Anda di halaman 1dari 5

TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK (TAK)

A. Persiapan 1. Topik : Menyebutkan tanaman obat dan cara mengolah tanaman obat

2. Tujuan Umum : a. Klien dapat mengetahui tentang tanaman obat b. Klien mampu mengolah tanaman obat untuk dikonsumsi sendiri 3. Tujuan Khusus : a. Klien mampu menyebutkan salah satu tanaman obat b. Klien mampu menyebutkan manfaat tanaman obat c. Klien mampu mengolah tanaman obat 4. Landasan Teori : Upaya pengobatan tradisional dengan obat-obat tradisional merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dan sekaligus merupakan tekhnologi tepat guna yang potensial untuk menunjang pembangunan kesehatan. Hal ini disebabkan antara lain karena pengobatan tradisional telah sejak dahulu kala dimanfaatkan oleh masyarakat serta bahanbahannya banyak terdapat di seluruh pelosok tanah air. Dalam rangka peningkatan dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat, obat tradisional perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Toga adalah singkatan dari tanaman obat keluarga. Tanaman obat keluarga pada hakekatnya sebidang tanah baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat , khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

5. Struktur Anggota Kelompok a. Leader (Pemimpin) : (I Wayan Sistha Madyana) Tugas: 1) 2) 3) 4) 5) b. Mengkoordinir jumlah peserta yang telah ditentukan Mampu mengatasi masalah yang timbul dalam kelompok Memimpin perkenalan, menjelaskan tujuan kegiatan Menjelaskan proses kegiatan Mendemonstrasikan cara mengolah tanaman obat

Coleader : (Liskanaria) Tugas :

Membantu leader mengatur anggota kelompok c. Observer : (Juli Darmawan) Tugas dan Peran 1) 2) 3) Mengamati jalannya proses kegiatan sebagai acuan untuk mengevaluasi. Mencatat serta mengamati respon klien selama TAK berlangsung. Mencatat peserta yang aktif dan pasif dalam kelompok serta klien yang drop out. d. Fasilitator : ( Liskanaria ) 1) 2) Mampu memotivasi anggota terlibat dalam kegiatan Mampu menjadikan role model

6.

Persiapan lingkungan a. Menyiapkan satu ruangan (Aula / ruang AWF PSTW Tresna Werda )

b. Peralatan dan bahan yang dibutuhkan: blender, gelas, pisau, gula merah, susu putih, tanaman obat

B.

Rencana Kegiatan Waktu Tempat Klien : Kamis, 13 Maret 2014 : Aula / ruangan AWF PSTW Tresna Werda :

a. tn. Khadir b. tn. Ali Hasan c. tn. Mujiono d. ny. Tusinah e. ny. Tusiah f. tn. Gatot g. Skema Ruang Terapi

MEJA DEMONTRASI

Keterangan: : Leader

: Co Leader

: Observer

: Peserta

1. Pembukaan (Fase Orientasi) : a. Perkenalan : o Salam teraupetik o Menjelaskan tujuan, aturan permainan aktivitas dan peran. o Membuat kontrak waktu TAK 2. Proses Kegiatan (Fase Kerja) Pada saat tape dinyalakan dan bola digilirkan , saat musik dimatikan dan bola berada pada tangan lansia maka lansia tersebut diberikan kesempatan untuk memilih salah satu tanaman obat dan menyebutkan manfaatnya. Seperti begitulah seterusnya hingga semua lansia mendapatkan giliran 3. Evaluasi (Fase Terminasi) 1) Shering Persepsi a) Leader mengeksplorasi perasaan lansia setelah mengikuti Terapi Aktifitas

Kelompok. b) Leader memberi umpan balik positif kepada lansia.

c)

Leader meminta lansia menyebutkan tanaman obat dan manfaatnya Hasil yang diharapkan : 75% anggota kelompok mampu menyebutkan tanaman obat dan manfaatnya

4. Penutup Observer membaca hasil observasi.

C.

Program antisipasi masalah a) Memotivasi klien yang tidak aktif selama TAK. Memberi kesempatan klien menjawab sapaan perawat/terapis b) Bila klien meninggalkan permainan tanpa pamit - Panggil nama klien - Menanyakan alasan klien meninggalkan permainan - Memberi penjelasan tentang tujuan permainan dan menjelaskan bahwa klien dapat meninggalkan kegiatan setelah TAK selesai atau klien mempunyai alasan yang tepat. c). Bila ada klien lain yang ingin ikut - Beri penjelasan dengan bijaksana , bahwa permainan ini ditujukan kepada klien yang telah dipilih. - Bila klien memaksa berikan kesempatan untuk ikut dengan tidak memberi pertanyaan bila hendak meninggalkan kegiatan.