Anda di halaman 1dari 14

BAB II STANDAR AUDITING

Sebuah Makalah :: Mata Kuliah Auditing I

Kelompok 12 Andreas Jiman 43211120277 [29] Achmad Solichin 43211120223 [25] Yansen Hendrianus 43211120176 [21]

Universitas Mercubuana :: 2014

Daftar Isi
Halaman 1. Latar Belakang ...... 2. Permasalahan 3. Standar Auditing .... 3.1. 3.2. Definisi Audit Rangkaian Aktifitas dalam Proses Audit . 1 2 4 4 4 4 5 5 6 6 7 7 9

3.3. Jenis Audit 3.4. Audit Laporan Keuangan ... 3.5. Standar yang ditetapkan 4. Standar Auditing di Indonesia . 4.1. Standar Umum 4.2. Standar Perkerjaan Lapangan .. 4.3. Standar Pelaporan 5. Kesimpulan . Penutup Daftar Pustaka

1. Latar Belakang
Dimulai dari sebuah perusahaan yang baru saja dibentuk, dimiliki oleh beberapa pemegang saham (Stockholder). Perusahaan ini mulai beroperasi untuk memperoleh laba, dan secara terus menerus dijaga kelangsungan dan keberadaannya oleh pimpinan perusahaan dan para manajer yang duduk di bagian manajemen perusahaan (going concern). Dengan keberadaan bagianbagian yang disebut sebagai divisi atau departemen, perusahaan ini pun semakin maju berkelangsungan, bahkan secara organisasi pun terarah teratur. Tetapi setelah perusahaan ini semakin besar (mempunyai jumlah

pekerja/employee yang semakin banyak, jumlah klien/pelanggan juga semakin banyak, kegiatan transaksi keuangan juga semakin banyak, lalu berlanjut kepada semakin banyaknya cabang dibuka), maka perusahaan akan membutuhkan suatu cara dengan media apa yang membantu perusahaan baik dari sisi operasional maupun manajerial untuk mengatur, mengendalikan dan mengawasi jalannya kegiatan operasional dan transaksi keuangan/event yang muncul. Bahkan sangat mungkin sekali membutuhkan bantuan sistem informasi yang komprehensif dan memenuhi kebutuhkan perusahaan. Perusahaan memerlukan manajemen yang bagus, guna memungkin terjadinya peningkatan keuntungan yang diinginkan para pemegang saham. Untuk itu perusahaan akan membutuhkan perbaikan (improvement) dan pembetulan (correction) , di sini manajemen harus memiliki kesadaran penuh berkeinginan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas perusahaan secara baik, aman dan teratur. Untuk itu dibutuhkan audit, suatu pekerjaan yang mengacu kepada prinsip-prinsip dan praktek dasar yang baku guna memperoleh informasi yang dapat membantu perusahaan dalam memperbaiki proses operasional maupun secara manajerial, begitu pun juga proses wewenang dan alur kerja yang ada di perusahaan, juga melakukan koreksi-koreksi yang mengarah kepada panduan baku bidang yang diaudit. Untuk dapat melakukan suatu audit dibutuhkan standar atau panduan atau kriteria khusus yang diperlukan untuk pelaksanaannya.

2. Permasalahan
Sebuah perusahaan yang berkembang menjadi besar akan memiliki kesulitan tersendiri dalam manajemen keorganisasiannya. Kesulitan ini menyebabkan banyaknya peluang yang muncul bagi siapapun dan pihak manapun untuk menlakukan fraud atau kejahatan yang akan merugikan perusahaan secara umum dan para pemegang saham khususnya. Dunia yang semakin tua telah menekan penduduknya untuk semakin bekerja keras, tetapi generasi saat ini menginginkan hal yang berbeda dalam memperoleh pendapatan yang besar. Hal ini yang membuat orang mencari peluang di mana saja untuk memakmurkan diri sendiri dengan jalan tidak baik yang merugikan orang lain, dalam kasusnya ini adalah perusahaan dan pemegang saham,

otomatis bila perusahaan merugi, maka orang lain yang bekerja dalam perusahaan juga akan dirugikan. Sebagai contoh, seorang karyawan melakukan tindak penyelewengan wewenang dengan membuat catatan dagang yang tidak benar dalam jumlah satuan atau nilai uang. Secara langsung akan menyebabkan suatu saat pengaruh pada keuangan perusahaan, efek berikutnya adalah perusahaan tidak mampu menaikkan gaji karyawannya. Karyawan lain yang tidak berbuat dirugikan. Kemudian pengaruh beruntun lainnya adalah menurunnya kekuatan keuangan perusahaan yang akan menyebabkan pengurangan jumlah karyawan. Di waktu ini, perekonomian dunia semakin bergolak, resesi pun muncul sehingga terjadi inflasi dan krisis ekonomi dunia berkepanjangan secara bergantian dan terkadang simultan. Suatu perusahaan yang memiliki keinginan dari owner atau stockholdernya untuk tetap ada berkelangsungan harus melakukan banyak perbaikan secara terus menerus di semua sisi perusahaan. Perbaikan-perbaikan ini ini akan ada bila perusahaan dapat mengetahui kekurangan dan kesalahan yang ada dan terjadi di dalam perusahaan itu sendiri. Untuk itu dibutuhkan

pemeriksaan (audit) atas hal-hal yang dianggap merupakan titik penting dalam operasi perusahaan tersebut. Audit sendiri tidak dapat hanya dilakukan oleh siapapun, dengan cara apapun dan tanpa kriteria tersendiri yang dianggap atau diasumsikan mampu membantu
2

perusahaan dalam mencari kelemahan dan kekurangan dalam organisasinya, dan dalam proses operasinya. Untuk itu dibutuhkan pemeriksaan yang benar, baku dan terarah dengan baik. Audit yang demikian diperlengkapi dengan ciri-ciri, dan kriteria standar pelaksanaan.

3. Standar Auditing
3.1. Definisi Audit
Audit adalah pengumpulan dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi dan kriteria yang telah ditetapkan. Auditing merupakan pekerjaan melakukan audit.

3.2. Rangkaian Aktifitas dalam Proses Audit


Berikut ini adalah semua aktifitas yang dilakukan dalam Auditing : a. b. c. Menentukan entitas yang akan diperiksa. Merumuskan hal-hal yang akan di-audit. Mempelajari bisnis proses entitas untuk memahami titik-titik rawan yang merupakan kelemahan proses. d. Mendapatkan komitmen perusahaan, terutama dari pihak manajemen dalam membantu pelaksana audit melaksanakan pekerjaannya. e. Merumuskan informasi yang akan dijadikan tolok ukur dan acuan (kriteria dan spesifikasi), sehingga tercipta rumusan batas

penyimpangan. f. g. h. Mengumpulkan bukti-bukti dan mengevaluasinya. Melakukan verifikasi kepada pihak ketiga yang terlibat di dalam proses. Membuat kesimpulan dan melaporkan hasil temuan dan pemeriksaan yang dihasilkan audit kepada pihaj-pihak terkait dalam perusahaan, biasanya pihak manajemen. i. Memberikan saran, rekomendasi dan atau bahkan opini, tergantung daripada tujuan audit.

3.3. Jenis Audit


Apa saja yang dapat di-audit ? Jenis audit yang dilakukan adalah : Audit Laporan Keuangan;

Jelas bahwa yang akan diperiksa di sini adalah Laporan Keuangan (Financial Statement) yang mencakup transaksi-transaksi keuangan berikut ringkasannya.

Audit Operasional; Inilah tipe audit yang ditujukan ke arah perbaikan proses operasional perusahaan untuk lebih efisien dan efektif.

Audit Kepatuhan/Ketaatan ; Tipe audit yang ini ditujukan untuk memeriksa internal perusahaan dalam segi pelaksanaan kebijakan perusahaan oleh anggota di dalam organisasi perusahaan.

3.4. Audit Laporan Keuangan


Pokok bahasan makalah ini adalah laporan keuangan. Alasan laporan keuangan harus diaudit adalah bahwa Pengguna Laporan Keuangan (stockholder, calon investor, fiskus) dapat memperoleh Laporan Yang Tidak Dapat Dipercaya (kebenarannya). Hal tersebut mengingat beberapa hal yang mendasar, yaitu : Pemberi informasi laporan dan penerima bukan orang yang sama dan tidak mempunyai hubungan yang dekat. Adanya kemungkinan sikap memihak atau subyektif dari pemberi informasi. Terdapat kemungkinan tujuan atau motif lain pada pengeluaran laporan keuangan. Informasi yang ada sudah semakin banyak dan kompleks, seperti halnya transaksi yang terjadi.

3.5. Standar yang ditetapkan


Menimbang point 3.4., Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI) menetapkan suatu standar yang diberlakukan dalam melaksanakan audit. Standar ini berjumlah 10 dan dikategorikan dalam 3 bagian, yaitu : a. Standar Umum, yang menyebutkan kriteria seorang auditor.

b.

Standar Pekerjaan Lapangan, yang menyebutkan apa saja yang harus disiapkan dan dikerjakan di lapangan dalam melakukan auditing.

c.

Standar Pelaporan, yang menyebutkan bagaimana dan apa saja yang harus dilaporkan, berikut temuan dan hasil oleh seorang auditor.

Ketiganya akan dibahas lebih detail lagi pada bagian halaman berikut.

4. Standar Auditing di Indonesia


IAPI menetapkan Standar Auditing di Indonesia dengan mengadaptasi praktek baku auditing internasional, dengan dasar-dasar panduan PSAP dan PSAK dan dinyatakan dalam bentuk rinci PSA (Pernyataan Standar Auditing). PSA sendiri masih memiliki tambahan dokumen pendukung yaitu Interpretasi PSA yang lebih merinci dan menjelaskan semua yang kurang jelas dalam pelaksanaan audit.

4.1. Standar Umum


Seorang Auditor harus memiliki kriteria sebagai berikut (dijabarkan lebih jelas satu per satu) : a. Mampu bersikap obyektif, dan independen, dalam artian, mempunyai kemampuan bersikap netral tidak memihak pemberi atau

penerima/pemakai informasi, dan memiliki panduan sendiri yang bersifat baku dapat diterapkan (misalnya: PSAK, PSAP). b. c. Memiliki keahlian dalam auditing yang memadai. Telah mengikuti pelatihan yang mencukupi untuk melaksanakan proses audit. d. Berketrampilan profesional yang cermat dan seksama (teliti).

Auditor yang memenuhi kriteria tersebut di atas dapat dipastikan akan dapat bekerja dengan baik dan menghasilkan temuan ataumembuahkan hasil audit yang benar dan mampu mendukung perbaikan bagi perusahaan. Bila kriteria di atas yang dijadikan Standar Umum tidak dapat dipenuhi, maka hasil audit yang diperoleh tidak dapat dipercaya dan auditor tersebut tidak kredibel. Dibayangkan, bila seorang auditor memihak kiri dan kanan, hal ini akan ditemukan kemudian hari dan akan menimbulkan skandal besar, dan menyebabkan banyak pihak akan melalui proses hukum, karena hasil audit
6

yang

tidak

benar

dapat

dijadikan

bukti

tindakan

kriminal

penipuan/pemalsuan. Dengan karakter a , diyakini bahwa auditor dapat menghasilkan laporan

audit yang benar dan sesuai dengan ketentuan/pedoman baku.

4.2. Standar Pekerjaan Lapangan


Standar ini merupakan standar bagaimana auditor yang telah memenuhi persyaratan 4.1. harus melakukan pekerjaannya di lapangan. Berikut : a. b. Membuat perencanaan yang tepat, sebelum audit dimulai. Mampu mempelajari dan memahami entitas dan lingkungannya, termasuk struktur organisasi dan internal control entitas tersebut. c. Harus memperoleh bukti yang cukup dan dapat dijadikan pendukung yang tepat. d. Menciptakan pengawasan yang sesuai setelah audit selesai dan dilaporkan. Perencanaan amatlah penting, mengingat perencanaan merupakan

setengah keberhasilan suatu pekerjaan. Sebelum audit dilakukan, auditor perlu mempelajari proses bisnis entitas dan mengenal karakter entitas berikut manajemennya, lalu juga harus mampu mengidentifikasi titik-titik rawan pengendalian internal yang diketahui. Agar audit berhasil, auditor harus mampu memperoleh bukti-bukti yang tepat dan benar, karena bukti ini akan mendukung apapun hasil audit. Setelah audit terlaksana, auditor harus juga mampu membantu perusahaan menciptakan sistem pengawasan yang tepat. Dengan sistem pengawasan perusahaan dapat memperbaiki internal control nya dan memonitor implementasi perbaikan yang disarankan oleh auditor.

4.3. Standar Pelaporan


Merupakan pegangan auditor dalam melakukan pekerjaannya. Lebih jelasnya adalah:
7

a.

Perlunya auditor memeriksa, apa laporan keuangan yang dibuat sudah benar dan sesuai denganprinsip akuntansi yang berlaku baku umumnya.

b.

Auditor

mampu

mengungkapkan

adanya

penyimpanan/ketidak-

konsistenan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umumnya. c. d. Mampu mengungkapkan data/informasi dalam Laporan Keuangan. Auditor mampu memberikan pendapat atas Laporan Keuangan secara keseluruhan. DI sini dapat diambil kesimpulan bahwa auditor harus memiliki kemampuan dan keahlian yang mencakup prinsip akuntansi dan model laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Bila seoarng auditor tidak memiliki pegangan baku ini, maka laporan keuangan hasil audit dan laporan audit tidak dapat memberikan keyakinan yang tepat pada pengguna la;poran keuangan, sehingga pendapat yang dikeluarkan oleh auditor akan menjadi hal yang tidak benar.

5. Kesimpulan
Pekerjaan sebagai Auditor bukanlah hal yang mudah, karena pekerjaan tersebut melibatkan banyak unsur penting seperti moral, habit, attitude, skills, knowledges dan pengalaman. Terutama bahwa seorang auditor harus memegang teguh Standar Keahlian yang telah disahkan dan ditetapkan oleh IAPI sebagai pedoman pelaksanaan, dan kriteria pribadi yang harus dimiliki seorang Auditor. Sekali lagi berikut ini disebutkan semua faktor yang harus diperhatikan, dikuasai dan dipunyai oleh seorang Auditor: a. Mampu bersikap obyektif, dan independen, dalam artian, mempunyai kemampuan bersikap netral tidak memihak pemberi atau penerima/pemakai informasi, dan memiliki panduan sendiri yang bersifat baku dapat diterapkan (misalnya: PSAK, PSAP). b. c. Memiliki keahlian dalam auditing yang memadai. Telah mengikuti pelatihan yang mencukupi untuk melaksanakan proses audit. d. e. f. Berketrampilan profesional yang cermat dan seksama (teliti). Membuat perencanaan yang tepat, sebelum audit dimulai. Mampu mempelajari dan memahami entitas dan lingkungannya, termasuk struktur organisasi dan internal control entitas tersebut. g. Harus memperoleh bukti yang cukup dan dapat dijadikan pendukung yang tepat. h. i. Menciptakan pengawasan yang sesuai setelah audit selesai dan dilaporkan. Perlunya auditor memeriksa, apa laporan keuangan yang dibuat sudah benar dan sesuai denganprinsip akuntansi yang berlaku baku umumnya.
9

j.

Auditor mampu mengungkapkan adanya penyimpanan/ketidak-konsistenan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umumnya.

k. l.

Mampu mengungkapkan data/informasi dalam Laporan Keuangan. Auditor mampu memberikan pendapat atas Laporan Keuangan secara keseluruhan.

Tanpa semua yang disebutkan di atas, seseorang tidak dapat dianggap / diakui sebagai Auditor, dan semua hasil audit yang telah dilakukantidak kredibel.

Penutup
Atas berkat dan rahmat Allah SWT, kami mengucapkan beribu terima kasih kepada Beliau. Selain itu kami dari Kelompok 12 juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Indraguna Kusumabrata sebagai Dosen Mata Kuliah Auditing I Universitas Mercubuana Jakarta yang telah memberikan kami kesempatan untuk belajar dengan lebih baik, dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Semoga Makalah dan Presentasi yang kami sajikan dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya. Bila pada makalah atau presentasi kami terdapat kesalahan atau kekeliruan, bahkan kesalah pengertian, kami mohon maaf.

Jakarta, 14 Maret 2014 Kelompok 12 Auditing I

10

Daftar Pustaka
Arens. Loebbecke, Auditing dan Jasa Assurance. 2011. Jakarta. Penerbit Salemba Empat. Kartawijaya. Slide Auditing Keuangan. Kartika Arif Lestari. Standar Auditing. http://k artik aarif.blogspot.com/2013/03/10standar-auditing.html. 2013. Wikipedia. Standar Auditing. 2012. http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Stan dar_Auditing &oldid=6129919.

11