Anda di halaman 1dari 26

STRABISMUS

Oleh Tim Sensori Persepsi

Pengertian
suatu keadaan dimana kedudukan kedua bola

mata tidak ke satu arah


suatu kelainan posisi bola mata dan bisa terjadi

pada arah atau jarak penglihatan tertentu saja.


suatu kondisi dimana kedua mata tidak tertuju

pada satu obyek yang menjadi pusat perhatian


secara bersamaan

Pengertian
Strabismus adalah suatu keadaan dimana

kedudukan kedua bola mata tidak searah.

Strabismus merupakan suatu kelainan posisi


bola mata dan bisa terjadi pada arah atau

jauh penglihatan tertentu saja, atau terjadi


pada semua arah dan jarak penglihatan.

Etiologi
Akibat kelainan nuclei okulomotor, saraf/otot-

otot ekstra okuler sendiri.


trauma

dan

kelainan

congenital,

infeksi

neoplasma atau kelainan vaskuler, SSP, tiroid, kelainan otot


Gangguan persarafan untuk melihat dapat

mengakibatkan gangguan pergerakan mata.

Etiologi
Gangguan penglihatan yang akan

mengakibatkan mata menjadi juling :


Kelainan ukuran kaca mata antara mata kanan

dan mata kiri.


Terdapatnya kelainan atau kekeruhan pada

bagian mata yang dilalui sinar untuk melihat.

Ada dua tipe strabismus dipandang dari ketidakmampuan mengarahkan mata pada satu titik kesemua arah pandang
Paralitik (non komitan) juling tdk seimbang.

Yaitu

akibat

kelumpuhan

oto-otot

ekstravaskular sendiri, kedua mata lurus kecuali

bila berpindah kearah otot yang paralitik.

Non

paralitik

(kon

komitan)juling

seimbang.
Yaitu suatu kelainan dimana mata bervariasi

tanpa ada lesi neurologist sehingga gerakan


kedua mata biasanya tidak terganggu karena

kelainan tidak disebabkan kelainan saraf.

JENIS JENIS Strabismus


1. Esotropia : Keadaan strabismus, dimana salah satu bola mata normal, sedangkan bola mata yang lain bergulir ke arah dalam atau

seakan akan melihat ke arah hidung. 2. Eksotropia : Keadaan strabismus, dimana salah satu bola mata normal, sedangkan bola mata yang lain bergulir ke arah luar atau seakan akan melihat kearah telinga.

3. Hypertropia : Keadan strabismus, dimana

salah satu bola mata normal, sedangkan bola mata yang lain bergulir kearah atas, atau seakan akan salah satu mata melihat kearah alis atau rambut.
4. Hypotropia : Keadan strabismus, dimana

salah satu bola mata normal, sedangkan bola mata yang lain bergulir ke arah bawah, atau seakan akan melihat kearah mulut.

Strabismus esotropia (konvergen)


Ad/ Penyimpangan posisi bola mata kearah

nasal
Penyebabnya diperkirakan bawaan dan tidak

terpenuhinya syarat penglihatan binokular

normal

Syarat penglihatan binokular adalah :


Fisiologi masing masing mata normal (akomodasi

kuat dan tidak terjadi pemfokusan cahaya ,tidak konvergen) Kerjasama masing masing faal otot mata baik Dan kemampuan fusi normal

Apabila syarat diatas tidak terpenuhi ,terutama

pemfokusan cahaya oleh mata menjadi konvergen terjadinya strabismus konvergen

Manifestasi Klinis
Gejala subjektif klien menyatakan mata

juling kedalam, bisa satu mata, bisa dua mata

bergantian
Gejala obyektif hasil test tutup mata

maupun tes Hirschberg menunjukkan adanya


pergerakan mata abnormal kearah nasal

Penatalaksanaan
Memperbaiki visus dg menutup mata yg

normal,pemberian
ambliop dg ortoptis
Memperbaiki

kacamata

kelainan

refraksi,dan dg latihan merangsang mata yg kosmetik operasi reseksi medialis/ m.rektus lateralis,

m.rektus

penggunaan kacamata atau keduanya

Eksotropia (strabismus divergen)


Ad/ penyimpangan posisi bola mata kearah temporal Penyebabnya diperkirakan bawaan dan terpenuhinya syarat penglihatan binokuler normal

Gejala klinis
Gejala subyektif menyatakan mata juling

keluar,dapat satu mata,atau dua mata

bergantian dan sering memincingkan mata


Gejala objektif tes tutup mata maupun tes

Hirschberg menunjukkan adanya pergerakan


mata abnormal kearah temporal

Penatalaksanaan
Memperbaiki visus dg menutup mata yg normal,pemberian kacamata u kelainan refraksi,dan dg latihan merangsang mata yg

ambliop dg ortoptis Memperbaiki kosmetik operasi Memperbaiki penglihatan binokular latihan ortoptik

Eksotropia Paretik
Ad/ eksotropia yg disebabkan kelumpuhan

syaraf abdusen (N VI)


Kelumpuhan

syaraf

abdusen

yg

mempengaruhi kemampuan otot lateralis

,menyebabkan mata bergulir ke medial


menjadi esotropia

Lanjutan
Pada

kead

ini,gerakan

mata

kelateral

memerlukan rangsangan yg lebih besar u

menggerakkan otot rektus lateralis dan


mengakibatkan aksi lebih

(overaction)pasangan ototnya ,yaitu otot


rektus medialis pada mata kontralateral

Patofisiologi

Asuhan keperawatan
Pengkajian
Biodata

: Nama, Umur, Jenis kelamin,

Pekerjaan, Alamat, Pendidikan


Keluhan utama : Merasa mata tidak lurus,

sakit kepala, mata seperti melihat ganda.

Riwayat penyakit sekarang :

Penyimpangan pengihatan

Penggunaan

kacamata

dengan

kelainan

ruang yang jauh antara mata kanan dan kiri Adanya trauma mata Terlihat mata ambliopia dan histagmus Mata hipermetropi

Riwayat penyakit dahulu


Adanya penyakit DM, stroke, hipertensi, trauma

kepala, infeksi mata, pengobatan lase.

Riwayat penyakit keluarga


Adanya DM, stroke, hipertensi, strabismus.

Pemeriksaan fisik
TTV ( tensi, suhu, nadi, respiratorik)

Mata terlihat tidak lurus


Bola mata bergulir tidak sampai ke ujung saat melirik

Diagnosa Keperawatan
1.

Gangguan persepsi sensori kerusakan

otot penggerak mata.


2.

Gangguan citra tubuh perubahan

penampilan mata sekunder terhadap


strabismus / juling.
3.

Resti injuri strabismus (terbentuknya

bayangan ganda)

lanjutan
4. Ansietas b/d prosedur pembedahan
5. Resti infeksi b/d peningkatan kerentanan

sekunder

terhadap

prosedur

tindakan

pembedahan mata
6.

Kurang pengetahuan kurang informasi

tentang prosedur pengobatan

Wassalam