Anda di halaman 1dari 11

Indra MS Nurakmal Hadi

Mumifikasi fetus yaitu kematian fetus yang terjadi dipertengahan, atau sepertiga akhir masa kebuntingan, tidak memberikan inhibisi pada corpus luteum. Mumifikasi adalah kematian fetus di dalam uterus dimana tidak tercemari oleh mikroorganisme, menyebabkan cairan fetus diserap oleh dinding uterus setelah terjadi autolisis dan tubuh fetus mengering dan keras(mummi) disertai proses involusi uterus yang normal.

Faktor penyebab keadaan mengapa fetus masih dipertahankan di dalam uterus karena masih adanya fetus yang masih hidup atau adanya corpus luteum yang masih ada, dan ada hubungannya dengan fetus tunggal atau ganda

Hal yang dapat menyebabkan mummifikasi fetus adalah kematian fetus non infeksius, torsio uteri, tali pusat yang terjepit sehingga supali darah terhambat, mummifikasi bisa terjadi pada semua hewan ternak seperti sapi, kambing, domba, babi serta anjing dan kucing pun bisa mengalaminya.

Mumifikasi yang ada hubungan dengan corpus luteum persisten dijumpai terutama pada sapi dan jarang pada anjing. Karena pemeliharaan gravid pada kedua spesies ini dilakukan oleh progesterone yang dihasilkan corpus luteum, pada spesies lainnya progesterone dihasilkan plasenta fetus setelah pertengahan masa kebuntingan dan corpus luteum telah involusi.

Gejala yang bisa dilihat ketika terjadi kematian fetus sampai terjadi mumifikasi antara lain kegagalan birahi dengan corpus luteum persisten, nafsu makan berkurang, susah defekasi, kadang disertai kholik.

Pertolongan kasus ini pada induk terantung spesies hewannya. pada hewan polipara seperti babi, anjing dan kucing dimana anak lebih darisatu maka fetus yang mengalami mumifikasi akan keluar bersamaan dengan etus yang normal saat partus normal, fetus yang mengalami mumifikasi tidak berbau dan berwarna gelap.

Pada hewan monopara seperti sapi dan kuda penyuntikan stilbestrol 50-80mg atau estradiol benzoat 5-10mg secara intramuskuler akan menghasilkan kontraksi uterus yang akan mendorong keluar fetus dalam jangka waktu 3272 jam. selain preparat estrogen diatas pengobatan juga bisa dilakukan menggunakan preparat PGF2Alfa atau oksitosin.Setelah berhasil dalam pengeluaran fetus induk akansegera sembuh dan siklus estrus berjalan normal lagi.

Ada dua tipe mumifikasi yaitu : 1.Tipe hematik Terjadi perdarahan dengan derajat tertentu antara endometrium dan membrane fetalis. Pada sapi bisa terjadi pada semua umur dan biasanya mengenai satu fetus tapi bisa juga kedua fetus. Pada sapi terjadi pada bulan ke 3-8 masa kebuntingan, tapi umumnya setelah bulan ke 5.bila didiagnosa maka akan dijumpai fetus tetap di uterus walaupun melampaui masa bunting. Penyebabnya : sama dengan sebab-sebab kematian fetus normal, juga bisa disebabkan karena faktor genetic

2.Papyraceous mummification Fetus lahir dalam keadaan mati kering terbungkus oleh selubung fetusnya dan selubung ini basah mengkilat. Yang spesifik adalah mummi ini terdapat diantara fetusfetus lain yang terus tumbuh dan lahir hidup.

Mumifikasi fetus

Setelah fetus mati terjadi pengeluaran cairan fetus, dehidrasi jaringan tubuh fetus dan selaputnya. Korpus luteum graviditatum menjadi persisten (KLP) Fetus beserta selaputnya menetap di dalam uterus Fetus dan selaputnya steril (tidak ada kuman yang meng infeksi) Gejala/tanda tanda adanya mumifikasi pada sapi : Induk sapi tidak melahirkan pada waktunya Tidak ada perubahan dan perkembangan ambing pada trimester akhir dari kebuntingan Pada palpasi rektal : uterus dan isinya (fetus) teraba seperti benda keras, karunkula dan kotiledon dan fremitus tidak teraba Penyebab kematian fetus pada mumifikasi tidak diketahui Fetus dapat dikeluarkan dengan penyuntikan PGF2 dan pemberian bahan pelicin pada jalan kelahiran

Anda mungkin juga menyukai