Anda di halaman 1dari 69

Macam macam artikulator :

1. Simple hinge type / artikulator type engsel : Hanya bisa menirukan gerakan buka tutup (oklusi). Contoh : okludator. 2. Average type / non adjustable / type rata rata : Dapat meniru gerakan buka tutup ( oklusi ) dan gerakan ke kiri kanan, ke depan belakang ( artikulasi ). Inklinasi lereng sendi dan lereng incisal ditentukan oleh pabrik, berdasarkan ukuran rata rata. Contoh : Free plane articulator, Gysi simplex. 3. Semi adjustable type : Contoh : Hanau H3. 4. Fully adjustable type : Contoh : Denar D4A.

Guna artikulator :
1.

2.

3.

Membantu dalam mempelajari hubungan / relasi maxilla terhadap mandibula, baik waktu oklusi maupun artikulasi. Membantu dalam menetapkan diagnosa dari problema problema yang menyangkut gigi asli maupun gigi tiruan. Membantu dalam merencanakan perawatan yang akan dilakukan terutama yang menyangkut posisi atau susunan gigi gigi asli maupun tiruan.

Cara memasang model di okludator maupun artikulator

PENUNTUN PRAKTIKUM

Gigi memegang peranan penting dalam hal :


Estetik Pengunyahan Fungsi bicara. gigi depan. gigi belakang.

Dalam pembuatan gigi tiruan harus terdapat keselarasan antara :


Warna gigi. Ukuran gigi. Bentuk gigi. Susunan gigi.

I. Warna gigi :
Warna gigi dapat disesuaikan dengan warna dari kulit muka, rambut atau pupil mata. Umur dapat juga dijadikan pegangan di dalam melakukan pemilihan warna gigi, dimana pada pasien usia muda gigi giginya lebih putih dibandingkan pada pasien usia lanjut. Warna gigi belakang disesuaikan dengan warna gigi depan. Untuk gigi tiruan sebagian lepas warna gigi disesuaikan dengan warna gigi yang masih ada.

II.Ukuran gigi :
1. Ukuran gigi depan :
Lebar total gigi depan atas ditentukan oleh jarak dari gigi caninus kiri caninus kanan yang telah dibuat di galangan gigit. Panjang gigi incisivus atas disesuaikan dengan jarak dari garis ketawa (laugh line) ke oklusal plane.

2. Ukuran gigi belakang :


Lebar mesio distal : Lebar mesio distal gigi belakang ditentukan oleh ruangan yang tersedia mulai dari distal C ke bagian depan dari retromolarpad. Apabila ruangan yang tersedia sempit jumlah gigi belakang dapat dikurangi.

Panjang serviko incisal :


Tergantung dari ruangan yang tersedia antara processus alveolaris atas dan bawah ( ruang protesa ). Pada pasien dengan gigi depan yang panjang, tetapi interdistance ( ruang protesa ) di daerah belakang kurang maka penyusunan gigi harus sedemikian rupa sehingga perubahan dari gigi C yang panjang ke P1 yang pendek tidak begitu terlihat.

Lebar buko lingual : Biasanya lebar buko lingual ditentukan oleh pabrik, namun didalam penyusunan gigi sebaiknya gigi gigi disusun jangan sampai mengganggu pergerakan dari pipi, bibir dan lidah.
Ruangan yang dibatasi oleh pipi dan bibir di satu pihak dan lidah di lain pihak atau ruangan yang tidak dimasuki oleh pipi, bibir dan lidah sewaktu berfungsi dinamakan

NEUTRAL ZONE
Apabila gigi yang dipilih terlalu besar dalam arah buko lingual, sebaiknya gigi tersebut diasah sehingga ruang gerak lidah tidak terganggu, bahkan tekanan kunyah yang diterima jaringan pendukung juga akan berkurang.

III.Bentuk gigi :
1. Bentuk gigi depan :
Disesuaikan dengan bentuk muka yaitu ovoid, tapering atau square. Bentuk permukaan labial disesuaikan dengan profil pasien yaitu lurus, cembung atau cekung.

2. Bentuk gigi belakang :


Bentuk gigi belakang dilihat dari permukaan oklusal gigi. Di sini gigi belakang dibagi menjadi :
a.

Gigi anatomis / Cuspid teeth : Gigi dengan bentuk anatomis yang nyata, tonjol tonjol gigi jelas. Inklinasi dari tonjol gigi 20 30 derajat.

b. Gigi non anatomis / Cuspless teeth : Gigi dengan bentuk anatomis yang tidak nyata, tonjol tonjol gigi mempunyai lereng cusp yang datar. Inklinasi dari tonjol gigi 10 15 derajat.

Keuntungan gigi anatomis :


1. 2. 3.

4.

Effisiensi pengunyahan baik. Estetik baik. Adanya interdigitating cusp yang membantu didalam menentukan penutupan rahang. Penyusunan dapat dilakukan untuk mendapatkan oklusi seimbang.

Keburukan gigi anatomis :


1.

2. 3. 4.

5.

6.

Hubungan cusp to fossa ( interdigitasi ) yang sangat tepat menyebabkan penentuan hubungan rahang harus tepat pula. Kontak dari gigi gigi dalam posisi exsentris dapat menyebabkan pergerakan dari gigi tiruan. Relining dan rebasing sukar untuk dilakukan. Interdigitasi dari gigi anatomis ini menyebabkan pasien sukar menyesuaikan diri terhadap perubahan perubahan yang terjadi pada jaringan pendukung. Resorbsi residual ridge menyebabkan menurunnya D.V. oklusal dan pasien cenderung menutup rahangnya lebih ke depan. Dengan gigi anatomis penutupan rahang di luar relasi sentris dibatasi, karena itu pada keadaan dimana telah terjadi resorbsi dari residual ridge, oklusal adjustment harus sering dilakukan.

Kebaikan gigi non anatomis :


1.

2. 3.

4.

Penutupan rahang ( oklusi ) dapat dilakukan pada lebih dari 1 posisi, jadi gigi ini lebih baik digunakan pada pasien dengan relasi rahang yang sukar ditentukan. Penyusunan gigi lebih mudah dilakukan pada relasi rahang kelas II dan III. Pasien lebih mudah menyesuaikan diri pada perubahan perubahan yang terjadi di residual ridge. Relining dan rebasing lebih mudah dilakukan.

Keburukan gigi non anatomis :


1.
2.

Effisiensi pengunyahan berkurang karena tonjol gigi rata. Estetik jelek karena bentuknya seperti gigi yang aus.

Di dalam melakukan pemilihan gigi faktor yang perlu diperhatikan pula adalah bahan / jenis gigi yang akan dipakai.
IV. Bahan / Jenis gigi :

Bahan / jenis elemen gigi yang digunakan dapat akrilik / porselen.

Keuntungan & kerugian gigi akrilik & porselen :


1. 2. 3.

4.

5.

6.

Gigi porselen tidak mudah berubah warna. Gigi porselen tidak mudah patah. Gigi porselen tidak mudah mengalami abrasi dibandingkan gigi akrilik. Dengan demikian gigi porselen tidak dapat dipakai pada pasien dengan resorbsi processus alveolaris yang besar. Perlekatan gigi porselen dengan basis gigi tiruan adalah secara mekanis, sedangkan gigi akrilik secara khemis, karena itu gigi porselen tidak dapat dipakai pada pasien dengan ruang protesa yang kurang. Bila perlu merubah bentuk atau besar gigi dengan pengasahan maka gigi akrilik lebih mudah diubah bentuknya. Gigi akrilik setelah diasah dapat dipoles kembali, sedangkan gigi porselen yang telah diasah bila dipoles tidak dapat mengkilat.

V. Susunan gigi :
Urutan menyusun gigi adalah :
Gigi depan atas. Gigi depan bawah. Gigi belakang atas. Gigi belakang bawah.

Cara menyusun gigi :

PENUNTUN PRAKTIKUM

Dentogenik:
Suatu seni atau tehnik yang digunakan pada pembuatan gigi tiruan untuk mendapatkan estetik yang baik bagi pasien.

Tujuan :
Untuk mendapatkan penampilan yang wajar sehingga tidak terlihat palsu.

Dentogenik ini terutama digunakan untuk gigi depan. Menurut Sharry, nilai dentogenik tergantung pada :

Warna gigi. Bentuk gigi. Susunan gigi. Bentuk garis gusi / gingival.

Untuk menyusun gigi secara dentogenik tergantung pada :


Umur. Sex. Personality.

Menurut Fish & Fisher terdapat type keras, medium dan lembut.

Pengaruh umur :
Usia muda
Warna gigi lebih muda. Ujung gigi C lebih runcing. Gigi I2 sedikit lebih tinggi dari gigi I1. Garis gusi di daerah servikal.

Usia tua
Warna gigi lebih tua. Ujung gigi C diasah / spt. abrasi. Gigi I2 setinggi I1, lengkung tepi incisal datar. Garis gusi di bawah servikal.Kadangkadang terdapat diastema.

Pengaruh sex :
Laki laki Ukuran gigi lebih besar, tebal dengan lekuk lekuk jelas. Lengkung setiap gigi persegi. Incisal edge disusun persegi. Wanita Ukuran gigi lebih kecil.
Lengkung setiap gigi membulat. Incisal edge mengikuti lengkung bibir bawah.

Langkah langkah untuk menuangkan faktor sex ke dalam gigi tiruan antara lain :
Bila incisal gigi I1 disusun sedikit ke depan akan memberikan kesan watak keras pada laki laki. Bila satu gigi I1 didorong seluruhnya ke labial akan memberikan kesan keras. Bila bagian distal gigi I1 diputar ke labial memberikan kesan keras. Untuk mamberikan kesan lembut pada wanita bagian distal gigi I1 diputar ke belakang, sedangkan bagian mesial gigi I2 lebih terlihat ke depan. Pada laki laki gigi I1 tidak diputar, tetapi mesial gigi I2 sering tertutup distal I1.

Hubungan kepribadian dengan posisi serta bentuk gigi sukar untuk digambarkan, tetapi kepribadian biasanya terpancar dari kebiasaan dan tingkah laku.

Secara umum penyusunan gigi utk. GTP adalah sbb. :


II. GIGI DEPAN :

Lengkung gigi sesuai dengan bentuk lengkung rahang & bentuk residual ridge. Bentuk lengkung rahang : square, ovoid, tapering. Disusun sesuai profil muka. Garis median dari lengkung gigi harus terletak ditengah tengah muka titik kontak I1. Sumbu panjang gigi Incisive 1 // sumbu panjang muka. Disusun sesuai garis senyum dari bibir bawah. Susunan gigi sesuai dengan permukaan labial & bukal dari sisi yang berlawanan agar tidak memberi kesan palsu. Mis : Gigi 12 membentuk sudut 5dengan garis tegak lurus, gigi 22 membentuk sudut 5 dengan garis tegak lurus dalam jurusan yang berlawanan.

II.GIGI BELAKANG :
Untuk penyusunan gigi belakang harus diperhatikan :

Crest line :
Garis yang ditarik dari distal C ke tengah tengah retromolarpad.

Ini merupakan letak dari central groove gigi belakang bawah dan cusp palatal gigi depan atas.

Curve of Spee
Kurve anatomik dari permukaan oklusal gigi, mulai dari ujung cusp C bawah dan mengikuti cusp bukal gigi P & M terus ke tepi anterior dari ramus.

Compensation curve / Kurve kompensasi : Kurve antero-posterior dan lateral dalam penyusunan permukaan oklusal dan incisal dari gigi tiruan yang digunakan untuk mendapatkan oklusi seimbang.

DALAM KEDUDUKAN OKLUSI SENTRIS :


Gigi atas overlap dengan gigi bawah. Sumbu panjang tiap gigi atas terletak di distal sumbu panjang gigi bawah. Setiap gigi berhadapan dengan 2 gigi, kecuali gigi I1 R.B. dan gigi M terakhir R.A. Hubungan gigi depan atas bawah ada vertikal & horizontal overlap. Hubungan gigi belakang atas bawah cusp to fossa. Hubungan gigi M1 atas bawah Klas I Angle.

Hubungan gigi depan atas - bawah

Horizontal overbite overjet

Vertikal overbite / overbite

Crest line

Hubungan gigi belakang atas bawah


Kedudukan Oklusi Sentris

Klas I Angle

Oklusi sentris

DALAM KEDUDUKAN PROTRUSIVE OCCLUSION & LATERAL OCCLUSION :


Pada gerakan protrusi :

Mandibula akan bergerak ke depan dari kedudukan oklusi sentris. Gigi depan bawah meninggalkam kontaknya pada gigi atas dan meluncur mencapai kontak edge to edge. Pada keadaan ideal : Gigi belakang kontak cusp to cusp.

Arah gerakan gigi ke depan

Pada gerakan lateral : merupakan gerakan asimetris. Mis : gerakan ke kiri :


Condylus kiri melakukan gerak rotasi mengelilingi sumbu vertikal. Condylus kanan meluncur ke depan mengelilingi sumbu vertikal.

Sisi kiri : working side / sisi kerja.


Kontak gigi belakang kiri cusp to cusp. Tonjol bukal atas tonjol bukal bawah. Tonjol palatal atas tonjol lingual bawah.

Arah gerakan gigi ke samping

Working side

Balancing side

Working side

Sisi kanan : balancing side / sisi keseimbangan.


Kontak gigi belakang kanan Lereng tonjol bukal bawah kontak lereng tonjol palatal atas.

Balancing side

PERCOBAAN PROTESA MALAM

Protesa malam dipasang dalam mulut pasien lalu perhatikan :


1. Estetik :
Periksa bentuk, warna, susunan gigi. 2. Kecekatan : Periksa kontur basis gigi tiruan serta susunan gigi.

3. Hubungan rahang : Dimensi vertikal oklusal & relasi sentris.


Bila diperlukan buat interocclusal record dari indicator wax atau plaster untuk keperluan remounting.

Percobaan protesa malam utk. GTSL :


GTSL

akrilik --- dicoba tanpa cengkram. GTSL kerangka logam --- dicoba dengan cengkram.
Selain pemeriksaan yang umumnya dilakukan perlu juga dilihat kedudukan dan kecekatan cengkram pada gigi penyangga.

PENENTUAN POSTERIOR PALATAL SEAL


Dilakukan pada waktu percobaan protesa malam / sebelum penyusunan gigi. Letak posterior palatal seal adalah pada

vibrating line.
Tepi gigi tiruan ditentukan di dalam mulut dan lokasinya dipindahkan pada model kerja.

Lokasi tepi gigi tiruan atas yang dipindahkan ke model kerja

A. Letak tepi distal gigi tiruan atas

Cara penentuan posterior palatal seal :


Pasien

disuruh mengucapkan huruf AH, maka palatum lunak akan bergetar. Tandai garis ini dengan pinsil tinta, lalu garis ini diteruskan ke pterygomaxillare kiri dan kanan. Protesa malam ditempatkan dalam mulut pasien agar tanda yang dibuat dengan pinsil tinta dapat pindah ke gigi tiruan malam.

Penentuan letak posterior palatal seal di mulut pasien

1 = postdam, 2 = tepi distal gigi tiruan atas,


3 = palatum lunak, 4 = otot palatum lunak

FESTOONING / GUM CUFF FLASKING


PEMBUATAN POSTDAM & RELIEF

PACKING CURING POLES

TAHAPAN FESTOONING / GUM CUFF

Penambahan malam cair