Anda di halaman 1dari 24

BAB II LANDASAN TEORI

A. Konsep Keperawatan Komunitas 1. Pengertian Komunitas (community) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai persamaan nilai (values), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus dengan batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah melembaga (Sumijatun dkk, 2006). Keperawatan komunitas sebagai suatu bidang keperawatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat (public health) dengan dukungan peran serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan perawatan kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok serta masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui proses keperawatan (nursing process) untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal, sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan (Mubarak, 2006). Proses keperawatan komunitas merupakan metode asuhan keperawatan yang bersifat alamiah, sistematis, dinamis, kontiniu, dan berkesinambungan dalam rangka memecahkan masalah kesehatan klien, keluarga, kelompok serta masyarakat melalui langkah-langkah seperti pengkajian, perencanaan,

implementasi, dan evaluasi keperawatan (Wahyudi, 2010). Menurut WHO (1959), keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan sosial, sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan guna meningkatkan kesehatan, penyempumaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar, ditujukan kepada individu, keluarga, yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan. Keperawatan kesehatan komunitas menurut ANA (1973) adalah suatu sintesa dari praktik kesehatan masyarakat yang dilakukan untuk meningkatkan

dan memelihara kesehatan masyarakat. Praktik keperawatan kesehatan komunitas ini bersifat menyeluruh dengan tidak membatasi pelayanan yang diberikan kepada kelompok umur tertentu, berkelanjutan dan melibatkan masyarakat. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perawatan kesehatan komunitas adalah suatu bidang dalam ilmu keperawatan yang merupakan keterpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta masyarakat, serta mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan dengan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif, secara menyeluruh dan terpadu ditujukan kesatuan yang utuh melalui proses keperawatan untuk ikut meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal.

2.

Paradigma Keperawatan Komunitas Paradigma keperawatan komunitas terdiri dari empat komponen pokok,

yaitu manusia, keperawatan, kesehatan dan lingkungan (Logan & Dawkins, 1987). Sebagai sasaran praktik keperawatan klien dapat dibedakan menjadi individu, keluarga dan masyarakat. a. Individu Sebagai Klien Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi, psikologi, sosial dan spiritual. Peran perawat pada individu sebagai klien, pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya yang mencakup kebutuhan biologi,sosial, psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurangnya kemauan menuju kemandirian pasien/klien. b. Keluarga Sebagai Klien Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan aktualisasi diri. Beberapa alasan yang menyebabkan keluarga merupakan salah satu fokus pelayanan keperawatan yaitu :

1.

Keluarga adalah unit utama dalam masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat.

2.

Keluarga

sebagai

suatu

kelompok

dapat

menimbulkan,

mencegah,

memperbaiki ataupun mengabaikan masalah kesehatan didalam kelompoknya sendiri. 3. Masalah kesehatan didalam keluarga saling berkaitan. Penyakit yang diderita salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga tersebut. c. Masyarakat Sebagai Klien Masyarakat memiliki ciri-ciri adanya interaksi antar warga, diatur oleh adat istiadat, norma, hukum dan peraturan yang khas dan memiliki identitas yang kuat mengikat semua warga. Kesehatan dalam keperawatan kesehatan komunitas didefenisikan sebagai kemampuan melaksanakan peran dan fungsi dengan efektif. Kesehatan adalah proses yang berlangsung mengarah kepada kreatifitas, konstruktif dan produktif. Menurut Hendrik L. Blum ada empat faktor yang mempengaruhi kesehatan, yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik yaitu lingkungan yang berkaitan dengan fisik seperti air, udara, sampah, tanah, iklim, dan perumahan. Contoh di suatu daerah mengalami wabah diare dan penyakit kulit akibat kesulitan air bersih. Keturunan merupakan faktor yang telah ada pada diri manusia yang dibawanya sejak lahir, misalnya penyakit asma. Keempat faktor tersebut saling berkaitan dan saling menunjang satu dengan yang lainnya dalam menentukan derajat kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Keperawatan dalam keperawatan kesehatan komunitas dipandang sebagai bentuk pelayanan esensial yang diberikan oleh perawat kepada individu, keluarga, dan kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative dengan menggunakan proses keperawatan untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional sebagai bagian integral pelayanan kesehatan dalam bentuk

pelayanan biologi, psikologi, sosial dan spiritual secara komprehensif yang ditujukan kepada individu keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit mencakup siklus hidup manusia. Lingkungan dalam paradigm keperawatan berfokus pada lingkungan masyarakat, dimana lingkungan dapat mempengaruhi status kesehatan manusia. Lingkungan disini meliputi lingkungan fisik, psikologis, sosial dan budaya dan lingkungan spiritual.

3.

Ruang Lingkup Komunitas Keperawatan komunitas mencakup berbagai bentuk upaya pelayanan

kesehatan baik upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, maupun resosialitatif. Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dengan melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan, peningkatan gizi, pemeliharaan kesehatan perorangan, pemeliharaan kesehatan lingkungan, olahraga teratur, rekreasi dan pendidikan seks. Upaya preventif untuk mencegah terjadinya penyakit dan gangguan kesehatan terhadap individu, keluarga kelompok dan masyarakat melalui kegiatan imunisasi, pemeriksaan kesehatan berkala melalui posyandu, puskesmas dan kunjungan rumah, pemberian vitamin A, iodium, ataupun pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas dan menyusui. Upaya kuratif bertujuan untuk mengobati anggota keluarga yang sakit atau masalah kesehatan melalui kegiatan perawatan orang sakit dirumah, perawatan orang sakit sebagai tindak lanjut dari Pukesmas atau rumah sakit, perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis, perawatan buah dada, ataupun perawatan tali pusat bayi baru lahir Upaya rehabilitatif atau pemulihan terhadap pasien yang dirawat dirumah atau kelompok-kelompok yang menderita penyakit tertentu seperti TBC, kusta dan cacat fisik lainnya melalui kegiatan latihan fisik pada penderita kusta, patch tulang dan lain sebagainya, kegiatan fisioterapi pada penderita stroke, batuk efektif pada penderita TBC, dll.

Upaya resosialitatif adalah upaya untuk mengembalikan penderita ke masyarakat yang karena penyakitnya dikucilkan oleh masyarakat seperti, penderita AIDS, kusta dan wanita tuna susila.

4.

Falsafah keperawatan komunitas Dalam falsafah keperawatan komunitas, keperawatan komunitas

merupakan pelayanan yang memberikan perhatian terhadap pengaruh lingkungan (bio-psiko-sosio-kultural-spiritual) terhadap kesehatan komunitas dan

memberikan prioritas pada strategi pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan. Falsafah yang melandasi keperawatan komunitas mengacu kepada paradigma keperawatan yang terdiri dari 4 hal penting, yaitu: manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut (Mubarak,2009): a. Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat adalah pekerjaan yang luhur dan manusiawi yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. b. Perawatan kesehatan masyarakat adalah suatu upaya berdasarkan

kemanusiaan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bagi terwujudnya manusia yang sehat khususnya dan masyarakat yang sehat pada umumnya. c. Pelayanan perawatan kesehatan masyarakat harus terjangkau dan dapat diterima oleh semua orang dan merupakan bagian integral dari upaya kesehatan. d. Upaya preventif dan promotif merupakan upaya pokok tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. e. Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat yang diberikan berlangsung secara berkesinambungan. f. Perawatan kesehatan masyarakat sebagai provider dan klien

sebagai consumer pelayanan keperawatan dan kesehatan, menjamin suatu hubungan yang saling mendukung dan mempengaruhi perubahan dalam kebijaksanaan dan pelayanan kesehatan ke arah peningkatan status kesehatan masyarakat.

g.

Pengembangan tenaga keperawatan kesehatan masyarakat direncanakan secara berkesinambungan dan terus-menerus.

h.

Individu dalam suatu masyarakat ikut bertanggung jawab atas kesehatannya, ia harus ikut dalam upaya mendorong, mendidik dan berpartisipasi aktif dalam pelayanan kesehatan mereka sendiri.

5. Tujuan Keperawatan Kesehatan Komunitas 1. Tujuan Umum Meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara meyeluruh dalam memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal secara mandiri. 2. a. b. Tujuan khusus Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat. Meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk melaksanakan upaya perawatan dasar dalam rangka mengatasi masalah keperawatan. c. Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang memerlukan pembinaan dan asuhan keperawatan. d. Tertanganinya kelompok masyarakat khusus/rawan yang memerlukan pembinaan dan asuhan keperawatan di rumah, di panti dan di masyarakat. e. Tertanganinya kasus-kasus yang memerlukan penanganan tindak lanjut dan asuhan keperawatan di rumah. f. Terlayaninya kasus-kasus tertentu yang termasuk kelompok resiko tinggi yang memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan di rumah dan di Puskesmas. g. Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan sosial untuk menuju keadaan sehat optimal.

6.

Sasaran Manusia sebagai sasaran pelayanan atau asuhan keperawatan dalam

praktek keperawatan. Sebagai sasaran praktek keperawatan klien dapat dibedakan menjadi individu, keluarga dan masyarakat (Riyadi, 2007).

10

a.

Individu sebagai klien Peran perawat pada individu sebagai klien, pada dasarnya memenuhi

kebutuhan dasarnya mencakup kebutuhan biologi, sosial, psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurang kemauan menuju kemandirian klien (Riyadi, 2007). b. Keluarga sebagai klien Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia dapat dilihat pada Hirarki Kebutuhan Dasar Maslow yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan aktualisasi diri (Riyadi, 2007). c. Masyarakat sebagai klien Peran serta masyarakat diperlukan dalam hal perorangan. Komunitas sebagai subyek dan obyek diharapkan masyarakat mampu mengenal, mengambil keputusan dalam menjaga kesehatannya. Sebagian akhir tujuan pelayanan kesehatan utama diharapkan masyarakat mampu secara mandiri menjaga dan meningkatkan status kesehatan masyarakat (Mubarak, 2005).

7.

Prinsip pelaksanaan keperawatan komunitas Pada perawatan kesehatan masyarakat harus mempertimbangkan beberapa

prinsip, yaitu: 1. Kemanfaatan Semua tindakan dalam asuhan keperawatan harus memberikan manfaat yang besar bagi komunitas (Riyadi, 2007). Intervensi atau pelaksanaan yang dilakukan harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi komunitas, artinya ada keseimbangan antara manfaat dan kerugian (Mubarak, 2005). 2. Kerjasama Kerjasama dengan klien dalam waktu yang panjang dan bersifat berkelanjutan serta melakukan kerja sama lintas program dan lintas sektoral (Riyadi, 2007)

11

3.

Secara langsung Asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan intervensi,

klien dan lingkunganya termasuk lingkungan sosial, ekonomi serta fisik mempunyai tujuan utama peningkatan kesehatan (Riyadi, 2007). 4. Keadilan Tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas dari komunitas itu sendiri (Riyadi, 2007). Dalam pengertian melakukan upaya atau tindakan sesuai dengan kemampuan atau kapasitas komunitas (Mubarak, 2005). 5. Otonomi Klien atau komunitas diberi kebebasan dalam memilih atau melaksanakan beberapa alternatif terbaik dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang ada (Mubarak, 2005). Pelayanan yang diberikan oleh keperawatan komunitas mencakup kesehatan komunitas yang luas dan berfokus pada pencegahan yang terdiri dari tiga tingkat yaitu: a. Pencegahan primer Pelayanan pencegahan primer ditunjukkan kepada penghentian penyakit sebelum terjadi karena itu pencegahan primer mencakup peningkatan derajat kesehatan secara umum dan perlindungan spesifik. Promosi kesehatan secara umum mencakup pendidikan kesehatan baik pada individu maupun kelompok. Pencegahan primer juga mencakup tindakan spesifik yang melindungi individu melawan agen-agen spesifik misalnya tindakan perlindungan yang paling umum yaitu memberikan imunisasi pada bayi, anak balita dan ibu hamil, penyuluhan gizi bayi dan balita. b. Pencegahan sekunder Pelayanan pencegahan sekunder dibuat untuk menditeksi penyakit lebih awal dengan mengobati secara tepat. Kegiatan-kegiatan yang mengurangi faktor resiko diklasifikasikan sebagai pencegahan sekunder misalnya memotivasi keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui posyandu dan puskesmas.

12

c.

Pencegahan tertier Yang mencakup pembatasan kecacatan kelemahan pada seseorang dengan

stadium dini dan rehabilitasi pada orang yang mengalami kecacatan agar dapat secara optimal berfungsi sesuai dengan kemampuannya, misalnya mengajarkan latihan fisik pada penderita patah tulang. 8. Fungsi Keperawatan Komunitas Fungsi keperawatan komunitas (Mubarak, 2006): a. Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi kesehatan masyarakat dan keperawatan dalam memecahkan masalah klien melalui asuhan keperawatan. b. Agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai dengan kebutuhannya dibidang kesehatan. c. Memberikan asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah, komunikasi yang efektif dan efisien serta melibatkan peran serta masyarakat. d. Agar masyarakat bebas mengemukakan pendapat berkaitan dengan permasalahan atau kebutuhannya sehingga mendapatkan penanganan dan pelayanan yang cepat dan pada akhirnya dapat mempercepat proses penyembuhan.

9.

Peran Perawat komunitas Banyak peranan yang dapat dilakukan oleh perawat kesehatan masyarakat

diantaranya adalah : a. Sebagai penyedia pelayanan (Care provider) Memberikan asuhan keperawatan melalui mengkaji masalah keperawatan yang ada, merencanakan tindakan keperawatan, melaksanakan tindakan keperawatan dan mengevaluasi pelayanan yang telah diberikan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat (Helvie, 1997). b. Sebagai Pendidik dan konsultan (Nurse Educator and Counselor) Memberikan pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik di rumah, puskesmas, dan di masyarakat secara terorganisir dalam rangka menanamkan perilaku sehat, sehingga terjadi perubahan perilaku seperti yang diharapkan dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal (Helvie, 13

1997). Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi tatanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan seseorang. Di dalamnya diberikan dukungan emosional dan intelektual (Mubarak, 2005). Proses pengajaran mempunyai 4 komponen yaitu : pengkajian,

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hal ini sejalan dengan proses keperawatan dalam fase pengkajian seorang perawat mengkaji kebutuhan pembelajaran bagi pasien dan kesiapan untuk belajar. Selama perencanaan perawat membuat tujuan khusus dan strategi pengajaran. Selama pelaksanaan perawat menerapkan strategi pengajaran dan selama evaluasi perawat menilai hasil yang telah didapat (Mubarak, 2005). c. Sebagai Panutan (Role Model) Perawat kesehatan masyarakat harus dapat memberikan contoh yang baik dalam bidang kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tentang bagaimana tata cara hidup sehat yang dapat ditiru dan dicontoh oleh masyarakat (Helvie, 1997). d. Sebagai pembela (Client Advocate) Pembelaan dapat diberikan kepada individu, kelompok atau tingkat komunitas. Pada tingkat keluarga, perawat dapat menjalankan fungsinya melalui pelayanan sosial yang ada dalam masyarakat (Helvie, 1997). Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien. Pembelaan termasuk di dalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi hak-hak klien (Mubarak, 2005). Tugas perawat sebagai pembela klien adalah bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi hal lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (Informed Concent) atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya (Mubarak, 2005). Tugas yang lain adalah mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena klien yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak petugas kesehatan (Mubarak, 2005).

14

e.

Sebagai Manajer kasus (Case Manager) Perawat kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengelola berbagai

kegiatan pelayanan kesehatan puskesmas dan masyarakat sesuai dengan beban tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya (Helvie, 1997). f. Sebagai kolaborator Peran perawat sebagai kolaborator dapat dilaksanakan dengan cara bekerjasama dengan tim kesehatan lain, baik dengan dokter, ahli gizi, ahli radiologi, dan lain-lain dalam kaitanya membantu mempercepat proses penyembuhan klien (Mubarak, 2005). Tindakan kolaborasi atau kerjasama merupakan proses pengambilan keputusan dengan orang lain pada tahap proses keperawatan. Tindakan ini berperan sangat penting untuk merencanakan tindakan yang akan dilaksanakan (Helvie, 1997). g. Sebagai perencana tindakan lanjut (Discharge Planner) Perencanaan pulang dapat diberikan kepada klien yang telah menjalani perawatan di suatu instansi kesehatan atau rumah sakit. Perencanaan ini dapat diberikan kepada klien yang sudah mengalami perbaikan kondisi kesehatan (Helvie, 1997). h. Sebagai pengidentifikasi masalah kesehatan (Case Finder) Melaksanakan monitoring terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang menyangkut masalah-masalah kesehatan dan keperawatan yang timbul serta berdampak terhadap status kesehatan melalui kunjungan rumah, pertemuan-pertemuan, observasi dan pengumpulan data (Helvie, 1997). i. Koordinator Pelayanan Kesehatan (Coordinator of Services) Peran perawat sebagai koordinator antara lain mengarahkan, merencanakan dan mengorganisasikan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada klien (Mubarak, 2005). Pelayanan dari semua anggota tim kesehatan, karena klien menerima pelayanan dari banyak profesional (Mubarak, 2005). j. Pembawa perubahan atau pembaharu dan pemimpin (Change Agent and Leader) Pembawa perubahan adalah seseorang atau kelompok yang berinisiatif merubah atau yang membantu orang lain membuat perubahan pada dirinya atau

15

pada sistem. Marriner torney mendeskripsikan pembawa perubahan adalah yang mengidentifikasikan masalah, mengkaji motivasi dan kemampuan klien untuk berubah, menunjukkan alternatif, menggali kemungkinan hasil dari alternatif, mengkaji sumber daya, menunjukkan peran membantu, membina dan

mempertahankan hubungan membantu, membantu selama fase dari proses perubahan dan membimibing klien melalui fase-fase ini (Mubarak, 2005). Peningkatan dan perubahan adalah komponen essensial dari perawatan. Dengan menggunakan proses keperawatan, perawat membantu klien untuk merencanakan, melaksanakan dan menjaga perubahan seperti : pengetahuan, ketrampilan, perasaan dan perilaku yang dapat meningkatkan kesehatan (Mubarak, 2005) k. Pengidentifikasi dan pemberi pelayanan komunitas (Community Care Provider And Researcher) Peran ini termasuk dalam proses pelayanan asuhan keperawatan kepada masyarakat yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi masalah kesehatan dan pemecahan masalah yang diberikan. Tindakan pencarian atau pengidentifikasian masalah kesehatan yang lain juga merupakan bagian dari peran perawat komunitas (Helvie, 1997). B. Proses Asuhan Keperawatan Komunitas Proses keperawatan komunitas merupakan suatu metode atau proses yang bersifat alamiah, sistematis, dinamis, kontinu, dan berkesinambungan dalam rangka memecahkan masalah kesehatan dari klien, keluarga serta kelompok atau masyarakat. Dalam penerapan proses keperawatan (nursing proces), terjadi proses alih peran dari tenaga keperawatan kepada klien (sasaran) secara bertahap dan berkelanjutan untuk mencapai kemandirian sasaran dalam menyelesaikan masalah kesehatannya. Proses alih peran tersebut digambarkan sebagai lingkaran dinamis proses keperawatan. Menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra kerja dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan kesehatan. Pelayanan keperawatan profesional yang

merupakan perpaduan antara konsep kesehatan masyarakat dan konsep 16

keperawatan yang ditujukan pada seluruh masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi (Efendi, 2009). Keperawatan komunitas merupakan pelaksanaan keperawatan komunitas dilakukan melalui beberapa fase yang tercakup dalam proses keperawatan komunitas dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah yang dinamis. Fase-fase pada proses keperawatan komunitas secara langsung melibatkan komunitas sebagai klien yang dimulai dengan pembuatan kontrak/partner ship dan meliputi pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Efendi, 2009). Asuhan keperawatan yang diberikan kepada komunitas atau kelompok adalah (Mubarak, 2005): 1. Pengkajian Pengkajian merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan sistematis terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga atau kelompok yang menyangkut permasalahan pada fisiologis, psikologis, sosial ekonomi, maupun spiritual dapat ditentukan. Tujuan dari pengkajian keperawatan komunitas ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor (baik positif atau negatif) yang mempengaruhi kesehatan warga masyarakat agar dapat

mengembangkan strategi promosi kesehatan. Dalam tahap pengkajian ini terdapat 5 kegiatan, yaitu : pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, perumusan atau penentuan masalah kesehatan masyarakat dan prioritas masalah (Mubarak, 2005). Jenis data secara umum dapat diperoleh dari data subyektif dan obyektif. a. Data subyektif, yaitu data yang diperoleh dari keluhan atau masalah yang dirasakan oleh individu, keluarga, kelompok dan komunitas, yang diungkapkan secara langsung melalui lisan. b. Data obyektif, yaitu data yang diperoleh melalui suatu pemeriksaan, pengamatan dan pengukuran.

17

Sumber data dapat diperoleh dari data primer dan data sekunder. a. Data primer, adalah data yang dikumpulkan oleh pengkaji dalam hal ini mahasiswa atau perawat kesehatan masyarakat dari individu, keluarga, kelompok dan komunitas berdasarkan hasil pemeriksaan atau pengkajian. b. Data sekunder, adalah data yang diperoleh dari sumber lain yang dapat dipercaya, misalnya : kelurahan, catatan riwayat kesehatan pasien atau medical record. a. Pengumpulan data Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai masalah kesehatan pada masyarakat sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus diambil untuk mengatasi masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik, psikologis, sosial ekonomi dan spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhi (Mubarak, 2005). Terdapat lima metode pengumpulan data komunitas: 1. Wawancara informan (informant interview), dilakukan dengan cara langsung mengajukan kepada penduduk komunitas. Sumber data berasal dari anggota komunitas atau kelompok agregasi. 2. Pengamatan partisipan (participant observation), dilakukan dengan

mengamati apa yang sedang terjadi pada lingkungan sosial tertentu kemudian secara sistematis mencatat pengamatan ini. 3. Analisis sekunder dari data yang ada (secondary analysis), sumber data yang digunakan adalah analisis catatan, dokumen dan data lain yang telah dikumpulkan. Data mungkin sudah ada dalam bentuk data sensus, catatan historis, diary, catatan pengadilan, ringkasan penting, studi komunitas sebelumnya 4. Melakukan survey, anggota komunitas atau kelompok agregasi memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan spesifik baik tertulis maupun lisan yang didasarkan pada sampel populasi. 5. Windshield survey, kunjungan mengitari komunitas geopolitik dengan menggunakan pengamatan melalui kaca mobil (automobile) sebagai cara mengumpulkan informasi tentang lingkungan komunitas.

18

Kegiatan pengkajian yang dilakukan dalam pengumpulan data meliputi : 1. Data inti a. Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas Tanyakan siapa yang mengetahui sejarah daerah tersebut. Tanyakan kepada toma tentang bagaimana riwayat berdirinya daerah tersebut, sudah berapa lama. Tanyakan tentang wilayah-wilayah yang diyakini oleh penduduk setempat memiliki nilai mistik. Observasi kondisi bangunan yang ada di daerah tersebut. b. Values (nilai-nilai yang dianut masyarakat), beliefs (keyakinan), agama Tanyakan tentang nilai-nilai dan keyakinan yang dianut masyarakat terkait pola kebiasaan. Tanyakan tentang norma yang berlaku di masyarakat. Identifikasi tentang pola budaya yang banyak diyakini masyarakat terkait dengan kesehatan. Apakah terdapat mesjid, gereja, dll (sarana ibadah) ? Apakah keyakinan agamanya homogen ? c. Data demografi Komposisi penduduk; umur dan jenis kelamin Tipe keluarga dan status perkawinan Ras/suku dan bahasa Pekerjaan dan tingkat pendapatan d. Vital statistic Kelahiran Kematian (berdasarkan umur dan penyebab kematian, angka kematian kasar atau CDR) Morbiditas 2. Data subsistem komunitas a. lingkungan fisik Pemeriksaan fisik merupakan komponen kritis dalam pengkajian pasien individual, begitu pula dalam pengkajian komunitas.

19

Kelima indra kita diperlukan untuk pemeriksaan fisik pasien, begitu pula dalam pemeriksaan tingkat komunitas. b. Pelayanan Kesehatan Dan Sosial Fasilitas didalam komunitas Fasilitas diluar komunitas c. Ekonomi Jenis pekerjaan Jumlah penghasilan rata-rata tiap bulan Jumlah pengeluaran rata-rata tiap bulan Jumlah pekerja dibawah umur, ibu rumah tangga, dan lanjut usia d. Keamanan dan transportasi 1. Keamanan System keamanan lingkungan Penanggulangan kebakaran Penanggulangan bencana Penanggulangan polusi, udara dan air tanah 2. Transportasi Kondisi jalan Jenis transportasi yang dimiliki Sarana transportasi yang ada 3. Politik dan pemerintahan Pemerintah (Rt, Rw, Lurah, Camat, dst) Kelompok pelayanan masyarakat : - PKK - LKMD - Panti Werdha - Karang Taruna - Posyandu - Dll

Politik (Peran serta partai politik dalam pelayanan kesehatan, kebijakan pemerintah dalam pelayanan kesehatan) 4. Sistem komunikasi Sarana umum komunikasi Jenis alat komunikasi dan digunakan dalam komunitas Cara penyebaran informasi

20

5. Pendidikan Tingkat atau status pendidikan komunitas Fasilitas pendidikan yang tersedia (formal dan non formal) 6. Rekreasi Dimana anak-anak bermain? Bentuk / jenis rekreasi Fasilitas tempat rekreasi Kebiasaan rekreasi Siapa pengunjung / pesertanya ? b. Pengolahan data Setelah data diperoleh, kegiatan selanjutnya adalah pengolahan data dengan cara sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Klasifikasi data atau kategori data Penghitungan prosentase cakupan dengan menggunakan telly Tabulasi data Interpretasi data

c.

Analisis data Fase-fase yang dapat digunakan dalam membantu proses analisis adalah:

1.

Kategorisasi Untuk menganalisis data pengkajian komunitas, sangat membantu jika

pertama-tama mengkategorikan data. Data dapat dikategorikan dalam berbagai cara. Kategori data pengkajian komunitas meliputi: a) Karakteristik demografi (ukuran keluarga, usia, jenis kelamin, dan kelompok etnik dan ras). b) Karakteristik geografik (batas wilayah, jumlah dan ukuran lahan tempat tinggal, ruang publik, dan jalan). c) Karakteristik sosial-ekonomi (kategori pekerjaan, penghasilan, pendidikan yang dicapai, dan pola penyewaan atau kepemilikan rumah). d) Struktur dan pelayanan kesehatan (rumah sakit, klinik, pusat pelayanan kesehatan mental, dan sebagainya).

21

2. Ringkasan Berupa diagram dan grafik. 3. Pembandingan Tugas selanjutnya sebagai tambahan dalam menganalisa data adalah mengidentifikasi kesenjangan, kejanggalan, dan kehilangan data. Kesenjangan data tidak dapat dihindarkan seperti kesalahan dalam pencatatan, tugas penting adalah menganalisa secara kritis data dan menyadari potensi terjadinya kesenjangan dan kehilangan data. 4. Penarikan kesimpulan Setelah mengkategorikan, meringkas, dan membandingkan data yang telah dikumpulkan, langkah terakhir adalah menarik simpulan logis dari bukti yang ada untuk mengarah perumusan diagnosa keperawatan komunitas.

d. Penentuan masalah atau perumusan masalah kesehatan Berdasarkan analisa data dapat diketahui masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi oleh masyarakat, sekaligus dapat dirumuskan yang selanjutnya dilakukan intervensi. Namun demikian masalah yang telah dirumuskan tidak mungkin diatasi sekaligus. Oleh karena itu diperlukan prioritas masalah (Mubarak, 2005).

e.

Prioritas masalah Dalam menentukan prioritas masalah kesehatan masyarakat dan

keperawatan

perlu

mempertimbangkan

berbagai

faktor

sebagai

kriteria

diantaranya adalah (Mubarak, 2005): 1. 2. 3. 4. 5. 6. Perhatian masyarakat Prevalensi kejadian Berat ringannya masalah Kemungkinan masalah untuk diatasi Tersedianya sumberdaya masyarakat Aspek politis Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hirarki kebutuhan menurut Abraham H. Mashlow yaitu:

22

1. 2. 3.

Keadaan yan mengancam kehidupan Keadaan yang mengancam kesehatan Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan Dalam menyusun atau mengurut masalah atau diagnosis komunitas sesuai

dengan prioritas (penapisan) yang digunakan dalam keperawatan komunitas adalah format penapisan menurut Stanhope , Lancaster, 1988 : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kesadaran masyarakat terhadap masalah Motivasi komuniti untuk mengatasi masalah Kemampuan perawat untuk mengatasi masalah Fasilitas yang tersedia untuk mengatasi Adanya hambatan-hambatan dalam menyelesaikan masalah Waktu yang diperlukan untuk mengatasi masalah

2. Diagnosis keperawatan Diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan masalah yang ditemukan. Diagnosa keperawatan akan memberi gambaran masalah dan status kesehatan masyarakat baik yang nyata (aktual), dan yang mungkin terjadi (potensial) (Mubarak, 2005). Masalah aktual adalah masalah yang diperoleh pada saat pengkajian, sedangkan masalah potensial adalah masalah yang mungkin timbul kemudian. (American Nurses Of Association (ANA). Dengan demikian diagnosis keperawatan adalah suatu pernyataan yang jelas, padat dan pasti tentang status dan masalah kesehatan pasien yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan. Diagnosa keperawatan komunitas akan memberikan gambaran tentang masalah dan status kesehatan masyarakat baik yang nyata dan yang mungkin terjadi. Diagnosa ditegakkan berdasarkan tingkat rekreasi komunitas terhadap stresor yang ada. Selanjutnya dirumuskan dalam tiga komponen, yaitu problem/masalah (P), etiology atau penyebab (E), dan symptom atau manifestasi/data penunjang (S) (Mubarak, 2005). a. Problem : merupakan kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya terjadi. b. Etiologi : penyebab masalah kesehatan atau keperawatan yang dapat memeberikan arah terhadap intervensi keperawatan. c. Symptom : tanda atau gejala yang tampak menunjang masalah yang terjadi. 23

Contoh Diagnosa Keperawatan a. Resiko terjadi penurunan derajat kesehatan pada usia lanjut di RW.1 Ds. Rangunan sehubungan dengan tidak adanya pembinaan pada usia lanjut,tidak adanya wadah pada usia lanjut untuk meningkatkan kesehatan usila, kurangnya informasi tentang kesehtan usia lanjut yang ditandai dengan jumlah usia lanjut : 200 orang, penyakit yang diderita usia lanjut : rematik 52,8%, hipertensi 32,42%, katarak 7%, diabetes mellitus 5,2%, dan lain-lain 3,29% dan usia lanjut yang memeriksakan kesehatannya tidak teratur 45,4% b. Potensi masyarakat RW 002 Ds. Indah Sari dalam meningkatkan kesehatan balita berhubungan dengan tingginya kesadaran ibu terhadap kesehatan balita yang ditunjang keaktifan kader kesehatan dan petugas yang ditandai dengan hampir seluruhnya balita dibawa ke posyandu setiap bulan 91,14%, hampir seluruhnya balita telah mendapat imunisasi lengkap 86,08%, hampir seluruhnya balita memiliki KMS 92,41%, sebagian besar balita dalam garis hijau 71,23%. c. Resiko terjadi peningkatan angka kesakitan pada lansia di RW 004 Ds. Silabulangan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan masyarakat dalam memelihara kesehatan lansia, yang ditandai dengan jumlah lanjut usia 51 orang, lansia yang mengalami keluhan penyakit 70,59%, jenis penyakit yang diderita lansia : asma 5,88%, TB paru 3,92%, hipertensi 27,45%, DM 3,92%, reumatik 31,37%, katarak 1,95%, dan lain-lain 8,33%, upaya lansia untuk mencegah penyakit : non medis 13,88% dan diobati sendiri 8,33%, belum adanya posyandu lansia. d. Anemia ibu hamil di RW 001 Ds. Somon Luntas Kab. Banjar sehubungan dengan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenal kebutuhan gizi ibu selama hamil yang ditandai dengan 35,5% ibu hamil mengeluh pusing, 25% ibu hamil pucat dan lemah, 71,5% menyatakan kebutuhan makanan selama hamil sama dengan saat tidak hamil, jumlah kader yang aktif hanya 5 orang, kader tidak tersebar di semua RT, ada RT yang tidak mau menjadi kader, 60% keluarga mengolah sayur dipotong dulu baru dicuci, 90% ibu hamil tidak mempunyai KMS, 75% ibu hamil tidak memperoleh informasi tentang

24

kebutuhan gizi ibu hamil, dan 20% ibu hamil menyatakan kebutuhan gizinya kurang dari biasanya 3. Perencanaan keperawatan Merupakan penyusunan rencana tindakan asuhan keperawatan kesehatan masyarakat yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien. Langkah-langkah dalam perencanaan keperawatan komunitas mencakup perumusan tujuan, rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan dan kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan (Mubarak, 2005). a. Kriteria perumusan tujuan: 1. Fokus pada masyarakat 2. Jelas dan singkat 3. Dapat diukur dan diobservasi 4. Realistik 5. Ada target waktu 6. Melibatkan peran serta masyarakat b. Langkah rencana tindakan keperawatan: 1. Identifikasi alternatif tindakan keperawatan 2. Tetapkan teknik & prosedur yang akan digunakan 3. Melibatkan peran serta masyarakat dalam penyusunan perencanaan kegiatan : MMD 4. Pertimbangkan fasilitas dan sumber daya masyarakat yang tersedia 5. Tindakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat 6. Mengarah pada tujuan 7. Tindakan yang realistik 8. Disusun berurutan c. Kriteria hasil, digunakan untuk menilai pencapaian tujuan dan bersifat spesifik. Terdapat 2 macam : 1. Kriteria verbal : kriteria hasil untuk sebuah kegiatan KIE 2. Kritria psikomotor : kriteria hasil untuk sebuah tindakan seperti pembentukan kader, penggiatan posyandu dll

25

4.

Pelaksanaan Pelaksanaan merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan

yang telah disusun. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan, perawat kesehatan masyarakat harus bekerjasama dengan anggota tim kesehatan lainya. Dalam hal ini melibatkan pihak Puskesmas, Bidan desa dan anggota masyarakat (Mubarak, 2005). Prinsip yang umum digunakan dalam pelaksanaan atau implementasi pada keperawatan komunitas adalah : a. Inovatif Perawat kesehatan masyarakat harus mempunyai wawasan luas dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi (IPTEK) dan berdasar pada iman dan taqwa (IMTAQ) (Mubarak, 2005). b. Integrated Perawat kesehatan masyarakat harus mampu bekerjasama dengan sesama profesi, tim kesehatan lain, individu, keluarga, kelompok dan masyarakat berdasarkan azas kemitraan (Mubarak, 2005). c. Rasional Perawat kesehatan masyarakat dalam melakukan asuhan keperawatan harus menggunakan pengetahuan secara rasional demi tercapainya rencana program yang telah disusun (Mubarak, 2005). d. Mampu dan mandiri Perawat kesehatan masyarakat diharapkan mempunyai kemampuan dan kemandirian dalam melaksanakan asuhan keperawatan serta kompeten (Mubarak, 2005). e. Memiliki keyakinan Perawat kesehatan masyarakat harus yakin dan percaya atas kemampuannya dan bertindak dengan sikap optimis bahwa asuhan keperawatan yang diberikan akan tercapai. Dalam melaksanakan implementasi yang menjadi fokus adalah : program kesehatan komunitas dengan strategi : komunitas organisasi dan partnership in community (model for nursing partnership) (Mubarak, 2005).

26

Level pencegahan dalam pelaksanaan praktik keperawatan komunitas terdiri atas: a. b. c. Pencegahan Primer Pencegahan Sekunder Pencegahan Tersier Perawat bertanggung jawab dalam melaksanakan tindakan yang telah direncanakan yang bersifat (Efendi, 2009), yaitu: a. b. Bantuan untuk mengatasi masalah gangguan penyakit Mempertahankan kondisi yang seimbang dalam hal ini perilaku hidup sehat dan melaksanakan upaya peningkatan kesehatan c. Mendidik komunitas tentang perilaku sehat untuk mencegah gangguan penyakit d. Advocat komunitas yang sekaligus memfasilitasi terpenuhinya kebutuhan komunitas 5. Evaluasi atau Penilaian Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan antara proses dengan dengan pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan tingkat kemandirian masyarakat dalam perilaku kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan masyarakat komunitas dengan tujuan yang sudah ditentukan atau dirumuskan sebelumnya (Mubarak, 2005). Adapun tindakan dalam melakukan evaluasi adalah: a. b. c. Menilai respon verbal dan nonverbal komunitas setelah dilakukan intervensi Menilai kemajuan oleh komunitas setelah dilakukan intervensi keperawata Mencatat adanya kasus baru yang dirujuk ke rumah sakit Jenis evaluasi, antara lain: a. Evaluasi Formatif: mencerminkan pengamatan perawat dan analisa respon pasien segera setelah dilakukan intervensi, metode yang digunakan dengan menggunakan Catatan Perkembangan b. Evaluasi sumatif: rekapitulasi dari hasil intervensi keperawatan yang telah diberikan berupa narasi, seperti resume pasien. 27

c. d.

Evaluasi Struktur : evaluasi terkait persiapan Evaluasi Proses : pelaksanaan (jumlah peserta yang hadir ... Orang, 15 % dari peserta aktif bertanya, penyuluhan dilaksanakan di tempat.....)

e.

Evaluasi hasil : dari tujuan yang ditetapkan Komponen penting dalam fokus evaluasi adalah:

a. b. c. b. c.

Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan pelaksanaan Perkembangan atau kemajuan proses Efisiensi biaya Efektifitas kerja Dampak : apakah status kesehatan meningkat/menurun, dalam jangka waktu berapa lama? Tujuan akhir perawatan komunitas adalah kemandirian keluarga yang

terkait dengan lima tugas kesehatan, yaitu: mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan tindakan kesehatan, merawat anggota keluarga,

menciptakan lingkungan yang dapat mendukung upaya peningkatan kesehatan keluarga serta memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pemecahan masalah keperawatan melalui proses asuhan keperawatan komunitas.

28