Anda di halaman 1dari 3

Ketakmungkinan Relasi Antagonistik Dalam Politik: Kritik Terhadap Pemikiran Carl Schmitt Thesis Statemen Tidak ada asosiasi

tanpa konsensus, dan tidak ada konsensus yang mampu merangkul semua relasi antagonistik. Latar Belakang Demokrasi idealnya adalah system politik yang memelihara keseimbangan konflik antara pemegang otoritas dengan yang menerima perintah, diantara individu, diantara kelompok, individu dengan pemerintah, kelompok dengan pemeritah, bahkan diantara lembaga pemerintah itu sendiri. Demokrasi adalah system pemerintahan bersama yang menekankan keterbukaan, kebebasan dan kesetaraan individu di dalam Negara. Oleh karena itu, konflik kepentingan menjadi hal yang niscaya terjadi, dan inti dari demokrasi itu adalah agregasi kepentingan semua pihak. Konsensus yang digagas dalam berbagai kemajemukan ide akan mengahsilkan konflik dan kegaduhan politik yang berujuang pada chaos. Demokrasi hadir sebagai penengah konflik dan meletakkan dasar yang adil dalam pengambilan keputusan diantara berjuta kepentingan yang ada, sehingga berbagai macam ide itu dapat ditampung dan diselesaikan melalui jalan diskusi. Bukan melalui kekerasan dan dominasi yang dapat mengarah pada absolutnya suatu ide, sehingga menghilangkan kesetaraan. Dengan demikian, demokrasi harus menyediakan mekanisme dan prosedur yang tepat untuk mengatur dan menyalurkan konflik pada penyelesaian dalam bentuk kesepakatan. Prosedur ini kemudian menjadi prinsip yang mendasari identitas bersama dalam hubungan kekuasaan, legitimasi kewenangan serta hubungan politik dan ekonomi. Dalam pemerintahan demokrasi, kedaulatan adalah berada ditangan rakyat. Itu berarti bahwa semua kebijakan dan keputusan yang diambil oleh pemerintah harus melalui musyawarah dulu dengan rakyat, dalam hal ini telah diwakilioleh wakil rakyat di parlemen. Pengambilan keputusan melalui musyawarah di parlemen dimaksudkan agar kebijakan dan keputusan yang diambil tidak dipahami semata-mata sebagai perintah dari pemegang otoritas, melainkan telah mendapat persetujuan dari rakyat itu sendiri melalui wakil rakyat di parlemen. Demokrasi sekilas seperti benar-benar mengamini keinginan rakyat yang menginginkan adanya keadilan, kebebasan, dan kesetaraan di dalam Negara. Menerima perintah bukan karena paksaan dari penguasa saja, melainkan karena kebersamaan yang di dasarkan pada nilai-nilai universal kemanusiaan, hak asasi manusia. Namun, demokrasi sudah dipermasalahkan sejak masih berada pada tataran teoritisnya. Berbagai pendapat dan perdebatan muncul mengkritisi permasalahan demokrasi ini, bagaimana ketidakmungkinan demokrasi dapat merangkul majemuknya permasalahan kepentingan masyarakatnya. John Rawls adalah pemikir politik yang berupaya mencari satu konsep politik mengenai masyarakat yang demokratis. Rawls kemudian merumuskan dua pertanyaan mendasar, pertama konsep macam apakah yang paling tepat untuk mengurai kerjasama social yang fair dari warga Negara yang bebas dan setara, dan kerjasama tersebut dapat bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya?. Pertanyaan kedua

toleransi macam apakah yang dapat ditegakkan ditengah keragaman pandangan hidup dan moral yang ada dalam masyarakat (Rawls: 3-4). Atas dasar pertanyaan ini, Rawls kemudian merumuskan ide liberalisme politis yang menurutnya dapat menjadi overlapping consensus (consensus silang) diantara doktrin komprehensif yang ada. Melalui ide itu, komunitas yang terdiri dari beragam doktrin komprehensif dapat dinetralisasi sehingga komunikasi antar doktrin komprehensif yang rasional menjadi mungkin. Demikian Ralws memastikan kesatuan sosial melalui jalan overlapping concensus yang didasarkan pada konsep politik yang rasional mengenai keadilan. Liberalisme Rawls dikritik oleh Chantal Mouffe yang terkena doktrin antagonism dari Carl Schmitt. Mouffe berupaya mencari solusi demokrasi tanpa menghilangkan yang politik antagonistik dari Schmitt. Menurut Mouffe melalui gagasan liberalism, Rawls mencoba menjembatani perbedaan pandangan secara netral dan rasional, namun tampaknya Rawls lupa bahwa kesepakatan yang menurutnya rasional dan netral itu sebenarnya berangkat dari satu doktrin komprehensif dari satu komunitas tertentu, dengan demikian prinsip netralitas dan upaya menciptakan satu consensus yang steril dari doktrin komprehensif menjadi gugur dengan sendirinya (Mouffe, 1993: 55). Menurut Mouffe, konsep politik rasional liberalism mengenai keadilan ini tidak memberikan tempat lagi pada konsep politik particular mengenai hidup yang baik dari doktrin tertentu dalam kehidupan public. Dalam pandangan Rawls, konsep politik mengenai keadilan harus lepas dari doktrin keagamaan dan filsafat yang kerap menjadi titik seteru dalam masyarakat yang majemuk (Mouffe, 1993: 44). Konsep politik liberalism seperti ini adalah sesuatu yang tidak mungkin menurut Mouffe. Ketidakmungkinan itu karena liberalism politis manafikkan sesuatu yang sangat mendasar dan menjadi ruh dari yang politik itu sendiri. Liberalisme telah mengevakuasi dimensi yang politis dan memahami masyarakat yang tertata baik sebagai masyarakat yang bebas dari yang politis. Menurut Mouffe, liberalism telah mengekang pluralism dan menempatkannya diranah private, guna untuk memuluskan jalan menuju consensus diranah public. Mouffe yang terpengaruh oleh Schmitt, menggagas konsep baru mengenai demokrasi, yaitu demokrasi agonistic yang lebih terbuka dalam hal diskusi. Tidak memberikan batasan pada diskusi yang menurutnya dapat berawal dari kekosongan ide yang mendasari suatu keputusan, tanpa dasar (ungrounded). Mouffe percaya dengan ungrounded, dapat mewadahi diskusi atau komunikasi tanpa distorsi. Mouffe menyadari juga upaya membangun komunikasi rasional memiliki konsekuensi pada eksklusi mereka yang diaggap tidak rasional. Tidak mungkin menghindari praktek ekslusi atas beberapa pandangan tertentu. Namun, hal yang penting adalah bahwa kita menyadari adanya bentuk-bentuk eksklusi dan kekerasan yang mengatasnamakan netralitas dan rasionalitas. Bagi Mouffe, keadilan adalah sesuatu yang tidak mungkin, dalam artian bahwa keadilan tidak akan mencapai dasar nalar hukum yang betul-betul memadai. Oleh karena itu, yang diajukan oleh Mouffe melalui gagasan demokrasi agonistiknya adalah seperangkat institusi yang dapat dibatasi dan dikontestasikan sehingga tidak ada keputusan yang final. Dalam masyarakat seperti ini, kekuasaan, hukum dan pengetahuan ditampilkan dalam indeterminasi dan selalu berada dalam pencarian.

Dengan demikian, proyek demokrasi agonistic yang digagas oleh Mouffe ini mendamaikan perseteruan anatara liberalism politik yang mengajukan consensus rasional untuk mengatasi permasalahan pluralism, dengan relasi antagonistik yang politik yang tidak mungkin diselasikan melalui consensus rasional. Maouffe tidak menyingkirkan antagonism demi mencapai consensus, sekaligus tidak menghilangkan institusi sebagai penyelenggra diskusi public. Namun, hal ini juga yang kemudian menjadi permasalahan bagi demokrasi agonistic itu sendiri.