Anda di halaman 1dari 3

Praktik Bidah Hasanah yang Dilakukan Sahabat pada Zaman Nabi SAW Ada beberapa kebiasan yang dilakukan

para sahabat berdasarkan ijtihad mereka sen diri, dan kebiasaan itu mendapat sambutan baik dari Rasulullah SAW. Bahkan pelak unya diberi kabar gembira akan masuk surga, mendapatkan rida Allah, diangkat der ajatnya oleh Allah, atau dibukakan pintu-pintu langit untuknya. Misalnya, sebagaimana digambarkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, perbuatan sah abat Bilal yang selalu melakukan shalat dua rakaat setelah bersuci. Perbuatan in i disetujui oleh Rasulullah SAW dan pelakunya diberi kabar gembira sebagai orang -orang yang lebih dahulu masuk surga. Contoh lain adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang sahabat Khu baib yang melakukan shalat dua rakaat sebelum beliau dihukum mati oleh kaum kafi r Quraisy. Kemudian tradisi ini disetujui oleh Rasulullah SAW setahun setelah me ninggalnya. Selain itu, sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Rifa'ah ibn Ra fi' bahwa seorang sahabat berkata: "Rabbana lakal hamdu" (Wahai Tuhanku, untuk-M u segala puja-puji), setelah bangkit dari ruku' dan berkata "Sami'allahu liman h amidah" (Semoga Allah mendengar siapapun yang memujiNya). Maka sahabat tersebut d iberi kabar gembira oleh Rasulullah SAW. Demikian juga, sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Mushannaf Abdur Razaq dan Im am An-Nasa'i dari Ibn Umar bahwa seorang sahabat memasuki masjid di saat ada sha lat jamaah. Ketika dia bergabung ke dalam shaf orang yang shalat, sahabat itu be rkata: "Allahu Akbar kabira wal hamdulillah katsira wa subhanallahi bukratan wa ashilan" (Allah Mahabesar sebesar-besarnya, dan segala puji hanya bagi Allah seb anyak-banyaknya, dan Mahasuci Allah di waktu pagi dan petang). Maka Rasulullah S AW memberikan kabar gembira kepada sahabat tersebut bahwa pintupintu langit telah dibukakan untuknya. Hadis lain yang diriwayatkan oleh At- Tirmidzi bahwa Rifa'ah ibn Rafi' bersin sa at shalat, kemudian berkata: "Alhamdulillahi katsiran thayyiban mubarakan 'alayh i kama yuhibbu rabbuna wa yardha" (Segala puji bagi Allah, sebagaimana yang dise nangi dan diridai-Nya). Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda: "Ada lebih d ari tiga puluh malaikat berlomba-lomba, siapa di antara mereka yang beruntung di tugaskan untuk mengangkat perkataannya itu ke langit." Demikian juga hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam An-Nasa'i dari b eberapa sahabat yang duduk berzikir kepada Allah. Mereka mengungkapkan puji-puji an sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah karena diberi hidayah masuk Islam, sebagaimana mereka dianugerahi nikmat yang sangat besar berupa kebersamaan denga n Rasulullah SAW. Melihat tindakan mereka, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhny a Jibril telah memberitahuku bahwa Allah sekarang sedang berbangga-bangga dengan mereka di hadapan para malaikat." Dari tindakan Rasulullah SAW yang menerima perbuatan para sahabat tersebut, kita bisa menarik banyak pelajaran sebagai berikut: 1. Rasulullah SAW tidak akan menolak tindakan yang dibenarkan syariat selama par a pelakunya berbuat sesuai dengan pranata so sial yang berlaku dan membawa manfa at umum. Dengan demikian, perbuatan tersebut bisa dianggap sebagai bentuktaqarru b(mendekatkan diri) kepada Allah Swt yang bisa dilakukan kapan saja, baik di mala m maupun siang. Perbuatan ini tidak bisa disebut sebagai perbuatan yang makruh, apalagi bid'ah yang sesat. 2. Orang Islam tidak dipersoalkan karena perbuatan ibadah yang bersifat mutlak, yang tidak ditentukan waktunya dan tempatnya oleh syariat. Terbukti bahwa Rasulu 1lah SAW telah membolehkan Bilal untuk melakukan shalat setiap selesai bersuci,

sebagaimana menerlma perbuatan Khubaib yang shalat dua rakaat sebelum menjalani hukuman mati di tangan kaum kafir Quraisy. 3. Tindakan Nabi SAW yang membolehkan bacaan doa-doa waktu shalat, dan redaksiny a dibuat sendiri oleh para shahabat, atau juga tindakan beliau yang membolehkan dikhususkannya bacaan surat-surat tertentu yang tidak secara rutin dibaca oleh b eliau pada waktu shalat, tahajjud, juga doa-doa tambahan lain. Itu menunjukkan ba hwa semua perbuatan tersebut bukanlah bid'ah menurut syariat. Juga tidak bisa di sebut sebagai bid'ah jika ada yang berdoa pada waktu-waktu yangmustajabah, sepert i setelah shalat lima waktu, setelah adzan, setelah merapatkan barisan (dalam pe rang), saat turunnya hujan, dan waktu-waktu mustajabah lainnya. Begitu juga doadoa dan puji-pujian yang disusun oleh para ulama dan orang orang shalih tidak. bis a disebut sebagai bid'ah. Begitu juga zikir-zikir yang kemudian dibaca secara ru tin selama isinya masih bisa dibenarkan oleh syariat. 4. Dari persetujuan Nabi SAW terhadap tindakan beberapa sahabat yang berkumpul d i masjid untuk berzikir dan menyukuri nikmat dan kebaikan Allah Swt serta untuk m embaca Al-Qur'an, dapat disimpulkan bahwa tindakan mereka mendapatkan legitimasi syariat, baik yang dilakukan dengan suara pelan ataupun dengan suara keras tanp a ada perubahan makna dan gangguan. Dan selama tindakan tersebut bersesuaian den gan kebutuhan umum dan tidak ada larangan syariat yang ditegaskan terhadapnya, m aka perbuatan tersebut termasuk bentuk mendekatkan diri kepada Allah, dan bukan termasuk bid'ah menurut syariat. Praktik Bid'ah Hasanah para Sahabat Setelah Rasulullah Wafat Para sahabat sering melakukan perbuatan yang bisa digolongkan ke dalam bid'ah ha sanah atau perbuatan baru yang terpuji yang sesuai dengan cakupan sabda Rasulull ah SAW: Siapa yang memberikan contoh perbuatan baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mere ka sedikit pun. (HR Muslim) Karena itu, apa yang dilakukan para sahabat memiliki landasan hukum dalam syaria t. Di antara bid'ah terpuji itu adalah: a. Apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab ketika mengumpulkan semua umat Islam untuk mendirikan shalat tarawih berjamaah. Tatkala Sayyidina Umar mel ihat orang-orang itu berkumpul untuk shalat tarawih berjamaah, dia berkata: "Seb aik-baik bid'ah adalah ini". Ibn Rajar al- Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan pernyataan Sayyidina Umar ibn Khattab "Sebaik-baik bid'ah adalah ini" mengatakan: "Pada mulanya, bid'ah dipahami sebagai perbuatan yang tidak memiliki contoh sebe lumnya. Dalam pengertian syar'i, bid'ah adalah lawan kata dari sunnah. Oleh kare na itu, bid'ah itu tercela. Padahal sebenarnya, jika bid'ah itu sesuai dengan sy ariat maka ia menjadi bid'ah yang terpuji. Sebaliknya, jika bid?ah itu bertentan gan dengan syariat, maka ia tercela. Sedangkan jika tidak termasuk ke dalam itu semua, maka hukumnya adalah mubah: boleh-boleh saja dikerjakan. Singkat kata, hu kum bid'ah terbagi sesuai dengan lima hukum yang terdapat dalam Islam". Ijtihad Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang ingin menyamai pahala shalat Tarawih Ah li Makkah yang menyelingi setiap empat raka at dengan ibadah Thawaf. Lalu Umar bin Abdul Aziz menambah raka at shalat Tarawih menjadi 36 raka at bagi oran g di luar kota Makkah agar menyamahi pahala Tarawih ahli makkah

b. Pembukuan Al-Qur'an pada masa Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq atas usul Sayyi dina Umar ibn Khattab yang kisahnya sangat terkenal. Dengan demikian, pendapat orang yang mengatakan bahwa segala perbuatan yang tida k pernah dilakukan oleh Rasulullah adalah haram merupakan pendapat yang keliru. Karena di antara perbuatan-perbuatan tersebut ada yang jelek secara syariat dan dihukumi sebagai perbuatan yang diharamkan atau dibenci (makruh). Ada juga yang baik menurut agama dan hukumnya menjadi wajib atau sunat. Jika buk an demikian, niscaya apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar sebagaimana yang telah dituliskan di atas merupakan perbuatan haram. Dengan demikian, kita bisa mengetahui letak kesalahan pendapat tersebut. c. Sayyidina Utsman ibn Affan menambah adzan Imam Bukhari meriwatkan kisah tersebut dalam n tersebut karena umat Islam semakin banyak. emerintahkan untuk mengumandangkan iqamat di an yang berada di pasar Madinah. untuk hari Jumat menjadi dua kali. kitabShahih-nya bahwa penambahan adza Selain itu, Sayyidina Utsman juga m atas az-Zawra', yaitu sebuah bangun

Jika demikian, apakah bisa dibenarkan kita mengatakan bahwa Sayyidina Utsman ibn Affan yang melakukan hal tersebut atas persetujuan seluruh sahabat sebagai oran g yang berbuat bid'ah dan sesat? Apakah para sahabat yang menyetujuinya juga dian ggap pelaku bid'ah dan sesat? Di antara contoh bid'ah terpuji adalah mendirikan shalat tahajud berjamaah pada setiap malam selama bulan Ramadhan di Mekkah dan Madinah, mengkhatamkan Al-Qur'a n dalam shalat tarawih dan lain-lain. Semua perbuatan itu bisa dianalogikan deng an peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dengan syarat semua perbuatan itu tidak d iboncengi perbuatan-perbuatan yang diharamkan atau pun dilarang oleh agama. Seba liknya, perbuatan itu harus mengandung perkara-perkara baik seperti mengingat Al lah dan hal-hal mubah. Jika kita menerima pendapat orang-orang yang menganggap semua bid'ah adalah sesa t, seharusnya kita juga konsekuen dengan tidak menerima pembukuan Al-Qur'an dala m satu mushaf, tidak melaksanakan shalat tarawih berjamaah dan mengharamkan adza n dua kali pada hari Jumat serta menganggap semua sahabat tersebut sebagai orang -orang yang berbuat bid'ah dan sesat. Dr. Oemar Abdallah Kemel Ulama Mesir kelahiran Makkah al-Mukarromah Dari karyanya "Kalimatun Hadi ah fil Bid ah"yang diterjemahkan oleh PP Lakpesdam NU d engan "Kenapa Takut Bid ah?"