Anda di halaman 1dari 6

A.

LATAR BELAKANG Ekosistem perairan tawar secara umum dibagi menjadi dua yaitu perairan mengalir (lotik water) dan perairan menggenang (lentik water). Perairan lotik dicirikan adanya arus yang terus menerus dengan kecepatan bervariasi sehingga perpindahan massa air berlangsung terus menerus, contohnya antara lain sungai, kali, kanal, parit dan lain lain. Perairan menggenang disebut juga perairan tenang yaitu perairan dimana aliran air lambat atau bahkan tidak ada dan massa air terakumulasi dalam periode waktu yang lama. Arus tidak menjadi faktor pembatas utama bagi biota yang hidup didalamnya. Contoh perairan lentik antara lain: waduk, danau, kolam, telaga, situ, rawa dan dan lain (Barus, 2000). Situ adalah suatu tampungan air atau reservoir diatas permukaan bumi yang terbentuk oleh alam, situ dapat juga dibentuk melalui rekayasa. Situ dapat berperan sebagai sumber air, air di dalam situ berasal dari air tanah, aliran air permukaan dari curah hujan, atau dialirkan sengaja dari sungai. Situ merupakan salah satu komponen penting dalam pola siklus air. Situ dapat berfungsi sebagai retension basin dan sekaligus sebagai reservoir. Adanya tofografi cekungan situ dapat menunda larinya aliran air, sehingga dapat dimanfaatkan terlebih dahulu untuk berbagai keperluan masyarakat yang bermukim di daerah sekitarnya. Salah satu jenis situ yang terdapat di Indonesia adalah Objek Wisata Situ Cangkuang. Situ Cangkuang merupakan danau yang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Luasnya 8,3 Ha, terletak pada ketinggian 400 m diatas permukaan laut dan berdasarkan letak geografisnya, Situ Cangkuang terletak diantara 070545,0 LS dan 1075515,0 BT (Sulawesty dkk, 2008).

Perairan Situ Cangkuang dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk mengairi Irigasi Cicapar dengan luas lahan pertanian seluas 149 Ha berada di 5 (Lima) Desa yaitu Cangkuang, Neglasari, Karang Anyar, Karangsari dan Tambaksari. Selain itu juga dimanfaatkan sebagian besar untuk ladang, perkebunan, dan pariwisata. Situ Cangkuang memiliki dua sumber air yaitu air aliran permukaan dari daerah tangkapan airnya dan curah hujan yang jatuh langsung diatasnya (Bachtiar, 2009). Lokasi penelitian dilakukan di Situ Cangkuang dikarenakan belum ada penelitian yang ada di Situ Cangkuang Garut sehingga guna untuk menambah informasi atau wawasan untuk peneliti dan untuk para pengelola yang ada di Situ Cangkuang Garut. Salah satu dari hewan yang hidup di danau/situ adalah sejenis Crustacea. Crustacea yang ada di Situ Cangkuang Garut hidup di tengah tengah kondisi lingkungan yang telah dipengaruhi oleh aktivitas manusia diantaranya penebangan hutan. Sedikit sekali informasi dan data tentang keberadaan Crustaesea di daerah Situ Cangkuang Garut. Bahkan penelitian yang terkait dengan keberadaan beberapa spesies atau jenis Crustacea yang hidup pada daerah tersebut belum ada penelitian. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Berbagai jenis flora dan fauna berbagai ukuran hidup di dalamnya. Terjadinya perubahan kondisi alam yang disebabkan oleh kegiatan manusia kemungkinan besar dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan komponen ekosistem dan mengurangi keanekaragaman jenis yang ada. Oleh karena itu, studi kelimpahan dan keanekaragaman perlu senantiasa dilakukan berkelanjutan untuk mengetahui bagaimana perkembangan lingkungan dan organisme yang hidup di dalamnya. Untuk memantau keanekaragaman hayati perlu dilengkapi dengan jumlah individu (kelimpahan) dan fungsi atau peranannya pada suatu habitat dan ekosistem.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka akan dilakukan penelitian di objek wisata situ cangkuang garut dengan judul KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN CRUSTACEAE DI SITU CANGKUANG, GARUT, JAWA BARAT. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana Kelimpahan Dan Keanekaragaman Crustaceae Di Situ Cangkuang, Garut, Jawa Barat C. Batasan Masalah Batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Lokasi penelitian adalah situ cangkuang Kampung Ciakar, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. 2. Parameter yang diukur adalah mengenai Kelimpahan dan keanekaragaman Crustacea. 3. Crustaceae yang dianalisis hanya meliputi sub kelas Malacostraca. 4. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriftif dengan pengambilan sampel acak dengan bilangan random. 5. Faktor Klimatik yang di ukur meliputi suhu air, DO, Salinitas, dan pH air. 6. Penelitian ini di laksanakan pada bulan Mei sampai juni tahun 2013 7. Jenis subtrat yang di akan di teliti yaitu subtrat yang berlumpur dan terendam D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kelimpahan dan keanekaragaman crustaceae di areal mangrovewana wisata pantai Tritih, Cilacap Jawa Tengah. E. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian yang dilakukan, diantaranya

1. Bagi peneliti dapat di jadikan bahan kajian dan referensi untuk penelitian selanjutnya. 2. Bagi Dinas Pariwisata Kabupaten Cilacap sebagai pengelola objek wisata dapat dijadikan bahan penambah wawasan dan sebagai bahan referensi dalam upaya pengmebangan pariwisata di Kabupaten Cilacap. 3. Bagi pendidikan bisa menambah wawasan dari species-species crustacea yang ada di hutan mangrove dalam bab Animalia. F. Kerangka Pemikiran Habitat air tawar dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu perairan mengalir (lotik) dan perairan menggenang (lentik). Perairan mengalir bergerak terus menerus kearah tertentu, sedangkan perairan menggenang perairan yang massa airnya memiliki waktu singgah sementara. Contoh perairan mengalir yaitu sungai, contoh perairan yang menggenang meliputi danau, rawa dan telaga (Ewusie, 1990 dalam Rina Ahadiati, 2012). Danau merupakan perairan lentik yang alami, dan terdiri dari danau vulkanik yaitu danau yang terbentuk karena peristiwa letusan gunung berapi, dan danau tektonik yaitu danau yang terbentuk karena peristiwa tektonik misalnya akibat gempa bumi. Danau vulkanik dan tektonik banyak terdapat di Indonesia karena Indonesia wilayahnya merupakan gugusan gunung berapi dan terdapat pada lempeng benua yang labil. Keanekaragaman jenis merupakan salah satu parameter yang digunakan dalam mengetahui status suatu ekosistem. Parameter ini mencirikan kekayaan jenis dan keseimbangan dalam suatu ekosistem, dimana semakin tinggi keanekaragaman jenis yang terbentuk menyebabkan keseimbangan ekosistem stabil begitupun sebaliknya. Ekosistem dengan keanekaragaman

rendah menyebabkan ekosistem tidak stabil dan rentan terhadap pengaruh tekanan dari luar dibandingkan dengan ekosistem yang mempunyai keanekaragaman tinggi (Boyd,1999:179 dalam Rina Ahadiati, 2012). Kelimpahan dan keanekaragaman terjadi dengan adanya dukungan faktor klimatik atau faktor lingkungan karena faktor klimatik sangat mempengaruhi bagi kehidupan makhluk hidup diantaranya dari kelas Crustacea. Jadi faktor klimatik yang mempengaruhi kelas Crustacea meliputi dari suhu air, pH air, salinitas dan kadar oksigen atau DO (Anggi, 2013). Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyerapan organisme. Proses kehidupan vital yang sering disebut proses metabolisme, hanya berfungsi dalam kisaran suhu yang relatif sempit, biasanya 0C 4C (Nybakken, 1992: hal 298). Suhu perairan sangat mempengaruhi kehidupan udang karena makin tinggi suhu, maka kelarutan oksigen makin rendah (Manik & Djunaidah, 1980) dalam (sembiring, 2008: hal 14). Fast & Lester (1992) dalam (sembiring, 2008: hal 14) mengatakan bahwa 90% dari juvenile udang akan bertahan hidup pada suhu air 24C, dan selanjutnya akan berkembang ke fase dewasa di mana udang membutuhkan suhu air kurang lebih 28C. Kandungan oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) Oksigen terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam ekosistem akuatik, terutama sekali dibutuhkan untuk proses respirasi bagi sebagian besar organisme (Suin, 2002) dalam (sembiring, 2008: hal 16). Sumber oksigen terlarut berasal dari atmosfer dan fotosintesis tumbuhan hijau. Oksigen dari udara diserap dengan difusi langsung dipermukaan air oleh angin dan arus. Jumlah oksigen yang terkandung dalam air tergantung pada daerah permukaan yang terkena suhu dan konsentrasi garam (Michael, 1984: hal 35).

Udang hidup di semua jenis habitat perairan dengan 89% di antaranya hidup di perairan laut, 10% di perairan air tawar dan 1% di perairan terrestrial (Abele, 1982) dalam (sembiring, 2008: hal 15). Udang laut merupakan tipe yang tidak mampu atau mempunyai kemampuan terbatas dalam mentolerir perubahan salinitas. Kelompok ini biasanya hidup terbatas pada daerah terjauh dari estuaria yang umumnya mempunyai salinitas 30 atau lebih. Kelompok yang mempunyai kemampuan untuk mentolerir variasi penurunan salinitas sampai di bawah 30 hidup di daerah terrestrial dan menembus hulu estuaria dengan tingkat kejauhan bervariasi sesuai dengan kemampuan spesies untuk mentolerir penurunan tingkat salinitas. Kelompok terakhir adalah udang air tawar. Udang dari kelompok ini biasanya tidak dapat mentolerir salinitas di atas 5. Udang menempati perairan dengan berbagai tipe pantai seperti: pantai berpasir, berbatu ataupun berlumpur. Spesies yang dijumpai pada ketiga tipe pantai ini berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing spesies menyesuaikan diri dengan kondisi fisik-kimia perairan (Nybakken, 1992: hal 294). Nilai pH merupakan suatu ekspresi dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam air (Sary,2006). Nilai pH yang rendah mengindikasikan bahwa perairan asam, sedangkan pH yang tinggi mengindikasikan perairan basa. pH yang ideal bagi kestabilan perairan air tawar adalah 7,8-8,3 (Affrianto, 1988). Derajat keasaman suatu perairan sering dipakai sebagai petunjuk untuk menyatakan baik atau buruknya suatu perairan (Odum, 1971).