Anda di halaman 1dari 4

INFEKSI HOOKWORM

Epidemologi

Hookworm menyebabkan infeksi pada lebih dari 900 juta orang dan mengakibatkan
hilangnya darah sebanyak 7 liter. Cacing ini ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Kondisi yang optimal untuk daya tahan larva adalah kelembaban sedang dengan suhu berkisar 23-33 celcius. Prevalensi infeksi cacing ini terjadi pada anak-anak (Ginting, 2003).

A. duodenale terbanyak kedua setelah A. lumbricoides, sedangkan N. americanus paling banyak dijumpai di Amerika, Afrika Selatan dan Pusat, Asia Selatan, Indonesia,
Australia dan Kepulauan Pasifik (Agustin, D., 2008).

Morfologi Spesies Hookworm yang paling sering menginfeksi manusia adalah :

A. duodenale dan N. americanus. Keduanya dibedakan berdasarkan : 1. bentuk dan ukuran cacing dewasa, 2. buccal cavity (rongga mulut), 3. bursa copulatrix pada jantan.

A. duodenale mempunyai ukuran lebih besar dan panjang dari pada N. americanus. N. americanus jantan mempunyai panjang 8-11 mm dengan diameter 0,4- 0,5 mm,
sedangkan cacing betina mempunyai panjang 10-13 mm dan diameter 0,6 mm6. Pada

buccal cavity (rongga mulut) mempunyai 2 pasang cutting plates yaitu sepasang di
ventral dan sepasang di dorsal. Dalam keadaan istirahat tubuhnya menyerupai huruf S.

A. Duodenale jantan mempunyai panjang 7-9 mm dan diameter 0,3 mm sedang cacing
betinanya mempunyai panjang 9-11 mm dan diameter 0.4 mm. Pada buccal cavity (rongga

mulut) mempunyai 2 pasang gigi di anterior dan di posterior. Dalam keadaan istirahat
tubuhnya menyerupai huruf C (Agustin, D., 2008).

Siklus Hidup

Ancylostoma and Necator Telur keluar bersama feses yang merupakan telur tidak infektif, biasanya berisi

blastomer. Pada tanah yang teduh, gembur, berpasir dan hangat memudahkan untuk
pertumbuhan telur biasanya telur menetas dalam 1-2 hari dalam bentuk rhabditiform

larva. Setelah 5-10 hari > larva filariform yang merupakan bentuk infektife. > kontak dengan
kulit manusia > menembus kulit dan masuk ke jaringan > memasuki peredaran darah dan pembuluh lympe > masuk ke jantung > paru-paru > lewat arteri pulmonalis kemudian masuk kekapiler, > kapiler pecah (lung migration) > bermigrasi menuju alveoli, bronchus, larink,

pharink dan akhirnya ikut tertelan masuk kedalam usus.


Setelah di usus halus larva melepaskan kulitnya lalu melekatkan diri pada mukosa usus, tumbuh sampai menjadi dewasa. Waktu yang dibutuhkan infeksi melalui kulit sampai cacing dewasa betina menghasilkan telur kurang lebih 5 minggu. Infeksi juga bisa melalui mulut apabila manusia tanpa sengaja menelan filariform larva langsung ke usus dan

tumbuh menjadi dewasa tanpa melalui lung migration

Manifetasi Klinis Larval migration (1) Dermatitis, known as "ground itch" or "stool poison".The larvae penetrating the skin cause allergic reaction, petechiae 0r papule with itching and burning sensation. Scratching leads to secondary infection. (2) pneumonitis (allergic reaction), Loeffier's syndrome: cough, asthma, low fever, biood-tinged sputum or hemoptysis, chest-pain, inflammation shadows in lungs under Xray. These manifestations go on about 2 weeks. 2. Adults in small intestine (1) Epigastric pain as that of a duodenal ulcer. (2) A large worm burden results in microcytic hypochromatic anemia (character manifestation). The symptoms are lassitude, edema, palpitation of the heart. In severe case, death may result from cardiac failure or physical exhaustion. (3) Allotriophagy (orpica) is due to the lack of trace element iron . (4) Amenorrhea, sterility, abortion may take place in women. (5) Gastrointestinal bleeding Hookworms Attached to Intestinal Mucosa

Diagnosis Kriteria: 1. hemoglobin lebih rendah dari 12g/dL pada pria, 11g/dL pada wanita. 2. Menemukan telur Hookworm 1. Melihat langsung gold standard Menggunakan sampel feces/ direct fecal smear

N. americanus and A. duodenale eggs susah dibedakan satu dengan yang


lain!

2. Kultur larva (menunjukkan struktur larva yang berbeda). Harada-Mori culture: pengumpulan larva dari telur menetas pada strip kertas filter dengan salah satu ujung direndam dalam air. 3. PCR

Treatment Mebendazole 500 mg tab single dose Prevents microtubule formation Irreversible blockage of glucose uptake

Albendazole 400 mg tab single dose Inhibits cytoplasmic tubulin polymerization Decreases ATP production Results in immobilization/energy depletion

Pyrantel pamoate 11 mg/kg/d x 3 days, max of 1g/day Depolarizing neuromuscular blocker Causes paralysis

Anda mungkin juga menyukai