Anda di halaman 1dari 6

Obesitas dan Penyakit Jantung Koroner

Diposkan oleh Darman Rasyid Baido di 20.18 Senin, 17 Januari 2011 Label: Artikel Ilmu Penyakit Dalam Oleh : Fadilah Supari Bag. Kardiologi FKUI Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta

Abstrak : Obesitas diartikan sebagai berat badan yang berlebihan . Hal ini sudah dikenal baik sebagai faktor risiko penyakit jantung koroner, dan kadang kadang merupakan bagian dari suatu kumpulan sindroma klinik yang disebut sebagai dysmetabolic syndrome. Obesitas akan mempengaruhi mortalitas dan morbiditas kardiovaskuler .

Prevalensi Obesitas dinegara maju semakin meningkat cepat,di Eropa obesitas didapatkan pada 10-20 % laki laki, dan 15-25% pada wanita., dimana jumlahnya pada tahun 1993 dua kali lipat dibandingkan dengan tahun 1980. trend seperti ini juga terjadi di negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia.

Walaupun belum merupakan suatu faktor resiko utama PJK di Indonesia , namun kalau melihat trend yang berkembang saat ini obesitas sangat perlu mendapat perhatian khusus terutama pada penduduk perkotaan. Akan diuraikan pada kajian ini tentang apa yang disebut obesitas,apa penyebabnya, bagaimana konsekwensi obesitas pada penyakit jantung koroner, dan bagaimana mengatasinya.

Apakah yang disebut Obesitas ? Menurut WHO maupun NIH 1998, disebut sebagai Obesitas bila BMI (IMT) lebih dari normal. Untuk tepatnya disebut sebagai Overweight bila BMI >25.0, sedangkan preobese bila BMI antara 25-29,9, Obese I bila BMI 30-34,9, Obese II BMI nya 35-39,9 dan Obese III bila BMI nya melebihi 40. Di Asia ukuran tersebut agak berbeda, dimana yang disebut Obese (di Asia) adalah bila BMI nya >25, dan overweight bila BMI nya >23. Untuk masyarakat di Indonesia pernah di tentukan bahwa Obesitas bila BMI>27. BMI didapatkan dari pembagian antara berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kwadrat.Namun cara menentukan Obesitas dengan berdasarkan BMI ternyata tidak terlalu mudah terutama pada keadaan antara lain udem,tua,dan hipertropi. Pengukuran dengan cara ini sangat

dipengaruhi oleh umur , gender maupun etnis. Kelemahan lain menentukan obesitas dengan cara mengukur BMI adalah bila kita menghadapi penderita dengan obesitas dimana lemak menumpuk di perut saja.( central Obesity, visceral obesity).

Maka ditentukanlah beberapa cara untuk mengatakan obesitas sebagai prediktor yaitu dengan cara : Mengukur lingkar perut, dimana wanita disebut obese bila lingkar perutnya > 88 cm, dan pada pria > 102 cm. Cara lain adalah dengan mengukur Waist and Hip Ratio yaitu mengukur lingkar pinggang dan panggul, bilamana > 1 kegemukan tersebut akan menimbulkan masalah kardiovaskuler. Ada juga beberapa cara lain yang lebih canggih tetapi harganya mahal misalnya dengan cara CT, ultrasound dan MRI .

Penyebab Obesitas : Penyebab obesitas sangat kompleks, dipengaruhi genetik maupun lingkungan, tetapi yang jelas adalah disebabkan oleh karena ketidak seimbangan asupan makanan ( kalori) dengan pengeluaran energi. Terdapat hal hal yang mendorong terjadinya obesitas yaitu predisposisi genetik, riwayat keluarga yang

mengalami obesitas, kebiasaan atau pola hidup yang kurang olah raga tetapi makan berlebihan , demikian juga faktor pisikososial , stress dsb.

Konsekwensi

Obesitas

terhadap

Penyakit

Kardiovaskuler

Ternyata Obesitas tidak saja mempengaruhi penampilan seseorang, akan tetapi juga mengakibatkan beberapa penyakit seperti perubahan kadar lipid plasma yang cenderung memperberat proses sehingga tidak sedikit yang

aterosklerosis, kelainan metabolik terutama pada keberadaan insulin

berkaitan dengan penyakit Diabetes, dikatakan juga kejadian stroke lebih tinggi pada penderita obesitas. Oleh karena berlebihnya berat badan, maka jantung akan bekerja dengan beban yang berlebih sehingga hal ini akan mempengaruhi terjadinya hipertropi ventrikel . Obesitas juga sangat erat hubungannya dengan kejadian hipertensi, bahkan salah satu pengobatan hipertensi adalah dengan mengurangi berat badan yang berlebih.Pada Framingham heart study tampak jelas sekali bahwa obesitas merupakan faktor risiko kuat untuk terjadinya penyakit jantung koroner. Hal ini di perkuat dengan hasil penelitian The Nurses Health study maupun penelitian yang dilakukan di Finlandia terhadap 16000 laki laki dan

wanita yang berumur 30-59 th . Dikatakan pada peneltian tersebut bahwa tiap kenaikan berat badan 1 unit BMI dari BMI 22 dapat meningkatkan 4-5 % mortalitas penyakit jantung koroner. Obesitas & Hipertensi : Hubungan antara hipertensi dan obesitas di laporkan pada penelitian Kannel dkk yaitu ditemukannya insidens hipertensi dua kali lipat pada populasi obesitas dibandingkan dengan yang non obesitas dalam umur 20-39 th . Penelitian ini juga melaporkan adanya peningkatan insiden hipertensi 50% pada usia 40-60 th.

Obesitas & Dislipidemia:

Pada BMI yang lebih dari 30 biasanya disertai dengan rendahnya kadar HDL-Cholesterol plasma serta meningkatnya kadar trigliserida Sedangkan Kolesterol total dan LDL belum tentu meningkat. Keadaan ini biasanya terjadi pada Insuline Resistance syndrome .

Obesitas & Congestive heart failure : Sudah diketahui pada keadaan obesitas maka tubuh memiliki timbunan lemak yang berlebihan . Hal ini akan membutuhkan aliran darah yang lebih banyak untuk kelangsungan metabolisme jaringan lemak . Diperkirakan 2-3 ml aliran darah diperlukan untuk tiap 1000 gram jaringan . Dapat dibayangkan bila penderita obesitas dengan BB 100 kg maka akan dibutuhkan 3 liter darah / menit untuk meningkatkan cardiac output agar dapat menyelenggarakan metabolisme lemak sebagaimana mestinya.Resting herat rate tidak meningkat maka jantung harus bekerja keras meningkatkan stroke volume, hasil akhirnya adalah menurunnya fungsi ventrikel yang didahului dengan hipertropi Ventrikel kiri lebih dahulu, meskipun penderita tidak hipertensi. Hal lain yang dapat memperburuk prognosis adalah terjadinya aritmia yang diduga oleh karena adanya timbunan lemak di konduksi listrik jantung.Aritmia yang terjadi dapat menimbulkan kematian jantung mendadak.Dari gambaran ini dapat disimpulkan bahwa obesitas meningkatkan kematian kardiovaskuler secara langsung maupun tak langsung.

Bagaimana mengatasi Obesitas ? Pembatasan kalori.

Prinsipnya adalah :pengaturan pola makan dimana asupan kalori di minimalkan dan pembakaran kalori ditingkatkan. Jumlah kalori masih merupakan konsep yang sampai saat ini diterima .Cara konvensional yang di anut sejak tahun 1993 adalah membatasi asupan kalori 1200 kcal/hari dikombinasi dengan olahraga akan dapat menurunkan BB 8,5 kg dalam 20 minggu. Satu tahun kemudian duapertiga penurunan BB ini masih akan terjaga akan tetapi biasanya akan kembali ke berat semula pada tahun ke lima bila penderita tidak dapat mempertahankan diet. Penaganan penderita obesitas sangat individual, pada orang dengan tinggi badan yang lebih akan lebih mudah turun BB nya dibandingkan dengan yang pendek. Pembatasan kalori sampai 800kcal/hari akan menurunkan BB lebih cepat yaitu dapat mencapai 20 kg dalam 12-16 minggu.

Pengaturan pembatasan kalori sangat bevariasi tergantung dari kesukaan si penderita dan keadaan kesehatan penderita. Pada penderita obesitas yang sibuk dapat mengkonsumsi substitusi makanan jadi yang dijual di supermarket untuk penurunan berat badan. Pada umumnya harganya memang tidak murah akan tetapi kepraktisannya dalam menjaga isi gizi dan kalorinya terjaga, misalnya seperti WRP dsb. Akan tetapi yang perlu diingat adalah konsistensi dalam menjalani pembatasan kalori adalah kunci utama untuk mendapatkan hasil yang diharapkan .

Penurunan asupan Lemak Pada kebanyakan penderita lebih menyukai mengurangi asupan lemak dan di substitusi dengan sayuran buah buahan dan karbohidrat kompleks. Yang paling mudah dingat adalah mengurangi secara nyata asupan margarine, daging berlemak jeroan maupun penggunaan minyak goreng. Hal ini sudah baku di negeri barat. Akan tetapi di indonesia belum tentu sesuai karena kebanyakan masyarakat Indonesia lebih banyak mengkonsumsi karbohidrat sederhana daripada lemak sehingga kalau di fokuskan hanya menurunkan asupan lemak tidak akan tepat hasilnya. Menurut beberapa konsensus yang ada terdapat lima hal yang harus di lakukan untuk menanggulangi obesitas :

(1) Motivasi , hal ini sangat penting, karena tanpa motivasi kuat tidak dapat di harapkan terjadinya perubahan pola makan yang merupakan sarat utama penaggulangan obesitas. (2) Diet, dengan rendah kalori ( separo dari kalori biasanya ) ditambah dengan syarat mengurangi manis manis, mngurangi asin asin dan mengurangi lemak. (3) Olah raga sesuai dengan yang diperlukan. (4) Farmakoterapi ( Orlistat, Chitosan) dan kalau perlu (5) Bedah gastroplasti

Obat obatan : Beberapa jenis obat anti obesitas kebanyakan bertujuan untuk menekan nafsu makan yang bekerja secara sistemis atau sentral . Akan tetapi ternyata obat obatan ini terlalu banyak efek samping. Sehingga perlu di pikirkan masak masak dalam memilih obat penurun nafsu makan ini.Pada perkembangannya ditemukan obat yang berefek lokal di perut yaitu Orlistat dan Chitosan .

Orlistat : Obat ini adalah Lipase inhibitor yang fungsinya menghambat penyerapan lemak oleh usus dan sangat efektif yaitu dapat mencapai 30 %. Pada penderita yang mempunyai kebiasaan makan lemak belebihan obat ini akan sangat bermanfaaat. Akan tetapi bila kegemukannya oleh karena kelebihan karbohidrat maka sebaiknya pengurangan asupan karbohidrat merupakan cara tepat disamping pengeluaran kalori lewat olah raga.

Chitosan : Pada tahun 1859 Prof Rouget menemukan asetilasi cangkang kepiting ternyata mengandung chitine , dan chitine ini merupakan polisakarida dengan gugus amino yang tidak larut dalam air akan tetapi larut

dalam asam lemak organik. Komponen ini tidak dapat di cerna oleh enzim manusia sehingga berperan seperti serat serat.

Fungsi Fisiologis Chitosan adalah : (1) Menurunkan kadar kolesterol plasma, hal ini mungkin karena chitosan menghalangi terserapnya lemak ke dalam tubuh sehingga bahan pokok pembuatan kolesterolpun juga menurun.

(2) menghambat absorbsi lemak , dengan cara yang sangat unik yaitu pada saat chitosan masuk ke saluran cerna akan membentuk semacam jelly , dan jelly ini mengurung butir lemak untuk terus dibawa keluar. Mekanisme Chitosan untuk menangkap butir lemak tersebut melalui dua cara yaitu dengan mekanisme magnetik dimana chitosan seperti magnet kedua adalah membentuk jaring pengguanaan chitosan selama 8-10 %, dan ternyata dapat menurunkan menarik butir lemak, dan cara yang

jaring. Dari beberapa penelitian, ternyata 4 minggu dapat menurunkan Berat badan sampai

tidak saja mempengaruhi Berat badan akan tetapi juga kadar Kolesterol ataupun trigliserida plasma.

Sebagai acuan , pengobatan farmakoterapi dianjurkan bila BMI >30 bila BMI>40 dengan komplikasi dapat dilakukan tindakan bedah .

Kesimpulan : 1. Obesitas merupakan suatu faktor risiko PJK . 2. Obesitas meningkatkan mortalitas dan morbiditas kardiovaskuler secara langsung maupun tidak langsung. 3. Pengurangan kalori dan meningkatkan olah raga merupakan cara alami yang murah meskipun tidak mudah untuk mempertahankan dalam jangka waktu lama. 4. Bila perubahan cara hidup gagal menurunkan Berat Badan , perlu obat-obatan yang aman dan efektif , sebaiknya dipilih pada usus karena efek samping nya lebih kecil sistemis. diberikan obat

obat yang bekerja lokal

dibandingkan dengan yang

Dasar rujukan

(1) WHO Expert Committee. Physical Status: the use and interpretation of anthropometry, Geneva. WHO Technical Report Series no. 854, 1995.

(2) Calle E,Thun M J, Petrelli J M. Body mass index and mortality in prospective cohort of US adults. The NEJM.1999,7,341,1097-1105

(3) Hans TS, van Leer EM, Seidell JC, et al. Waist circumference action identification of cardiovascular risk factors: prevalence sample. BMJ 1995;311:1401-1405

levels in

study in a random

(4) Blumenkrantz M, Obesity : the worlds Oldest Metabolic Disorder, http ://www.quantumhcp.com/obesity.htm

(5) American Obesity Asscosiation : a Guide to current and future therapies. http://www.obesity.org/treatment.

(6) Hubert H B, Feinleib M, McNamara PM, Castelli WP. Obesity as an

independent

risk factor for cardiovascular disease: a 26-year follow-up of participants in the Framingham heart study. Circulation 1983;67:968-977

(7) Willet WC, Manson JE, Stampfer MJ, et al. Weight, weight change, and coronary heart disease in women: Risk within the `normal' weight 1995;273:461-465 range. JAMA

(8) Flatt J. Importance of nutrient balance in body weight regulation. Diabetes 1988;4:571-581Nomor 12

(9) Kannel WB, Brand N, Skinner JJ, et al. Relationship of adiposity with blood pressure and development of hypertension: the Framingham study. Ann Intern Med 1978;67:48-59.