Anda di halaman 1dari 5

Uji Alkaloid dengan Pereaksi Meyer Pada percobaan untuk pengujian alkaloid ini digunakan sampel tumbuhan yaitu;

daun Jambu Biji (Psidium guajava) dan batang Genjer (Limnocharis flava) dimana masing-masing ekstrak dari sampel yang digunakan direaksikan dengan pereaksi Meyer. Adanya kandungan alkaloid dalam sampel ditandai dengan terbentuknya endapan putih atau kuning muda untuk pereaksi Meyer. Sesuai dengan data pengamatan yang diperoleh, daun tanaman jambu biji dan batang genjer tidak mengandung adanya alkaloid. Tidak adanya kandungan alkaloid dalam sampel diketahui karena ketika diuji dengan pereaksi Meyer tidak terbentuk endapan putih atau kuning muda, namun hanya terbentuk larutan bening. Sedangkan berdasarkan dari telaah pustaka yang didapat, sampel daun jambu biji tersebut mengandung alkaloid (Kurniawati dalam Rosidah, 2012). Adanya ketidaksesuaian ini karena adanya kemungkinan kesalahan praktikan, perbedaan jenis jambu biji, habitat dan umur tanaman. Alkaloid sesungguhnya diturunkan secara biosintesis dari asam amino dan biasanya terdapat dalam tanaman sebagai garam asam organik. Secara kimia, alkaloid begitu heterogen dan begitu banyak sehingga mereka tidak dapat diidentifikasi dalam ekstrak tumbuhan dengan menggunakan kromatografi tunggal. Pada umumnya sukar mengidentifikasinya dari suatu tumbuhan baru tanpa mengetahui kira-kira jenis alkaloid apa yang terkandung di dalamnya. Akibat adanya sifat-sifat alkaloid yang bervariasi, cara umum untuk memisahkan alkaloid dari tumbuhan mungkin tidak berhasil mendeteksi senyawa alkaloid yang khas.

Uji Busa dengan Metode Simes (Saponin) Uji busa dengan metode Simes ini dilakukan untuk mengetahui adanya kandungan saponin pada sampel (tanaman). Saponin merupakan glikosida yang membentuk busa dalam air apabila dihidrolisis dengan asam. Saponin merupakan

senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun serta dapat dideteksi dengan kemampuannya membentuk busa dan mengemulsi sel darah merah.

CH3 CH3

O CH3

Gula

Gambar 1. Rumus umum saponin Dari percobaan yang telah dilakukan, sampel tumbuhan yang mengandung saponin adalah daun jambu biji. Adanya kandungan saponin dalam sampel ditandai dengan terbentuknya busa ketika dilakukan pengocokkan terhadap bagian sampel yang tidak larut setinggi 1,4 cm ketika diukur manual. Berdasarkan dari pustaka yang diperoleh, sampel yang mengandung saponin adalah tanaman daun jambu biji saja sehingga untuk genjer aman untuk dikonsumsi.

Uji Flavonoid dengan Pereaksi Shinoda

Flavonoid merupakan suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar ditemukan di alam. Me warna merah muda / orange pada larutan. Lihat kerangka dasar flavonoid pada gambar 9. Flavonoid berupa senyawa fenol, sehingga warnanya bisa berubah bila ditambah basa/ amonia. Jadi mudah dideteksi pada kromatogram atau pada larutan. Senyawa ini mengandung C15, dimana dua cincin benzen (C6) terikat pada suatu rantai (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Susunan ini dapat menghasilkan tiga jenis struktur senyawa flavonoid yaitu dapat dilihat pada gambar:

C C C

Gambar 9, Kerangka dasar flvonoid

B A
2 1 3

Flavonoida atau 1,3-diarilpropana

A
1

3 2

Isoflavonoida atau 1,2-diarilpropana

A
1

3 2

B
Neoflavonoida atau 1,1-diarilpropana

Gambar 2. Tiga jenis struktur senyawa flavonoid, Banyaknya senyawa flavonoida yang ditemukan disebabkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilalsi atau glikosilasi dari struktur tersebut. Untuk uji flavonoid ini baiknya pelarut terlebih dahulu diuapkan agar pelarut etanol tidak teridentifikasi. Hasil filtrat penyaringan ditambahkan HCl pekat dan bubuk Mg. Uji positif ditandai dengan timbulnya warna merah muda/orange yang menandakan sampel/ tumbuhan ekstrak tersebut mengandung flavonoid. Dari hasil pengamatan ekstrak tanaman yang mengandung flavonoid ialah daun jambu biji dan batang genjer. Hal ini ditandai oleh timbulnya warna orange kehijauan yang menandakan sampel/tanaman ekstrak tersebut

mengandung flavonoid. Berdasarkan dari pustaka yang diperoleh, sampel yang mengandung flavonoid adalah daun tumbuhan jambu biji dengan genjer. Secara garis besar, adanya ketidaksesuaian data antara hasil percobaan dengan hasil telaah pustaka yang ada mungkin diakibatkan karena

kekurangtelitian/kesalahan praktikan dalam melakukan prosedur kerja, seperti: pada penggerusan sampel yang kurang halus, pengambilan sampel, jenis sampel yang diteliti, habitat sampel, umur dan kualitas sampel. Selain itu karena Minimnya literatur yang didapatkan, sehingga ada beberapa data yang kurang lengkap.

Daftar Pustaka

Cheeke, Peter R. 1998. Saponins: Suprising benefits of desert plants. (http://lpi.oregonstate.edu/sp-su98/saponins.html, diakses pada 17 Maret 2014). Dailami, Muhammad. 2009. Krining Fitokimia Dari Daun Dan Batang Seledri (Apium Graveolens L.), Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.), Dan Buah Cabe (Capsicum annum L.). (http://kimiaunipa.blogspot.com/2010/05/ skrining-fitokimia-herbal-seledri-daun.html, diakses pada 17 Maret 2014). Nuarisma, Fatmasari. 2012. Analisis Komponen Bioaktif Pada Genjer (Limnocharis flava). (http://fatmanuarisma.blogspot.com/2012/06/analisiskomponen-bioaktif-genjer.html, diakses pada 17 Maret 2014). Rosidah dan Wila Mahita Afizia. 2012. Potensi Ekstrak Daun Jambu Biji Sebagai Antibakterialuntuk Menanggulangi Serangan Bakteri Aeromonas

Hydrophilapada Ikan Gurame (Osphronemus Gouramy lacepede). (http://portalgaruda.org/download_article.php?article=23338&val=1392, diakses pada tanggal 17 Maret 2014). Trengginas, Fizeni. 2012. Metode Ekstraksi, Dan Uji Fitokimia Pada Genjer (Limnocharis flava). (http://fizenitrengginas78.blogspot.com/2012/12/

metode-ekstraksi-dan-uji-fitokimia-pada.html, diakses pada 17 Maret 2014).