Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS NICU

BBLR + Asfiksia Sedang + Hipotermi

Oleh : Iwan Hardiyanta H1A 007 031

Pembimbing : dr. Hj. Artsini Manfaati, Sp.A

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA DI BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM RSU PROVINSI NTB 2014

LAPORAN KASUS

Tanggal Masuk RSUP NTB No. RM Diagnosis Masuk Tanggal Pemeriksaan

: Minggu 22 Desember 2013 (pukul 01.30 WITA) : 52.93.41 : BBLR + asfiksia sedang + hipotermi : Selasa, 24 Desember 2013

I. IDENTITAS
Identitas Pasien Nama Lengkap Jenis Kelamin Tanggal lahir Umur Status Alamat Identitas Keluarga Identitas Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Ibu Ny. Maemanah 26 tahun SMP IRT Ayah Tn. Jumadil 24 tahun SD Buruh bangunan : By. Ny. Maemanah 1 : Pria : Minggu 22 Desember 2013 (pukul 19.30 WITA) : 2 hari : Anak kandung : Selat Barat, Desa Selat, Narmada, Lombok Barat

II. HETEROANAMNESIS (diperoleh informasi dari ibu pasien)


Keluhan Utama : Bayi kurang bulan, berat badan lahir rendah dengan asfiksia sedang dan suhu tubuh dingin.

Riwayat Penyakit Sekarang : Bayi rujukan bidan desa dengan keadaan bayi prematur dan BBLR. Bayi masuk NICU RSUP NTB dengan keadaan umum lemah, merintih (+),tonus otot lemah, sesak napas (-), kebiruan (-), demam (-), BAB (+), BAK (+).

Riwayat Kehamilan Ibu Kehamilan ibu merupakan kehamilan yang kedua. Kehamilan pertama ibu tidak mengalami keguguran dan usia anak pertama saat ini 3,5 tahun. Pada kehamilan kedua ini, ibu pasien rutin memeriksakan kehamilannya setiap bulan di Poskesdes dan Posyandu Selat Barat Narmada. Total kunjungan sebanyak 6 kali. Hari pertama haid terakhir ibu tanggal 23 Mei 2013 sehingga taksiran persalinannya tanggal 02 Maret 2014. Kehamilan ibu saat ini merupakan kehamilan kedua dengan keadaan kembar (gemeli). Riwayat hipertensi, asma, kencing manis dan trauma disangkal. Selama hamil, berat badan ibu tidak bertambah banyak karena pada dua bulan pertama kehamilannya ibu sering muntah dan nafsu makannya menurun. Ibu pernah menderita anemia berat yang mengharuskan ia masuk rumah sakit untuk perawatan selama hamil. Riwayat konsumsi obat-obatan / jamu-jamuan selama hamil disangkal.

Riwayat Persalinan Bayi lahir spontan di rumah tanpa bantuan siapapun dengan berat bayi ketika lahir 1200 gram, panjang badan 34 cm, lingkar kepala 26 cm, lingkar lengan atas 9 cm, anus (+), Apgar score 4-6, tangis bayi merintih, tidak tampak sianosis (-) dan hipotermi (+). Dari ballarad score di dapatkan nilai 15, sehingga perkiraan usia kehamilan bayi 30 minggu.

Riwayat Imunisasi (Vaksinasi) : Bayi belum mendapatkan imunisasi dasar.

III.

PEMERIKSAAN FISIK (Selasa/ 24 Desember 2013)

Status Generalis Keadaan umum Keasadaran Aktivitas : lemah : letargi : menurun

Tanda Vital HR RR Suhu SpO2 GDS Stick CRT : 130 x/menit : 50 x/menit : 35,8 oC : 88% (terpasang O2 1 lpm nasal kanul) : 95 mg% : < 3 detik

Penilaian Pertumbuhan Berat badan sekarang Panjang badan Lingkar kepala : 1020 gram : 34 cm : 26 cm

Pemeriksaan Fisik Umum 1. Kepala Bentuk kepala bulat lonjong, simetris, caput (-), simetris, ubun-ubun besar terpisah, teraba datar, sutura normal, molding (-), cephal hematom (-) 2. Wajah : warna kulit kemerahan, ikterik (-) Mata Telinga : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks pupil (+/+) isokor : bentuk dalam batas normal, bagian pinna memutar, lunak dapat

dilipat dengan mudah dan rekoil lambat Hidung : bentuk dalam batas normal, deformitas (-), napas cuping hidung (-/-), rhinorrhea (-/-) Mulut : sianosis sentral (-), mukosa bibir basah (+), refleks menghisap (-)

3. Leher : Kaku kuduk : (-) Pembesaran KGB : (-)

4. Thoraks Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris, retraksi dinding dada (+), nafas teratur (+), areola berbintik, pinggiran tidak terangkat. Pulsasi ictus cordis tidak tampak. Palpasi Perkusi Auskultasi o Cor : pengembangan dinding dada simetris, thrill (-) : tidak dievaluasi :

o Pulmo : bronkovesikular +/+, rale -/-, rhonki -/-, stridor -/: S1S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-)

5. Abdomen Inspeksi : distensi (-), jejas (-), umbilikus berwarna putih, licin, tampak segar, peradangan (-), perdarahan (-), hernia umbilikalis (-) Auskultasi : bising usus (+) normal Palpasi Perkusi : massa (-), turgor kulit normal, hepar-lien-ren tidak teraba : timpani (+) di seluruh lapang abdomen

6. Genitalia

: dalam batas normal.

7. Anus dan rektum : Anus (+)

8. Ekstremitas Ekstremitas Atas Pemeriksaan Dextra Akral dingin Edema Pucat Sianosis Ikterik + + Sinistra + + Dextra + + Sinistra + + Ekstremitas Bawah

9. Tulang Belakang : dalam batas normal

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hasil Pemeriksaan Darah Lengkap (24/12/2013) Parameter HGB HCT WBC MCV MCH MCHC PLT Hasil 15,8 46,9 8,82 116,7 + 39,3 + 33,7 104 Nilai Normal 11,5-16,5 g/Dl 37-45 [%] 4,0 11,0 [10^3/ L] 82,0 92,0 [fL] 27,0-31,0 [pg] 32,0-37,0 [g/dL] 150-400 [10^3/ L]

V.

RESUME
Pasien pria usia 3 hari lahir prematur dengan berat badan lahir sangat rendah. Lahir dengan Apgar score 4-6 dan berat badan 1200 gram lahir spontan di rumah tanpa bantuan. Usia kehamilan berdasarkan HPHT 30 minggu. Ibu pasien memiliki riwayat anemia berat yang membuat ibu dirawat di puskesmas. Selain itu ibu juga mengalami perdarahan per vaginam sebelum persalinan. Pasien merupakan anak kedua dari kehamilan kedua sekaligus anak pertama lahir gemeli. Riwayat abortus (-). Pemeriksaan fisik : Suhu: 35,8 oC, HR : 130 x/menit, Respirasi : 50 x/menit, SpO2 : 88% (terpasang O2 1 lpm nasal kanul), K/L : konjungtiva anemis (-), sclera ikterik (-), nafas cuping hidung (-), Thoraks : retraksi (-), Abdomen : distensi (-), Ekstremitas : akral dingin (+), deformitas (-). Hasil pemeriksaan Darah Lengkap : Hemoglobin : 15,8 gr/dL, Hematokrit : 46,9%, Leukosit : 8,82 /mm3, Trombosit : 104.000/mm.

VI.
-

DIAGNOSIS
BKB (SMK) BBLR Asfiksia Sedang Hipotermi

VII.

RENCANA TERAPI
O2 1 lpm Pemasangan OGT Sonde 8 x 2 cc IVFD D10% B-Nutrion Inj Gentamicin Inj Ampicilin 6 tts/menit (mikro) 1 tts/menit (mikro) 1 x 5 mg (IV) 2 x 50 mg (IV)

Rawat di inkubator

VIII. FOLLOW UP
Hari/ tgl Senin 23/12/2013 07.00 S Usia 2 hari Tangis lemah Gerakan lemah Tonus otot menurun Sesak (-) Kejang (-) Demam (-) Residu cairan warna bening per OGT 1 cc O KU : lemah Kesadaran : waspada RR: 65 x/mnt HR: 130 x/mnt T : 35,9 oC SpO2: 92% (dengan O2) GDS : 163 mg% Kulit kemerahan Retraksi (-) subcostal. Sianosis (-) BB: 1080 g A BKB (SMK) BBLR Asfiksia sedang Hipotermi P O2 1 ltr/mnt Inf D10% 6 tpm B-Nutrion 2 tpm Inj Ampicillin 2 x 50 mg (IV) Inj Gentamisin 1 x 5 mg (IV) Sonde ASI 8 x 2 cc

Selasa 24/12/2013

07.00

Usia 3 hari Tangis kurang Gerakan kurang aktif Tonus otot kurang Sesak (-) Kejang (-) Demam (-) Kuning (+) Residu cairan warna bening per OGT 1 cc

KU : sedang Kesadaran : waspada RR: 50 x/mnt HR: 130 x/mnt T : 35,3oC SpO2: 88% (dengan O2) GDS : 95 mg% Kulit kekuningan Sklera ikterik (-) Retraksi (-) subcostal. Sianosis (-) BB: 1020 g

BKB (SMK) BBLR Hipotermi

O2 1 ltr/mnt Inf D10% 5 tpm B-Nutrion 2 tpm Inj Ampicillin 2 x 50 mg (IV) Inj Gentamisin 1 x 5 mg (IV) Bolus D10% 2,5 cc Sonde ASI 8 x 2 cc

Rabu 25/12/2013

07.00

Usia 4 hari Tangis kurang Gerakan kurang aktif Tonus otot kurang Sesak (-) Kejang (-) Demam (-) Kuning (-) Residu cairan warna bening per OGT 1 cc

KU : lemah Kesadaran : letargi RR: 48 x/mnt HR: 1128 x/mnt T : 35,2oC SpO2: 86% (dengan O2 1 lpm) GDS : - mg% Kulit kekuningan (Kramer 4) Retraksi (-) subcostal. Sianosis (-) BB: 1020 g

BKB (SMK) BBLR Asfiksia sedang Hipotermi

O2 1 ltr/mnt Inf D10% 4 tpm B-Nutrion 3 tpm Inj Ampicillin 2 x 50 mg (IV) Inj Gentamisin 1 x 5 mg (IV) Sonde ASI 8 x 2 cc

ANALISA KASUS BBLR


Berdasarkan kasus di atas, BB lahir pasien adalah 1200 gram. Berat badan pasien tersebut termasuk dalam kriteria Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). BBLR adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Masa gestasi atau umur kehamilan adalah masa sejak terjadinya konsepsi sampai dengan saat kelahiran dihitung dari hari pertama haid terakhir. BBLR dapat digolongkan ke dalam dua kategori yaitu : (a) BBLR prematuritas murni dan (b) BBLR dismaturitas. (a) BBLR prematuritas murni adalah bayi yang masa gestasinya kurang dari 37 minggu namun berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut bayi kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan. (b) BBLR dismaturitas adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya. Hal ini disebabkan oleh terganggunya sirkulasi dan efisiensi plasenta, kurang baiknya keadaan umum ibu atau gizi ibu, atau hambatan pertumbuhan dari bayinya sendiri. Pasien dalam kasus ini masuk ke dalam kategori BBLR prematuritas Murni. Hubungan antara berat badan pasien dan masa kehamilan ini dapat dilihat melalui Kurva Lubchenco. Yang menggambarkan berat badan lahir pasien berada di antara persentil 50 sampai persentil 25 persentil sehingga digolongan sebagai bayi sesuai untuk masa kehamilan (SMK). Kemungkinan faktor resiko penyebab BBLR kasus ini antara lain: (1) faktor ibu yang memiliki riwayat anemia selama masa kehamilan dan perdarahan saat persalinan (Antepartum hemorrhage) menyebabkan anemia dan syok sehingga keadaan ibu memburuk. Keadaan ini memberikan gangguan pada placenta yang menyebabkan anemia pada janin bahkan dapat pula terjadi syok intrauterine yang menyebabkan kematian bayi intrauterine (2) faktor janin, dalam hal ini bayi prematur dan kehamilan kembar/ganda (gemeli) yang dapat menyebabkan bayi lahir sebelum waktunya, keadaan ini dapat menyebabkan bayi

mendapatkan banyak penyulit dan komplikasi akibat kurang matangnya organ karena masa gestasi yang kurang (3) faktor lingkungan eksternal, yang meliputi kondisi lingkungan, masukan makanan ibu selama hamil, jenis pekerjaan ibu, tingkat pendidikan ibu dan bapak (kepala keluarga), serta pengetahuan anggota keluarga terhadap gizi keluarga, tingkat sosial ekonomi maupun paparan terhadap radiasi dan zat-zat racun.

ASFIKSIA SEDANG Asfiksia memiliki klasifikasi yang didasarkan pada Apgar score. Derajat asfikisa ini mempengaruhi tindakan yang harus diberikan segera pada pasien. 1. Asfiksia berat, Apgar score 0-3, bayi memerlukan resusitasi segera secara aktif dan pemberian O2 terkendali. 2. Asfiksia sedang, Apgar score 4-6 memerlukan resusitasi dan pemberian O2 sampai bayi dapat bernafas normal kembali. 3. Bayi normal, Apgar score 7-10. Dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa.

10

Asfiksia pada pasien ini dapat diklasifikasikan sebagai asfiksia sedang karena Apgar score pasien adalah 4-6. Menurut WHO, asfiksia neonatorum didefinisikan sebagai kegagalan bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Asfiksia neonatorum terjadi karena adanya gangguan pertukaran gas serta transport O2 dari ibu ke janin sehingga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2. Asfiksia dapat terjadi akibat beberapa faktor yaitu :1) faktor ibu; 2) faktor placenta; 3) faktor fetrus; 4) faktor neonatus, dan 5) faktor persalinan. Pasien dalam kasus ini kemungkinan mengalami gangguan napas karena masa gestasinya hanya 30 minggu dan berat badan lahir 1200 gram. Pada pemeriksaan fisik, tidak didapatkan tanda-tanda yang mengarah ke gangguan napas seperti takipnea, napas cuping hidung, retraksi interkostal, sianosis, dan apnu karena pada saat dilakukan pemeriksaan, pasien menggunakan oksigen dengan aliran 1 liter per menit. Gejala klinis lain yang ditemukan pada bayi ini ialah tangisan pasien merintih dan tidak adekuat. Begitu lahir, bayi harus menangis. Ini merupakan reaksi pertama yang bisa dilakukan. Dengan menangis, otomatis paru-parunya berfungsi. Paru-paru akan membuka dan mengisap oksigen. Ketika bayi menangis, anggota geraknya pun ikut aktif. Tangisan bayi yang sehat bila suaranya keras, bukan merintih atau melengking. Jika suara tangisannya merintih/melengking, pertanda bayi mengalami sakit. BBLR prematuritas murni, seperti pada pasien dalam kasus ini, beresiko mengalami hiperbilirubinemia. Hal ini berkaitan dengan belum maturnya fungsi hepar, kurangnya enzym glukoronil transferase sehingga konjugasi billirubin indirek menjadi billirubin direk belum sempurna dan kadar albumin darah yang berperan dalam transportasi billirubin dari jaringan ke hepar kurang. Pasien pada kasus ini juga mendapatkan intake ASI yang kurang. Normalnya, bayi usia 6 hari harus mendapatkan ASI sampai dengan 28 cc/jam. Pasien ini hanya mendapatkan ASI 2 cc/jam karena memang pengosongan lambung yang menurun dilihat dari adanya residu. Bayi yang intake ASI-nya (minum) kurang beresiko mengalami hiperbilirubinemia. Penjelasannya adalah sebagai berikut: setelah mengalami proses konjugasi, bilirubin akan diekskresi melalui feses. Di usus halus, bilirubin yang terkonjugasi akan dikonversi kembali menjadi bentuk tidak terkonjugasi oleh enzim beta glukoronidase yang dapat diresorbsi. 11

Resorbsi kembali bilirubin dari saluran cerna dan kembali ke hati ini disebut sirkulasi enterohepatik. Jika bayi jarang minum maka motilitas usus akan menurun karena tidak ada bahan yang dicerna dan bilirubin yang diekskresikan oleh tubuh bersama feses menjadi berkurang. Hal ini memberikan kesempatan lebih besar bagi beta glukoronidase untuk mengubah bilirubin terkonjugasi menjadi tidak terkonjugasi untuk diserap kembali. Akibatnya, kadar bilirubin total di dalam darah meningkat. HIPOTERMI Gejala klinis yang tampak pada bayi ini ialah hipotermi. Bayi hipotermi adalah bayi dengan suhu badan dibawah normal. Adapun suhu normal bayi adalah 36,5 - 37,5 C. Pada pasien ini didapatkan suhu tubuh 35,8C yang mengindikasikan pasien mengalami hipotermi. Beberapa keadaaan yang menyebabkan pasien dapat mengalami hipotermia yaitu: 1. Ketidaksanggupan menahan panas, seperti pada permukaan tubuh yang relatif luas, kurang lemak, ketidaksanggupan mengurangi permukaan tubuh, yaitu dengan memfleksikan tubuh dan tonus otot yang lemah yang mengakibatkan hilangnya panas yang lebih besar pada BBLR. 2. Pusat pengaturan suhu di hypothalamus belum berkembang, walaupun sudah aktif. Kelenjar keringat belum berfungsi normal, mudah kehilangan panas tubuh (perbandingan luas permukaan dan berat badan lebih besar, tipisnya lemak subkutan, kulit lebih permeable terhadap air), sehingga neonatus sulit mengatur suhu tubuh dan sangat terpengaruh oleh suhu lingkungan 3. Kurangnya metabolisme untuk menghasilkan panas, seperti defisiensi brown

fat disebabkan bayi preterm atau kecil masa kelahiran. Pada bayi baru lahir, akan memiliki mekanisme pengaturan suhu tubuh yang belum efisien dan masih lemah, sehingga penting untuk mempertahankan suhu tubuh agar tidak terjadi hipotermi. Proses kehilangan panas pada bayi dapat melalui proses konveksi, evaporasi, radiasi dan konduksi.

12

TROMBOSITOPENIA Trombositopenia merupakan temuan yang sering dijumpai pada neonatus yang sakit. Lagi pula, trombositopenia berkaitan dengan peningkatan atau penurunan destruksi trombosit. Pada neonatus, lebih sering dijumpai peningkatan destruksi trombosit. Berdasarkan patofisiologinya, trombositopenia pada neonatus dibagi menjadi imun dan non imun. Trombositopenia non imun sering dijumpai pada bayi yang terlihat sehat sedangkan trombositopenia imun lebih sering dijumpai pada bayi yang terlihat sakit. Penyebab non imun trombositopenia pada neonatus yang sakit meliputi : DIC, infeksi virus kongenital, asfiksia, gawat pernapasan, enterokolitis nekrotikans, dan

hiperbilirubinemia yang diobati dengan fototerapi. Penyebab imun trombositopenia dapat dibagi menjadi proses autoimun dan aloimun. Bayi dengan trombositopenia aloimun , analog dengan penyakit bayi baru lahir. Antibodi maternal secara langsung melawan antigen paternal yang ditemukan pada trombosit pasien yang melewati plasenta. Pada neonatus, trombositopenia akan terus menetap selama masih terdapat antibodi maternal yang ditemukan di dalam sirkulasi pasien, biasanya selama 21 hari atau kurang. Dalam usia 48 jam pertama, bayi ini dapat mengalami ptekie, ekimosis, dan perdarahan membran mukosa bergantung pada jumlah trombosit. Diagnosis pasti dipastikan dengan mengisolasi aloantibodi di dalam serum ibu tetapi hasilnya sering negatif. Pada trombositopenia tipe autoimun, trombositopenia terjadi sekunder akibat gangguan autoimun ibu. Penyakit maternal seperti ITP, SLE, gangguan

limfoproliferatif, dan hipertiroidisme dapat menyebabkan trombositopenia autoimun neonatus. Pada keadaan ini, ditemukan antibodi pada trombosit ibu dan pasien. Bayi tampak sehat dan dapat mengalami ptekie pada usia 2 hari pertama. Diagnosis dibuat dengan adanya gambaran klinis pada bayi dan ibu. Pasien pada kasus ini tampaknya mengalami trombositopenia non imun karena keadaan umumnya yang tampak sakit. Keadaan asfiksia (seperti pada pasien di dalam kasus ini), dapat menyebabkan ketidak-seimbangan asam basa yang memicu pelepasan endotoksin dan kerusakan endotel. Hal ini akan menyebabkan konsumsi trombosit dan faktor koagulan meningkat.

13

SEPSIS NEONATORUM

Sepsis neonatorum adalah infeksi aliran darah yang bersifat invasif dan ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh sepreti darah, cairan sumsum tulang, atau air kemih. Keadaan ini sering terjadi pada bayi beresiko misalnya BKB, BBLR, bayi dengan sindrom gangguan napas atau bayi yang lahir dari ibu beresiko. Berdasarkan umur dan onset / waktu timbulnya gejala-gejala, sepsis neonatorum dibagi menjadi dua: 1) sepsis awitan awal (Early onset); 2) sepsis awitan lanjut (Late onset). Perbedaan Onset Sepsis Awitan Awal/Dini (Early onset) Biasanya mulai dari hari pertama kehidupan (umur di bawah 3 hari) Infeksi transmisi vertikal karena penyakit ibu atau infeki yang diderita ibu selama persalinan/kelahiran. - Streptokokus grup B dan - bakteri enterik yang didapat dari saluran kelamin ibu Sepsis Awitan Lanjut (Late onset) Biasanya setelah hari ke-3 kelahiran

Penyebab infeksi

Infeksi transmisi horizontal; yang berasal dari lingkungan sekitar bayi (seperti infeksi kuman nosokomial) SGB, virus herpes simplek (HSV), enterovirus dan E.coli. Candida dan Stafilokokus koagulase-negatif (CONS)

Organisme

Bakteri gram positif : Streptokokus grup B penyebab paling sering. Stafilokokus koagulase negatif merupakan penyebab utama bakterimia nosokomial Streptokokus bukan grup B Bakteri gram negatif : Escherichia coli penyebab nomor 2 terbanyak H. influenzae. Listeria monositogenes Pseudomonas Klebsiella Enterobakter Salmonella Bakteria anaerob, Gardenerella vaginalis - Transplasenta (antepartum) - Akibat tindakan manipulasi (intubasi, Asenderen kuman vagina kateterisasi, pemasangan infus, dll). Patogenesa (partus lama, ketuban - Defek kongenital (omfalokel, meningokel, 14

pecahsebelum waktunya). Waktu melewati jalan lahir (kuman dari vagina dan rektum).

Diagnosis :

melibatkan multisistem organ (resiko tinggi terjadi pneumoni)

Faktor resiko Faktor ibu : - Persalinan dan kelahiran kurang bulan - Ketuban pecah > 18-24 jam - Chorioamnionitis - Persalinan dengan tindakan - Demam pada ibu (>38,4o C) - ISK pada ibu - Faktor sosio-ekonomi & gizi ibu Faktor bayi : - Asfiksia perinatal - BBLR - BKB - Prosedur invasif - Kelainan bawaan - muncul semenjak 6 jam kehidupan. Mayorita muncul pada 72 jam pertama umur kehidupan - Tanda awal biasanya sering tidak spesifik dan tidak diketahui - Hilangnya aktifitas spontan - Poor sucking - Apnea - Bradikardi - Suhu tubuh yang tidak stabil.

labioskizis, labiopalatoskizis, dll). Koloni kuman beasal dari saluran napas atas, konjungtiva, membran mukosa, umbilikus dan kulit yang menginvasi / menyebar secara sistemik. Diagnosa bila terdapat keadaan SIRS (Systematic Inflamatory Respiratory System) / FIRS (Fetal Inflamatory Respiratory System) biasanya melibatkan organ lokal/fokal (resiko tinggi terjadi meningitis). Sumber infeksi pada lingkungan tempat perawatan pasien: Ruang NICU/infeksi dari perawatan bayi BKB yang mengalami lama perawatan Nutrisi parenteral yang berlarut-larut Infeksi nosokomial

Klinis

Tanda-tanda yang sering biasanya : - demam, - lethargi, - Irritable, - poor feeding, dan takipnea. - Distres pernafasan yang tidak begitu jelas.

15

Tanda-tanda dan gejala lainnya Distres pernafasan. Kebanyakan neonatus dengan early onset infeksi menunjukkan gejala distres pernafasan yang sulit dibedakan dengan bentuk HMD, pneumonia, atau penyebab lain dari kesulitan bernafas,dengan penampilan : seperti sianosis, dispneu, takipneu, apnea, retraksi epigastrium, dan intercostal. Terjadinya gejala distres pernafasan adalah > 80 dari neonatus. Pneumonia dan septikemi merupakan bentuk manifestasi yang banyak. Gangguan kardiovaskuler: - Bradikardi, - pallor, - penurunan perfusi, - hipotensi. Gangguan metabolik : Hipotermia, hipertermia, asidosis metabolik (ph <7,25) Gangguan neurologik : Lethargi,hipotonia,penurunan aktifitas,seizures, Laboratorium Pemeriksaan laboratorium pada bayi-bayi sepsis sebagai berikut: a) Skrining sepsis yang rutin. -Hitung jenis darah lengkap. -Kultur darah. -Apusan bahan dari bagian yang mengalami infalamasi. -Apusan dari telinga dan tenggorokan (pada early -onset infeksi). -Urine secara mikroskopis dan kultur. -Rontgen thoraks. -C-reaktif protein. b) Tes rutin tambahan,dari indikasi klinis yang didapatkan. 16

-Lumbal pungsi, -Kultur dan gram dari aspirasi lambung. -Kultur dan gram dari apusan vagina yang lebih tinggi dari ibu. -Kultur dari endotrakeal tube atau aspirasi dari trakeal. -Kultur dari drainase dada. -Kultur dari kateter vaskular. -Kultur darah kwantitatif atau kultur darah multipel. -IgG konsentrasi serial untuk spesifik organisme. -IgM konsentrasi untuk organisme spesifik. -Buffy coat secara mikroskopik. Komponen dari skrining sepsis adalah: 1.C-Reaktive Protein >10 mg/L. 2.Total Leucocyte Count (TLC) <5.000,>15.000. 3.Absolute Neutrophil Count (ANC) <> 4.Immature Total Ratio (ITR) >20 5.Micro-ESR (mESR) > umur dalam hari + 3 mm. mortalitas tinggi (15-45%). mortalitas rendah ( 10-20%).

Mortalitas

Dengan melihat gejala, tanda, dan hasil pemeriksaan penunjang pasien selama dilakukan follow up sebelum akhirnya meninggal pada kamis (pukul 03.00 dini hari), pasien ini cenderung mengarah ke sepsis neonatorum. Alasan yang mendukung diagnosis tersebut adalah, 1. Terdapat faktor resiko berupa berat lahir rendah, bayi kurang bulan, dan asfiksia perinatal. 2. Gambaran klinis berupa letargi, refleks hisap buruk, menangis lemah, ikterik, retraksi dinding dada, waktu pengosongan lambung yang memanjang. 3. Pemeriksaan penunjang berupa trombositopenia. Pasien mulai menunjukkan gejala dan tanda sepsis pada hari ke-3 yang berarti bahwa pasien dikelompokkan ke dalam sepsis neonatorum awitan dini. Seperti yang diungkapkan di atas, salah satu faktor resiko pasien ini adalah lahir kurang bulan dan berat badan lahir rendah. Bayi yang lahir kurang bulan dan berat badan lahir rendah beresiko mengalami infeksi karena tidak banyak transfer IgG maternal melalui plasenta selama trimester ketiga, fagositosis terganggu, dan penurunan faktor komplemen.

17

Faktor lainnya adalah bayi dirawat di ruang perawatan intensif (NICU) sehingga rentan mengalami infeksi nosokomial yang berasal dari alat perawatan bayi, infeksi silang dari bayi lain atau dari tenaga medik yang merawat bayi, dan nutrisi parenteral yang berlarut-larut.

18

DAFTAR PUSTAKA
Benson RC, Pernoll ML, 2009. Buku Saku Obsteteri dan Ginekologi. Jakarta: EGC. Kosim, M. Sholeh, dkk. 2008. Buku Ajar Neonatologi. Ed.I. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Poesponegoro, Hardiono, dr. Sp.A(K). 2005. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta. Schwartz WM, 2002. Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta: EGC Sherwood L, 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC. Susanto R. 2007. Hipoglikemia Pada Bayi dan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Universitas Diponegoro - Rumah Sakit Dr. Kariadi. Semarang.

19