Anda di halaman 1dari 7

HAK GUNA BANGUNAN

MATA KULIAH HUKUM AGRARIA Dosen Pengampu: Disusun oleh: 1. Kesi dewi emawati 11/391423/TK/38552 2. Muhammad Afzal 3. Zafina syarafina

JURUSAN TEKNIK GEODESI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA 2011/2012

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb. Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan kita semua iman dan takwa serta kesehatan baik jasmani maupun rohani sehingga pada saat ini kita semua masih senantiasa dapat melaksanakan kewajiban-NYA yaitu mencari ilmu. Tak lupa kita panjatkan shalawat serta salam kepada junjungan kita nabi besar Muhammad Saw yang telah menuntun kita dari jaman kebodohan (jahiliyah) kepada jaman penerangan. Laporan ini dibuat oleh penulis sebagai tugas mata kuliah Hukum Agraria. Dalam laporan ini penulis membahas mengenai hak guna bangunan. Proses pembuatan laporan ini tentunya penulis mendapat bimbingan, arahan, koreksi, dan saran. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada: a. Ibu, selaku dosen pengampu mata kuliah pancasila. b. Kedua orangtua, serta c. Teman-teman Tanpa bantuan serta doa dari mereka, laporan ini tidak bisa terselesaikan tepat waktu. Namun laporan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, mengingat dikerjakan dalam waktu yang singkat dan kekurang pahaman penulis mengenai cara serta proses pembuatannya. Oleh karena itu jika pembaca memiliki pesan dan saran mohon disampaikan kepada penulis untuk rujukan bagi penulis dimasa yang akan datang. Semoga saja karya kecil ini dapat memberi sedikit wawasan kepada pembacanya maupun penulis pribadi. Wassalam.

Desember 2011

Penyusun

HALAMAN PERSEMBAHAN

Saya persembahkan paper ini untuk kedua orang-tua saya, kakak, adik, teman-teman, serta orang-orang yang saya sayangi. Untuk sahabat saya yang selalu menemani saat suka maupun duka.

DAFTAR ISI

Halaman Judul........................................................................................................................ Kata Pengantar............................................................................................................ Halaman Persembahan...................................................................................................... Daftar Isi............................................................................................................ BAB I 1.1 1.2 1.3 1.4 Pendahuluan............................................................................................................ Latar Belakang............................................................................................................ Rumusan Masalah............................................................................................................ Tujuan ............................................................................................................

BAB II ISI........................................................................................................... BAB III PENUTUP 3.1 3.2 Kesimpulan............................................................................................................ Saran.................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sesuai ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan, bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesarbesarnya bagi kemakmuran rakyat, Pasal tersebut di atas mengandung maksud, bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Oleh sebab itu dalam pengaturan dan pemanfaatannya harus dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat. Kaitan dengan hal tersebut di atas dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Undang-Undang Pokok Agraria disingkat UUPA), berdasarkan Pasal 2 ayat (1) UUPA menyatakan, bahwa atas dasar ketentuan dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam Pasal 1 UUPA : bumi, air dan ruang angkasa termasuk kekayaan yang terkandung di dalamnya, pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat.

1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan

BAB II ISI
2.1 landasan teori
Bunyi Pasal 35 UUPA adalah: (1) Hak Guna Bangunan, adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan di atas tanah yang bukan miliknya sendiri, dengan jangka waktu paling lama 30 tahun. (2) Atas permintaan pemegang hak dengan mengingat keperluan serta keadaan bangunan bangunannya, jangka waktu tersebut dalam ayat (1) dapat diperpanjang dengan waktu paling lama 20 tahun.

(3) Hak Guna Bangunan dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain.

2.2 kasus
Sebuah kampus terancam dibongkar. Padahal kampus milik PT Bina Nusantara (Binus) yang mendirikan Universitas Bina Nusantara yang populer itu berdaya tampung 20-an ribu mahasiswa plus 1.000 karyawan.

Kampus Anggrek, begitu julukan kampus terletak di Jalan Anggrek, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, itu berdasarkan ketetapan Mahkamah Agung (MA) harus diserahkan kepada Gloria Soepandi, ahli waris Imam Soepandi yang merasa sebagai pemilik sah tanah tersebut. Pihak Gloria pun kini sudah mengantongi surat dari Pengadilan Jakarta Barat untuk segera mengeksekusi kampus itu. Menurut kuasa hukum Gloria Soepandi, Elza Syarief, kasus ini bermula dari jual-beli tanah yang melibatkan Imam Soepandi, suami Gloria, dengan Udjat Natakusumah 1970. Status tanah seluas 4,7 hektare di Jakarta Barat itu adalah hak guna bangunan (HGB), berlaku mulai 18 September 1966 hingga 23 September 1980. Lantas oleh Imam Soepandi di tanah itu dibangun kantor PT ISA Kontraktor, pada 1973. Salah satu hasil karya perusahaan ini adalah patung Gelora yang berada di depan bundaran Ratu Plaza, Jakarta. Tiga tahun berselang setelah pembangunan gedung itu, muncullah Houw Kang Seng alias Echsan Husni. Kehadiran Echsan inilah yang kemudian melahirkan sengketa. Pengusaha ini juga mengklaim memiliki sertifikat HGB atas tanah yang sudah dikuasai Imam. Masa berlaku HGB tersebut juga sama persis, berakhir pada 23 September 1980. Echsan lalu menggugat Imam ke Pengadilan Jakarta Barat. Sampai keluarnya putusan kasasi MA pada tahun 1989, Imam tetap dianggap sah sebagai pengelola tanah dimaksud. Sertifikat Echsan itu jelas bodong.

2.3 analisis

BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan 3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.majalahtrust.com/hukum/hukum/493.php 2. AP, Parlindungan, 1990, Konversi Hak-Hak Atas Tanah, Mandar Maju, Bandung. 3. ________, 2003, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang- Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jilid I, Hukum Tanah Nasional, Djambatan, Jakarta. 4. Suwito, Tesis,2007, Kajian Hukum Perpanjangan Hak Guna Bangunan yang dibebani Hak Tanggungan DI, Semarang.