Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat

dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini tanpa suatu halangan dan rintangan yang cukup berarti. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah membimbing kita dari jalan kegelapan menuju jalan Islami. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah bersusah payah membantu hingga terselesaikannya penulisan makalah ini. Semoga semua bantuan dicatat sebagai amal sholeh di hadapan Allah SWT. Saya menyadari walaupun kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari

kesempurnaannya. Oleh karena itu, segala tegur sapa sangat saya harapkan demi perbaikan tugas ini. Saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca. Amin.

Kendari,

Novembwer 2013

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Senyawa

hidrokarbon

merupakan

senyawa

karbon

yang

paling

sederhana. Dari namanya, senyawa hidrokarbon adalah senyawa karbon yang hanya tersusun dari atom hidrogen dan atom karbon. Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temui senyawa hidrokarbon, misalnya minyak tanah, bensin, gas alam, plastik dan lain-lain. Sampai saat ini telah dikenal lebih dari 2 juta senyawa hidrokarbon. Untuk mempermudah mempelajari senyawa hidrokarbon yang begitu banyak, para ahli mengolongkan hidrokarbon berdasarkan susunan atom-atom karbon dalam molekulnya. Senyawa hidrokarbon adalah senyawa yang terdiri atas hidrogen dan karbon. Pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon akan menghasilkan uap air (H2O) dan karbon dioksida (CO2) dan pembakaran tidak sempurna senyawa hidrokarbon akan menghasilkan uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), dan karbon monoksida (CO). Sumber utama senyawa karbon adalah minyak bumi dan batu bara. Adanya uap air dapat dideteksi dengan menggunakan kertas kobalt biru yang akan menjadi berwarna merah muda dengan adanya air. Sedangkan adanya gas karbon dioksida dapat dideteksi dengan menggunakan air barit (Ca(OH)2 atau Ba(OH)2) melalui reaksi: CO2 (g) + Ca(OH)2 (aq) CaCO3 (s) + H2O (l)

Senyawa karbon yang pertama kali disintesis adalah urea (dikenal sebagai senyawa organik) oleh Friederick Wohler dengan memanaskan amonium sianat menjadi urea di laboratorium. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana sifat-sifat khas dari senyawa hidrokarbon jenuh, tak jenuh dan aromatik? 2. Bagaimana membedakan senyawa tersebut berdasarkan sifat reaksi kimianya?

C. Tujuan 1. Untuk memperlihatkan sifat-sifat khas dari senyawa hidrokarbon jenuh, tak jenuh dan aromatik 2. Untuk membedakan senyawa tersebut berdasarkan sifat reaksi kimia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Senyawa hidrokarbon adalah golongan senyawa karbon yang hanya terdiri atas unsur karbon dan hidrogen. Pengelompokkan senyawa hidrokarbon

berdasarkan bentuk rantainya dibedakan menjadi senyawa hidrokarbon alifatik yang memiliki rantai C terbuka dan senyawa hidrokarbon siklik yang rantai atom C tertutup. Berdasarkan ikatannya atau kejenuhan ikatannya, senyawa hydrogen dikelompokkan atas senyawa hidrokarbon jenuh dan senyawa hidrokarbon tak jenuh (Untoro, 2010). Senyawa hidrokarbon adalah senyawa yang terdiri atas hidrogen dan karbon. Pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon akan menghasilkan uap air (H2O) dan karbon dioksida (CO2) dan pembakaran tidak sempurna senyawa hidrokarbon akan menghasilkan uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), dan karbon monoksida (CO). Sumber utama senyawa karbon adalah minyak bumi dan batu bara. Adanya uap air dapat dideteksi dengan menggunakan kertas kobalt biru yang akan menjadi berwarna merah muda dengan adanya air. Sedangkan adanya gas karbon dioksida dapat dideteksi dengan menggunakan air barit (Ca(OH)2 atau Ba(OH)2) melalui reaksi: CO2 (g) + Ca(OH)2 (aq) CaCO3 (s) + H2O (l)

Senyawa volatil golongan hidrokarbon merupakan senyawa homolog dari hidrokarbon berantai lurus dan siklik. Hidrokarbon gugus alkana yang memiliki rantai jenuh dapat dihasilkan dan dikarboksilat dan pemisahan rantai karbon-karbon dari asam lemak yang lebih tinggi. Golongan alkena dapat berasal dari dekarbosilasi dan pemisahan rantai karbon asam lemak (Pratama, dkk., 2013). Dalam berikatan sesama atom karbon terdapat tiga kemukinan, pertama membentuk ikatan tunggal, ikatan rangkap dua dan ikatan rangkap tiga. Untuk penyederhanaan dapat kita ibaratkan Ikatan tunggal terjadi dari orbital s dan disebut ikatan () sigma pada orbital hibrid sp3 dan bentuk molekul tetrahedron dengan sudut 109,5o. Senyawa dengan ikatan tunggal disebut dengan senyawa hidrokarbon jenuh. Senyawa hidrokarbon dengan ikatan rangkap dua terjadi pada orbital p, dan ikatan ini dikenal dengan ikatan , pada ikatan rangkap dua terjadi perubahan sudut

akibat dua orbital p berposisi sejajar sehingga membentuk orbital sp2 (segi tiga datar) dan sudut yang terbentuk adalah 120o. Sama halnya dengan ikatan rangkap tiga terdapat dua orbital p dalam posisi sejajar sehingga merubah bentuk orbital sp menjadi (bentuk planar) dengan sudut 180o. Atom karbon pada senyawa hidrokarbon memiliki posisi yang berbeda-beda. Semua atom karbon (merah) yang dapat mengikat 3 atom hidrogen dan berposisi di tepi, disebut dengan atom karbon primer. Atom karbon nomor 3 (hijau) yang mengikat 2 atom hidrogen disebut dengan atom karbon sekunder. Demikian pula atom karbon yang mengikat hanya 1 atom hidrogen (warna abu-abu) memiliki posisi sebagai atom karbon tersier. Secara umum senyawa hidrokarbon memiliki ciri-ciri seperti, dibangun oleh kerangka atom karbon, ikatan yang membentuk senyawa merupakan ikatan kovalen. Senyawa ini titik didih yang rendah sesuai dengan berkurangnya jumlah atom karbon penyusunnya, mudah terbakar. Untuk senyawa hidrokarbon yang berikatan dengan atom H bersifat polar, dan jika mengikat atom lainnya seperti oksigen, nitrogen, belerang, klorida menyebabkan terjadinya molekul yang lebih polar. Hidrokarbon yang paling sederhana adalah alkana, yaitu hidrokarbon yang hanya mengandung ikatan kovalen tunggal. Hidrokarbon merupakan senyawa yang struktur molekulnya terdiri dari hidrogen dan karbon. Molekul yang paling sederhana dari alkana adalah metana. Metana berupa gas pada suhu dan tekanan baku, merupakan komponen utama gas alam (Wilbraham, 1992). Hidrokarbon dapat diklasifikasikan menurut macam-macam ikatan karbon yang dikandungnya. Hidrokarbon dengan karbon-karbon yang mempunyai satu ikatan dinamakan hidrokarbon jenuh. Hidrokarbon dengan dua atau lebih atom karbon yang mempunyai ikatan rangkap dua atau tiga dinamakan hidrokarbon tidak jenuh (Fessenden, 1997). Hidrogen dan senyawa turunannya, umumnya terbagi menjadi tiga kelompok besar yaitu: 1. Hidrogen alifatik terdiri atas rantai karbon yang tidak mencakup bangun siklik. Golongan ini sering disebut sebagai hidrokarbon rantai terbuka atau hidrokarbon

siklik. Contoh hidrokarbon alifatik yaitu : C2H6 (etana) CH3CH2CH2CH2CH3 (pentana) 2. Hidrokarbon alisiklik atau hidrokarbon siklik terdiri atas atom karbon yang tersusun dalam satu lingkar atau lebih. 3. Hidrokarbon aromatik merupakan golongan khusus senyawa siklik yang biasanya digambarkan sebagai lingkar enam dengan ikatan tunggal dan ikatan rangkap bersilihganti. Kelompok ini digolongkan terpisah dari hidrokarbon asiklik dan alifatik karena sifat fisika dan kimianya yang khas (Syukri, 1999). Sebagai hidrokarbon jenuh, semua atom karbon dalam alkana mempunyai empat ikatan tunggal dan tidak ada pasangan elektron bebas. Semua elektron terikat kuat oleh kedua atom. Akibatnya, senyawa ini cukup stabil dan disebut juga parafin yang berarti kurang reaktif (Wilbraham, 1992). Karbon-karbon dari suatu hidrokarbon dapat bersatu sebagai suatu rantai atau suatu cincin. Hidrokarbon jenuh dengan atom-atomnya bersatu dalam suatu rantai lurus atau rantai yang bercabang diklasifikasikan sebagai alkana. Suatu rantai lurus berarti dari tiap atom karbon dari alkana akan terikat pada tidak lebih dari dua atom karbon lain. Suatu rantai cabang alkana mengandung paling sedikit sebuah atom karbon yang terikat pada tiga atau lebih atom karbon lain (Fessenden, 1997). Alkana rantai lurus: CH3 CH2 - CH3 Alkana rantai cabang : CH3 CH CH2 CH3 Senyawa berbobot molekul rendah berwujud gas dan cair, dan zat yang berbobot molekul tinggi berwujud padat. Alkana merupakan zat nonpolar, zat yang tak larut dalam air dengan kerapatan zat cair kurang dari 1,0 g/ml. Selain alkana juga ada alkena yaitu hidrokarbon yang memiliki satu atau lebih ikatan rangkap dua karbonkarbon. Senyawa ini dikatakan tidak jenuh karena tidak mempunyai jumlah maksimum atom yang sebetulnya dapat ditampung oleh setiap karbon (Pettruci, 1987). Minyak mentah terdiri atas senyawa hidrokarbon rantai jenuh (alkana), aromatik, resin, dan aspaltan. Hidrokarbon rantai jenuh tidak mempunyai rantai ganda. Hidrokarbon jenis ini dikelompokkan berdasarkan struktur kimianya menjadi

nalkana (parafin), isoalkana dan sikloalkana (naften). Dari beberapa senyawa tersebut n-alkana alifatik merupakan kelompok hidrokarbon terbesar yang ada di minyak mentah maupun hasil penyulingan, yaitu berkisar antara 20-50%. Senyawa poliaromatik hidrokarbon (PAH) tersusun atas dua atau lebih cincin aromatik. Walaupun kandungan PAH di minyak mentah (sekitar 25%) lebih kecil dibanding alkana, namun senyawa ini memiliki tingkat toksisitas yang tinggi. Dengan demikian kedua senyawa ini merupakan komponen penting dari minyak yang mempunyai efek negatif bagi lingkungan. Hidrokarbon minyak adalah polutan utama pada lingkungan laut sebagai akibat dari limbah kilang minyak, produksi minyak lepas pantai, aktivitas pelayaran, dan tumpahan minyak akibat kecelakaan tanker (Tantowi, 2013). Hidrokarbon alifatik berasal dari minyak bumi sedangkan hidrokarbon aromatik dari batu bara. Semua hidrokarbon, alifatik dan aromatik mempunyai tiga sifat umum, yaitu tidak larut dalam air, lebih ringan dibanding air dan terbakar di udara (Wilbraham, 1992).

Hidrokarbon yang paling sering terkandung di dalam tumbuhan adalah hidrokarbon golongan terpen ((C5H8)n, n= 2, 3, dst.) (Eggersdorfer,2003). Terpen-terpen dalam rentang hidrokarbon minyak tanah adalah kelompok monoterpen (C10H16) dan seskuiterpen(C15H24). Senyawa-senyawa yang termasuk dalam kelompok ini ada yang berantai karbon terbuka (asiklik) dan ada pula yang berantai membentuk cincin (siklik) (Hudaya, 2013).
Hidrokarbon C2-C4 merupakan komponen utama dari hasil olahan minyak bumi, yang dibutuhkan dalam jumlah yang besar bagi industri dan

masyarakat.Hidrokarbon C2-C4 merupakan hidrokarbon yang terdiri dari golongan paraffin dan olefin. Golongan paraffin berupa etana, propane dan butane, sedangkan Hidrokarbon golongan C2-C4 olefin golongan berupa etilen, propilen parafin merupakan dan senyawa butena. utama untuk

komponen

pembuatan bahan bakar gas. Adapun etilen dan propilen merupakan bahan baku dasar bagi industry petrokimia (Setiadi, 2007).

BAB III PEMBAHASAN Senyawa hidrokarbon merupakan senyawa karbon yang paling sederhana. Dari namanya, senyawa hidrokarbon adalah senyawa karbon yang hanya tersusun dari atom hidrogen dan atom karbon. Identifikasi senyawa hidrokarbon ini bertujuan untuk Menyelidiki sifat-sifat fisik, kelarutan dan massa jenis senyawa hidrokarbon, Membandingkan reaktivitas antara alkana, alkena , dan senyawa aromatik, Menggunakan sifat fisika dan kimia untuk mengidentifikasi senyawa yang tidak diketahui. Sample yang digunakan adalah sikloheksana, toluena dan sample

unknown (fenol). Senyawa organik yang hanya mengandung atom hidrogen dan karbon disebut hidrokarbon. Hidrokarbon terbagi menjadi dua yaitu hidrokrbon alifatik dan hidrokarbon siklik. Hidrokarbon alifatik dan siklik juga dibagi lagi dalam beberapa bagian. Hidrokarbon alifatik terbagi menjadi dua yaitu alifatik jenuh (senyawa alkana) dan alifatik tak jenuh (senyawa alkena dan alkuna), sedangkan hidrokarbon siklik terbagi menjadi tiga yaitu siklik jenuh (sikloalkana), siklik tak jenuh (sikloalkena), dan siklik aromatik (benzena). Sifat fisik yang dimiliki oleh hidrokarbon disebabkan oleh sifat non polar dari senyawa tersebut. Umumnya hidrokarbon tidak dapat bercampur dengan pelarut polar seperti air atau etanol. Sebaliknya hidrokarbon daopat bercampur dengan pelarut yang relative non polar seperti karbon tetra klorida (CCl4) atau diklorometana (CH2Cl2). Reaktivitas kimia senyawa hidrokarbon ditentukan oleh jenis ikatannya. Hidrokarbon jenuh (alkana) tidak reaktif terhadap sebagian besar pereaksi. Hidrokarbon tak jenuh (alkena dan alkuna), dapat mengalami reaksi adisi pada ikatan rangkap dua atau rangkap tiganya. Sedangkan senyawa aromatik biasanya mengalami reaksi substitusi. Alkana merupakan suatu golongan hidrokarbon alifatik jenuh dengan penyusunnya adalah atom-atom karbon dalam rantai terbuka. Alkana mempunyai rumus empiris CnH2n+2. Pemberian nama pada alkana dengan rantai tidak bercabang yaitu dengan cara menyatakan jumlah atom karbonnya dan ditambah akhiran ana yang berarti senyawa tersebut adalah hidrokarbon alifatik jenuh.

Alkana yang memiliki massa molekul rendah yaitu metana, etana, propana dan butana pada suhu kamar dan tekanan atmosfer berwujud gas, alkana yang memiliki 5-17 atom karbon berupa cairan tidak berwarna dan selebihnya berwujud padat. Alkana merupakan senyawa nonpolar sehingga sukar larut dalam air tetapi cenderung larut pada pelarut-pelarut yang nonpolar seperti eter, CCl4. Jika alkana ditambahkan ke dalam air alkana akan berada pada lapisan atas, hal ini disebabkan adanya perbedaan massa jenis antara air dan alkana. Sebagian besar alkana memiliki massa jenis lebih kecil dari massa jenis air. Alkena tergolong reaktif, karena ikatan rangkap C=C kurang stabil, mudah membentuk ikatan tunggal C-C. Jenis reaksi yang terkenal pada alkena adalah adisi, yaitu reaksi penambahan atom/gugus atom yang akan menumbuk atom-atom C yang reaktif, yaitu C=C dan bergabung dengan kedua atom C tersebut, sehingga ikatan rangkap terbuka dan berubah menjadi ikatan tunggal C-C. Sehingga C=C ini dapat dikatakan sebagai gugus fungsi alkena, karena C=C inilah yang menentukan sifat alkena. Benzena termasuk senyawa aromatik dan memiliki rumus molekul C6H6. Rumus molekul benzena memperlihatkan sifat ketakjenuhan dengan adanya ikatan rangkap. Tetapi ketika dilakukan uji bromin benzena tidakmemperlihatkan sifat ketakjenuhan karena benzena tidak melunturkan warna dari air bromin. Berdasarkan hasil analisis, ikatan rangkap dua karbon-karbon pada benzena tidak terlokalisasi pada karbon tertentu melainkan dapat berpindah-pindah. Gejala ini disebut resonansi. Adanya resonansi pada benzena ini menyebabkan ikatan pada benzena menjadi stabil, sehingga ikatan rangkapnya tidak dapat diadisi oleh air bromin. Reaksi-reaksi yang terjadi pada hidrokarbon: 1. Reaksi Pembakaran Hasil pembakaran hidrokarbon adalah CO2 dan H2O. Sebagaimana reaksinya adalah sebagai berikut. CH4 2. Reaksi dengan Bromin Hidrokarbon tak jenuh bereaksi cepat dengan bromine dalam larutan CCl4. Reaksi yang terjadi adalah adisi bromine pada ikatan rangkap. Larutan bromine berwarna merah kecoklatan sedangkan hasilnya adalah tidak berwarna. Sehingga 2O2 CO2 + 2H2O

terjadinya reaksi ini ditandai dengan ilangnya warna larutan bromine. Alkana yang tidak memiliki ikatan rangkap, tidak bereaksi dengan bromine (warna merah kecoklatan bromine tetap ada). Sedangkan senyawa aromatic dapat mengalami reaksi substitusi dengan bromine dengan adanya kjatalis Fe atau AlCl3. Reaksi substitusi tersebut juga menghasilkan gas HBr. 3. Reaksi dengan H2SO4 pekat Hidrokarbon tak jenuh akan mengalami reaksi adisi dengan H2SO4 pekat dingin. Produksi yang dihasilkan adalah asam alkil sulfonat yang larut dalam H2SO4. Hidrokarbon tak jenuh dengan H2SO4 pekat tidak bereaksi, sedangkan alkuna dan senyawa aromatik bereaksi lambat. 4. Reaksi dengan KMnO4 (Uji Baeyer) Larutan KMnO4 mengoksidasi senyawa tak jenuh. Alkan dan senyawa aromatic umumnya tidak reaktif dengan KMnO4. Terjadinya reaksi ini ditandai dengan hilangnya warna ungu dari KMnO4 dan terbentuknya endapan coklat MnO2. Produk yang dihasilkan adalah suatu glikol atau 1,2-diol. Untuk mengetahui sifat fisika hidrokarbon digunakan pereaksi air dan kloroform. Setelah melakukan percobaan tersebut dapat diketahui bahwa senyawa hidrokarbon tidak larut dalam air karena air bersifar polar. Semua persenyawaan hidrokarbon bersifat non pokar, sehingga ikatan antar molekulnya sangat lemah. Karena itu hidrokarbon yang berat molekulnya rendah berbentuk gas. Karena sifat non polar ini, hidrokarbon akan mudah larut dalam pelarut-pelarut berpolaritas rendah seperti kloroform (CHCl3), benzena (C6H6) dan eter (R-O-R). Selain itu

hidrokarbon mempunyai kerapatan yang lebih kecil dari air. Pereaksi mengalami reaksi adisi (reaksi pemutusan ikatan rangkap atau

pengubahan ikatan rangkap menjadi ikatan kovalen tunggal). Terjadinya reaksi adisi ditandai dengan hilangnya warna merah cokelat dari bromin. jika warna merah pada bromin tidak berubah dapat di simpulkan bahwa sampel tersebut temasuk alkana karena tidak memiliki ikatan rangkap (tidak mengalami reaksi adisi).

10

BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapar disimpulkan bahwa 1. Senyawa hidrokarbon jenuh, tak jenuh dan aromatik cenderung memiliki sifat khas masing-masing, akan tetapi jika ditinjau dari sifat kelarutannya,senyawasenyawa tersebut tidak dapat larut dalam pelarut polar tetapi dalampelarut nonpolar. 2. Berdasarkan reaksi kimianya, dapat diketahui bahwa alkena lebih rekstif dibandinkan dengan alkana, alkana karena terdiri dari satu ikatan

rangkapsehingga tidak reaktif. Sedangkan senyawa alkena dan senyawa aromatik memiliki reaksi yaitu pembakaran, adisi dan polimerisasi. B. SARAN Saran saya pada percobaan ini adalah sebaiknya perlu diadakan ketersediaan bahan-bahan untuk percobaan ini agar kesempatan untuk langsung mengenal senyawa hidrokarbon tidak tertutup untuk para praktikan.

11

DAFTAR PUSTAKA Fessenden, Ralph J, dan Fessenden, Joan S. 1997. Dasar-dasar Kimia Organik. Bina Aksara. Jakarta. Hudaya, T., dkk., 2013, Hidrogenasi Elektrokimia Hidrokarbon Terpen.

Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern, Jilid 3. Erlangga. Jakarta. Pratam, R., I., dkk., 2013, Komposisi Kandungan Senyawa Flavor Ikan Mas (Cyprinus Carpio) Segar Dan Hasil Pengukusannya, Jurnal Akuatika, Vol. IV No. 1. Setiadi, dkk., 2007, Konversi Katalitik N-Butanol Menjadi Hidrokarbon C2-C4 Menggunakan Katalis B2O3/Zeolit Alam, Jurnal Teknik Kimia Indonesia, Vol. 6, No. 2. Syukri, S. 1999. KImia Dasar 3. ITB. Bandung.

Tantowi, A., dkk., 2013, Keragaman Bakteri Laut Pendegradasi Alkana Dan Poliaromatik Hidrokarbon Di Pulau Pari Jakarta (Diversity Of Alkane And Polyaromatic Hydrocarbon Degrading Bacteria In Pari Island (Jakarta), Jurnal Biologi Indonesia, Vo. 9, No. 1. Untoro, J., dkk., 2010, Buku Pintar pelajaran SMA IPA, Jakarta, Wahyumedia.

Wilbraham, A. C. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. ITB. Bandung.

12