Anda di halaman 1dari 16

STRATEGI PENGOLAHAN AIR DI PROVINSI JAMBI

A. Kondisi Geografis Provinsi Jambi

Secara geografis Provinsi Jambi terletak pada 0045-2045 LS dan 101010-104055 BT di bagian tengah Pulau Sumatera, sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Riau, Sebelah Timur dengan Laut Cina Selatan Provinsi Kepulauan Riau, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat. Posisi Provinsi Jambi cukup strategis karena langsung berhadapan dengan kawasan pertumbuhan ekonomi yaitu IMSGT (Indonesia, Malaysia, Singapura Growth Triangle). Secara geografis, luas wilayah Provinsi Jambi tercatat seluas 53.435,72 km2 yang terdiri dari (Biro Pemerintahan dan OTDA, 2009) : 1) Kabupaten Kerinci 3.808,50 Km2 (7,13%), 2) Kabupaten Bungo 6.461,00 Km2 (12,09%), 3) Kabupaten Tebo 6.802,59 Km2 (12,73%), 4) Kabupaten Merangin 7.451,30 Km2 (13,94%), 5) Kabupaten Sarolangun 6.175,43 Km2 ( 11,56%), 6) Kabupaten Batanghari 5.804,83 Km2 ( 10,86%),

7) Kabupaten Muaro Jambi 5.246,00 Km2 ( 9,82%), 8) Kabupaten Tanjab Barat 5.645,25 Km2 (10,56%), 9) Kabupaten Tanjab Timur 5.444,98 Km2 ( 10,19%), 10) Kota Jambi 205,38 Km2 (0,38%). 11) Kota Sungai Penuh 391,5 Km2 ( 0,73%). Secara topografis, Provinsi Jambi terdiri atas 3 (tiga) kelompok variasi ketinggian yaitu (Bappeda, 2005): 1) Daerah dataran rendah 0-100 m (69,1%), berada di wilayah timur sampai tengah. Daerah dataran rendah ini terdapat di Kota Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebagian Kabupaten Batanghari, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin; 2) Daerah dataran dengan ketinggian sedang 100-500 m (16,4%), pada wilayah tengah. Daerah dengan ketinggian sedang ini terdapat di Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin serta sebagian Kabupaten Batanghari; dan 3) Daerah dataran tinggi >500 m (14,5%), pada wilayah barat. Daerah pegunungan ini terdapat di Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh serta sebagian Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin. Sumber-sumber air di Provinsi Jambi pada umumnya terdiri dari air permukaan dan air tanah. Air permukaan berasal dari sungai-sungai dan danau-danau yang berada dalam sistem Satuan Wilayah Sungai Batanghari, yang luasnya hampir mencakup sebagian besar Provinsi Jambi. Batang Hari (atau Sungai Hari) adalah sungai terpanjang di pulau Sumatera sekitar 800 km. Mata airnya berasal dari Gunung Rasan (2585 m), dan yang menjadi hulu dari Batang Hari ini adalah sampai kepada Danau Diatas, yang sekarang masuk kepada wilayah Kabupaten Solok, provinsi Sumatera Barat, dan mengalir ke selatan sampai ke daerah Sungai Pagu, sebelum berbelok ke arah timur. Aliran dari sungai ini melalui beberapa daerah yang ada di provinsi Sumatera Barat dan provinsi Jambi, seperti Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Batang Hari, Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebelum lepas ke perairan timur sumatera dekat Muara Sabak. Pada Batang Hari ini ada banyak sungai lain yang bermuara padanya diantaranya Batang Sangir, Batang Merangin, Batang Tebo, Batang Tembesi, dan lain sebagainya. Sistem aliran sungai ini membawa banyak deposit emas, sehingga muncul nama legendaris Swarnadwipa ("pulau emas") yang diberikan dalam bahasa Sanskerta bagi Pulau Sumatera. Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari merupakan DAS terbesar kedua di Indonesia, mencakup luas areal tangkapan (catchment area) 4.9 juta Ha. Sekitar 76 % DAS Batang Hari berada pada provinsi Jambi, sisanya berada pada provinsi Sumatera Barat. Sementara itu DAS Batanghari dibagi menjadi beberapa Sub DAS yaitu: Sub DAS Batang Tembesi, Sub DAS Jujuhan, Sub DAS Batang Tebo, Sub DAS Batang Tabir, Sub DAS Tungkal dan Mendahara, Sub DAS Air Hitam, Sub DAS Airdikit, Sub DAS Banyulincir, dan Sub DAS Lainnya. Sub DAS di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur yaitu Sub DAS

Tungkal dan Mendahara dimana dilihat dari pola aliran sungainya berbentuk radial dan debit air mencapai 247,6128 m3/detik. Selain sungai Batanghari, sungai-sungai yang ada di provinsi Jambi antara lain : Sungai Batang Asam, Sungai Bulian, Sungai Danaubangko, Sungai Kahidupankaor, Sungai Kumpe, Sungai Pengabuan, Sungai Batang Tembesi, Sungai Serengam, Sungai Singkatigedang, dan Sungai Singoan. Danau-danau yang ada di Provinsi Jambi adalah Danau Dipacampat, Danau Sipin, dan Danau Kerinci. Berikut status mutu air pada sungai Batanghari berdasarkan hasil pengamatan oleh Pusat Studi Balai Lingkungan Keairan :

Keterangan: MB- memenuhi baku mutu air yang ditetapkan, CR-tercemar ringan, CS-tercemar sedang, CB-tercemar berat Sumber: SLHI-2004, KLH B. Industri yang Ada di Provinsi Jambi Industri-industri yang ada di provinsi Jambi, antara lain : 1. PT. ConocoPhillips (Kabupaten Batang Hari) ConocoPhillips adalah perusahaan energi yang integral dalam skala internasional. ConocoPhillips adalah perusahaan energi terintegrasi ketiga terbesar di Amerika Serikat berdasarkan kapitalisasi pasar dan cadangan terbukti minyak dan gas. Conocophillips merupakan pengilang terbesar kedua di Amerika Serikat. Secara internasional, dalam kategori perusahaan yang tidak dikendalikan pemerintah, ConocoPhillips mempunyai cadangan terbukti terbesar kelima di dunia; dan berdasarkan kapasitas minyak mentah adalah pengilang terbesar keempat di dunia. ConocoPhillips terkenal diseluruh dunia dengan keahlian teknologi dibidang eksplorasi dan produksi dilaut dalam, eksploitasi dan manajemen reservoir, teknologi seismik 3-D, petroleum coke upgrading kelas tinggi dan sulfur removal. Bermarkas di Houston, Texas, ConocoPhillips beroperasi pada lebih dari 40 negara. Perusahaan ini mempunyai sekitar 38.300 karyawan di seluruh dunia dan aset bernilai USD 164 miliar. ConocoPhillips terdaftar di Bursa Saham New York (New York Stock Exchange) dengan simbol "COP".

Perusahaan ini mempunyai 4 aktivitas utama di seluruh dunia: Eksplorasi dan produksi minyak bumi Pengilangan, pemasaran, suplai dan transportasi minyak bumi Pengumpulan, pengolahan dan pemasaran gas alam, termasuk 50% saham di Duke Energy Field Services, LLC. Produksi dan distribusi bahan kimia dan plastik melalui 50% saham di Chevron Phillips Chemical Company LLC. Ditambah dengan investasi pada beberapa bisnis yang menjanjikan - teknologi bahan bakar, gas ke liquid, pembangkit listrik dan teknologi baru - yang menyediakan perkembangan kesempatan dimasa sekarang dan potensi perkembangan dimasa depan. 2. PT. Pertamina (Persero) Unit Bisnis EP Jambi (Kabupaten Batang Hari dan Kabupaten Muaro Jambi) Sebagai tindak lanjut dari UU Migas No. 22 tahun 2001, pada tanggal 13 September 2005 dibentuk PT Pertamina EP yang merupakan anak perusahaan PT PERTAMINA (PERSERO) yang bergerak di sektor hulu minyak dan gas untuk mengelola Wilayah Kuasa Pertambangan (WKP) PERTAMINA kecuali untuk Blok Cepu dan Blok Randu Gunting. Kegiatan eksplorasi ditujukan untuk mendapatkan penemuan cadangan migas baru sebagai pengganti hidrokarbon yang telah diproduksikan. Upaya ini dilakukan untuk menjaga agar kesinambungan produksi migas dapat terus dipertahankan. Pengusahaan minyak dan gas melalui operasi sendiri dilakukan di 7 (tujuh) Daerah Operasi Hulu (DOH). Ketujuh daerah operasi tersebut adalah DOH Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Sumatra Bagian Utara yang berpusat di Rantau, DOH Sumatra Bagian Tengah berpusat di Jambi, DOH Sumatra Bagian Selatan berpusat di Prabumulih, DOH Jawa Bagian Barat berpusat di Cirebon, DOH Jawa Bagian Timur berpusat di Cepu, DOH Kalimantan berpusat di Balikpapan, dan DOH Papua berpusat di Sorong. 3. PT. TAC Pertamina - Binawahana Petrindo Meruap (Kabupaten Sarolangun) Dirjen Migas dalam Buku Data, Information Oil & Gas 2001 memberi definisi tentang TAC, yaitu suatu kerjasama antara Pertamina dan Perusahaaan Swasta dalam rangka merehabilitasi sumur-sumur atau lapangan minyak yang ditinggalkan dalam Wilayah Kuasa Pertambangan ( WKP ) Pertamina. Dalam buku tersebut dijelaskan prinsip-prinsip TAC (Technical Assistance Contract) adalah sebagai berikut : a) Lahan yang dikelola merupakan bagian WKP Pertamina. b) Manajemen operasi dilakukan oleh Pertamina. c) Biaya operasi ditanggung oleh kontraktor. d) Pengembalian biaya operasi dibatasi sebesar 35 % 40 % pertahun. e) Pembagian hasil ( sesudah pajak ) antara Pemerintah dan Pertamina Kontraktor besarnya 65 % : 35 % .

f) Kontraktor wajib memenuhi sebagian kebutuhan migas dalam negeri ( Domestic Market Obligation / DMO ) sejumlah harga ekspor untuk 5 thn pertama produksi lapangan baru dan US$ 0,20/barrel untuk lapangan lama. Dalam pedoman dan syarat-syarat penawaran lahan kerjasama eksplorasi dan produksi migas tahun 1994, disebutkan TAC adalah suatu bentuk kerjasama pengusahaan minyak pada lahan/lapangan yang pernah atau sedang berproduksi atau telah terbukti memiliki cadangan minyak atau gas bumi namun belum pernah diproduksikan yang terletak di dalam WKP Pertamina. Minyak yang diproduksikan terdiri dari non-shareable dan shareable oil. Apabila terdapat cadangan gas dan produksi gas, maka seluruhnya menjadi milik Pertamina. Perjanjian ini mencakup Cost Recovery Ceiling.Pertamina memegang manajemen seluruh kegiatan dan Perusahaan yang menjadi Kontraktor Pertamina bertindak sebagai operator. Kontraktor bertanggung jawab dalam penyediaan dana, tenaga ahli dan teknologi. Dari rambu-rambu dan koridor regulasi sebagaimana tersaji dalam kedua sumber tentang TAC di atas, terlihat bahwa secara eksplisit WKP migas TAC adalah WKP milik Pertamina .Dalam perspektif tersebut sejatinya jika dalam kasus kontrak TAC Central East Java Block (dikenal Kontrak ExxonMobil Blok Cepu) bila habis masa kontrak (2010) dikembalikan kepada pemiliknya, yakni Pertamina. Disinilah relevansi benang merah pernyataan Menteri ESDM/Ketua Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP) Purnomo Yusgiantoro dan Sekretaris DKPP Meizar Rahman kepada insan Pers (Kamis, 22 Agustus 2005 yang lalu) berkaitan dengan keinginan ExxonMobil untuk memperpanjang kontrak Blok Cepu : Kontrak itu kan business to business, kita serahkan sepenuhnya kepada Pertamina. Jadi ibarat orang mengontrak rumah, jika selesai kontrak, maka rumah yang dikontrak kembali pada pemilik. Terlebih lagi sang pemilik ingin menempati dan merawatnya sendiri. Sang penyewa harus ikhlas dan berlapang dada. Bukan justru melakukan manuver lewat agenda-agenda non bisnis. Contoh: Apabila rumah kontrakan sudah habis masa kontraknya ya harus dikembalikan kepada pemiliknya.

C. Peran Pemerintah Daerah dalam Pengelolaan Air Limbah di Provinsi Jambi

D. Peran Teknologi Pengolahan Air di Provinsi Jambi Air Bersih berdasarkan ketetapan Deperindag berasal dari PDAM setempat atau dari tanah yang diusahakan tetapi untuk penggunaan air tanah dan permukaan dikhawatirkan karena dengan keberadaan sarana industri, pemukiman dan perdagangan berdampak pada konsekuensi sungai atau sumber-sumber air permukaan lainnya sebagai sarana pembuangan sampah dan sarana pembuangan limbah. Kualitas air sungai menjadi kotor sebagai dampak keberadaan limbah industri dan limbah pemukiman yang akan mengganggu mutu air yang ditampung pada danau di wilayah JAIP (Jambi Agro Industrial Park). Sumber air yang telah terkontaminasi oleh limbah industri dan sampah memerlukan pengolahan untuk perbaikan kualitas sebelum didistribusikan ke pemakai. Pencemaran yang umumnya ada pada air permukaan dalam hal ini danau antara lain CO2 Agresif, warna yang berasal dari zat organic (mikroalgae) dan zat organik, bau, rasa (besi), nitrit, nitrat dan ammonium (dari sampah domestik). Oleh Karena itu diperlukan IPAM (Instalasi Pengolah Air Minum) Bagi Kawasan JAIP ini. Adapun sistem pengolahan yang akan dilakukan untuk menurunkan kadar pencemar yang ada pada air permukaan (danau) tersebut adalah pengolahan lengkap yaitu terdiri dari bangunan penangkap air (intake), aerasi, koagulasi flokulasi, sedimentasi, filtrasi, desinfeksi atau secara keseluruhan merupakan proses yang terjadi pada IPAM.

Fungsi-fungsi unit pengolahan tersebut adalah : 1. Intake berfungsi untuk menampung air baku sementara sebelum dialirkan melaui pipa transmisi, bangunan ini dilengkapi dengan pompa dan saringan kasar berbentuk batang ataupun saringan mekanis yang menggunakan tenaga motor. Saringan kasar ini berfungsi untuk memissahkan benda kasar terapung atau terbawa aliran agar tidak mengganggu proses selanjutnya.

2. Unit Aerasi berfungsi untuk mengontakkan air dengan udara dengan tujuan menambah atau membuang gas kurang atau sangat jenih dalam kandungan air. 3. Unit Koagulasi berfungsi untuk mencampur secara cepat antara partikel koloidal tersuspensi & partikel terlarut lainnya sehingga tercipta larutan homogen. Bila koagulan yang dibubuhkan tercampur secara merata, maka reaksi yang terjadi akan lebih cepat. Segera setelah flok-flok terbentuk, pengadukan selanjutnya di lakukan secara perlahan sehingga flok dapat bertumbukan & bergabung membentuk masa yang lebih besar. Koagulasi sendiri berfungsi untuk destabilisasi partikel-partikel koloid sehingga partikel koloid dapat diikat oleh zat kimia yang direncanakan seperti sulfat (Al2(SO4)2), ferri klorida (FeCl3), ferri sulfat (Fe2(SO4)2) dan koagulan acid untuk membentuk inti flok. 4. Unit Flokulasi yaitu unit pengolahan yang diterapkan berpasangan setelah unit koagulator, baik diterapkan secara terpisah ataupun dalam satu bagian. Fungsi dari flokulator ini adalah membentuk gumpalan-gumpalan flok. 5. Sedimentasi berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel flokulen yang tidak sempat terendapkan pada pengolahan sebelumnya. Unit pengolahan ini yang berfungsi untuk penyempurnaan kadar-kadar kontaminasi seperti bakteri, warna, bau, Fe & Mn sehingga diperoleh air bersih yang memenuhi ketetapan kualitas air bersih. 6. Filtrasi berfungsi memisahkan air dengan kotoran yang tersuspensi, koloidal dan bakteri yang dikandungnya serta perubahan karakteristik kimia air. Bahan yang digunakan bahan yang berpori yaitu pasir karena mudah di dapat, harga relative murah, tidak melapuk/terurai. Media penyangga yang digunakan adalah kerikil. Sistem filtrasi yang digunakan adalah saringan pasir cepat (rapid sand filter). 7. Bak desinfeksi berfungsi sebagai bak proses pembubuhan desinfektan untuk membunuh kuman penyakit sehingga air aman untuk dikonsumsi, diperlukan waktu kontak minimum 30 menit bila Ca(OCl)2 yang digunakan sebagai desinfektan & lebih singkat bila ozon (O3) yang dipakai. 8. Reservoir adalah tangki yang digunakan mensuplai kebutuhan air perkotaan, menanggulangi kebutuhan air pada saat pemakaian puncak & menampung kelebihan air pada saat pemakaian minimum. Reservoir yang digunakan pada wilayah Kawasan JAIP adalah dua buah, reservoir bawah tanah & reservoir menara dengan ketinggian minimal 10 m. Reservoir bawah tanah berfungsi untuk pendistribusian air untuk keperluan sehari-hari. Adapun reservoir menara berfungsi sebagai cadangan apabila terjadi gangguan atau pemadaman aliran listrik yang berarti mengganggu pompa. Kehadiran industri-industri pada Kawasan JAIP baik industri padat modal dan padat teknologi, industri menengah dan industri kecil akan melahirkan dampak pada lingkungan, salah satu diantaranya adalah adanya air limbah sehingga perlu mendapat penanganan agar tercipta lingkungan yang bersih dan sehat sesuai dengan peraturan pemerintah mengenai kawasan industri yang berlaku. Proses-proses produksi dari suatu industri akan menghasilkan air limbah yang memiliki potensi untuk mencemari lingkungan jika air limbah industri di

buang langsung ke badan air penerima tanpa melalui pengolahan. Karakteristik air limbah sangat tergantung pada proses produksi industri dan bahan baku yang digunakan. Menurut Metcalf & Eddy (1991) karakteristik air limbah industri dikelompokkan berdasarkan sifat fisika, kimia & biologis yang meliputi : a. Karakteristik fisika : Bau, temperature, warna, kekeruhan dan kandungan zat padat. Zat padat ini terdiri dari materi yang dapat di flotasi, materi yang dapat diendapkan & materi koloid dan materi terlarut. b. Karakteristik kimia Zat organic, terdiri dari karbohidrat, minyak, lemak, protein, zat organic yang dapat menimbulkan kanker & mutasi, surfactant, senyawa organic volatile, dll. Zat anorganik, terdiri dari logam berat (seperti timbale), nitrogen, phosphate, pH, sulfur, senyawa anorganik beracun (arsenic) c. Karakteristik Biologis, yang merupakan Mikroorganisme yang terdapat dalam air limbah industri. Kondisi Fisik Kawasan JAIP yang menopang pembangunan pengelolaan air limbah adalah : a. Dari segi luas lahan di Kawasan JAIP memungkinkan di bangunnya instalasi pengolahan air limbah dengan teknologi yang tepat & efisien. b. Akses jalan kereta api, Laut sungai dan Udara menopang pengiriman bahan baku untuk industri-industri yang akan ada & bahan baku untuk instalasi pengolahan air limbah. c. Topografi lahan relatif datar dengan kemiringan tidak lebih dari 5% memudahkan dalam pembangunan instalasi pengolahan air limbah & system perpipaannya. Di dalam lingkup pengembangan Kawasan JAIP di wilayah Kecamatan Muara Sabak Barat, membuka peluang bagi berbagai industri yang mengacu pada Kep. Menteri Perindustrian & perdagangan Republik Indonesia No. 589/MPP/Kep/10/1999 tanggal 13 Oktober 1999 akan di tetapkan bahwa jenis-jenis industri dibangun adalah mixed industri yaitu berbagai jenis industri yang memiliki prospek ke masa depan dalam kompetisi produk pasar global. Asumsi kelompok industri yang akan ada di Kawasan JAIP adalah sesuai namanya Agro Industri maka akan berkembang industri makanan, minuman dan hasil olahan pertanian. Mengingat sifat limbah industri yang kompleks & memberi dampak terhadap lingkungan maka penanganan air limbah industri harus disesuaikan dengan sifat limbah industri tersebut. Tujuan pengolahan limbah industri di Kawasan JAIP adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat sekitar Kawasan JAIP dan kebersihan lingkungan dengan menghilangkan unsur pencemar dari limbah untuk mendapatkan effluent dari pengolahan yang sesuai dengan standar kualitas badan air penerima dan peruntukkannya seperti tercantum pada Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Pengolahan Air limbah harus mengacu pada perundangan-undangan yang berlaku diantaranya :

a. Undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup b. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan c. Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air d. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Kep03/MENKLH/1/1991 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan yang sudah Beroperasi e. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Kep51/MENKLH/10/1995 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Kegiatan Industri Dalam perencanaan instalasi pengolahan air limbah di Kawasan JAIP, air limbah dari industri-industri yang ada perlu diketahui terlebih dahulu karakteristik air limbahnya baik kualitas maupun kuantitasnya untuk menentukan jenis pengolahan yang tepat bagi setiap industri baik secara individual maupun collective. Pelaksanaan penanganan air limbah industri secara kolektif dilakukan jika air limbah industri yang ada mempunyai karakteristik sejenis, sedangkan jika karakteristik air limbah industri yang ada di wilayah Kawasan JAIP mempunyai karakteristik yang berbeda-beda maka penanganan air limbah industri dilakukan secara individual. Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Industri di Kawasan JAIP direncanakan untuk mengolah air limbah industri yang mempunyai karakteristik sejenis secara kolektif.

Perbandingan kemudahan pembangunan, operasional, dan pemeliharaan antara unit pengolahan biologis yang ada pada instalasi pengolahan air limbah adalah : a. Lumpur aktif Pengolahan biologis ini cocok untuk limbah dengan konsentrasi organic tinggi, misalnya limbah industri. Jumlah mikroorganisme dijaga agar tetap konstan, dan air limbah yang datang teraduk sempurna di seluruh reactor, sehingga air limbah dan mikroorganisme akan tercampur. Bioflok dan effluent dipisahkan pada bak clarifier. Bioflok diresirkulasi ke dalam reactor untuk memperbaiki kinerja pengolahan. Pengadaan mikroorganisme yang dijual di pasaran dan terbukti efektif untuk mengolah air buangan industri. Selain itu dari segi operasional dan pemeliharaan relative mudah dan sederhana. b. Kontak Stabilisasi Pengolahan biologis ini merupakan proses biosorpsi (adsorpsi dan absorpsi) yang mempunyai dua reaktor tangki aerasi sebagai tangki kontak dan tangki stabilisasi. Pada tangki kontak terjadi proses adsorpsi polutan oleh mikroorganisme (karena adanya kontak antara air limbah dan mikroorganisme) dengan waktu kontak 0.52 jam. Waktu kontak ini tergantung pada konsentrasi solid dan tingkat penyisihan BOD yang diinginkan. Pembentukan bioflok karena proses biooksidasi bahan-bahan yang telah terserap pada tangki kontak. Bioflok kemudian diaerasi di tangki stabilisasi. Efluen yang keluar akan dipisahkan antara bioflok dan cairannya pada clarifier. Bioflok dapat diresirkulasi ke dalam tangki kontak kembali dengan rasio resirkulasi 0.5 1.5.

c. Trickling Filter Pengolahan biologis ini merupakan pengolahan biologis dengan menggunakan media terlekat, misalnya batu, yang menjadi tempat mikroorganisme untuk hidup dan menjadi bioflok. Air limbah yang diolah dialirkan melalui media batu ini dan berkontak dengan bioflok yang melekat pada media batu. Air yang keluar merupakan efluen yang tidak atau sedikit bercampur dengan bioflok, sehingga mengurangi biaya untuk pembangunan clarifier. Dalam operasional dan pemeliharaan agak sulit karena harus menangani kemungkinan terjadinya clogging pada media batu. Dari studi perbandingan di atas, maka dipilih unit lumpur aktif sebagai unit pengolahan biologis karena kemudahan dalam pembangunan, operasional dan pemeliharaan, dengan efisiensi penyisihan parameter pencemar cukup tinggi.

Pengumpulan air limbah dari setiap industri dilakukan melalui pemipaan menuju IPAL terpadu. Bahan pipa yang digunakan adalah beton dengan diameter pipa 800 mm. Instalasi pengolahan limbah cair industri di wilayah Kawasan JAIP dilengkapi dengan bangunan pengoperasian yang terdiri dari kamar pengoperasian dengan sebuah panel peragaan pengatur proses utama, sebuah kantor, laboratorium, fasilitas-fasilitas kesehatan dan kamar untuk staf yang bertugas serta bangunan bahan kimia yang fasilitas-fasilitas untuk pembuatan dan pemberian bahan kimia dan juga penyimpanan dalam jumlah besar. Sebagai tambahan terdapat suatu bengkel, gudang umum dan generator pembantu untuk fungsi-fungsi penting dari instalasi pengolahan selama waktu pemutusan aliran listrik. Fungsi dari unit pengolahan IPAL terpadu adalah: a. Pengolahan tingkat pertama bertujuan untuk menyisihkan bahan-bahan yang dapat mengganggu proses maupun perawatan peralatan pada tahap pengolahan selanjutnya Grit Chamber untuk menyingkirkan kricak anorganik/partikel-partikel kasar yang cukup berat untuk mengendap secara gravitasi, sehingga tidak mengganggu proses pengolahan selanjutnya. Tangki Buffer (Buffer Tank) berfungsi untuk meratakan konsentrasi sehingga mengurangi beban organic dan mencegah terjadinya shock loading pada pengolahan selanjutnya. Unit koagulasi-flokulasi berfungsi untuk menggumpalkan zat padat tersuspensi sehingga tidak mengganggu proses pengolahan selanjutnya

Unit pengendapan pertama berfungsi untuk mengendapkan suspended solid yang terbawa aliran. b. Pengolahan tingkat kedua adalah pengolahan secara biologis dan kimiawi untuk mengurangi bahan polutan utama dan mengurangi beban pada tahap pengolahan selanjutnya. Unit lumpur aktif berfungsi menguraikan zat-zat organik yang terkandung dalam air buangan secara aerob dengan suplai oksigen ke dalam air. Unit pengendapan kedua (clarifier) berfungsi mengendapkan zat-zat padat yang terbentuk pada pengolahan tingkat kedua c. Pengolahan tingkat ketiga bertujuan agar effluent air limbah mempunyai kriteria yang sesuai dengan Baku Mutu Badan Air Penerima. Unit desinfeksi dengan klorinasi berfungsi untuk menurunkan konsentrasi bakteri pathogen yang ada pada air limbah Rangkaian unit pengolahan Lumpur dimulai dari unit anaerobic digester yang berfungsi menstabilkan kondisi Lumpur dari IPAL, dilanjutkan dengan pengeringan lumpur di unit sludge dewatering. Lumpur yang telah diolah dapat diaplikasikan sebagai pupuk organic dan dijual di pasaran atau di pertanian dan perkebunan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut :

E. Strategi Pengelolaan Air di Provinsi Jambi Masalah limbah B3 sebagai akibat perkembangan industri yang merupakan salah satu cara peningkatan perekonomian adalah masalah yang serius yang harus diperhatikan oleh masyarakat dan pemerintah karena penanganan limbah yang kurang tepat merupakan penyebab utama timbulnya masalah terhadap kesehatan dan lingkungan yaitu kontaminasi sumber-sumber air, terganggunya kesehatan masyarakat serta penurunan kualitas lingkungan. Limbah dikatakan berbahaya apabila : 1. Menyebabkan atau secara signifikan memberikan kontribusi pada peningkatan mortalitas (kematian) atau peningkatan suatu penyakit yang serius. 2. Menimbulkan bahaya kesehatan potensial pada kesehatan manusia atau lingkungan bila tidak diolah, disimpan, diangkut, disingkirkan atau pengolahan lainnya secara tepat. Di Indonesia limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) merupakan satu-satunya jenis limbah yang diatur secara khusus. Konsekuensinya, apabila limbah dikatagorikan sebagai limbah B3, maka limbah tersebut harus dikelola secara khusus. Peraturan Pemerintah No. 85/1999 jo Peraturan Pemerintah No. 18/1999 mendefinisikan limbah B3 sebagai limbah yang memiliki salah satu karakteristik dari beberapa karakteristik yang ada yaitu uji LD50 50 mg/kg BB, mudah meledak, mudah terbakar, reaktif, beracun, infeksius, korosif. Keaneka ragaman jenis limbah tergantung pada aktivitas industri serta penghasil limbah lainnya antara lain : Penggunaan bahan baku Pemilihan proses produksi Pemilihan jenis mesin, dsb. Aktivitas industri tersebut akan mempengaruhi karakter limbah yag tidak terlepas dari proses industri itu sendiri. LImbah B3 yang dihasilkan oleh industri akan diidentifikasi berdasarkan prosedur baku identifikasi limbah B3 yang berlaku di Indonesia. Limbah B3 perlu mendapat penanganan melalui teknologi yang memenuhi persyaratan-persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam peraturan yang berlaku dalam penanganan limbah B3. Adapun pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001. Secara umum sebagian besar limbah yang berkatagori B3 merupakan bahan kimia baik organic maupun anorganik. Semakin berkembangnya pemakaian bahan kimia dalam proses industri juga memperbesar kemungkinan keberadaan limbah B3 sebagai bagian dari limbah industri. Konsep pertumbuhan Kawasan JAIP yang memperhatikan eksternalitas lingkungan untuk memenuhi pengkondisian lingkungan yang bersih dan sehat serta perencanaan wilayah Kawasan JAIP menjadi kawasan industri, memerlukan perencanaan sistem pengelolaan limbah B3 yang optimal. Pengelolaan Limbah B3 di Indonesia dalam Peraturan Pemerintah No. 85 tahun 1999 jo Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1999. Definisi dari pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan dan penimbunan limbah B3. Terdapat dua hal penting yang perlu diberi perhatian khusus yaitu identifikasi limbah B3 dan adaptasi konsep Cradle to Grave.

a. Prosedur Identifikasi Limbah B3 Prosedur Identifikasi limbah B3 harus dilakukan pada industri-industri yang menghasilkan limbah B3. Prosedur Identifikasi Limbah B3 yang dilakukan oleh Badan Otorita Kawasan JAIP mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 85 tahun 1999 jo Peraturan Pemerintah No. 18 tahun1999. Setelah dilakukan proses identifikasi proses identifikasi limbah B3, limbah industri akan melalui tahapan selanjutnya yaitu pengelolaan limbah B3 sesuai dengan peraturan yang berlaku. b. Adaptasi Konsep Cradle to Grave di Indonesia Dalam pengelolaan limbah B3 dikenal konsep Cradel to Grave, yaitu pemantauan secara sistematis perjalanan limbah dari mulai dihasilkan (generated) sampai ditimbun (disposal). Pemantauan secara sistematis tersebut dilakukan dengan mendata secara lengkap dari waktu ke waktu jenis, jumlah, kualitas, transformasi, dan pembuangan limbah B3 (dalam bentuk form). Konsep ini diadaptasi dan diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 85 tahun 1999 jo Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1999 dan diterapkan pada setiap aspek kegiatan pengelolaan limbah B3. Dokumen limbah B3 diserahkan ketika terjadi penyerahan limbah B3 antara setiap pihak yang terkait (baik pengangkut, pemanfaat, pengolah dan lainnya). Dokumen limbah B3 juga diserahkan pihak pengelola limbah B3 ke instansi terkait, Bupati/Walikota setempat setiap 6 (enam) bulan.

Sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/ConocoPhillips http://id.wikipedia.org/wiki/Pertamina#PT_Pertamina_EP http://www.jambiprov.go.id