25% dengan metode declining balance untuk komsumsi pajak, nilai sisa (salvage value)
mesin tersebut diperkirakan sebesar Rp 500. Market value mesin tua adalah sebesar
Rp 11.500 serta memiliki nilai sisa sebesar Rp 0 setelah lima tahun yang akan datang.
Tingkat pajak adalah 55%. Biaya modal setelah pajak PT. X diasumsikan sebesar 12%.
Menurut anda, apakah manajemen perlu memutuskan untuk membeli mesin baru
tersebut?

Pemecahan :
Materi Ekonomi Teknik

149
Nilai buku mesin tua tersebut saat ini adalah sebesar Rp 6.141. Perhitungannya dapat
dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 9.17 Perhitungan Nilai Buku
Tahun Depresiasi 15% Nilai Buku (balance)
0 10,000
1 1,500 8,500
2 1,275 7,225
3 1,084 6,141


Nilai pasar mesin tua saat ini adalah sebesar Rp 11.500. Mengingat mesin baru saat
ini memiliki biaya investasi sebesar Rp 20.000, depresiasi mesin baru tersebut adalah :


= Biaya mesin baru + Nilai buku mesin tua Nilai sisa mesin tua
= 20.000 + 6.141 11.500
= Rp 14.641

Net Cash outlay mesin baru adalah :

Biaya investasi mesin baru = Rp 20,000
Dukurangi nilai jual mesin tua = Rp 11,500
Net Cash outlay Rp 8,500










Tabel 9.18 Perbandingan Nilai Sisa Mesin Baru dan Lama
Materi Ekonomi Teknik

150

Laba sebelum Laba setelah Depresiasi Tax shield Net Cash
Tahun Depresiasi Pajak Diferensial Depresiasi Inflow
(a) x (1-0.55) (d) x 0,55 ( c ) + (e)
( a ) ( b ) ( c ) ( d ) ( e ) ( f )
1 4,445 2,000 2125 1,169 3,169
2 4,445 2,000 1594 877 2,877
3 4,445 2,000 1195 657 2,658
4 4,445 2,000 896 493 2,493
5 4,445 2,000 672 370 3,370
Nilai sisa mesin baru 500
Nilai sisa mesin tua 0


Saat ini, apabila manajemen ingin mengganti mesin tua dengan mesin baru, nilai
buku mesin tua tersebut adalah Rp 6.141 (nilai ini selanjutnya dipakai sebagai dasar
perhitungan depresiasi dengan tingkat yang baru sebesar 25%). Deferesial depresiasi
dapat dihitung sebagai berikut :

Tabel 9.19 Perhitungan Diferensial Depresiasi
Nilai buku Nilai buku Diferensial
Tahun Mesin tua Mesin baru Depresiasi
(pada Rp 6141) (pada Rp 14641)
1 1,535 3,660 2,125
2 1,151 2,745 1,594
3 864 2,059 1,195
4 648 1,544 896
5 486 1,158 672
Penyusutan




NPV mesin baru dengan tingkat discounted sebesar 12% adalah :

= - Rp 8.500 + ( Rp 3.169 x 0.893 ) + ( Rp 2.877 x 0.797 ) + ( Rp 2.657 x 0.712 ) +
(Rp 2.493 x 0.636) + (Rp 2370 x 0.567) + (Rp 500 x 0.567)

= - Rp 8.500 + Rp 10.228
Materi Ekonomi Teknik

151

= Rp 1.728

Kesimpulan :
Rencana pembelian mesin baru tersebut dapat diterima dan IRR untuk mesin baru
tersebut adalah sebesar 20%.

11. Contoh Kasus :
PT X sedang mempertimbangkan untuk mengganti mesinnya dengan mesin baru. Biaya
investasi yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 25.000. Kapasitas produksi saat ini adalah
80.000 unit. Pergantian mesin diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi,
sehingga perusahaan dapat menghasilkan 100.000 unit. Harga jual produksi tersebut tetap
dipertahankan sebesar Rp 80 per unit. Berikut ini adalah tabel mengenai perincian biaya
untuk menghasilkan produk setiap unitnya.

Tabel 9.20 Perbedaan Biaya Perunit Mesin Lama dan Mesin Baru
BIAYA PER UNIT
Biaya Mesin Lama Mesin Baru Perbedaan
(80.000 unit) (100.000 unit)
Bahan Baku 30 25.5 -4.5
Gaji dan Upah 20.5 15 -5.5
Supervisor 8 10 2
Perbaikan 4.5 3 -1.5
Bahan Bakar 6.2 5.7 -0.5
Depresiasi 0.1 2 1.9
Overhead pabrik 4 5 1
73.3 66.2 -7.1


Mesin lama memiliki nilai buku sebesar Rp 40.000 dan didepresiasi untuk tujuan
pajak, dengan umur ekonomis selama 5 tahun. Pemasok mesin yang baru menawarkan
kemungkinan membeli mesin lama dengan harga Rp 100.000. Namun harga pasar mesin
lama saat ini sebesar Rp 60.000, bahkan setelah lima tahun yang akan datang nilainya
hanya tinggal Rp 15.000. Mesin baru memiliki nilai ekonomis selama 5 tahun dan
memiliki nilai sisa sebesar Rp 100.000 pada tahun kelima. Dengan asumsi bahwa tingkat
pajak 50 % dan didepresiasi sebesar 25 %, apakah perusahaan itu perlu mengganti mesin
lamanya dengan mesin baru?
Materi Ekonomi Teknik

152

Pemecahan :
( a ) Net Cash Outlay mesin baru


Harga beli = Rp 2,500,000
Dukurangi nilai tukar mesin lama = Rp 100,000
Rp 2,400,000


( b ) Nilai pasar mesin lama
Mesin lama di pasaran adalah Rp 60.000. Karena nilai tukar mesin lama lebih tinggi
dibandingkan dengan harga pasar, maka harga pasar menjadi tidak menarik. Peluang ini
akan hilang meskipun mesin lama tetap dipertahankan atau diganti dengan mesin baru.

( c ) Depresiasi
Mesin lama didepresiasi untuk tujuan pembayaran pajak. Mengingat perusahaan ingin
membeli mesin baru seharga Rp 2.400.000, maka perhitungan depresiasi didasarkan pada
angka ini.

( d ) Net Cash Flow
Biaya per unit mencakup depresiasi dan biaya overhead. Biaya overhead dialokasikan
untuk biaya administrasi kantor, sehingga alokasi biaya overhead ini menjadi kurang
relevan. Depresiasi dihitung berdasarkan garis lurus.







Tabel 9.21 Perhitungan NPV
Materi Ekonomi Teknik

153
NET CASH FLOW (dalam Rp. 000)
0 1 2 3 4 5 6 7 8
1. Pendapatan setelah pajak 608 608 608 608 608 608 608 608
2. Depresiasi 600 450 338 253 190 142 107 80
3. Pajak (50% x depresiasi) 300 225 168.8 126.6 94.92 71.19 53.39 40.045
4. Net Cash Flow dari 1 + 3 908 833 776.8 734.6 702.9 679.2 661.4 648.05
5 Initial Cost -2400
6. Nilai Sisa 85
7. NCF (4+5+6) -2400 908 833 777 735 703 679 661 733
8. Discounting faktor pada 20% 1 0.833 0.694 0.579 0.482 0.402 0.335 0.279 0.2326
9. PV -2400 756.7 578.5 449.5 354.2 282.5 227.5 184.6 170.48
10. NPV 604

Nilai sisa untuk mesin yang baru adalah Rp 100.000 Rp 15.000 = Rp 85.000.

Kesimpulan :
Rencana penggantian mesin baru ini dapat dilanjutkan karena mesin baru tersebut
memiliki nilai NPV positif sebesar Rp 604. Apabila kita hitung, IRR-nya menghasilkan
nilai sebesar 28,7%.















BAB X
Materi Ekonomi Teknik

154
ANALISA RISIKO PADA MASA KRISIS

Masalah yang sering dihadapi oleh para investor adalah bagaimana meningkatkan
return yang diperoleh dan memperkecil resiko yang akan dihadapi, terutama dalam
kondisi ekonomi yang sangat tidak menentu, seperti yang sedang dihadapi Indonesi dan
negara-negara berkembang lainnya saat ini. Etimasi perhitungan return menjadi sangat
sulit, dan sering kali justru risiko yang muncul jauh lebih besar dari pada return yang
diperoleh.
Dalam lingkungan bisnis, kondisi apapun hendaknya tidak membuat kita putus asa.
Pelaku bisnis yang selalu berfikir positif sangat yakin bahwa di balik setiap kesukaran
pasti terdapat kemudahan, dan ia dapat segera menjadikan setiap ancaman menjadi
peluang.
Seandainya kita memiliki peluang untuk menginvestasikan modal kita pada proyek
A atau proyek B, dan dengan menggunakan asumsi kondisi ekonomi, berbagai
kemungkinan skenarionya adalah sebagai berikut :

Tabel 10.1 Perbandingan Return A dan Return B
Return A Return B
Skenario kondisi ekonomi Probabiliti (%) (%)
growth -30 % 0.1 -8 14
growth -20 % 0.2 10 -4
growth -10 % 0.4 8 6
growth -5 % 0.2 5 15
growth -1 % 0.1 -4 20


Tingkat pengembalian yang diharapkan (Expected rate of return) dari rencana
investasi proyek A dan B adalah :

E( R ) =

=
n
1 i
RiPi
E ( R ) untuk proyek A adalah :
E ( R ) = (-8 x 0,1) + (10 x 0,2) + (8 x 0,4) + (5 x 0,2) + (-4 x 0,1)
= 5%

Materi Ekonomi Teknik

155
E ( R ) untuk proyek B adalah :
E ( R ) = (14 x 0,1) + (-4 x 0,2) + (6 x 0,4) + (15 x 0,2 ) + (20 x 0,1)
= 8%
Seandainya kita ingin menginvestasikan 50% dari modal kita ke dalam proyek A dan 50
% ke dalam proyek B, berapa tingkat kengembalian yang kita peroleh pada investasi
proyek A maupun B?

Tabel 10.2 Tingkat Pengembalian yang Diharapkan
untuk Investasi
Return A Return B Kombinasi E ( R ) (%)
Skenario kondisi ekonomi Probabiliti (%) (%) A(%) dan B(%)
( a ) ( b ) ( c ) ( d ) ( a x d )
growth -30 % 0.1 -8 14 3 0.3
growth -20 % 0.2 10 -4 3 0.6
growth -10 % 0.4 8 6 7 2.8
growth -5 % 0.2 5 15 10 2
growth 0 % 0.1 -4 20 8 0.8
. 6.5


Kombinasi antara return proyek A sebesar 50% dan proyek B sebesar 50%, dengan
skenario kemungkinan pertumbuhan ekonomi sebesar -30% adalah:

(-8 x 0.5) + (14 x 0.5) = 3

Selanjutnya dengan cara yang sama, kita dapat menghitung nilai kombinasi proyek A dan
proyek B untuk berbagai skenario pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan tabel di atas, kita dapat menghitung Expected return sebagaimana dapat
dilihat pada tabel tersebut.
Hasil tersebut juga dapat dihitung dengan cara pembobotan rata-rata, yaitu dengan
menggunakan rumus :

E( R )

=
n
1 i
RiPi

Materi Ekonomi Teknik

156
Dengan menggunakan data di atas, kita memperoleh Expected Return untuk proyek
A sebesar 5% dan proyek B sebesar 8%. Masing-masing proyek tersebut memiliki
peluang investasi yang sama, yaitu 50%, sehingga diperoleh :

E ( R ) = (0,5 x 5 ) + (0,5 x 8 )
= 6,5%

Seandainya dalam contoh tersebut prosentase investasi kita ubah, yaitu untuk proyek
A sebesar 30% dan untuk proyek B sebesar 70%, maka kita akan memperoleh Expected
Return kedua proyek tersebut sebesar :

E ( R ) = (0,3 x 5 ) + (0,7 x 8 )
= 7,1%

Dibandingkan dengan menginvestasikan dalam bobot yang sama (yaitu sebesar
50%) untuk proyek A dan B, hasil yang kita peroleh akan jauh lebih besar apabila kita
hanya berinvestasi dalam proyek A sebesar 30% dan proyek B sebesar 70%.

1. Bagaimana Mengukur Risiko?
Risiko dapat diukur dengan mempertimbangkan nilai Variance atau Standar Deviasi.
Semakin besar nilai standar deviasi, semakin besar risiko yang akan dihadapi.

Contoh Standar Deviasi Dua Investasi


Kondisi Ekonomi Probabiliti Return A Return B
Baik 0.5 40 0
Jelek 0.5 0 40


Untuk Proyek A :
Expected Rate of Return atau E ( R ) :
E ( R ) = 0,5 x 40 + 0,5 x 0 = 20%


Variance :
Materi Ekonomi Teknik

157
o
2
A = 0,5 (40-20)
2
+ 0,5 (0-20)
2

= 400

Standar Deviasi :
oA = 400 = 20%

Untuk Proyek B :
Expected Rate of Return atau E ( R ) :
E ( R ) = 0,5 x 0 + 0,5 x 40 = 20%
o
2
B = 0,5 (0-20)
2
+ 0,5 (40-20)
2

= 400


Standar Deviasi
oA = 400 = 20%

Analisis :
Tampaknya kedua proyek tersebut (proyek A dan B) memiliki risiko yang sama
besarnya. Hal ini desebabkan karena kedua proyek tersebut memiliki nilai yang sama
untuk expected rate of return (20%), memiliki nilai varian yang sama (400) dan memiliki
nilai standar deviasi yang sama, yaitu sebesar 20%.
Masalahnya adalah bagaimana kita dapat memperkecil resiko yang akan dihadapi di
masa yang akan datang dengan kedua investasi proyek tersebut?
Seandainya kondisi ekonomi bertambah baik, proyek A akan memberi yield sebesar
40%, sedangkan proyek B sebesar 0%. Expected rate of return-nya menjadi :

E ( R ) = 0,5 x 40 + 0,5 x 0 = 20%

Sebaliknya, seandainya kondisi ekonomi bertambah buruk, proyek A akan memberikan
yield sebesar 0% dan proyek B menjadi sebesar 40%. Expected rate of return-nya
menjadi :

Materi Ekonomi Teknik

158
Kesimpulannya adalah bahwa dengan menginvestasikan sejumlah proporsi yang
sama pada masing-masing proyek tersebut, investor dapat mengeliminasi risiko secara
bersama-sama. Hal ini dapat dibuktikan dengan diperolehnya nilai standar deviasi untuk
kedua proyek tersebut, yaitu sebesar 0%.

o proyek =
2 2
) 20 0 ( 5 , 0 ) 20 40 ( 5 , 0 +
= 200 200
= 0%
atau,
o proyek =
2 2
) 20 40 ( 5 , 0 ) 20 0 ( 5 , 0 +
= 200 200
= 0%

2. Cara Mengukur Risiko Suatu Portofolio
Lihat contoh proyek A dan proyek B sebelumnya. Hasil perhitungan Expected rate of
return adalah sebagai berikut :

E ( R ) untuk proyek A adalah :
E ( R ) = (-8 x 0,1) + (10 x 0,2) + (8 x 0,4) + (5 x 0,2) + (-4 x 0,1)
= 5%

E ( R ) untuk proyek B adalah :
E ( R ) = (14 x 0,1) + (-4 x 0,2) + (6 x 0,4 ) + ( 15 x 0,2 ) + (20 x 0,1)
= 8%

Tabel berikut memuat perhitungan varian dari expected rate of return serta covarian dari
kedua proyek tersebut.

Materi Ekonomi Teknik

159
Skenario Return A Return B Deviasi E ( R ) A Deviasi E ( R ) B Probabiliti
Kondisi Ekonomi Probabiliti (%) (%) ( b )-5 ( C )-8 ( a ) x (e x f)
( a ) ( b ) ( c ) ( d ) ( e ) ( F )
growth -30 % 0.1 -8 14 -13 6 -7.8
growth -20 % 0.2 10 -4 5 -12 -12
growth -10 % 0.4 8 6 3 -2 -2.4
growth -5 % 0.2 5 15 0 7 0
growth -0 % 0.1 -4 20 -9 12 -10.8
. Corvarian -33

Nilai corvarian dapat juga dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Cov
ab
= )} R ( E R )}{ R ( E R { P
b b a a
n
1 i
i

=


dimana :
- Cov
ab
adalah covarian proyek A dan proyek B.
- R
a
dan R
b
adalah return dari proyek A dan proyek B.
- E(R
a
) dan E(R
b
) adalah expected return dari proyek A dan proyek B.
- P
i
adalah probabilitas kondisi ekonomi yang akan terjadi.

Cov
ab
= 0,1(-8 5)(14 8 ) + 0,2(10 5)(-4 8) + 0,4(8 5)(6 8) + 0,2(5 5)(15 8)
+ 0,1(-4 5)(20 8)
= -7,8 12 2,4 + 0 10,8
= -33,0

Korelasi proyek A dan proyek B juga dapat dihitung untuk mengetahui hubungan antara
kedua proyek tersebut. Rumusnya adalah :

Cor
ab
=
b a
ab
Cov
o o


di mana :
- Cor
ab
adalah korelasi antara proyek A dan proyek B.
- o
a
o
b
adalah standar deviasi proyek A dan proyek B.

Materi Ekonomi Teknik

160
Standar deviasi untuk proyek A dan proyek B dapat dihitung berdasarkan nilai
varian proyek A maupun varian proyek B.

Varian proyek A (o
2
a
) adalah :
(o
2
a
= 0,1(-8 5)
2
+ 0,2(10 5)
2
+ 0,4(8 5)
2
+ 0,2(5 5)
2
+ 0,1(-4 5)
2

= 16,9 + 5 + 3,6 + 0 + 8,1

= 33,6

Standar deviasi proyek A adalah :
o
a
= 6 , 33 = 5,80%

Varian proyek B (o
2
b
) adalah :
o
2
b
= 0,1(14 8)
2
+ 0,2(-4 8)
2
+ 0,4(6 8)
2
+ 0,2(15 8)
2
+ 0,1(20 8)
2

= 3,6 + 28,8 + 1,6 + 9,8 + 14,4

= 58,2

Standar deviasi proyek B adalah :
o
b
= 2 , 58 = 7,63%

Jadi, koefisien korelasi antara proyek Adan proyek B adalah :
Cor
ab
=
b a
ab
Cov
o o

=
63 , 7 x 80 , 5
0 , 33

=
25 , 44
0 , 33

= -0,746

Materi Ekonomi Teknik

161
Proyek A dan proyek B memiliki korelasi yang negatif mengenai return of securities. Hal
ini berarti bahwa risiko dapat diturunkan melalui investasi pada lebih dari satu proyek.
Jadi keuntungan dari analisis korelasi antara return dan securities adalah kita dapat
mengetahui risiko diversifikasi dari portofolio suatu investasi.
Koefisien korelasi selalu terletak di antara nilai +1 sampai dengan -1. Apabila return
of securities memiliki koefisien +1, artinya hubungan korelasi return of securities itu
sangat erat. Apabila return of securities memiliki koefsien -1, artinya korelasi itu
memiliki hubungan yang sangat tidak erat. Koefisien korelasi = 0, artinya tidak ada
korelasi antara return of securities.

Contoh Kasus :
Proyek C dan D memiliki risiko yang sama besar, tetapi kedua proyek ini memiliki
expected return yang berbeda.

E (R
c
) = 0,16
W = 0,50
o
2
c
= 0,04
o
c
= 0,20

E (R
d
) = 0,24
W
d
= 0,50
o
2
d
= 0,04
o
d
= 0,20

Bagaimana risiko kedua proyek di atas seandainya :
a. Koefisien korelasi proyek C dan D adalah + 1,0.
b. Koefisien korelasi proyek C dan D adalah - 1,0.
c. Koefisien korelasi proyek C dan D adalah + 0,10.
d. Koefisien korelasi proyek C dan D adalah - 0,10.




Materi Ekonomi Teknik

162
Pemecahan :
(a) Seandainya koefisien korelasi proyek C dan D adalah + 1,0 maka Portofolio Varian
kedua proyek tersebut adalah :

o
2
cd
= 0,04(0,5)
2
+ 0,04(0,5)
2
+ 2(0,5)(0,5)(1,0)(0,2)(0,2)

= 0,01 + 0,01 + 0,02

= 0,04

Analisis :
Mengingat varian proyek C dan D nilainya sama dengan varian masing-masing
proyek secara individual, yaitu sebesar 0,04, maka kombinasi investasi pada kedua
proyek ini memiliki risiko yang sangat besar.

( b ) Seandainya koefisien korelasi proyek C dan D adalah 1,0 maka Portofolio Varian
kedua proyek tersebut adalah :

o
2
cd
= 0,04(0,5)
2
+ 0,04(0,5)
2
+ 2(0,5)(0,5)(-1,0)(0,2)(0,2)

= 0,01 + 0,01 + -0,02

= 0

Aanalisis :
Vaian portofolio kedua proyek ini nilainya 0. Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi
investasi pada proyek C dan D diharapkan dapat menurunkan nilai risiko yang akan
dihadapi.

( c ) Seandainya koefisien korelasi proyek C dan D adalah +0,10 maka Portofolio Varian
kedua proyek tersebut adalah :

o
2
cd
= 0,04(0,5)
2
+ 0,04(0,5)
2
+ 2(0,5)(0,5)(,01)(0,2)(0,2)
Materi Ekonomi Teknik

163

= 0,01 + 0,01 + 0,002

= 0,022

( d ) Seandainya koefisien korelasi proyek C dan D adalah -0,10, maka portofolio Varian
kedua proyek tersebut adalah :

o
2
cd
= 0,04(0,5)
2
+ 0,04(0,5)
2
+ 2(0,5)(0,5)(-0,1)(0,2)(0,2)

= 0,01 + 0,01 0,002

= 0,018

Kesimpulan :
Apabila security return tidak berkorelasi, diversifikasi yang dilakukan dapat menurunkan
risiko. Tetapi sebaliknya, apabila security return memiliki korelasi positif yang sangat
besar, maka diversifikasi yang dilakukan justru akan mengakibatkan meningkatnya
risiko.

3. Cara Mengukur Risiko Secara Absolut
Standar Deviasi dapat dipakai sebagai alat untuk mengukur risiko secara Absolut.
Pemahaman yang lebih detail terhadap kemungkinan terjadinya risiko terhadap suatu
investasi proyek adalah dengan menggunakan konsep standar deviasi. Rumus untuk
menghitung standar deviasi adalah akar dari penjumlahan berbagai varian (akar sigma
varian =

var).

Rumus untuk menghitung varian dan standar deviasi adalah sebagai berikut :

Varian dari NCF = (NCF
1
ENCF)
2
Prob
1
+ (NCF
2
ENCF)
2
Prob
2
+ ..... + (NCF
n

ENCF)
2
Prob
n


Materi Ekonomi Teknik

164
Standar Deviasi NCF(oNCF) =

=
n
1 j
j
2
j
P ENCF) - (NCF

Dengan menggunakan data yang terdapat pada kasus tersebut (proyek X dan Y), kita
dapat menghitung risiko masing-masing proyek.
Proyek X
oNCF =
2 2 2
) 000 . 6 000 . 6 ( ) 2 , 0 ( ) 000 . 6 000 . 5 ( ) 1 , 0 ( ) 000 . 6 000 . 4 {( + +
(0,4) + (7.000 6.000)
2
(0,2) + (8.000 6.000)
2
(0,1)}
= 000 . 200 . 1
= Rp 1.095,45

Proyek Y
oNCF =
2 2 2
) 000 . 8 000 . 8 ( 15 , 0 ( ) 000 . 8 000 . 10 ( ) 1 , 0 ( ) 000 . 8 000 . 12 {( + +
(0,5) + (6.000 8.000)
2
(0,15) + (4.000 8.000)
2
(0,1)}
= 000 . 400 . 4
= Rp 2.097,62

Berdasarkan perhitungan standar deviasi NCF kedua proyek tersebut, tampak jelas bahwa
proyek Y memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan proyek X karena nilai standar
deviasi proyek Y lebih besar dibandingkan nilai standar deviasi proyek X. Namun
pengambilan keputusan mengalami dilema sebab proyek Y ternyata memiliki nilai ENFV
lebih besar dibandingkan proyek X. Untuk mengatasi keraguan tersebut, kita memerlukan
suatu analisis lagi, yaitu pengukuran risiko secara relatif.

4. Cara Mengukur Risiko Secara Relatif
Metode yang digunakan untuk mengukur risiko secara relatif adalah penghitungan
koefisien varian (CV = coeficient of variance). Rumusnya :

Standar Deviasi
CV =
Expected Value

Materi Ekonomi Teknik

165

Koefisien varian merupakan alat ukur yang cukup praktis untuk mengukur risiko
apabila kita membandingkan dua proyek yang memiliki :
a. Standar deviasi yang sama, tetapi memiliki nilai yang diharapkan (expected value)
yang berbeda.
b. Standar deviasi yang berbeda, tetapi memiliki expected value yang sama.
c. Standar deviasi yang berbeda, dan memiliki expected value yang berbeda.

Contoh Kasus :
Berikut ini adalah contoh kasus dua rencana investasi proyek A dan proyek B. Cash flow
masing-masing proyek dicantumkan dalam tabel berikut :
Tabel 10.3 Rencana Investasi Proyek A dan Proyek B
Proyek A Proyek B
Asumsi
Kemungkinan Cash Flow Probabiliti Cash Flow Probabiliti
Pertumbuhan Ekonomi
-30 % 6000 0.1 14000 0.1
-20 % 7000 0.2 12000 0.15
-10 % 8000 0.4 10000 0.5
0% 9000 0.2 8000 0.15
5% 10000 0.1 6000 0.1


Berdasarkan tabel di atas, nilai harapan dari proyek A maupun proyek B untuk
berbagai asumsi pertumbuhan ekonomi dihitung sebagai berikut :











Materi Ekonomi Teknik

166
Tabel 10.4 Nilai Harapan Proyek A dan B untuk
Berbagai Asumsi Pertumbuhan Ekonomi
Proyek A Proyek B
Asumsi
Kemungkinan Cash Flow Probabiliti Expected Cash Flow Probabiliti Expected
Pertumbuhan Ekonomi Value Value
-30 % 6000 0.1 600 14000 0.1 1400
-20 % 7000 0.2 1400 12000 0.15 1800
-10 % 8000 0.4 3200 10000 0.5 5000
0% 9000 0.2 1800 8000 0.15 1200
5% 10000 0.1 1000 6000 0.1 600
Expected NCF 8000 Expected NCF 10000
Standar Deviasi 1000 Standar Deviasi 1732.051

Berdasarkan perhitungan Expected NCF dan standar deviasi untuk masing-masing
proyek tersebut, kita mengetahui bahwa proyek A memiliki expected NCP dan standar
deviasi sebesar Rp 8.000 dan Rp 1.000. Sedangkan proyek B memiliki expected NCF dan
standar deviasi sebesar Rp 10.000 dan Rp 1.732. Investasi terbaik adalah pada proyek B
karena proyek B memiliki Expected NCF lebih besar dibandingkan proyek A. Tetapi
keputusan memilih investasi pada proyek B harus dilakukan dengan hati-hati, karena
proyek B memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan proyek A dan karena standar
deviasinya lebih besar.
Untuk memperoleh keputusan yang lebih jelas, kita harus menghitung koefisien
variasi (CV) kedua rencana investasi proyek tersebut :

Koefisien variasi proyek A :

Standar Deviasi
CV
proyek A
=
Expected Value
Rp 1.000
CV
proyek A
=
Rp 8.000
CV
proyek A
= 0,125


Materi Ekonomi Teknik

167
Koefisien varian proyek B :

Standar Deviasi
CV
proyek B
=
Expected Value


Rp 1.732,05
CV
proyek B
=
Rp 10.000
CV
proyek B
= 0,173



Berdasarkan semua hasil perhitungan kedua proyek tersebut, pengambilan
keputusan mengenai proyek mana yang terbaik adalah tergantung pada investor.
Seandainya investor menginginkan nilai cash flow yang lebih tinggi dan berani
mengambil risiko yang lebih besar, maka proyek B adalah pilihan yang terbaik. Tetapi
apabila investor tersebut menginginkan risiko yang lebih kecil, ia lebih baik memilih
investasi pada proyek A dengan nilai cash flow lebih kecil.

5. Independen cash flow
Independen cash flow artinya kemungkinan terjadinya distribusi pada periode yang akan
datang untuk masing-masing cash flow tidak saling tergantung satu sama lain. Net
present value yang diharapkan adalah sebagai berikut :

ENPV =

=
+
n
o t
t
f
t
) k 1 (
ENCF


di mana :
- ENCF
t
adalah net cash flow yang diharapkan pada periode t.
- k
f
adalah tingkat bebas risiko.
- t adalah waktu.

Standar deviasi net cash flow untuk masing-masing periode dapat dihitung dengan rumus
:
Materi Ekonomi Teknik

168

o
t
=

=

n
1 j
jt t jt
P 2 ) ENCF NCF (

di mana :
- s
t
adalah standar deviasi dari net cash flow pada periode t.
- NCF
jt
adalah net cash flow.
- ENCF
t
adalah net cash flow yang diharapkan.
- P
jt
adalah probabilitas yang berkaitan dengan masing-masing cash flow.

Selanjutnya dengan menghitung standar deviasi untuk berbagai periode yang
berbeda, kita dapat mengukur risiko suatu proyek. Standar deviasi yang kita hitung
adalah standar deviasi dari kemungkinan distribusi net present value (dengan asumsi cash
flow masing-masing periode bersifat independen). Rumus standar deviasi adalah sebagai
berikut :

o =

=
+
o
n
1 t
t 2
f
2
t
) k 1 (


di mana :
- o adalah standar deviasi dari kemungkinan distribusi net cash flow.
-
2
t
o adalah varian pada masing-masing periode.

Contoh Kasus :
Suatu rencana investasi dalam bentuk proyek memerlukan biaya sebesar Rp 8.000 pada
periode t = 0. Pada tahun ketiga, proyek itu diharapkan sudah dapat menghasilkan
keuntungan. Tabel dibawah ini merupakan data mengenai cash flow serta besarnya
kemungkinan untuk masing-masing tahun (Asumsi discount rate sebesar 10 %).



Materi Ekonomi Teknik

169
Tabel 10.5 Proyeksi Cash Flow
Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3
Cash Flow Probilitas Cash Flow Probilitas Cash Flow Probilitas
7000 0.1 2000 0.2 7000 0.3
6000 0.4 4000 0.4 6000 0.2
4000 0.3 6000 0.25 4000 0.3
2000 0.2 7000 0.15 2000 0.2


Tabel 10.6 Perhitungan Cash Flow dan Varianceyang
Diharapkan untuk masing-masing Periode
NCF Pjt NCF x Pjt (NCF - ENCF)^2 (NCF - ENCF)^2 x Pj
Tahun
1 7000 0.1 700 16,000,000 1,600,000
6000 0.4 2400 5,290,000 2,116,000
4000 0.3 1200 12,250,000 3,675,000
2000 0.2 400 18,490,000 3,698,000
ENCF 4700 Varian 11,089,000
Stan. Dev 3,330
Tahun
2 2000 0.2 400 18,490,000 3,698,000
4000 0.4 1600 9,610,000 3,844,000
6000 0.25 1500 10,240,000 2,560,000
7000 0.15 1050 13,322,500 1,998,375
ENCF 4550 Varian 12,100,375
Stan. Dev 3,479
Tahun
3 7000 0.3 2100 6,760,000 2,028,000
6000 0.2 1200 12,250,000 2,450,000
4000 0.3 1200 12,250,000 3,675,000
2000 0.2 400 18,490,000 3,698,000
ENCF 4900 Varian 11,851,000
Stan. Dev 3,443


Tabel 10.7 Perhitungan ENPV
ENCF Discount Factor PV dari ENCF
PV pada 25 %
4,700 0.800 3,760
4,550 0.640 2,912
4,900 0.512 2,509
Jumlah 9,181

Materi Ekonomi Teknik

170
Berdasarkan perhitungan pada tabel-tabel di atas, kita dapat menghitung NPV yang
diharapkan, yaitu :

Rp 9.181 Rp 8.000 = Rp 1.181

Standar deviasi nilai yang diharapkan adalah :

o =

=
+
o
n
1 t
t 2
f
2
t
) k 1 (


o =
6
2
4
2
2
2
) 25 , 1 (
3443
) 25 , 1 (
3479
) 25 , 1 (
3330
+ +

o =
8147 , 3
000 . 851 . 11
4414 , 2
375 . 100 . 12
5625 , 1
000 . 089 . 11
+ +

o = 3 , 666 . 106 . 3 3 , 326 . 956 . 4 960 .. 096 . 7 + +

o = 6 , 952 . 159 . 15

o = Rp 3893,6

Selanjutnya, apabila kita ingin mengetahui berapa probabilitas atau berapa
kemungkinan Net Present Value (NPV) dari rencana investasi proyek ini menjadi nol :

Z =
o
X X

di mana :
- X adalah nilai yang akan kita harapkan.
- X adalah Net Present Value yang diharapkan.
- Z adalah nilai yang diperoleh dari tabel Z.
Materi Ekonomi Teknik

171
Z =
6 , 893 . 3
181 . 1 0

Z =
6 , 893 . 3
181 . 1

Z = 3033 , 0

Analisis :
Nilai Z sebesar -0,3033 artinya adalah Net Present Value sebesar nol terletak pada nilai
0,3033 dari sisi kiri kurva distribusi normal. Berdasarkan tabel Z (lampiran), kita
mendapatkan nilai sebesar 0,6179. Mengingat nilai Z bertanda negatif, maka
kemungkinan bahwa Net Present Value dari rencana investasi proyek tersebut nilainya
nol adalah sebesar 1 0,6179 = 0,3821 atau sebesar 38,2%.
Berdasarkan rumus Z tersebut di atas, kita juga dapat mengetahui berapa
probabilitas proyek ini apabila Net Present Value sebesar 50% dari rencana investasi
semula.
Net Present Value 50% adalah ( 50% X Rp 8.000) = Rp 4.000, sehingga nilai Z

Z =
6 , 893 . 3
181 . 1 000 . 4

Z =
6 , 893 . 3
819 . 2

Z = 0,724

Dengan menggunakan Tabel Z atau tabel distribusi normal, kita dapat mengetahui
Z = 0,724 adalah sebesar 0,7642 atau dengan kata lain, besarnya kemungkinan rencana
investasi proyek ini memiliki nilai Net Present Value sebesar Rp 4.000 adalah 76,4%

6. Dependent Cash Flow
Seandainya cash flow saling tergantung setiap periode, hal ini disebut dependent cash
flow. Cash flow yang saling tergantung akan menyebabkan nilai standar deviasinya
menjadi lebih besar dibandingkan cash flow yang independen. Semakin besar nilai
korelasi cash flow setiap periode, semakin besar pula nilai standar deviasi dari cash flow
tersebut.
Materi Ekonomi Teknik

172



Standar deviasi Net Present Value yang diharapkan adalah :

o =

=
n
1 t

t
f
t
) k 1 (
s
+


o =
3 2
) 25 , 1 (
3443
) 25 , 1 (
3479
25 , 1
3330
+ +

o =
953 , 1
3443
563 , 1
3479
25 , 1
3330
+ +

o = 13.320 + 2.225,85 + 1.762,93

o = Rp 17.308,78

Berdasarlam perhitungan standar deviasi di atas, kita dapat melihat dengan jelas
bahwa apabila cash flow saling tergantung, nilai standar deviasinya menjadi sangat besar.
Dalam dunia bisnis, cash flow jarang sekali saling tergantung satu sama lain, juga
sangat jarang terjadi cash flow yang sangat tergantung satu dengan lainnya (berkorelasi
sempurna). Untuk mengatasi masalah ini kita dapat menggunakan metode analisis pohon
keputusan (decision tree analysis).








Materi Ekonomi Teknik

173
BAB XI
ANALISIS DECI SI ON TREE UNTUK PENGAMBILAN
KEPUTUSAN INVESTASI

Analisis pohon keputusan (decision tree analysis) merupakan salah satu alat
pengambilan keputusan investasi dari berbagai alternatif yang tersedia. Analisis pohon
keputusan biasanya digambarkan dengan simbol standar. Melalui pohon keputusan, kita
dapat membuat pilihan antara pergi ke gedung bioskop atau tinggal di rumah menonton
TV atau video. Tanda segi empat merupakan simbol titik keputusan. Setiap alternatif,
diikuti dengan tanda bulat dari cabang pohon yang menggambarkan kemungkinan hasil
atau unsur mutlak yang dapat terjadi.
Pada gambar di bawah ini, kita dapat memilih : melakukan investasi dalam bentuk
saham sebesar $ 1.000 atau menabung di bank sebesar $ 1000. Informasi lain yang dapat
kita peroleh adalah perkiraan tentang nilai investasi saham tersebut setahun mendatang
dan nilai tabungan setahun mendatang. Masing-masing dalam dua

Gambar 11.1 : Diagram Pohon (Tree Diagramming)

tanda
keputusan cabang
Keputusan
`
Tanda unsrur mutlak


kondisi, yaitu naik atau turunnya harga saham. Asumsinya adalah tabungan memperoleh
bunga sebesar 5% dan saham tidak memperoleh pembayaran dividen. Dalam persoalan
investasi yang sederhana ini, nilai harapan dan investasi berupa tabungan akan tetap
Materi Ekonomi Teknik

174
stabil (kecuali terjadi perubahan suku bunga), tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi
pada pasar saham.


Cara penghitungannya adalah :
Alternatif pertama (investasi saham) = (0,7 x $1.400) + (0,3 x $800) = $1.220
Alternatif kedua ( menabung) = (0,7 x $1.050) + (0,3 x $1.050) = $1.050

Gambar 11.2 Pohon Keputusan untuk
Memecahkan Persoalan Investasi

= $ 980
= + $ 240
$ 1.220
Keputusan
= $ 735
= + $ 315
$ 1.050
Nilai harapan tanda1
sebesar $ 1.220
Nilai harapan tanda 2
sebesar $ 1.050
1
2


Kesimpulan :
Berdasarkan analisis pohon keputusan pada gambar ini, kita dapat mengetahui nilai
harapan dari kedua alternatif pilihan tersebut dengan tanda 1 dan 2. Keputusan dengan
nilai harapan yang lebih besar merupakan keputusan terbaik untuk dipilih, yaitu investasi
dalam saham sebesar $ 1.000.

Prosedur atau tahapan untuk melakukan analisis pohon keputusan adalah :
1. Membuat diagram pohon atau Tree Diagramming :
- Identifikasi semua titik keputusan dan kemungkinan lain yang akan terjadi.
Materi Ekonomi Teknik

175
- Identifikasi alternatif keputusan untuk setiap titik keputusan.
- Identifikasi apa yang mungkin terjadi dari setiap keputusan yang akan diambil.
- Membuat sebuah diagram pohon yang menunjukkan urutan keputusan dan
kejadian yang mungkin terjadi.

2. Etimasi kemungkinan (Expected cost = EC) :
- Etimasi kemungkinan hasil yang akan diperoleh dari berbagai kejadian yang
mungkin terjadi.
- Etimasi konsekuensi keuangan dari setiap hasil yang mungkin dari berbagai
alternatif keputusan.

3. Evaluasi dan seleksi :
- Perhitungan nilai yang diharapkan dari setiap alternatif keputusan.
- Pilih alternatif keputusan yang menawarkan nilai yang diharapkan yang saling
optimal.

Berikut ini adalah contoh kasus penentuan keputusan berisiko dalam jangka panjang
tentang penambahan kapasitas dari fasilitas yang ada.

1. Contoh Kasus :
Di suatu kota kecil, Pemerintah Daerah Jawa Barat mengoperasikan sistem armada
busnya di sebuah terminal bus antarkota. Sayangnya pengelolaan terminal ini tidak
ditangani secara proresional, sehingga setiap tahun pengelola mengalami defisit atau
kerugian sebesar Rp 400.000. Dinas Pendapatan Daerah sebagai salah satu pemegang
sahamnya telah memutuskan untuk menaikkan tarif retribusi bagi seluruh penumpang dan
bus yang masuk ke terminal tersebut, untuk membantu mengurangi defisit. Dewan direksi
Terminal yang dalam hal ini diwakili oleh direkturnya beranggapan bahwa kenaikan tarif
akan mengakibatkan menurunnya jumlah penumpang, kecuali jika kapasitas dan fasilitas
terminal diperluas dan diperbaiki. Direktur menyarankan agar peningkatan fasilitas
diberikan bersamaan dengan kenaikan tarif agar seimbang dengan reaksi negatif
masyarakat, bahkan mungkin dapat menaikkan jumlah penumpang. Di lain pihak,
manajemen mengakui bahwa meskipun fasilitas terminal diperbaiki dan kapasitasnya
Materi Ekonomi Teknik

176
ditingkatkan, ada kemungkinan jumlah penumpang akan tetap atau bahkan, kemungkinan
yang terburuk, akan menurun.
Seorang aggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang berpengaruh menyarankan
sebuah alternatif rencana. Ia akan menaikkan tarif sekarang tapi menunda keputusan
penambahan kapasitas dan perbaikan fasilitas selama 2 tahun. Jika perluasan ditunda,
Direktur yakin bahwa penumpang akan turun pula atau bertahan pada tingkat yang
sekarang. Jika kapasitas dan fasilitas diperluas dan diperbaiki pada 2 tahun setelah tarif
dinaikkan penumpang mungkin naik, bertahan atau menurun. Jika fasilitas tidak diperluas
dalam 2 tahun, perkiraan/etimasi yang paling optimis adalah bahwa penumpang akan
bertahan atau menurun tetapi tidak akan mengalami peningkatan. Pihak manajemen
terminal diminta untuk mengevaluasi masalah ini sampai rencana 8 tahun ke depan.
Gambar di bawah ini menunjukkan permulaan diagram pohon keputusan. Urutan
keputusan dan aliran kemungkinan peristiwa dari kiri ke kanan. Pada sisi kiri diagram,
kita lihat keputusan pertama (ditampilkan dalam persegi empat) dan 2 alternatifnya,
masing-masing ditampilkan oleh cabang yang berasal dari persegi empat. Jika

Gambar 11.3 Permulaan Diagram Pohon Keputusan
1
2
a
b
c
d
f
e


kapasitas dan fasilitas ditambah sekarang (alternatif 2), keputusan akan diikuti oleh
kemungkinan peristiwa (lingkaran), yang mana dapat mengarah pada ketiga hasil :
penumpang tahunan selama tiap tahun berikutnya dalam 8 tahun akan meningkat,
bertahan atau menurun.
Materi Ekonomi Teknik

177

Penjelasan gambar di atas adalah sebagai berikut :
a. Alternatif 1 (tarif dinaikkan tetapi Terminal tidak ditingkatkan kualitasnya)
Pengambilan keputusan ini akan menimbulkan dua kemungkinan, yaitu :
- Kemungkinan pertama : jumlah penumpang tetap (probabilitasnya = 0,3) dan
perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 500 juta
- Kemungkinan kedua : jumlah penumpang menurun (probabilitasnya = 0.7)
sehingga perusahaan mengalami kerugian lebih besar lagi yaitu Rp 800 juta.

Apabila kemungkinan pertama yang terjadi (setelah dua tahun kemudian),
perusahaan mengalami dua pilihan. Pilihan A adalah perusahaan meningkatkan kualitas
terminal yang memerlukan biaya investasi sebesar Rp 450 juta, atau pilihan B :
perusahaan tidak melakukan apa-apa, sehingga tidak memerlukan biaya investasi.
Seandainya pilihan A yang terpilih, akan terjadi tiga kemungkinan. Kemungkinan
pertama, jumlah penumpang meningkat (probabilitasnya = 0,4) tetapi perusahaan masih
mengalami kerugian sebesar Rp 100 juta/tahun sampai dengan 6 tahun yang akan datang.
Kemungkinan kedua, jumlah penumpang tetap (probabilitasnya = 0,5) dan perusahaan
masih mengalami kerugian sebesar Rp 300 juta/tahun, sampai dengan 6 tahun yang akan
datang. Kemungkinan ketiga, jumlah penumpang menurun (probabilitasnya = 0,1) dan
perusahaan tetap mengalami kerugian sebesar Rp 500 juta/tahun, selama 6 tahun yang
akan datang.

- EC untuk kemungkinan A = ((Rp 100 x 6) x 0,4) + ((Rp 300 x 6) x 0,5) + ((Rp 500 x
6) x 0,1) = Rp 1.440 juta

Seandainya pilihan B yang dipilih, yaitu perusahaan tidak melakukan apa-apa,
perusahaan dalam hal ini tidak mengeluarkan biaya investasi sama sekali. Akibatnya
adalah jumlah penumpang mungkin tetap (probabilitasnya = 0,5). Hal ini menyebabkan
perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 250 juta per tahun (sampai dengan 6 tahun
yang akan datang). Atau perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 400 juta/tahun
(sampai dengan 6 tahun yang akan datang) akibat menurunnya jumlah penumpang
(probabilitas = 0,5).

Materi Ekonomi Teknik

178
- EC untuk kemungkinan B = ((Rp 250 x 6) x 0,5) + ((Rp 400 x 6 x 0,5) = Rp 1.950
juta

Sedangkan apabila kemungkinan kedua yang terjadi (hal ini terjadi setelah dua tahun
kemudian), perusahaan akan menghadapi dua pilihan. Pilihan C adalah meningkatkan
kualitas terminal, sehingga perlu biaya investasi sebesar Rp 450 juta, atau pilihan D :
tidak melakukan apa-apa, sehingga tidak memerlukan biaya investasi. Seandainya pilihan
C yang dipilih, tiga kemungkinan akan terjadi. Kemungkinan pertama, jumlah
penumpang meningkat (probabilitasnya = 0,2) tetapi perusahaan masih mengalami
kerugian sebesar Rp 100 juta/tahun sampai dengan 6 tahun yang akan datang.
Kemungkinan kedua, jumlah penumpang tetap (probabilitasnya = 0,4) dan perusahaan
masih mengalami kerugian sebesar Rp 300 juta/tahun sampai dengan 6 tahun yang akan
datang. Kemungkinan ketiga, jumlah penumpang menurun (probabilitasnya= 0,4) dan
perusahaan tetap mengalami kerugian sebesar Rp 500 juta/tahun selama 6 tahun yang
akan datang.

- EC untuk kemungkinan C = ((Rp 100 x 6) x 0,2) + ((Rp 300 x 6) x 0,4) + ((Rp 500 x
6) x 0,4) = Rp 2.040 juta.

Seandainya pilihan D yang dipilih, yaitu perusahaan tidak melakukan apa-apa,
perusahaan dalam hal ini tidak mengeluarkan biaya investasi sama sekali. Akibatnya,
jumlah penumpang kemungkinan tetap (probabilitasnya = 0,2). Hal ini menyebabkan
perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 250 juta per tahun (sampai dengan 6 tahun
yang akan datang). Atau perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 400 juta/tahun
(sampai dengan 6 tahun yang akan datang) akibat menurunnya jumlah penumpang
(probabilitas = 0,8).
- EC untuk kemungkinan D = ((Rp 250 x 6) x 0,2) + ((Rp 400 x 6) x 0,8) = Rp 2.220
juta

Selanjutnya, setelah EC untuk kemungkinan A, B, C, D diketahui, kita dapat
menghitung EC untuk kemungkinan pertama, yaitu :

Materi Ekonomi Teknik

179
- EC kemungkinan pertama = (Rp 450 juta + Rp 1.440 juta) = Rp 1.890 juta, atau
(Rp 0 + Rp 1.950 juta) = Rp 1.950 juta. Pilihannya adalah EC yang paling kecil,
yaitu Rp 1.890 juta.

- Sedangkan EC kemungkinan kedua = (Rp 450 + Rp 2.040 juta) = Rp 2.490 juta,
atau (Rp 0 + Rp 2.220 juta) = Rp 2.220 juta. Pilihannya adalah EC yang paling
kecil, yaitu Rp 2.220 juta.

Dengan demikian apabila perusahaan memilih tindakan alternatif pertama, yaitu
menaikkan harga tiket sekarang tanpa melakukan tindakan apa-apa, maka EC-nya
menjadi = Rp 0 + EC E, di mana :

EC kemungkinan E = ((RP 500 + Rp 1.890)0,3) + ((Rp 800 + Rp 2.220)0,7) = Rp 2.831
juta.

Dengan demikian EC alternatif pertama = Rp 0 + Rp 2.831 = Rp 2.831 juta.

b. Alternatif 2 (tarif dinaikkan, dan dalam waktu yang bersamaan kualitas terminal
ditingkatkan)

Apabila perusahaan memilih alternatif kedua, yaitu menaikkan harga tiket sekaligus
melakukan perbaikan kualitas terminal saat ini juga (biaya investasi sebesar Rp 300 juta),
maka perusahaan akan memperoleh EC = Rp 300 juta + EC F, di mana :

EC kemungkinan F = ((Rp 100 x 8) x 0,2) + ((Rp 300 x 8) x 0,5) + (Rp 500 x 8) x 0,3) =
Rp 2.560 juta.

Sehingga EC alternatif kedua = Rp 300 + Rp 2.560 = Rp 2.860.

Kesimpulan :
Karena EC alternatif pertama (Rp 2.831 juta) nilainya lebih kecil dibandingkan EC
alternatif kedua (Rp 2.860 juta), maka pilihan yang terbaik adalah perusahaan perlu
menaikkan harga tiket sekarang, tetapi perbaikan kualitas terminal tidak dilakukan
Materi Ekonomi Teknik

180
sekarang. Perbaikan kualitas terminal dilakukan 2 tahun kemudian dengan biaya investasi
sebesar Rp 500 juta.

2. Contoh Kasus :
PT. TV GLOBAL
Kita pasar TV berwarna berkembang dengan pesat, kebutuhan untuk kapasitas baru
menjadi jelas, tetapi berapa cepat pasar itu akan berkembang? Kita tidak tahu. Kapasitas
tahunan yang ada adalah sebesar 20.000 unit. Persaingan baru menjadi makin agresif.
Karena itu, pasar harus ditingkatkan dengan promosi yang agresif. Perkiraan besarnya
pasar secara total, berbeda-beda; sebagian merasa bahwa perkembangan permintaan
dapat meledak dalam 4 sampai 5 tahun mendatang. Selain itu, terdapat ketidakpastian
mengenai inovasi teknologi sehingga pasar perlu diestimasi : optimis, moderate atau
pesimis.
Kebutuhan kapasitas per tahun, disusun dengan angka probabilitas dan estimasi
pertumbuhan :
- Optimis (probabilitas = 0,25), perkembangan demand sebesar 40% per tahun.
- Moderate (probabilitas = 0,50), perkembangan demand sebesar 20% per tahun.
- Pesimis (probabilitas = 0,25), perkembangan demand sebesar 10% per tahun.

Besarnya kebutuhan saat ini adalah 17.000 unit.

Ada tiga pilihan strategi untuk perkembangan perencanaan kapasitas yang dirancang
berdasarkan tiga asumsi pasar di atas. Biaya variabel produksi sama dengan biaya yang
dibutuhkan untuk kapasitas sekarang karena tidak ada teknologi baru yang dipakai.
Ketiga pilihan tersebut adalah :
(1) Menambah kapasitas baru dalam tahun ke-2, ke-3 dan ke-4, dengan penambahan
sebesar 15.000 unit.
(2) Menambah kapasitas baru dalam tahun ke-2, ke-3 dan ke-4, dengan penambahan
sebesar 5.000 unit.
(3) Tidak ada penambahan kapasitas.

Penambahan kapasitas sebesar 15.000 unit membutuhkan dana investasi sebesar
Rp 800.000, dan untuk 5.000 unit membutuhkan dana sebesar Rp 300.000. Hal ini
Materi Ekonomi Teknik

181
menunjukkan adanya skala ekonomis untuk jumlah satuan yang lebih besar. Apabila
kebutuhan melebihi kapasitas, kehilangan penjualan akan terjadi. Dengan demikian biaya
kehilangan penjualan yang akan dikenakan adalah sebesar Rp 50 per unit per tahun.
Sedangkan apabila terjadi kelebihan persediaan, perusahaan akan dikenakan biaya
persediaan sebesar Rp 150 per unit per tahun. Asumsi tingkat bunga yang dipakai adalah
sebesar 15%.
Gambar 11.4 Diagram Pohon (Tree Diagramming)
Idem
Moderate (0,50)
Pesimis (0,25)
Optimis (0,25)
Idem


Pemecahan :
Dengan melakukan perhitungan sebagaimana yang tampak pada tabel di bawah ini, kita
dapat mengetahui Total Biaya untuk masing-masing alternatif (alternatif 1, 2, dan 3).
Selanjutnya, strategi pengambilan keputusannya dapat dilihat pada hasil EC
(Expected cost) masing-masing alternatif. Keputusan yang terbaik adalah alternatif
dengan EC yang paling kecil, yaitu EC alternatif ke-3.

EC alternatif 1
(Rp 2.848.996 x 0,25) + (Rp 7.837.184 x 0,50) + (Rp 9.987.796 x 0,25) = Rp 7.127.790
EC alternatif 2
(Rp 2.939.905 x 0,25) + (Rp 1.190.921 x 0,50) + (Rp 3.312.796 x 0,25) = Rp 2.158.636
EC alternatif 3
(Rp 3.291.111 x 0,25) + (Rp 1.381.373 x 0,50) + (Rp 2.125.675 x 0,25) = Rp 2.044.883

Materi Ekonomi Teknik

182
ALT.1 Biaya Investasi tahun 2,3, dan 4 masing-masing Rp. 800 juta
Tahun 0 Tahun1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4
Kebutuhan Optimis 17000 23800 33320 46648 65307.2
Usulan Tambahan Kapasitas 15000 15000 15000
Usulan Kapasitas 20000 20000 35000 50000 65000
Kehilangan Penjualan 3800 307.2
Persediaan 3000 1680 3352
Nilai Sekarang (PV)
Investasi :
Tahun 2 800.000 * 0.756 604,800
Tahun 3 800.000 * 0.658 526,400
Tahun 4 800.000 * 0.572 457,600
Kehilangan Penjualan
Tahun 1 3800*50*0.869 165,110
Tahun 4 307.2*50*0.572 8,786
Persediaan
Tahun 0 3000*150*1 450,000
Tahun 2 1680*150*0.756 340,200
Tahun 3 3352*150*0.658 296,100
Total 2,848,996
Kebutuhan Moderate 17000 20400 24480 29376 35251.2
Usulan Tambahan Kapasitas 15000 15000 15000
Usulan Kapasitas 20000 20000 35000 50000 65000
Kehilangan Penjualan 400
Persediaan 3000 10520 20624 29748.8
Nilai Sekarang (PV)
Investasi :
Tahun 2 800.000 * 0.756 604,800
Tahun 3 800.000 * 0.658 526,400
Tahun 4 800.000 * 0.572 457,600
Kehilangan Penjualan
Tahun 1 400*50*0.869 17,380
Persediaan
Tahun 0 3000*150*1 450,000
Tahun 2 10520*150*0.756 1,192,968
Tahun 3 20624*150*0.658 2,035,589
Tahun 4 29748.8*150*0.527 2,552,447
Total 7,837,184
Kebutuhan Pesimis 17000 18700 20570 22627 24889.7
Usulan Tambahan Kapasitas 15000 15000 15000
Usulan Kapasitas 20000 20000 35000 50000 65000
Kehilangan Penjualan
Persediaan 3000 1300 14430 27373 40110.3
Nilai Sekarang (PV)
Investasi :
Tahun 2 800.000 * 0.756 604,800
Tahun 3 800.000 * 0.658 526,400
Tahun 4 800.000 * 0.572 457,600
Persediaan
Tahun 0 3000*150*1 450,000
Tahun 1 1300*150*0.869 169,455
Tahun 2 14430*150*0.756 1,636,362
Tahun 3 27373*150*0.658 2,701,715
Tahun 4 40110.3*150*0.572 3,441,464
Total 9,987,796
EC Alt 1 7,127,790


Materi Ekonomi Teknik

183
ALT.2 Biaya Investasi tahun 2,3, dan 4 masing-masing Rp. 300 juta
Tahun 0 Tahun1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4
Kebutuhan Optimis 17000 23800 33320 46648 65307.2
Usulan Tambahan Kapasitas 5000 5000 5000
Usulan Kapasitas 20000 20000 25000 30000 35000
Kehilangan Penjualan 3800 8320 16648 30307.2
Persediaan 3000
Nilai Sekarang (PV)
Investasi :
Tahun 2 300.000 * 0.756 226,800
Tahun 3 300.000 * 0.658 197,400
Tahun 4 300.000 * 0.572 171,600
Kehilangan Penjualan
Tahun 1 3800*50*0.869 165,110
Tahun 2 8320*50*0.756 314,496
Tahun 3 16648*50*0.658 547,719
Tahun 4 307.2*50*0.572 866,780
Persediaan
Tahun 0 3000*150*1 450,000
Total 2,939,905
Kebutuhan Moderate 17000 20400 24480 29376 35251.2
Usulan Tambahan Kapasitas 5000 5000 5000
Usulan Kapasitas 20000 20000 25000 30000 35000
Kehilangan Penjualan 400 251.2
Persediaan 3000 520 624
Nilai Sekarang (PV)
Investasi :
Tahun 2 300.000 * 0.756 226,800
Tahun 3 300.000 * 0.658 197,400
Tahun 4 300.000 * 0.572 171,600
Kehilangan Penjualan
Tahun 1 400*50*0.869 17,380
Tahun 4 251.2*50*0.572 7,184
Persediaan
Tahun 0 3000*150*1 450,000
Tahun 2 520*150*0.756 58,968
Tahun 3 624*150*0.658 61,589
Total 1,190,921
Kebutuhan Pesimis 17000 18700 20570 22627 24889.7
Usulan Tambahan Kapasitas 5000 5000 5000
Usulan Kapasitas 20000 20000 25000 30000 35000
Kehilangan Penjualan
Persediaan 3000 1300 4430 7373 10110.3
Nilai Sekarang (PV)
Investasi :
Tahun 2 300.000 * 0.756 226,800
Tahun 3 300.000 * 0.658 197,400
Tahun 4 300.000 * 0.572 171,600
Persediaan
Tahun 0 3000*150*1 450,000
Tahun 1 1300*150*0.869 169,455
Tahun 2 4430*150*0.756 502,362
Tahun 3 7373*150*0.658 727,715
Tahun 4 10110.3*150*0.572 867,464
Total 3,312,796
EC Alt 1 2,158,636

Materi Ekonomi Teknik

184
ALT.3 Tidak ada Biaya Investasi
Tahun 0 Tahun1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4
Kebutuhan Optimis 17000 23800 33320 46648 65307.2
Usulan Tambahan Kapasitas 0 0 0
Usulan Kapasitas 20000 20000 20000 20000 20000
Kehilangan Penjualan 3800 13320 26648 45307.2
Persediaan 3000
Nilai Sekarang (PV)
Kehilangan Penjualan
Tahun 1 3800*50*0.869 165,110
Tahun 2 13320*50*0.756 503,496
Tahun 3 26648*50*0.658 876,719
Tahun 4 45307.2*50*0.572 1,295,786
Persediaan
Tahun 0 3000*150*1 450,000
Total 3,291,111
Kebutuhan Moderate 17000 20400 24480 29376 35251.2
Usulan Tambahan Kapasitas 0 0 0
Usulan Kapasitas 20000 20000 20000 20000 20000
Kehilangan Penjualan 400 4480 9376 15251.2
Persediaan 3000
Nilai Sekarang (PV)
Kehilangan Penjualan
Tahun 1 400*50*0.869 17,380
Tahun 2 4480*50*0.756 169,344
Tahun 3 9376*50*0.658 308,470
Tahun 4 15251.2*50*0.572 436,179
Persediaan
Tahun 0 3000*150*1 450,000
Total 1,381,373
Kebutuhan Pesimis 17000 18700 20570 22627 24889.7
Usulan Tambahan Kapasitas 0 0 0
Usulan Kapasitas 20000 20000 20000 20000 20000
Kehilangan Penjualan 570 2627 4889.7
Persediaan 3000 1300
Nilai Sekarang (PV)
Kehilangan Penjualan
Tahun 2 570*50*0.756 21,546
Tahun 3 2627*50*0.658 86,428
Tahun 4 4889.7*50*0.572 1,398,245
Persediaan
Tahun 0 3000*150*1 450,000
Tahun 1 1300*150*0.869 169,455
Total 2,125,675
EC Alt 1 2,044,883