Anda di halaman 1dari 20

RABU, 26 SEPTEMBER 2012 BLOK DMF 2 LAPORAN TUTORIAL KELAINAN KELENJAR SALIVA

LAPORAN TUTORIAL Kelainan Kelenjar Saliva

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Tutorial Blok Penyakit Dentomaksilofasial II Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember

Pembimbing : drg. Dyah Setyorini, M. Kes Disusun oleh: Kelompok Tutorial VI

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER 2012 DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK

Tutor Ketua Scriber Meja Scriber Papan

: drg. Dyah Setyorini, M. Kes : Tiara Fortuna Bela Binanda (111610101067) : Dewi Martinda Hartono : Adinda Martina (111610101073) (111610101072)

Anggota 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

: (111610101043) (111610101049) (111610101050) (111610101061) (111610101063) (111610101064) (111610101066) (111610101069) (111610101071) (111610101074)

Galang Rikung Edi S. R.Aj Mahardhika S.P. Vanda Ayu Kartika H. Dian Fajariani Anugerah Nur Yuhyi Fitria Krisnawati Sitti Nur Qomariah Khamda Rizki Dhamas Sheila Dian Pradipta

10. Nurbaetty Rochmah

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan yang berjudul Kelainan Kelenjar Saliva. Laporan ini disusun untuk memenuhi hasil diskusi tutorial kelompok VI pada skenario ketiga. Penulisan makalah ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada : 1. drg. Dyah Setyorini, M. Kes selaku tutor yang telah membimbing jalannya diskusi tutorial kelompok VI Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember dan yang telah memberi masukan yang membantu bagi pengembangan ilmu yang telah didapatkan. 2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.

Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan perbaikan di masa mendatang demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita semua.

Jember, 20 September 2012

Tim Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Glandula saliva atau kelenjar saliva merupakan organ yang terbentuk dari sel-sel khusus yang dapat mensekresi saliva. Saliva adalah cairan oral yang kompleks dan tidak berwarna yang terdiri dari

campuran sekresi dari kelenjar besar dan kelenjar kecil (mayor dan minor) yang ada pada mukosa oral. Saliva sendiri memiliki fungsi yaitu melicinkan dan membasahi rongga mulut sehingga membantu proses mengunyah dan menelan makanan, membasahi dan melembutkan makanan menjadi bahan setengah cair ataupun cair sehingga mudah ditelan dan dirasakan, membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan kuman, mempunyai aktivitas antibacterial dan sistem buffer, membantu proses pencernaan makanan melalui aktivitas enzim ptyalin (amilase ludah) dan lipase ludah, berpartisipasi dalam proses pembekuan dan penyembuhan luka karena terdapat faktor pembekuan darah dan epidermal growth factor pada saliva, jumlah sekresi air ludah dapat dipakai sebagai ukuran tentang keseimbangan air dalam tubuh, dan membantu dalam berbicara (pelumasan pada pipi dan lidah). Atas dasar pentingnya fungsi saliva tersebut, kelenjar saliva merupakan organ yang penting dalam sekresi saliva. Apabila terjadi kelainan pada kelenjar saliva, akan terjadi dampak yang dapat mengurangi fungsi saliva sehingga menyebabkan berbagai masalah pada rongga mulut.

1.2 1.

Rumusan Masalah Apa definisi kelainan kelenjar saliva baik neoplastik maupun non-neoplastik ?

2. Apa saja macam-macam kelainan kelenjar saliva beserta etiologi, gambaran klinis, gambaran HPA, dan gambaran radiologinya ?

1.3 1.

Tujuan dan Manfaat Mampu mengetahui definisi kelainan kelenjar saliva baik neoplastik maupun non neoplastik.

2. Mampu macam-macam kelainan kelenjar saliva beserta etiologi, gambaran klinis, gambaran HPA, dan gambaran radiologi yang dibagi berdasarkan neoplastik dan non neoplastik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Glandula saliva atau kelenjar saliva merupakan organ yang terbentuk dari sel-sel khusus yang mensekresi saliva. Saliva adalah cairan oral yang kompleks dan tidak berwarna yang terdiri dari campuran sekresi dari kelenjar besar dan kelenjar kecil (mayor dan minor) yang ada pada mukosa oral. Fungsi saliva itu sendiri adalah: Melicinkan dan membasahi rongga mulut sehingga membantu proses mengunyah dan menelan makanan Membasahi dan melembutkan makanan menjadi bahan setengah cair ataupun cair sehingga mudah ditelan dan dirasakan Membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan kuman Mempunyai aktivitas antibacterial dan sistem buffer Membantu proses pencernaan makanan melalui aktivitas enzim ptyalin (amilase ludah) dan lipase ludah Berpartisipasi dalam proses pembekuan dan penyembuhan luka karena terdapat faktor pembekuan darah dan epidermal growth factor pada saliva Jumlah sekresi air ludah dapat dipakai sebagai ukuran tentang keseimbangan air dalam tubuh. Membantu dalam berbicara (pelumasan pada pipi dan lidah) KLASIFIKASI GLANDULA SALIVA Klasifikasi Glandula Saliva berdasarkan ukuran : Glandula saliva Mayor Glandula saliva Minor

Glandula saliva mayor terdiri dari : 1. Glandula parotis

Merupakan glandula terbesar yang letaknya pada permukaan otot masseter yang berada di belakang ramus mandibula, di anterior dan inferior telinga. Glandula parotis menghasilkan hanya 25% dari volume total saliva yang sebagian besar merupakan cairan serus. 2. Glandula submandibula

Merupakan glandula terbesar kedua setelah glandula parotis. Letaknya di bagian medial sudut bawah mandibula. Glandula submandibula menghasilkan 60- 65% dari volume total saliva di rongga mulut, yang merupakan campuran cairan serus dan mukus. 3. Glandula sublingual

Glandula yang letaknya pada fossa sublingual, yaitu dasar mulut bagian anterior. Merupakan glandula saliva mayor yang terkecil yang menghasilkan 10% dari volume total saliva di rongga mulut dimana sekresinya didominasi oleh cairan mukus. Glandula saliva minor terdiri dari: Glandula Labial Superior inferior Glandula Bucalis Minor Glandula Palatina Glandula Lingualis anterior Glandula Lingualis Posterior Glandula Glossopalatinus Kelainan kelenjar saliva adalah suatu keadaan abnormal dalam kelenjar saliva yang dapat merujuk pada kondisi yang menyebabkanpembengkakan atau nyeri.

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Definisi Kelainan Kelenjar Saliva

Kelainan kelenjar saliva adalah suatu keadaan abnormal dalam kelenjar saliva yang dapat merujuk pada kondisi yang menyebabkan pembengkakan atau nyeri. Kelainan kelenjar saliva ini dibagi menjadi dua, yaitu kelainan non neoplastik dan neoplastik. Tumor non neoplastik adalah segala bentuk perubahan atau penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan sel sehingga tidak mencapai pertumbuhan dan perkembangan normal atau menimbulkan suatu pertumbuhan patologis pada fase tertentu dan kemudian berhenti. Kelainan non neoplastik ini dapat disebabkan oleh gangguan genetik (congenital), trauma, atau infeksi yang mengganggu cell circle. Jika kelainan pertumbuhan dan perkembangan tersebut terus-menerus dan tak terkontrol, maka digolongkan sebagai suatu kelainan pertumbuhan dan perkembangan sel yang berupa neoplastik sebenarnya (true neoplasm). Neoplasia adalah pembentukan jaringan baru yang abnormal dan tidak dapat dikontrol oleh tubuh. Ada dua tipe neoplasia, yaitu neoplasia jinak (benign neoplasm) dan neoplasia ganas (malignant neoplasm). Neoplasia jinak adalah pertumbuhan jaringan baru yang lambat, ekspansif, terlokalisir, berkapsul, dan tidak bermetastasis (anak sebar). Neoplasia ganas adalah tumor yang tumbuhnya cepat, infiltrasi ke jaringan sekitarnya, dan dapat menyebar ke organ-organ lain/metastase.

3.2 Macam-macam Kelainan Kelenjar Saliva beserta Etiologi, Gambaran Klinis, Gambaran HPA, dan Gambaran Radiologi yang dibagi berdasarkan Neoplastik dan Non Neoplastik

3.2.1

Kelainan Kelenjar Saliva Neoplastik

a) Pleomorfic adenoma Gejala Klinis : tumor jinak yang berasal dari kelenjar saliva yang dapat tumbuh dari kelenjar saliva minor maupun mayor. Tumor ini tumbuh lambat, asymtomatis, dapat digerakkan dan konsistensi kenyal dengan permukaan yang halus. Tumor dapat membesar mendesak jaringan sekitarnya. HPA : pleomorfic adenoma menunjukkan campuran proliferasi jaringan epithel dalam daerah jaringan myxoid, mucoid, atau chondroid. Tumor sebagian mempunyai kapsul fibrous.

b) Monomorphic adenoma Tumor-tumor monomorfik tersusun reguler berbentuk grandular, dengan tidak adanya dominasi komponen jaringan mesenkim. Tumor yang termasuk ke dalam adenoma monomorfik adalah Warthin tumor (papillary cystadenoma lymphomatosum), basal sel adenoma, oxyphilic adenoma (oncocytoma), canalicular adenoma, myoepthelioma, dan clear cell adenoma. Whartins tumor

Gejala klinis : tumor jinak kelenjar saliva yang paling umum dijumpai diantara tumor-tumor monomorfik lainnya dan sering terjadi pada kelenjar parotis. Penderita laki-laki lebih banyak daripada penderita perempuan. HPA : berbentuk glandula yang dipisahkan celah-celah yang cenderung dan membentuk proyeksi papilapapila yang tertanam didalam jaringan limfoid yang padat. Rongga kistik dilapisi oleh sel epitel yang eosinopilik (onkosit) 2 lapis (bilayer).

Onkositoma

Gejala klinis : kelenjar parotid adalah tempat yang paling sering terjadinya onkositoma diikuti dengan kelenjar submandibula. Tumornya muncul sebagai massa yang tumbuh lambat, tidak nyeri, yang sering keras dan kadang-kadang kistik. Pembengkakan kelenjar parotis kadang-kadang difus, dapat terjadi bilateral ataupun multiple. HPA : mengandung sel-sel epitelial berbentuk polyhedron yang besar (onkosit), yang penuh dengan sitoplasma eosinofilik bergranular dan mitokondria. c) Mukoepidermoid karsinoma

Gejala klinis : umumnya melibatkan kelenjar ludah mayor, yaitu kelenjar ludah parotis. Sebagian kecil dapat timbul dari kelenjar ludah minor. Tumor ini sering terjadi pada orang dewasa, penderita perempuan lebih banyak daripada penderita laki-laki. Tumor ini tumbuhnya lambat, berasal dari sel epitelium duktus dan berpotensi metastasis. HPA : secara mikroskopis dibedakan atas : low grade, intermediate grade, dan high grade. Menunjukkan campuran sel kelenjar penghasil mukus dan del epitel intermediate. Ketiga sel-sel ini berasal dari sel duktus yang berpotensi mengalami metaplasia. Low grade merupakan massa yang kenyal dan mengandung solid proliferasi sel tumor, pembentukan struktur seperti duktus dan adanya cystic space yang terdiri dari epidermoid sel dan sel intermediate.Tipe intermediate ditandai massa tumor yang lebih solid sebagian besar sel epidermoid dan sel intermediate dengan sedikit memproduksi kelenjar mukus. Tipe poorly diferentiated ditandai dengan populasi sel-sel pleomorfik dan tidak terlihat sel-sel berdiferensiasi.

d)

Karsinoma sel asinar

Gejala klinis : tumor ganas kelenjar parotis yang jarang terjadi. Kadang ditemukan pada kelenjar saliva lainnya. Umumnya pada lelaki muda antara umur 20-30 tahun. Tumor ini berkapsul, merupakan suatu proliferasi sel-sel yang membentuk massa bulat, diameter < 3 cm.

HPA : berisi sel-sel asinar yang seragam dengan nukleus kecil berada di sentral dengan sitoplasma yang basofilik dan padat mirip sel-sel sekretoris (asinar) dari kelenjar saliva normal. Tumor ini dapat bermetastasis ke limfonodi regional.

e)

Tumor Sel Granular

Tumor sel granula adalah benigna dengan potensi menjadi maligna dan sering berhubungan dengan kelenjar liur minor. Tumor ini cenderung terjadi pada kavum oral dan sangat tersirkumsrip, mudah digerakkan dan tidak nyeri. Aspirasi jarum halus dapat menunjukkan proses neoplastik. Hpa Pemeriksaan histopatologis memberikan gambaran selsel poligonal dengan sitoplasma granular eosinofilik yang banyak dan nukleus-nukleus pleomorfik ringan yang berbentuk bulat hingga oval. Karena ia berpotensi ke arah maligna, kombinasi dari eksisi lokal yang luas dan observasi yang ketat merupakan terapi yang paling berkesan.

f)

Hemangioma

Walaupun bukan berasal dari glandular, hemangioma adalah signifikan sebagai diagnosis banding massa parotid terutama pada anak-anak. Tumor jinak ini berasal dari sel endotelial dan merupakan kurang dari 5% dari semua tumor kelenjar liur. Pada anak anak, hemangioma kapiler adalah tumor kelenjar liur yang paling sering yaitu lebih dari 90% tumor kelenjar liur terjadi pada anak-anak di bawah usia 1 tahun. Tumor ini mengenai perempuan lebih banyak dari laki-laki dan sering terdapat pada kelenjar parotid. Klinis

Hemangioma biasanya muncul pada waktu lahir sebagai massa unilateral dan tidak nyeri. Pertumbuhannya proliferatif dan cepat yang sering menyebabkan deformitas kosmetik. Aspirasi jarum halus biasanya tidak penting. CT scan, MRI atau keduanya dapat menunjukkan gambaran vaskularisasi pada lesi. Diagnosis banding termasuk kelainan proliferatif vaskular seperti limfangioma dan hemangioma kavernosa.

3.2.2

Kelainan Kelenjar Saliva Non Neoplastik

a) Mukokel Definisi Mucocele adalah Lesi pada mukosa (jaringan lunak) mulut yang diakibatkan oleh pecahnya saluran kelenjar liur dan keluarnya mucin ke jaringan lunak di sekitarnya. Mucocele bukan kista, karena tidak dibatasi oleh sel epitel. Mucocele dapat terjadi pada bagian mukosa bukal, anterior lidah, dan dasar mulut. Mucocele terjadi karena pada saat air liur kita dialirkan dari kelenjar air liur ke dalam mulut melalui suatu saluran kecil yang disebut duktus. Terkadang bisa terjadi ujung duktus tersumbat atau karena trauma misalnya bibir sering tergigit secara tidak sengaja, sehingga air liur menjadi tertahan tidak dapat mengalir keluar dan menyebabkan pembengkakan (mucocele). Mucocele juga dapat terjadi jika kelenjar ludah terluka. Manusia memiliki banyak kelenjar ludah dalam mulut yang menghasilkan ludah. Ludah tesebut mengandung air, biopsy, dan enzim. Ludah dikeluarkan dari kelenjar ludah melalui saluran kecil yang disebut duct (pembuluh). Terkadang salah satu saluran ini terpotong. Ludah kemudian mengumpul pada titik yang terpotong itu dan menyebabkan pembengkakan, atau mucocele. Pada umumnya mucocele didapati di bagian dalam bibir bawah. Namun dapat juga ditemukan di bagian lain dalam mulut, termasuk langit-langit dan dasar mulut. Akan tetapi jarang didapati di atas lidah. Pembengkakan dapat juga terjadi jika saluran ludah (duct) tersumbat dan ludah mengumpul di dalam saluran. Etiologi Umumnya disebabkan oleh trauma 4iops, misalnya bibir yang sering tergigit pada saat sedang makan, atau pukulan di wajah. Dapat juga disebabkan karena adanya penyumbatan pada duktus (saluran) kelenjar liur minor. Mucocele Juga dapat disebabkan oleh obat-obatan yang mempunyai efek mengentalkan ludah. Gambaran Klinis 1. 2. Batas tegas Konsistensi lunak

3. 4. 5. 6.

Warna transluscent Ukuran biasanya kecil Tidak ada keluhan sakit Kadang-kadang pecah, hilang tapi tidak lama kemudian akan timbul lagi

b) Ranula Etiologi Dan Patogenesis Ranula terbentuk sebagai akibat normal melalui duktus ekskretorius major yang membesar atau terputus atau terjadinya rupture dari saluran kelenjar terhalangnya aliran liur yang sublingual (duktus Bartholin) atau kelenjar submandibuler (duktus Wharton), sehingga melalui rupture ini air liur keluar

menempati jaringan disekitar saluran tersebut. Selain terhalangnya aliranliur, ranula bisa juga terjadi karena trauma dan peradangan. Ranulamirip dengan mukokel tetapi ukurannya lebih besar. Bila letaknya didasar mulut, jenis ranula ini disebut ranulaSuperfisialis. Bila kista menerobos dibawah otot milohiodeusdan menimbulkan pembengkakan submandibular, ranula jenisini disebut ranula Dissecting atau Plunging. Gambaran Klinis Bentuk dan rupa kista ini seperti perut kodok yang menggelembung keluar (Rana=Kodok) Dinding sangat tipis dan mengkilap Warna translucent Kebiru-biruan Palpasi ada fluktuasi Tumbuh lambat dan expansif

c)

Sialadenitis

Sialadenitis adalah infeksi bakteri dari glandula salivatorius, biasanya disebabkan oleh batu yang menghalangi atau hyposecretion kelenjar. Proses inflamasi yang melibatkan kelenjar ludah disebabkan oleh banyak faktor etiologi. Proses ini dapat bersifat akut dan dapat menyebabkan pembentukan abses terutama sebagai akibat infeksi bakteri. Keterlibatannya dapat bersifat unilateral atau bilateral seperti pada infeksi virus. Sedangkan Sialadenitis kronis nonspesifik merupakan akibat dari obstruksi duktus karena sialolithiasis atau radiasi eksternal atau mungkin spesifik,yang disebabkan dari berbagai agen menular dan gangguan imunologi.

Etiologi Sialadenitis biasanya terjadi setelah obstruksi hyposecretion atau saluran tetapi dapat berkembang tanpa penyebab yang jelas. Terdapat tiga kelenjar utama pada rongga mulut,diantaranya adalah kelenjar parotis, submandibular, dan sublingual. Sialadenitis paling sering terjadi pada kelenjar parotis dan biasanya terjadi pada pasien dengan umur 50-an sampai 60-an, pada pasien sakit kronis dengan xerostomia, pasien dengan sindrom Sjgren, dan pada mereka yang melakukan terapi radiasi pada rongga mulut. Remaja dan dewasa muda dengan anoreksia juga rentan terhadap gangguan ini. Organisme yang merupakan penyebab paling umum pada penyakit ini adalah Staphylococcus aureus; organisme lain meliputi Streptococcus, koli, dan berbagai bakteri anaerob.

Gejala Umum

meliputi gumpalan lembut yang nyeri di pipi atau di bawah dagu, terdapat pembuangan pus dari glandula ke bawah mulut dan dalam kasus yang parah, demam, menggigil dan malaise (bentuk umum rasa sakit).

d)

Sjorgen syndrome

Sjorgen syndrome merupakan suatupenyakit auto imun yang ditandai oleh produksi abnormal dari extra antibodi dalam darah yang diarahkan terhadap berbagai jaringan tubuh. Ini merupakan suatu penyakit autoimun peradangan pada kelenjar saliva yang dapat menyebabkan mulut kering dan bibir kering Gejala Gejala dari sjorgen syndrome antara lain; mulut kering, kesulitan menelan, kerusakan gigi, penyakit gingiva, mulut luka dan pembengkakan, dan infeksi pada kelenjar parotis bagian dalam pipi. Etiologi Penyebab sjorgen syndrome tidak diketahui, ada dukungan ilmiah yang menyatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit turunan atau adanya faktor genetik yang dapat memicu terjadinya sjorgen syndrome, karena penyakit ini kadang-kadang penyakit ditemukan pada anggota keluarga lainnya. Hal ini juga ditemukan lebih umum pada orang yang memiliki penyakit autoimun lainnya seperti lupus eritematous sistemik, autoimun penyakit tiroid, diabetes, dll. e) Sialorrhea

Sialorrhea adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan menetesnya air liur atau sekresi saliva yang berlebihan. Etiologi Penyebab dari sialorrhea dapat bevariasi berupa gejala dan gangguan neurologis, infeksi atau keracunan logam berat dan insektisida serta efek samping dari obat-obatan tertentu. f) Sialosis

Sialosis didefinisikan sebagai pembengkakan non-inflamasi dan non-neoplastik dari kelenjar saliva. Paling sering mengenai kelenjar parotis biasanya bilateral, tapi kadang-kadang juga mengenai kelenjar submandibularis dan sublingualis.

Etiologi

Penyebab pembengkakan belum diketahui dengan jelas, walaupun dihubungkan dengan sejumlah penyakit sistemik, terutama diabetes melitus, akromegali, alkoholisme, malnutrisi, bulimia nervosa dan anoreksia nervosa. Sialosis Juga digambarkan sebagai efek samping sejumlah obat-obatan.

g)

Sialometaplasia necrotic

Lesi pada kelenjar saliva yang bersifat nonneoplastik, peradangan yang dapat sembuh dengan sendirinya, terutama mengenai kelenjar saliva yang terdapat pada palatum. Lebih sering terjadi pada penderita laki-laki daripada perempuan.

Gejala klinis Hpa Necrosis lobuler pada kelenjar saliva, metaplasia squamosa pada asinus dan saluran-saluran,hyperplasia pseudoepitelomatosa dan jaringan granulasi yang nyata serta inflamasi. Etiologi Tidak diketahui secara pasti namun berhubungan dengan trauma dan terapi radiasi. Muncul secara spontan Terdapat lesi dan pembengkakan Ukuran maksimal 1-2 cm Lesi bilateral atau unilateral Burning sensation (sensasi terbakar)

h)

Sialolitiasis

Definisi Kira-kira 80-90% dari batu kelenjar saliva terjadi di kelenjar submandibular dan hanya 10-20% terdapat di kelenjar parotid, dan hanya persentase yang sangat kecil terdapat pada kelenjar sublingual dan kelenjar liur minor. Sialolitiasis adalah penyebab yang paling sering pada penyakit kelenjar liur dan dapat terjadi pada semua usia dengan predileksi tinggi pada laki-laki. Faktor resiko terjadinya obstruksi batu

kelenjar liur termasuk sakit yang lama disertai dehidrasi. Kadang disertai juga dengan gout, diabetes dan hipertensi. Patogenesis Saliva yang normal mengandung banyak hidroksiapatit, bahan utama pada batu kelenjar liur. Agregasi dari debris yang termineralisasi dalam duktus akan membentuk nidus, lalu menyebabkan pembentukan kalkuli, statis saliva dan kemudian obstruksi. Kelenjar submandibular lebih rentan terhadap pembentukan kalkuli dibandingkan kelenjar parotid karena duktusnya yang lebih panjang, kandungan musin dan alkali dalam saliva yang lebih tinggi dan konsentrasi kalsium dan fosfat yang tinggi. Kalkuli submandibular secara primer mengandung kalsium fosfat dan hidroksiapatit. Disebabkan kalkuli ini mengandung kandungan kalsium yang tinggi, hampir kesemuanya adalah radiopak dan dapat dilihat pada foto Rontgen. Kalkuli parotid adalah lebih jarang radiopak. Kira-kira 75%, satu batu berjaya ditemukan pada kelenjar tersebut. Jika obstruksi tidak ditangani, maka akan berlanjut terjadinya inflamasi lokal, fibrosis dan atrofi asinar. Gejala dan Tanda Pembengkakan berulang dan nyeri pada kelenjar submandibular dengan eksaserbasi apabila makan adalah gejala yang sering muncul pada batu kelenjar liur. Obstruksi yang lama dapat menyebabkan terjadinya infeksi akut dengan nyeri yang semakin berat dan eritema pada kelenjar tersebut. Pasien juga mengeluhkan adanya riwayat xerostomia dan kadang-kadang terasa ada benda asing seperti pasir di rongga mulut. Pemeriksaan fisik sangat penting karena batu sering dapat dipalpasi pada dua pertiga anterior kelenjar submandibular. Selain itu, indurasi pada dasar mulut biasanya dapat terlihat. Batu yang lokasinya di dalam badan kelenjar lebih sukar untuk di palpasi. Gambaran Radiologis Foto Rontgen dengan posisi lateral dan oklusal dapat menunjukkan batu radiopak tetapi posisi ini tidak selalu dapat diandalkan. Posisi intraoral mungkin lebih membantu. Sialografi adalah metode pencitraan yang paling akurat untuk mendeteksi kalkuli. Sialografi dapat dikombinasi dengan CT scan atau MRI, terutama CT scan sangat sensitive terhadap garam kalsium. Ultrasound ternyata tidak dapat membantu.

i)

Xerostomia

Banyak pasien mengeluh mulutnya kering Walaupun kelenjar saliva mereka berfungsi dengan normal. Xerostomia sejati dapat disebabkan oleh penyakit kelenjar saliva primer atau manifestasi sekunder dari suatu kelainan sistemik atau terapi obat. Penyakit kelenjar saliva primer meliputi sindrom Sjorgen, kerusakan pascaradiasi atau anomali pertumbuhan. Penyebab sistemik sekunder dari xerostomia meliputi kegelisahan kronis, dehiderasi atau terapi obat.

Gambaran Klinis Konfirmasi adanya penurunan dalam produksi saliva didasarkan atas pemeriksaan klinis dan pengukuran kecepatan aliran saliva.

BAB III KESIMPULAN

1. Kelainan kelenjar saliva adalah suatu keadaan abnormal dalam kelenjar saliva yang dapat merujuk pada kondisi yang menyebabkan pembengkakan atau nyeri. Kelainan kelenjar saliva ini dibagi menjadi dua, yaitu kelainan non neoplastik dan neoplastik. 2. Tumor non neoplastik adalah segala bentuk perubahan atau penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan sel sehingga tidak mencapai pertumbuhan dan perkembangan normal atau menimbulkan suatu pertumbuhan patologis pada fase tertentu dan kemudian berhenti. Seperti : mukokel, ranula, sialadenitis, sialolithiasis, sialosis, sialorrhea, xerostomia dll. 3. Neoplasia adalah pembentukan jaringan baru yang abnormal dan tidak dapat dikontrol oleh tubuh. Ada dua tipe neoplasia, yaitu neoplasia jinak (benign neoplasm) dan neoplasia ganas (malignant neoplasm). Seperti : adenoma pleomorfik, adenoma monomorfik, mukoepidermoid karsinoma, tumor sel granular, dll.

DAFTAR PUSTAKA

Benign diseases of the salivary glands, Section V, Salivary Glands, Fidelia Yuan-Shin Butt, Current Diagnosis and Treatment, Otolaryngology Head and Neck Surgery, 2nd Edition. Anil K.L, Lange Mc GrawHill. 2008. New York.

Pindborg, J.J.. 2009. Altas Penyakit Mukosa Mulut.Tangerang: Binarupa Aksara.

Syafriadi,Mei. 2008. Patologic Mulut Tumor Neoplastik dan NonNeoplastik Rongga Mulut. Yogyakarta: ANDI.

http://www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20503/3/Chapter%2011.pdf