Anda di halaman 1dari 3

Linda Faiqotul H (121810301024) Marena Thalita R (121810301031) Lailatul Badruyah (121810301036) Ekstraksi Minyak Atsiri Menggunakan Fluida Superkritis

Teknik ekstraksi dengan Fluida Superkritis merupakan suatu teknik pemisahan yang memanfaatkan daya pelarut dari fluida superkritik pada suhu dan tekanan di sekitar titik kritis. Cara ini sangat efektif terutama sekali untuk mengisolasi senyawa dengan berat molekul sedang dengan kepolaran yang rendah. Karena proses pemisahannya menggunakan suhu yang rendah, metode ini dapat digunakan untuk mengisolasi senyawa yang tidak tahan panas dan dapat dikembangkan dalam industri makanan minyak, bahan alam dan petrolatum. Dibandingkan dengan pelarut lain, Fluida superkritis memiliki densitas dan viskositas yang rendah, serta difusitas tinggi hingga memungkinkan untuk ekstraksi dan pemisahan yang cepat. Daya pelarut dari fluida superkritis cukup tinggi terhadap senyawa padat, cair, atau gas dan ini dapat diubah dengan memvariasikan suhu dan tekanan. Selain itu fluida dapat mudah dipisahkan dari ekstrak karena memiliki volatilitas yang tinggi. Pada prinsipnya ekstraksi / pemisahan komponen tertentu dari suatu bahan baku ditentukan dengan empat tahap perpindahan masa : 1) Difusi pelarut ke dalam bahan yang sedang dekstrak 2) Melarutnya komponen tertentu ke dalam pelarut di dalam bahan 3) Difusi komponen yang sudah larut dari dalam bahan ke fasa pelarut di luar bahan 4) Pengangkutan bahan yang telah larut dan keseluruhan pelarut keluar dari zona ekstraksi.

Cara kerja ekstraksi fluida superkritis

Berikut ini adalah cara kerja dari ekstraksi cairan superkritis : 1. Bahan baku yang akan diekstraksi dimasukkan ke dalam tangki ekstraksi yang dilengkapi dengan pengendali suhu serta katup tekanan di kedua ujungnya untuk menjaga kondisi ekstraksi yang diinginkan. 2. Tangki ekstraksi diberikan tekanan fluida melalui pompa, yang juga dibutuhkan untuk sirkulasi cairan dalam sistem. 3. Dari tangki yang berisi fluida CO2 dan komponen yang dilarutkan ditransfer ke pemisah dimana kekuatan solvasi cairan tersebut menurun sebesar pertambahan suhu, atau bisa lebih, dan akan mengurangi tekanan sistem. 4. Produk kemudian dikumpulkan melalui sebuah katup yang terletak di bagian bawah pemisah 5. Uap CO2 terkondensasi dan kembali menjadi fluida dan kembali ke tangki. 6. Kemudian dapat dilakukan ekstraksi lagi seperti sebelumnya . Aplikasi ekstraksi superkritis misalnya ekstraksi minyak atsiri dengan fluida superkritis. Bahan yang akan diekstrak umumnya daun, bunga, akar, buah, kulit buah, biji dan bagian tanaman lain yang mengandung minyak atsiri. Umumnya sampel dalam keadaan kering. Minyak atsiri berasal dari tumbuhan yang pada awalnya dikenal dari penentuan struktur secara sederhana dengan perbandingan atom hydrogen dan atom karbon dari suatu senyawa terpenoid yaitu 8 : 5. Sehingga dapat dikatakan bahwa senyawa tersebut adalah golongan terpenoid. Terpenoid merupakan derivate dehidrogenasi dan oksigenasi dari senyawa terpen. Terpen merupakan suatu golongan hidrokarbon yang banyak yang dihasilkan oleh tumbuhan dan sebagian kelompok hewan. Rumus molekul terpen adalah (C5H8)N. Jadi intinya terpenoid adalah komponen penyusun minyak atsiri. Minyak atsiri bukanlah senyawa murni akan tetapi campuran senyawa organik yang terdiri dari lebih dari 25 senyawa yang penyusunnya adalah karbon dengan hydrogen, karbon dengan karbon, atau karbon dengan oksigen. Sebelum proses ekstraksi berlangsung, ada perlakuan pengeringan dengan : a. freeze-drying b. oven pada temperatur 45oC hingga didapatkan berat yang konstan c. vacuum rotary evaporator pada 35oC hingga didapatkan berat yang konstan Freeze drying (pengeringan beku) terdiri atas 2 urutan proses, yaitu pembekuan yang dilakukan dengan pengeringan. Proses pengeringan berlangsung pada saat bahan dalam keaadaan beku sehingga proses perubahan fasa yang terjadi adalah sublimasi. Sublimasi terjadi jika suhu dan

tekanan ruang sangat rendah yaitu di bawah titik triple air (triple point). Titik triple terletak pada suhu 0,01oC dan tekanan 0.61 kPa, dengan demikian proses pengeringan beku harus dilakukan pada kondisi di bawah suhu dan tekanan tersebut. Tekanan kerja yang umumya digunakan di dalam ruang pengeringan beku adalah 60 600 Pa. pada saat pembekuan terbentuk Kristal Kristal es di dalam bahan, yang mana pada saat pengeringan Kristal es di dalam bahan akan tersublimasi dan meninggalkan rongga (pori) di dalam bahan. Keadaan bahan yang bersifat porous setelah pengeringan, menyebabkan bentuk bahan tidak mengalami perubahan yang besar dibandingkan sebelumnya, serta proses rehidrasi air (pembasahan kembali) lebih baik pada proses pengeringan lainnya (Armansyah, Tanpa tahun). Ekstraksi minyak atsiri menggunakan ekstraktor semi batch yang prinsipnya menggunakan karbon dioksida sebagai pelarut. Karbondioksida cair dari tangki penyimpanan, melewati bak pendingin (sekitar 263 K), lalu dipompa oleh dua pompa plug. Tahap berikutnya, karbon dioksida dipanaskan dengan heat exchanger tubular hingga mencapai temperatur proses ekstraksi. Tekanan diatur dengan regulator tekanan. Ekstraktor yang berisi bahan baku, secara thermostatic dikontrol dengan tape pemanas elektrik, temperatur di dalam ekstraktor dikontrol dengan kontroler digital. Tekanan keluar ektraktor diukur dengan tekanan gauge. Setelah meninggalkan ekstraktor, aliran CO2 yang mengandung ekstrak. Mengalir melalui percabangan katup (valve) jarum. Tekanan aliran dalam perjalanannya, berkurang dalam 3 tingkatan menjadi tekanan atmosfir dan ektrak minyak terkumpul dalam kolektor. Air dan komponen yang mudah menguap tersimpan dalam kolektor ke2. CO2 digunakan sebagai pelarut karena tidak mudah terbakar, tidak beracun, lebih murah dibandingkan dengan pelarut cair setingkat pereaksi, tersedia dengan tingkat kemurnian tinggi, dapat dibuang ke atmosfir atau digunakan ulang tanpa menyebabkan keracunan. Namun, pada beberapa penelitian ditambahkan pelarut lain untuk menambah polaritas suatu pelarut. Kelebihan ekstraksi fluida superkritis adalah Kekuatan salven dapat diatur sesuai keperluan, dengan mengatur kondisi operasinya. Daya larutnya bisa tinggi karena bersifat seperti cairan. Karena mempunyai sifat seperti gas, maka viskositasnya rendah sehingga koefisien perpindahan massanya bisa tinggi. Pemisahan kembali salven dari ekstrak cukup cepat dan sempurna, karena pada keadaan normal, fluida tersebut berupa gas (misalnya CO2). Dengan demikian, dengan penurunan tekanan, salven otomatis keluar sebagai gas. Dapat memakai f/uida yang tidak mencemari lingkungan dan tidak mudah terbakar (misalnya CO2. Difusi dalam padatan bisa cepat. Suhu operasi bisa rendah, meski-pun tekanan tinggi. Ekstraksi Fluida superkritis berbeda dengan ekstraksi cair cair. Ekstraksi cair-cair atau sering disebut ekstraksi saja, sudah lama dikenal dan dipakai dalam industri. Pada proses ini, campuran cair A dan C diambil C-nya dengan penambahan cairan B yang tidak/sedikit saling melarutkan dengan A tetapi bisa melarutkan C. Terbentuk dua fasa cair immiscible, yang pertama kaya A, yang lain kaya B, sedangkan C terdistribusi pada kedua fasa tersebut. Diperoleh ekstrak berupa larutan C dalam B dan rafinat berupa larutan C dalam A.