Anda di halaman 1dari 17

PENGECUALIAN ASAS LEGALITAS

DALAM HUKUM PIDANA


Dr. Made Darma Weda, S.H., M.S.
Dosen Fakultas Hukum Universitas Sahid, Jakarta, Peneliti di Balitbang Dep. Hukum
dan HAM !, "enaga Ahli Fraksi PD! Per#uangan DP !
Abstract
Debating for exceptional of legality principle in criminal law could be learned by establishing of
the International Criminal Tribunal for The Farmer Yugoslavia (ICTY) which was based on
nited !ation"s #esolution in $%%&' !o( )*+ and The International Criminal Tribunal for the
#wanda (ICT#) which was based on nited !ation"s #esolution in $%%,' !o( %--( .ven though
these tribunals were re/ected by the parties who supported the dependents' they still to cross0
examine those cases' even though it was against the principle of nullum crimen sine lege as retro
active principe in criminal law(
1ey words2 #etro active' criminal law' exceptional(
A. PENDAHULUAN
Dalam teori dan praktek hukum pidana, dikenal adan$a asas legalitas $ang salah satun$a
melarang pemberlakuan hukum pidana se%ara retroakti&. Hal ini tertuang dalam Pasal ' a$at (')
*itab Undang+Undang Hukum Pidana (*UHP), $ang men$atakan ,tiada suatu perbuatan dapat
dipidana ke%uali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang+undangan $ang telah ada sebelum
perbuatan dilakukan-.
Dalam perkembangan hukum pidana ter#adi pen$impangan $ang didasarkan pada
kebutuhan. Beberapa pengadilan internasional $ang pernah memberlakukan hukum pidana
se%ara retroakti& dan men#adi diskursus dalam pemberlakuan hukum pidana se%ara retroakti&,
$aitu The International 3ilitary Tribunal in !uremberg dan The International 3ilitary Tribunal
at To4yo( *edua pengadilan militer ini merupakan pengadilan $ang dibentuk untuk mengadili
para pelaku ke#ahatan perang, semasa ter#adin$a Perang Dunia !!.
The International 3ilitary Tribunal in !uremberg dan The International 3ilitary
Tribunal at To4yo $ang dibentuk berdasarkan .ondon Agreement, tidak dapat dilepaskan dari
nuansa politik, sehingga pengadilan ini disebut pula sebagai keadilan bagi para pemenang (victor
/ustice).
Pada tahun '//0+an, De1an *eamanan PBB melalui esolusin$a 2o. 345 "ahun '//6
telah membentu4 International Criminal Tribunal for The Former Yugoslavia5ICTY (M.7heri&
Bassiouni, '//89 8:). *emudian, dengan esolusi 2o. //; "ahun '//:, PBB telah membentuk
International Criminal Tribunal for #wanda (ICT#). Dalam 7riminal "ribunal tersebut pun
terdapat perdebatan tentang pemberlakuan hukum pidana se%ara retroakti&.
Pembentukan !7"< dan !7" tidak dapat dilepaskan dari nuansa politik. *eputusan
De1an *earnanan PBB, dalam menentukan kon&lik $ang ter#adi di <ugoslavia dan 1anda,
serta individu+individu $ang harus bertanggung #a1ab dalam konlik tersebut, merupakan
keputusan $ang sarat dengan nuansa politik.
*etika Pengadilan Militer 2uremberg dan "ok$o dibentuk, terdapat perla1anan dart
berbagai pihak, khususn$a mereka $ang ditangkap dan diadili, karena didasarkan pada hukum
$ang berlaku se%ara retroakti& (=err$ J. Simpson, '//59'). Demikian pula ketika dibentuk
Pengadilan Ad Ho% di <ugoslavia dan 1anda. *etika pengadilan ini dibentuk, terdapat
perla1anan dart penga%ara para tersangka, karena dalam hukum pidana terdapat larangan untuk
memberlakukan hukurn pidana se%ara retroakti&.
Permasalahan sebagaimana ter#adi di beberapa 2egara, #uga ter#adi di !ndonesia.
Meskipun terdapat larangan konstitusional untuk memberlakukan hukum pidana se%ara
retroakti&, terdapat Undang+undang mengandung perumusan $ang diberlakukan se%ara retroakti&.
Dalam Pen#elasan Pasal : UU 2o. 6/ "ahun '/// tentang Hak Asasi Manusia (selan#utn$a
disebut UU tentang HAM) se%ara gamblang disebutkan bah1a ,Hak untuk tidak dituntut atas
dasar hukum $ang berlaku surut dapat dike%ualikan dalam hal pelanggaran berat terhadap hak
asasi manusia $ang digolongkan ke dalam ke#ahatan terhadap kernanusiaan. *etentuan tersebut
di#adikan landasan bagi Pasal :6 Undang+Undang 2o. 48 tahun 4000 tentang Pengadilan HAM,
$ang men$atakan bah1a ,pelanggaran HAM berat $ang ter#adi sebelum diundangkann$a UU ini,
diperiksa dan diputus oleh Pengadilan HAM ad hoc6(
Selain UU tentang HAM, pemberlakuan se%ara retroakti& #uga di%antumkan dalam
Peraturan Pernerintah Pengganti Undang+Undang (Perpu) 2o.' "ahun 4004 tentang
Pemberantasan "indak Pidana "erorisme. Perpu ini, pada tanggal : April 4006 ditetapkan
men#adi UU, $aitu UU 2o. '; "ahun 4006. Dalam Pasal :8 UU 2o. '; "ahun 4006 disebutkan
sebagi berikut9
*etentuan dahun Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang ini dapat diperlakukan
surut untuk tindakan hukum bagi kasus tertentu sebelum mulai berlakun$a Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang+Undang ini, $ang penerapann$a ditetapkan dengan
Undang+undang atau Peraturan Pemerintah Pengganti Undang+Undang tersendiri.
Berdasarkan Pasal :8 tersebut di atas, nampak bah1a pemberlakuan se%ara retroakti&
berkaitan dengan materi UU 2o. '; tahun 4006 dapat dilakukan bila hal tersebut ditetapkan
melalui Undang+Undang atau Peraturan Pemerintah pengganti Undang+Undang (Perpu). Hal ini
mendasari dikeluarkann$a UU 2o. l8 "ahun 4006 tentang Penetapan Perpu 2o. 4 "ahun 4004
tentang Pemberlakuan Perpu 2o.' tahun 4004 tentang Pemberantasan "indak Pidana "erorisme
Pada Peristi1a Peledakan Bom di Bali "anggal '4 >ktober 4004.
Di tengah ter#adin$a perdebatan tentang pemberlakuan hukum pidana se%ara retroakti&,
Mahkamah *onstitusi epublik !ndonesia (M*) memutus permohonan yudicial review terhadap
UU 2o. '8 "ahun 4006. Melalui Putusan Perkara 2o 0'6!PUU+''4006, pada tangga 44 Juli
400:, M* men$atakan bah1a UU 2o. '8 "ahun 4006 tidak memiliki kekuatan mengikat. Salah
satu pertimbangan hakim adalah bah1a pada dasarn$a hukum itu harus berlaku ke depan. Adalah
tidak &air, #ika seseorang dihukum karena perbuatan $ang pada saat dilakukann$a merupakan
perbuatan $ang sah. Adalah tidak &air pula #ika pada diri seseorang diberlakukan suatu ketentuan
h.ukum $ang lebih herat terhadap suatu perbuatan $ang ketika dilakukann$a dian%am oleh
ketentuan hukum $ang lebih ringan, baik $ang berkenaan dengan hukum a%ara (procedural),
maupun hukum material (substance).
"ulisan ini men%oba untuk mengka#i dan menganalisa eksistensi asas legalitas, khususn$a
terkait dengan ke#ahatan $ang tergolong dalam pelanggaran HAM berat.
B. PEMBAHASAN
'. etroakti& Dalam Pengadilan !nternasional
Berdasarkan 7ondon 8greement tanggal 3 Agustus '/:;, oleh pemerintah Amerika,
Peran%is, !nggris, !rlandia Utara, dan Sov$et, didirikanlah The International 3ilitary Tribunal 8t
!uremberg' $ang bertugas untuk men$elenggarakan peradilan $ang %epat dan adil untuk
menghukum tokoh+tokoh utama pen#ahat perang dari negara+negara ?uropean A@!S.
9asal : dari ;tatuta' menyata4an2 <The Tribunal established by the 8greement referred
to in 8rticle I hereof for the trial and punishment of the ma/or war criminals of the .uropean
8xis countries shall have the power to try and punish persons who' acting in the interests of the
.uropean 8xis countries' whether as individuals or as members of organi=ations' committed any
of the following crimes6(
Pembentukan Pengadilan !uremberg, menurut =eo&&re$ di dasarkan bah1a tidak ada
hak+hak tanpa pemulihan kembali. Sama haln$a bah1a tidak ada hak+hak asasi manusia tanpa
pemulihan untuk setiap pelanggarann$a. Pendekatan inilah $ang dipergunakan sebagai dasar
untuk menghukum mereka $ang bersalah atas ke#ahatan terhadap kemanusiaan (=eo&&re$
obertson A7, 40009 406).
"ribunal ini mempun$ai ke1enangan untuk mengadili dan menghukum para pelaku baik
se%ara individual maupun sebagai suatu organisasi $ang telah melakukan ke#ahatan sebagaimana
disebut dalam Statuta Adapun #enis ke#ahatan tersebut adalah (oger S. 7lark, '//59 '56)9 (a).
*e#ahatan terhadap perdamaian (crimes against peace)B (b) *e#ahatan perang (war Crime)B (%).
*e#ahatan terhadap *emanusiaan (crimes against >umanity). Peradilan $ang berlangsung dari
tanggal ': 2ovember '/:; sampai dengan ' >ktober '/:8 ini mengatur beberapa hal, $aitu
(Ma%hteld Boot, 400'9 6'6 6':)9
a. Setiap orang $ang melakukan suatu perbuatan $ang merupakan suatu ke#ahatan
internasional bertanggung #a1ab alas perbuatann$a dan
harus dihukumB
b. Fakta bah1a hukum internal (nasional) tidak mengan%arn dengan pidana atas perbuatan $ang
merupakan suatu ke#ahatan menurut hukum internasional tidaklah membebaskan orang $ang
melakukan perbuatan itu dari tanggung #a1ab menurut hukum internasionalB
%. Fakta bah1a orang tersebut melakukan perbuatan $ang merupakan suatu ke#ahatan menurut
hukum nterasional bertindak sebagai *epala 2egara atau pe#abat pemerintah $ang
bertanggung #a1ab, tidak membebaskan dia dari tanggung #a1ab menurut hukum
internasionalB
d. Fakta bah1a orang tersebut melakukan perbuatan itu untuk melaksanakan perintah dari
Pemerintahn$a atau dari atasann$a tidalah membebaskan dia dari tanggung #a1ab menurut
hukum internasional, asal sa#a pilihan moral (moral choice) $ang bebas dimungkinkan
olehn$aB
e. Setiap orang $ang didak1a melakukan ke#ahatan menurut hukum internasional mempun$ai
hak untuk mendapatkan peradilan $ang adil berdasarkan &akta dan hukumB
&. *e#ahatan+ke#ahatan tersebut di ba1ah ini dapat dihukum menurut hukum internasional9
a) *e#ahatan terhadap perdamaian (/us ad bellum)9
- Meren%anakan, men$iapkan, memulai atau menggerakkan perang $ang bersi&at agresi
$ang melanggar treaty' persetu#unn (agreements), atau #aminan (assurances)
internasionalB
- "urut serta (alam men$usun ren%ana umum atau berkonspirasi untuk melaksanakan
perbuatan apa sa#a $ang ter%antum dalam (i).
b) *e#ahatan Perang (/us in bello)B
Pelanggaran terhadap hukum atau kebiasaan perang meliputi, tapi tak terbatas
kepada pembunuhan, perlakuan tidak manusia1i (ill0treatment) atau deportasi ke tempat
ker#a paksa sebagai budak untuk tu#uan apapun, #uga terhadap penduduk sipil dan atau
$ang berasal dari 1ila$ah $ang dikuasaiB pembunuhan atau perlakuan $ang tidak
manusia1i terhadap ta1anan perang, orang+orang di lautan (kapal), membunuh ta1anan,
merampok milik umum atau pribadi, perusakan $ang berkelebihan atau tidak diperlukan
atas kota+kota, desa+desa atau pemusnahan $ang se%ara militer tidak dianggap perlu.
%) *e#ahatan "erhadap *emanusiaan
Pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, deportasi dan perbuatan $ang tidak
manusia1i terhadap penduduk sipil, atau pen$iksaan tersebut berdasarkan politik, ras,
atau agama, apabila perbuatan+perbuatan tersebut dilakukan atau pen$iksaan tersebut
diambil dalam pelaksanaan atau berkaitan dengan ke#ahatan terhadap perdamaian atau
ke#ahatan perang apa sa#a.
d) *eterlibatan dalam pelaksanaan suatu ke#ahatan terhadap perdamaian, suatu ke#ahatan
perang, atau suatu ke#ahatan terhadap kemanusiaan seperti disebutkan dalam Prinsip C!
adalah suatu ke#ahatan menurut hukum internasional
*etu#uh hal tersebut di atas, kemudian di&ormulasikan men#adi prinsip+prinsip hukum
internasional, $ang kemudian pada tanggal 4/ Juli '/;0 oleh International 7aw Commission
dikenal sebagai 2uremberg Prin%iples. Prinsip+prinsip inilah kemudian $ang men#i1ai peradilan
HAM $ang dibentuk pada masa berikutn$a, seperti International Criminal Tribunal For
Yugoslavia (!7"<), International Criminal Tribunal For #wanda (!7") dan International
Criminal Court (!77).
Beberapa hal baru $ang diberlakukan dan dilaksanakan di peradilan 2uremberg, adalah9
(') tanggung #a1ab pribadi $ang se%ara #elas ter%antum dalam Pasal 8 StatutaB (4) keberlakuan
hukum pidana se%ara retroakti&, di mana statuta $ang dibuat pada tahun '/:; ini diberlakukan
se%ara retroakti& untuk ke#ahatan $ang dilakukan sebelumn$a, $aitu selama Perang Dunia !! dan
berlangsung di mana sa#a.
Pemberlakuan se%ara retroakti& ini, dalam persidangan telah ditolak dan mendapatkan
tantangan dari para penga%ara terdak1a karena bertentangan dengan prinsip hukum pidana $ang
berlaku. Bantahan ini ditolak oleh Ma#elis Hakim !M" 2uremberg dengan alasan bah1a prinsip
non retroakti& han$a berlaku9 (a) bagi ke#ahatan biasa (ordinary crimes), dan (b) $ang ter#adi di
1ila$ah hukum nasional, di mana $ang berlaku adalah hukum nasional. Para terdak1a di
Pengadilan 2uremberg tidak dapat membantah lagi, meskipun mereka tetap men%oba berdalih
bah1a adalah merupakan pelanggaran terhadap aturan bila mereka dia#ukan ke pengadilan atas
pelanggaran $ang tidak memiliki kesepadanan dalam hukum 2aDi Jerman. Pelanggaran tersebut
terdapat dalam hukum internasional (Ma%hteld Boot, 400'9 ''4).
.ebih lan#ut dikemukakan oleh Ma#elis Hakim bah1a asas nonretroakti& tidak berlaku
bagi ke#ahatan internasional, terlebih hukum internasional, konvensi+konvensi internasional, dan
hukum perang telah ada sebelumn$a dan telah diterima oleh negara+negara di dunia (Ma%hteld
Boot, 400'9 ''4).
Perdebatan tentang pemberlakuan se%ara retroakti& tidak han$a ter#adi ketika persidangan
berlangsung, tetapi #uga ter#adi ketika Statute 2uremberg dirumuskan. Justi%e Jakson
men$atakan ,I want these acts defined as crime ,. (M. 7heri& Bassiouni, '///9 ':5) *einginan
ini disepakati oleh "rainin, seorang guru besar, $ang men$atakan ,it is ?uite true that the
8merican draft is ?uite precise in that states these are violations ,. (M. 7heri& Bassiouni, '///9
':5) "idak ada argumen $ang memuskan untuk men#elaskan, mengapa diberlakukan se%ara
retroakti&.
Dalam kaitan dengan pemberlakuan se%ara retroakti&, *elsen men$atakan bah1a (M.
7heri& Bassiouni, '///9 '88)9
,The infliction of an evil' if not carried out as a reaction against a wrong' is a wrong
itself The non application of the rule against ex post facto law is a first sanction inflicted
upon those who have violated this rule and hence have forfeited the privilege to be
protected by it. ,
Pern$ataan Ja%kson dan *elsen tersebut di atas, #elas menun#ukkan bah1a suatu
ke#ahatan haruslah mendapatkan hukuman. Pembiaran terhadap ke#ahatan karena adan$a asas
non retroakti& merupakan suatu sikap $ang salah. Dengan demikian, menurut penulis, nampak
bah1a keadilan $ang diterapkan dalam pengadilan 2uremberg adalah keadilan retributi&. Para
pelaku ke#ahatan $ang telah menghilangkan n$a1a orang lain, harus dapat mempertanggung
#a1abkan segala perbuatann$a.
Setahun setelah dibentukn$a !M" 2uremberg, pada tanggal '/ Januari '/:8, Ma%Arthur
dengan mendapatkan persetu#uan dari negara+negara sekutu lainn$a $ang memenangkan
peperangan, mengeluarkan piagam $ang dikenal sebagai Charter of the International 3ilitary
Tribunal for the Far .ast. Charter ini merupakan dasar untuk pembentukan pengadilan $ang
ditu#ukan untuk mengadili para pelaku pen%etus Perang Dunia !!, $ang mereka sebut sebagai
para pen#ahat perang, di 1ila$ah "imur Jauh.
Pengadilan $ang berkedudukan di "ok$o ini, memiliki $urisdiksi terhadap beberapa
ke#ahatan, $aitu9 (a) ke#ahatan terhadap perdamaian (crimes against peace)B (b) ke#ahatan perang
konventional (Conventional war crimes)B (%) ke#ahatan terhadap kemanusiaan (%rime against
humanit$), Sebagaimana haln$a Pengadilan 2uremberg, di Pengadilan "ok$o ma$oritas
berpendapat bah1a nullum sinus lege bukanlah suatu pembatasan kedaulatan $ang akan
men%egah pemberlakuan se%ara retroakti&, tetapi han$alah merupakan prinsip keadilan
(Ma%hteld Boot, 400'9 '//).
Dalam kaitann$a dengan pemberlakuan se%ara retroakti&, Hakim dari Philipina
men$atakan ,nullum crimes' nulla poena sine lege not applicable to international law'
distinguishing between national laws and national violators of those laws on the one hand and
authors of international crimes on the other (Ma%hteld Boot, 400'9 '//).
Dalam !M" 2uremberg dan "ok$o nampak bah1a keadilan $ang diterapkan adalah
keadilan retributi& Proses pembentukan Statuta, $ang dilakukan oleh beberapa 2egara pemenang
perang ++bahkan untuk !M". "ok$o han$a dibuat oleh M%Arthur sa#a menun#ukkan bah1a han$a
2egara+negara besar dan kuat $ang akan mengadili para pelaku pen#ahat perang. Dalam se#arah
tidak pernah pengadilan internasional terbentuk oleh 2egara $ang kalah perang. >leh karena itu
tidak salah bila dikatakan bah1a pembentukan !M" 2urember dan "ok$o didasarkan atas
keadilan para pemenangEvictor /ustice (oger S. 7lark, '//59 '30). Bahkan, =eo&&re$,
mengatakan bah1a pengadilan 2uremberg men%iptakan ke#ahatan terhadap kemanusiaan dan
menghukum mereka se%ara tidak manusia1i. Dikatakan menghukum se%ara tidak manusia1i
karena pengadilan 2uremberg telah menghukum gantung '4 orang terdak1a, $ang kemudian
#enasahn$a dikremasi untuk kemudian dibuang di sungai $ang tidak teridenti&ikasi (=eo&&re$
obertson A7, 40009 440). Bahkan salah seorang terdak1a $ang bernama =oering memilih
menenggak ra%un daripada harus menghadapi proses eksekusi (=eo&&re$ obertson A7, 40009
440).
Prinsip+prinsip 2uremberg $ang telah diterima sebagai prinsip+prinsip umum dalam
hukum internasional, menun#ukkan bah1a keadilan retributive lebih mendasari proses
pengadilan 2uremberg dan "ok$o. Dengan adan$a kalimat ,setiap orang $ang melakukan
perbuatan ke#ahatan internasional harus dihukum- menun#ukkan bah1a keadilan $ang diterapkan
adalah keadilan retributi&.
International Criminal Tribunal For The Former Yugoslavia (!7"<) dibentuk
berdasarkan esolusi De1an *eamanan 2o.345 "ahun '//6, dengan tu#uan untuk menghukum
para pelaku ke#ahatan perang, genosida, dan ke#ahatan kemanusiaan, $ang ter#adi se#ak ' Januari
'//' di 1ila$ah bekas negara <ugoslavia. Pembentukan !7"< oleh De1an *eamanan PBB ini
didasarkan pada Chapter C!!, Piagam PBB. Sedangkan International Criminal Tribunal For The
#wanda (!7") dibentuk berdasarkan esolusi De1an *eamanan PBB 2o. +/;; "ahun '//:,
dengan tu#uan untuk mengadili dan menghukum para pelaku genosida, pelanggaran terhadap
*onvensi =ene1a, dan ke#ahatan terhadap kemanusiaan, $ang berlangsung se#ak tanggal '
Januari '//: sampai 6' Desember '//:, di 1ila$ah 1anda.
!7"< merupakan peradilan internasional ad ho% pertama $ang dibentuk untuk mengadili
dan menghukum mereka $ang bertanggung #a1ab telah menghilangkan 300.000 orang dalam
kon&lik $ang ter#adi di <ugoslavia. Berbeda dengan !M" 2uremberg $ang dibentuk han$a oleh
empat 2egara pemenang Perang Dunia !!, !7"< dibentuk berdasarkan esolusi De1an
*eamanan PBB. Dalam resolusi tersebut din$atakan ,pengadilan internasional harus
diselenggarakan untuk mengadili orang+orang $ang bertanggung #a1ab atas pelanggaran serius
terhadap hukum humaniter international, $ang dilakukan di 1ila$ah bekas <ugoslavia se#ak
'//'-. Dalam Statuta, din$atakan bah1a $urisdiksi !7"< adalah (Ma%hteld Boot, 400'9 465+
4:4)9 (a) pelanggaran berat terhadap the @enewa Convention of $%,%B (b) pelanggaran terhadap
hukum atau kebiasaan perangB (%) =enosidaB (d) ke#ahatan terhadap kemanusiaan.
Permasalahan $ang berkaitan dengan pemberlakuan se%ara retroakti&, dalam Statuta
!7"<, dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal PBB, bah1a aplikasi dari prinsip nullum crimen
sine lege di pengadilan internasional perlu menggunakan ketentuan dari hukum humaniter
international $ang di$akini sebagai bagian dari hukum kebiasaan. Hal ini penting dalam konteks
pengadilan internasional $ang menuntut orang $ang bertanggung #a1ab untuk pelanggaran $ang
serius terhadap hukum humaniter internasional (John .F.D. Jones dan Steven Po1less, tanpa
tahun9 :0'). Dengan demikian #elas bah1a nullum crimen sine lege tidak han$a didasarkan pada
hukum nasional tetapi #uga hukum internasional.
Prinsip legalitas merupakan hak terdak1a. Hal ini penting untuk men$atakan bah1a
<ugoslavia adalah negara peserta konvensi, $akni *onvensi =ene1a, *onvensi Hague dan
*onvensi =enosida (John .F.D. Jones dan Steven Po1less, tanpa tahun9 :0'). Hakim !7"<
dalam kasus Delali%, men$atakan bah1a prinsip legalitas ada dan dikenal di dalam sistem
peradilan pidana di dunia. Prinsip tersebut tidaklah hegitu luas, meliputi apa $ang mereka telah
akui sebagai bagian dari praktek undangundang $ang bersi&at internasional. Hal ini sangat
penting karena adan$a metoda $ang berbeda dalam menentukan kriminalisasi di dalam hukum
nasional dan sistem peradilan pidana internasional. Dalam hukum nasional, kriminalisasi sangat
tergantung pada 1aktu dan materi dari larangan tersebut. Sedangkan dalam sistem peradilan
pidana internasional kriminalisasi dilakukan melalui per#an#ian atau konvensi, atau praktek
sepihak dari suatu 2egara (John .F.D. Jones dan Steven Po1less, tanpa tahun9 :04). >leh
karena itu dapat didalilkan bah1a prinsip legalitas dalam hukum pidana internasional memiliki
standar aplikasi $ang berheda dengan sistem undang+undang nasional.
Hakim $ang mengadili Delali% men$atakan bah1a untuk memberikan makna dan prinsip
legalitas, dua kesimpulan penting harus diterima, pertama, hukum pidana harus dikonstruksikan
se%ara #elas, kedua, hukum pidana tidak berlaku surut. !ni adalah bagian tambahan $ang
merupakan tugas dari /udicial interpreter atau hakim untuk mena&sirkan dan men$impulkan
bahasa dari badan pembuat undang+undang. Dengan demikian nampak bah1a prinsip ini dapat
dipastikan untuk badan pembuat undang+undang dan bukan pengadilan atau hakim untuk
ienentukan ke#ahatan dan hukumann$a (John .F.D. Jones dan Steven Po1less, tanpa tahun9
:08).
*ritik terhadap pengadilan $ang memberlakukan hukum se%ara retroakti& merupakan
suatu ke1a#aran. >leh karena itu dikatakan bah1a !7"< dan !7" $ang diberlakukan se%ara
retroakti& han$alah merupakan prosedural. Substansi hukum $ang melarang perbuatan tersebut
telah ada sebelumn$a, han$a sa#a pengadilan untuk memproses mereka baru kemudian
di1u#udkan. >leh karena itu, pengadilan $ang baru harus memastikan bah1a ia han$a
inenghukum pelanggar sebagaimana mereka telah mende&inisikan perbuatan tersebut dan dapat
di#atuhi pidana (John .F.D. Jones dan Steven Po1less, tanpa tahun9 :0;). Di samping itu,
tuduhan tentang pemberlakuan se%ara retroakti& bagi terdak1a Serbia dan *roasia, #uga tidak
dapat dibenarkan karena tindakan $ang dilakukan telah berla1anan d%ngan hukum humaniter
internasional dan hukum <ugoslavia (=eo&&re$ obertson A7, 40009 60'. Bahkan, hukum
<ugoslavia mengan%am perbuatan tersebut dengan an%aman pidana mati. Dengan demikian #elas
bah1a keberatan atas pemberlakuan se%ara retroakti& $ang dia#ukan oleh para pembela terdak1a,
merupakan upa$a untuk men$elamatkan para terdak1a dari tuntutan pengadilan.
7hristopher .. Blakesle$ memaparkan bah1a berdasarkan Pasal ' dan 4 Statuta
<ugoslavia dan 1anda, pemberlakuan se%ara retroakti& mendapatkan pembenaran atas dasar
konvensi hukum humaniter dan hukum kebiasaan internasional (lihat 7hristopher .. Blakesle$,
8trocity and Its 9rosecution2 The 8d >oc Tribunals for the Former Yugoslavia dan #wanda'
Timothy 7(>( 3cCormac4 dan @erry A( ;impson' .d(' The 7aw of Bar Crimes' !ational and
International 8pproaches' 1luwer 7aw !nternational, USA, hal 40;). Demikian pula argument
$ang dikemukakan oleh Sek#en PBB, ketika pembentukan Pengadilan ad ho% untuk <ugoslavia
dan 1anda. Masalahn$a adalah bah1a ,customary international law- tidak di%antumkan se%ara
tertulis. Ma%hteld Boot, men$atakan bah1a !7"< dan !7" didirikan berdasarkan pada s$stem
common law' $ang berbeda dengan civil law' dimana setiap perbuatan $ang din$atakan sebagai
ke#ahatan serta dapat dipidana harus dituangkan dalam aturan tertulis (Ma%hteld Boot, 400'9
';0+';').
Dalam !7", hakim $ang mengadili Aka$esu men$atakan bah1a untuk memenuhi
pers$aratan !ullum crimen sine lege' pengadilan berpegang pada hukum humaniter internasional
$ang merupakan bagian dari hukum kebiasaan. Hakim $ang mengadili Aka$esu men$atakan
(Ma%hteld Boot, 400'9 453)9
8lthough the ;ecretary Council elected to ta4e a more expansive approach to the choice
of the sub/ect0matter /urisdiction of the Tribunal than that of the ICTY' by incorporating
international instruments regardless of whether they were considered part of customary
international law or whether they entailed the individual criminal responsibility of the
perpetrator of the crime' an essential ?uestion which should be addressed at this stage is
whether 8rticle , of the ;tatute includes norms which did not' at the time the crimes
alleged in the Indictment were committed' form part of existing international customary
law(
Hakim $ang mengadili *a$ishema dan uDindana, para tersangka pelaku pelanggaran
HAM berat di 1anda, se%ara gambling men$atakan bah1a 1anda merupakan 2egara $ang
telah merati&ikasi *onvensi =ene1a dan Protokol !!. >leh karena itu tidak ada masalah dengan
retroakti&, karena semua konvensi tersebut merupakan hukum kebiasaan internasional (Ma%hteld
Boot, 400'9 45/).
Pengadilan terhadap Masema, Aka$esu dan "adi%, merupakan pengadilan $ang memiliki
permasalahan $ang sama, $aitu mempermasalahkan hukum kebiasaan. Dengan demikian, baik
dalam !7"< maupun !7", tidak ada pelanggaran terhadap asas nullum delictum(
2. Penerapan Hukum Pidana Seara !e"r#ak"i$ di Ind#ne%ia
Di !ndonesia, pemberlakuan hukum pidana se%ara retroakti& untuk pertama kalin$a
dirumuskan dalam Pasal :6 a$at (') UU tentang Pengadilan HAM $ang men$atakan9
,Pelanggaran hak asasi $ang berat, $ang ter#adi sebelum diundangkann$a undang+undang ini,
diperiksa dan diputus oleh Pengadilan HAM ad ho%.-
*etentuan sebagaimana tersebut di atas dihadapkan pada Pasal : UU 2o.6/ "ahun '///
tentang HAM, $ang melarang pemberlakuan se%ara retroakti&. <ang %ukup menarik adalah
bah1a keberlakuan se%ara retroakti& din$atakan dalam Pen#elasan Pasal :, $ang men$atakan
bah1a9 ,hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum $ang berlaku surut dapat dike%ualikan dalam
hal pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia $ang digolongkan ke dalam ke#ahatan
kemanusiaan.-
Mekanisme &ormal untuk memberlakukan hukum se%ara retroakti& diatur dalam Pasal :6
Undang+Undang 2o. 48 "ahun 4000 tentang Pengadilan HAM, atas usulan De1an Per1akilan
ak$at, $ang kemudian ditetapkan oleh *eputusan Presiden (Pasal :6 a$at 4 UU 2o. 48 "ahun
4000). Dengan mekanisme ini diharapkan bah1a pemberlakuan se%ara retroakti& tidak men#adi
ranah lembaga eksekuti&, tetapi merupakan ranah lembaga legislati&. DP $ang merupakan
representasi rak$at !ndonesia,dapat menentukan kasus kasus mana $ang diberlakukan se%ara
retroakti&.
Pemberlakuan se%ara retroakti& mendapatkan reaksi pro dan kontra dari berbagai
kalangan, ketika UU tersebut dibahas di DP. *einginan pemerintah untuk memberlakukan
UU tentang HAM se%ara retroakti&, dengan tu#uan untuk mengungkap pelanggaran HAM $ang
pernah ter#adi di masa lalu nampak dalam pembahasan UU tentang Pengadilan HAM.
*eterangan Pemerintah dihadapan rapat paripurna DP+! pada tanggal ; Juni 4000,
men$atakan bah1a ,untuk pertama kali dalam se#arah perundang+undangan dimuat ketentuan
mengenai berlaku surut dalam UU tentang Pengadilan HAM sebagai suatu kekhususan lain-
(lihat *eterangan Pemerintah Di hadapan apat Paripuma DP+! mengenai UU tentang
Pengadilan HAM tanggal ; Juni 4000).
"untutan untuk men$elesaikan pelanggaran HAM berat di masa lalu, tidak dapat
dilepaskan dari kondisi politik di masa lalu, $ang dirasakan sangat otoriter. Ada dua hal $ang
perlu mendapatkan perhatian berkaitan dengan pemberlakuan surut UU tentang Pengadilan
HAM, $aitu9 (') desakan dari mas$arakat !ndonesia agar kasus+kasus pelanggaran HAM berat di
masa lalu dapat diadili dan para pelakun$a di#atuhi pidanaB (4) desakan dari mas$arakat
internasional berkaitan dengan ter#adin$a pelanggaran HAM berat pas%a #e#ak pendapat di "im+
"im
Memun%akn$a desakan dari dalam negeri agar kasus+kasus pelanggaran HAM berat di
masa lalu dapat diungkap, merupakan bagian dari proses bangsa !ndonesia untuk men%ari solusi
dalam men$elesaikan berbagai persoalan pelanggaran HAM berat pada masa lalu. Pen$elesaian
terhadap pelanggaran HAM berat tidak boleh dilakukan dengan mempertahankan impunity
(kekebalan hukum). Impunity harus dihilangkan dan proses men%an keadilan serta pertanggung
#a1aban dari para pelaku harus ada.
Proses kriminalisasi pelanggaran HAM berat, dengan dikeluarkann$a UU tentang HAM
dan Pengadilan HAM, merupakan upa$a untuk men%apai transitional #usti%e. Dalam hal ini
ketentuan+ketentuan hukum baru $ang dapat me1u#udkan keadilan di masa transisi men#adi
sangat penting. >leh karena itu tepat apa $ang telah dikemukakan oleh *etua *omnas HAM,
$ang men$atakan9
*alau han$a mendasarkan pada perangkat hukum $ang ada sekarang, sangatlah mustahil
keadilan itu dapat di1u#udkan. >leh karena kita menghadapi ken$ataan $aitu
peraturan perundang+undangan 1arisan orde baru, sistem peradilan $ang bobrok
dan aparat hukum $ang dulu sepenuhn$a mengabdi kepada reDim lama. Mulai saat inilah
$ang penting bagi kita untuk melangkah ke masa depan, $aitu dimana kita dituntut untuk
men$elesaikan berbagai bentuk pelanggaran HAM $ang ter#adi di masa lampau.
Pengungkapan dan pen$elesaian masalah tersebut bukanlah bertu#uan untuk membuka
luka luka lama, akan tetapi #ustru untuk men$embuhkan luka lama. *ita bisa bela#ar dari
permasalahan $angter#adi di masa lampau, agar kita tidak melakukan kesalahan $ang
sama di masa mendatang (*ompas, 46 2ovember 4000).
Hal $ang sama #uga dikemukakan oleh Huntington. *etika .okakar$a berlangsung, Mar$
obinson dari U2H7 men$ampaikan pandangann$a bah1a mas$arakat internasional dan
khususn$a kantor *omisi "inggi HAM PBB sangat berkepentingan untuk melihat apakah
impunity itu masih dipertahankan atau benar+benar sudah dihapuskan. ,Untuk kasus+kasus
pelanggaran HAM berat, sikap kami tegas $aitu tidak boleh ada impunity( Proses untuk men%ari
keadilan harus dilakukan dan harus ada perrtanggung#a1aban dari para pelaku pelanggaran
tersebut-, demikian ungkap Mar$ obinson (*ompas, 46 2ovember 4000).
Pem$ataan Mar$ obinson tersebut menun#ukkan bah1a PBB memantau pelanggaran
HAM berat di !ndonesia, dan akan mengambil tindakan+tindakan bila !ndonesia tidak mau
mengadili para pelaku pelanggaran HAM berat.
Adan$a tekanan dari mas$arakat internasional, pada a1aln$a tidak diakui oleh omli
Atmasasmita. Dikatakan bah1a pembentukan pengadilan HAM merupakan amanat dari Pasal
'0: a$at (') UU 2o.6/ "ahun '/// tentang HAM (*ompas, '/ Februari 4000). Dengan
demikian, ada atau tidak ada kasus "imtim, Pengadilan HAM tetap hams dibentuk paling lambat
dalam #angka 1aktu empat tahun se#ak berlakun$a UU 2o 6/E'///. 2amun akhirn$a diakui pula
oleh omli Atmasasmita bah1a pembentukan Pengadilan HAM dilakukan lebih %epat karena
adan$a kasus "im "im $ang diiringi dengan tekanan mas$arakat internasional (*ompas, '/
Februari 4000).
Per$ataan omli tersebut di atas men#elaskan kepada publik bah1a pemberlakuan se%ara
retroakti& tidak berkaitan dengan ,desakan- komisi "inggi HAM PBB terhadap kasus "im "im.
Artin$a bah1a bangsa !ndonesiapun menginginkan diselesaikann$a kasus pelanggaran HAM
berat $ang ter#adi di beberapa tempat di !ndonesia.
"erhadap permasalahan ini, Muladi men$atakan bah1a dalam menghadapi kasus "imtim,
!ndonesia dihadapkan pada dilema antara menerima pemberlakuan se%ara surut hukum pidana
demi keadilan dan hukum kebiasaan internasional atau dianggap dunia internasional sebagai
unwilling' unable' dan impunity terhadap pelanggar HAM berat. Akibtan$a akan terbuka
kemungkinan bagi De1an *eamanan PBB untuk menerapkan primacy /urisdiction, dengan
solusi untuk membentuk Mahkamah Pidana !nternasional ad ho% untuk "im "im. Mas$arakat
!ndonesia tidak menginginkan kasus "itre "im diambil alih oleh De1an *eamanan PBB,
sehingga pilihan satu+satun$a adalah menerima pemberlakuan se%ara retroakti& (Muladi, 400;9
Makalah).
Alasan lainn$a adalah bah1a pelanggaran HAM berat merupakan <extra ordinary crime-
sehingga di dalam menghadapi para pelaku pelanggaran HAM berat, penggunaan hukum pidana
$ang memuat ,ordinary crime6 tidak diperbolehkan (Muladi, 400;9 Makalah). Dengan
demikian, para pelanggar HAM berat tidak dapat di#aring dengan ketentuan+ketentuan $ang
berkaitan dengan pembunukan, perkosaan, pengania$aan, dan sebagain$a.
Dalam proses persidangan, baik dalam kasus pelanggaran HAM berat maupun dalam
kasus terorisme $ang ter#adi di Bali, para terdak1a melalui kuasa hukumn$a menga#ukan
keberatan terhadap pemberlakuan hukum pidana se%ara retroakti&. *eberatan ini didasarkan pada
adan$a larangan di dalam Pasal 43 ! UUD '/:;.
Dan segi substansi, pertimbangan hakim menun#ukkan bah1a ke#ahatan $ang dilakukan
terdak1a merupakan ke#ahatan $ang harus di#atuhi pidana. Argumentasi $ang didasarkan pada
ketentuan undang+undang $ang berlaku serta konvensi+konvensi internasional menun#ukkan
komitmen hakim bah1a perbuatan $ang dilakukan para terdak1a merupakan perbuatan $ang
bertentangan dengan nilai+nilai kemanusiaan, menimbulkan penderitaan terhadap korban,
keluarga, serta lingkungan korban, sehingga perbuatan tersebut bukanlah merupakan perbuatan
$ang patut untuk diampuni.
Pemberlakuan se%ara retroakti& sebagai upa$a untuk memberikan pidana kepada para
pelaku pelanggaran HAM berat merupakan per1u#udan dari keadilan retributive. *eadilan
retributive nampak dengan berbagai upa$a $ang dilakukan, termasuk pemberlakuan se%ara
retroakti&, dengan tu#uan untuk men#atuhkan pidana kepada para pelakun$a.
<ang men#adi permasalahan adalah apakah pengadilan terhadap HAM berat benar+benar
merupakan per1u#udan dari retributive /ustice G *eadilan retributi& bukanlah merupakan satu+
satun$a keadilan $ang ingin di%apai. Putusan Ma#elis Hakim dalam kasus pelanggaran HAM
berat atas nama udol& Adol& Butar+Butar, dalam pertimbangann$a, men$atakan sebagai berikut
(lihat Putusan 2o.06EP!DEHAMEAD.H>7E4006EP2.J *".PS" atas nama terdak1a udol& Adol&
Butar+Butar)9
Menimbang bah1a 1alaupun permintaan kompensasi tersebut tidak termuat dalam
tuntutan Jaksa Penuntut Umum Ad Ho% tetapi berdasarkan &akta hukum dimuka
persidangan seperti dikemukakan di atas, maka untuk memenuhi rasa keadilan
mas$arakat dan bah1a tu#uan dari sebuah peradilan bukan han$a untuk penghukuman
(retributive #usti%e) maka Ma#elis mempertimbangkan mengenai kompensasi tersebut.
Berdasarkan pertimbangan tersebut nampak bah1a peradilan HAM berat tidak han$a
bertu#uan untuk memberikan pidana kepada pelaku n$a, tetapi $ang terpenting adalah
keadilan terhadap korban dan mas$arakat. Pemberian kompensasi merupakan altemati& untuk
memulihkan kerugian $ang diderita korban.
Apabila dilihat upa$a pen$elesaian pelanggaran HAM berat di !ndonesia, maka selain
upa$a pen$elesaian melalui proses peradilan, #uga terdapat upa$a non $udisial, $ang merupakan
sarana alternati&. >leh karena itu, di dalam Pasal :5 UU 2o.48 "ahun 4000 ditegaskan bah1a9
pelanggaran HAM berat $ang ter#adi sebelum berlakun$a UU 2o.48 "ahun 4000 tidak menutup
kemungkinan pen$elesaian dilakukan oleh *omisi *ebenaran dan ekonsiliasi, $ang akan
dibentuk dengan undang+undang.
Sebagai realisasi dari Pasal :5 tersebut, telah diterbitkan Undang+Undang 2o.45 "ahun
400: tentang *omisi *ebenaran dan ekonsiliasi, (untuk selan#utn$a disebut sebagai **)
$ang tugas dan ke1enangann$a berkisar pada mengungkapkan kebenaran atas pelanggaran
HAM berat di masa lalu dan melaksanakan rekonsiliasi. Selain itu, ** #uga ber1enang
memberikan rekomendasi kepada Presiden dalam hal permohonan Amnesti dan pemberian
*ompensasi, estitusi, dan atau ehabilitasi kepada korban atau keluarga $ang merupakan ahli
1arisn$a.
** sebagai alternati& pen$elesaian pelanggaran HAM berat merupakan hal baru dalam
sistem peradilan pidana di !ndonesia. .aDimn$a, dalam kasus+kasus pidana tidak ada upa$a lain
$ang dapat dilakukan selain proses peradilan. Sistem peradilan telah menun#ukkan keberhasilan
dalam menuntut dan memen#arakan seseorang. "etapi gagal untuk men%iptakan rasa aman bagi
kebidupan mas$arakat (Muladi, 400;9 Makalah). !dealn$a, korban ke#ahatan harus diperhatikan
se%ara proporsional, $ang pada akhirn$a antara pelaku dan korban harus dirukunkan kembali.
Hal ini tidak berarti terdapat pengampunan kepada si pelaku. Pelaku tetap harus
mempertanggung #a1abkan perbuatann$a tetapi 1a#ib diintegrasikan kembali ke dalam
mas$arakat. Hal inilah $ang menun#ukkan adan$a pergeseran dari distributive /ustice ke arah
restorative /ustice (Muladi, 400;9 Makalah).
Menurut omli Atmasasmita, selain **, Pemerintah !ndonesia dan Pemerintah "imor
.este, telah sepakat untuk membentuk *omisi *ebenaran dan PersahabatanE**P ("empo, 46
Juni 400;). Deklarasi $ang ditandatangi pada tanggal / Maret 400; itu bertugas untuk
menemukan dan menggali &akta+&akta $ang dapat mengungkap kebenaran tentang peristi1a
pelanggaran HAM berat pas%a #e#ak pendapat. *ebenaran $ang ingin ditemukan adalah
kebenaran tanpa melalui penuntutan, tetapi han$a untuk pemberian amnest$ atau kompensasi
atau reparasi terhadap para korban. Hal ini merupakan salah satu prinsip $ang dituangkan dalam
term of reference pembentukan **P ("empo, '/ Juni 400;).
Melihat pada upa$a $ang dilakukan pemerintah dalam men$elesaikan kasus+kasus
pelanggaran HAM berat, nampak bah1a upa$a $ang dilakukan dimaksudkan untuk memberikan
keadilan bagi para korban (restorative /ustice). Bila dilihat dari putusan pengadilan terhadap para
pelaku pelanggaran HAM berat "imor "imur, maka tu#uan petnidanaan $ang dimaksudkan
dengan memberlakukan hukum pidana se%ara retroakti& perlu dipertan$akan. Ban$akn$a pelaku
pelanggaran HAM berat untuk kasus "imor "imur serta "an#ung Priok, $ang diputus bebas oleh
pengadilan menun#ukkan bah1a hukum pidana $ang diberlakukan se%ara retroakti& tidak
memiliki kekuatan sebagai upa$a pen%egahan (detterence), tetapi sebagai limited criminal
sanction, sebagaimana dikemukakan oleh uti =. "eitel.
Penulis memandang bah1a pemberlakuan hukum pidana se%ara retroakti& untuk kasus
pelanggaran HAM berat, memiliki kelemahan sebagai berikut9
a. Proses peradilan tidak ditentukan oleh dipidana tidakn$a para terdak1a. Dalam proses
peradilan pidana, bila tuntutan #aksa tidak dapat dibuktikan, maka terdak1a harus
dibebaskanB
b. Pemberlakuan se%ara retroakti&, untuk kasus+kasus $ang telah %ukup lama ter#adi, akan
menimbulkan kesulitan+kesulitan dalam menemukan alat bukti, sehingga dapat dipastikan
bah1a apa $ang ingin di%apai dalam pemberlakuan se%ara retroakti&, tidak terpenuhiB
%. Penanganan terhadap kasus+kasus pelanggaran HAM berat merupakan kasus baru untuk
peradilan !ndonesia, sehingga aparat $ang telibat dalam proses peradilan pidana belum
sepenuhn$a memahamiB
d. Pelanggaran HAM berat, $ang melibatkan unsur+unsur $ang pernah berkuasa, sarat dengan
kepentingan politik, sehingga mekanisme peradilan tidak dapat ber#alan se%ara fair(
"iga putusan M* terkait dengan pen$impangan asas legalitas, bila dika#i se%ara lebih
teliti, maka terdapat keragaman dalam pertimbangan hakim. *eragaman ini semakin n$ata
dengan adan$a dissenting opinion $ang dikemukakan oleh hakim, $ang menun#ukkan adan$a
perbedaan pendapat. Putusan $ang sangat kontroversial adalah Putusan M* Perkara 2ornor
0!6EPUU+''4006, $ang berkaitan dengan Undang+Undang "erorisme. Dikatakan sangat
kontroversi karena terdapat pertimbangan $ang berbeda, $ang didasarkan pada dasar $ang sama
$aitu keadilan. Demikian pula dengan argumentasi $ang saling bertentangan berkaitan dengan
pena&siran terhadap Pasal 43 ' UUD '/:;.
*embali pada Putusan M* Perkara 2omor 0'6EPUU+!E4006, $ang amarn$a men$atakan
bah1a Undang+Undang 2o.'8 "ahun 4006 tersebut tidak memiliki kekuatan mengikat, sangat
menge#utkan mas$arakat luas. "erlebih lagi dalam putusan tersebut terdapat dissenting opinion
dari : orang Hakim, sehingga perbandingan $ang pro dan kontra terhadap putusan tersebut
adalah ;9:. asio perbandingan ini sangat tipis, sehingga ban$ak keraguan dan kritik dari
mas$arakat terhadap putusan tersebut. asio perbandingan dalam Putusan Perkara 2o.0'6EPUU+
!E4006 berbeda dengan Putusan Perkara 2o. 08;EPUU+!!E400: $ang memiliki perbandingan 896.
Dalam putusan $ang terakhir ini nampak sekali adan$a perbedaan. Perbedaan tersebut
menun#ukkan bah1a di satu sisi terdapat pandangan $ang posivistik, $ang han$a menekankan
pada ,ketaatan- norma, tanpa mengindahkan nilai+nilai keadilan $ang berkembang dalam
mas$arakat, sedangkan di sisi lain terdapat pandangan $ang berpegang pada nilai+nilai keadilan.
Pandangan ini nampak pula dalam Putusan M* 2o.08;EPUU+!!E400: berkaitan dengan yudicial
review terhadap undang+undang tentang Pengadilan HAM. Pemberlakuan se%ara retroakti&, $ang
men#adi permasalahan dalam yudicial review di M*, sebagaimana nampak dalam alasan
pemohon, pada prinsipn$a terdapat dua kategori, $aitu9 pertama, berkaitan dengan substansi
suatu undang+undang $ang diberlakukan se%ara retroakti&, dan kedua, berkaitan dengan
pemberlakuan se%ara retroakti& dalam hukum a%ara. <ang pertama menipakan substansi dari
Putusan M* 2o. 0'6EPUU+!E4006 dan Putusan M* 2o.08;EPUU+!!E400:. Sedangkan $ang
kedua berkaitan dengan Putusan M* 2o.08/EPUU+!!E400:.
Pemberlakuan hukum pidana se%ara retroakti&, sebagaimana terdapat dalam Undang+
undang tentang HAM dan "erorisme Untuk *asus Bom di Bali, merupakan pemberlakuan se%ara
retroakti& bagi hukum pidana materiil.
*omariah ?. Sapard#a#a, mengemukakan pandangann$a $ang dikemukakan dalam
persidangan Perkara 2o. 08/EPUU+!!E400: bah1a asas retroakti& ini sebetuln$a han$a dikenal di
dalam bidang hukum pidana materiil. ADas non retroakti& ini dapat disimpangi berdasarkan Pasal
'06 *UHP, di mana dalam hal ini berlaku asas umum lex specialis derogat lex generali (.ihat
Putusan M* Perkara 2o. 08/EPUU+!!E400:, hal. ;:).
"idak berbeda dengan *omariah, omli Atmasasmita dalam persidangan di M* #uga
mengatakan hal $ang sama. Menurut omli, dalam se#arah hukum pidana, retroakti& itu han$a
untuk delik materiil, hukum pidana materiil, tidak dalam hukum a%ara pidana. Asas legalitas
dimaksudkan untuk membatasi kese1enang+1enangan, dan hingga saat ini tidak ada perubahan.
Ditegaskan oleh omli bah1a Pasal ' a$at (') *UHP $ang memuat aDas nullum delietum nulla
poena sine previa lege poenali tersebut, substansin$a men$angkut hukum materiil, materiele
recht, dan tidak men$angkut hukum &ormil (.ihat Putusan M* Perkara 2o. 08/EPUU+''E400:,
hal. ;3).
Penulis sepakat dengan apa $ang dikernukakan oleh *omariah dan omli tersebut bah1a
penentuan delik berkaitan dengan ranah hukum pidana materiil, $ang ditetapkan oleh pembuat
undang+undang (legislative). Dengan demikian pemberlakuan se%ara retroakti& sebagaimana
dimaksud dalam Pasal ' a$at (') se%ara #elas menun#uk pada hukum pidana materiil. Hal ini
se#alan pula dengan Pertimbangan M* dalam Putusan 2o.08/EPUU+!!E400:, $ang men$atakan
bah1a suatu ketentuan adalah mengandung pemberlakuan se%ara retroakti& #ika ketentuan
tersebut (.ihat Putusan M* Perkara 2o. 08/EPUU+!!!E400:, hal. 56)9 (a) men$atakan seseorang
bersalah karena melakukan suatu perbuatan $ang ketika perbuatan tersebut dilakukan bukan
merupakan perbuatan $ang dapat dipidanaB dan (b) men#atuhkan hukuman atau pidana $ang lebih
berat daripada hukuman atau pidana $ang berlaku pada saat perbuatan itu dilakukan.
Penulis tidak sepakat dengan apa $ang dikemukakan oleh komariah bah1a pemberlakuan
se%ara retroakti& dapat dilakukan berdasarkan Pasal '06 *UHP. Pasal '06 *UHP tidak %ukup
untuk memberikan dasar atas pemberlakuan hukum pidana se%ara retroakti&. *alau Pasal '06
dipergunakan sebagai dasar untuk memberlakukan hukum pidana se%ara retroakti&, maka
sepan#ang retroakti& dilaksanakan berdasarkan undang undang, maka tidak ada permasalahan
lagi. etroakti& han$a merupakan perke%ualian, $ang han$a dapat diterapkan pada kondisi
tertentu serta terhadap ke#ahatan tertentu pula.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bah1a retroakti& han$a berkaitan dengan hukum
pidana materiil, tidak berarti tertutup kemungkinan bah1a terdapat hukum pidana &ormil, $ang
diberlakukan se%ara retroakti&. Permohonan pengu#ian UU tentang *P* $ang dia#ukan oleh
Bram D. Manoppo, merupakan permohonan pengu#ian $ang dia#ukan berdasarkan atas dasar
hukum pidana &ormil, $ang diberlakukan se%ara retroakti&.
Dalam kasus pen$idikan *P* terhadap Bram D. Manoppo, penulis melihat tidak ada
hukum a%ara $ang diberlakukan se%ara retroakti& Bram D. Manoppo, $ang disangka melakukan
tindak pidana korupsi, sebelum *P* dibentuk, tetap merupakan perbuatan korupsi. Hukum
materiil $ang men$atakan perbuatan tersebut sebagai perbuatan korupsi telah ada.
Pandangan tentang asas legalitas dalam hukum a%ara pidana, dika#i oleh Andi HamDah,
$ang men$atakan bah1a asas legalitas dalam hukum a%ara pidana lebih keras dibandingkan
dengan hukum pidana materiil. Dengan mengutip pendapat Duister1inkel dan Melai, Andi
HamDah mengemukakan bah1a dalam Pasal 6 *UHAP disebutkan ,undang+undang- (wet) $ang
artin$a han$a undang+undang dalam arti &ormil. Jadi han$a berkaitan dengan undang+undang,
$ang untuk di !ndonesia, dibuat oleh Pemerintah bersama+sama dengan DP. Dengan demikian,
hukum a%ara pidana tidak dapat diatur dengan Perda (Peraturan Daerah). Berbeda dengan Pasal '
a$at (') *UHP $ang menggunakan istilah ,perundang+undangan pidana-, $ang berarti hukum
pidana materiil dapat diatur dalam Perda, karena Perda merupakan perundang+undangan
(pidana). Dengan demikian orang dapat dipidana berdasarkan Perda tetapi tidak dapat ditangkap,
dan ditahan perdasarkan Perda. Dengan demikian asas hukum a%ara pidana !ebih keras daripada
hukum pidana materiil.
C. KESIMPULAN
.arangan pemberlakuan hukum pidana se%ara retroakti& merupakan asas $ang mendasar
dalam hukum pidana. 2arnun perkembangan hukum pidana menun#ukkan adan$a perke%ualian
$ang didasarkan pada hukum pidana internasional serta kebiasaan $ang diakui mas$arakat
internasional. Artin$a, atas nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali tidak han$a
didasarkan pada hukum nasional, tetapi #uga hukum internasional dan kebiasaan $ang diakui
mas$arakat internasional.
Pemberlakukan hukum pidana se%ara retroakti& di !ndonesia, tidak dapat dilepaskan dari
unsur politik.
Sebagaimana pembentukan !M" 2uremberg dan "ok$o, $ang dikatakan sebagai keadilan
bagi para pemenang (victor"s /ustice), pembentukan pengadilan untuk pelanggaran HAM berat di
!ndonesia pun dilakukan atas desakan dunia internasional, 1alau ada pula desakan nasional.
!ndonesia sebagai pihak $ang kalah atas desakan internasional, harus melaksanakan peradilan
bagi para pelaku pelanggaran HAM berat.
Pengalaman tribunal internasional $ang didirikan di berbagai negara berdasarkan hukum
internasional, men#adi ru#ukan dalam memberlakukan hukum pidana se%ara retroakti& di
!ndonesia. Hal ini nampak dalam proses pembuatan UU $ang terkait dengan pelanggaran HAM
berat. Demikian #uga dalam pertimbangan hakim ketika men#a1ab keberatan $ang dia#ukan oleh
terdak1a. Prinsip+prinsip hukum, doktrin hukum serta pertimbangan+perkmbangan hakim $ang
berkembang se#ak didirikann$a I3T !uremberg' To4yo serta International Tribunal For
#wanda dan International Tribunal For Former Yugoslavia, men#adi alasan pembenar dalam
memberlakukan hukum pidana se%ara retroakti&.
Perbedaan pemberlakuan hukum pidana se%ara retroakti& di !ndonesia dengan beberapa
tribunal terletak pada mekanisme pembentukan serta &ormat hukum $ang mendasari
pembentukan pengadilan. Di !ndonesia, pemberlakuan se%ara surut dibuat oleh Pemerintah
bersama+sama dengan DP, serta dibuat dalam &ormat undang+undang. Penerapan se%ara
retroakti&, ditentukan melalui mekanisme tersendiri serta proses peradilan $ang bersi&at ad ho%.
Dalam tingkat internasional' Tribunal $ang ada selama ini #uga bersi&at ad ho%, tetapi dibentuk
berdasarkan esolusi De1an *eamanan PBB atas usul negara+negara tertentu, serta substansi
hukum $ang dibuat tidak melalui mekanisme $ang ada dalam negara tersebut. Dengan demikian
han$a !ndonesia $ang memberlakukan hukum pidana se%ara retroakti& melalui produk hukum
nasional.
Hasil penelitian menun#ukkan bah1a asas non retroakti& tidak diberlakukan se%ara
mutlak. Hukum pidana dapat diberlakukan se%ara retroakti& dengan s$arat9
a. Substansi $ang diatur bukanlah merupakan hal $ang baru dan tidak ditentukan se%ara
se1enang+1enang oleh penguasa. Substansi $ang diatur harus #elas dan terperin%i, sehingga
tidak menimbulkan pena&siran lain (syarat lex certa).
b. Berdasarkan keadilan bagi mas$arakat luas, hukum pidana dapat diberlakukan se%ara
retroakti&. *eadilan di sini adalah keadilan bagi mas$arakat ban$ak. Demi keadilan,
ke#ahatan harus dihukum. *e#ahatan tidak boleh berlalu karena sang 1aktu.
%. Harus diberlakukan se%ara limitati&, dalam batasan+batasan 1aktu, serta tertuang se%ara #elas
dalam undang+undang. *eberlakuan surut harus #elas, berkaitan dengan locus dan tempus
delicti agar tidak ter#adi pen$alahgunaan kekuasaan.
d. Merupakan upa$a terakhir, dalam masa transisi untuk me1u#udkan transitional /ustice'
dengan maksud dan tu#uan untuk mengembalikan kedaulatan hukum serta melakukan
perbaikan terhadap korban (restorative /ustice)(
DA&TA! PUSTAKA
A. Buku
Abidin, Andi Hainal, 8sas08sas >u4um 9idana' Alumni, Bandung, '/35.
Allen, Mi%hael J., Textboo4 on Criminal 7aw' Bla%kstone Press .imited, Fourth ?dition,
.ondon, '//5.
Arinanto, Sat$a, >a4 8sasi 3anusia dalam Transisi 9oliti4 di Indonesia, Pusat Studi Hukum
"ata 2egara Fakultas Hukum Universitas !ndonesia, Jakarta, 4006.
IIIIIIIII, Patri%ia in1igati, "opo Santoso, Fatahilah, ;tatuta #oma Tentang 3ah4amah
9idana Internasional' Diter#emahkan dan diterbitkan atas ker#a sama .embaga *a#ian
Hak Asasi Manusia Fakultas Hukum Universitas !ndonesia dan Forum Asia dalam Hak
Asasi Manusia dan Pembangunan (F>UMAS!A) dan didukung oleh Uni ?ropa
(?uropean Union), Jakarta, 400'.
IIIIIIIII, 9engantar 3ah4amah 9idana Internasional, Diter#emahkan dan diterbitkan atas
ker#a sama .embaga *a#ian Hak Asasi Manusia Fakultas Hukum Universitas !ndonesia
dan Forum Asia dalam Hak Asasi Manusia dan Pembangunan (F>UM+AS!A) dan
didukung oleh Uni ?ropa (?uropean Union), Jakarta, 400'.
Ash1orth, Andre1, 9rinciples of Criminal 7aw, 7larendon Press >J&ord, 2e1 <ork, '//'.
Atmasasmita, omli, 9engadilan >a4 8sasi 3anusia Dan 9enega4annya Di Indonesia, Badan
Pembinaan Hukum 2asional Departemen *ehakiman Dan Ham. !., 4004.
IIIIIIIII, 3asalah 9engaturan Terorisme Dan 9erspe4tif Indonesia, Badan Pembinaan
Hukum 2asional Departemen *ehakiman Dan Ham. !., 4004.
Bassiouni, ,>uman #ights in the Context of Criminal Austice-, 6 Duke J. 7omp. K !ntL., '//6.
IIIIIIIII, Crimes 8gainst >umanity in International Criminal 7aw, 7lu1er .a1 !nternational,
2etherkand, '///.
Bentham, J., Introduction to the 9rinciples of 3oral and 7egislation, 2e1 <ork, Ha&ner
Publishing, '/:3.
Boot, Ma%hteld, !ullum Crimen ;ine 7ege and The ;ub/ect 3atter Aurisdiction of The
International Criminal Court' @enocide' Crimes 8gainst >umanity' Bar Crimes,
!ntersentia, .eiden, 400'.
Braith1aite, John, #estorative Austice C #esponsive #egulation, >J&ord Universit$ Press, 2e1
<ork, 4004.
7ohen, David, Dima4sud4an ;upaya @agal 9roses 9ersidangan 9ada 9engadilan >a4 8sasi
3anusia 8d >oc di Aa4arta' Disunting >leh !nternational 7enter &or "ransisional Justi%e,
400:.
7urDon ..B, Criminal 7aw, Ma%donald K ?vans, .ondon, '/56.
7lark oger S. dan Madeleine Sann, The 9rosecution of International Crimes' "ransa%tion
Publishers, 2e1 Jerse$, '//8.
7hristopher .. Blakesle$, 8trocity and Its 9rosecution2 The 8d >oc Tribunals for the Former
Yugoslavia dan #wanda' "imoth$ ..H. M%7orma%k dan =err$ J. Simpson, ?d., The 7aw
of Bar Crimes' !ational and International 8pproaches' 1luwer .a1 !nternational, USA.
John .F.D. Jones dan Steven Po1less, International Criminal 9ractice, >J&ord.
*amasudird#a, ?dd$ D#unaedi, Dari 9engadilan 3iliter Internasional !uremberg 4e 9engadilan
>a4 8sasi 3anusia Indonesia, "atanusa, Jakarta, 4006.
*uitenbrou1er, Maarten, Colonialism and >uman #ights' Indonesia and !etherlands in
Comparative 9erspective' 2etherlands Auarterl$ o& Human ights, Col.4', !ntersentia,
2etherland, Mar%h 4006.
M%7orma%k, "imoth$ ..H., dan =err$ J. Simpson, ?d., The 7aw of Bar Crime !ational and
International 8pproaches' *lu1er .a1 !nternational, 2etherlands, '//5.
Moel#atno, 8=as08=as >u4um 9idana, =ad#ah Mada Universit$ Press, '/30.
obertson A7, =eo&&re$, Crimes 8gainst >umanity' The ;truggle For @lobal Austice, Penguin
Books, ?ngland, 4000.
oht+ArriaDa, 2., Impunity and >uman #ights in International 7aw and 9ractice, >J&ord
Universit$ Press, 2e1 <ork and .ondon, '//;.
Filliams, =lanville, Textboo4 of Criminal 7aw, Stevens K Sons, .ondon, '/53.
Fise, ?d1ard M. dan ?llen S. Podgor, International Criminal 7aw2 Cases and 3aterials' .eJis
Publishing, United States, 4000.
B. Pera"uran Perundan' Undan'an
!ndonesia, Undang+Undang Dasar '/:;.
IIIIIIIII, ndang0ndang tentang >a4 8sasi 3anusia. 2o. 6/ "ahun '///, .2 2o.'8; tahun
'///, ".2 2o.6338.
IIIIIIIII, ndang0ndang Tentang 9engadilan >a4 8sasi 3anusia( 2o. 48 "ahun 4000, .2
2o.403 tahun 4000, ".2 2o.:048.
IIIIIIIII, 9eraturan 9emerintah 9engganti ndang0ndang tentang 9emberantasan Tinda4
9idana Terorisme, Perpu, 2o.' "ahun 4004, ".2 2o.'08 tahun 4004, ".2 2o. :464.
IIIIIIIII, 9eraturan 9emerintah 9engganti ndang0 ndang tentang 9emberla4uan 9erpu
!o( $ tahun *DD* tentang 9emberantasan Tinda4 9idana Terorisme 9ada 9eristiwa
9eleda4an Eom di Eali Tanggal $* F4tober *DD*' Perpu 2o. 4 "ahun 4004, ".2 2o.'05
tahun 4004, ".2 2o.:466.
IIIIIIIII, ndang0ndang Tentang 9enetapan 9erpu !o( $ Tahun *DD* tentang
9emberantasan Tinda4 9idana Terorisme( UU 2o.'; "ahun 4006, .2 2o.:; tahun
4006, ".2 2o. :43:.
IIIIIIIII, ndang0ndang tentang 9enetapan 9erpu !o( * Tahun *DD* tentang
9emberla4uan 9erpu !o( $ lahun *DD* tentang 9emberantasan Tinda4 9idana
Terorisme 9ada 9eristiwa 9eleda4an Eom di Eali Tanggal $* F4tober *DD*( UU 2o. '8
"ahun 4006, .2. 2o. :8 tahun 4006, ".2 2o. :43;
D. Pu"u%an Hakim
Mahkamah *onstitusi (M*), Putusan Perkara 2o 0'6EPUU+!E4006, pada tanggal 44 Juli 400:.
IIIIIIIIIIIIIIIIII, Putusan Perkara 2o 08/EPUU+!!E400:, pada tanggal '; Pebruari 400;.
IIIIIIIIIIIIIIIII, Putusan Perkara 2o 08;EPUU+!!E400:, pada tanggal 6 Maret 400;