Anda di halaman 1dari 59

KONSEP KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI

Eyet Hidayat

Pengertian
Beberapa gangguan dalam pikiran, perasaan, atau tindakan-tindakan yang membutuhkan intervensi terapeutik segera. Skope luas dari praktek psikiatri umum sampai dengan masalah spesifik seperti penyalahgunaan zat, penganiayaan anak, pasangan; perilaku kekerasan (suicide, homicide, perkosaan), dan isu sosial (gelandangan, penuaan, kemampuan, AIDS).

Setting Penanganan

Perlu ruang khusus gawat darurat psikiatri Kemanan dan rasa aman jadi prioritas Jumlah staf yang cukup sepanjang waktu (Psikiater, perawat, asisten, dan pekerja sosial) Tersedia petugas bantuan jika sewaktu-waktu diperlukan. Tanggung jawab khusus dijelaskan. Komunikasi yang jelas dan garis komando otoritas sangat penting. Tim multidisiplin sangat perlu.

Setting Penanganan
Anak dan remaja ditangani diruang pediatri Ada akses segera ke gawat darurat medis Langkah-langkah penanganan hrs sdh distandarkan sejak klien datang Klien yg agitasi dan mengancam ditangani lebih dahulu Ruang isolasi dan pengikatan ditempatkan dekat dengan nursing station untuk memudahkan pengawasan

Pengkajian
Tujuan pengkajian: menilai keadaan krisis yang dialami oleh klien secepat mungkin. Shg dapat menetapkan diagnosis, mengidentifikasi etiologi, dan kebutuhan yg hrs dipenuhi dengan segera untuk ditangani segera atau perlu dirujuk. Standar pengkajian: wawancara riwayat, pemeriksaan status mental, pemeriksaan fisik lengkap, test diagnostik

Triage
Langkah-langkah: Menentukan: keluhan utama, kondisi klinis, dan tanda-tanda vital Wawancara dg pengantar: keluarga, petugas GD (mis 118), aparat (polisi, RT/RW) Hasil triage: Emergency (gawat darurat) Urgent Non urgent

5 pertanyaan pengkajian
1. 2.

3. 4.

5.

Apakah klien aman berada di UGD? Apakah masalahnya organik, fungsional, atau kombinasi? Apakah klie mengalami psikotik? Apakah klien suicide atau homicide? Sejauh mana kemampuan merawat diri (ADL)?

Apakah klien aman?


Tatanan fisik ruangan Pola dan komunikasi antar staf Jumlah klien Kemanan fisik dan emosional menjadi pertimbangan pertama Jika intervensi verbal gagal, pertimbangkan pemberian obat dan pengikatan

Gangguan organik atau fungsional?


Penyakit tertentu dpt berimplikasi pada kondisi mental: Thypoid fever, DM, penyakit tiroid, intoksikasi akut,putus zat, AIDS, trauma kepala. Ganggun jiwa bisa berimplikasi gg fisik: TBC, defisiensi vitamin, kerusakan integritas kulit Psikiater menentukan kondisi klien.

Psikosis?

Jika klien psikosis tentukan tingkat keparahan dan perubahan yang dialami dalam kehidupannya. Parameter penting lain: tingkat gg orientasi realita, kondisi afek, fungsi intelektual, tingkat regresi Klien agitasi mungkin tdk patuh Kluin paranoid mungkin mencurigai penanganan yg diberikan Klien halusinasi mungkin mengingkari Perawat harus mampu membina hubungan saling percaya

Suicide atau homicide?


Suicide:

Ancaman Isyarat Pikiran Percobaab Homicide: hati-hati terhadap perilaku kekerasan

Tingkat Self Care?


Tentukan

tingkat pengabaian diri. Dinilai bagaimana kemampuan klien menolong dirinya sendiri. Beri intervensi yang diperlukan

Alur Proses Psychiatric Emergency


Rujukan dr RS lain Datang sendiri Polisi / ambulance

UGD
Nursing Triage Vital signs Riwayat

Psychiatric triage
Medical ER Ambulatory service Specialty consultants Social services Klasifikasi status GD Psychiatric evaluation

Medical evaluation

Extended observation

Rawat Inap

Treatment
Pemberian obat hrs hati-hati Anti psikotik dengan dosis cukup Benzodiazepines: short acting, perlu kombinasi dengan yang long acting Pemberian intra vena bisa bahaya krn klien agitasi Perhatikan universal precaution ~ HIV

Medikasi atau pengekangan

Prinsip: maximum tranqualization with minimum sedation Tujuan: Klien dpt mengendalikan diri kembali Mengurangi/menghilangkan penderitaannya Agar evaluasi dapat berlanjut sampai dapat disimpulkan Medikasi: Low dose high potency antipsychotics Atypical antipsichotic Benzodiazepines

Pengekangan atau pemberian obat dilakukan bila:


Gelisah

Ancaman

tindak kekerasan Sangat diorganized Sudah dilakukan intervensi verbal namun tak berhasil

RAWAT, bila:
Membahayakan

diri atau

lingkungan Perawatan di rumah tidak mmemadai.


OBSERVASI:

ke Intermediate

ward

Dokumentasi
Semua

penemuan dan tindakan harus didiskusikan dan dicatat dengan baik. Untuk kepentingan: Klien Tenaga kesehatan Asuransi/pembayaran Hukum+

TINDAK KEKERASAN
Agresi fisik yang dilakukan seseorang terhadap orang lainnya. Dapat karena: Gangguan psikiatrik (termasuk karena kondisi medik umum, Gangguan Kepribadian) Tidak dapat mengatasi tekanan hidup sehari-hari dengan cara yang lebih baik Perlu intervensi perilaku, farmakologis dan psikososial.

Tanda-tanda Etiologi kondisi medik Umum


Kondisi medik serius yg mempengaruhi fungsi otak, terutama pada lansia Penggunaan obat-obatan yg mempengaruhi fungsi otak, terutama lansia Riwayat penyalahgunaan zat (intoksikasi, gejala putus zat alkohol, benzodiazepines, opioid) Awitan mendadak Belum ada riwayat agitasi sebelumnya Gangguan fungsi kognitif (orientasi, perhatian, kewaspadaan, memori segera dan jangka pendek) Halusinasi tidak khas (visual), ada tilikan

Tanda-tanda bukan disebabkan kondisi medik umum:


Riwayat

gangguan psikiatrik Riwayat agitasi yg berhubungan dengan dekompensasi karena gangguan psikiatrik Riwayat ketidakpatuhan terhadap terapi psikiatrik Halusinasi khas (auditorik), waham paranoid, tidak ada tilikan akan kondisinya

Gangguan psikiatrik yg berkaitan dg tindak kekerasan:


Gangguan psikotik Intoksikasi zat Gejala putus zat alkohol dan hipnotik sedatif Depresi agitatif Gangguan kepribadian yg ditandai dengan kemarahan atau kurang pengendalian impuls GMO, terutama lobus frontalis dan temporalis otak

Strategi perilaku (behavioral)


Sikap suportif Tdk mengancam Tegas, beri batasan jelas bahwa tindak kekerasan tidak dapat diterima Tenangkan klien, berikan rasa aman Tunjukkan dan tularkan sikap tenang serta penuh kontrol Jangan memaksa atau menyuruh klien minum obat untuk membantunya tenang, atau kalau perlu dikekang

Strategi Selama pemeriksaan:

Lindungi diri Anda, JANGAN:


Mewawancarai klien yang bersenjata Memeriksa klien sendirian dalam ruang tertutup, ruangan yang ada benda-benda yang dapat digunakan sebagai senjata Duduk terlalu dekat Membelakangi klien Memakai sesuatu yang dapat membahayakan Anda (kalung, dasi, selendang) Menantang atau menyangkal klien

Perhatikan tanda-tanda munculnya kekerasan Jumlah staf harus mencukupi, kadang show of force dapat mencegah tindak kekerasan

Penatalaksanaan
Setelah diagnosis dibuat, evaluasi risiko bunuh diri dan cegah tindak kekerasan berikutnya Eksplorasi kemungkinan intervensi sosial Observasi terus-menerus. Rawat? Bila bahaya tindak kekerasan berlanjut, calon korban perlu diberitahu.

Medikasi

Tergantung diagnosis/penyebab dasar Benzodiazepin: Lorazepam 2 mg p.o.atau IM Low dose high potency antipsychotics: Haloperidol 5-10 mg p.o. (tab/liq) atau IM Atypical antipsychotics
Risperidone 2-4 mg p.o. (tab/liq) Olanzapine 20 mg p.o. (tab/btk mudah larut)

Kombinasi benzodiazepin + anti psikotik

Benzodiazepine saja bila:


Dx belum pasti Agitasi karena PTSD (Post Traumatic stress Disorder) Agitasi krn Gangguan kepribadian Depresi psikotik Agitasi akibat kondisi medik umum atau intoksikasi zat umumnya

Anti psikotik, untuk:


Depresi psikotik Skizofrenia Manik

BUNUH DIRI
Tema Utama: Krisis yang menebabkan penderitaan mendalam disertai perasaan tak berdaya dan tak ada harapan Konflik antara keinginan untuk bertahan dengan stress yang tak tertanggungkan Persepsi bahwa ia tak punya pilihan Keinginan untuk melepaskan diri dari masalah

Panduan Wawancara dan Psikoterapi BD


Tanyakan langsung tentang ide bunuh diri Pertimbangkan usia kecanggihan pikiran klien Selidiki;
Apakah sdh ada alat atau cara? Apakah sudah mengambil langkah-langkah aktif? Apakah bisa membayangkan atau memikirkan bahwa kehidupan dapat membaik? Jika tidak, apakah tidak ada harapan lagi? Jika ya, apakah ketakutannya rasional?

Jika klien tdk kooperatif, cari data dari org-org penting dalam kehidupannya

Evaluasi dan Penatalaksanaan BD


Jangan tinggalkan klien sendiri, singkirkan bendabenda yg membahayakan Evaluasi apakah tindakannya direncanakan atau impulsif, tkt lethalitasnya, kemungkinan dipergoki, reaksi klien ketika diselamatkan, apakah faktor pendorong tindakan itu sdh berubah. Terapi sesuai diagnosis dasar Bantu untuk atasi krisis Rawat inap bagi yang cenderung dan punya kebiasaan melukai diri sendiri

Psikofarmaka BD
Untuk atasi krisis yg baru: benzodiazepin, selama 2 minggu Jangan berikan obat dalam jumlah banyak sekaligus Klien harus kontrol dalam beberapa hari Anti depresan diberikan sebagai bagian dari terapi selanjutnya (tdk diberikan di UGD)

PSIKIATRIK INTENSIF CARE UNIT (PICU)

Pengertian
Suatu unit yang memberikan perawatan khusus kepada pasien-pasien psikiatri yang berada dalam kondisi membutuhkan pengawasan ketat

KONDISI PASIEN YANG MASUK PICU


Pasien-pasien dalam kondisi dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan, seperti : pasien dengan usaha bunuh diri, halusinasi, perilaku kekerasan, NAPZA, dan waham.

Skala GAF (General Adaptive Function)


Skala yang digunakan untuk mengukur tingkat kedaruratan pasien. Dengan rentang skor 1 30 skala GAF Pada keperawatan kategori pasien dibuat dengan skor RUFA (Respons Umum Fungsi Adaptif)/ GAFR (General Adaptive Function Response)

GAF 1 - 10
Bahaya melukai diri sendiri atau orang lain persisten dan parah (misalnya kekerasan rekuren) ATAU ketidakmampuan persisten untuk mempertahankan hiegien pribadi yang minimal ATAU tindakan bunuh diri yang serius tanpa harapan akan kematian yang jelas .

GAF 11 - 20

Terdapat bahaya melukai diri sendiri atau orang lain (misalnya usaha bunuh diri tanpa harapan yang jelas akan kematian, sering melakukan kekerasan, kgembiraan manik) ATAU kadang kadang gagal untuk mempertahankan hiegien pribadi yang minimal (misalnya mengusap feses) ATAU gangguan yang jelas dalam komunikasi (sebagian besar inkoheren atau membisu)

GAF 21 - 30

Perilaku dipengaruhi oleh waham atau halusinasi ATAU gangguan serius pada komunikasi atau pertimbangan (misalnya kadang kadang inkoheren, tindakan jelas tidak sesuai preokupasi bunuh diri) ATAU ketidakmampuan untuk berfungsi hamper pada semua bidang ( misalnya tinggal ditempat tidur sepanjang hari, tidak memiliki pekerjaan, rumah atau teman )

FASE INTENSIF
Fase intensif I (24 jam pertama) Pasien dirawat dengan observasi, diagnosa, tritmen dan evaluasi yang ketat. Hasil evaluasi pasien maka pasien memiliki 3 kemungkinan yaitu dipulangkan, dilanjutkan ke fase intensif II, atau dirujuk ke rumah sakit jiwa.

FASE INTENSIF
Fase intensif II (24-72 jam pertama) Perawatan pasien dengan observasi kurang ketat sampai dengan 72 jam. Hasil evaluasi maka pasien pada fase ini memiliki 4 kemungkinan yaitu dipulangkan, dipindahkan ke ruang fase intensif III, atau kembali ke ruang fase intensif I.

FASE INTENSIF
Fase intensif III (72 jam-10 hari). Pasien di kondisikan sudah mulai stabil, sehingga observasi menjadi lebih berkurang dan tindakantindakan keperawatan lebih diarahkan kepada tindakan rehabilitasi. Fase ini berlangsung sampai dengan maksimal 10 hari

RUFA PERILAKU KEKERASAN


Domain
Pikiran

Rufa 1-10
Orang lain jahat, mengancam, melecehkan

Rufa 11-20
Orang lain jahat, mengancam, melecehkan Labil, mudah tersinggung, ekspressi tegang,dendam merasa tidak aman

Rufa 21-30
Org lain jahat, mengancam, melecehkan

Perasaan Labil, mudah tersinggung, ekspressi tegang, marah- marah, dendam, merasa tidak aman.

Tindakan

Labil, mudah tersinggung, ekspressi tegang, mrasa tidak aman Melukai diri sendiri, orang Menentang, Menentang lain,merusak lingkungan, mengamuk, mengancam, mata Intonasi menentang, mengancam, mata meloto melotot sedang, menghina org Bicara kasar, intonasi tinggi, menghina Bicara kasar, Intonasi lain, orang lain, menuntut, berdebat sedang, menghina orang berdebat lain, menuntut, Muka merah, Pandangan tajam, napas Pandangan berdebat pendek, keringat (+), tekanan darah tajam, tek drh meningkat Pandangan tajam, tek menurun darah meningkat

Intervensi Klien PK
Intensif I Intensif II Intensif III

Kendalikan secara verbal Pengikatan ATAU Isolasi Psikofarmaka: anti psikotik parenteral, anti ansietas

Dengarkan keluhan pasien tanpa menghakimi Latih cara fisik mengendalikan marah: nafas dalam Beri psikofarmaka: antipsikotik

Dengarkan keluhan pasien Latih cara mengendalikan marah dengan cara verbal, spiritual. Pertahankan pemberian psikofarmaka oral: anti psikotik

Keadaan Darurat Waham

Intervensi Waham
Intensif I Dengarkan ungkapan klien walaupun terkait wahamnya tanpa membantah atau mendukung Berkomunikasi sesuai kondisi obyektif Psikofarmaka: anti psikotik parenteral, anti ansietas Intensif II Dengarkan keluhan pasien tanpa menghakimi Komunikasi sesuai kondisi obyektif pasien Beri psikofarmaka: antipsikotik oral Intensif III Dengarkan keluhan pasien Bantu identifikasi stimulus waham dan usahakan menghindari stimulus tersebut Pertahankan pemberian psikofarmaka oral: anti psikotik

RUFA PANIK
Domain
Pikiran

Rufa 1-10
Tidak mampu berkonsentrasi sedikitpun Teror, Takut Napas pendek, rasa tercekik dan palpitasi, nyeri dada, sakit kepala, pucat dan gemetar Persepsi sangat kacau, takut menjadi gila, takut kehilangan kendali Bloking, berteriak Ketakutan Agitasi, mengamuk, marah

Rufa 11-20
Hanya berkonsentrasi pada hal tertentu Khawatir berat Napas pendek, berkeringat, tekanan darah naik Persepsi sangat sempit, merasa tidak mampu menyelesaikan masalah Bicara cepat terkadang blocking Tegang Gelisah, kurang atau sama sekali tak mampu berkonsentrasi

Rufa 21-30
Konsentrasi berkurang

Perasaan Tindakan

Khawatir napas pendek,mulut kering, anoreksia, diare/konstipasi Banyak bicara dan cepat Sering merasa gelisah, gerakan tersentaksentak (meremas tangan) Adanya perasaan tidak aman Hanya berfokus pada masalahnya

Intervensi Panik
Intensif I Intensif II Intensif III

Yakinkan pasien dalam keadaan aman Reaksi tenang Berikan anti ansietas parenteral

Yakinkan pasien aman Respons tenang Berikan anti ansietas oral Ajarkan tentang cara relaksasi: nafas dalam

Dengarkan keluhan pasien Latih cara mengendalikan ansietas dengan verbal dan spiritual. Pertahankan pemberian psikofarmaka oral: anti ansietas

RUFA PANIK
Domain
Pikiran

Rufa 1-10
Tidak mampu berkonsentrasi sedikitpun Teror, Takut Napas pendek, rasa tercekik dan palpitasi, nyeri dada, sakit kepala, pucat dan gemetar Persepsi sangat kacau, takut menjadi gila, takut kehilangan kendali Bloking, berteriak Ketakutan Agitasi, mengamuk, marah

Rufa 11-20
Hanya berkonsentrasi pada hal tertentu Khawatir berat Napas pendek, berkeringat, tekanan darah naik Persepsi sangat sempit, merasa tidak mampu menyelesaikan masalah Bicara cepat terkadang blocking Tegang Gelisah, kurang atau sama sekali tak mampu berkonsentrasi

Rufa 21-30
Konsentrasi berkurang

Perasaan Tindakan

Khawatir napas pendek,mulut kering, anoreksia, diare/konstipasi Banyak bicara dan cepat Sering merasa gelisah, gerakan tersentaksentak (meremas tangan) Adanya perasaan tidak aman Hanya berfokus pada masalahnya

RUFA HALUSINASI
Do main Rufa 1-10 Pikir-an Tak berdaya, dikuasai halusinasi Rufa 21-30 Mulai bisa mengontrol diri, masih mengalami hal ttp mulai bisa mengontrol perilakunya Afek Sangat labil tergantung Kadang masih labil Labil hanya jika halusinasi pada halusinasi muncul Tindakan Perilaku terteror Perilaku lebih Meningkatnya tanda-tanda semacam panik. dikendalikan oleh isi sistem syaraf terhadap Risiko tinggi bunuh diri / halusinasi. ansietas: denyut jantung, membunuh org lain. Kesulitan berhub pernafasan, dan tekanan Aktivitas fisik hal dengan org lain. darah). (kekerasan, agitasi, Rentang perhatian Perhatian sedikit menyempit. menarik diri, katatonia) hanya beberapa Asyik dg pengalaman sensori Tak mampu berespon thd detik atau menit. dan blm mampu perintah yg kompleks Gejala fisik seperti membedakan halusinasi dan Tak mampu berespon thd ansietas berat kenyataan lebih dari 1 org (keringat dingin, Tidak mampu tremor, tak mampu membedakan yg nyata mengikuti perintah). dan yg tdk nyata Rufa 11-20 Masih tak berdaya

Intervensi Halusinasi Intensif I


1. 2. 3. 4. 5.

Komunikasi terapeutik Siapkan lingkungan yang aman Menyiapkan lingkungan yang tenang Singkirkan semua benda yang membahayakan Berikan obat-obatan sesuai dengan program terapi medis: Valium 10 mg IM/IV (golongan benzodiazepin) dan injeksi Haloperidol/ Serenace / Lodomer 5 mg IM (golongan butirofenon). Pemberian dapat diulang 30- 60 menit. Selain obat injeksi diberikan juga obat peroral (golongan fenotiazine) seperti Chlorpromazine/largactile/promactile, biasanya diberikan 3 x 100 mg.

Intervensi Halusinasi Intensif I


Pantau keefektifan obat dan efek sampingnya 7. Obs perilaku pasien setiap 15 sekali, catat pe atau pe perilaku k yg berkaitan dg respon fisik, respon kognitif, respon perilaku dan emosi. 8. Jika k tdk terkontrol, mencoba melukai diri sendiri / org lain, dpt dilakukan pembatasan gerak, jika perilaku masih tdk terkendali pengekangan (lihat protap pembatasan gerak dan pengekangan pasien) 9. Bila mungkin bantu k mengenal halusinasinya 10. Diskusikan manfaat cara yang digunakan, & beri pujian
6.

Intervensi Halusinasi Intensif II


1. 2. 3. 4.

Komunikasi terapeutik Siapkan lingkungan yang aman & tenang Tidak ada barang-barang yang berbahaya atau singkirkan semua benda yang membahayakan Berikan obat-obatan sesuai standar medik atau program terapi Pengobatan dapat berupa suntikan valium 10 mg IM/IV (golongan fenotiazine) dan suntikan Haloperidol, Serenace atau lodomer 5 mg IM (golongan butirofenon). Pemberian dapat diulang setiap 6 jam. Selain obat injeksi diberikan juga obat peroral (golongan fenotiazine) seperti Chlorpromazine/largactile/promactile, biasanya diberikan 3 x 100 mg

Intervensi Halusinasi Intensif II


1. 2.

3. 4. 5. 6. 7.

8.

Pantau keefektifan obat & efek sampingnya Antisipasi k kembali mencoba melukai dirinya sendiri atau orang lain, jelaskan pd k tind suntikan & pengekangan gerak mungkin akan kembali dilakukan u/ melindungi k jika prilaku melukai diri muncul kembali Obs setiap 30 1 jam, kaji ulang RUFA tiap shift Obs tanda vital setiap 2 jam Membantu pasien mengenal halusinasinya Mengidentifikasi jenis halusinasi, isi, frekuensi, situasi, perasaan dan tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi Mendiskusikan dengan pasien cara untuk memutus/mengontrol halusinasinya dengan cara menghardik dan bercakap-cakap dengan orang lain Memasukkan ke jadwal kegiatan harian pasien

Intervensi Halusinasi Intensif III


1. 2. 3.

4.
5. 6. 7. 8. 9. 10.

Komunikasi terapeutik : Hindarkan menyalahkan /menertawakan k Kontak sering dan singkat Siapkan lingk yg aman dan tenang Berikan obat sesuai standar / program th medis Pantau keefektifan obat dan efek sampingnya Obs perilaku dalam 24 jam, kaji ulang RUFA setiap shift Observasi tanda-tanda vital setiap shift Libatkan dl TAK rientasi realita stimulasi persepsi Melatih pasien mengontrol halusinasi

RUFA RBD
Rufa 1-10
Tind Percobaan Bunuh Diri Aktif mencoba bunuh diri dengan cara: gantung diri minum racun memotong urat nadi menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi Mengalami depresi Mempunyai rencana bunuh diri yang spesifik Menyiapkan alat untuk bunuh diri (pistol, pisau, silet, dll)

Rufa 11-20
Ancaman Bunuh Diri Aktif memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan percobaan bunuh diri Mengatakan ingin bunuh diri namun tanpa rencana yang spesifik Menarik diri dari pergaulan sosial

Rufa 21-30
Isyarat Bunuh Diri Mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, namun tidak disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh diri Mengungkapkan perasaan seperti rasa bersalah / sedih / marah / putus asa / tidak berdaya Mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri sendiri yang menggambarkan harga diri rendah Mengatakan: Tolong jaga anakanak karena saya akan pergi jauh! atau Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya.

RUFA PDP
Intensif I (1-10) Sama sekali tidak mau dan tidak mampu melakukan perawatan diri Intensif II (11-20) Sering tidak mau melakukan perawatan diri Perawatan diri hanya dilakukan jika dibantu oleh perawat Intensif III (21-30) Kadang-kadang masih tidak mau melakukan perawatan diri Masih harus selalu diingatkan untuk melakukan perawatan diri

INTERVENSI DPD
Intensif I (1-10)
Bantuan total dalam perawatan diri (sesuaikan dengan jenis perawatan diri yang mengalami kemunduran) Jelaskan manfaat melakukan perawatan diri Intensif II (11-20) Jelaskan cara melakukan upaya perawatan diri Bimbing melakukan perawatan diri dengan benar (sesuai jenis perawatan diri yang mengalami kemunduran) Intensif III (21-30) Ingatkan pasien untuk melakukan perawatan diri Bimbing jika masih ada cara perawatan diri yang tidak benar (sesuai jenis perawatan diri yang mengalami kemunduran)

Terima Kasih
Terima Kasih

Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai