Anda di halaman 1dari 37

Perhitungan dan Metode Kelompok 12

Penghitungan PPh Pasal 21 Atas Penerimaan Dalam bentuk Natura dan Kenikmatan Lainnya Yang Diberikan Oleh Wajib Pajak Yang Pengenaan Pajaknya Bersifat Final / Norma Penghitungan Khusus (Deemed Profit)
Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura berkenaan dengan pekerjaan atau jasa merupakan tambahan kemampuan ekonomis yang diterima bukan dalam bentuk uang tetapi dalam bentuk barang. Contoh : Beras ,Kendaraan, dll PENGHASILAN DALAM BENTUK NATURA dan KENIKMATAN

*DEDUCTIBLE EXPENSE *NON DEDUCTIBLE EXPENSE

Contoh Perhitungan
Contoh soal

Rusmana adalah seorang warga negara RI yang bekerja pada suatu perwakilan dagang asing yang pengenaan pajaknya mengunakan norma perhitungan khusus(demend profit), pada bulan Maret 2013 memperoleh gaji sebesar Rp 4.000.000 sebulan beserta beras 70 Kg dan gula 20 Kg .Rusmana berstatus menikah dengan mempunyai anak 3, nilai uang dari beras dan gula dihitung berdasarkan harga pasar yaitu: Harga beras : Rp 10.000 per Kg Harga Gula : Rp 9.000 per Kg

Perhitungan
Perhitungan PPh Pasal 21 Gaji sebulan Beras : 70 X Rp 10.000 Gula : 20 X Rp 9.000 Penghasilan Bruto sebulan Pengurangan : Biaya Jabatan 5% X Rp 4.880.000 Penghasilan Netto sebulan Penghasilan Netto Setahun 12 X Rp 4.636.000 PTKP - Untuk WP sendiri - Menikah - - Anak( 3X Rp 2.025.000) Rp 4.000.000 Rp 700.000 Rp 180.000 Rp 4.880.000

(Rp 244.000) Rp 4. 636.000 Rp 55.632.000 Rp 24.300.000 Rp 2.025.000 Rp 6.075.000 Rp 32.400.000 Rp 23.232.000 Rp 1.161.600 Rp 96.800

Penghasilan Kena Pajak PPh pasal 21 setahun (5% X 23.232.000) PPh pasal 21 sebulan (12 : Rp 1.161.600)

Penghasilan PPh Ps 21 yang harus dipotong pada Masa Pajak Terakhir

A. Bulan desember untuk pegawai tetap yang bekerja sampai akhir tahun kalender B. Bulan terakhir memperoleh gaji atau penghasilan tetap dan teratur karena yang bersangkutan berhenti bekerja

Perhitungan PPh Ps 21 yg harus dipotong pada bulan Desember


Contoh : Jaka Lelana status belum menikah dan tidak memiliki tanggungan keluarga bekerja pada PT Cushman & Wakefield Indonesia dengan memperoleh gaji dan tunjangan setiap bulan sebesar Rp 5.500.000 dan yang bersangkutan membayar iuran pensiun kepada perusahaan dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh menteri keuangan setiap bulan sebesar Rp 200.000. Mulai bulan Juli 2012 Jaka lelana memperoleh kenaikan penghasilan tetap setiap bulan menjadi sebesar Rp 7.000.000

Perhitungan PPh Pasl 21 Untuk Bulan Januari Juni 2012 Yaitu Gaji dan Tunjangan sebulan Rp 5.500.000 Pengurangan Biaya jabatan 5% X Rp 5.500.000= Rp 275.000 Iuran pensiunan Rp 200.000 Penghasilan Netto atas gaji & tunjangan sebulan Rp 5.025.000 Penghasilan Netto setahun 12 x Rp 5.025.000 Rp 60.300.000 PTKP (TK/0) -Untuk WP (Rp 24.300.000) Penghasilan Kena Pajak Rp 36.000.000 PPh pasal 21 atas gaji setahun (5%X Rp 36.000.000) Rp 1.800.000 PPh pasal 21 atas gaji sebulan (Rp 1.800.000/12) Rp 150.000

Perhitungan PPh pasal 21 setiap bulan untuk bulan Juli November 2012 yaitu Gaji dan Tunjangan sebulan Rp 7.000.000 Pengurangan Biaya jabatan 5% X Rp 7.000.000 Rp 350.000 Iuran pensiun Rp 200.000 Penghasilan Netto atas gaji & tunjangan sebulan Rp 6.450.000 Penghasilan Netto setahun 12 x Rp 6.450.000 Rp 77.400.000 PTKP (TK/0) -Untuk Wajib Pajak (Rp 24.300.000) Penghasilan Kena Pajak Rp 53.100.000 PPh pasal 21 atas Penghasilan setahun 5% x Rp 50.000.000 Rp 2.500.000 15% x Rp 3.100.000 Rp 465.000 Rp 2.965.000

PPh pasal 21 yang harus dipotong setiap bulan Rp 2.965.000 / 12 Rp 247.083 Perhitungan PPh pasal 21 yang harus dipotong pada bulan Desember 2012 Penghasilan selama setahun (6 x Rp 5.500.000) + ( 6 x Rp 7000.000) Rp 75.000.000 Pengurangan Biaya jabatan 5% X Rp 75.000.000 Rp 3.750.000 Iuran pensiun (12 x Rp 75.000.000) Rp 2.400.000 (Rp 6.150.000) Penghasilan Netto Rp 68.850.000 PTKP (TK/0) - Untuk Wajib Pajak (Rp 24.300.000) Penghasilan Kena Pajak Rp 44.550.000 PPh pasal 21 terutang (5% x Rp 44.550.000) Rp 2.227.500 PPh psl 21 yang telah dipotong s/d november 2012 (6 x Rp 150.000) + ( 5 x Rp 247.083) (Rp 2.135.415) PPh pasal 21 yg harus dipotong dibulan Desember Rp 92.085

B. Penghitungan PPH pasal 21 yang harus dipotong pada bulan terakhir pegawai tetap memperoleh penghasilan tetap dan teratur karena yang bersangkutan berhenti bekerja sebelum bulan desember. Pegawai yang masih memiliki kewajiban pajak subjektif berhenti bekerja pada tahun berjalan Contoh soal : Muadz yang berstatus belum menikah adalah pegawai pada PT Cushman & Wakefeild Indonesia di jakarta . Sejak 1 Oktober 2012 yang bersangkutan berhenti bekerja di PT Cushman & Wakefeild Indonesia. Gaji Muadz setiap bulan memperoleh sebesar Rp 3.500.000 dan yang bersangkutan membayar iuran pensiun kepada dana pensiun yang pendiriannnya telah mendapat persetujuan Menteri keuangan sejumlah Rp 100.000 setiap bulan. Selama bekerja di PT Cushman & Wakefeild Indonesia Muadz hanya menerima penghasilan berupa gaji saja

Penghitungan PPh pasal 21 yang dipotong setiap bulan:

Gaji sebulan Pengurangan Biaya jabatan 5% X Rp 3.500.000= Iuran pensiunan Penghasilan Netto atas gaji Penghasilan Netto setahun 12 x Rp 3.225.000 PTKP (TK/0) - Untuk WP Penghasilan Kena Pajak PPh pasal 21 atas gaji setahun 5%X Rp 14.400.000 PPh pasal 21 atas gaji sebulan Rp 720.000/12

Rp3.500.000

Rp 175.000 Rp 100.000 (Rp 275.000) Rp 3.225.000 Rp 38.700.000 (Rp 24.300.000) Rp 14.400.000 Rp 720.000

Rp 60.000

Penghitungan PPh pasal 21 yang terutang selama bekerja pada PT Cushman & Wakefield Indonesia dalam tahun kalender 2012 (s.d. bulan September 2012) dilakukan pada saat berhenti bekerja: Gaji ( Januari S/d Sepetember 2012) 9 x Rp 3.500.000 Rp 31.500.000 Pengurangan 1. Biaya jabatan (5% x Rp 31.500.000) (Rp 1.575.000) 2. Iuran pensiun (9 x Rp 100.000) (Rp 900.000) Penghasilan netto 9 sebulan Rp 29.025.000 PTKP untuk WP (Rp 24.300.000) PKP Rp 4.725.000 PPh pasal 21 terutang 5% x Rp 4.725.000 Rp 236.250. PPh

PPh pasal 21 terutang untuk masa januari s.d. September 2012 Rp 236.250 PPh pasal 21 yg sudah dipotong s.d Agus 8 x Rp 60.000 Rp 480.000 PPh pasal 21 lebih potong Rp 243.750

2. Pegawai berhenti bekerja pada tahun berjalan dan sekaligus kehilangan kewajiban pajak subjektif Contoh : Jabbal(K/3) mulai bekerja mei 2005 dan berhenti bekerja sejak 1 Juni 2013 dan meninggalkan Indonesia ke negara asalnya(kehilangan kewajiban pajak subjektif). Selama tahun 2013 menerima gaji perbulan sebesar Rp 15.000.000 dan pada bulan April 2013 menerima bonus sebesar Rp 20.000.000

Penghitungan PPh pasal 21 atas gaji adalah: Gaji sebulan Pengurangan Biaya jabatan (5%x Rp 15.000.000) Penghasilan netto atas gaji sebulan Penghasilan netto setahun 12 x Rp 14.500.000 PTKP Untuk wajib pajak Rp 24.300.000 Menikah Rp 2.025.000 Anak 3 orang Rp 6.075.000
a.

Rp 15.000.000 (Rp 500.000) Rp 14.500.000 Rp 172.000.000

PKP PPh Pasal 21 terutang 5% x 50.000.000 15% x Rp 91.600.000 PPh pasal 21 sebulan (Rp 16.240.000/12) `

(Rp 32.400.000) Rp 141.600.000 Rp 2.500.000 Rp 13.740.000 Rp 16.240.000 Rp 1.353.333

b. Penghitungan PPh pasal 21 atas gaji n bonus Gaji setahun (12 x Rp 15.000.000) Bonus

Rp 180.000.000 Rp 20.000.000 Rp 200.000.000 (Rp 6000.000) Rp 194.000.000

Pengurangan Biaya jabatan (5%x Rp 200.000.000) Penghasilan netto atas gaji sebulan PTKP Untuk wajib pajak Rp 24.300.000 Menikah Rp 2.025.000 Anak 3 orang Rp 6.075.000
PKP PPh Pasal 21 terutang 5% x 50.000.000 15% x Rp 111.600.000

(Rp 32.400.000) Rp 161.600.000

Rp 2.500.000 Rp 16.740.000 Rp 19.240.000 c. Penghitungan PPh pasal 21 atas bonus Rp 19.240.000 Rp 16.240.000 = Rp 3.000.000

d. Penghitungan kembali PPh pasal 21 terutang pada saat pegawai yang bersangkutan berhenti bekerja dan meninggalkan Indonesia Untuk selama- lamanya Gaji slama 5 bulan (5 x Rp 15.000.000) Rp 75.000.000 Bonus Rp 20.000.000 Rp 95.000.000 Pengurangan Biaya jabatan (5%x Rp 95.000.000) (Rp 2.500.000) Penghasilan netto selama 5 bulan Rp 92.500.000 Penghasilan Netto dsetahunkan (12xRp 92.500.000) Rp Rp 222.000.000 PTKP Untuk wajib pajak Rp 24.300.000 Menikah Rp 2.025.000 Anak 3 orang Rp 6.075.000 (Rp 32.400.000) PKP Rp 189.600.000 PPh Pasal 21 terutang 5% x 50.000.000 Rp 2.500.000 15% x Rp 139.600.000 Rp 20.940.000 Rp 23.440.000 PPh Pasal 21 terutang (5/6 x Rp 23.440.000) Rp 9.766.667 PPh pasal 21 telah dipotong (4 x Rp 1.353.333) +Rp 3.000.000 = Rp 8.413.333 PPh pasal 21 terutang & harus dipotong untuk bulan mei Rp 1.353.333

PPh Pasal 21 Pegawai Tidak Tetap/ Tenaga Kerja Lepas Upah Harian, Penerima Upah Satuan dan Penerima Upah Borongan

Upah Harian Contoh 1 Jarwo dengan status belum menikah pada bulan Januari 20xx bekerja sebagai buruh harian PT Gubel. la bekerja selama 10 hari dan menerima upah harian sebesar Rp200.000,00. Hitung PPh 21! Pembahasan Penghitungan PPh Pasal 21 terutang: Upah sehari Rp 200.000,00 Dikurangi batas upah harian tidak dilakukan pemotongan PPh Rp 200.000,00(-) Penghasilan Kena Pajak sehari Rp 0,00 PPh Pasal 21 dipotong atas Upah sehari Rp 0,00 Sampai dengan hari ke-10, karena jumlah kumulatif upah yang diterima belum melebihi Rp2.025.000,00 maka tidak ada PPh Pasal 21 yang dipotong. Pada hari ke-11 jumlah kumulatif upah yang diterima melebihi Rp2.025.000,00, maka PPh Pasal 21 terutang dihitung berdasarkan upah setelah dikurangi PTKP yang sebenarnya. Upah s.d hari ke-11 (Rp200.000,00 x 11) Rp 2.200.000,00 PTKP sebenarnya 11 x (Rp24.300.000,00/ 360) Rp 742.500,00(-) Penghasilan Kena Pajak s.d hari ke-11 Rp 1.457.500,00 PPh Pasal 21 terutang s.d hari ke-11 5% x Rp1.457.500,00 Rp 72.875,00 PPh Pasal 21 yang telah dipotong s.d hari ke-10 Rp 0,00 PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke-11 Rp 72.875,00 Sehingga pada hari ke-11, upah bersih yang diterima Jarwo sebesar: Rp200.000,00 - Rp72.875,00= Rp127.125,00

Contoh lain :
Misalkan Jarwo bekerja selama 12 hari, maka penghitungan PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke - 12 adalah sebagai berikut : Pada hari kerja ke-12, jumlah PPh Pasal 21 yang dipotong adalah: Upah sehari Rp 200.000,00 PTKP sehari - untuk WP sendiri (Rp 24.300.000,00: 360) Rp 67.500,00(-) Penghasilan Kena Pajak Rp 132.500,00

PPh Pasal 21 terutang 5% x Rp132.500,00 = Rp 6.625,00 Sehingga pada hari ke-12, Jarwo menerima upah bersih sebesar: Rp200.000,00 Rp6.625,00 = Rp193.375,00

Contoh 2
Jufon (belum menikah) pada bulan Maret 20xx bekerja pada perusahaan PT Gudel, menerima upah

sebesar Rp300.000,00 per hari. Hitung PPh 21 !

Pembahasan Penghitungan PPh Pasal 21 Upah sehari Rp300.000,00 Upah sehari di atas Rp200.000,00 adalah: Rp300.000,00 - Rp200.000,00 Rp100.000,00 PPh Pasal 21 = 5% x Rp100.000,00 = Rp5.000,00 (harian) Pada hari ke-7 dalam bulan kalender yang bersangkutan, Jufon telah menerima penghasilan sebesar Rp2.100.000,00, sehingga telah melebihi Rp2.025.000,00. Dengan demikian PPh Pasal 21 atas penghasilan Jufon pada bulan Maret 2013 dihitung sebagai berikut: Upah 7 hari kerja (7xRp300.000,00) Rp 2.100.000,00 PTKP:7 x (Rp24.300.000,00/360) Rp 472.500,00(-) Penghasilan Kena Pajak Rp 1.627.500,00 PPh Pasal 21 = 5% x Rp1.627.500,00 Rp 81.375,00 PPh Pasal 21 yang telah dipotong s.d hari ke-6: 6 x Rp5.000,00 Rp 30.000,00(-) PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke-7 Rp 51.375,00 Jumlah sebesar Rp51.375,00 ini dipotongkan dari upah harian sebesar Rp300.000,00 sehingga upah yang diterima Jufon pada hari kerja ke-7 adalah: Rp300.000,00 - Rp51.375,00 = Rp248.625,00

Pada hari kerja ke-8 dan seterusnya dalam bulan kalender yang

bersangkutan, jumlah PPh Pasal 21 per hari yang dipotong adalah: Upah sehari Rp 300.000,00 PTKP - untuk WP sendiri (Rp24.300.000,00 : 360) Rp 67.500,00(-) Penghasilan Kena Pajak Rp 232.500,00 PPh Pasal 21 terutang adalah 5% x Rp232.500,00 = Rp11.625,00

Upah Satuan
Contoh 1 Juril (belum menikah) adalah seorang karyawan yang bekerja sebagai perakit TV pada suatu perusahaan elektronika. Upah yang dibayar berdasarkan atas jumlah unit/satuan yang diselesaikan yaitu Rp75.000,00 per buah TV dan dibayarkan tiap minggu. Dalam waktu 1 minggu (6 hari kerja) dihasilkan sebanyak 24 buah TV dengan upah Rp1.800.000,00. Hitung PPh 21!

Pembahasan Penghitungan PPh Pasal 21 : Upah sehari adalah Rp1.800.000,00 : 6 Rp 300.000,00 Upah diatas Rp200.000,00 sehari Rp300.000,00- Rp200.000,00 Rp 100.000,00 Upah seminggu terutang pajak 6 x Rp100.000,00 Rp 600.000,00 PPh Pasal 21 5% x Rp600.000,00= Rp30.000,00(Mingguan)

Upah Borongan
Contoh 1

Jayus mengerjakan dekorasi sebuah rumah dengan upah borongan sebesar Rp450.000,00, pekerjaan diselesaikan dalam 2 hari. Hitung PPh 21! Pembahasan Upah borongan sehari : Rp450.000,00 : 2 Rp 225.000,00 Upah sehari diatas Rp200.000,00 Rp225.000,00 Rp200.000,00Rp 25.000,00 Upah borongan terutang pajak: 2 x Rp25.000,00 Rp 50.000,00

PPh Pasal 21 = 5% x Rp50.000,00 = Rp 2.500,00

Pegawai Tidak Tetap/ Tenaga Kerja Lepas dengan upah Harian/ Satuan/ Borongan yang dibayar bulanan
Contoh Jokiyo bekerja pada perusahaan elektronik dengan dasar upah harian yang dibayarkan bulanan. Dalam bulan Januari 20xx Jukiyo hanya bekerja 20 hari kerja dan upah sehari adalah Rp150.000,00. Jukiyo menikah tetapi belum memiliki anak. Hitung PPh 21!

Pembahasan Penghitungan PPh Pasal 21 Upah Januari 20xx = 20 x Rp150.000,00 Rp 3.000.000,00 Penghasilan neto setahun = 12 x Rp3.000.000,00 Rp 36.000.000,00 PTKP (K/-) adalah sebesar - Untuk WP sendiri Rp24.300.000,00 - tambahan karena menikahRp 2.025.000,00(+) Rp 26.325.000,00(-) Penghasilan Kena Pajak Rp 9.675.000,00

PPh Pasal 21 setahun adalah sebesar: 5% x Rp9.675.000,00 = Rp483.750,00 PPh Pasal 21 sebulan adalah sebesar: Rp483.750,00 : 12 = Rp40.312,00

PPh Pasal 21 atas honorarium komisaris yang tidak merangkap sebagai Pegawai Tetap

Honorarium, imbalan lain sejenisnya adalah Honorarium/imbalan lain yang diterima atau diperoleh dalam Tahun Pajak yang bersangkutan. Honorarium adalah imbalan atas jasa, jabatan atau kegiatan yang dilakukan Contoh Supri adalah seorang komisaris di PT Kanji, yang bukan sebagai pegawai tetap. Dalam tahun 20xx, yaitu bulan Desember 20xx menerima honorarium sebesar Rp 60.000.000,00. Tentukan PPh 21! Pembahasan PPh Pasal 21 yang terutang adalah: 5% x Rp50.000.000,00 15% x Rp10.000.000,00 PPh Pasal 21 yang harus dipotong

Rp 2.500.000,00 Rp 1.500.000,00(+) Rp 4.000.000,00

Apabila dalam tahun kalender yang bersangkutan, dibayarkan penghasilan kepada yang bersangkutan lebih dari 1 (satu) kali, maka PPh Pasal 21 atas pembayaran penghasilan yang berikutnya dihitung dengan menerapkan tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh atas jumlah penghasilan bruto kumulatif yang diterima dengan memperhitungkan penghasilan yang telah diterima sebelumnya.

PPh Pasal 21 berstatus Bukan Pegawai Yang Menerima Penghasilan Sehubungan Dengan Pemberian Jasa Dan/ Atau Melakukan Penyerahan Barang yang Dalam Pemberian/ Penyerahannya Mempekerjakan Orang Lain Sebagai Pegawainya.
Jatil melakukan jasa perawatan AC kepada PT Gugur dengan imbalan Rp10.000.000,00. Jatil

mempergunakan tenaga 5 orang pekerja dengan membayarkan upah harian masing-masing sebesar Rp180.000,00. Upah harian yang dibayarkan untuk 5 orang selama melakukan pekerjaan sebesar Rp4.500.000,00. selain itu, Jatil membeli spare part AC yang dipakai untuk perawatan AC sebesar Rp1.000.000,00. Tentukan PPh 21! Pembahasan Penghitungan PPh Pasal 21 terutang adalah sebagai berikut: Dalam hal berdasarkan perjanjian serta dokumen yang diberikan Jatil, dapat diketahui bagian imbalan bruto yang merupakan upah yang harus dibayarkan kepada pekerja harian yang dipekerjakan oleh Jatil dan biaya untuk membeli spare part AC, maka jumlah imbalan bruto sebagai dasar perhitungan PPh Pasal 21 yang harus dipotong oleh PT Gugur atas imbalan yang diberikan kepada Jatil adalah sebesar imbalan bruto dikurangi bagian upah tenaga kerja harian yang dipekerjakan Jatil dan biaya spare part AC, sebagaimana dalam contoh adalah sebesar: Rp10.000.000,00 - Rp4.500.000,00 - Rp1.000.000,00 = Rp4.500.000,00 PPh Pasal 21 yang harus dipotong PT Gugur atas penghasilan yang diterima Jatil adalah sebesar: 5% x 50% x Rp4.500.000,00 = Rp112.500,00 Dalam hal Jatil tidak memiliki NPWP maka PPh Pasal 21 yang harus dipotong oleh PT Gugur menjadi: 120% x 5% x 50% x Rp4.500.000,00 = Rp135.000,00

Contoh
Dalam hal PT Gugur tidak memperoleh informasi berdasarkan perjanjian yang dilakukan atau dokumen yang diberikan oleh Jatil mengenai upah yang harus dikeluarkan Jatil atau pembelian material/bahan, PPh Pasal 21 yang harus dipotong PT Gugur adalah jumlah sebesar : 5% x 50% x Rp10.000.000,00 = Rp250.000,00

Dalam hal Jatil tidak memiliki NPWP maka PPh Pasal 21 yang harus dipotong oleh PT Gugur menjadi: 120% x 5% x 50% x Rp10.000.000,00 = Rp300.000,00 Catatan: Untuk pembayaran upah harian kepada masing-masing pekerja wajib dipotong PPh Pasal 21 oleh Jatil

PAJAK PENGHASILAN ATAS PENSIUN BULANAN


Uang Pensiun adalah uang tabungan hari tua atau

jaminan hari tua, uang pesangon dan pembayaran lain sejenis hubungan dengan pemutusan hubungan kerja. Penerima pensiun adalah orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima atau memperoleh imbalan untuk pekerjaan yang dilakukan di masa lalu, termasuk orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima tunjangan hari tua atau jaminan hari tua. Besarnya Tarif PPh Pasal 21 Atas Pensiun
Rp.200.000,00/bulan atau Rp.2.400.000,00/tahun 5%

Contoh Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21 Bulanan, Pensiun


1.

2.

Onci adalah pegawai tetap di PT. HI sejak 1 Januari 2013. la memperoleh gaji sebulan sebesar Rp. 2.000.000,- dan membayar iuran pensiun sebesar Rp. 25.000,- sebulan. Pasha menikah tetapi belum mempunyai anak (status K/0). Tn. Pasha (K/3) bekerja pada Perusahaan Minuman Kesehatan di Bogor dengan gaji sebulan sebesar Rp 5.000.000, tunjangan keluarga dan tunjangan jabatan masing-masing sebesar Rp 30.0000 dan Rp 300.000. Perusahaan menbayarkan premi asuransi kematian dan kecelakaan kerja yang masing-masing besarnya Rp 40.000 dan Rp 20.000, Tn.Pasha sendiri setiap bulannya membayar iuran THT dan iuran Pensiun sebesar Rp 20.000 dan Rp 35.000. Pada tanggal 1 September 2011 ia pensiun dan menerima uang pensiun setiap bulannya sebesar Rp 4.000.000. Berapakah PPh Pasal 21 terutang atas gaji dan pensiun yang diterimanya?

1. Penghitungan PPh Ps. 21 terutang:


Gaji Sebulan = 2.000.000 Tunjangan = 3.000.000 Pengh. Bruto = 5.000.000 Pengurangan Biaya Jabatan = 5%x 4.000.000 = 250.000 Iuran pensiun = 25.000 Total Pengurangan = 275.000 Pengh. Netto sebulan = 4.725.000 Pengh. Netto setahun 12 x 4.725.000 = 56.700.000 PTKP setahun: WP sendiri = 24.300.000 Tambahan WP kawin = 2.025.000 Total PTKP (K/0) = 26.325.000 PPhKP setahun = = 30.375.000 PPh Ps. 21 = 5 % x 30.375.000 = 1.518.750 PPh Ps.21 Sebulan = 126.563

Penghasilan gaji sebulan Rp 5.000.000 Tunjangan Jabatan Rp 300.000 Tunjangan Keluarga Rp 30.000 Premi asuransi Kecelakaan Kerja Rp 40.000 Premi Asuransi Kematian Rp 20.000 + Total Penghasilan Bruto Gaji Rp 5.390.000 Pengurang : Biaya Jabatan (5% x Rp 5.390.000) (maksimal diperkenankan) Rp 269.500 Iuran THT Rp 20.000 Iuran Pensiun Rp 35.000 + Jumlah pengurang Rp 324.500 Penghasilan neto Gaji sebulan Rp 5.065.500 Penghasilan neto Gaji 8 Bulan 8 x Rp 5.065.500 = PTKP (K/3) Wajib Pajak Rp 24.300.000 Status Kawin Rp 2.025.000 Tanggungan 3 Rp 6.075.000 + Penghasilan Kena Pajak PPh Pasal 21 atas gaji 8 bulan : 5 % x Rp 8.124.000 = Rp 406.200

Rp 40.524.000

Rp 32.400.000 Rp 8.124.000

Perhitungan PPh Pasal 21 atas Pensiun


PPh Pasal 21 atas Gaji dan Pensiun Rp 1.166.200 PPh Pasal 21 atas Gaji Rp 406.200 PPh Pasal 21 atas Pensiun Rp 760.000

Perhitungan PPh Pasal 21 atas Gaji 8 bulan dan Pensiun 4 bulan


Penghasilan Pensiun sebulan Rp 4.000.000

Pengurang : Biaya Pensiun (5 % x Rp .000.000) Rp 200.000 Penghasilan neto pensiun sebulan Rp 3.800.000 Penghasilan neto pensiun 4 bulan Rp 15.200.000 Penghasilan neto Gaji 8 bulan Rp 40.524.000 + Penghasilan neto Gaji dan Pensiun Rp 55.724.000 PTKP (K/3) Rp 32.400.000 Penghasilan Kena Pajak Rp 23.324.000 PPh Pasal 21 atas Gaji dan Pensiun : 5 % x Rp 23.324.000 = Rp 1.166.200

Perhitungan PPh Pasal 21 atas pembayaran uang pensiun bulanan mulai Januari 2012
Penghasilan Pensiun sebulan Rp 4.000.000 Pengurang : Biaya Pensiun (5 % x Rp 4.000.000) Rp 200.000 Penghasilan neto pensiun sebulan Rp 3.800.000 Penghasilan neto pensiun setahun Rp 45.600.000 PTKP (K/3) Rp 32.400.000 Penghasilan Kena Pajak Rp 13.200.000 PPh Pasal 21 terutang selama setahun 5 % x Rp 13.200.000 = Rp 660.000 PPh Pasal 21 terutang selama sebulan Rp 660.000 / 12 = Rp 55.000

Pajak Penghasilan PPh 21 Peserta Kegiatan


Yang Termasuk Obyek Pajak Peserta Kegiatan : Peserta Perlombaan Peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan, kunjungan kerja Peserta/anggota kepanitiaan Peserta pendidikan, pelatihan dan magang Peserta kegiatan lainnya

PPh Pasal 21: Peserta Kegiatan


Tarif PPh Pasal 21 Atas Peserta Kegiatan

JUMLAH PENGHASILAN BRUTO X TARIF PPh 21

Contoh soal perhitungan PPh 21 Peserta Kegiatan


Enda adalah seorang musisi handal di indonesia yang bertempat tinggal di Bogor. Ia menjuarai Kompetisi gitaris seindonesia dan ia memperoleh hadiah sebesar Rp.165.000.000. Perhitungan PPh 21 nya : 5% x Rp. 15.000.000 = Rp. 750.000 15% x Rp. 150.000.000 = Rp. 22.500.000 + Rp. 23.250.000

Kelompok 12
ANDREAS JIMAN 43211120277
FACHDINI SUDIANTO 43211120253 PUPUT SILVIANA 43211120286

RIYA HASTUTI - 43211120258