Anda di halaman 1dari 24

Laporan Praktikum Ekologi Tumbuhan

Analisis Vegetasi
Kelompok 6 Vita Istiqomah Anggi Dyah Aristi Ria Lestari Shelena Nugraha R. Dewi Irma Fitriyani (3415110315) (3415111375) (3415111382) (3415111389) (3415111390)

Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Jakarta 2013

1|Page

BAB I PENDAHULUAN I. 1 Latar Belakang Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh - tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis ( Marsono, 1977 ).

Analisis vegetasi merupakan cara yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar sebaran berbagai spesies dalam suatu area melaui pengamatan langsung. Dilakukan dengan membuat plot dan mengamati morfologi serta identifikasi vegetasi yang ada. Kehadiran vegetasi pada suatu landscape akan memberikan dampak positif bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah, pengaturan tata air tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi tanah, tetapi besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebut. Dalam komunitas vegetasi, tumbuhan yang mempunyai hubungan di antara mereka, mungkin pohon, semak, rumput, lumut kerak dan Thallophyta, tumbuh-tumbuhan ini lebih kurang menempati strata atau lapisan dari atas ke bawah secara horizontal, ini disebut stratifikasi. Individu yang menempati lapisan yang berlainan menunjukkan perbedaanperbedaan bentuk pertumbuhan, setiap lapisan komunitas kadang-kadang meliputi klas-klas morfologi individu yang berbeda seperti, strata yang paling tinggi merupakan kanopi pohonpohon atau liana. Untuk tujuan ini, tumbuh-tumbuhan mempunyai klas morfologi yang berbeda yang terbentuk dalam sinusie misalnya pohon dalam sinusie pohon, epifit dalam sinusie epifit dan sebagainya (Hadisubroto, 1989). Maka dari itu dilakukanlah percobaan ini.

2|Page

I. 2 Tujuan Percobaan: 1. Untuk mengetahui kerapatan ( densitas), frekuensi, dan dominasi dari suatu spesies penyusun dalam suatu vegetasi dengan menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT), Belt Transect dan Point Centered Quarter (PCQ). 2. Melatih keterampilan mahasiswa dalam menggunakan teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhana dalam analisis vegetasi.

3|Page

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penyusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan (Greig-Smith, 1983). Sifat komunitas akan ditentukan oleh keadaan individu-individu tadi, dengan demikian untuk melihat suatu komunitas sama dengan memperhatikan individu-individu atau populasinya dari seluruh jenis tumbuhan yang ada secara keseluruhan. Ini berarti bahwa daerah pengambilan contoh itu representatif bila didalamnya terdapat semua atau sebagian besar dari jenis tumbuhan pembentuk komunitas tersebut (Sagala, E.H.P, 1997). Pengamatan parameter vegetasi berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu, serta herba. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan drastik karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984; Sundarapandian dan Swamy, 2000). Pada suatu daerah vegetasi umumnya akan terdapat suatu luas tertentu, dan daerah tadi sudah memperlihatkan kekhususan dari vegetasi secara keseluruhan.yang disebut luas minimum (Odum, 1998). Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990). Analisa vegetasi dibagi atas dua metode yaitu : (1) metode plot/kuadrat dan (2) metode non plot/jalur atau transek.
4|Page

2.1. Metode Plot/Kuadrat Metode plot adalah prosedur yang umum digunakan untuk sampling berbagai tipe organisme. Bentuk plot biasanya segi empat atau persegi ataupun dalam bentuk lingkaran. Sedangkan ukurannya tergantung dari tingkat keheterogenan komunitas. Ukuran plot umumnya ditentukan berdasarkan luasan kurva spesies tumbuhan dan hewan menetap (sessile) ataupun yang bergerak lambat, contohnya hewan tanah dan hewan yang bersarang di lubang (Umar, 2010). Metode non plot ini dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan minimum area atau luas minimum. Metode ini dapat digunakan untuk mengetahui minimal jumlah petak contoh. Sejumlah sampel dikatakan representive bila didalamnya terdapat semua atau sebagian besar jenis tanaman pembentuk komunitas atau vegetasi tersebut (Odum, 1993). Luas minimum adalah luas terkecil yang dapat mewakili karakteristik komunitas tumbuhan atau vegetasi secara keseluruhan. Luas minimum dan jumlah minimum dapat digabung dengan menentukan luas total dari jumlah minimum yang sesuai dengan luas minimum yang sudah dapat didapat terlebih dahulu. Penyebaran individu suatu populasi mempunyai 3 kemungkinan yaitu: Penyebaran acak, Penyebaran secara merata, Penyebaran secara kelompok, untuk mengetahui apakah penyebaran individu suatu polpulasi secara merata atau kelompok maka penentuan letak percontoh dalam analisis vegetasi dapat dibedakan dengan cara pendekatan yaitu: Penyebaran percontohan secara acak, penyebaran percontohan secara sistematik, penyebaran secara semi acak dan semi sistematik ( Rahadjanto, 2001). Untuk memahami luas, metode manapun yang di pakai untuk menggambarkan suatu vegetasi yang penting adalah harus di sesuaikan dengan tujuan luas atau sempitnya suatu area yang diamati. Bentuk luas minimum dapat berbentuk bujur sangkar, empat persegi panjang dan dapat pula berbentuk lingkaran. Luas petak contoh minimum yang mewakili vegetasi hasil luas minimum, akan dijadikan patokan dalam analisis vegetasi dengan metode kuadrat.(Anwar,1995). Langkah dalam menentukan minimum area adalah sebagai berikut: Pertama menentukan terlebih dahulu vegetasi yg akan dianalisis Kemudian membuat plot dg ukuran tertentu Setelah itu mencatat semua jenis tumbuhan yg terdapat dalam plot Lalu melakukan perbesar ukuran plot menjadi 2 X semula Dan mencatat jenis tumbuhan baru yg ditemukan
5|Page

Melakukan perbesaran plot berulang kali sampai tdk ditemukan pertambahan jenis baru Setelah tidak ditemukan spesies baru, maka luas tersebut merupakan luas minimum atau minimum area dari wilayah tersebut 2.2. Metode non plot/jalur atau Transek Transek adalah jalur sempit melintang lahan yang akan dipelajari/diselidiki. Tujuannya untuk mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan perubahan lingkungan (Syafei, 1990). Tujuannya untuk mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan perubahan lingkungan. Terdiri dari : a) Belt transect (transek sabuk). Belt transek merupakan jalur vegetasi yang lebarnya sama dan sangat panjang. Lebar jalur ditentukan oleh sifat-sifat vegetasinya untuk menunjukkan bagan yang sebenarnya. Lebar jalur untuk hutan antara 1-10 m. Transek 1 m digunakan jika semak dan tunas di bawah diikutkan, tetapi bila hanya pohon-pohonnya yang dewasa yang dipetakan, transek 10 m dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan yang baik. Panjang transek tergantung tujuan penelitian. Setiap segment dipelajari vegetasinya (Kershaw,1979). Metode ini biasa digunakan untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya. Cara ini juga paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topograpi, dan elevasi. Transek dibuat memotong garis-garis topograpi, dari tepi laut kepedalaman, memotong sungai atau menaiki dan menuruni lereng pegunungan. Lebar transek yang umum digunakan adalah 10-20 meter, dengan jarak antar antar transek 200-1000 meter tergantung pada intensitas yang dikehendaki. Untuk kelompok hutan yang luasnya 10.000 ha, intensitas yang dikendaki 2 %, dan hutan yang luasnya 1.000 ha intensitasnya 10 %. Lebar jalur untuk hutan antara 1-10 m. Transek 1 m digunakan jika semak dan tunas di bawah diikutkan, tetapi bila hanya pohon-pohonnya yang dewasa yang dipetakan, transek 10 m yang baik.

b) Line transect (transek garis). Dalam metode ini garis-garis merupakan petak contoh (plot). Tanaman yang berada tepat pada garis dicatat jenisnya dan berapa kali terdapat/dijumpai. Pada metode garis ini, sistem analisis melalui variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati
6|Page

oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001). Metode line intercept biasa digunakan oleh ahli ekologi untuk mempelajari komunitas padang rumput. Dalam cara ini terlebih dahulu ditentukan dua titik sebagai pusat garis transek. Panjang garis transek dapat 10 m, 25 m, 50 m, 100 m. Tebal garis transek biasanya 1 cm. Pada garis transek itu kemudian dibuat segmen-segmen yang panjangnya bisa 1 m, 5 m, 10 m. Dalam metode ini garis-garis merupakan petak contoh (plot). Tanaman yang berada tepat pada garis dicatat jenisnya dan berapa kali terdapat/ dijumpai.

Metode transek-kuadrat dilakukan dengan cara menarik garis tegak lurus, kemudian di atas garis tersebut ditempatkan kuadrat ukuran 10 X 10 m, jarak antar kuadrat ditetapkan secara sistematis terutama berdasarkan perbedaan struktur vegetasi. Selanjutnya, pada setiap kuadrat dilakukan perhitungan jumlah individual (pohon dewasa, pohon remaja, anakan), diameter pohon, dan prediksi tinggi pohon untuk setiap jenis.

pengamatan terhadap tumbuhan dilakukan pada segmen-segmen tersebut. Selanjutnya mencatat, menghitung dan mengukur panjang penutupan semua spesies tumbuhan pada segmen-segmen tersebut. Cara mengukur panjang penutupan adalah memproyeksikan tegak lurus bagian basal atau aerial coverage yang terpotong garis transek ketanah. c) Metode Jarak Salah satu metode jarak adalah metode PCQ (Point Center Quarter). Yaitu metode yang penentuan titik-titik terlebih dahulu ditentukan disepanjanggaris transek. Jarak satu titik dengan lainnya dapat ditentukan secara acak atau sistematis. Masing-masing titik dianggap sebagai pusat dari arah kompas, sehingga setiap titik didapat empat buah kuadran. Pada masing-masing kuadran inilah dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan satu pohon yang terdekat dengan pusat titik kuadran. Selain itu diukur pula jarak antara pohon terdekat dengan titik pusat kuadran. Adapun langkah-langkah dalam metode PCQ (Point Center Quarter) adalah sebagai berikut : Tentukan titik secara random sepanjang transek Tarik garis lurus melalui titik tsb sehingga terbentuk 4 kuadran semu Tentukan pohon terdekat ke titik pd setiap kuadran Tentukan pohon terdekat ke titik pd masing-masing kuadran
7|Page

Ukur jarak pohon ke titik Catat spesies dan diameter pohon tsb Hasil pengukuran lapangan dilakukan dianalisis data untuk mengetahui kondisi kawasan yang diukur secara kuantitatif. Beberapa rumus yang penting diperhatikan dalam menghitung hasil analisa vegetasi, yaitu : a) Kerapatan (Density) Banyaknya (abudance) merupakan jumlah individu dari satu jenis pohon dan tumbuhan lain yang besarnya dapat ditaksir atau dihitung. Secara kualitatif dibedakan menjadi jarang terdapat, kadang - kadang terdapat, sering terdapat dan banyak sekali terdapat jumlah individu yang dinyatakan dalam persatuan ruang disebut kerapatan yang umunya dinyatakan sebagai jumlah individu,atau biomassa populasi persatuan areal atau volume,misalnya 200 pohon per Ha. b) Dominasi Dominasi dapat diartikan sebagai penguasaan dari satu jenis terhadap jenis lain (bisa dalam hal ruang, cahaya dan lainnya), sehingga dominasi dapat dinyatakan dalam besaran : 1. 2. Banyaknya Individu (abudance) dan kerapatan (density) Persen penutupan (cover percentage) dan luas bidang dasar (LBD) / Basal area (BA) 3. Volume 4. Biomassa 5. Indek nilai penting (importance value-IV) 6. Kesempatan ini besaran dominan yang digunakan adalah LBH dengan pertimbangan lebih mudah dan cepat, yaitu dengan melakukan pengukuran diameter pohon pada ketinggian setinggi dada (diameter breas heigt-dbh). c) Frekuensi Frekuensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya suatu jenis frekuensi memberikan gambaran bagaimana pola penyebaran suatu jenis, apakah menyebar ke seluruh kawasan atau kelompok. Hal ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasinya terhadap lingkungan. d) Indek Nilai Penting(importance value Indeks) Merupakan gambaran lengkap mengenai karakter sosiologi suatu spesies dalam komunitas(Contis dan Mc Intosh, 1951) dalam Shukla dan chandel (1977). Nilainya diperoleh dari menjumlahkan nilai kerapatan relatif, dominasi relatif dan frekuensi relatif, sehingga jumlah maksimalnya 300%.
8|Page

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Pengamatan Pengamatan dilakukan di Arboretum Buperta, Cibubur pada hari Sabtu, 30 Desember 2013, pukul 08.00 sampai dengan 12.00 WIB.

3.2. Alat dan Bahan: 1. Tali rafia 2. Alat ukur panjang (meteran) 3. Alat tulis 4. Papan jalan 5. Label gantung 6. Gunting 7. Kantung plastik 8. Koran untuk menyimpan spesimen 9. Pasak/patok 10. Buku identifikasi tumbuhan 3.3. Cara kerja: a. Metode Line Intercept Transect 1. Menentukan lokasi pengamatan 2. Membuata jalur / transek sepanjang 100 m dengan menggunakan tali rafia. Membuat jarak antara tali dengan permukaan tanah antara 30-50 cm. 3. Menentukan 5 titik pengamatan dalam garis dengan jarak antara titik adalah 20 m 4. Mencatat spesies tumbuhan yg tersentuh garis dan ukur panjang garis yg tersentuh oleh masing-masing spesies 5. Melakukan perhitungan data pola penyebaran ( densitas, dominansi dan frekuensi), menganalisis hasil.

9|Page

b. Metode Belt Transect 1. Menentukan lokasi pengamatan 2. Membuata jalur / transek sepanjang 100 m dengan menggunakan tali rafia kemudian membuat plot dengan ukuran 10 m x 10 m. 3. Menentukan 5 titik pengamatan. 4. Meletakkan plot pada lokasi pengamatan , jarak antara plot adalah 10 m. 5. Mencatat spesies tumbuhan yg terdapat di dalam plot, mengukur diameter pohon setinggi dada orang dewasa 6. Melakukan perhitungan data pola penyebaran ( densitas, dominansi dan frekuensi), menganalisis hasil. c. Metode PCQ (Point Center Quarter) 1. Menentukan lokasi pengamatan 2. Membuata jalur / transek sepanjang 100 m dengan menggunakan tali rafia 3. Menentukan 5 titik pengamatan. Jarak antara titik adalah 20 m. 4. Menarik garis lurus melalui titik tsb sehingga terbentuk 4 kuadran semu 5. Menentukan pohon terdekat ke titik pd setiap kuadran (pohon yang dicatat yg memiliki keliling 30 cm). 6. Mengukur jarak pohon ke titik, mengukur keliling pohon. 7. Mencatat spesies dan diameter pohon 8. Melakukan perhitungan data pola penyebaran ( densitas, dominansi dan frekuensi), menganalisis hasil.

10 | P a g e

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Tabel Hasil 4.1.1. Metode Line Intercept METER KENO NAMA SPESIES 1 1 Sp. 1 2 Suweg 2 3 Sp .2 3 4 Sp. 3 5 Suweg 6 Sp. 4 7 Sp. 5 8 Sp. 6 9 Sp. 6 10 Sp. 6 11 Paku Sp. 1 12 Paku Sp. 2 4 13 Paku Sp. 3 14 Sp. 2 15 Sp. 7 ( Taka palmata) 16 Suweg 17 Sp. 6 18 Sp. 8 19 Sp. 2 20 Sp. 8 5 21 Sp. 7 ( Taka palmata) 22 Suweg 23 Sp. 7 ( Taka palmata) 24 Sp. 9 25 Sp.9 26 Sp.9 27 Sp.9 6 28 Sp.9 29 Sp.9 30 Sp.9 31 Sp.9 32 Sp. 4 33 Sp.9 34 Paku Sp. 4 35 Sp. 4 7 36 Sp. 4 37 Sp. 10

INTERCEPT (cm) 14 11 18 3 8 15 2 3 11 5 1 5 13 2 5 17 2 14 9 10 18 30 19 53 32 87 77 81 15 17 9 25 12 9 31 12 4
11 | P a g e

8 9

10

38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51

Sp. 10 Sp. 4 Sp. 2 Sp. 8 Sp. 10 Sp. 8 Sp. 8 Sp. 8 Paku Sp. 2 Paku Sp. 2 Sp. 8 Sp. 8 Sp. 8 Paku Sp. 2

14 12 12 21 39 8 7 23 37 7 13 5 17 27

4.1.2. Metode Belt Transek No. Plot


1

Spesies
Sp. 11 Sp. 12 Sp.12 Sp.13 Sp.14 Sp.15 Sp.16 Sp.17 Sp.18 Sp.19 Lamtoro Sp.15 Sp.15 Sp.15 Sp.20 Sp.21 Sp.12 Sp.22 Sp.22 Sp.23 Sp.24 Sp.11 Sp.25 Sp.12

KelilingPohon (cm)
50 75 48 35 34 35 81 34 45 35 62 179 95 60 113 65 42 46 56 46 105 71 135 36

DBH (cm)
7,9 11,9 7,6 5,5 5,4 5,5 12,8 5,4 7,1 5,5 9,8 28,5 15,1 9,5 17,9 10,3 6,6 7,3 8,9 7,3 16,7 11,3 21,4 5,7

Basal Area
198,94 447,64 183,35 97,48 91,99 97,48 522,11 91,99 161,14 97,48 305,9 2549,75 718,18 286,48 1016,12 336,21 140,37 168,39 249,55 168,39 877,34 401,16 1450,30 103,13

3 4

12 | P a g e

4.1.3. Metode Point Centered Quarter (PCQ)

Titik Sampel 1

Nomor Kuadran 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Jarak (m) 7,2 1,61 9,1 0,42 9,83 10,8 2,15 5,23 7,2 2,91 2,45 4,3 1,67 5,43 4,27 4,61 4,13 3,62 3,11 2,41

Spesies Sp. 26 Sp. 27 Sp. 28 Sp. 27 Tacca palmata Sp. 29 Sp.30 Sp. 12 Sp. 30 Sp. 27 Sp. 27 Sp. 26 Sp. 12 Sp. 30 Sp. 27 Sp. 27 Sp. 12 Sp. 26 Sp. 27 Sp. 12

Diameter Batang (cm) 52 53 49 44 55 107 46 62 105 179 108,5 112 37 45 38 37 42 58 68 40

4.2. Perhitungan 4.2.1. Metode Line Intercept Rumus-rumus yang digunakan untuk menghitung frekuensi, frekuensi relatif,

kerapatan, kerapatan relatif, Dominansi, Dominansi Relatif dan INP (Indeks Nilai Penting) pada masing-masing spesies dengan metode Line Intercept, di bawah ini : Kerapatan Sp.X =

Kerapatan Relatif Sp.X (KR) = ( Dominansi Sp.X =

Dominansi Relatif Sp.X (DR) = ( Frekuensi Sp.X =

Frekuensi Relatif Sp.X (FR) = ( INP

= (KR Sp.X + DR Sp.X + FR Sp.X) = 300%


13 | P a g e

Panjang Total Transek 100m 4.2.2. Metode Belt Transek FrekuensiSp.X =

FrekuensiRelatifSp.X = ( KerapatanSp.X KerapatanRelatifSp.X =( DominansiSp.X DominansiRelatifSp.X INP Diketahui: jumlah plot: 5,


) =

) =

= (

= (KR Sp.X + DR Sp.X + FR Sp.X) = 300%

luas masing-masing plot: 10x10 = 100m2

14 | P a g e

luas seluruh plot: 100x5 = 500m2

4.2.3. Metode Point Centered Quarter (PCQ) 1. Frekuensi a. Frekuensi Frekuensi Sp.X = b. Frekuensi Relatif Frekuensi Relatif Sp.X (FR) = 2. Densitas/ Kerapatan (KR) a. Densitas Relatif Sp. X (KR) = b. Densitas Sp. X = Total Densitas seluruh spesies Total Densitas seluruh spesies 3. Dominansi

15 | P a g e

a. Dominansi Dominansi Sp. X = b. Dominansi Relatif (DR) Dominansi Relatif Sp. X = 4. Indeks Nilai Penting (INP) INP Sp. X = (KR Sp.X + DR Sp.X + FR Sp.X) Jumlah titik sampel = 5 Luas tiap titik (4 kuadran) = 20 m x 20 m = 400 m2 Luas area seluruhnya = 400 m2 x 5 = 2000 m2

No.

Nama Spesies

Jumlah Spesies 1 4 3 7 1 1 3 20

rata-rata diameter batang (m) 0,55 0,4525 0,74 0,7536 0,49 1,07 0,6533

jari-jari (m) 0,275 0,2263 0,37 0,3768 0,245 0,535 0,3267

BA (m2)

Rata-rata jarak pohon ke titik

1 2 3 4 5 6 7 Total

Tacca palmata Sp. 12 Sp. 26 Sp. 27 Sp. 28 Sp. 29 Sp. 30

0,24 0,16 0,43 0,45 0,19 0,9 0,34 4,6225 4,6225

No. 1.

Nama Spesies Tacca palmata

Frekuensi

Frekuensi relatif (%)

Densitas

Densitas relatif (%)

Dominansi

Domiansi relatif (%)

INP (%)

0,2 0,6 0,6 0,8 0,2 0,2 0,6 3,2

6,25 18,75 18,75 25 6,25 6,25 18,75 100

4,68 18,72 14,04 32,76 4,68 4,68 14,04 93,6

5 20 15 35 5 5 15 100

1,1232 2,9952 6,0372 14,742 0,8892 4,212 4,7736 34,7724

3,2 8,61 17,4 42,4 2,6 12,11 13,73 100,05

14,45 47,36 51,15 102,4 13,85 23,36 47,48 300,05

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Sp. 12 Sp. 26 Sp. 27 Sp. 28 Sp. 29 Sp. 30 Total

16 | P a g e

4.3. Pembahasan Praktikum ekologi tumbuhan kali ini dilakukan di daerah Arboretum Cibubur. Tujuan dari praktikum ekologi tumbuhan kali ini yaitu menganalisi struktur dan komposisi vegetasi dengan berbagai teknik sampling. Teknik sampling yang digunakan pada praktikum kali ini adalah metode line intercept, metode belt transek, dan point centered quarter (PCQ). 4.3.1. Metode Line Intercept Line intercept merupakan metode yang cocok untuk pengamatan pada vegetasi semak. Panjang garis transek yang digunakan adalah 100 m dengan tinggi line dari permukaan tanah adalah kurang lebih 30 cm. Objek yang diamati dengan menggunakan metode ini adalah tumbuhan bawah, semak, ataupun herba. Sedangkan parameter yang akan diamati adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi. Dari ketiga parameter tersebut akan didapat indeks nilai penting pada tiap vegetasi. Berdasarkan hasil pengamatan dengan menggunakan metode line intercept, diperoleh total spesies sebanyak 15 sepanjang 100 m. Spesies tersebut yaitu Sp.1, Sp.2, Sp.3, Sp.4, Sp.5, Sp.6, Sp. 7 (Taka palmata), Sp. 8, Sp. 9, Sp. 10, Paku Sp. 1, Paku Sp. 2, Paku Sp. 3, Paku Sp. 4, dan Suweg. Setelah diperoleh data pengamatan, dilakukan perhitungan kerapatan dan kerapatan Relatif, dominansi dan dominansi relatif, frekuensi dan frekuensi relatif, serta indeks nilai penting (INP) dari tiap-tiap spesies. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai Kerapatan/ Densitas dan Kerapatan relatif yang paling tinggi terdapat pada Sp. 9., sedangkan nilai terendah terdapat pada Paku Sp. 1. Perhitungan dominansi dan dominansi relatif juga menunjukan Sp. 9 memiliki nilai paling tinggi. Pada perhitungan frekuensi dan frekuensi relatif Sp. 9 juga memiliki nilai yang tertinggi dengan 9 kali penemuan sepanjang 100m dan dengan kerapatan yang tinggi disetiap kali penemuan spesies ini. Setelah itu dilakukan perhitungan terhadap INP (Indeks Nilai Penting). Indeks nilai penting menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. Dari nilai penting ini dapat menggambarkan kerapatan dan dominasi suatu jenis. Derdasarkan data yang ada, diperoleh INP tertinggi terdapat pada tumbuhan Sp 9 sedangkan nilai INP terendah pada Paku Sp. 1.

17 | P a g e

Indeks Nilai Penting (%)


120.00 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00 Sp. 1 Sp. 2 Sp. 3 Sp. 4 Sp. 5 Sp. 6 Sp. 7 (Taka palmata) Sp. 8 Sp. 9 Sp. 10 Paku Sp. 1 Paku Sp. 2 Paku Sp. 3 Paku Sp. 4 Suweg Indeks Nilai Penting (%)

Hal inimenunjukkan bahwa vegetasi tumbuhan bawah di dominasi oleh Sp. 9 dan hal ini juga menggambarkan bahwa Sp. 9 memiliki kedudukan ekologis yang penting dalam komunitas. Dalam perhitungan diperoleh pula persentase total INP Line Intercept sebesar 300 %. Sp. 9 memiliki indeks nilai penting yang tertinggi hal ini menggambarkan dominansi dan kerapatan karena parameter ini berbading lurus. Hal ini sesuai dengan pengamatan bahwa Sp. 9 merupakan jenis tumbuhan yang pola sebarannya berkelompok. Penemuan jenis ini sepanjang 3,17m. Pola hidup yang berkelompok ini mungkin dapat disebabkan kaena adanya respon yang sama terhadap habitat secara lokal, hal ini berkaitan dengan ketersediaan sumber daya dan iklim mikro. Penyebab yang lain dapat dikarenakan respon cuaca, proses reproduksi, dan sifat dari organ vegetatifnya. Sedangkan spesies yang lain persebarannya tdak secara berkelompok.

4.3.2. Belt Transek Pada metode belt transek ini, didapatkan 16 macam spesies pohon yang memiliki diamater lebih dari 10 cm. Digunakan transek sepanjang 100 m sebagai acuan, lalu dibuat lima plot dengan ukuran 10x10 sehingga didapat luas total plot sebesar 500 m2. Frekuensi relatif diperoleh dari frekuensi sp X dibagi frekuensi total. Dimana frekuensi sp X diperoleh dari jumlah satuan plot yang diduduki oleh suatu jenis dibagi dengan jumlah banyaknya plotyang dibuat. Frekuensi relatif terbesar pada sp.12 yaitu

sebesar 15%. Kedua pada sp 15 sebesar 10%. Frekuensi relatif ini menunjukan luasnya penyebaran suatu spesies pada area yang diambil sebagai petak contoh. Semakin besar
18 | P a g e

frekuensi relatif suatu spesies maka semakin luas penyebarannya dalam suatu area tersebut, dan sebaliknya. Semakin kecil frekuensi relatif suatu spesies, maka semakin sempit pula penyebarannya dalam area tersebut. Misalnya sp.12 yang terdapat pada 3 plot yang berbeda dan sp.15 yang hanya terdapat pada 2plot yang berbeda. hal ini berarti sp.12 memiliki penyebaran yang lebih besar daripada sp.15. Kerapatan relatifdiperoleh dari kerapatan sp X dibagi kerapatan total. Dimana kerapatan sp X diperoleh dari jumlah individu suatu jenis dibagi jumlah luas total plot. Kerapatan relatif yang paling besar adalah pada sp.12 dan sp.15, yaitu 16,66% dari keseluruhan spesies tanaman yang didapatkan. Hal ini dikarenakan jumlah spesies sp.12 dan sp.15 paling banyak jika dibandingkan dengan jumlah spesies yang lain. Urutan kedua paling besar kerapatannya adalah sp. 11 dan sp.22 sebasar 8,33%. Kerapatan bersama-sama dengan frekuensi dapat menentukan suatu pola penyebaran tumbuhan. Bila suatu spesies memiliki kerapatan yang besar namun frekuensinya rendah, maka spesies tersebut memiliki pola distribusi berkelompok (karena banyak spesies yang menempati plot yang sama). Namun bila kerapatannya besar dan frekuensinya juga rendah, maka spesies tersebut memiliki pola distribusi menyebar (karena banyak spesies tersebar ke plot lain). Pola penyebaran ini bergantung pada sifat masing-masing spesies dan juga bergantung pada daya dukung lingkungan seperti kondisi tanah, iklim dsb. Sehingga dapat diketahui dan dianalisis lebih jauh bagaimana daya dukung lingkungan tersebut. Dominansi relatif diperoleh dari dominansi sp X dibagi dominansi total. Dimana dominansi sp X diperoleh dari jumlah basal area sp X dibagi dengan luas total plot. Dominansi reltif terbesar pada sp.15 yaitu sebesar 34,72% dari luas total plot. Hal ini berarti sp.15 merupakan spesies yang dominan pada area tersebut.Kusmana (1997) mengemukakan bahwa dalam penelitian ekologi hutan pada umumnya para peneliti ingin mengetahui spesies tetumbuhan yang dominan yang memberi ciri utama terhadap fisiognomi suatu komunitas hutan. Spesies tumbuhan yang dominan dalam komunitas dapat diketahui dengan mengukur dominansi tersebut. Ukuran dominansi dapat dinyatakan dengan beberapa parameter, antara lain biomassa, penutupan tajuk, luas basal area, indeks nilai penting, dan perbandingan nilai penting (summed dominance ratio). Indeks Nilai Penting( lNP) atau Impontant Value Index merupakan indeks kepentingan yang menggambarkan pentingnya peranan suatu jenis vegetasi dalam ekosistemnya. Apabila INP suatu jenis vegetasi bernilai tinggi, maka jenis itu sangat mempengaruhi kestabilan ekosistem tersebut (Fachrul, 2007).Indeks nilai penting biasa digunakan untuk menentukan dominansi jenis tumbuhan terhadap jenis tumbuhan lainnya,
19 | P a g e

karena dalam suatu komunitas yang bersifat heterogen, data parameter vegetasi dari nilai frekuensi, kerapatan dan dominansinya tidak dapat menggambarkan komunitas tumbuhan secara menyeluruh, maka untuk menentukan nilai pentingnya yang mempunyai kaitan dengan struktur komunitasnya dapat diketahui dari indeks nilai pentingnya, yaitu suatu indeks yang dihitung berdasarkan jumlah seluruh nilai frekuensi relatif (FR), kerapatan relatif (KR) dan dominansi relatif (DR). Nilai penting juga digunakan dalam menginterpretasi komposisi dari suatu komunitas tumbuhan.

Indeks Nilai Penting (%)


70 60 50 40 30 20 10 0 Sp. 11 Sp. 12 Sp. 13 Sp. 14 Sp. 15 Sp. 16 Sp. 17 Sp. 18 Sp. 19 Sp. 20 Sp. 21 Sp. 22 Sp. 23 Sp. 24 Sp. 25 Lamtoro sp. Indeks Nilai Penting (%)

Jadi, semakin tinggi INP maka semakin besar pula pengaruh suatu spesies terhadap kestabilan suatu ekosistem. Pada percobaan ini yang memiliki INP paling tinggi adalah sp.15 yang berarti sp.15 memiliki pengaruh yang kuat pada ekosistem ini. Untuk mengetahui kondisi komunitas hutan harus dilakukan survey vegetasi dengan menggunakan salah satu dari beberapa metode pengambilan contoh untuk analisis komunitas tumbuhan. Kemudian, kondisi komunitas tumbuhan hutan dapat dideskripsikan berdasarkan parameter yang diperlukan dan dianalisis untuk menginterpretasi perubahan yang terjadi. Dengan demikian, kajian kondisi komunitas hutan akan sangat berguna dalam menerapkan sistem pengelolaan hutan (Indriyanto, 2006). Potensi dan keadaan hutan yang selalu berubah karena pertumbuhan dan kematian yang terjadi maupun karena penebangan yang dilakukan manusia, menyebabkan perlu adanya informasi hutan setiap jangka waktu tertentu.

4.3.3. Point Centered Quarter (PCQ) Metode Point Center Quater (PCQ) merupakan metode plot less method, yang berarti metode ini merupakan salah satu metode yang tidak memerlukan luas tempat pengambilan contoh atau suatu luas kuadrat tertentu. Oleh karena itu, bila dalam suatu kuadran dalam jarak
20 | P a g e

yang dekat tidak terlihat adanya suatu vegetasi pohon, maka pencarian bisa diteruskan sejauh mungkin sampai ditemukan jenis pohon yang dimaksud, tetapi pohon tersebut masih berada di dalam daerah kuadran tersebut. Metode PCQ merupakan salah satu metode jarak yaitu metode yang penentuan titiktitik terlebih dahulu ditentukan disepanjang garis transek. Jarak satu titik dengan lainnya dapat ditentukan secara acak atau sistematis. Masing-masing titik dianggap sebagai pusat dari arah kompas, sehingga setiap titik didapat empat buah kuadran. Pada masing-masing kuadran inilah dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan satu pohon yang terdekat dengan pusat titik kuadran. Selain itu diukur pula jarak antara pohon terdekat dengan titik pusat kuadran. Berdasarkan hasil pengamatan dengan menggunakan metode point center quater (PCQ), didapatkan sebanyak 7 spesies sepanjang garis transek 100 m dengan luas area sebesar 2000 m2. Spesies tersebut antara lain adalah Tacca palmata, Sp. 12, Sp. 26, Sp. 27, Sp. 28, Sp. 29, dan Sp. 30. Setelah data didapatkan, maka dilakukan perhitungan-perhitungan mengenai frekuensi, frekuensi relatif, densitas, densitas relatif, dominansi, dan dominansi relatif pada tiap-tiap spesies yang ditemukan. Dari hasil perhitungan maka didapatkan bahwa frekuensi Dari hasil perhitungan, didapatkan bahwa frekuensi dan frekuensi relatif (FR) terbesar ada pada Sp 27 dengan nilai frekuensi sebesar 0,8 dan FR 25%. Nilai ini menunjukkan bahwa Sp. 27 memiliki kehadiran yang tinggi di tiap titik sampel (plot) dibandingkan dengan spesies yang lainnya di mana Sp 27 ini di temukan pada titik sampel 1 kuadran 2; titik sampel 3 kuadran 2 dan 3; titik sampel 4 kuadran 3 dan 4; dan pada titik sampel 5 kuadran 2. Densitas dan Densitas relatir (KR) terbesar terdapat pada Sp 27 dengan nilai 32,76 dan 35%. Nilai ini menunjukkan bahwa Sp 27 memiliki kerapatan yang tinggi bila dibandingkan dengan spesies yang lainnya. Begitu juga untuk nilai dominansi dan dominansi relatir tertinggi juga terdapat pada Sp 27 dengan nilai sebesar 14,472 dan 42,4. Nilai ini menunjukkan penutupan tajuknya dari Sp. 27 lebih besar dibandingkan dengan spesies lain. Nilai dominansi dan dominansi relatif pada Sp 27 ini lebih tinggi dikarenakan rata-rata basal area dari spesies ini lebih besar daripada spesies yang lain yaitu sebesar 0,45 m2. Setelah mendapat nilai-nilai tersebut (frekuensi, frekuensi relatif, densitas, densitas relatif, dominansi dan dominansi relatif), maka dilakukan perhitungan terhadap INP (indeks Nilai Penting). Indeks nilai penting ini menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. Dari INP ini dapat menggambarkan kerapatan dan dominasi suatu jenis.
21 | P a g e

Indeks Nilai Penting (lNP) atau Impontant Value Index merupakan indeks kepentingan yang menggambarkan pentingnya peranan suatu jenis vegetasi dalam ekosistemnya. Apabila INP suatu jenis vegetasi bernilai tinggi, maka jenis itu sangat mempengaruhi kestabilan ekosistem tersebut (Fachrul, 2007). Berdasarkan data yang ada, diperoleh INP tertinggi terdapat pada tumbuhan Sp 27 sebesar 102,4 sedangkan nilai INP terendah pada Sp 28 sebesar 13,85. Presentase total dari INP Point Center Quarter (PCQ) ini adalah 300,05%.

Indeks Nilai Penting


120 100 80 60 INP (%) 40 20 0 Tacca palmata Sp. 12 Sp. 26 Sp. 27 Sp. 28 Sp. 29 Sp. 30

Berdasarkan dari nilai indeks penting tersebut maka dapat dikatakan bahwa vegetasi tumbuhan didominasi oleh Sp 27 dan hal ini juga menggambarkan bahwa Sp 27 ini memiliki kedudukan yang penting dalam suatu komunitas. Semakin tinggi nilai INP suatu spesies maka semakin besar pula pengaruhnya terhadap kestabilan suatu ekosistem tersebut. Maka dari itu dapat dikatakan Sp. 27 ini memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap kestabilan suatu ekosistem Sp 27 memiliki nilai INP yang tinggi, hal ini juga dapat menggambarkan tingkat densitas dan dominansi dari spesies tersebut. Tingginya tingkat densitas dan dominasi dari spesies pohon yang menempati suatu ekosistem tertentu dapat disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya faktor lingkungan yang mendukung seperti pH, suhu dan kelembaban yang cocok guna untuk mendukung pertumbuhan populasi selain itu juga memiliki kemampuan bersaing yang cukup kuat terhadap tanaman lain untuk tetap bertahan hidup di lingkungannya.

22 | P a g e

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan 1. Metode line intercept merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui vegetasi tumbuhan bawah, semak, ataupun herba yang ada pada suatu lokasi 2. Pada metode line intercept, INP tertinggi terdapat pada Sp. 9. 3. Sp. 9 merupakan jenis tumbuhan yang hidup berkelompok. 4. Dalam metode belt transek didapatkan 16 macam spesies. 5. Kerapatan relatif terbesar pada sp.12 dan sp. 15 yaitu sebesar 16%s 6. Frekuensi relatif terbesar pada sp. 12 yaitu sebesar 15% 7. Dominansi relatif terbesar pada sp.15 yaitu sebesar 34,272% 8. Frekuensi relatif menunjukka luasnya penyebaran suatu spesies pada suatu area 9. Apabila INP suatu jenis vegetasi bernilai tinggi, maka jenis itu sangat mempengaruhi kestabilan ekosistem tersebut. 10. Semakin tinggi INP maka semakin besar pula pengaruh suatu spesies terhadap kestabilan suatu ekosistem. Pada percobaan ini yang memiliki INP paling tinggi adalah sp.15 11. Metode Point Center Quater (PCQ) merupakan metode plot less method, yang berarti metode ini merupakan salah satu metode yang tidak memerlukan luas tempat pengambilan contoh atau suatu luas kuadrat tertentu. 12. Frekuensi relatif, dominansi relatif dan densitas tertinggi terdapat pada Sp 27 13. Nilai INP tertinggi pada metode PCQ terdapat pada Sp 27 dengan nilai sebesar 102,4 sedangkan nilai INP terendah terdapat pada Sp 28 yaitu 13,85 14. Nilai INP dapat menggambarkan tingkat densitas dan dominansi suatu spesies 15. Suatu spesies yang memiliki densitas dan dominansi yang tinggi dalam suatu ekosistem tertentu dapat disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya faktor lingkungan yang mendukung seperti pH, suhu dan kelembaban yang cocok guna untuk mendukung pertumbuhan populasi selain itu juga memiliki kemampuan bersaing yang cukup kuat terhadap tanaman lain untuk tetap bertahan hidup di lingkungannya.

23 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, 1995, Biologi Lingkungan. Bandung: Ganexa exact. Fachrul, Melati Ferianita. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara. Jakarta. Greig-Smith, P. 1983. Quantitative Plant Ecology, Studies in Ecology. Volume 9. Oxford: Blackwell Scientific Publications. Hadisubroto, Tisno. 1989. Ekologi Dasar. Deptdikbud. Jakarta. Kershaw, K.A. 1979. Quantitatif and Dynamic Plant Ecology. London: Edward Arnold Publishers. Odum, Eugene P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta: UGM University Press. Odum, P. E. 1998. Dasar-Dasar Ekologi. Terjemahan Ir. Thahjono Samingan, M.Sc. Cet. 2. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Rahardjanto Abdul Kadir,2005. Buku Petunjuk Pratikum Ekologi Tumbuhan. Malang : UMM Press. Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA. Sagala, E.H.P, 1997. Analisa Vegetasi Hutan Sibayak II pada Taman Hutan Rakyat Bukit Barisan Sumatera Utara. Skripsi Sarjana Biologi Medan: FMIPA USU. Setiadi, D. 1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya dengan Pendugaan Sifat Habitat Bonita Tanah di Daerah Hutan Jati Cikampek, KPH Purwakarta, Jawa Barat. Bogor: Bagian Ekologi, Departemen Botani, Fakultas Pertanian IPB. Syafei. 1990. Dinamika Populasi. Kajian Ekologi Kuantitatif. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Umar, M. Ruslan, 2010. Ekologi Umum Dalam Praltikum. Makassar: Universitas Hasanuddin. (Tidak dipublikasi)

24 | P a g e