Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PERITONITIS DI BANGSAL CENDANA 2 RSUP DR SARDJITO YOGYAKARTA

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktek profesi Ners Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah

DISUSUN OLEH : YASINTA NUR ROHMAH 09/281928/KU/13175

PROFESI STASE KMB PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2014

PERITONITIS

A. Pengertian Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membran mukosa serosa ronga abdomen dan meliputi viresela. Biasanya akibat dari infeksi bakteri. Organisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal atau pada wanita dari organ reproduktif internal. Klasifikasi: 1. Peritonitis primer Terjadi umumnya pada anak-anak dengan syndrome nefritis atau sirosis hati lebih banyak terdapat pada anak-anak perempuan daripada laki-laki. Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi di rongga peritoneum melalui aliran darah atau pada pasien perempuan melalui saluran genital. 2. Peritonitis sekunder Peritonitis terjadi apabila kuman masuk ke rongga peritoneum dalam jumlah yang cukup banyak. Biasanya ddari lumen saluran cerna. Peritonium sekunder ini bisa juga karena masuknya bakteri melalui saluran getah bening diagfragma. Tetapi apabila banyak kuman masuk secara terus-menerus akan terjadi peritonitis. Apabila ada rangsangan kimiawi karena masuknya asam lambun, makanan, tinja, Hb, dan jaringan nekrotik atau bila imunitas menurun biasanya terdapat campuran jenis kuman yang menyebabkan peritonitis. Seringnya adalah kuman-kuman aerob dan an aerob. Peritonitis juga sering terjadi apabila ada sumber intra peritoneal seperti appendiksitis, diverticulitis, salpingitis, kolesitits, pangkreatitis, dan lain sebagainya. Trauma bisa menyebabkan perforasi dan akhirnya menyebabkan peritonitis. Penyebab perforasi/ yang menyebabkan rupture pada saluran cerna adalah perforasi setelah endoskopi, katerisasi. Selain itu peritonitis bisa terjadi setelah perforasi spontan pada tukak peptic atau pengganasan saluran cerna, tertelannya benda asing yang tajam. 3. Peritonitis karena pemasangan benda asing ke dalam rongga peritoneum. Yang menimbulkan peritonitis adalah: a. Kateter ventrikulo peritoneal yang dipasang pada pengobatan hidrosefalus b. Kateter peritoneal jugular untuk mengurangi asites c. Continous ambulatory peritoneal dialysis.

B. Etiologi 1. Infeksi bakteri Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal Apendisitis yang meradang dan perforasi Tukak peptik (lambung/ duodenum) Tukak thypoid Tukak disentri amuba/ colitis Tukak pada tumor Salpingitis Divertikulis

Kuman yang paling hemolitik, stapilokokus aureus, dan yang sering adalah bakteri colli, streptokokus enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. 2. Secara langsung dari luar Operasi yang tidak steril Terkontaminasi talcum venetum, lycopodium, sulfonamide, terjadi peritonitis yang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing, disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. Trauma pada kecelakaan seperti rupture limpa, rupture hati. Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. 3. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernafasan bagian atas, otitis media, mastoiditis, glomerulonepritis. Penyebab utama adalah streptokokus atau pneumokokus. 4. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (lokal infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung pada penyakit yang mendasarinya. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. SBP terjadi bukan karena infeksi intra abdomen, tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium, kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan penyebab penyakit hati yang kronik. Semakin rendah kadar protein cairan asites, semakin tinggi resiko terjadinya peritonitis dan abses. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul. Komponen asites pathogen yang sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. coli 40%, klebsiela

pneumonia 7%, spesies pseudomonas, proteus, dan gram lainnya 20% dan gram positif yaitu streptokokus pneumonia 15%, jenis streptokokus lain 15% dan golongan staphylokokus 3%. Selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri.

C. Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah.Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat

terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis. Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan kuman S. Typhi yang masuk tubuh manusia melalui mulut dari makan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung, sebagian lagi masuk keusus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque peyeri di ileum terminalis yang mengalami hipertropi ditempat ini komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi, perforasi ileum pada tifus biasanya terjadi pada penderita yang demam selama kurang lebih 2 minggu yang disertai nyeri kepala, batuk dan malaise yang disusul oleh nyeri perut, nyeri tekan, defans muskuler, dan keadaan umum yang merosot karena toksemia. Perforasi tukak peptik khas ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di epigastrium dan meluas keseluruh peritonium akibat peritonitis generalisata. Perforasi lambung dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut. Penderita yang mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam di perut. Nyeri ini timbul mendadak terutama dirasakan di daerah epigastrium karena rangsangan peritonium oleh asam lambung, empedu dan atau enzim pankreas. Kemudian menyebar keseluruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut pada awal perforasi, belum ada infeksi bakteria, kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia, adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsangan peritoneum berupa mengenceran zat asam garam yang merangsang, ini akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bakteria. Pada apendisitis biasanya biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasi folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis dan neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami

bendungan,makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen dan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan oedem, diapedesis bakteri, ulserasi mukosa, dan obstruksi vena sehingga udem bertambah kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan nekrosis atau ganggren dinding apendiks sehingga menimbulkan perforasi dan akhirnya mengakibatkan peritonitis baik lokal maupun general. Pada trauma abdomen baik trauma tembus abdomen dan trauma tumpul abdomen dapat mengakibatkan peritonitis sampai dengan sepsis bila mengenai organ yang berongga intra peritonial. Rangsangan peritonial yang timbul sesuai dengan isi dari organ berongga tersebut, mulai dari gaster yang bersifat kimia sampai dengan kolon yang berisi feses. Rangsangan kimia onsetnya paling cepat dan feses paling lambat. Bila perforasi terjadi dibagian atas, misalnya didaerah lambung maka akan terjadi perangsangan segera sesudah trauma dan akan terjadi gejala peritonitis hebat sedangkan bila bagian bawah seperti kolon, mula-mula tidak terjadi gejala karena mikroorganisme membutuhkan waktu untuk berkembang biak baru setelah 24 jam timbul gejala akut abdomen karena perangsangan peritoneum.

D. Pathway Invasi kuman kelapisan peritoneum oleh berbagai kelainan pada sistem gastrointestinal dan penyebaran infeksi dari organ di dalam abdomen atau perforasi organ pasca trauma abdomen. Respon peradangan pada peritoneum dan organ di dalamnya.

Peritonitis

Penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen. Pembentukan eksudat fibrinosa atau abses pada peritoneum

Respon sistemik Peningkatan suhu tubuh


Hipetermia

Invasi bedah laparotomi

Respon lokal saraf terhadap inflamasi

Pre operatif
Resiko psikologis misinerpretasi perawatan dan penatalaksanaan pengobatan

Pasca operatif
Port de entre pasca bedah

Distensi abdomen Nyeri Kerusakan jaringan pasca bedah Syok sepsis Respon kardiovaskuler Curah jantung menurun

Resiko infeksi
Penurunan kemampuan batuk efektif Ketidakefektifan bersihan jalan nafas

Kecemasan pemenuhan informasi Defisiensi pengetahuan Ansietas

Perubahan tingkat kesadaran

Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak

Suplai darah ke otak menurun Gangguan gastrointestinal

Intake nutrisi tidak adekuat dan kehilangan cairan dan elektrolit Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan. Resiko ketidakseimbangan elektrolit

Mual, muntah, kembung anoreksia

E. Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang lazim muncul pada penderita peritonitis adalah: Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, tatikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Manifestasi klinis: Syok (neurogenik, hipovolemik, atau septic) terjadi beberapa penderita peritonitis umum Demam Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus, atrofi umum, tergantung pada perluasan iritasi peritonitis Nausea Vomiting

F. Komplikasi Komplikasi dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut, yaitu: a. Komplikasi dini Septikemia dan syok septic Syok hipovolemik Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multi system Abses residual intraperitoneal Portal Pyemia (misal abses hepar)

b. Komplikasi lanjut Adhesi Obstruksi intestinal rekuren

G. Pemeriksaan khusus dan penunjang Diagnosis dari peritonitis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran klinis, pemeriksaan laboratorium dan X-Ray a. Gambaran klinis Gambaran klinisnya tergantung pada luas peritonitis, berat peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. Peritonitis dapat lokal, menyebar, atau umum. Gambaran klinis yang biasa terjadi pada peritonitis bakterial primer yaitu adanya nyeri abdomen, demam, nyeri lepas tekan dan bising usus yang menurun atau menghilang. Sedangkan gambaran klinis pada peritonitis bakterial sekunder yaitu adanya nyeri abdominal yang akut. Nyeri ini tiba-tiba, hebat, dan pada penderita perforasi (misal perforasi ulkus), nyerinya menjadi menyebar keseluruh bagian abdomen. Pada keadaan lain (misal apendisitis), nyerinya mula-mula dikarenakan penyebab utamanya, dan kemudian menyebar secara gradual dari fokus infeksi. Selain nyeri, pasien biasanya menunjukkan gejala dan tanda lain yaitu nausea, vomitus, syok (hipovolemik, septik, dan neurogenik), demam, distensi abdominal, nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus atau umum, dan secara klasik bising usus melemah atau menghilang. Gambaran klinis untuk peritonitis non bakterial akut sama dengan peritonitis bakterial. Peritonitis bakterial kronik (tuberculous) memberikan gambaran klinis adanya keringat malam, kelemahan, penurunan berat badan, dan distensi abdominal; sedang peritonitis granulomatosa menunjukkan gambaran klinis nyeri abdomen yang hebat, demam dan adanya tanda-tanda peritonitis lain yang muncul 2 minggu pasca bedah. 5 b. Pemeriksaan laboratorium Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis, hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik. Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit; basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. c. Pemeriksaan X-Ray Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis; usus halus dan usus besar berdilatasi. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi.

Gambaran Radiologis Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi, yaitu : (rasad) 1. Tiduran telentang ( supine ), sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior ( AP ). 2. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan, dengan sinar horizontal proyeksi AP. 3. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD), dengan sinar horizontal, proyeksi AP. Gambaran radiologis pada peritonitis secara umum yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen,preperitonial fat dan psoas line menghilang, dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal.

H. Terapi Prinsip umum terapi: Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena, pemberian antibiotika yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal, pembuangan fokus septik (apendiks, dsb) atau penyebab radang lainnya, bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Resusitasi cairan Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen, nutrisi, dan mekanisme pertahanan. Keluaran urine tekanan vena sentral, dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Terapi antibiotika Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik, dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan, karena bakteremia akan berkembang selama operasi.

Laparotomi Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Jika peritonitis terlokalisasi, insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Pada umumnya, kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup, mengeksklusi, atau mereseksi viskus yang perforasi.

Lavase peritoneum Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus, yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Bila peritonitisnya terlokalisasi, sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum, karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain.

Tidak dianjurkan melakukan rrainase (pengaliran) Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan, karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum, dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terus-menerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi

I. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada penderita peritonitis antara lain: 1. Resiko infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan primer, prosedur infasif 2. Nyeri akut b.d luka post op 3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, intake nutrisi kurang 4. Hipertermia 5. Insomnia b.d nyeri dan faktor lingkungan 6. Resiko jatuh 7. Defisiensi pengetahuan

J. Perencanaan keperawatan Dx.Kep NOC NIC

Resiko infeksi b.d NOC Infection Control (Kontrol - Risk control Infeksi) tidak adekuatnya - Knowledge : Infection control - Mempertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan pertahanan primer, Kriteria Hasil: setelah dilakukan perawatan pada klien dalam 3x24 jam alat (IV catheter) dan GV prosedur infasif - Klien bebas dari tanda dan gejala - Monitor tanda dan gejala infeksi infeksi sistemik dan lokal - Menunjukkan kemampuan untuk - Kolaborasi antibiotik mencegah timbulnya infeksi - Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi, cara menghindari infeksi, dan cuci tangan. Nyeri akut b.d luka NOC : Pain Management: - Melakukan pengkajian nyeri - Pain Level, post op secara komprehensif - Pain control - Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan Kriteria Hasil : setelah dilaukan - Ajarkan tentang teknik non perawatan pada klien selama 3x24 farmakologi (relaksasi dengan jam: nafas dalam) - Mampu mengontrol nyeri (tahu - Evaluasi keefektifan kontrol penyebab nyeri, mampu nyeri menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari Anelgesic Administration: bantuan) - Kolaborasi analgesik. - Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri - Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) Ketidakseimbangan Nutrition status: nutrient intake Nutrition Management nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, intake nutrisi kurang Kriteria hasil: setelah dilakukan - Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan dibutuhkan informasi tentang nutrisi yang

perawatan pada klien dalam 3x24 jam, klien:

- Mampu mengidentifikasi kebutuhan - Berikan nutrisi - Tidak ada tanda-tanda malnutrisi - Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dan menelan

kebutuhan nutrisi - Ajarkan membuat harian - Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi pasien catatan bagaimana makanan

- Kolaborasikan dengan ahli gizi untuk kalori menentukan dan nutrisi jumlah yang

dibutuhkan pasien Hipertermia NOC: Thermoregulation Kriteria hasil: setelah dilakukan Fever Treatment: - Lakukan tepid sponge - Kompres pasien pada lipat paha dan aksila - Selimuti pasien - Tingkatkan intake cairan - Kolaborasi piretik pemberian anti

perawatan pada klien selama 3x24 jam: Suhu tubuh dalam rentang nomal Nadi normal dan RR dalam rentang

Tidak ada perubahan warna kulit Vital sign monitoring dan tidak ada pusing - Monitor TD, nadi, suhu, dan RR - Monitor suhu, warna, dan

kelembapan kulit Insomnia b.d nyeri dan faktor lingkungan NOC: Sleep: Extent and Pattern Kriteria hasil: setelah dilakukan perawatan pada klien dalam 3x24 jam: - Jumlah jam tidur dalam batas normal: 6-8 jam/hari. - Pola tidur, kualitas dalam batas normal. NOC: - Risk control - Knowledge: fall prevention Kriteria Hasil: Setelah dilakukan perawatan pada pasien selama 3x24 jam - Perilaku pencegahan jatuh: tindakan individu atau pemberi asuhan untuk meminimalkan faktor resiko yang dapat memicu jatuh di lingkungan individu - Kejadian jatuh: tidak ada kejadian jatuh Sleep Enhancement: - Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat. - Ciptakan lingkungan yang nyaman. - Diskusikan dengan pasien dan keluarga tentang teknik tidur pasien. - Instruksikan untuk memonitor tidur pasien. Fall Prevention - Mengidentifikasi perilaku dan faktor yang mempengaruhi risiko jatuh. - Memantau kemampuan untuk mentransfer dari tempat tidur ke kursi dan demikian juga sebaliknya - Gunakan teknik yang tepat untuk mentransfer pasien ked an dari kursi roda, tempat tidur, toilet, dan sebagainya. - Mendidik anggota keluarga tentang faktor resiko yang

Resiko jatuh

Defisiensi pengetahuan

NOC Knowledge: kolostomi care Kriteria hasil: setelah dilakukan

berkontribusi terhadap jatuh dan bagaimana mereka dapat menurunkan resiko tersebut. - Tanda-tanda posting untuk mengingatkan staf bahwa pasien yang beresiko tinggi untuk jatuh. Teaching: Kolostomi care - Jelaskan kolostomi - Jelaskan kapan harus merawat dan membersihkan kolostomi - Jelaskan kolostomi cara perawatan karakteristik

perawatan pada pasien selama 3x2 jam - Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman perawatan kolostomi - Pasien dan keluarga kembali apa mampu yang

menjelaskan dijelaskan.

Daftar Pustaka Herdman, Heather. Nanda International Nursing Diagnoses: Definition Classification 20122014. United State of America: Sheridan Books, Inc. McCloskey, Joanne et al. 2008. Nursing Intervention Classification (NIC). United State of America: Mosby Moorhead, Sue et al. 2008. Nursing Outcome Clasification (NOC). United State of America: Mosby Seputar Kedokteran. 2013. Penanganan Peritonitis. Diakses dari

http://medlinux.blogspot.com/2009/03/penanganan-peritonitis.html pada tanggal 7 Maret 2014 Smeltzer, Suzanna. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner&Suddart edisi 8

Anda mungkin juga menyukai