Anda di halaman 1dari 63

1

Semangat Muhammad Akbar S.Farm untuk APOTEKER nya Setiap Usaha yang Terbaik akan mendapatkan hasil yang Terbaik pula ^_^

Bahan Ujian Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) Fakultas Farmasi UNJANI Tahun 2014 Ang. XV

KISI-KISI materi Ujian PKPA Apotek 1. Aspek Administrasi dan Perundang-undangan. a. Pendirian Apotek Sebelum melakukan Pendirian Apotek, lebih baik melakukan Studi Kelayakan, adanya penapisan awal. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

1027/Menkes/SK/IX/2004, apotek adalah tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian, penyaluran sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Sediaan farmasi yang dimaksud adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik. Sebelum suatu apotek didirikan harus terlebih dahulu dilakukan studi kelayakan. Studi kelayakan adalah suatu kajian yang dilakukan secara menyeluruh mengenai suatu usaha dalam proses pengambilan keputusan yang mengandung resiko yang belum jelas. Studi kelayakan suatu apotek hanya berfungsi sebagai pedoman atau landasan pelaksanaan pekerjaan, karena dibuat berdasarkan data-data dari berbagai sumber yang dianalisis dari banyak aspek. Studi Kelayakan (Feasibility Study) adalah Suatu metode penjajagan layaktidaknya gagasan/idea suatu usaha/proyek dilakukan.

Apakah bila ada FS menjamin keberhasilan (TIDAK) karena fungsi FS hanya sebagai pedoman yang dapat di percaya. Tingkat keberhasilan pendirian sebuah apotek dapat dipengaruhi oleh: 1. Kemampuan sumber daya internal (kecakapan manajemen, kualitas pelayanan, produk yang dijual, dan kualitas karyawan). 2. Lingkungan eksternal yang tidak dapat dipastikan (pertumbuhan pasar, pesaing, pemasok, dan perubahan peraturan).

Aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian studi kelayakan terdiri dari analisis manajemen, analisis pasar, analisis teknis dan analisis keuangan. 1. Analisis Manajemen Penilaian terhadap aspek manajemen meliputi: - Strategi manajemen mengenai visi, misi, program kerja dan standar prosedur operasional suatu kegiatan. - Bentuk dan tata letak bangunan. - Jenis produk yang akan dijual. 2. Analisis Pasar Dalam menilai aspek pasar hal yang harus diperhatikan adalah potensi pasar yaitu sejumlah pembeli yang memiliki uang dan keinginan untuk membelanjakannya. Kemudian adalah target pasar yaitu jenis konsumen tertentu yang akan dilayani atau yang akan menjadi sasaran pemasaran. Dalam suatu studi kelayakan, pemilihan target pasar akan mempengaruhi penyiapan pemilihan produk, pemilihan lokasi apotek, desain interior dan exterior gedung, penampilan karyawan dan kualitas pelayanan (Umar, 2004) Untuk mengembangkan efektivitas biaya apotek, maka apotek sebaiknya

mengelompokkan pelanggan dalam beberapa segmen. Pendekatan dalam segmentasi pasar ini antara lain adalah segmentasi geografis, segmentasi demografis dan segmentasi gaya hidup. Kemudian adalah penentuan target (targetting), yaitu menetapkan segmen pasar tertentu sebagai sasaran program pemasaran apotek. Terdapat dua macam upaya penentuan target yaitu target pasar utama dan target pasar sekunder. Apotek yang telah memutuskan segmen tertentu yang akan dilayani, perlu menindaklanjuti dengan menetapkan bagaimana seharusnya apotek tersebut

dipersepsikan di benak pelanggannya. Penentuan posisi (positioning) adalah membentuk citra apotek tersebut (Utami, 2006). 3. Analisis Teknis Hal penting yang menjadi pertimbangan pada penilaian aspek teknis antara lain adalah mengenai lokasi dan lingkungan sekitarnya yang meliputi jarak lokasi dengan supplier harus relatif dekat dan mudah dicapai, jarak lokasi dengan domisili konsumennya harus relatif dekat dan mudah dicapai dengan berbagai macam jenis alat transportasi, bentuk

dan luas lahan (bangunan), kenyamanan dan keamanan daerah tersebut, serta prospek pertumbuhan pasarnya harus relatif cepat dan besar.

4. Analisis Keuangan Pertimbangan dalam menilai aspek keuangan meliputi: a. Modal minimal Modal minimal adalah modal minimum yang diperlukan untuk pengadaan sarana dan prasarana sebagai syarat untuk diperolehnya izin apotek. Modal minimal digunakan untuk tujuan pengadaan aktiva tetap, aktiva lancar, biaya awal yang dibutuhkan untuk pendirian dan kas yang berupa uang kontan baik di tangan maupun di bank dalam bentuk rekening yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan. b. Sumber modal, dapat diperoleh dari: 1. Modal sendiri yaitu modal yang tidak mempunyai jangka waktu pengembalian, misalnya modal milik apoteker sendiri atau keluarga. 2. Modal kredit yaitu modal yang diperoleh dari pembeli kredit (kreditur) kepada penerima kreditur (debitur). Dalam hal ini ada hubungan kepercayaan antara kedua pihak bahwa dimasa mendatang debitur akan sanggup memenuhi segala sesuatu sesuai perjanjian. Sumber-sumber modal kredit ini antara lain adalah bank, teman sejawat, dan PBF.

Berdasarkan pada penggunaannya, modal dapat dibagi atas: 1. Modal tetap (aktiva tetap), yaitu modal yang keadaannya relatif tetap misalnya gedung, tanah, mesin-mesin, kendaraan. 2. Modal lancar (aktiva lancar) yaitu modal yang sewaktu-waktu dapat berubah misalnya uang tunai (kas/bank), piutang, barang dagangan, uang muka (Umar, 2004). Perubahan tata cara dalam mengurus Surat Izin Apotek ditetapkan oleh Kepmenkes RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan Permenkes RI No. 922/Menkes/Per/X/1992 mengenai Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Dengan demikian, maka tata cara mengurus izin apotek saat ini adalah: ? Yang berwenang memberi izin SIA adalah Kadinkes Kabupaten/ Kota. ? Yang berhak memperoleh izin adalah Apoteker.

Persyaratan Pendirian Apotek : Berdasarkan Keputusan Menteri tentang Kesehatan Perubahan Atas Republik Peraturan Indonesia Menteri

No.1332/MENKES/SK1X/2002

Kesehatan Republik Indonesia No. 992/MENKES/PER/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, pada Pasal 1 dinyatakan bahwa Apoteker Pengelola Apotek adalah Apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA). Untuk Mendapatkan SIA harus ada : 1. Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) Untuk memperoleh SIPA sesuai dengan PP RI No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, seorang Apoteker harus memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA). Dalam permenkes no.889/Menkes/per/v/2011 pasal 21 tata cara memperoleh SIPA (dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota setempat). a. Fotocopy STRA yang telah dilegalisir oleh KFN. b. Surat Pernyataan mempunyai tempat praktik profesi atau surat keterangan dari pimpinan fasilitas pelayanan kefarmasian. c. Surat Rekomendasi dari Organisasi Profesi (Pengurus Cabang IAI) d. pas photo berwarna ukuran 4x6 dan 2x3 cm sebanyak 2 lembar. NB : saat permohonan masuk, paling lama 20 hari harus sudah terbit.

SIPA dicabut : 1. atas permintaan yang bersangkutan 2. STRA tidak berlaku lagi 3. yang bersangkutan tidak bekerja pada tempat yang tercantum dalam surat izin. 4. yang bersangkutan tidak sehat secara fisik dan mental 5. melakukan pelanggaran disiplin tenaga kefarmasiaan berdasarkan rekomendasi KFN 6. melakukan pelanggaran hukum dibidang kefarmasian yang dibuktikan dengan putusan pengadilan.

Dalam permenkes no.889/Menkes/per/v/2011 (Registrasi, Izin praktik, dan izin kerja tenaga kefarmasian) pasal 3 ayat 1 STRA dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan. Ayat 2 menteri mendelegasikan pemberian (STRA kepada KFN (Komite Farmasi Nasional)) dan (STRTTK kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi). Pasal 6 (STRA berlaku 5 tahun). Dalam permenkes no.889/Menkes/per/v/2011 STRA ini dapat diperoleh jika seorang Apoteker memenuhi persyaratan sebagai berikut : i) Memiliki ijazah Apoteker. (Dikeluarkan Universitas)

ii) Memiliki sertifikat kompetensi profesi. (pasal 9 Dikeluarkan oleh organisasi profesi) pasal 10 ayat 2 permohonan dilakukan 1 bulan sebelum pelantikan. Pasal 11 ayat 1 Uji kompetensi dilakukan oleh organisasi profesi melalui pembobotan Satuan Kredit Profesi (SKP). Dan Ayat 2 Pedoman

penyelenggaraan uji kompetensi ditetapkan oleh KFN iii) Memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji Apoteker. iv) memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang mempunyai surat izin praktek, dan v) Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi. Tambahan untuk permohonan pas photo berwarna ukuran 4x6 sebanyak 2 lembar dan 2x3 cm sebanyak 2 lembar. Registrasi ulang dilakukan minimal 1 bulan sebelum STRA habis masa berlakunya.

2. Lokasi dan tempat Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

922/MENKES/PER/X/1993, lokasi apotek tidak lagi ditentukan harus memiliki jarak minimal dari apotek lain dan sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi, namun sebaiknya harus mempertimbangkan segi penyebaran, pemerataan pelayanan, jumlah penduduk, jumlah dokter, sarana pelayanan kesehatan, lingkungan yang higienis, dan faktor-faktor lainnya. Apotek berlokasi pada daerah yang dengan mudah dikenali oleh masyarakat. Pada halaman apotek terdapat papan petunjuk yang dengan jelas

tertulis kata APOTEK. Apotek harus dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat.

3. Bangunan dan kelengkapannya Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 287/MENKES/SKN/1981 tentang persyaratan luas apotek minimal 50 m2. Selanjutnya pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

922/MENKES/PER/X/1993 luas apotek tidak diatur lagi, namun harus memenuhi persyaratan teknis, sehingga kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi serta kegiatan pemeliharaan perbekalan farmasi dapat terjamin. Bangunan apotek sekurangkurangnya terdiri dari ruang tunggu, ruang peracikan, ruang penyerahan resep, ruang administrasi, dan ruang kerja apoteker serta ruang tempat pencucian alat dan kamar kecil. Bangunan apotek harus dilengkapi dengan sumber air yang memenuhi syarat kesehatan, penerangan yang memadai, alat pemadam kebakaran, ventilasi, dan sanitasi yang baik serta papan nama Apotek. 4. Perlengkapan Apotek Perlengkapan yang harus dimiliki oleh apotek : i) Alat pembuatan, pengelolaan, dan peracikan obat seperti timbangan, mortir, gelas piala, dan sebagainya. ii) Wadah untuk bahan pengemas dan bahan pembungkus. iii) Perlengkapan dan tempat penyimpanan perbekalan farmasi seperti lemari obat dan lemari pendingin. iv) Alat administrasi seperti blanko pemesanan obat, salinan resep, kartu stok obat, faktur, nota penjualan, alat tulis, dan sebagainya. v) Alat dan perlengkapan laboratorium untuk pengujian sederhana. vi) Pustaka, seperti Farmakope edisi terbaru dan kumpulan peraturan perundangundangan serta buku-buku penunjang lain yang berhubungan dengan apotek. 5. Modal (Dana)

Surat Ijin Apotek (SIA) Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, Surat Izin Apotek (SIA) adalah surat izin yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker atau Apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana untuk menyelenggarakan apotek di suatu tempat tertentu. Izin mendirikan apotek diberikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, kemudian Menteri melimpahkan wewenang pemberian izin apotek kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dimana Kepala Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten wajib melaporkan pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotek sekali setahun kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Ketentuan dan Tata Cara Perizinan Apotek(2) Ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/MENKES/SK/X/2002 adalah sebagai berikut : i. Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota (Form APT-1). ii. Dengan menggunakan Form APT-2, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten /Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek untuk melakukan kegiatan. iii. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan basil pemeriksaan setempat (Form APT-3). iv. Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam poin 2 dan 3 tidak dilaksanakan, Apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi (Form APT-4). v. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud poin 3, atau pernyataan dimaksud poin 4 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan Surat Izin Apotek (Form APT-5).

vi.

Dalam hal hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM dimaksud poin 3 masih belum memenuhi syarat Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan (Form APT-6).

vii.

Terhadap Surat Penundaan sebagaimana dimaksud dalam poin 6, Apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambatlambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal Surat Penundaan.

Terhadap permohonan izin apotek yang ternyata tidak memenuhi persyaratan atau lokasi apotek tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua belas) hari kerja wajib mengeluarkan Surat Penolakan disertai dengan alasan-alasannya (Form APT-7). 2.3.2 Pencabutan Izin Apotek(2) Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mencabut surat izin apotek apabila : i. Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan persyaratan Apoteker Penanggung Jawab, dan atau ii. Apoteker tidak memenuhi kewajiban dalam hal menyediakan, menyimpan dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu baik dan yang keabsahannya terjamin dan mengganti obat generik yang ditulis didalam resep dengan obat paten, dan atau iii. Apoteker Penanggung Jawab berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2 (dua) tahun secara terus menerus, dan atau iv. Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan atau v. Surat izin kerja Apoteker Penanggung Jawab dicabut, dan atau

vi.

Pemilik sarana apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundang- undangan di bidang obat, dan atau

vii.

Apotek tidak lagi memenuhi persyaratan mengenai tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain, sarana dan kegiatan pelayanan apotek.

Kepala

Dinas

Kesehatan

Kota/Kabupaten

sebelum

melakukan

pencabutan,

berkoordinasi dengan Kepala Balai POM setempat. Pelaksanaan pencabutan izin apotek karena apotek tidak lagi memenuhi persyaratan mengenai tempat, perlengkapan, sarana, dan kegiatan pelayanan apotek, dilakukan setelah dikeluarkan : i. Peringatan secara tertulis kepada Apoteker Penanggung Jawab sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 (dua) bulan (Form APT-12). ii. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 (enam) bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan apotek (Form APT-13). Pembekuan izin apotek dapat dicairkan kembali apabila apotek telah membuktikan memenuhi seluruh persyaratan sesuai dengan ketentuan dalam peraturan (Form APT14) dan pencairan izin apotek dilakukan setelah menerima laporan pemeriksaan dan Tim Pemeriksaan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Keputusan pencabutan Surat Izin Apotek oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota disampaikan langsung kepada yang bersangkutan (Form APT-15), dan tembusan disampaikan kepada Menteri dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi setempat serta Kepala Balai POM setempat. Apabila surat izin apotek dicabut, Apoteker Penanggung Jawab wajib mengamankan perbekalan farmasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengamanan wajib mengikuti tata cara sebagai berikut : i. Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan narkotika, psikotropika, obat keras tertentu dan obat lainnya serta seluruh resep yang tersedia di apotek. ii. Narkotika, psikotropika dan resep harus dimasukkan dalam tempat yang tertutup dan terkunci. iii. Apoteker Penanggung Jawab wajib melaporkan secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, tentang penghentian kegiatan disertai laporan inventarisasi.

10

NB: Pembekuan Izin Jika ada kesalahan (Per Ka BPOM no.40) 1. peringatan (P) 2. Peringatan Keras (PK) 3. Pemberhentian Operasional kegiatan (POK) Jenis kesalahan C : Critical = tidak termonitornya suhu (P) CA : Critcal Absolut = apoteker tidak di apotek m : Minor (P) M : Mayor

b. Pelayanan Di Apotek i. Resep i) Skrining resep Apoteker melakukan skrining resep meliputi : (i) Persyaratan Administratif : Nama, SIP, dan alamat dokter Tanggal penulisan resep Tanda tangan/paraf dokter penulis resep Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien nama obat , potensi, dosis, dan jumlah yang minta Cara pemakaian yang jelas Informasi lainnya (ii) Kesesuaian farmasetik : bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian. (iii) Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain). Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.

11

ii) Penyiapan obat (i) Peracikan Merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas, dan memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat harus dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis, dan jumlah obat serta penulisan etiket yang benar. (ii) Etiket Etiket harus jelas dan dapat dibaca. (iii) Kemasan obat yang diserahkan Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya. (iv) Penyerahan obat Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien. (v) Informasi obat Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan

mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpadnan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi (iv) Konseling Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi,

pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan obat yang salah. Untuk pasien penyakit tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya, Apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan. (vii) Monitoring penggunaan obat

12

Setelah penyerahan obat kepada pasien, Apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya. ii. Promosi dan Edukasi Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, Apoteker harus memberikan

edukasi apabila masyarakat ingin mengobati diri sendiri (swamedikasi) untuk penyakit ringan dengan memilihkan obat yang sesuai dan Apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet atau brosur, poster, penyuluhan, dan lain-lain. iii. Pelayanan Residensial (Home Care) Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktivitas ini Apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication record).

2. Aspek Manajerial A. Administrasi pembukuan 1. Administrasi pembukuan di apotek meliputi: a. Administrasi umum Pencatatan, pengarsipan, pelaporan narkotika, psikotropika dan dokumentasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b. Administrasi pelayanan Pengarsipan resep, pengarsipan catatan pengobatan pasien, pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat. (Kepmenkes RI No. 1027/MENKES/SK/IX/2004). c. Laporan Keuangan Laporan keuangan adalah suatu proses pencatatan, pengukuran, dan

pengkomunikasian informasi keuangan yang dibuat dalam berbagai bentuk antara lain berupa laporan laba rugi, aliran kas (cash flow) dan neraca. Laporan laba rugi adalah laporan akuntansi keuangan yang menggambarkan tentang jumlah penjualan (sales), biaya variable (variable cost), biaya tetap (fix cost) dan laba (earning).

13

Laporan aliran kas dibuat untuk menggambarkan tentang perkiraan rencana jumlah penerimaan dan jumlah pengeluaran uang kas apotek selama periode waktu tertentu. Unsur-unsur yang terdapat pada laporan aliran kas adalah saldo awal, penerimaan kas dari hasil operasi dan investasi, pengeluaran kas dari kegiatan operasi dan investasi, dan saldo akhir. Neraca adalah laporan akuntansi keuangan yang menggambarkan tentang kondisi harta (aktiva), hutang (pasiva) dan modal sendiri (ekuity) yang dimiliki apotek pada tanggal tertentu. 2. Pengelolaan Resep atau salinan resep. Apotek wajib menyimpan resep minimal selama 3 tahun dan dapat memberikan informasi kembali tentang resep tersebut apabila konsumen atau dokter penulis resep tersebut memerlukannya (Umar, 2004). Salinan Resep / Copy Resep / Turunan Resep Copy Resep adalah salinan tertulis dari suatu resep. Istilah lain dari copy resep adalah apographatau Exemplum Salinan resep adalah salinan yang dibuat oleh apotek, selain memuat semua keterangan yang terdapat dalam resep aslinya juga harus memuat: 1. Nama dan alamat apotek 2. Nama dan nomor Izin Apoteker Pengelola Apotek ( APA ) 3. Tanda tangan atau paraf Apoteker Pengelola Apotek ( APA ) 4. Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan, tanda nedet (nedetur) untuk obat yang belum diserahkan, pada resep dengan tanda ITER ..X diberi tanda detur orig atau detur X 5. Nomor resep dan tanggal pembuatan ( Tim, Seni Menulis Resep Teori & Praktek, 2007)

3. Laporan Pemakaian Narkotika / Psikotropika Apotek membuat laporan pemakaian narkotik dan psikotropik berdasarkan dokumen penerimaan dan pengeluarannya setiap bulan. Untuk obat-obat golongan narkotika, pelaporan dilakukan sekali dalam sebulan, selambat-lambatnya tanggal 10 setiap bulannya. Sedangkan untuk obat-obat psikotropika, pelaporannya dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu tiap 6 bulan. Laporan-laporan ini

14

ditandatangani oleh APA lalu diberi stempel apotek, difoto kopi rangkap 4, 1 lembar untuk pertinggal. Laporan ini ditujukan kepada: a. Kepala Kantor Dinas Kesehatan Kota b. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi c. Kepala Balai Besar POM

b. Pengelolaan Perbekalan Farmasi, Obat wajib Apotik (OWA) obat keras, obat psikotropika, narkotika, Obat Bebas (OTC) dan perbekalan farmasi seperti : Pengelolaan persediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya dilakukan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku. 1) Perencanaan pengadaan Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi perlu diperhatikan: a. Pola penyakit. b. Kemampuan masyarakat. c. Budaya masyarakat (Kepmenkes No. 1027/MENKES/SK/IX/2004). Perencanaan pengadaan memberi gambaran pada bagian pembelian dan perencana mengenai berapa banyak uang yang harus dihabiskan pada beberapa bagian dari kategori barang dagangan dalam setiap bulannya sehingga prediksi penjualan dan prediksi objek keuangan lain dapat terpenuhi. Bagian perencanaan pengadaan membagi seluruh rencana keuangan ke dalam berapa banyak item yang dibeli dan bagaimana sistem yang digunakan untuk perencanaan barang dagangan dan keberagamannya (Utami, 2006).

Faktor-faktor yang harus diperhatikan pada pembelian barang yaitu: a. Kondisi keuangan Kondisi likuiditas keuangan yang baik, selalu tepat waktu membayar hutang, memberikan peluang untuk memperoleh diskon yang lebih besar. b. Jenis sediaan farmasi yang dibutuhkan. Dalam menentukan jenis sediaan farmasi yang akan dibeli apotek, harus berdasarkan data yang dibutuhkan oleh konsumen. Data ethical dapat diperoleh dari resep-resep yang masuk ke apotek, sedangkan data OTC dapat

15

didasarkan pada kondisi pemukiman di sekitar lokasi apotek dan obat-obat bebas yang sering diiklankan di media elektronik. c. Untuk menentukan jumlah yang harus dibeli. Ditentukan berdasarkan data historis jumlah sediaan farmasi yang dibutuhkan, kebutuhan apotek setiap bulan, kondisi diskon, dan ukuran gudang. d. Jarak apotek dengan pemasok. Jarak apotek yang jauh dari supplier, lamanya waktu pengiriman dan resiko kehabisan barang dapat dijadikan dasar dalam menentukan jumlah pembelian. e. Kondisi sosial politik Kondisi sosial politik yang tidak stabil dapat menyebabkan turunnya nilai uang, oleh karena itu membeli dalam jumlah besar dapat dipertimbangkan. f. Kondisi gudang Pembelian barang harus disesuaikan dengan kapasitas gudang dan sarana tempat penyimpanan obat seperti lemari pendingin. g. Tanggal daluarsa Batas tanggal daluarsa yang pendek memiliki resiko kerugian barang rusak yang tinggi. Oleh sebab itu harus ada garansi dari supplier tentang batas maksimal daluarsa (paling lambat) daluarsa, misalnya paling lambat 6 bulan sebelum batas tanggal daluarsa, dapat ditukar dengan obat yang baru (Umar, 2004).

2) Cara Pemesanan/pengadaan Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan farmasi harus melalui jalur resmi (Kepmenkes No. 1027/MENKES/SK/IX/2004). Pada saat menerima barang, petugas menerima dan memeriksa fisik barang dari supplier sesuai dengan Surat Pesanan dan faktur barang. Kemudian membuat tanda terima barang di faktur (stempel dan tanda tangan) berdasarkan fisik barang yang diterima. Petugas pembelian memeriksa jumlah, jenis, harga dan diskon serta masa pembayaran hasil negosiasi dengan supplier. Lalu mengirimkan seluruh faktur pembelian barang yang telah diperiksa ke fungsi Tata Usaha (Umar,2004). 3) Penyimpanan/pergudangan

16

Obat / bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru, wadah sekurang-kurangnya memuat nomor batch dan tanggal daluarsa. Semua obat dan bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai, layak dan menjamin kestabilan obat/bahan obat tersebut. 4) Penjualan Penjualan atau pengeluaran obat memakai sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expire First Out) (Kepmenkes No. 1027/MENKES/SK/IX/2004). Desain apotek yang baik akan menarik keinginan konsumen untuk mengetahui lebih dalam segala sesuatu yang ditawarkan oleh apotek tersebut. Suasana apotek dapat dibangun melalui sistem pencahayaan, pengaturan tata letak, dan penataan atau pengaturan barang dagangan yang baik yang akan menarik pelanggan (Utami, 2006). 5) Kantor Inventori Tata cara penataan perbekalan farmasi (obat) di apotek dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu: a. Di ruang peracikan atau penyiapan obat (ethical counter) Dalam menata perbekalan farmasi di ethical counter perlu diperhatikan peraturan yang berlaku yaitu obat-obat golongan narkotika dan psikotropika harus dipisahkan dan disimpan pada lemari tersendiri, sedangkan untuk obat ethical lainnya disimpan dalam lemari yang didesain khusus sehingga dapat memberikan kemudahan dan kecepatan kepada petugas dalam menyiapkan obat yang dibutuhkan konsumen. b. Di ruang penjualan obat bebas (OTC counter) Dalam menata perbekalan farmasi di OTC counter yang perlu diperhatikan antara lain adalah estetika yaitu seni keindahan dalam menata dan mendesain rak atau lemari obat bebas, bebas terbatas (OTC) agar dapat menimbulkan rasa ingin tahu dan membeli bagi setiap konsumen yang datang ke apotek. Lay out juga harus diperhatikan yaitu tata letak, susunan barang yang dapat memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi konsumen dalam memperoleh obat yang dibutuhkan (Umar, 2004).

17

6) Pengelolaan Obat Rusak dan Kadaluarsa Obat rusak atau kadaluarsa dapat dimusnahkan dengan cara: membuat berita yang ditandatangani oleh saksi dari pemerintah (balai POM atau Dinkes) dan dilaporkan kepada Direktorat Jenderal pengawasan Obat dan Makanan dengan tembusan kepala Dinas Kesehatan Dati II (Umar, 2004). 7) Pengelolaan Sumber Daya Manusia Sesuai ketentuan perundangan yang berlaku Apotek harus dikelola oleh seorang apoteker yang profesional. Dalam pengelolaan apotek, apoteker senantiasa harus memiliki kemampuan menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik, mengambil keputusan yang tepat, kemampuan berkomunikasi antar profesi, menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi multidisipliner, kemampuan mengelola SDM secara efektif, selalu belajar sepanjang karier, dan membantu memberi pendidikan dan memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan.

3. Aspek Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical Care) A. Pelayanan atas resep Skrining resep Apoteker melakukan skrining resep yang meliputi persyaratan administrasi, kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinis. Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.

Penyiapan obat Penyiapan obat meliputi peracikan, etiket, kemasan obat yang diserahkan, penyerahan obat, informasi obat, konseling, dan monitoring penggunaan obat. Sebelum obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien. Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, etis dan bijaksana kepada pasien. Informasi obat kepada pasien sekurang-kurangnya meliputi

18

cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. Apoteker juga harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan yang salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya. Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan (monitoring) penggunaan obat terutama untuk pasien tertentu seperti TBC, diabetes, kardiovaskular dan penyakit kronis lainnya.

B. Pelayanan OTC, Obat Wajib Apotek dan Perbekalan Farmasi lainnya

1. Pelayanan OTC Penjualan bebas yang dimaksud adalah penjualan obat dan perbekalan farmasi lainya yang dapat dibeli tanpa resep dari dokter seperti obat OTC (over the counter) baik obat bebas maupun bebas terbatas. Pelayanan penjualan obat dan alat kesehatan yang di jual bebas di counter swalayan farmasi termasuk kosmetika, dilakukan terhadap pasien yang memerlukan obat dan alat kesehatan tanpa resep dari dokter. Pada pelayanan obat OTC pembayarannya di lakukan secara tunai. Prosedur penjualan bebas yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1) Petugas membantu pasien dalam mencari barang di swalayan farmasi sesuai kebutuhan dan menginformasikan harga barang tersebut sesuai dengan harga yang tertera di KIS . 2) Pembayaran dilakukan setelah petugas memasukkan nama dan jumlah barang yang dientry dikomputer setelah disetujui pasien, serta membuat bukti penyerahan nota penjualan bebas. 3) Barang beserta bukti pembayaran penjualan bebas diserahkan kepada pembeli. Bukti penjualan obat bebas dikumpulkan dan diurutkan berdasarkan nomor dan dicatat di laporan penjualan harian. 4) Pelayanan UPDS (Upaya Pengobatan Diri Sendiri) Pelayanan UPDS juga cukup banyak di Apotek. Pasien datang dengan keluhan. Apoteker atau Asisten Apotekerkemudian membantu pasien

19

memilih obat-obatan yang sesuai. Peran Apoteker dalam UPDS ialah dapat memberi rekomendasi dan informasi yang tepat sesuai keluhan pasien.
2. Protap pelayanan obat wajib apotek (OWA) : a. Yang dimaksud OWA adalah obat wajib apotek yaitu golongan obat keras yang dapat diserahkan kepada pasien oleh apoteker di apotek tanpa resep dokter. b. Pelayanan OWA ditujukan untuk m,enunjang kemapuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan melalui pengobatan sendiri (self medication) yang tepat, aman dan rasional. c. Obat-obat OWA adalah obat-obat yang termasuk golngan OWA I, OWA II dan OWA III. d. Kriteria obat yang dapat diserahkan kepada pasien tanpa resp dokter (PermenKes No.919/Menkes/Per/X/1993) :
o

Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak dibawah dua tahun dan orang tua lebih dari 65 tahun.

o o

Tidak memberikan resiko pada kelanjutan penyakit Pengguanaannya tidak memerlukan cara dan alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.

o o

Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia. Obat yang dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggung jawabkan untuk pengobatan sendiri.

e. OWA dapat diserahkan kepada pasien dengan memenuhi ketentuan dan batasan jumlah yang ditetapkan disertai informasi yang meliputi dosis, aturan pakai, kontra indikasi, efek samping dan lain-lain yang perlu diperhatikan oleh pasiennya. f. Prosedur teknis pelayanan OWA meliputi SOP pelayanan obat tanpa resep (OTC/HV)

g. Pelayanan OWA didokumentasikan dalam catatan pasien, obat yang diserahkan dan informasi obat yang diberikan.

C. Konseling Pendahuluan

20

Perkenalan pasien

1. Pasien dipersilakan masuk ke ruang konseling 2. Beri salam disertai senyum & jabat tangan pasien 3. Tanyakan identitas pasien 4. Perkenalkan nama & profesi anda pada pasien 5. Jika yang menerima konseling bukan pasien, yang bersangkutan i. Tanya hubungan kekerabatan dengan pasien ii. Siapa yang bertanggung jawab dalam mengonsumsikan obat pada pasien 1. Pastikan pasien memiliki waktu cukup untuk diberi konseling 2. Jelaskan maksud, manfaat dan pentingnya konseling bagi pasien

Penjelasan maksud dan pentingnya konseling

Proses konseling Identifikasi tentang pengetahuan pasien (3 prime questions) : 1. Tanyakan apa saja yang sudah pasien ketahui tentang obatnya 2. Jika jawaban pasien sudah benar, tegaskan kembali jawaban tersebut agar lebih diingat oleh pasien 3. Perbaiki kesalahan persepsi pasien (jika ada) dan lengkapi informasi yang belum diketahuinya 4. Tunjukkan obat-obat yang akan dikonsumsi pasien sekaligus menjelaskan informasi obat dan manfaat yang akan diterima pasien

1. Tentang obat dan maksud dari pemberian obat

21

1. Tentang cara penggunaan obat

1. Tanya pasien tentang bagaimana caranya mengonsumsi obat tersebut 2. Berikan pertanyaan lebih lanjut yang lebih spesifik, seperti : i. Pada jam berapa obat dikonsumsi ii. Bagaimana cara pasien mengingat jadwal penggunaan obat tersebut iii. Bagaimana rencana pasien untuk mengonsumsi obat yang harus diminum pada saat dia bekerja iv. Bagaimana cara pasien menyimpan obat di rumah/saat sedang bepergian 3. Konfirmasikan jawaban yang benar 4. Koreksi jawaban ang tidak tepat dan lengkapi dengan informasi yang belum diketahui 5. Pastikan obat digunakan pasien dalam jadwal aktivitas dan gaya hidup sehari-harinya 6. Diskusikan alternatif solusi untuk membantu pasien dalam manjaga kepatuhannya terhadap penggunaan obat 1. Menjelaskan tentang hasil terapi yang diharapkan 2. Mendiskusikan tentang solusi bila hasil terapi tidak tercapai 3. Tanyakan apakah ada efek lain yang timbul setelah mengonsumsi obat 4. Pastikan pasien mengerti tentang ES yang akan ditimbulkan obat, berapa lama ES akan dialami dan cara penanggulangannya 5. Tawarkan solusi untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan obat

1. Tentang hasil akhir terapi, ES yang mungkin timbul

22

tersebut Tanyakan informasi dari pasien yang meliputi 1. Status alergi 2. Penghentian obat resep oleh pasien 3. Penggunaan obat lain yang tidak diresepkan (suplemen, produk herbal, dll) 1. Contoh informasi tambahan : Interaksi obat dengan obat, makanan dll Penanggulangan jika dosis terlupa Informasi pemantauan pasien : bagaimana cara pasien mengetahui obat bekerja, uji-uji yang harus dilakukan untuk pemantauan, kapan harus konsultasi lagi dengan dokter/apoteker Informasi untuk menebus ulang obat Informasi cara penyimpanan obat Perubahan gaya hidup yang berpengaruh terhadap obat : pola makan, olah raga, merokok, dll 2. Pastikan pasien tidak mengalami masalah dengan banyaknya informasi 3. Berikan waktu sejenak pasien untuk mencerna informasi Tanyakan apakah ada informasi lain yang diperlukan/ingin diketahui pasien

Melengkapi P3

Mendiskusikan informasi tambahan yang diperlukan

Menanyakan informasi lain yang ingin diketahui pasien

23

D. Monitoring Penggunaan Obat adalah suatu proses yang meliputi semua fungsi yang perluuntuk menjamin terapi obat kepada pasien yang aman . efektif/ rasioanal dan ekonomis. FUNGSINYA : * Pengamatan obat pilihan dokter terhadap kondisi diagnosanya * Pengamatan pemakaian obat * Jaminan ketepatan dosis ( jumlah, frekwensi, rute dan bentuk obat ) * Pengenalan respon terapi obat saat itu cukup atau kurang * Penilaian adverse effect ( reaksi yang merugikan ) potensial yang terjadi * Alternatif atau perubahan perubahan direkomendasikandalam terapi apabila situasi tertentu mengharuskan SASARAN : efisien, efekasi terapi.

mengurangi akses seorang pasien keatau patuh pada suatu regimen terapi obat tertentu

Pemantauan Terapi Obat mencakup pengkajian dari: Ketepatan terapi dari regimen obat pasien Ketepatan penggunaan obat ( dosis, indikasi, interaksi, antagonis, duplikasi, kontraindikasi dll ) Ketepatan rute, jadwal dan metode pemberian dosis obat Ketepatan informasi yang diberikan pada pasien Tingkat kepatuhan pasien dengan regimen obat yang tertulis Interaksi obat obat, obat makan, obat uji laboratorium dan obat penyakit Data laboratorium klinik dan farmakokinetika untuk mengevaluasi efek samping, toksisitas / efek merugikan Tanda fisik dan gejala klinik yang relevan dengan terapiobat pasien

STANDAR PEMANTAUAN TERAPI OBAT Standar ini merupakan usulan yang dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan.

24

Standar I * Kegiatan PTO dikelola oleh IFRS dengan dukungan & Petunjuk staf medik yang tepat * Pelaksananya adalah farmasis yang memenuhi syarat dan mampu menunjukan penggunaan obat yang tepat di RumahSakit Standar II * Kegiatan PTO memperoleh LEGITIMASI mekanisme pengembangan keputusan terapi dan kebijakan dalamRumah Sakit Standar III IFRS harus memiliki kegiatan pendukung yang tepat untukmelaksanakan pemantauan Terapi Obat Standar IV Membuat kebijakan & prosedur tertulis terutama prosedurkegiatan Pemantauan Terapi Obat dilaksanakan sertamembuat tanggung jawab & akuntabilitas Standar V Mekanisme jaminan mutu harus merefleksikan dampak darikegiatan Pemantauan Terapi Obat pada perawatan pasien Informasi ini digunakan oleh mekanisme pengembangan keputusan terapi dan kebijakan obat dalam Rumah Sakit

PENDEKATAN UMUM DALAM PEMANTAUAN TERAPI OBAT Identifikasi Obat yang ditulis Dokter Identifikasi masalah / Diagnosis yang menyebabkan dokter menulis obat obat tersebut dengan mengkaji Catatan Perawat / kunjungan pasien : - Evaluasi Data Lab - Evaluasi makanan & minuman yang dikonsumsi - pertimbangkan biaya terapi dibanding masalah &kondisi pasien Uraikan suatu Daftar parameter objektif & subjectif untuk mengevaluasi hasil Pastikan pasien mengkonsumsi obat sesuai instruksi Komunikasikan dengan dokter jika respon terapi yang diinginkan tidak terjadi & teliti proses terapi Jika dalam proses Pemantauan Terapi Obat tidak mencapai sasaran yang diinginkan / merugikan. Gunakan alternatif lain dan komunikasikan dengan Dokter

25

sebelumdilaksanakan Kaji proses ini sebagai suatu rangkaian kesatuan yangmenuntun ketekunan setiap hari

4. Aspek Bisnis A. Permodalan 1. Peluang Bisnis Ritel Usaha atau bisnis ritel seperti apotek di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini sebagai akibat dari adanya perkembangan usaha manufaktur dan peluang pasar yang cukup terbuka, maupun upaya pemerintah untuk mendorong perkembangan bisnis ritel. Pemerintah berperan dalam melakukan perlindungan terhadap ritel nasional melalui peraturan dan undang-undang. Investasi perusahaan ritel asing tetap berinvestasi ke Indonesia adalah dengan tiga cara yaitu kemitraan sistem waralaba, kerja sama operasi (KSO) dan kemitraan bersama pengusaha kecil (joint venture). 2. Aspek Keuangan Ritel Metode dalam menjalankan operasional bisnis ritel akan berdampak pada penjualan dan akhirnya berpengaruh terhadap keuntungan yang diperoleh perusahaan ritel. Oleh karena itu keputusan di bidang keuangan juga merupakan hal yang penting dalam bisnis ini. Keputusan keuangan adalah komponen integral pada setiap aspek ritel.

B. Terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan dalam mengukur kinerja keuangan dalam bisnis ritel antara lain: 1. Margin kotor ? Persentase margin kotor. ? Kerusakan. ? Persediaan barang. 2. Biaya operasional sebagai persentase penjualan ? Gaji. ? Biaya sewa. ? Listrik.

26

? Total biaya operasi.

C. Strategi Pengembangan Ritel (Apotek) Empat tipe kesempatan pertumbuhan yang diusahakan oleh ritel yaitu a. penembusan pasar, b. perluasan pasar, c. pengembangan format ritel, dan d. diversifikasi. Kesempatan penembusan pasar (market penetration) meliputi usaha-usaha langsung terhadap konsumen yang ada, dengan menggunakan format ritel yang telah ada. Ritel dapat mencapai strategi pertumbuhan ini dengan menarik konsumen pada target pasar sekarang yang tidak berbelanja di apoteknya untuk lebih sering mengunjungi apotek tersebut atau untuk membeli lebih banyak barang pada tiap kunjungan. Kesempatan perluasan pasar (market expansion) menggunakan format ritel yang ada dalam segmen pasar baru. Kesempatan pengembangan format ritel meliputi penawaran format ritel baru, atau format dengan gabungan ritel yang berbeda pada target pasar yang sama.. Kesempatan diversifikasi dilakukan pada saat ritel memperkenalkan format ritel baru secara langsung pada segmen pasar yang tidak sedang dilayani. Empat ciri ritel yang menggunakan kesempatan-kesempatan pertumbuhan adalah keunggulan bersaing yang bisa dipertahankan secara global, kemampuan untuk menyesuaikan, budaya global dan kemampuan finansial (Utami, 2006).

D. Perpajakan Pajak adalah suatu kewajiban setiap warga negara untuk menyerahkan sebagian kekayaannya atau penghasilannya kepada negara menurut peraturan perundangundangan yang ditetapkan oleh pemerintah dan dipergunakan untuk kepentingan masyarakat. Berdasarkan UU RI No. 17 tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan, PPh pasal 21 adalah tentang pembayaran pajak atas penghasilan yang diterima oleh orang pribadi (pegawai) atau badan (laba usaha perusahaan) yang berdomisili di dalam negeri. Dan berdasarkan UU RI No. 18 tahun 2000 tentang Pajak

27

Pertambahan Nilai Barang/ Jasa dan Pajak Penjualan Barang Mewah, pada pasal 7 dijelaskan bahwa besarnya tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10% (sepuluh persen) untuk semua barang kena pajak.

Informasi Tambahan (PP No.51 Tahun 2009) Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu Sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. Tenaga Farmasi adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasi, yang terdiri dari atas apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Apoteker adalah Sarjana Farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.

KISI-KISI UJIAN PKPA Rumah Sakit 1. Organasasi Rumah Sakit A. Klasifikasi Rumah Sakit

28

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat(1).

B. Struktur Organisasi Rumah Sakit Sesuai dengan PerMenKes RI nomor 1045/Menkes/PER/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit di Lingkungan Departemen Kesehatan. Susunan organisasi di rumah sakit dapat meliputi(6): 2.4.1 Rumah Sakit Umum i. Rumah Sakit Umum kelas A, dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur Utama. Direktur Utama membawahi paling banyak 4 (empat) Direktorat. Masingmasing Direktorat terdiri dari paling banyak 3 (tiga) bidang. Masing-masing bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) seksi. Masing-masing bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagian. ii. Rumah Sakit Umum kelas B Pendidikan, dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur Utama. Direktur Utama membawahi paling banyak 3 (tiga) Direktorat. Masing-masing Direktorat terdiri dari paling banyak 3 (tiga) bidang. Masingmasing bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) seksi. Masing-masing bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagian. iii. Rumah Sakit Umum kelas B Non Pendidikan, dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur Utama. Direktur Utama membawahi paling banyak 2 (dua) Direktorat. Masing-masing Direktorat terdiri dari paling banyak 3 (tiga) bidang. Masing-masing bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) seksi. Masing-masing bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagian. iv. Rumah Sakit Umum kelas C, dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur. Direktur membawahi paling banyak 2 (dua) bidang. Masing-masing bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) seksi. Bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagian. v. Rumah Sakit Umum kelas D, dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur. Direktur membawahi 2 (dua) seksi dan 3 (tiga) subbagian. Masing-masing bidang

29

terdiri dari paling banyak 3 (tiga) seksi. Bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagian.

2.4.2. Rumah Sakit Khusus i. Rumah Sakit Khusus kelas A, dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur Utama. Direktur Utama membawahi paling banyak 4 (empat) Direktorat. Masingmasing Direktorat terdiri dari paling banyak 3 (tiga) bidang. Masing-masing bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) seksi. Masing-masing bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagian. ii. Rumah Sakit Khusus kelas B, dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur Utama. Direktur Utama membawahi paling banyak 2 (dua) Direktorat. Masingmasing Direktorat terdiri dari 2 (dua) bidang. Masing-masing bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) seksi. Masing-masing bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagian. iii. Rumah Sakit Khusus kelas C, dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur. Direktur membawahi 2 (dua) seksi dan 3 (tiga) subbagian.

C. Keberadaan Instansi farmasi serta tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian. Instalasi Farmasi Rumah Sakit mempunyai tugas, meliputi(3): i) ii) Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal Menyelenggarakan kegiatan pelayanan farmasi professional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi iii) iv) Melaksanakan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Memberi pelayanan bermutu melalui analisa, dan evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan farmasi v) vi) Melakukan pengawasan berdasrakan aturan-aturan yang berlaku Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang farmasi

vii) Mengadakan penelitian dan pengembangan di bidang farmasi viii) Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan

formularium rumah sakit.

30

Tanggung jawab IFRS adalah mengembangkan suatu pelayanan farmasi yang luas dan terkoordinasi dengan baik dan tepat, untuk memenuhui kebutuhan berbagai bagian atau unit diagnosi dan terapi, unit pelayanan keperawatan, staf medik dan rumah sakit keseluruhan untuk kepentingan pelayanan penderita yang lebih baik(2). D. Struktur dan Organisasi Farmasi Rumah Sakit
Menurut Kepmenkes RI No.l197/MENKES/SK/X/2004 bagan organisasi merupakan gambaran pembagian tugas, koordinasi dan kewenangan serta fungsi.

E. Standar Pelayanan Farmasi Rumah Sakit Pengelolaan Perbekalan Farmasi a. Seleksi atau Pemilihan Pemilihan merupakan proses kegiatan sejak dari meninjau masalah kesehatan yang terjadi di rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis, menentukan kriteria pemilihan dengan memprioritaskan obat esensial, standarisasi sampai menjaga dan memperbaharui standar obat(3). b. Perencanaan Perencanaan merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah dan harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan yang disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Terdapat beberapa metode perencanaan, antara lain:

31

1. Metode Konsumsi, yakni berdasarkan data riil konsumsi obat periode yang lalu, dengan berbagai penyesuaian dan koreksi. Kelemahan metode ini adalah kebiasaan pengobatan yang tidak baik/rasional seolah-olah ditolerir. 2. Metode Epidemiologi, yakni berdasarkan pada penyakit yang ada (epidemiologi). Kelemahan metode ini seringkali standar pengobatan belum tersedia atau disepakati serta data morbiditas yang ada kurang akurat. 3. Metode Kombinasi, yang ditujukan untuk meminimalkan kekurangan dari masingmasing metode konsumsi dan metode epidemiologi. c. Pengadaan Pengadaan menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004 merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui, melalui pembelian,produksi/pembuatan sediaan farmasi dan sumbangan atau dropping atau hibah(7). Dalam pembelian perbekalan farmasi terdapat empat metode, antara lain(8): 1. Pelelangan umum 2. Pelelangan sederhana 3. Pelelangan terbatas 4. Penunjukan langsung 5. Pengadaan langsung d. Penerimaan Berdasarkan Keputusan Menteri Kesesehatan RI Nomor 1197/ Menkes/ SK/ 2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, penerimaan merupakan kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang telah diadakan sesuai dengan aturan kefarmasian melalui pembelian langsung, tender, konsinyasi, atau sumbangan. Sebelum masuk ke gudang penyimpanan, barang yang baru saja diterima harus dibongkar terlebih dahulu untuk kemudian dilakukan pengecekan terhadap barang tersebut. Pengecekan yang dilakukan meliputi jumlah item dan keutuhan karton atau item yang diterima, kesesuaian barang yang diterima dengan daftar pesanan yang diminta, kesesuaian jumlah item dalam karton dengan jumlah item sesungguhnya(9).

32

e. Penyimpanan Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1197/ Menkes/ SK/ 2004 penyimpanan merupakan kegiatan pengaturan sediaan farmasi dan alat kesehatan menurut persyaratan yang ditetapkan menurut bentuk sediaan dan jenisnya, suhunya dan kestabilannya, mudah tidaknya meledak atau terbakar, tahan atau tidaknya terhadap cahaya disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan farmasi sesuai kebutuhan(3). Pengaturan sistem penyimpanan dapat dilakukan berdasarkan First Expired First Out (FEFO) dan First In First Out (FIFO), sedangkan untuk memudahkan pengambilan barang di gudang dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu berdasarkan kelompok farmakologi atau terapetik, alfabetis, tingkat penggunaan, dan bentuk sediaan(9). f. Pendistribusian(7) Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, distribusi obat-obatan merupakan kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di Rumah Sakit untuk pelayanan individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap dan rawat jalan serta menunjang pelayanan medis. Adapun alur pendistribusian pelayanannya dapat di lihat di Lampiran 2, Gambar II.1 Metode pendistribusian yang biasa digunakan rumah sakit yaitu sentralisasi dan desentralisasi : 1. Sentralisasi Metode ini merupakan pendistribusian langsung obat-obatan dari gudang farmasi ke ruang rawat atau apotek. Metode ini cocok untuk Rumah Sakit/unit kerja yang berskala kecil dimana jumlah dan jenis barang tidak terlalu banyak, lokasi pengguna barang tidak jauh dari gudang. 2. Desentralisasi Metode ini merupakan pendistribusian obat-obatan dari gudang farmasi ke ruang rawat melalui depo-depo yang tersedia di ruang rawat tersebut. Desentralisasi ini cocok untuk Rumah Sakit atau unit kerja berskala besar dimana lokasi pengguna barang jauh dari gudang utama, jumlah pengguna banyak serta jumlah dan jenis barang sangat banyak(7).

33

Berdasarkan distribusi obat untuk pasien rawat inap dan rawat jalan, ada empat sistem yang digunakan yaitu(7): 1. Sistem persediaan di ruangan floor stock Persediaan obat dipasok oleh IFRS, biasanya 1 minggu sekali personel IFRS memeriksa persediaan obat di ruang lalu menambahkan obat yang persediaannya sudah sampai tanda batas pengisian kembali. Dalam sistem distribusi ini, tanggung jawab besar dibebankan kepada perawat yaitu menginterpretasikan resep dan menyiapkan obat yang sebenarnya adalah tanggung jawab apoteker. 2. Sistem resep perseorangan (Individual prescribing) Individual prescription merupakan resep yang ditulis oleh dokter untuk setiap pasien. Individual prescription system merupakan kegiatan pendistribusian sediaan obat oleh IFRS sesuai dengan resep yang ditulis atas nama pasien melalui perawat ke ruang pasien tersebut. 3. Sistem Unit Dosis (Unit Dose Dispensing/UDD) Sistem unit dose (UDD) merupakan kegiatan pendistribusian obat-obatan melalui resep perorangan yang disiapkan, diberikan atau digunakan dan dibayar dalam unit dosis tunggal atau ganda, yang berisi obat dalam jumlah yang telah ditetapkan atau jumlah yang cukup untuk penggunaan satu kali dosis biasa(3).Dalam Unit dose dispensing system, pasien hanya membayar obat yang dikonsumsi. Unit dose dispensing system lebih baik daripada sistem lain karena lebih aman untuk pasien, lebih ekonomis untuk organisasi dan metodenya efektif dalam penggunaan sumber yang professional. 4. Sistem Kombinasi Sistem kombinasi merupakan sistem penulisan resep/pesanan obat secara individu sebagai sarana utama pendistribusian obat dan memanfaatkan floor stock secara terbatas untuk obat-obatan yang ada di emergency kit, yaitu live saving drug (obat yang digunakan untuk menyelamatkan pasien dalam keadaan darurat). Jenis dan jumlah obat yang tersedia di ruangan ditetapkan oleh SKFT dengan masukan dari IFRS dan dari pelayanan perawatan. Dalam sistem ini, persediaan farmasi yang disediakan di ruangan antara lain bahan dasar, obat-obat emergency kit, obat-obat

34

strategis dan alat kesehatan yang diperlukan oleh banyak pasien, setiap hari diperlukan, dan harga obat relatif murah(11).

Pelayanan Farmasi Klinik Farmasi klinik merupakan suatu keahlian dalam bidang kesehatan yang bertanggung jawab untuk meningkatkan keamanan, kerasionalan, dan ketepatan penggunaan terapi obat oleh penderita melalui penerapan pengetahuan dan fungsi terspesialisasi dari apoteker dalam pelayanan penderita(9).

Kegiatan pelayanan kefarmasian menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197 tahun 2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit adalah sebagai berikut: a. Pengkajian resep, merupakan kegiatan dalam pelayanan kefarmasian yang dimulai dari seleksi persyaratan administrasi, persyaratan farmasi dan persyaratan klinik baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan. b. Dispensing, merupakan kegiatan pelayanan yang dimulai dari tahap validasi, interpretasi, menyiapkan/meracik obat, memberikan label/etiket, penyerahan obat dengan memberikan informasi obat yang memadai disertai dokumentasi. c. Pemantauan dan Pelaporan Efek Samping Obat, merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal, yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi. d. Pelayanan Informasi Obat (PIO), merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh apoteker dalam memberikan informasi secara akurat, tidak bias, dan terkini kepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya, dan pasien. e. Konseling, merupakan proses sistematik untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah pasien yang berkaitan dengan pengambilan dan penggunaan obat pasien rawat jalan dan pasien rawat inap. f. Pemantauan Kadar Obat, dilakukan atas permintaan dari dokter yang merawat karena indeks terapi obat sempit. g. Visite Pasien, merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap bersama tim dokter dan tenaga kesehatan lainnya maupun secara mandiri. Hal ini bertujuan dalam

35

pertimbangan pemilihan obat, menerapkan secara langsung pengetahuan farmakologi terapetik, serta menilai kemajuan pasien, bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain. h. Pengkajian Penggunaan Obat, merupakan program evaluasi penggunaan obat yang terstruktur dan berkesinambungan untuk menjamin obat-obatan yang digunakan sesuai indikasi, efektif, aman, dan terjangkau oleh pasien.

F. Panitia Farmasi Rumah Sakit Panitia farmasi dan terapi adalah organisasi yang mewakili hubungan komunikasi antara para staf medis dengan staf farmasi, sehingga anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili spesialisasi-spesialisasi yang ada di rumah sakit dan apoteker wakil dari farmasi rumah sakit serta tenaga kesehatan lainnya. Tujuan dan Fungsi PFT Pantia farmasi dan terapi dibentuk dengan tujuan, yaitu : i. Menerbitkan kebijakan-kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan obat serta evaluasinya. ii. Melengkapi staf professional di bidang kesehatan dengan pengetahuan terbaru yang berhubungan dengan obat dan penggunaan obat sesuai dengan kebutuhan. Pantia farmasi dan terapi dibentuk dengan dua fungsi utama(2), yaitu: i. Merumuskan kebijakan-kebijakan mengenai evaluasi, pemilihan dan penggunaan terapi obat, serta alat yang berkaitan rumah sakit. ii. Memberikan rekomendasi atau membantu dalam perumusan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan staaf professional (dokter, perawat, apoteker dan praktisti kesehatan lainya untuk menambah pengetahuan mutakhir tentang obat dan penggunaan obat. Susunan dan Tata Kerja PFT(2) PFT mempunyai susunan dan tata kerja sebagai berikut : i. PFT terdiri dari dokter, apoteker, perawat, pegawai administrasi, koordinator jaminan mutu dan berbagai ahli jika diperlukan. ii. PFT dipimpin oleh seorang dokter dan sebagai sekretaris adalah seorang apoteker (kepala IFRS).

36

iii. PFT tersebut harus mengadakan rapat secara teratur, paling sedikit 6 (enam) kali dalam setahun dan dapat lebih sering jika diperlukan. iv. PFT dapat mengundang orang-orang yang berada di dalam atau diluar organisai yang dapat memberikan kontribusinya ke dalam suatu pertemuan. v. Sekretaris harus telah menyiapkan agenda dan materi pendukung dan menyampaikan kepada anggota komite sebelum pertemuan dilangsungkan vi. Usulan-usulan PFT disampaikan kepada staf medik direkomendasikan. vii. Hubungan dengan PFT lain yang ada hubungannya dengan penggunaan obat harus dipelihara. viii. Segala kegiatan PFT secara rutin harus diinformasikan kepada staf pelayanan rumah sakit. Fungsi dan Ruang Lingkup PFT(2,3) Fungsi dan ruang lingkup kerja PFT antara lain : i. Berpartisipasi dalam suatu kapasitas evaluasi, pendidikan, bertindak sebagai penasehat kepada staf medis dan pimpinan rumah sakit dalam hal yang berkaitan dengan penggunaan obat. ii. Pantia Farmasi dan Terapi harus mengevaluasi untuk menyetujui atau menolak produk obat baru atau dosis obat yang di usulkan oleh anggota. iii. Mengembangkan formularium obat yang dapat diterima penggunaannya di rumah sakit dan melakukan revisi secara tetap. Seleksi obat yang dimasukan ke dalam formularium harus didasarkan pada evaluasi objektif terhadap manfaat terapi, keamanan serta harga dan harus meminimalkan duplikasi dalam tipe obat, kelompok dan produk obat yang sama. iv. Menetapkan program dan prosedur yang membantu memastikan terapi obat yang aman dan efektif v. Berpartisipasi dalam kegiatan jaminan mutu yang berkaitan dengan distribusi, pemberian dan penggunaan obat. vi. Menetapkan atau merencanakan program pendidikan sesuai bagi staf profesi di rumah sakit tentang berbagai hal yang berkaitan dengan penggunaan obat. untuk dapat diterima dan

37

vii. Berpartisipasi dalam kegiatan jaminan mutu yang berkaitan dengan distribusi, pemberian dan penggunaan obat. viii. Memantau dan mengevaluasi reaksi obat yang merugikan (termasuk sediaan biologi dan vaksin) yang terjadi di rumah sakit dan membuat rekomendasi yang tepat untuk mencegah berulangnya kembali. ix. Memprakarsai atau memimpin program studi evaluasi penggunaan obat (EPO), pengkajian hasil EPO dan membuat rekomendasi yang tepat untuk mengoptimalkan penggunaan obat. x. Memberikan saran kepada IFRS mengenai pelaksanaan distribusi obat dan prosedur pengendalian yang efektif. Peran Apoteker dalam PFT(3) Apoteker memiliki peran sangat strategis dan penting karena semua kebijakan dan peraturan dalam mengelola dan mengunakan obatdiseluruh unit di rumah sakit ditentukan dalam PFT. Apoteker harus secara mendasar dan mendalam membekali diri dengan ilmu farmakologi, farmakologi klinik, farmakoepidemiologi dan

farmakoekonomi disamping ilmu-ilmu lain, agar dapat mengemban tugas secara baik dan benar serta memperlancar hubungan professional dengan petugas kesehatan lain di rumah sakit. Tugas Apoteker dalam PFT(3) Tugas apoteker dalam PFT meliputi : i. Menjadi salah seorang anggota panitia (wakil panitia/sekretaris) ii. Menetapkan jadwal pertemuan iii. Mengajukan acara yang akan dibahas dalam pertemuan iv. Menyiapkan dan memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk pembahasan dalam pertemuan v. Mencatat semua hasil keputusan dalam pertemuan dan melaporkan pada pimpinan rumah sakit vi. Menyebarluaskan yang sudah disetujui oleh pimpinan kepada seluruh pihak yang terkait vii. Melaksanakan keputusan-yang sudah disepakati dalam pertemuan

38

viii. Menunjang pembuatan pedoman diagnosis dan terapi, pedoman penggunaan obat dalam kelas terapi lain ix. Membuat formularium rumah sakit berdasarkan hasil kesepakatan PFT. x. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan. xi. Melaksanakan pengkajian dan penggunaan obat xii. Melaksanakan umpan balik hasil pengkajian pengelolandan penggunaan obat pada pihak terkait

G. Formularium Rumah Sakit Sistem Formularium dan Formularium Sistem Formularium(2) Sistem formularium adalah metode untuk mengevaluasi, menilai, dan memilih berbagai zat aktif obat dan produk yang tersedia dipasaran, yang dianggap terbaik dan paling berguna untuk perawatan pasien di rumah sakit. Hanya obat yang terpilih yang disediakan secara rutin di IFRS. Jadi, dengan adanya sistem formularium, mutu dan harga obat yang digunakan di rumah sakit dapat dikendalikan. Keuntungan sistem formularium adalah membantu meyakinkan mutu dan ketepatan pengunaan obat dalam rumah sakit, sebagai bahan edukasi bagi staf rumah sakit tentang terapi obat yang tepat dan memberi rasio manfaat biaya yang tertinggi. Hasil utama dari pelaksanaan sistem formularium adalah formularium rumah sakit. Formularium(2,3) Formularium berdasarkan Kepmenkes RI No.1197 tahun 2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit adalah himpunan obat yang diterima/disetujui oleh Panitia farmasi dan Terapi untuk digunakan di rumah sakit dan dapat direvisi pada setiap batas waktu yang ditentukan(3). Formularium adalah dokumen berisi kumpulan produk obat yang dipilih PFT disertai informasi tambahan penting tentang penggunaan obat tersebut, serta kebijakan dan prosedur berkaitan obat yang relevan untuk rumah sakit tersebut, serta kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan obat yang relevan untuk rumah sakit tersebut(2). Daftar obat yang disepakati staf medis, disusun oleh PFT, ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit untuk digunakan dalam pelayanan di rumah sakit (UU No 44/2009). Formularium harus lengkap, ringkas serta mudah digunakan dan

39

terus menerus direvisi agar selalu akomodatif bagi kepentingan penderita dan staf profesional pelayanan kesehatan, berdasarkan data konsumtif dan data morbiditas serta pertimbangan klinik staf medik rumah sakit itu. Apoteker rumah sakit wajib menyediakan informasi tentang obat berupa monografi yang akan di evaluasi oleh PFT untuk dimasukkan ke dalam atau dikeluarkan dari formularium. Formularium harus lengkap, ringkas dan mudah digunakan. Isi dari formularium antara lain: i. Informasi umum Informasi tentang kebijakan prosedur rumah sakit mengenai masalah obat-obatan, gambaran singkat mengenai Panitia Farmasi dan Terapi (PFT), peraturan tentang pemberian resep, penyaluran obat-obatan pada penderita, prosedur pelaksanaan di IFRS dan infromasi tentang cara penggunaan formularium. ii. Monografi obat yang diterima masuk formularium. iii. Daftar sediaan obat-obat, informasi minimal harus tercantum dalam sediaan obar yang beredar di rumah sakit, seperti bentuk sediaan, kekuatan, kemasan ukuran yang tersedia dan informasi tambahan lain yang dianggap perlu. iv. Informasi khusus Informasi khusus tergantung dari kebutuhan rumah sakit tersebut dalam pengaturan penggunaan obat, seperti daftar sediaan insulin dan cara perhitungan dosis.

2. Manajemen Farmasi Rumah Sakit. A. Seleksi dan Penerimaan Tenaga

B. Manajemen Sumber Daya Manusia

C. Panitia Farmasi dan Terapi Baca lagi di atas Tim Farmasi dan Terapi (TFT) atau Komite Farmasi dan Terapi (KFT) di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung sejak Maret 2012 disebut Tim Farmasi dan Terapi (TFT). Tim ini berada dibawah Direktur Medik dan Keperawatan. Susunan Organisasi TFT di RSHS terdiri dari ketua dan wakil ketua (dokter), sekretaris (apoteker atau kepala IFRS) dan anggota (dokter-dokter dari berbagai Staf Medis Fungsional).Tim Farmasi

40

dan Terapi mempunyai tugas untuk memantau pelaksanaan penggunaan obat yang rasional di RSHS, menyusun dan merevisi formularium dan mengkoordinasikan pemantauan efek samping obat di RSHS.

Kegiatan TFT sebagai berikut: a. Pelaksanaan kegiatan organisasi seperti mengadakan rapat/pertemuan,

mempersiapkan agenda rapat, membuat dan mengirim undangan rapat, menyiapkan daftar hadir. melaksanakan rapat dan membuat notulasi rapat. b. Pemantauan pelaksanaan penggunaan obat rasional di RSHS seperti mengkoordinir penggunaan obat sesuai formularium RSHS, Jamkesmas (Manlak) penggunaan untuk obat pasien sesuai

Jamkesmas/Gakinda/Gakin

mengkoordinir

formularium/DPHO PT Askes Indonesia untuk pasien Askes Sosial/PNS, mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan obat rasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan dan membuat pedoman penggunaan antimikroba. c. Menyusun dan merevisi Formularium seperti mengkoordinir usulan revisi Daftar Obat Esensial (DOEN), mengkoordinir usulan-usulan revisi DPHO PT Askes Indonesia, mengkoordinasi usulan revisi Formularium dan mengkoordinasi usulan revisi Formularium RSHS. Mengkoordinasi pemantauan/monitoring efek samping obat (MESO), seperti membuat sistem MESO di RSHS: alur dan format pemantauan, sosialisasi MESO (melalui pelatihan), mengkaji hasil MESO yang didapat di RSHS, membuat pelaporan MESO per bulan ke Pusat MESO Nasional

D. Pengadaan distribusi Obat (Baca BAB III laporan Rumah Sakit) 1. Perencanaan dan seleksi perbekalan Farmasi 2. Pengadaan (Prioritas dan metode Pengadaan) 3. Penyimpanan (lay out gudang dan system penyimpanan distribusi) 4. Distribusi (sistem distribusi dan pengendalian distribusi)

41

E. Sistem Pengendalian Di IFRS

F. Akreditasi Akreditasi rumah sakit, adalah pengakuan terhadap rumah sakit yang diberikan oleh lembaga independen penyelenggara akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri, setelah dinilai bahwa rumah sakit itu memenuhi Standar Pelayanan Rumah Sakit yang berlaku untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit secara berkesinambungan. Akreditasi bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit, meningkatkan keselamatan pasien rumah sakit, meningkatkan perlindungan bagi pasien, masyarakat, sumber daya manusia rumah sakit dan rumah sakit sebagai institusi, dan mendukung program pemerintah di bidang kesehatan. Penyelenggaraan Akreditasi Nasional(6) a. Persiapan akreditasi antara lain memenuhi pemenuhan standar dan penilaian mandiri (self assesment). Penilaian mandiri merupakan proses penilaian penetapan standar pelayanan rumah sakit dengan menggunakan instrumen akreditasi. Penilaian mandiri bertujuan untuk mengukur kesiapan dan kemampuan rumah sakit dalam rangka survei akreditasi. b. Bimbingan akreditasi merupakan proses pembinaan rumah sakit dalam rangka meningkatkan kinerja dalam mempersiapkan survei akreditasi. Bimbingan akreditasi dilakukan oleh pembimbing akreditasi dari lembaga independen pelaksana akreditasi yang melakukan akreditasi. c. Rumah sakit yang telah mendapat status akreditasi nasional diwajibkan membuat perencanaan perbaikan strategi sesuai dengan rekomendasi surveior untuk memenuhi standar pelayanan rumah sakit yang belum tercapai. d. Kegitan pasca akreditasi dilakukan dalam bentuk survei verifikasi. Survei verifikasi dapat dilakukan oleh lembaga independen pelaksana akreditasi yang melakukan penetapan status akreditasi terhadap rumah sakit. Survei rumah sakit bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit sesuai dengan rekomendasi dari surveior.

42

Penyelengaraan Akreditasi Internasional(6) Rumah sakit yang telah mendapatkan status akreditasi internasional wajib melaporkan status akreditasinya kepada Menteri. Akreditasi internasional hanya dapat dilakukan oleh lembaga independen penyelenggara akreditasi yang sudah terakreditas oleh Internasional Society for Quality in Health Care (ISQua).

3. Asuhan Kefarmasian / Para Fungsional Farmasis A. Pelayanan Informasi obat dan Konseling

B. Evaluasi dan monitoring efek samping obat

C. Pelayanan farmasi klinik

D. Produksi dan kontrol kualitas

4. CSSD (Central Sentralisasi Suplay Department) A. Ruangan lingkup CSSD 1. Tugas Pokok Dan Fungsi Central sterile supply department (CSSD) atau pusat sterilisasi adalah unit/departemen di RS yang menyelenggarakan proses dekontaminasi serta

pencucian, pengecekan/pengemasan, sterilisasi dan distribusi alat/bahan steril (RSHS). Pada mulanya, kegiatan sterilisasi di RSHS dilakukan oleh unit di bawah Instalasi Bedah Sentral, namun sejak November 2010 dibentuk instalasi CSSD yang secara organisasi berada di bawah Direktorat Medik dan Keperawatan. Sebagai pusat sterilisasi, CSSD memiliki fungsi utama yaitu mengurangi infeksi RS dengan menjamin tersedianya alat dan bahan steril serta memutus mata rantai penyebaran kuman/infeksi RS (sebagai bagian dari PPIRS). Fungsi CSSD/pusat sterilisasi: 1. Mengurangi infeksi RS dengan menjamin tersedianya alat dan bahan steril 2. Memutus mata rantai penyebaran kuman/infeksi RS (RSHS).

43

2. Konsep Area CSSD a. Area Kotor Ruang dekontaminasi sebagai tempat serah terima barang kotor dari ruang operasi. Petugas yang mencuci harus menggunakan APD. b. Area Bersih Ruang produksi dan pengemasan merupakan ruangan yang digunakan sebagai tempat mengemas semua alat yang telah melalui proses dekontaminasi. Barang diserahkan memalui ruang perantara. Seluruh alat di kemas dengan pengemas yang sesuai. Contoh pengemas yang digunakan antara lain, linen, kertas paying, poces. c. Area Steril Ruang penyimpanan berada dekat dengan ruang sterilisasi. Ada dua metode yang digunakan yaitu autoklaf dan etilen oksida. alat yang digunakan memiliki 2 pintu, setelah selesai proses sterilisasi alat akan di keluarkan melalui pintu alat yang ada di bagian ruang penyimpanan.
3. Kondisi Ruangan CSSD

Kelembaban 35-75 % Temperatur 18-22oC Koloni kuman 10 20 Pertukaran udara min 10x/jam

Tekanan udara khusus

- Partikel udara < 0,15 mg/m3 - Kebisingan max 60 Db - Pencahayaan min 100 lux

23

4. Spaulding Classification System


Tabel I. Klasifikasi sistem sterilisasi
KATEGORI Critical items DESKRIPSI Peralatan masuk atau dipergunakan & berhubungan dengan jaringan steril atau sistem pembuluh dan peredaran darah. Peralatan dipergunakan kontak dengan membran mukosa Peralatan dipergunakan kontak dengan permukaan kulit saja MODEL PROSES Sterilisasi

Semi critical items Non critical items

High disinfection Low level intermediate disinfection

level or level

5. Alur Sterilisasi

Pemakaian Pengambilan barang kotor

Distribusi

Penyimpanan

Dekontaminasi

Proses Sterilisasi

Pencucian Inspeksi/ dilakukan check

Pengemasan

Gambar 5. Alur sterilisasi instrument a. Pemakaian

Dilakukan oleh user/pengguna misalnya instalasi bedah. Peralatan (alat bedah) yang telah selesai dipakai dikumpulkan dan dihitung kesesuaian jumlahnya

24

dengan bantuan check list oleh perawat. Tiap chek list berbeda untuk masingmasing set. Untuk saat ini ada lebih dari 250 set tindakan pembedahan yang masing-masing set berisi antara 10 100 macam jenis alat.
b. Pengambilan Barang Kotor

Petugas CSSD melakukan pengambilan dan serah terima barang (set bedah) yang digunakan pasca operasi dengan perawat. Untuk kegiatan ini, petugas CSSD mengguanakan lift khusus yang menghubungkan ruang dekontaminasi dengan bagian belakang/koridor belakang ruangan operasi sehingga kontaminasi dengan area luar dapat diminimalisir. Petugas CSSD dan perawat bersama-sama menghitung kesesuaian jumlah dan jenis barang yang diserahterimakan dengan bantuan check list. c. Dekontamisasi Dekontaminasi adalah proses pembersihan bertujuan untuk mengangkat kotoran (jaringan, darah, lemak, sekret, dan partikel asing), mengurangi bioburdin (microbial & endotoxin), melindungi instrumen dari karat dan memperpanjang waktu penggunaan instrumen. Proses ini memegang peranan penting, karena jika proses pembersihan tidak baik maka sterilitas tidak akan tercapai. Proses ini dilakukan dengan merendam alat-alat yang tahan air dalam wadah yang berisi cairan klorin 0,5% dan wadah yang berisi cairan enzimatik masing-masing selama 10 menit. Karena melakukan kontak secara langsung dengan sumber kontaminasi, petugas di area dekontaminasi wajib menggunakan APD lengkap yang terdiri dari: topi, masker, sarung tangan standar, sarung tangan khusus, boot, apron/skort, google/pelindung mata.

25

Gambar 6. Alur Proses Dekontaminasi d. Pencucian Cara pencucian terdiri dari dua jenis, yaitu dilakukan dengan cara manual pada air yang mengalir untuk menghilangkan bekas organ atau darah dan menggunakan sikat yang halus. Sedangkan, mekanikal menggunakan mesin seperti : Ultrasonic cleaner, Washer disinfector, Flusher disinfector, Steam gun. Namun di RSHS, cara kedua tidak dilakukan pada beberapa waktu terakhir karena adanya kerusakan mesin. Setelah dicuci, instrumen dikeringkan dan kemudian diserahkan ke bagian pengemasan melalui pass box. e. Inspeksi Pengecek Inspeksi pengecek dilakukan untuk memeriksa kelengkapan set yang di derahkan, apakah ada alat yang hilang atu tidak. f. Pengemasan Setelah dilakukan pengecekan kelengkapan set, maka semua jenis set akan dipilah dan dikemas menggunakan kemasan yang cocok. Pengemasan bertujuan sebagai penghambat/barrier terhadap mikroorganisme dan debu (tahan air/basah & tusukan), memungkinkan penembusan oleh agen sterilisasi dan mempresentasikan isi dari kemasan yang steril. Pemilihan material pengemas sangat tergantung dari jenis barang yang akan dikemas, perlu terlihat/tertutup, metode sterilisasi, cara penyimpanan, distribusi dan transportasi, sumber dana/biaya. Material pengemas yang digunakan antara lain: Woven textiles (linen), papers (kraft, crepe-type paper), non-wovens (Cellulose or 100% synthetic

based), paper-plastic pouches/rolls, plastic pouches/rolls, metal drum (dengan sedikit modifikasi). Menurut (Depkes RI,2009) syarat bahan kemasan diantaranya: Dapat menahan mokroorganisme dan bakteri Kuat dan tahan lama Mudah digunakan Tidak mengandung racun Segel yang baik Dibuka dengan mudah dan aman

26

Masa kadaluarsa Dibuka dengan mudah dan aman Masa kadaluarsa Tahapan pengemasan meliputi : Nama Set / Alat Tanggal Proses Nomor Loading / Mesin Pengemas / Operator Mesin ED / Kadaluarsa

Gambar 7. Label pada pengemas

g. Sterilisasi Setelah dikemas set akan dimasukan kedalam mesin sterilisasi. Metode sterilisasi dapat dilakukan dengan cara panas basah, panas kering, gas, kimiawi dan penyinaran. Instalasi CSSD RSHS menerapkan metode panas basah dengan menggunakan steam sterilisator (4 unit mesin) dan gas etilen okside (1 unit mesin). Steam sterilisator digunakan untuk instrumen dan bahan yang tahan dengan panas tinggi, sedangkan untuk alat yang tidak tahan panas seperti cateter jantung dan peralatan endoskopi menggunakan sterlisisasi dengan gas etilen okside. Langkah kerja sterilisasi dengan steam dan etilen okside terdapat pada lampiran. h. Penyimpanan Instrument yang telah disterilisasi kemudian di simpan di dalam gudang penyimpanan. Gudang penyimpanan produk steril di RSHS dilengkapi dengan air shower (di lorong sebelum masuk gudang), hepha filter dan rutin dilakukan

27

penyinaran UV seminggu sekali. Penyimpanan barang steril di RSHS sudah memenuhi syarat dari DepKes RI tahun 2009, yaitu : a. Sebaiknya berada dekat dengan ruang sterilisasi b. Pintu belakang langsung berhubungan dengan ruang penyimpanan apabila menggunakan mesin sterilisasi dua pintu c. Penerangan harus memadai d. Suhu ruangan antara 18-22 oC; kelembaban 35-75% e. Ventilasi menggunakan sistem tekanan positif dengan efisiensi filtrasi partikular antara 90-95% (untuk partikular berukuran 0,5 mikron) f. Dinding dan lantai ruangan terbuat dari bahan yang halus dan kuat g. Alat steril disimpan pada jarak 19-24 cm dari lantai dan minimum 43 cm dari langit-langit serta 5 cm dari dinding, serta alat steril tidak disimpan dekat wastafel atau saluran pipa lainnya h. Lokasi ruang penyimpanan steril harus jauh dari lalu lintas utama dan jendela serta pintu dan terisolasi.

i. Distribusi Distribusi dilakukan ke instalasi bedah sentral (COT dan ODS) dan ruanganruangan. Untuk keperluan di instalasi bedah sentral, permintaan dilakukan ke depo CSSD yang letaknya berdekatan dengan COT. Ada ruangan khusus untuk serah terima barang steril yang letaknya berdekatan dengan gudang penyimpanan. Barang yang diminta dimasukkan ke dalam pass box dan diambil dari arah ruangan serah terima. Permintaan dari ruangan dilakukam dengan mengisi bon/formulir permintaan barang. Barang yang dikeluarkan lebih dahulu adalah set yg di produksi lebih dahulu (FEFO). Selanjutnya petugas CSSD menyiapkan dan melengkapi data barang sesuai dengan permintaan kemudian menyerahkannya.
6. Monitoring Sterilisasi

Monitoring sterilisasi bertujuan untuk memantau proses sterilisasi secara rutin dengan mempergunakan indikator mekanik, kimia dan biologi sehingga dapat dijadikan sebagai parameter. Jenis indikator mutu sterilisasi yang digunakan di

28

RSHS antara lain : indikator mekanik, indikator kimia dan indikator biologi (Uji Kultur Laboratorium). a. Indikator Mekanik Indikator mekanik merupakan bagian dari mesin sterilisasi berupa indikator suhu dan tekanan yang menunjukkan apakah alat sterilisasi bekerja dengan baik. Selain itu, RSHS menggunakan indikator Bowie Dick pada metode sterilisasi dengan steam. Tes ini digunakan untuk menilai efisiensi pompa vakum pada alat sterilisasi steam dan mengetahui adanya kebocoran udara. Keterbatasan tes ini adalah hanya digunakan pada metode sterilisasi uap panas yang menggunakan sistem vakum dan tidak digunakan untuk mengetahui apakah kondisi sterilisasi telah tercapai. Uji Bowie Dick dilakukan sebelum alat di sterilisasi. Kegunaan dari indikator mekanik adalah - memberikan informasi segera mengenai temperatur, tekanan, waktu dan fungsi mekanik lainnya dari alat. - memberikan indikasi adanya masalah apabila alat rusak dan memerlukan perbaikan Keterbatasan dari indikator mekanik: - indikator tidak menunjukkan bahwa keadaan steril sudah tercapai melainkan hanya memberikan informasi secara cepat tentang fungsi dari alat sterilisasi. - Karena bersifat mekanis, maka bila tidak dilakukan kalibrasi alat dengan tepat atau pemakaian yang terlalu sering dapat memberikan informasi yang tidak tepat (DepKes RI, 2009). b. Indikator Kimia Indikator yang menandai terjadinya paparan sterilan (uap atau gas) pada obyek yang disterilkan dengan adanya perubahan warna. Indikator kimia dapat dibedakan menjadi dua, yaitu indikator eksternal dan internal. Indikator eksternal berbentuk tape dan digunakan di bagian luar kemasan. Indikator internal berbentuk strip dan diletakkan dalam setiap kemasan. Baik indikator internal maupun eksternal, akan memberikan informasi bahwa benda di dalam atau luar kemasan telah melewati proses sterilisasi (DepKes RI, 2009). Apabila terjadi perubahan warna maka akan memberikan informasi bahwa bagian dalam atau luar kemasan benda yang disterilkan telah melewati proses

29

sterilisasi. Dalam prakteknya indikator eksternal sangat bermanfaat karena memberikan bukti visual benda yang sudah melewati proses sterilisasi dan dapat menandakan antara benda yang sudah dan belum disterilisasi berfungsi sebagai segel atau pengaman kemasan. Keterbatasan indikator eksternal adalah informasi yang hanya pada kemasan bagian luar sedangkan tidak membuktikan adanya penetrasi sterilan ke bagian dalam kemasan. Keterbatasan indikator internal adalah informasi yang hanya pada kemasan bagian dalam sedangkan tidak membuktikan adanya penetrasi sterilan ke bagian luar kemasan (DepKes RI, 2009). Kelebihan indikator kimia: - Dapat memberikan informasi dengan segera bahwa suatu benda sudah melewati proses sterilisasi dan bahwa parameter-parameter atau kondisi yang diperlukan untuk proses sterilisasi sudah terpenuhi - Memberikan informasi secara spesifik pada setiap kemasan (DepKes RI, 2009). Keterbatasan indikator kimia adalah belum menjamin tercapainya keadaan steril, tetapi hanya menunjukkan bahwa suatu benda sudah melewati kondisi-kondisi sterilisasi dalam suatu siklus sterilisasi (DepKes RI, 2009). c. Indikator Biologi Prinsip kerja dari indikator biologi adalah mensterilkan spora hidup mikroorganisme yang non patogenik dan sangat resisten dalam jumlah tertentu. Bila selama proses sterilisasi spora terbunuh, maka diasumsikan benda yang kita sterilkan, sporanya mati (hasil steril). Indikator biologi yang digunakan RSHS yaitu Attest, yang di dalamnya berisi bakteri sesuai dengan metode sterilisasi yang akan digunakan. Pengujian indikator biologi Attest untuk metode sterilisasi steam hanya dilakukan satu kali selama sehari yaitu pada saat sterilisasi loading barang kedua. Setelah Attest mengalami sterilisasi pada steam, maka hasilnya harus di baca menggunakan auto reader. Pembacaan dilakukan selama 3 jam dalam inkubator auto reader. Setelah itu, hasilnya dapat dilihat berupa tanda + (bakteri hidup sehingga barang tidak steril) atau (bakteri mati atau barang sudah steril). Indikator biologi harus disesuaikan dengan metode sterilisasi, antara lain :

30

metode uap panas menggunakan Bacillus Stearothermophyllus dan metode ETO menggunakan Bacillus Subtilis.

7. Analisa kebutuhan Perencanaan kebutuhan instalasi CSSD menggunakan data pemakaian tahun sebelumnya sebagai landasan perkiraan. Selain itu, melihat dari trend tindakan pembedahan dan adanya program yang rumah sakit yang sedang dijalankan juga menjadi pertimbangan. Berdasar trend tindakan misalnya dengan melakukan evaluasi ke ruangan atau bagian yang dalam 3 bulan terakhir mengajukan permintaan (contohnya permintaan kasa) yang meningkat tajam dari pemakaian-pemakaian sebelumnya. Upaya ini dilakukan sebagai langkah cross check bahwa pemakaiannya memang untuk tindakan yang diperlukan dan sebagai data untuk proses pengajuan usulan berikutnya. Pengajuan usulan pengadaan dilakukan per semester (setahun 2 kali) dengan draft pengajuan harus diserahkan ke unit perencanaan 2 bulan sebelumnya.

B. Macam Sterilisasi Baca diatas Monitoring sterilisasi 5. Penanganan Limbah A. Penanganan Limbah citotoksik Baca PDF Pengolahan Limbah B. Penanganan Limbah IFRS A. Pengelolaan Limbah RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan, dapat menjadi tempat penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan. Salah satu program kegiatan yang mendukung upaya pencegahan risiko dan gangguan kesehatan tersebut adalah pengelolaan limbah di rumah sakit. Pengertian pengelolaan limbah : 1. PPNo. 18 /1999 tentang Pengelolaan Limbah B3 - Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan;

31

- Limbah B3, adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; 2. SK Menkes No. 1204 /2004 Tentang Persyaratan Kesling RS Limbah RS adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan RS dalam bentuk padat,cair dan gas. 3. UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sampah spesifik adalah sampah yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau volumenya memerlukan pengelolaan khusus. Sampah spesifik meliputi sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun.

1. Tujuan pelaksanaan pengelolaan limbah : Melindungi masyarakat rumah sakit (karyawan, pasien dan pengunjung)agar terhindar dari segala kemungkinan gangguan / resiko yang berasal dari kegiatan rumah sakit sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal. Mewujudkan mutu kesehatan lingkungan rumah sakit yang bersih dan tertib sehingga meningkatkan citra rumah sakit.

Gambar 2. Organisasi Instalasi Kesehatan Lingkungan dan K3 RSHS

32

2. Karakteristik Limbah B3 Mudah meledak (explosive) Mudah Terbakar (flammable) Beracun (toxic) Berbahaya (harmful) Korosif (corrosive) Infeksious : Berdasarkan Lampiran PP 18 tahun 1999, limbah dari rumah sakit masuk dalam kategori limbah B3, yaitu asal/uraian limbah : limbah klinis, produk farmasi kadaluarsa, peralatan laboratorium terkontaminasi, kemasan produk farmasi, limbah laboratorium, residu proses insinerasi. Berdasarkan bentuknya, limbah di rumah sakit diklasifikasikan menjadi 3 kelompok besar yaitu limbah padat, cair dan gas. Limbah padat kemudian dibagi lagi menjadi limbah medis dan non medis. Termasuk ke dalam limbah medis antara lain limbah infeksius, berupa benda tajam misalnya jarum suntik, bahan kimia (reagenreagen laboratorium), limbah radiologi, limbah farmasi, patologi dan sitotoksik. Sedangkan limbah non medis dapat berupa limbah organik, anorganik daur ulang dan non daur ulang serta kontainer bertekanan.

3. Jenis Limbah Medis: Infeksius : limbah yang mengandung bahan patogen (bakteri, virus, parasit/jamur. Misalnya : limbah ruang isolasi, alat yang kontak dengan pasien) Patologis : jaringan atau cairan dari tubuh manusia Benda tajam : jarum, pisau, pecahan gelas, dsb Farmasi : yang mengandung bahan farmasi. Misalnya : obat kadaluarsa Kimia : yang mengandung bahan kimia. Misalnya : reagen laboratorium, desinfektan kadaluarsa. Radioaktif : yang mengandung bahan radioaktif. Misalnya: gelas yang terkontaminasi, kertas penghisap, urine dan sekret pasien yang dites melalui radionuklida Kontainer bertekanan : kaleng sisa yang mengandung aerosol Umum : limbah/sampah domestik, perkantoran, kegiatan administrasi.

33

Dari sekian banyak jenis limbah yang dihasilkan, jika tidak dikelola dengan baik maka dampak negatif limbah akan dirasakan oleh masyarakat rumah sakit. Untuk itu, diperlukan upaya pengelolaan limbah yang merupakan tanggungjawab dari IKL-K3.

Gambar 3. Alur Pengelolaan Limbah Padat di RSHS

Keterangan: a. Pemisahan dan Pewadahan (Segregasi) Segresi dilakukan di unit atau ruangan penghasil limbah. Limbah dipisahkan dan dimasukkan kedalam tempat / kantong plastik sesuai dengan kategori / limbah. Petugas pemisah : Petugas di ruangan ( Perawat/dokter). Warna plastik untuk limbah medis yaitu kuning, warna plastik untuk isolasi yaitu putih dan warn kantong plastik untuk umum yaitu hitam. Sedangkan, benda tajam diletakkan dalam safety box berwarna kuning. Akibat Proses Segregasi Yang Buruk : Meningkatnya cost pemusnahan limbah; Meningkatnya kecelakaan akibat pengelolaan limbah; Pencemaran terhadap lingkungan; Meningkatnya penyakit akibat pengelolaan limbah. b. Pengumpulan & Pengangkutan Pengangkutan dari unit atau ruangan penghasil limbah ke TPS (Tempat Pengumpulan Sementara) dilakukan setiap hari dengan menggunakan trolly tertutup

34

dan dipisah antara limbah medis dan non medis yang dilakukan oleh petugas Cleaning Service yang dilengkapi dengan APD (alat pelindung diri).

c. Pembuangan akhir & Pemusnahan Limbah medis dimusnahkan dengan incenerator dengan suhu diatas 1000 C. Limbah non medis dari TPS selanjutnya diangkut ke lokasi tempat pembuangan akhir, bekerjasama dengan PD Kebersihan d. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit

Gambar 4. Pengelolaan Limbah Rumh Sakit

e. Tips Penanganan Limbah Benda Tajam : Jangan membengkokan jarum suntik Jangan mematahkan jarum Jangan menutup jarum dengan sarungnya Jangan mencabut jarum dari Syringenya Segera buang ke dalam kontainer setelah digunakan 4. IPAL di Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin Pada awalnya air limbah dialirkan ke dalam. Dalam proses penyaluran ke inlet, bahan padat dapat masuk ke sistem penyaluran. Jika bahan padat masuk ke sistem penyaluran dan mencapai unit pengolahan maka proses pengolahan limbah cair dapat terganggu. Oleh karena itu, pada inlet dilakukan pengolahan pendahuluan yaitu

35

melalui proses penyaringan dengan bar screen. Air limbah dialirkan melalui spiral save untuk menyaring sampah yang berukuran besar. Sampah yang tertahan oleh spiral save secara rutin diangkut untuk menghindari terjadinya penyumbatan. Selanjutnya air limbah diolah dalam bak endapan (equalizing tank). Di dekat ada pengontrol pH yang berfungsi untuk mengatur limbah cair yang masuk agar netral dalam range pH 6-9. Pada bak equalizing tank digunakan untuk mencampur dan menghomogenkan air limbah. Setelah homogen, maka akan dialirkan ke bak pertama. Pada bak kedua terdapat bakteri yang selalu di tanamkan setiap hari dan ada aliran udara dari jet aerator. Kemudian air limbah beserta lumpur hasil proses biologis tadi dialirkan kedalam bak ketiga agar dapat mengendap. Lumpur yang sudah mengendap di bagian paling bawah dipompakan kembali oleh pompa mekanik ke bak pertama dan lumpur pada air limbah yang baru datang dibiarkan turun mengendap ke bawah sehingga terjadi pergantian. Lumpur yang telah mengendap pada dasar bak ketiga dikembalikan ke bak pertama tanpa ada yang diambil keluar atau dilakukan pengolahan lumpur lebih lanjut. Air limbah dari bak ketiga yang sudah lebih jernih dialirkan ke bak desinfektan. Bak desinfeksi yang berfungsi untuk untuk mengendalikan jumlah populasi bakteri pada ambang yang tidak membahayakan. Desinfektan yang diberikan berupa kaporit, setiap 1 minggu ada 2 kg kaporit bentuk tablet yang di berikan pada bak tersebut. Paling terakhir limbah dialirkan dalam flow meter. Flow meter digunakan untuk pembuangan air limbah menuju ke PDAM. Karakteristik limbah cair dapat diketahui menurut sifat dan karakteristik kimia, biologis dan fisika. Studi karakteristik limbah perlu dilakukan agar dapat pencemaran dapat ditimbulkan limbah terhadap lingkungan. Dalam menentukan karakteristik limbah maka ada tiga jenis sifat yang harus diketahui yaitu: Sifat Fisik a. Padatan Dalam limbah ditemukan zat padat yang secara umum diklasifikasikan kedalam dua kelompok besar yaitu padatan terlarut dan padatan tersuspensi. Padatan tersuspensi terdiri dari partikel koloid dan partikel biasa. Jenis partikel dapat dibedakan berdasarkan diameternya.

36

b. Kekeruhan Sifat keruh air dapat dilihat dengan mata secara langsung karena ada partikel koloidal yang terdiri dari tanah liat, sisa bahan-bahan, protein dan ganggang yang terdapat dalam limbah. Kekeruhan merupakan sifat optis larutan. c. Bau Sifat bau limbah disebabkan karena zat-zat organik yang telah berurai dalam limbah mengeluarkan gas-gas seperti sulfida atau amoniak yang menimbulkan penciuman tidak enak yang disebabkan adanya campuran dari nitrogen, sulfur dan fosfor yang berasal dari pembusukan protein yang dikandung limbah. d. Temperatur Limbah yang mempunyai temperatur panas akan mengganggu pertumbuhan biota tertentu. Temperatur yang dikeluarkan suatu limbah cair harus merupakan temperatur alami. Suhu berfungsi memperlihatkan aktivitas kimiawi dan biologis. Pada suhu tinggi pengentalan cairan berkurang dan mengurangi sedimentasi. Tingkat zat oksidasi lebih besar daripada suhu tiggi dan pembusukan jarang terjadi pada suhu rendah. e. Warna Warna dalam air disebabkan adanya ion-ion logam besi dan mangan (secara alami), humus, plankton, tanaman air dan buangan. Warna berkaitan dengan kekeruhan dan dengan menghilangkan kekeruhan kelihatan warna nyata. Demikian pula warna dapat disebabkan oleh zat-zat terlarut dan zat tersuspensi. Warna menimbulkan pemandangan yang jelek dalam air limbah meskipun warna tidak menimbulkan racun. Sifat Kimia Karakteristik kimia air limbah ditentukan oleh Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD) dan logam-logam berat yang terkandung dalam air limbah. a. Biological Oxygen Demand (BOD) BOD adalah kebutuhan oksigen bagi sejumlah bakteri untuk menguraikan semua zat-zat organik yang terlarut maupun sebagian tersuspensi dalam air menjadi bahan organik yang lebih sederhana. Nilai ini hanya merupakan jumlah bahan organik yang dikonsumsi bakteri. Penguraian zat-zat organis ini terjadi

37

secara alami. Dengan habisnya oksigen terkonsumsi membuat biota lainnya yang membutuhkan oksigen menjadi kekurangan dan akibatnya biota yang memerlukan oksigen ini tidak dapat hidup. Semakin tinggi angka BOD semakin sulit bagi makhluk air yang membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup. b. Chemical Oxygen Demand (COD) Pengukuran kekuatan limbah dengan COD adalah bentuk lain pengukuran kebutuhan oksigen dalam air limbah. Pengukuran ini menekankan kebutuhan oksigen akan kimia dimana senyawa-senyawa yang diukur adalah bahan-bahan yang tidak dipecah secara biokimia. Adanya racun atau logam tertentu dalam limbah menyebabkan pertumbuhan bakteri akan terhalang dan pengukuran BOD menjadi tidak realistis. Untuk mengatasinya lebih tepat menggunakan analisis COD. COD adalah sejumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat anorganis dan organis sebagaimana pada BOD. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat anorganik. Semakin dekat nilai BOD terhadap COD menunjukkan bahwa semakin sedikit bahan anorganik yang dapat dioksidasi dengan bahan kima. c. Metan Gas metan terbentuk akibat penguraian zat-zat organik dalam kondisi anaerob pada air limbah. Gas ini dihasilkan oleh lumpur yang membusuk pada dasar kolam, tidak berdebu, tidak berwarna dan mudah terbakar. Suatu kolam limbah yang menghasilkan gas metan akan sedikit sekali menghasilkan lumpur, sebab lumpur telah habis terolah menjadi gas metan dan air serta CO2. d. Keasaman Air Keasaman air diukur dengan pH meter. Keasaman ditetapkan berdasarkan tinggi rendahnya konsentrasi ion hidrogen dalam air. Air buangan yang mempunyai pH tinggi atau rendah menjadikan air steril dan sebagai akibatnya membunuh mikroorganisme air yang diperlukan untuk keperluan biota tertentu. Demikian juga makhluk-makhluk lain tidak dapat hidup seperti ikan. Air yang mempunyai pH rendah membuat air korosif terhadap bahan-bahan konstruksi besi dengan kontak air.

38

e. Alkalinitas Tinggi rendahnya alkalinitas air ditentukan air senyawa karbonat, garamgaram hidroksida, kalsium, magnesium, dan natrium dalam air. Tingginya kandungan zat-zat tersebut mengakibatkan kesadahan dalam air. Semakin tinggi kesadahan suatu air semakin sulit air berbuih. Pengukuran alkalinitas air adalah pegukuran kandungan ion CaCO3, ion Mg bikarbonat dan lain-lain. f. Lemak dan minyak Kandungan lemak dan minyak yang terkandung dalam limbah bersumber dari instalasi yang mengolah bahan baku mengandung minyak. Lemak dan minyak merupakan bahan organis bersifat tetap dan sukar diuraikan bakteri. Limbah ini membuat lapisan pada permukaan air sehingga membentuk selaput. g. Oksigen terlarut Keadaan oksigen terlarut berlawanan dengan keadaan BOD. Semakin tiggi BOD semakin rendah oksigen terlarut. Keadaan oksigen terlarut dalam air dapat menunjukkan tanda-tanda kehidupan ikan dan biota dalam perairan. Kemampuan air untuk mengadakan pemulihan secara alami banyak tergantung pada tersedianya oksigen terlarut. Angka oksigen yang tinggi menunjukkan keadaan air semakin baik h. Klorida Klorida merupakan zat terlarut dan tidak menyerap. Sebagai klor bebas berfungsi desinfektan tetapi dalam bentuk ion yang bersenyawa dengan ion natrium menyebabkan air menjadi asin dan dapat merusak pipa-pipa instalasi. i. Phospat Kandungan phospat yang tinggi menyebabkan suburnya algae dan organisme lainnya yang dikenal dengan eutrophikasi. Pengukuran kandungan phospat dalam air limbah berfungsi untuk mencegah tingginya kadar phospat sehingga tumbuh-tumbuhan dalam air berkurang jenisnya dan pada gilirannya tidak merangsang pertumbuhan tanaman air. Kesuburan tanaman ini akan menghalangi kelancaran arus air.

39

Sifat Biologi Mikroorganisme ditemukan dalam jenis yang sangat bervariasi hampir dalam semua bentuk air limbah, biasanya dengan konsentrasi 105-108 organisme/ml. Kebanyakan merupakan sel tunggal yang bebas ataupun berkelompok dan mampu melakukan proses-proses kehidupan (tumbuh metabolisme, dan reproduksi). Keberadaan bakteri berperan penting dalam mengevaluasi kualitas air.

6. Nutrisi A. Pengolahan Nutrisi dan Gizi di rumah sakit B. Kebutuhan Gizi Pasien (Cara Menghitung Gizi Pasien) Baca PDF Pedoman Gizi

40

KISI-KISI Ujian PKPA BPOM A. Bidang Pengujian Produk Terapetik, Narkotik, Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen Bidang ini bertugas melaksanakan penyusunan rencana dan program serta evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan pengujian secara laboratorium (fisika dan kimia), serta penilaian mutu produk-produk terapetik, narkotik, obat tradisional, kosmetik, alat kesehatan, perbekalan kesehatan rumah tangga, dan produk komplemen. Selain itu peran apoteker di bidang ini adalah mencari, menyusun, menetapkan, dan memverifikasi metode analisis untuk pemeriksaan mutu produk terapetik, narkotik, obat tradisional, kosmetik, alat kesehatan, perbekalan kesehatan rumah tangga dan produk komplemen.

B. Bidang Pengujian Pangan dan Bahan Berbahaya Bertugas melaksanakan penyusunan rencana dan program serta evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan pengujian secara laboratorium (kimia dan fisika) dan penilaian mutu pangan dan bahan berbahaya. Apoteker berperan untuk mencari, menyusun, menetapkan, dan memverifikasi metode analisis untuk pemeriksaan mutu dan keamanan produk pangan dan bahan berbahaya. C. Bidang Pengujian Mikrobiologi Bertugas melaksanakan penyusunan rencana dan program serta evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan pengujian dan penilaian mutu secara mikrobiologi. Apoteker berperan menyusun, menetapkan, dan memverifikasi metode analisis untuk pemeriksaan mutu maupun keamanan produk terapetik, narkotik, obat tradisional, kosmetik, alat kesehatan, perbekalan kesehatan rumah tangga, produk komplemen, produk pangan dan bahan berbahaya yang memerlukan Pengujian Mikrobiologi. Ruang lingkup Pengujian Mikrobiologi mencakup uji cemaran mikroba, uji potensi antibiotik, uji sterilitas, dan uji lain yang berkaitan dengan mikrobiologi. D. Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan Bertugas melaksanakan penyusunan rencana dan program serta evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan pemeriksaan setempat, pengambilan contoh untuk pengujian, pemeriksaan sarana produksi, distribusi dan instansi

41

kesehatan serta penyidikan kasus pelanggaran hukum di bidang produk terapetik, narkotik, psikotropik, dan zat adiktif lain, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen, pangan dan bahan berbahaya. Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan terdiri atas: a. Seksi pemeriksaan Bertugas melakukan pemeriksaan setempat, pengambilan contoh untuk pengujian, pemeriksaan sarana produksi dan distribusi produk terapetik, narkotik, psikotropik dan zat adiktif lain, obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen. b. Seksi Penyidikan Bertugas melakukan penyidikan terhadap kasus pelanggaran hukum dibidang produk terapetik, narkotik, psikotropik dan zat adiktif lain, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen, pangan dan bahan berbahaya. E. Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen Bertugas melaksanakan penyusunan rencana dan program serta evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan sertifikasi produk, sarana produksi dan distribusi tertentu dan layanan informasi konsumen. Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen terdiri atas: a. Seksi Sertifikasi Bertugas melakukan sertifikasi produk, sarana produksi dan distribusi tertentu. b. Seksi Layanan Informasi Konsumen Bertugas melakukan pelayanan informasi kepada konsumen.

42

KISI-KISI Ujian PKPA Industri

Anda mungkin juga menyukai