Anda di halaman 1dari 5

Kearifan Lokal dan Keragaman Hayati (1)

By: Toto Kushartono, S.Ip.,M.Si

I. Pendahuluan Desa Sirnarasa Sukabumi Selatan (sekitar Gn Halimun) ada masy yg hidup dlm ikatan tradisional Kasepuhan. Dlm tiap aktivitas selalu didahului dgn berbagai upacara, diantaranya upacara ngaseuk dan mipit . Upacara tsb dilakukan pada pupuhan (suatu tempat di selatan areal perladangan). Dan biasanya berfungsi sbg tutuwuh atau pancer. Upacara tsb memiliki aspek simbolik, yaitu mempersatukan makro dan mikro kosmos. Pada masa lalu, di kalangan masy sunda di Jabar, kepercayaan thd Dewi Sri sbg Dewi Padi mrpk hal yg bersifat umum. Kebiasaan ini semakin sulit ditemukan, tetapi di Baduy dan Warga Kasepuhan msh dipertahankan tatali paranti karuhun.

II. Pupuhan: Simbol Kesatuan Makro-Mikro Kosmos di Kalangan Warga Kasepuhan di Gunung Halimun Jabar
Beberapa perlengkapan dlm upacara ngaseuk maupun mipit a,l: - Benih padi (coo binih) - Boboko (benih padi dicampur dgn benih tanaman lain spt jagung, hiris, tivijen, lahu, jaat) dan ditanam dlm satu lubang. - Aseuk (tongkat yg panjangnya 1,5 meter) - Pohon hanjuang, jawer kotok, tepus, binbing, palepah rotan. - Cermin kecil, sisir, minyak kelapa dlm botol kecil, kulit kerang, catuh, biji buah pendeuy, kelereng, kulit susuh, kapas dan bijinya, dan kain boeh (kapan). Stlh upacara berakhir ditancapkan bambu tamiang 2,5 meter, ditengahnya diletakan dua pilah bambu bersilang yg dipersatukan dgn ikatan jukut palias.

Lanjutan

Di sekitar pupuhan , biasanya ditempatkan sanggar kecil sbg simbol rumah atau gedung Sri Ratna inten, yg didlmnya disimpan ketupat, tangtang angin, sehelai lipatan daun sirih, seiring daging kelapa, seruas batang tebu, segendul gula aren, tujuh macam rujak-rujakan, sebuah pisang, buah asem, buah jambu dan honje, sebutir telur ayam rebus, sedikit kerucut nasi putih, lima buah kue kelepon, tepung beras yg dibasahi air kunyit, pepes tepung beras berwarna merah dan putih.

III. Aspek Simbolik Pupuhan

Bagi warga kasepuhan berladang mrpk kegiatan yg sangat penting, baik secara sosial maupun kepercayaan. Berladang perekat eksistensi warga kasepuhan. Dlm setiap aktivitas didahului doa amit. Upacara ini memiliki makna sosio relegius, sbg upaya menguasai alam agar terjadi hubungan yg seimbang dan harmonis antara manusia dan lingkungan alam dimana mereka hidup. Dimana hal ini dimanisfestasikan dgn hasil panen yg melimpah.****