Anda di halaman 1dari 6

Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil) Vol.

2
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007 ISSN : 1858 - 2559


MENGEMBANGKAN MODEL PSIKOTERAPI TRANSPERSONAL

Hendro Prabowo
Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma, J akarta
ndrahu@yahoo.com

ABSTRAK
Menurut Davis (2005) psikoterapi transpersonal adalah betul-betul eklektik, penggambaran dari teknik-
teknik dan pemahaman dari variasi psikologi yang luas dan sumber-sumber spiritual. Psikoterapi
transpersonal berhadapan dengan permasalahan psikologis dengan cakupan yang luas dan penggunaan
teknik-teknik yang luas pula, di antaranya adalah modifikasi perilaku, restrukturisasi kognitif, praktek
Gestalt, psikodinamika, dream-work, terapi musik dan seni, serta meditasi. Dengan berbagai kombinasi
teknik-teknik kesadaran, maka sangat berpeluang untuk dibangunnya hal-hal baru. Beberapa terapis
transpersonal berikut membuktikan anggapan ini. Segall (2005) mengeksplorasi konsep dan teknik
mindfulness (meditasi dari Budhisme) bagi pengembangan diri dalam psikoterapi pada konteks psikologi
klinis Barat. Judith Blackstone (2006) mengembangkan teknik intersubjektif dan nondualitas (nonduality)
dalam hubungan psikoterapeutik. Blackstone mengembangkan metode Proses Realisasi (Realization
Process) untuk membantu klien dalam mengalami kesadaran nondual dalam seting klinis. Asha Clinton
(2006) memperkenalkan metode Seemorg Matrix Work sebagai psikoterapi transpersonal energi baru.
Baik secara teoritis maupun metodologis, dasar dari Seemorg adalah sintesa dari pendekatan spiritualitas
Timur, psikologi Barat, dan psikoneuroimunologi. Rowan (1998, 2000) mengembangkan linking dan
menggunakan meditasi, spiritual bibliotherapy, serta latihan kesadaran lainnya seperti holotropic
breathwork, LSD, hipnosis, yoga, visualisasi, dan psikodrama. Berdasarkan pengalaman Penulis dalam
mempraktekkan psikoterapi transpersonal, teknik-teknik kesadaran yang digunakan adalah terapi
meditasi, terapi musik, visualisasi, letting go, dan spiritual bibliothetapy. Dengan menangani beragam
kasus seperti diabetes melitus, obesitas, korban KDRT, psikosomatis, korban poligami, dan korban
perselingkuhan; dapat dikembangkan model psikoterapi transpersonal.
Kata kunci: model psikoterapi transpersonal.

PENDAHULUAN

Psikoterapis merupakan orang yang berurusan
dengan perihal pengentasan terhadap
penderitaan emosional. Penderitaan muncul dari
kesulitan-kesulitan yang tersamar seperti stres,
kecemasan, depresi, masalah perilaku, konflik
interpersonal, kebingungan, dan putus asa
(Germer, 2005).
Menurut Rowan (1993) serta Kasprow
dan Scotton (1999) pada orang sehat perubahan
kesadaran dapat melahirkan kualitas manusia
tertinggi, seperti altrusime, kreativitas, intuisi,
inner voice, dan peak experience. Bagi individu
yang kurang berkembang egonya, pengalaman-
pengalaman perubahan kesadarannya mirip
dengan psikosis. Artinya, kondisi transpersonal
kelihatan mirip dengan psikosis. Berkaitan
dengan terapi, psikologi transpersonal tidak
menolak terapi-terapi yang sudah ada. Tetapi
menambahkannya dengan terapi yang
menggunakan latihan perubahan kesadaran,
seperti: hypnosis, meditasi, dan guided imagery
(Rowan, 1993; Kasprow & Scotton, 1999).
Sementara menurut Davis (2005)
psikoterapi transpersonal adalah betul-betul
eklektik, penggambaran dari teknik-teknik dan
pemahaman dari variasi psikologi yang luas dan
sumber-sumber spiritual. Psikoterapi
transpersonal berhadapan dengan permasalahan
psikologis dengan cakupan yang luas dan
penggunaan teknik-teknik yang luas pula, di
antaranya adalah modifikasi perilaku,
restrukturisasi kognitif, praktek Gestalt,
psikodinamika, dream-work, terapi musik dan
seni, serta meditasi.
Dengan berbagai kombinasi teknik-teknik
kesadaran, maka sangat berpeluang untuk
dibangunnya hal-hal baru. Beberapa terapis
transpersonal berikut membuktikan anggapan ini.
Segall (2005) mengeksplorasi konsep
dan teknik mindfulness (meditasi dari Budhisme)
bagi pengembangan diri dalam psikoterapi pada
konteks psikologi klinis Barat. J udith Blackstone
(2006) mengembangkan teknik intersubjektif dan
nondualitas (nonduality) dalam hubungan
psikoterapeutik. Blackstone mengembangkan
metode Proses Realisasi (Realization Process)
untuk membantu klien dalam mengalami
kesadaran nondual dalam seting klinis.
Asha Clinton (2006) memperkenalkan
metode Seemorg Matrix Work sebagai
psikoterapi transpersonal energi baru. Baik
secara teoritis maupun metodologis, dasar dari
Seemorg adalah sintesa dari pendekatan
spiritualitas Timur, psikologi Barat, dan
psikoneuroimunologi. Seemorg diperoleh dari
konsepsi ketuhanan manusia yang merupakan
inti dari ajaran Hinduisme, gagasan realitas
archetypal dan struktur psyche (dari psikologi
analitik), filsafat Platonik, serta aplikasi interrelasi
Mengembangkan Model Psikoterapi Transpersonal
Prabowo B59
Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil) Vol. 2
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007 ISSN : 1858 - 2559


antara semua bagian dan tingkatan manusia baik
dari psikoneuroimunologi maupun Buddhisme.
Rowan (1998) mencoba
mengintegrasikan konsep resonansi, experiential
listening, countertransference, menjadi satu
(being aligned), bekerja dalam hubungan yang
dalam (working at relational depth), the four-
dimensional state, penyatuan hubungan I-Me
(the unifying I-Me relationship), inklusi (inclusion),
membayangkan hal yang nyata (imagining the
real) dan melding merupakan fenomena linking.
Rowan (2000) juga menggunakan
meditasi, spiritual bibliotherapy, serta latihan-
latihan tambahan seperti holotropic breathwork,
LSD, hipnosis, yoga, visualisasi, dan
psikodrama.

MODEL PSIKOTERAPI TRANSPERSONAL

Bersadarkan pengalaman dalam mempraktekkan
psikoterapi transpersonal, dapat dikembangkan
model psikoterapi transpersonal seperti pada
Gambar 1.
Teknik-teknik kesadaran yang digunakan
adalah terapi meditasi (tarikan nafas), terapi
musik, visualisasi, letting go, dan spiritual
bibliothetapy. Dengan menangani beragam
kasus seperti diabetes melitus, obesitas, korban
KDRT, psikosomatis, korban poligami, dan
korban perselingkuhan; dapat disimpulkan
beberapa hal, yaitu keterlibatan emosi dan
perasaan serta letting go, adanya penilaian, perlu
tidaknya terapi melakukan intervensi secara
direktif atau tidak, dan fenomena sistem COEX.

Keterlibatan emosi dan perasaan serta letting
go
Pada kasus yang melibatkan emosi
berkaitan dengan perasaan-perasaan, hasrat,
keinginan (will menurut Assagioli atau desire
menurut Hawkins, 2005). Proses letting go dapat
dilakukan melalui perasaan yang terdalam (the
deepest feeling), situasi (scene menurut Mahrer,
2002; Mahrer dalam Wedding & Corsini, 2005)
dan sub kepribadian (Rueffler, 2006). Sementara
pada kasus diabetes melitus dan obesitas,
pengalaman perubahan kesadaran (altered state
of consciousness experience) sangat diperlukan
sebelum dilakukan visualisasi.
Istilah letting go yang paling banyak
dibahas dalam makalah ini seringkali
dipertukarkan dengan release yang memiliki
makna yang sama, yaitu: melepaskan.
Corey (2005) menggunakan istilah
letting go dalam pengertian melepaskan,
berkaitan dengan luka dan dendam, dan rasa
bersalah, serta pola-pola yang merusak diri
sendiri seperti pikiran, perasaan, dan perilaku.
Zimberoff dan Hartman (2003) menggunakan
istilah letting go sebagai teknik untuk
menghadirkan kembali hal-hal yang tidak
disadari agar dapat diakses. Beberapa teknik
yang dapat digunakan antara lain adalah
asosiasi bebas, psikodrama, mimpi, hipnosais
dan breathwork.
Sementara Viscott (1996) mengartikan
letting go berkaitan dengan melepaskan emosi
namun dengan istilah release. Demikian juga
dengan Pert (1997). Sementara Vaknin (2004)
menggunakan istilah release dalam arti
melepaskan energi.
Beberapa ahli menggunakan kedua
istilah (letting go dan release) secara bergantian,
seperti Bedell (2002), Brucker (2002), Dwoskin
(2005) dan Shepherd (2007). Namun Dwoskin
(2005) juga membuat antonim dari letting go
yaitu hold on (bertahan). Menurut Fortunas
(2003) mobilitas di antara dua kutub tersebut
(holding on vs letting go) bersifat dialektik dan
dinamis, serta berkembang melalui pertumbuhan
secara spiral dan kontinyu.
Bedell (2002) menggunakan istilah
letting go berkaitan dengan melepaskan emosi
atau perasaan luka, dendam, balas dendam,
kebencian, marah, serta komitmen yang salah
terhadap orang lain. Brucker (2002)
menggunakan istilah letting go dan release bagi
metode terapi kelompok. Sementara Bedell
(2002) juga menggunakan istilah release dalam
arti melepaskan perilaku yang mengganggu
hubungan sosial; melepaskan perasaan dengan
cara memaafkan; melepaskan ingatan-ingatan
yang telah dikenali, dimiliki, dan dipahami untuk
mencapai kesehatan; dan melepaskan emosi
yang mengurung dan menekan agar menjadi
bebas.
Friedman (2002) menggunakan istilah
letting go dalam arti untuk melepaskan penilaian
dan rasa dendam terhadap diri sendiri atau orang
lain. Friedman (2002), Bowman (2003) serta
Lewis (2005) menambahkan bahwa cara untuk
itu adalah dengan memaafkan. Sementara
Shepherd (2007) menggunakan istilah letting go
berkaitan dengan melepaskan emosi, perasaan,
dan bayangan (shadow). Sementara istilah
release digunakan untuk melepaskan emosi,
perasaan yang kuat, dan energi.
Menurut Fortunas (2003), istilah letting
go sering digunakan dalam bahasa kontemporer,
namun sedikit yang mengetahui makna yang
sebenarnya. Fortunas (2003) juga telah
melakukan reviu pada literatur psikologi dan tidak
menemukan teori yang signifikan berkaitan
dengan konsep letting go. Ia juga menemukan
bahwa istilah ini lebih banyak digunakan pada
Mengembangkan Model Psikoterapi Transpersonal
B60 Prabowo

Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil) Vol. 2
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007 ISSN : 1858 - 2559




Dapat dilakukan latihan-latihan kesadaran sesuai kebutuhan termasuk di
dalamnya spiritual bibliotherapy
Latihan-
latihan
diulang
kembali
Jika kemungkinan
terjadi COEX,
simtom fisik, dan
ketegangan
Latihan-
latihan
diulang
kembali
Jika kemungkinan
terjadi COEX,
simtom fisik, dan
ketegangan
Ya Tdk Ya Tdk
Jika terdapat penilaian dalam
proses terapi
Latihan terapi musik, meditasi
(tarikan nafas), visualisasi, dan
letting go
Jika dapat diidentifikasikan adanya
perasaan, hasrat, dan peristiwa yang
mengganggu; atau sub
kepribadiannya
Jika terdapat ketertutupan dalam diri
klien pada awal proses konseling
Ya Tdk
Jika dapat diidentifikasikan adanya
perasaan, hasrat, dan peristiwa yang
mengganggu; atau sub
kepribadiannya
Ya
Tdk
Latihan terapi musik, meditasi
(tarikan nafas), visualisasi, dan
letting go
Ya Tdk
Jika terdapat penilaian dalam
proses terapi
Keluar
dari
proses
Proses
dilanjutkan
Tdk Ya Ya Tdk

Gambar 1. Model Psikoterapi
Diadaptasi dari: Model Akurasi Empati (Ickes & Simpson, 2004)

Mengembangkan Model Psikoterapi Transpersonal
Prabowo B61
Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil) Vol. 2
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007 ISSN : 1858 - 2559


buku-buku self-help antara lain berkaitan
dengan: emosi dan perubahan sikap, pola asuh,
kehilangan dan bela sungkawa, manajemen,
kreativitas, dan penyakit terminal.. Dalam buku-
buku psikologi, istilah ini berkaitan dengan
bidang: disability, penyakit terminal, belajar,
transpersonal, psikoterapi, memaafkan, bela
sungkawa, teologi sosial, pola asuh, penuaan,
dan relasi. Namun yang paling utama adalah
pada bidang psikoterapi.
Senada dengan Fortunas, beberapa
jurnal juga menggunakan istilah letting go
berkaitan dengan makna untuk: melepaskan
emosi (Isaacs, 1988), kematian (Bernstein, 2001;
Noppe & Noppe, 2004; Sullivan & Mason, 2006),
kehilangan orang tua (Abrams, 2001; Sussilo,
2005), kehilangan anak (Karp, Holmstrom &
Gray, 2004), penyakit terminal (Borbasi, Wotton,
Redden & Chapman, 2005), dan terapi (Ballard,
2006).
Gow (1999) lebih lengkap dalam
mengungkap letting go, meskipun masih dalam
pengertian yang sama dengan release. Gow
menjelaskan bahwa letting go dalam beberapa
hal antara lain:
Pertama, letting go secara teknis dapat
dilakukan bagi yang tidak sehat secara fisik,
mengalami hambatan psikologis dan
keterbatasan spiritual. Secara psikologis, letting
go dapat dilakukan untuk melepaskan baik
kekhawatiran di masa lalu maupun kecemasan di
masa depan. Gow juga menambahkan bahwa
letting go dapat juga dilakukan untuk melepaskan
luka, keadaan yang menekan atau gangguan
mental.
Kedua, letting go dapat dilakukan
dengan memfokuskan pada masa kini. Gow juga
menyarankan bahwa teknik meditasi dapat
membantu seseorang dalam melakukan letting
go.
Ketiga, hal-hal yang dapat dilepaskan
dengan teknik letting go antara lain adalah kata-
kata, citra, emosi, atau aktivitas-aktivitas di
dalam pikiran lainnya.
Dwoskin (2005) menambahkan
beberapa hal yang dilepaskan dalam letting go,
yaitu:
1. Perasaan, yang meliputi sembilan emosi
yaitu: apatis, sedih, takut, nafsu, marah,
bangga, semangat, menerima, dan ikhlas.
2. Resistensi, yaitu seperti kehilangan gairah di
tengah jalan. Dalam keadaan resistensi,
seseorang:
a. merasa seperti mencoba untuk
bergerak ke depan namun tiba-tiba
berhenti
b. merasa saya harus melakukan
sesuatu
c. merasa dan berikir saya tidak bisa
d. ketika tidak dapat memutusan atau
tidak melakukan sesuatu, namun
tetap melakukannya dan merasa
kesulitan
e. seperti mendesak melawan dunia,
sehingga justru akan mendesak balik
3. Perasaan dari hasrat untuk merubah
sesuatu, dimana sesuatu di sini adalah
apapun dalam hidup seseorang, di dalamnya
tercakup pengalaman pribadi, termasuk
pengalaman masa lalu.
4. Hasrat, yang terdiri dari hasrat untuk
mengatur, hasrat untuk diakui, hasrat untuk
menjadi aman, hasrat untuk menjadi
terpisah, dan hasrat menjadi seseorang.

Adanya penilaian

Adanya penilaian pada saat latihan awal teknik-
teknik kesadaran. Yang sebenarnya dibutuhkan
dalam latihan meditasi atau teknik kesadaran
lainnya adalah penerimaan dan bukannya
penilaian atau jugment (Kabat-Zinn, 2003;
Riskin, 2004; Grossman, Niemann, Schmidt &
Walach, 2004; Shapiro, Astin, Bishop & Cordova,
2005; Toneatto, Vettese & Nguyen, 2007). Ada
tidaknya penilaian ini akan berpengaruh pada
proses terapi selanjutnya.
Cara yang dapat digunakan untuk
mengatasi penilaian (atau dalam istilah Dwoskin
adalah resistensi) adalah juga dengan letting go
seperti disajikan terdahulu.

Perlu tidaknya terapi melakukan intervensi
secara direktif atau tidak

Assagioli (dalam Kyle, 2004) membuat kontinum
antara direktif dan non direktif sebagai bagian
dari terapis berkaitan dengan kliennya. Menurut
Rowan (1993), psikoterapi transpersonal
berkaitan dengan seseorang yang ingin
membuka sesuatu dalam dirinya. Teknik
spiritualitas atau kesadaran juga bicara tentang
seorang yang ingin membuka sesuatu dalam
dirinya. Oleh karena itu kontinum direktif amat
dipengaruhi oleh keterbukaan klien.

Fenomena sistem COEX

Keempat, adalah intensitas latihan teknik
kesadaran yang dilakukan oleh klien berkaitan
dengan proses terapinya. Dalam proses terapi
yang dilakukan secara intensif adakalanya diikuti
dengan pengalaman kondensasi, gejala fisik, dan
ketegangan.
Fenomena sistem COEX (condensed
experience), yaitu kumpulan ingatan dari
Mengembangkan Model Psikoterapi Transpersonal
B62 Prabowo

Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil) Vol. 2
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007 ISSN : 1858 - 2559


beragam periode kehidupan individu yang
ditandai oleh adanya serangan emosional yang
kuat (Kjellgren & Norlander, 2001). Klien dengan
pengalaman seperti ini seyogyanya diberikan
penjelasan bahwa hal ini memang bisa saja
terjadi dan tidak menganggap dirinya psikosis.
Sementara jika muncul gejala fisik dan
ketegangan, latihan-latihan teknik letting go
dapat dilakukan kembali, dimana pada kasus
ketegangan pendampingan selama terapi harus
dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Abrams, M. S. (2001). Resilience in ambiguous
loss. American Journal of
Psychotherapy, 55, 2, 283-291.
Ballard, M. (2006). No More Letting Go: The
Spirituality of Taking Action Against
Alcoholism and Drug Addiction. Library
Journal, 131, 9, 116.
Bedell, T. M. (2002). The Role of Religiosity in
Forgiveness. Graduate School of the
Ohio State University, Ohio.
Bernstein, A. (2001). Love and death: Letting
go. Modern Psychoanalysis, 26, 2, 257-
268.
Blackstone, J . (2006). Intersubjectivity and
Nonduality in the Psychotherapeutic
Relationship. The Journal of
Transpersonal Psychology, 38, 1.
Boorstein, S. (2000). Transpersonal
psychotherapy. American Journal of
Psychotherapy, 54, 3.
Borbasi, S., Wotton, K., Redden, M., &
Chapman, Y. (2005). Letting Go: a
qualitative study of acute care and
community nurses perceptions of a
good versus a bad death. Australian
Critical Care, 18, 3, 104-113.
Brucker, M. (2002). The Phenomena of
Psychokinesis. Dalam Willem Lammers
& Beate Kircher (Eds.). The Energy
Odyssey: New Directions in Energy
Psychology. Ias Publications,
Bahnhofstrasse.
Clark, C. F. (2004). R. D. Laing: What Was
Therapeutic About That? Journal of
Transpersonal Psychology, 2004; 36, 2
Clinton, A. (2006). Seemorg Matrix Work: A New
Transpersonal Psychotherapy. The
Journal of Transpersonal Psychology,
38, 1, 95-111.
Corey, G. (2005). Theory and Practice of
Counseling and Psychotherapy.
Brooks/Cole-Thompson Learning,
Belmont.
Davis, J . 13 Maret 2005. Introduction to
Transpersonal Psychology.
http://www.naropa.edu/ faculty/
johndavis/tp/tpintro1.html.
Dwoskin, H. (2005). Sedona Method: How to Get
Rid of Your Emotional Baggage and Life
the Life You Want. Element, London.
Fortunas, D. (2003). The Experience of Letting
go: A Phenomenological Study.
Department of Psychology University of
Pretoria, Pretoria.
Friedman, P. (2002). Integrative Healing: An
Energy and Spiritual Approach. Dalam
Willem Lammers & Beate Kircher (Eds.).
The Energy Odyssey: New Directions in
Energy Psychology. Ias Publications,
Bahnhofstrasse:
Germer, C.K. (2005). Mindfulness: What Is It?
What Does It Matter? Dalam Germer,
C.K., Siegel, R. D. & Fulton, P.R. (2005).
Mindfulness and Psychotherapy. Guilford
Publication.
Gow, K. M. (1999). Letting Go: For Physical,
Emotional, and Spiritual Health, Journal
of Religion and Health, 38, 2, 155-165.
Grossman, P., Niemann, L., Schmidt, S. &
Walach, H. (2004). Mindfulness-Based
Stress Reduction And Health Benefits: A
Meta-Analysis Journal of Psychosomatic
Research, 57, 35-43,
Hawkins, D. R. (2005). Power vs. Force: The
Hidden Determinants of Human
Behavior. Veritas Publishing, Arizona.
Ickes, W. & Simpson, J . A. (2004). Motivation
Aspects of Empathic accuracy. Dalam
Marilynn B. Brewer & Miles Hewstone.
(Eds.). Emotion and Motivation.
Blackwell Pub, Oxford.
Isaacs, M. M. (1988). On the Task of Letting Go:
A Woman's Paradoxical J ourney.
Journal of Counseling and Development,
67, 2, 86.
Kabat-Zinn, J . (2003). Mindfulness-Based
Interventions in Context: Past, Present,
and Future. Clinical Psychology:
Science and Practice,10, 2.
Kasprow, M.C. & Scotton, B.W. (1999). A
Review of Transpersonal Theory and Its
Application to the Practice of
Psychotherapy. Journal of
Psychotherapy and Research, 8, 12-23.
Kjellgren, A. & Norlander, T. (2001). Psychedelic
Drugs: A Study of Drug-Induced
Experiences Obtained by Illegal Drug
User in Relation to Stanislav Grovs
Model of Altered State of
Consciousness. Imagination, Cognition
and Personality, 20, 1.
Mengembangkan Model Psikoterapi Transpersonal
Prabowo B63
Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil) Vol. 2
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007 ISSN : 1858 - 2559


Kyle, Z. 26 J uli 2007. An exploration of the
perception of practitioners of the
strengths and limitations of
psychosynthesis psychotherapy in
application. Dissertation submitted for
the award of MSc Counselling and
Psychotherapy.
http://two.not2.org/psychosynthesis/articl
es/zk1.htm
Lewis, J . L. (2005). Forgiveness and
Psychotherapy: The Prepersonal, the
Personal, and the Transpersonal. The
Journal of Transpersonal Psychology,
37, 2, 127.
Mahrer, A. R. (2002). In Experiential Sessions,
There Is No Therapist or Client: There Is
a "Teacher and a Practioner.Journal
of Contemporary Psychotherapy, 32, 1.
Noppe, I. C. & Noppe, L. D. (2004). Adolescent
Experiences with Death: Letting Go of
Immortality. Journal of Mental Health
Counseling, 26, 2, 146-167.
Riskin, L. (2004). Mindfulness Meditation: Its
Nature and Outcomes. Dalam Brad
Brown (Ed). The Newsletter of the
Alternative Dispute Resolution Section of
the Oregon State Bar. Lake Oswego:
Oregon State Bar, Accounting
Department ADR Section
Rowan, J . (1993). The Transpersonal:
Psychotherapy and Counseling.
Routledge, New York.
Rowan, J . (1998). Linking: Its place in therapy.
International Journal of Psychotherapy;
Nov 1998; 3, 3.
Rowan, J . (2000). A Transpersonal Way of
Relating to Clients, Journal of
Contemporary Psychotherapy, 32, 1.
Rueffler, M. (2006). Para Pemain dalam diri Kita.
Fakultas Psikologi Ubaya, Surabaya.
Segall, S. R. (2005). Mindfulness and Self-
Development In Psychotherapy. The
Journal of Transpersonal Psychology,
37, 2, 143-144.
Shapiro, S.L., Astin. J .A., Bishop, S.R. &
Cordova, M. (2005). Mindfulness-Based
Stress Reduction for Health Care
Professionals: Results from a
Randomized Trial. International Journal
of Stress Management; 12, 2, 164176.
Shepherd, P. 23 April 2007.Heart Intelligence:
Tools for Transformation.
http://www.trans4mind.com.
Toneatto, T., Vettese, L. & Nguyen, L. 20 Maret
2007. The role of mindfulness in the
cognitive-behavioural treatment of
problem gambling. Journal of Gambling
Issues. Issue 19, J anuary 2007.
http://www.camh.net/egambling/issue19/
pdfs/toneatto.pdf.
Viscott, D. (1996). Emotional Resilience: Simple
truths for Dealing with the Unfinished
Business of Your Past. Harmony Books,
New York.
Wedding, D & Corsini,
R.J .(eds.).2005. Case St udi es i n
Psychot herapy, Fourth Edi ti on.
Thompson Brooks/Cole, Belmont.
Zimberoff, D. & Hartman, D. (2003).
Transpersonal Psychology in Heart-
Centered Therapies. Journal of Heart-
Centered Therapies, 6, 1, 123-144.

Mengembangkan Model Psikoterapi Transpersonal
B64 Prabowo