Anda di halaman 1dari 41

SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DIRUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BARRU TAHUN 2010

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dewasa ini limbah merupakan masalah yang cukup serius, terutama dikota-kota besar. Sehingga banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah, swasta maupun secara swadaya oleh masyarakat untuk menanggulanginya, dengan cara mengurangi, mendaur ulang maupun memusnahkannya. Namun semua itu hanya bisa dilakukan bagi limbah yang dihasilkan oleh rumah tangga saja. Lain halnya dengan limbah yang di hasilkan dari upaya medis seperti Puskesmas, Poliklinik, dan Rumah Sakit. Karena jenis limbah yang dihasilkan termasuk dalam kategori biohazard yaitu jenis limbah yang sangat membahayakan lingkungan, dimana disana banyak terdapat buangan virus, bakteri maupun zat zat yang membahayakan lainnya, sehingga harus dimusnahkan dengan jalan dibakar dalam suhu diatas 800 derajat celcius (LPKL, http://www.maxpelltechnology.com diakses tanggal 12 Januari 2010). Ada beberapa hasil survei yang menunjukkan jenis limbah kesehatan yang biasa di hasilkan. Dari beberapa survei tersebut dirangkum dan menunjukkan bahwa limbah layanan kesehatan yang dihasilkan berbeda bukan saja antar negara tetapi juga dalam satu negara. Limbah yang dihasilkan bergantung pada banyak faktor. Misalnya metode manajemen limbah yang berlaku, jenis institusi layanan kesehatan, spesialisasi rumah sakit, jumlah item yang dapat digunakan kembali yang dipakai rumah sakit, dan jumlah pasien rawat jalan. Akan tetapi, akan lebih baik jika ada data tersebut hanya dipandang sebagai contoh dan tidak digunakan sebagai landasan untuk mengelola limbah di dalam sebuah institusi layanan kesehatan. Data mengenai limbah setempat yang didapat dari sebuah survei mungkin akan lebih reliabel dibandingkan perkiraan yang didasarkan pada data negara lain atau jenis insitusi yang berbeda. Di negara yang berpendapatan rendah atau menengah, limbah layanan kesehatan yang dihasilkan biasanya lebih sedikit dari pada di negara berpendapatan tinggi. Namun, rentang perbedaan antara negara berpendapatan menengah mungkin sama besarnya dengan rentang perbedan di antara negara negara berpendapatan tinggi, juga di antara negara berpendapatan rendah. Limbah layanan kesehatan yang dihasilkan menurut tingkat pendapatan nasional negara, pada negara berpendapatan tinggi untuk semua limbah layanan kesehatan bisa mencapai 1,1 12,0 kg/orang per tahunnya, dan limbah layanan kesehatan berbahaya 0,4 5,5 kg/orang pertahunnya, pada negara berpendapatan menengah untuk semua limbah layanan kesehatan menunjukkan angka 0,8 6,0 kg/orang pertahun sedangkan limbah layanan kesehatan yang berbahaya 0,3 0,4 kg/orang pertahun, sedangkan negara berpendapatan rendah semua limbah layanan kesehatan menghasilkan 0,5 3,0

kg/orang pertahunnya. Dalam ukuran sumbernya pada RSU Pendidikan dapat menampung limbah per harinya sampai 4,1 8,7 kg/tempat tidur, RS Umum 2,1 4,2 kg/tempat tidur, RS Daerah 0,5 1,8 kg/tempat tidur, Pusat Kesehatan masyarakat 0,05 0,2 kg/tempat tidur. Sedangkan menurut wilayah, wilayah Amerika Utara 7 10 kg/tempat tidur, Eropa barat 3 6 kg/tempat, Amerika Latin 3 kg/tempat tidur, Negara berpendapatan tinggi 2,5 4 kg/tempat tidur, negara berpendapatan menengah 1,8 2,2 kg/tempat tidur, Eropa timur 1,4 - 2 kg/tempat tidur, dan timur tengah 1,3 3 kg/tempat tidur. Dan untuk limbah layanan kesehatan berdasarkan sumber yang dihasilkan, untuk jenis sumber dari praktik dokter umum, contohnya benda tajam dalam perharinya mencapai 4 kg/tahun, limbah infeksius 20 kg/tahun, total limbah sampai dengan 100 kg/tahun, untuk kategori Dokter bedah, limbah infeksius 175 kg/tahun, kategori dokter kandungan , limbah infeksius 350 kg/tahun, kategori perawat, benda tajam 20 kg/tahun, limbah infeksius 100 kg/tahun, kategori praktik dokter gigi, benda tajam 11 kg/tahun, limbah infeksius 50 kg/tahun, logam berat (termasuk merkuri) 2,5 kg/tahun, total limbah yang dihasilkan 260 kg/tahu, kategori laboraturium biomedis (60 analisis per hari) sedikitnya limbah infeksius dihasilkan 300 kg/tahun, dan untuk kategori dialisis ginjal (3 per minggu) limbah infeksius 400 kg/tahun. Rumah sakit dan instalasi kesehatan lainnya memiliki kewajiban untuk memelihara lingkungan dan kesehatan masyarakat, serta memiliki tanggung jawab khusus yang berkaitan dengan limbah yang dihasilkan instalasi tersebut. Kewajiban yang dipikul instalasi tersebut di antaranya adalah kewajiban untuk memastikan bahwa penanganan, pengolahan serta pembuangan limbah yang mereka lakukan tidak akan menimbulkan dampak yang merugikan kesehatan dan lingkungan. Dengan menerapkan kebijakan mengenai pengelolaan limbah layanan kesehatan, fasilitas medis dan lembaga penelitian semakin dekat dalam memenuhi tujuan mewujudkan lingkungan yang sehat dan aman bagi karyawan mereka maupun masyarakat sekitar (A.Pruss, 2005). Penanganan limbah medis sudah sangat mendesak dan menjadi perhatian Internasional. Isu ini telah menjadi agenda pertemuan internasional yang penting. Pada tanggal 8 Agustus 2007 telah dilakukan pertemuan High Level Meeting on Environmental and Health South-East and East-Asian Countries di Bangkok. Dimana salah satu hasil pertemuan awal Thematic Working Group (TWG) on Solid and Hazardous Waste, yang akan menindak lanjuti tentang penanganan limbah yang terkait dengan limbah domestik dan limbah medis. Selanjutnya pada tanggal 28-29 Februari 2008 dilakukan pertemuan pertama (TWG) on Solid and Hazardous Waste di Singapura membahas tentang pengelolaan limbah medis dan domestic di masing masing negara. Pada saat ini masih banyak rumah sakit yang kurang memberikan perhatian yang serius terhadap pengelolaan limbahnya. Pengelolaan limbah masih terpinggirkan dari pihak manajemen RS. Hal ini terlihat dalam struktur organisasi RS, divisi lingkungan masih terselubung di bawah bag Umum. Pemahaman ataupun pengetahuan pihak pengelola lingkungan tentang peraturan dan peryaratan dalam pengelolaan limbah medis masih dirasa minim. Masih banyak yang belum mengetahui tatacara dan kewajiban pengelolaan limbah medis baik dalam hal penyimpanan limbah, incinerasi limbah maupun pemahaman tentang limbah B3 sendiri masih terbatas (Anonim, http://b3.menlh.go.id diakses tanggal 14 Januari 2010).

Potensi pencemaran limbah rumah sakit dalam profil kesehatan Indonesia, Departemen Kesehatan, 1997 diungkapkan seluruh RS di Indonesia berjumlah 1090 dengan 121.996 tempat tidur. Hasil kajian terhadap 100 RS di Jawa dan Bali menunjukkan bahwa rata-rata produksi sampah sebesar 3,2 kg per tempat tidur per hari. Sedangkan produksi limbah cair sebesar 416,8 liter per tempat tidur per hari. Analisis lebih jauh menunjukkan, produksi sampah (limbah padat) berupa limbah domestik sebesar 76,8 persen dan berupa limbah infektius sebesar 23,2 persen. Diperkirakan secara nasional produksi sampah (limbah padat) RS sebesar 376.089 ton per hari dan produksi air limbah sebesar 48.985,70 ton per hari. Berdasarkan gambaran tersebut dapat dibayangkan betapa besar potensi RS untuk mencemari lingkungan dan kemungkinannya menimbulkan kecelakaan serta penularan penyakit (Jais, http://www.arahenvironmental.com diakses tanggal 12 Januari 2010 ). Dampak limbah untuk infeksi virus yang serius seperti HIV/AIDS serta Hepatitis B dan C, tenaga layanan kesehatan, terutama perawat, merupakan kelompok yang berisiko paling besar untuk terkena infeksi melalui cedera akibat benda tajam yang terkontaminasi (umumnya jarum suntik). Risiko serupa juga dihadapi tenaga kesehatan lain di RS dan pelaksana pengelolaan limbah di luar RS, begitu juga pemulung di Lokasi pembuangan akhir limbah (sekalipun risiko ini tidak terdokumentasi). Di kalangan pasien dan masyarakat, risiko terkena infeksi tersebut jauh lebih rendah. Namun, beberapa infeksi yang menyebar melalui media lain atau disebabkan oleh agens yang lebih resisten dapat menimbulkan risiko yang bermakna pada masyarakat dan pasien RS. Contoh, pembuanga air kotor yang tidak terkendali dari RS yang merawat pasien kolera memberikan dampak yang cukup besar terhadap terjadinya wabah kolera di negara negara Amerika latin. (A.Pruss, 2005) Rumah sakit menghasilkan limbah dalam jumlah besar, beberapa di antaranya membahayakan kesehatan di lingkungannya. Di negara maju, jumlah limbah diperkirakan 0,5 - 0,6 kilogram per tempat tidur rumah sakit per hari. Jenis limbah rumah sakit dan dampaknya terhadap kesehatan serta lingkungan. Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Mengingat dampak yang mungkin timbul, maka diperlukan upaya pengelolaan yang baik meliputi pengelolaan sumber daya manusia, alat dan sarana, keuangan dan tata laksana pengorganisasian yang ditetapkan dengan tujuan memperoleh kondisi rumah sakit yang memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan. Limbah rumah sakit bisa mengandung bermacam-macam mikroorganisme bergantung pada jenis runah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan sebelum dibuang (Jais, http://www.arahenvironmental.com diakses tanggal 12 Januari 2010 ). Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru sebagai sarana pelayanan kesehatan yang mempunyai fasilitas rawat inap dan rawat jalan diantaranya pelayanan, UGD, poliklinik gigi, fisio, radiologi, ruang operasi / bedah, laboraturium, pengelolaan sampah di rumah sakit umum daerah kabupaten barru secara langsung dapat mempengaruhi derajat kesehatan pasien dan lingkungan yang ada disekitar rumah sakit . Dan dalam profil rumah sakit umum daerah kabupaten barru juga mengatakan dalam segi kualitas dan kuantitas keberhasilan dibidang kesehatan dapat dilihat dari ketersediaan sarana kesehatan di Barru dan sumber daya Manusia. Untuk ketersediaan sarana kesehatan yang memadai telah menempati Rumah Sakit yang baru sejak tanggal 19 Januari 2009, meski belum ditunjang dengan fasilitas serta peralatan

yang refresentatif. Maka atas dasar itulah peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana sistem pengelolaan sampah medis di rumah sakit umum daerah Kabupaten Barru (Profil RSUD Kabupaten Barru).

B.

Rumusan Masalah

Setelah membahas pada latar belakang maka dapat dirumuskan Bagaimana Sistem Pengelolaan Sampah Medis di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru Tahun 2010?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang Sistem Pengelolaan. Sampah Medis di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru Tahun 2010. 2. Tujuan Khusus

a.Untuk memperoleh gambaran tentang Pemilahan sampah di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru b. Untuk memperoleh gambaran tentang pewadahan sampah di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru. c. Untuk memperoleh gambaran tentang pegumpulan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru. d. Untuk memperoleh gambaran tentang pengangkutan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru. e. Untuk memperoleh gambaran tentang penanganan sampah di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru. f. Untuk memperoleh gambaran tentang Tenaga Pengelola Limbah di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Ilmiah Merupakan pengetahuan berharga dalam memperluas wawasan dan pengetahuan penulis dalam bidang kesehatan masyarakat, khususnya yang berhubungan dengan Pengelolaan Sampah Medis 2. Manfaat Institusi

Sebagai bahan informasi kepada instansi terkait untuk peningkatan derajat kesehatan lingkungan khususnya Sistem Pengelolaan sampah Medis dan sanitasi lingkungan. 3. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi tentang kondisi Pengelolaan Sampah Medis di Rumah Sakit Umum daerah Kab. Barru dan merupakan bahan pertimbangan dan peningkatan sanitasi rumah sakit tersebut. <!-- more -->

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Rumah Sakit 1) Pengertian Rumah Sakit

a. Menurut American Hospital Association, rumah sakit adalah sebagai organisasi yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien. b. Menurut Wolper dan Pena, rumah sakit adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta temoat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteranm, perawat dan berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan. c. Menurut Association of Hospital Care, rumah sakit adalah pusat dimana pelayanan kesehatan masyarkat, pendidikan serta penelitin kedokteran diselenggarakan. 2. Jenis Jenis Rumah Sakit Adapun beberapa jenis jenis rumah sakit yang perlu diketahui, batasan tentang jenis jenis rumah sakit banyak macamnya, yaitu : a. Rumah sakit umum

Rumah sakit yang dijalankan organisasi National Health Service di Inggris. Melayani hampir seluruh penyakit umum, dan biasanya memiliki institusi perawatan darurat yang siaga 24 jam (ruang gawat darurat) untuk mengatasi bahaya dalam waktu secepatnya dan memberikan pertolongan pertama. Rumah sakit umum biasanya merupakan fasilitas yang mudah ditemui di suatu negara, dengan kapasitas rawat inap sangat besar untuk perawatan intensif ataupun jangka panjang. Rumah sakit jenis ini juga dilengkapi dengan fasilitas bedah, bedah plastik, ruang bersalin, laboratorium, dan sebagainya. Tetapi kelengkapan fasilitas ini bisa saja bervariasi sesuai kemampuan penyelenggaranya. Rumah sakit yang sangat besar sering disebut Medical Center (pusat kesehatan), biasanya melayani seluruh pengobatan modern. Sebagian besar rumah sakit di Indonesia juga membuka pelayanan kesehatan tanpa menginap (rawat jalan) bagi masyarakat umum (klinik). Biasanya terdapat beberapa klinik/poliklinik di dalam suatu rumah sakit. b. Rumah sakit terspesialisasi

Jenis ini mencakup trauma center, rumah sakit anak, rumah sakit manula, atau rumah sakit yang melayani kepentingan khusus seperti psychiatric (psychiatric hospital), penyakit pernapasan, dan lainlain Rumah sakit bisa terdiri atas gabungan atau pun hanya satu bangunan. Kebanyakan mempunyai afiliasi dengan universitas atau pusat riset medis tertentu. Kebanyakan rumah sakit di dunia didirikan dengan tujuan nirlaba. c. Rumah sakit penelitian/pendidikan

Rumah sakit penelitian/pendidikan adalah rumah sakit umum yang terkait dengan kegiatan penelitian dan pendidikan di fakultas kedokteran pada suatu universitas/lembaga pendidikan tinggi. Biasanya rumah sakit ini dipakai untuk pelatihan dokter-dokter muda, uji coba berbagai macam obat baru atau

teknik pengobatan baru. Rumah sakit ini diselenggarakan oleh pihak universitas/perguruan tinggi sebagai salah satu wujud pengabdian masyararakat / Tri Dharma perguruan tinggi. d. Rumah sakit lembaga/perusahaan

Rumah sakit yang didirikan oleh suatu lembaga/perusahaan untuk melayani pasien-pasien yang merupakan anggota lembaga tersebut/karyawan perusahaan tersebut. Alasan pendirian bisa karena penyakit yang berkaitan dengan kegiatan lembaga tersebut (misalnya rumah sakit militer, lapangan udara), bentuk jaminan sosial/pengobatan gratis bagi karyawan, atau karena letak/lokasi perusahaan yang terpencil/jauh dari rumah sakit umum. Biasanya rumah sakit lembaga/perusahaan di Indonesia juga menerima pasien umum dan menyediakan ruang gawat darurat untuk masyarakat umum (Ensiklopedia bebas, http:// http://id.wikipedia.org diakses tanggal 12 Januari 2010). 3. Fungsi Rumah Sakit Dalam Permenkes RI No. 159 B/Menkes/Per/1988 fungsi rumah sakit adalah menyediakan dan menyelenggarakan : a. Pelayanan medik b. Pelayanan penunjang medik c. Pelayanan rehabilitatif d. Pencegahan dan peningkatan kesehatan e. Sebagai tempat pendidikan dan pelatihan tenaga medik 4. Tipe Tipe Rumah Sakit Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 031 /tahun 1972 rumah sakit di klasifikasikan atas beberapa tingkatan, yaitu : a. Rumah Sakit Type A Rumah sakit dimana ada pelayanan spesialis, serta pelayanannya adalah tingkat nasional dan selain tempat pelayanan kesehatan, juga digunakan untuk mendidik dokter spesialis. b. Rumah Sakit Type B Rumah sakit dimana ada pelayanan spesialis luas minimal 12 spesialis, scope pelayanan adalah tingkat propinsi dan selain pelayanan kesehatan juga digunakan untuk pendidikan dokter umum. c. Rumah Sakit Type C Rumah sakit yang melaksanakan paling sedikit 4 spesialis, yaitu penyakit dalam, kesehatan anak, badan, kebudayaan, scope pelayanannya adalah tingkat kabupaten.

d. Rumah Sakit Type D Rumah sakit dimana ada pelaksanaannya pelayanan kesehatan yang bersifat umum. e. Rumah Sakit Type E Rumah sakit khusus baik dari penderita maupun penyakitnya dengan scope pelayanannya pada wilayah tertentu tergantung banyaknya penderita dan penyakitnya : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Rumah sakit kanker Rumah sakit jiwa Rumah sakit mata Rumah sakit kusta Rumah sakit paru-paru Rumah sakit bersalin B. Tinjauan Umum Pengaruh Limbah Rumah Sakit terhadap Lingkungan dan Kesehatan Pengaruh limbah rumah sakit terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan dapat menimbulkan berbagai masalah seperti : 1. Gangguan kenyamanan dan estetika

Ini berupa warna yang berasal dari sedimen, larutan, bau phenol, eutrofikasi dan rasa dari bahan kimia organik. 2. Kerusakan harta benda

Dapat disebabkan oleh garam garam yang terlarut (korosif,karat), air yang berlumpur dan sebagainya yang dapat menurunkan kualitas bangunan disekitar rumah sakit 3. Gangguan/kerusakan tanaman dan binatang

Ini dapat dapat disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, virus, senyawa senyawa kimia, pestisida, serta logam seperti Hg, Pb, dan Cd yang berasal dari bagian kedokteran gigi. 4. Gangguan genetik dan reproduksi

Meskipun mekanisme gangguan belum sepenuhnya diketahui secara pasti, namun beberapa senyawa dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan genetik dan sistem reproduksi manusia misalnya pestisida, bahan radioaktif (Wisaksono, http://www.kalbe.co.id diakses tanggal 16 Januari 2010).

Ada beberapa kelompok masyarakat yang mempunyai resiko untuk mendapat gangguan karena buangan rumah sakit. Pertama pasien yang datang ke rumah sakit untuk memperoleh pertolongan pengobatan dan perawatan Rumah sakit. Kelompok ini merupakan kelompok yang paling rentan kedua, karyawan rumah sakit dalam melaksanakan tugas sehari harinya selalu kontak dengan orang sakit yang merupakan sumber agen penyakit. Ketiga, pengunjung / pengantar orang sakit yang besar. Keempat, masyarakat yang bermukim di sekitar Rumah sakit, lebih lebih lagi bila rumah sakit membuang hasil buangan rumah sakit tidak sebagaimana mestinya kelingkungan sekitarnya. Akibatnya adalah mutu lingkungan menjadi turun kualitasnya, dengan akibat lanjutannya adalah menurunnya derajat melaksanakan pengelolaan buangan rumah sakit yang baik dan benar dengan melaksanakan kegiatan sanitasi rumah sakit (Arifin, http://www.pontianakpost.com diakses tanggal 14 Januari 2010). Membahas dampak limbah secara khusus berdasarkan limbah yang dihasilkan. a. Bahaya Limbah Infeksius dan Benda Tajam Limbah infeksius dapat mengandung berbagai macam mikroorganisme patogen. Patogen tersbut dapat memasuki tubuh manusia melalui beberapa jalur : 1) 2) 3) 4) Akibat tusukan, lecet, atau luka di kulit Melalui membran mukosa Melalui pernapasan Melalui ingesti

Kekhawatiran muncul terutama terhadap HIV serta virus hepatitis B dan C karena ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa virus tersebut ditularkan melalui limbah layanan kesehatan. Penularan umumnya terjadi melalui cedera dan jarum spuit yang terkontaminasi darah manusia. b. Bahaya Limbah Kimia dan farmasi Banyak zat kimia dan bahan farmasi berbahaya digunakan dalam layanan kesehatan (misalnya zat yang bersifat toksik, genotoksik, korosif, mudah terbakar, reaktif, mudah meledak, atau yang sensitif terhadap guncangan). Kuantitas zat tersebut umumnya rendah di dalam limbah layanan kesehatan, kuantitas yang lebih besar dalam limbah umumnya ditemukan jika instansi membuang zat kimia atau bahan farmasi yang sudah tidak terpakai lagi atau sudah kadaluarsa. Kandungan zat itu di dalam limbah dapat menyebabkan intoksikasi atau keracunan, baik akibat pajanan secara akut maupun kronis dan cedera, termasuk luka bakar. c. Bahaya Limbah Genotoksik Pajanan terhadap zat genotoksik di lingkungan layanan kesehatan juga dapat terjadi selama masa persiapan atau selama terapi yang menggunakan obat atau zat tertentu. Jalur pajanan utama adalah dengan menghirup debu atau aerosol, absorbsi melalui kulit, tanpa sengaja menelan makanan yang terkontaminasi obat obatan sitotoksik, zat kimia, atau limbah, dan kebiasaan buruk saat makan,

misalnya menyedot makanan. Pajanan juga dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dan sekret tubuh pasien yang menjalani kemoterapi. d. Bahaya Limbah Radioaktif Jenis penyakit yang disebabkan limbah radioaktif bergantung pada jenis dan intensitas pajanan. Kesakitan yang muncul dapat berupa sakit kepala, pusing, dan muntah sampai masalah lain yang lebih serius. Karena limbah radioakti, seperti halnya limbah bahan farmasi, bersifat genotoksik, maka efeknya juga dapat mengenai materi genetik. Penanganan sumber yang sangat aktif, misalnya terhadap sumber tertutup dalam instrumen diagnostik, dapat menyebabkan cedera yang jauh lebih parah (misalnya kerusakan jaringan, keharusan untuk mengamputasi bagian tubuh) dan karenannya harus dilakukan dengan sangat hati hati. e. Sensivitas publik Selain rasa takut akan dampak kesehatan yang mungkin muncul, masyarakat juga sangat sensitif terhadap dampak visual limbah anatomi, bagian-bagian tubuh yang dapat dikenali, termasuk janin (A.Pruss, 2005).

C. Tinjauan Umum tentang Pengelolaan Sampah Di Rumah Sakit 1. Dasar Pengelolaan Sampah Pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas atau radioaktif dengan metoda dan keahlain khusus untuk masing masing jenis zat (Ensiklopedia bebas, http:// http://id.wikipedia.org diakses tanggal 12 Januari 2010).

2. Sampah Medis di Rumah Sakit a. Pengertian Sampah Rumah Sakit : Menurut WHO memberikan pengertian bahwa sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Sampah adalah limbah padat yang dibuang dari aktivitas manusia (Madelan, 2003). Sampah dan limbah rumah sakit adalah semua sampah dan limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya (Wisaksono, http://www.kalbe.co.id diakses tanggal 16 Januari 2010).

Kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah (Jefrihutagalung, http://jefrihutagalung.wordpress.com diakses tanggal 16 Januari 2010). b. Sumber dan karakteristik limbah rumah sakit Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang berbentuk padat maupun cair yang berasal dari kegiatan Rumah Sakit baik kegiatan medis maupun nonmedis yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun, dan radioaktif. Apabila tidak ditangani dengan baik, limbah rumah sakit dapat menimbulkan masalah baik dari aspek pelayanan maupun estetika selain dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan menjadi sumber penularan penyakit (infeksi nosokomial). Adapun jenis limbah yang dihasilkan dari Rumah Sakit dapat dibagi menjadi dua, seperti : 1) Limbah Medis (a) (b) (c) Padat Cair Radioaktif

2) Limbah non medis (a) (b) Padat cair

Limbah padat Medis adalah limbah yang langsung dihasilkan dari tindakan diagnosis dan tindakan medis terhadap pasien. Termasuk dalam kegiatan tersebut juga kegiatan medis di ruang Poliklinik, perawatan, bedah, kebidanan, otopsi, dan ruang laboraturium. Limbah padat medis juga sering disebut sebagai sampah biologis. Sampah biologis terdiri dari : 1. Sampah medis yang dihasilkan dari ruang poliklinik, ruang perawatan, ruang bedah, atau ruang kebidanan seperti, misalnya perban, kasa, alat injeksi, ampul, dan botol bekas obat injeksi, kateter, swab, plester, masker, dan sebagainya. 2. Sampah patologis yang dihasilkan dari ruang poliklinik, bedah, kebidanan, atau ruang otopsi, misalnya plasenta, jaringan organ, anggota badan, dan sebagainya. 3. Sampah laboraturium yang dihasilkan dari pemeriksaan lab. Diagnostik atau penelitian, misalnya, sediaan atau media sample dan bangkai binatang percobaan. Limbah padat nonmedis adalah semua sampah padat diluar sampah padat medis yang dihasilkan dari berbagai kegiatan, seperti berikut :

a. b. c. d. e. f. g.

Kantor atau Administrasi Unit Perlengkapan Ruang Tunggu Ruang Inap Unit gizi atau dapur Halaman Parkir dan taman Unit Pelayanan

Sampah yang dihasilkan dapat berupa kertas, karton, kaleng, botol sisa makanan, sisa kemasan, kayu, logam, daun, serta ranting, dan sebagainya. Limbah cair medis adalah limbah cair yang mengandung zat beracun, seperti bahan bahan kimia anorganik. Zat zat organik yang berasal dari air bilasan ruang bedah dan otopsi apabila tidak dikelola dengan baik, atau langsung dibuang ke saluran pembuangan umum akan sangat berbahaya dan dapat menimbulkan bau yang tidak sedap serta mencemari lingkungan. Limbah Cair Nonmedis merupakan limbah rumah sakit yang berupa : 1. Kotoran manusia seperti tinjan dan air kemih yang berasal dari kloset dan peturasan di dalam toilet atau kamar mandi. 2. Air bekas cucian yang berasal dari lavatory, kitchen sink, atau floor drain dari ruangan-ruangan di rumah sakit (Chandra, 2006). Adapun limbah klinis dikategorikan menjadi 5 golongan sebagai berikut : a. Golongan A : 1) Dreesing Bedah, swab dan semua limbah terkontaminasi dari kamar bedah 2) Bahan Bahan kimia dari kasus penyakit infeksi 3) Seluruh jaringan tubuh manusia (terinfeksi maupun tidak), bangkai/jaringan hewan dari laboraturium dan hal - hal lain yang berkaitan dengan swab dan dreesing. b. Golongan B :

Syringe bekas, jarum, cartridge, pecahan gelas dan benda benda tajam lainnya

c.

Golongan C :

Limbah dari ruangan Laboraturium dan Postpartum kecuali yang termasuk dalam Golongan A d. Golongan D :

Limbah bahan kimia dan bahan bahan farmasi tertentu. e. Golongan E :

Pelapis bed-pan disposable, urinoir, incontinence-pad, dan stomach (Wisaksono, http://www.kalbe.co.id diakses tanggal 16 Januari 2010). c. Pengelolaan Limbah Di Rumah Sakit Pengelolaan limbah Rumah Sakit harus dilakukan dengan benar dan efektif dan memenuhi persyaratan sanitasi. Adapun persyaratan sanitasi yang harus dipenuhi, antara lain : 1) 2) 3) Limbah tidak boleh mencemari tanah, air permukaan, atau air tanah, dan juga udara Limbah tidak boleh dihinggapi lalat, tikus, dan binatang lainnya Limbah tidak menimbulkan bau busuk dan pemandangannya yang tidak baik.

4) Limbah cair yang beracun harus dipisahkan dari limbah cair lain dan harus memiliki tempat penampungannya sendiri (Chandra, 2007).

D. Tinjauan Umum tentang Pemilahan Secara umum Pemilahan adalah proses pemisahan Limbah dari sumbernya, dalam PERMENKES 1204/MENKES/SK/X/2004 menjelaskan bahwa pemilahan jenis limbah medis padat mulai dari sumber yang terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat (Departemen Kesehatan RI, http://www.jasamedivest.com diakses tanggal 14 Januari 2010). E. Tinjauan Umum tentang Pewadahan Secara umum pewadahan sampah merupakan kegiatan menampung sampah sebelum sampah dikumpulkan dan dikelola lebih lanjut. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam pewadahan sampah, yaitu : 1. 2. Awet Tahan air

3. 4. 5. 6.

Mudah diperbaiki Ekonomis Ringan Warna tidak mencolok

Untuk lokasi wadah harus diusahakan di tempat tempat yang mudah dijangkau. (Jefrihutagalung, http://jefrihutagalung.wordpress.com diakses tanggal 16 Januari 2010). Khusus limbah medis rumah sakit, syarat pewadahan menurut PERMENKES 1204/MENKES/SK/X/2004 adalah : Memenuhi syarat jika : a. Tempat sampah anti bocor dan anti tusuk b. Memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang c. Sampah medis padat yang akan dimanfaatkan harus melalui Sterilisasi. d. Pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer) : 1) 2) 3) 4) Sampah radioaktif menggunakan warna merah Sampah sangat infeksius menggunakan warna kuning Sampah/limbah infeksius, patologi dan anatomi menggunakan warna kuning Sampah sitotoksis menggunakan warna ungu

5) Sampah/limbah kimia dan farmasi menggunakan warna cokelat Departemen Kesehatan RI, http://www.jasamedivest.com diakses tanggal 14 Januari 2010. F. Tinjauan Umum tentang Pengumpulan. Pengumpulan sampah merupakan proses pengambilan sampah yang dimulai dari tempat penampungan sampah dari sumber sampah ketempat pengumpulan sementara atau langsung ketempat pembuangan akhir. Pengambilan sampah semakin sering akan semakin baik hanya saja bianya tidaklah sedikit dan tidak efektif serta efesien (Jefrihutagalung, http://jefrihutagalung.wordpress.com diakses tanggal 16 Januari 2010). Limbah jangan sampai menumpuk di satu titik pengumpulan. Program rutin untuk pengumpulannya harus ditetapkan sebagai bagian dari rencana pengelolaan limbah layanan kesehatan. Berikut beberapa rekomendasi khusus yang harus dipatuhi oleh tenaga pendukung yang bertugas mengumpulkan limbah:

1. Limbah harus dikumpulkan setiap hari (atau sesuai frekuensi yang ditetapkan) dan diangkut ke pusat lokasi penampungan yang ditentukan. 2. Jangan memindahkan satu kantong limbah pun kecuali labelnya memuat keterangan lokasi produksi (rumah sakit dan bangsal atau bagian-bagiannya) dan isinya. 3. Kantong dan kontainer harus diganti segera dengan kantong dan kontainer baru dari jenis yang sama (A.Pruss, 2005). Pengumpulan dan penyimpanan limbah media padat di lingkungan rumah sakit, yaitu : a. Pengumpulan limbah medis padat dari setiap ruangan penghasil limbah menggunakan troli khusus yang tertutup. b. Penyimpanan limbah medis padat harus sesuai iklim tropis yaitu pada musim hujan paling lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam (Departemen Kesehatan RI, http://www.jasamedivest.com diakses tanggal 14 Januari 2010). G. Tinjauan Umum tentang Pengangkutan Kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga : 1. Permukaaan harus licin, rata, dan tidak tembus 2. Tidak akan menjadi sarang serangga 3. Mudah dibersihkan dan dikeringkan 4. Sampah tidak menempel pada alat angkut 5. Sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali Bila tidak tersedia sarana setempat dan sampah klinis harus diangkut ketempat lain : a. Harus disediakan bak terpisah dari sampah biasa dalam alat truk pengankut. Dan harus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi sampah lain yang dibawa. b. Harus dapat dijamin bahwa sampah dalam keadaan aman dan tidak terjadi kebocoran atau tumpah (Wisaksono, http://www.kalbe.co.id diakses tanggal 16 Januari 2010). H. Tinjauan Umum tentang Pembuangan dengan Penanganan

Secara umum dalam tahap pembuangan dan pemusnahan menurut terdapat metode yang dapat digunakan antara lain : 1. Sanitari Landfill yaitu sistem pemusnahan yang paling baik. Dalam metode ini, pemusnahan sampah dilakukan dengan cara menimbun sampah dengan tanah yang dilakukan selapis demi selapis.

2. Inceneration yaitu suatu metode pemusnahan sampah dengan cara membakar sampah secara besar besaran dengan menggunakan fasilitas pabrik. 3. Composting yaitu pemusnahan sampah dengan cara memanfaatkan proses dekomposisi zat organik oleh kuman kuman pembusuk pada kondisi tertentu. 4. Hot feeding yaitu pemberian sejenis garbage kepada hewan ternak (misalnya babi). Tapi perlu diingat bahwa sampah basah tersebut harus dilolah lebih dahulu (dimasak atau direbus) untuk mencegah penularan penyakit cacing dan trichinosis kehewan ternak. 5. Discharge to sewers yaitu sampah dihaluskan kemudian dimasukkan kedalam sistem pembuangan air limbah memang baik. 6. Dumping yaitu sampah dibuang atau diletakkan begitu saja di tanah lapangan, jurang, atau tempat sampah. 7. Dumping in water yaitu sampah dibuang kedalam air sungai atau laut. Akibatnya, terjadi pencemaran pad air dan pendangkalan yang dapat menimbulkan bahaya banjir. 8. Individual inceneration yaitu pembakaran sampah secara perorangan ini biasa dilakukan dipedesaan. 9. Recycling yaitu pengolahan kembali bagian bagian sampah yang masih dapat dipakai atau daur ulang. Contoh bagian sampah yang dapat didaur ulang, antara lain, plastik,gelas,kaleng,besi, dan sebagainya. 10. Reduction, metode ini diterapkan dengan cara menghancurkan sampah (biasanya dari jenis gerbage) sampai kebentuk yang lebih kecil, kemudian diolah untuk menghasilkan lemak. 11. Salvaging yaitu pemanfaatan sampah yang dapat dipakai kembali misalnya kertas bekas. Bahayanya adalah bahwa metode ini dapat menularkan penyakit (Chandra, 2007). Tapi penganjuran untuk pemusnahan sampah medis yaitu : a. Tidak membuang langsung ketempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan. b. Menggunakan Insenerator

c. Menggunakan otoklaf (Departemen Kesehatan RI, http://www.jasamedivest.com diakses tanggal 14 Januari 2010). I. Tinjauan Umum tentang Tenaga Pengelola Limbah di Rumah Sakit Petugas pengelola limbah (PPL) bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan dan pemantauan harian terhadap sistem pengelolaan limbah. Dengan demikian, ia harus memiliki askes langsung ke semua anggota staf rumah sakit. PPL bertanggung jawab langsung kepada direktur rumah sakit. Ia harus

bekerja sama dengan petugas pengontrol infeksi, kepala bagian farmasi, dan teknisi radiologi agar memahami prosedur yang didalam penanganan dan pembuangan limbah patologi, farmasi, kimia, dan limbah radioaktif.

Adapun peran dan fungsi seorang sanitarian adalah : 1. a. Berperan sebagai tenaga pelaksana kegiatan kesehatan lingkungan, dengan fungsi: Menentukan komponen lingkungan yang mempengaruhi kesehatan lingkungan

b. Melaksanakan pemeriksaan dan pengukuran komponen lingkungan secara tepat berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan c. Menginformasikan hasil pemeriksaan/pengukuran.

2. Berperan sebagai tenaga pengelola kesehatan lingkungan, dengan fungsi: a. Menganalisis hasil pengukuran komponen lingkungan yang mempengaruhi kesehatan lingkungan

b. Merancang dan merekayasa intervensi masalah lingkungan yang mempengaruhi kesehatan manusia. c. d. e. Mengintervensi hasil pengukuran komponen lingkungan yang mempengaruhi kesehatan manusia Mengorganisir intervensi masalah komponen lingkungan Mengevaluasi hasil intervensi masalah komponen lingkungan

3. Berperan sebagai tenaga pengajar, pelatih dan penyuluh kesehatan lingkungan, dengan fungsi: a. Menginventarisasi pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang kesehatan lingkungan

b. Menetapkan masalah kesehatan lingkungan yang perlu diintervensi dari aspek pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat c. Merencanakan bentuk intervensi terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang kesehatan lingkungan d. Melaksanakan intervensi terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan kaidah kesehatan lingkungan e. Mengevaluasi hasil intervensi.

4. Berperan sebagai tenaga peneliti kesehatan lingkungan dengan fungsi: a. Menentukan masalah kesehatan lingkungan

b. Melaksanakan penelitian teknologi tepat guna bidang kesehatan lingkungan (Poltekes Depkes Pontianak Jurusan Kesling, http://kesling.poltekkes-pontianak.org diakses tanggal 16 Januari 2010). Adapun kualifikasi tenaga kesehatan lingkungan di rumah sakit menurut yakni : 1) Penanggung jawab kesehatan lingkungan di rumah sakit kelas A dan B (rumah sakit pemerintah) dan yang setingkat adalah seorang tenaga yang memiliki kualifikasi sanitarian serendah-rendahnya berijazah sarjana (S1) di bidang kesehatan lingkungan, teknik lingkungan, biologi, teknik kimia, dan teknik sipil. 2) Penanggung jawab kesehatan lingkungan di rumah sakit kelas C dan D (rumah sakit pemerintah) dan yang setingkat adalah seorang tenaga yang memiliki kualifikasi sanitarian serendah-rendahnya berijazah diploma (D3) di bidang kesehatan lingkungan. 3) Rumah sakit pemerintah maupun swasta yang sebagian kegiatan kesehatan lingkungannya dilaksanakan oleh pihak ketiga, maka tenaganya harus berpendidikan sanitarian dan telah megikuti pelatihan khusus di bidang kesehatan lingkungan rumah sakit yang diselenggarakan oleh pemerintah atau badan lain sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. 4) Tenaga sebagaimana dimaksud pada butir 1 dan 2, diusahaan mengikuti pelatihan khusus di bdaing kesehatan lingkungan rumah sakit yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pihak lain terkait sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Departemen Kesehatan, http://www.jasamedivest.com diakses tanggal 14 Januari 2010).

BAB III KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran Variabel Yang diteliti Sampah merupakan konsekuensi langsung dari kehidupan sehingga dapat dikatakan sampah timbul sejak adanya kehidupan manusia. Timbulnya bersamaan dengan aktivitas manusia mulai dari usaha penambahan/ pengambilan sumber daya alam sebagai bahan baku sampai menjadi bahan siap pakai.

Bahan setengah jadi untuk suatu barang, dan aktivitas jasa dalam mengkomsumsi barang barang, tersebut untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. Salah satu instansi yang memiliki peluang besar dalam menghasilkan limbah khususnya limbah adalah rumah sakit di mana menghasilkan sampah medis dan non medis. Sampah medis akan berpengaruh secara tidak langsung terhadap timbulnya suatu penyakit infeksi nosokomial apabila tidak dikoordinis sedini mungkin mulai dari laju timbulnya sampai pemusnahannya. Aktivitas di rumah sakit dalam memberikan pelayanan baik untuk rawat jalan maupun rawat inap akan berpengaruh terhadap besarnya laju timbulnya sampah komposisi dan karateristik sampah yang dihasilkan sehingga hal tersebut mempengaruhi sistem pengolahannya (Ernawati, 2003)

B.

Bagan Kerangka Konsep

SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS

PEMILAHAN PEWADAHAN

PEWADAHAN PEWADAHAN

PENGUMPULAN PEWADAHAN

KESMAS

TENAGA PENGELOLA

PENGANGKUTAN PEWADAHAN

PENANGANAN

Keterangan : : ---------------- : C. Definisi Operasional a. Sistem Pengelolaan Sampah Medis Sistem Pengelolaan Sampah Medis adalah Metode atau cara dalam mengolah sampah medis atau sampah berbahaya. Variabel yang diteliti Variabel yang tidak diteliti

b. Pemilahan Pemilahan adalah proses pemisahan sampah medis dan non medis yang mempunyai tempat khusus masing masing jenis sampah. c. Pewadahan Pewadahan adalah tempat menampung sampah medis sebelum sampah dikumpulkan dan dikelola lebih lanjut. Dengan syarat tempat sampah anti bocor dan anti tusuk , memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang, sampah medis padat yang akan dimanfaatkan harus melalui strelisasi, dan pewadahan harus menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer). d. Pengumpulan Pengumpulan adalah proses pengambilan sampah medis yang dimulai dari tempat penampungan sampah. Pengumpulan limbah medis padat dari setiap ruangan penghasil limbah menggunakan troli khusus yang tertutup, penyimpanan limbah medis padat harus sesuai iklim tropis yakni pada musim hujan paling lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam. e. Pengangkutan Pengangkutan adalah kegiatan yang dilakukan jika proses pengumpulan telah dilakukan. Syarat alat angkut yang harus dipenuhi berupa permukaan harus licin, rata , dan tidak tembus, tidak akan menjadi sarang serangga, mudah dibersihkan, dan dikeringkan, sampah tidak menempel pada alat angkut, mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali. f. Penanganan Penanganan adalah metode atau cara yang digunakan untuk meminimalisir atau menghilangkan Sampah Medis yang dihasilkan oleh Rumah Sakit. Dengan cara tidak membuang langsung ketempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan, menggunakan insenerator, dan menggunakan otoklaf. g. Tenaga Pengelola Tenaga pengelola adalah tenaga yang mengamati, mengawasi, dan mengelola sampah medis di sebuah rumah sakit. Penanggung jawab kesehatan lingkungan di rumah sakit kelas C dan D (dirumah sakit pemerintah) dan yang setingkat adalah seorang tenaga yang memiliki kualifikasi sanitarian serendah rendahnya berijazah diploma (D3) dibidang kesehatan lingkungan.

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasi dengan pendekatan deskriptif, yakni menggambarkan variabel yang di sajikan berdasarkan tujuan penelitian kemudian di sajikan secara deskriptif. B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah meliputi Semua ruangan medis yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru 2. Sampel

Pengambilan sampel menggunakan sistem total sampel (Exhaustic sampling). Sampel dalam penelitian ini adalah semua ruangan yang termasuk dalam kategori ruangan medis : Unit Gawat darurat (UGD), Radiologi, Ruangan Bedah/operasi, Laboraturium, Fisioterapi, dan perawatan.

3. Informan adalah : a. Kepala Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru

b. Tenaga Sanitarian c. Tenaga Kebersihan D. Pengumpulan Data 1. Data Primer

Data primer di ambil pada saat melakukan observasi langsung dengan dibantu daftar pertanyaan kuesioner survei pengelolaan limbah rumah sakit. 2. Data Sekunder

Data sekunder di peroleh dari Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru E. Pengolahan Data

Data yang diperoleh dengan menggunakan Pedoman wawancara, lembar observasi, dan lembar survey akan diolah dengan cara manual dengan bantuan komputer dan disajikan dalam bentuk distribusi di lengkapi dengan narasi.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Peneilitian ini dilaksanakan di Rumah Umum Daerah Kabupaten Barru pada tanggal 23 maret 15 April 2010 dengan menggunakan kuesioner survey, maka keadaan sistem pengelolaan sampah medis di Rumah Sakit tersebut digambarkan sebagai berikut : 1. a. Ruang UGD Pemilahan

Tidak terjadi pemilahan antara sampah medis dan non medis dimana tempat sampah yang telah tersedia tidak difungsikan sesuai dengan fungsinya sebagai tempat sampah medis dan non medis. ini dikarenakan perilaku petugas kesehatan yang seenaknya dalam membuang sampah dan perilaku tenaga pengumpul sampah yang langsung mencampur segala jenis sampah yang dihasilkan oleh ruangan UDG, ini dikarenakan pengetahuan petugas kesehatan dan tenaga pengumpul sampah yang masih kurang. b. Pewadahan

Pewadahan sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, jumlah tempat sampah yang berada diruangan UGD sebanyak 3 Buah, dan semuanya tidak memenuhi syarat kesehatan, yang dimana syarat kesehatan syarat pewadahan menurut PERMENKES 1204/MENKES/SK/X/2004 adalah : Memenuhi syarat jika : a. Tempat sampah anti bocor dan anti tusuk b. Memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang c. Sampah medis padat yang akan dimanfaatkan harus melalui Sterilisasi. d. Pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer) : a. b. c. d. e. Sampah radioaktif menggunakan warna merah Sampah sangat infeksius menggunakan warna kuning Sampah/limbah infeksius, patologi dan anatomi menggunakan warna kuning Sampah sitotoksis menggunakan warna ungu Sampah/limbah kimia dan farmasi menggunakan warna cokelat

Tetapi yang terjadi adalah tempat sampah medis yang berada diruangan Unit Gawat Darurat mudah dibuka, tidak tertutup rapat dan tulisan/tanda untuk tiap - tiap tempat sampah sudah pudar sehingga sulit untuk mengetahui masing masing fungsi dari tempat sampah, dan tidak adanya Pelabelan (warna tiap kantong palstik/kontainer). Adapun jenis sampah medis yang dihasilkan diruangan UGD ini berupa sampah infeksius berupa kapas, kantong impus, dan Perban, Benda tajam berupa jarum suntik, peralatan infus, dan pisau. Dan sampah kimiawi. c. Pengumpulan

Pengumpulan sampah medis sesuai dengan syarat kesehatan, dimana pengumpulan sampah dikumpulkan setiap hari dalam kurung waktu 1 x 24 jam, dan sampah dikumpulkan jika pada tempat sampah sudah penuh dengan sampah yang dihasilkan oleh ruangan UGD. Dengan rata rata jumlah berat sampah yang dihasilkan setiap harinya 45 Kg/ hari d. Pengangkutan

Alat angkut yang digunakan untuk sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, yang sesuai dengan syarat kesehatan yakni Kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga : 1. 2. 3. 4. 5. Permukaaan harus licin, rata, dan tidak tembus Tidak akan menjadi sarang serangga Mudah dibersihkan dan dikeringkan Sampah tidak menempel pada alat angkut Sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali Bila tidak tersedia sarana setempat dan sampah klinis harus diangkut ketempat lain : a. Harus disediakan bak terpisah dari sampah biasa dalam alat truk pengankut. Dan harus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi sampah lain yang dibawa. b. Harus dapat dijamin bahwa sampah dalam keadaan aman dan tidak terjadi kebocoran atau tumpah dimana Tetapi yang terjadi diruangan UGD adalah alat angkut sampah untuk menuju ke tempat pembuangan sementara yakni tempat sampah yang berada di ruangan perawatan yang mempunyai roda, terkadang sampah menempel pada alat angkut tersebut,jarang dibersihkan, jarang dikeringkan, dan pengankutannya terkadang tempat sampah diangkat langsung sendiri oleh petugas kebersihan rumah sakit menuju ketempat pembuangan sementara, ini dikarenakan kurangnya pengetahuan pihak rumah sakit tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit. c. Penanganan

Penanganan sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, disebabkan sampah medis yang dihasilkan langsung diangkut ketempat pembuangan sementara dan tidak melalui proses sterilasi dengan menggunakan incenerator atau otoklaf sehingga tidak aman bagi kesehatan. Penanganan yang memenuhi syarat harus : a. Tidak membuang langsung ketempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan. b. c. d. Menggunakan Insenerator Menggunakan otoklaf Tenaga pengelola

Tenaga pengelola atau Sanitarian sudah memenuhi syarat yaitu sanitarian harus memiliki kualifikasi yang berijazah terakhir diploma (D3) dibidang kesehatan lingkungan. Dan Tenaga Pengelola atau sanitarian berjumlah 3 orang untuk semua ruangan medis. 2. a. Ruangan Radiologi Pemilahan

Tidak terjadi pemilahan antara sampah medis dan non medis, dimana jumlah tempat sampah yang berada di ruangan radiologi hanya 1 buah, sehingga sampah medis dan non medis bercampur. Ini dikarenakan kurangnya perhatian dari Kepala Rumah Sakit dan tenaga pengelola atau sanitarian untuk melihat langsung keadaan atau proses pemilahan sampah medis dan non medis di setiap ruangan medis. b. Pewadahan

Pewadahan sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan dimana tempat sampah yang hanya 1 buah diruangan tersebut mudah dibuka dan terkadang tidak tertutup dengan rapat, yang tidak sesuai syarat kesehatan yang ditetapkan dalam permenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 yaitu Memenuhi syarat jika : a. Tempat sampah anti bocor dan anti tusuk b. Memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang c. Sampah medis padat yang akan dimanfaatkan harus melalui Sterilisasi. d. Pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer) : a. b. c. d. e. c. Sampah radioaktif menggunakan warna merah Sampah sangat infeksius menggunakan warna kuning Sampah/limbah infeksius, patologi dan anatomi menggunakan warna kuning Sampah sitotoksis menggunakan warna ungu Sampah/limbah kimia dan farmasi menggunakan warna cokelat Pengumpulan

Pengumpulan sampah medis sesuai dengan syarat kesehatan, dimana pengumpulan sampah dikumpulkan setiap hari dalam kurung waktu 1 x 24 jam, dan sampah dikumpulkan jika pada tempat sampah sudah penuh dengan sampah yang dihasilkan oleh ruangan Radiologi. Adapun jenis sampah yang hasilkan adalah sampah kimiawi berupa film untuk rontgen. Dengan rata rata jumlah berat sampah yang dihasilkan setiap harinya 15 Kg/ hari d. Pengangkutan

Alat angkut yang digunakan untuk sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, yang sesuai dengan syarat kesehatan yakni Kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga : 1. 2. 3. 4. 5. Permukaaan harus licin, rata, dan tidak tembus Tidak akan menjadi sarang serangga Mudah dibersihkan dan dikeringkan Sampah tidak menempel pada alat angkut Sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali Bila tidak tersedia sarana setempat dan sampah klinis harus diangkut ketempat lain : a. Harus disediakan bak terpisah dari sampah biasa dalam alat truk pengankut. Dan harus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi sampah lain yang dibawa. b. Harus dapat dijamin bahwa sampah dalam keadaan aman dan tidak terjadi kebocoran atau tumpah dimana Tetapi yang terjadi diruangan UGD adalah alat angkut sampah untuk menuju ke tempat pembuangan sementara yakni tempat sampah yang berada di ruangan perawatan yang mempunyai roda, terkadang sampah menempel pada alat angkut tersebut,jarang dibersihkan, jarang dikeringkan, dan pengangkutannya terkadang tempat sampah diangkat langsung sendiri oleh petugas kebersihan rumah sakit menuju ketempat pembuangan sementara, ini dikarenakan kurangnya pengetahuan pihak rumah sakit tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit. e. Penanganan

Penanganan sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, disebabkan sampah medis yang dihasilkan langsung diangkut ketempat pembuangan sementara dan tidak melalui proses sterilasi dengan menggunakan incenerator atau otoklaf sehingga tidak aman bagi kesehatan. Penanganan yang memenuhi syarat harus : a. Tidak membuang langsung ketempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan. b. c. f. Menggunakan Insenerator Menggunakan otoklaf Tenaga Pengelola

Tenaga pengelola atau Sanitarian sudah memenuhi syarat yaitu sanitarian harus memiliki kualifikasi yang berijazah terakhir diploma (D3) dibidang kesehatan lingkungan. Dan Tenaga Pengelola atau sanitarian berjumlah 3 orang untuk semua ruangan medis.

3. a.

Ruangan bedah/operasi Pemilahan

Tidak terjadi pemilahan antara sampah medis dan non medis, dimana sampah medis dan non medis bercampur dalam 1 wadah tempat sampah, ini dikarenakan prilaku petugas kesehatan yang berada pada ruangan bedah/operasi sering membuang sampah seenaknya pada wadah yang tidak sesuai dengan fungsinya. ini di sebabkan kurangnya perhatian dari Kepala Rumah Sakit dan tenaga pengelola atau sanitarian untuk melihat langsung keadaan atau proses pemilahan sampah medis dan non medis di setiap ruangan medis. b. Pewadahan

Pewadahan sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, jenis sampah yang dihasilkan oleh ruangan Bedah/operasi ini adalah sampah patologis berupa darah dan jaringan tubuh pasien, sampah kimiawi, infeksius, dan benda tajam berupa pisau bedah, dll. Jumlah tempat sampah diruangan Bedah/operasi ini sebanyak 3 buah, dimana tempat sampah yang berada diruangan bedah/operasi sangat mudah untuk dibuka, dan terkadang penutup dari tempat sampah tersebut berpisah dari tempat sampah, dan tidak menggunakan label sesuai dengan permenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 , yaitu Memenuhi syarat jika :

a. Tempat sampah anti bocor dan anti tusuk b. Memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang c. Sampah medis padat yang akan dimanfaatkan harus melalui Sterilisasi. d. Pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer) : a. b. c. d. e. Sampah radioaktif menggunakan warna merah Sampah sangat infeksius menggunakan warna kuning Sampah/limbah infeksius, patologi dan anatomi menggunakan warna kuning Sampah sitotoksis menggunakan warna ungu Sampah/limbah kimia dan farmasi menggunakan warna cokelat

c.

Pengumpulan

Pengumpulan sampah medis sesuai dengan syarat kesehatan, dimana pengumpulan sampah dikumpulkan setiap hari dalam kurung waktu 1 x 24 jam, dan sampah dikumpulkan jika pada tempat sampah sudah penuh dengan sampah yang dihasilkan oleh ruangan bedah/operasi. Dengan rata rata jumlah berat sampah yang dihasilkan setiap harinya 35 Kg/ hari d. Pengangkutan

Alat angkut yang digunakan untuk sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, dimana alat angkut sampah untuk menuju ke tempat pembuangan sementara yakni tempat sampah yang berada di ruangan perawatan yang mempunyai roda, terkadang sampah menempel pada alat angkut tersebut,jarang dibersihkan, jarang dikeringkan, dan pengankutannya terkadang tempat sampah diangkat langsung sendiri oleh petugas kebersihan rumah sakit menuju ketempat pembuangan sementara rumah sakit. Dan yang seharusnya memenuhi syarat yakni Kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga : 1. 2. 3. 4. 5. Permukaaan harus licin, rata, dan tidak tembus Tidak akan menjadi sarang serangga Mudah dibersihkan dan dikeringkan Sampah tidak menempel pada alat angkut Sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali Bila tidak tersedia sarana setempat dan sampah klinis harus diangkut ketempat lain : a. Harus disediakan bak terpisah dari sampah biasa dalam alat truk pengankut. Dan harus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi sampah lain yang dibawa. b. Harus dapat dijamin bahwa sampah dalam keadaan aman dan tidak terjadi kebocoran atau tumpah dimana

e.

Penanganan

Penanganan sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, disebabkan sampah medis yang dihasilkan langsung diangkut ketempat pembuangan sementara dan tidak melalui proses sterilasi dengan menggunakan incenerator atau otoklaf sehingga tidak aman bagi kesehatan. Penanganan yang memenuhi syarat harus :

a. Tidak membuang langsung ketempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan. b. c. f. Menggunakan Insenerator Menggunakan otoklaf Tenaga Pengelola

Tenaga pengelola atau Sanitarian sudah memenuhi syarat yaitu sanitarian harus memiliki kualifikasi yang berijazah terakhir diploma (D3) dibidang kesehatan lingkungan. Dan Tenaga Pengelola atau sanitarian berjumlah 3 orang untuk semua ruangan medis. 4. a. Ruang Laboraturium Pemilahan

Tidak terjadi pemilahan antara sampah medis dan non medis, dimana laboraturium hanya mempunyai 1 tempat sampah sehingga sampah disatukan dalam 1 tempat sampah tersebut. sehingga sampah medis dan non medis bercampur. Ini dikarenakan kurangnya perhatian dari Kepala Rumah Sakit dan tenaga pengelola atau sanitarian untuk melihat langsung keadaan atau proses pemilahan sampah medis dan non medis di setiap ruangan medis. b. Pewadahan

Pewadahan sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, dimana tempat sampah pada ruangan laboraturium hanya mempunyai 1 buah tempat sampah, yang dimana semua sampah yang dihasilkan pada ruangan laboraturium baik medis maupun non medis dibuang pada 1 wadah saja, tanpa membedakan jenis sampah yang ada, adapun jenis sampah yang dihasilkan berupa Benda tajam yaitu pisau, dan Potongan kaca, dan limbah kimia, dan sediaan Farmasi yakni sisa sisa obat. tempat sampah yang berada diruangan laboraturium jarang diperhatikan oleh petugas kesehatan ini disebabkan laboraturium jarang untuk difungsikan. Syarat kesehatan untuk pewadahan sesuai dengan permenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 , yaitu Memenuhi syarat jika : a. Tempat sampah anti bocor dan anti tusuk b. Memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang c. Sampah medis padat yang akan dimanfaatkan harus melalui Sterilisasi. d. Pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer) : a. b. c. Sampah radioaktif menggunakan warna merah Sampah sangat infeksius menggunakan warna kuning Sampah/limbah infeksius, patologi dan anatomi menggunakan warna kuning

d. e. c.

Sampah sitotoksis menggunakan warna ungu Sampah/limbah kimia dan farmasi menggunakan warna cokelat Pengumpulan

Pengumpulan sampah medis sesuai dengan syarat kesehatan, dimana pengumpulan sampah dikumpulkan setiap hari dalam kurung waktu 1 x 24 jam, dan sampah dikumpulkan jika pada tempat sampah sudah penuh dengan sampah yang dihasilkan oleh ruangan laboraturium. Dengan rata rata jumlah berat sampah yang dihasilkan setiap harinya 10 Kg/ hari d. Pengangkutan

Alat angkut yang digunakan untuk sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, dimana alat angkut sampah untuk menuju ke tempat pembuangan sementara yakni tempat sampah yang berada di ruangan perawatan yang mempunyai roda, terkadang sampah menempel pada alat angkut tersebut,jarang dibersihkan, jarang dikeringkan, dan pengankutannya terkadang tempat sampah diangkat langsung sendiri oleh petugas kebersihan rumah sakit menuju ketempat pembuangan sementara rumah sakit. Yang seharusnya memenuhi syarat yakni Kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga : 1. 2. 3. 4. 5. Permukaaan harus licin, rata, dan tidak tembus Tidak akan menjadi sarang serangga Mudah dibersihkan dan dikeringkan Sampah tidak menempel pada alat angkut Sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali Bila tidak tersedia sarana setempat dan sampah klinis harus diangkut ketempat lain : a. Harus disediakan bak terpisah dari sampah biasa dalam alat truk pengankut. Dan harus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi sampah lain yang dibawa. b. Harus dapat dijamin bahwa sampah dalam keadaan aman dan tidak terjadi kebocoran atau tumpah dimana e. Penanganan

Penanganan sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, dimana sampah medis yang dihasilkan langsung diangkut ketempat pembuangan sementara dan tidak melalui proses sterilasi dengan menggunakan incenerator atau otoklaf sehingga tidak aman bagi kesehatan. Penanganan harus sesuai dengan syarat kesehatan yakni :

a. Tidak membuang langsung ketempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan. b. c. f. Menggunakan Insenerator Menggunakan otoklaf Tenaga Pengelola

Tenaga pengelola atau Sanitarian sudah memenuhi syarat yaitu sanitarian harus memiliki kualifikasi yang berijazah terakhir diploma (D3) dibidang kesehatan lingkungan. Dan Tenaga Pengelola atau sanitarian berjumlah 3 orang untuk semua ruangan medis. 5. a. Ruang Fisioterapi Pemilahan

Tidak terjadi pemilahan antara sampah medis dan non medis, dimana ruang fisioterapi hanya memiliki 1 tempat sampah yang dijadikan untuk menampung sampah yang dihasilkan tanpa memperhatikan jenis sampah yang dihasilkan oleh ruangan tersebut. Ini dikarenakan kurangnya perhatian dari Kepala Rumah Sakit dan tenaga pengelola atau sanitarian untuk melihat langsung keadaan atau proses pemilahan sampah medis dan non medis di setiap ruangan medis, ditambah dengan perilaku petugas kesehatan yang kurang memahami pentingnya pemisahan antara sampah medis dan non medis. b. Pewadahan

Pewadahan sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, dimana tempat sampah diruangan fisioterapi juga hampir sama dengan tempat sampah medis yang berada di ruangan medis lainnya, Seringnya tutup sampah terbuka dan mudah untuk dibuka orang, dan tidak menggunakan label sesuai dengan permenkes 1204/Menkes/SK/X/2004. Adapun syarat kesehatan menurut permenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 yaitu Memenuhi syarat jika : a. Tempat sampah anti bocor dan anti tusuk b. Memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang c. Sampah medis padat yang akan dimanfaatkan harus melalui Sterilisasi. d. Pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer) : a. b. c. d. Sampah radioaktif menggunakan warna merah Sampah sangat infeksius menggunakan warna kuning Sampah/limbah infeksius, patologi dan anatomi menggunakan warna kuning Sampah sitotoksis menggunakan warna ungu

e. c.

Sampah/limbah kimia dan farmasi menggunakan warna cokelat Pengumpulan

Pengumpulan sampah medis sesuai dengan syarat kesehatan, dimana pengumpulan sampah dikumpulkan setiap hari dalam kurung waktu 1 x 24 jam, dan sampah dikumpulkan jika pada tempat sampah sudah penuh dengan sampah yang dihasilkan oleh ruangan Fisioterapi. d. Pengangkutan

Alat angkut yang digunakan untuk sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, dimana alat angkut sampah untuk menuju ke tempat pembuangan sementara yakni tempat sampah yang berada di ruangan perawatan yang mempunyai roda, terkadang sampah menempel pada alat angkut tersebut,jarang dibersihkan, jarang dikeringkan, dan pengangkutannya terkadang tempat sampah diangkat langsung sendiri oleh petugas kebersihan rumah sakit menuju ketempat pembuangan sementara rumah sakit. Adapun yang disarankan menurut syarat kesehatan yaitu Kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga : 1. 2. 3. 4. 5. Permukaaan harus licin, rata, dan tidak tembus Tidak akan menjadi sarang serangga Mudah dibersihkan dan dikeringkan Sampah tidak menempel pada alat angkut Sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali Bila tidak tersedia sarana setempat dan sampah klinis harus diangkut ketempat lain : a. Harus disediakan bak terpisah dari sampah biasa dalam alat truk pengankut. Dan harus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi sampah lain yang dibawa. b. Harus dapat dijamin bahwa sampah dalam keadaan aman dan tidak terjadi kebocoran atau tumpah dimana e. Penanganan

Penanganan sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, dimana sampah medis yang dihasilkan langsung diangkut ketempat pembuangan sementara dan tidak melalui proses sterilasi dengan menggunakan incenerator atau otoklaf sehingga tidak aman bagi kesehatan. Penanganan harus sesuai dengan syarat kesehatan yakni : a. Tidak membuang langsung ketempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan. b. Menggunakan Insenerator

c. f.

Menggunakan otoklaf Tenaga Pengelola

Tenaga pengelola atau Sanitarian sudah memenuhi syarat yaitu sanitarian harus memiliki kualifikasi yang berijazah terakhir diploma (D3) dibidang kesehatan lingkungan. Dan Tenaga Pengelola atau sanitarian berjumlah 3 orang untuk semua ruangan medis. 6. a. Ruangan Perawatan Pemilahan

Tidak terjadi pemilahan antara sampah medis dan non medis, diaman ruangan hanya memiliki 1 tempat sampah yang berada diluar masing - masing ruangan perawatan yang dijadikan untuk menampung segala jenis sampah yang dihasilkan oleh ruangan perawatan. Adapun jenis sampah yang dihasilkan berupa sampah umum dan sampah medis , untuk sampah medis berupa sampah infeksius berupa kapas,perban dan sampah benda tajam berupa jarum suntik, peralatan infuse (kantong/botol infus). b. Pewadahan

Pewadahan sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, dimana tempat sampah yang berada ditiap ruangan perawatan terkadang tidak tertutup dengan rapat dan dan tidak menggunakan label sesuai dengan permenkes 1204/Menkes/SK/X/2004. Adapun syarat kesehatan menurut permenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 yaitu Memenuhi syarat jika a. Tempat sampah anti bocor dan anti tusuk b. Memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang c. Sampah medis padat yang akan dimanfaatkan harus melalui Sterilisasi. d. Pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer) : a. b. c. d. e. c. Sampah radioaktif menggunakan warna merah Sampah sangat infeksius menggunakan warna kuning Sampah/limbah infeksius, patologi dan anatomi menggunakan warna kuning Sampah sitotoksis menggunakan warna ungu Sampah/limbah kimia dan farmasi menggunakan warna cokelat Pengumpulan

Pengumpulan sampah medis sesuai dengan syarat kesehatan, dimana pengumpulan sampah dikumpulkan setiap hari yang dimulai pada pagi hari, dalam kurung waktu 1 x 24 jam, dan sampah

dikumpulkan jika pada tempat sampah sudah penuh dengan sampah yang dihasilkan oleh tiap tiap ruangan perawatan. d. Pengangkutan

Alat angkut yang digunakan untuk sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, dimana alat angkut sampah untuk menuju ke tempat pembuangan sementara yakni tempat sampah yang berada di ruangan perawatan ini yang mempunyai roda, terkadang sampah menempel pada alat angkut tersebut,jarang dibersihkan, jarang dikeringkan, dan pengankutannya terkadang tempat sampah diangkat langsung sendiri oleh petugas kebersihan rumah sakit menuju ketempat pembuangan sementara. Adapun yang disarankan menurut syarat kesehatan yaitu Kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga : 1. 2. 3. 4. 5. Permukaaan harus licin, rata, dan tidak tembus Tidak akan menjadi sarang serangga Mudah dibersihkan dan dikeringkan Sampah tidak menempel pada alat angkut Sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali Bila tidak tersedia sarana setempat dan sampah klinis harus diangkut ketempat lain : a. Harus disediakan bak terpisah dari sampah biasa dalam alat truk pengankut. Dan harus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi sampah lain yang dibawa. b. Harus dapat dijamin bahwa sampah dalam keadaan aman dan tidak terjadi kebocoran atau tumpah dimana e. Penanganan

Penanganan sampah medis tidak sesuai dengan syarat kesehatan, dimana sampah medis yang dihasilkan langsung diangkut ketempat pembuangan sementara dan tidak melalui proses sterilasi dengan menggunakan incenerator atau otoklaf sehingga tidak aman bagi kesehatan. Penanganan harus sesuai dengan syarat kesehatan yakni : a. Tidak membuang langsung ketempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan. b. c. f. Menggunakan Insenerator Menggunakan otoklaf Tenaga Pengelola

Tenaga pengelola atau Sanitarian sudah memenuhi syarat yaitu sanitarian harus memiliki kualifikasi yang berijazah terakhir diploma (D3) dibidang kesehatan lingkungan. Dan Tenaga Pengelola atau sanitarian berjumlah 3 orang untuk semua ruangan medis. B. 1. Pembahasan Pemilahan

Berdasarkan hasil penelitian bahwa tidak ada pemilahan antara Sampah medis dan Non medis, ini terlihat dari fungsi tempat sampah yang berada di setiap ruangan medis tidak berfungsi sesuai dengan fungsinya, sampah medis tercampur baur dengan jenis sampah lainnya, Sehingga pemilahan sampah medis dan non medis tidak terjadi, dan tidak sesuai dengan pengertian pemilahan dalam PERMENKES 1204/Menkes/SK/X/2004 yang menyebutkan bahwa secara umum pemilahan adalah proses pemisahan limbah dari sumbernya, pemilahan jenis limbah medis padat mulai dari sumber yang terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat. Ini dikarenakan prilaku petugas kesehatan itu sendiri yang secara umum kurang mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh sampah medis, dan fungsi dari masing masing tempat sampah yang seharusnya tersedia pada setiap ruangan medis. hal ini disebabkan karena rata rata petugas kesehatan yang berada di setiap ruangan medis belum memahami atau mengetahui fungsi dari pemilahan sampah medis dan non medis, dan juga disebabkan karena kurangnya perhatian dari pihak rumah sakit karena sanitarian atau tenaga pengelola jarang mengontrol kesetiap ruangan medis. 2. Pewadahan

Berdasarkan hasil penelitian bahwa wadah sampah medis yang berada di ruangan Unit Gawat Darurat (UGD), Radiologi, Ruangan bedah/operasi, Laboraturium, Fisioterapi, dan Ruangan perawatan bentuk pewadahannya tidak memenuhi kriteria syarat kesehatan yakni tempat sampah yang ada anti bocor dan anti tusuk , memiliki tutup, akan tetapi sangat mudah dibuka dan pewadahan tidak menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer), Dan pada awalnya pewadahan merata pada seluruh ruangan medis tetapi yang terjadi belakangan ini pewadahan sudah tidak merata pada seluruh ruangan medis ini dikarenakan perilaku petugas kebersihan yang seenaknya menaruh wadah disembarangan tempat, pemeliharaan pada wadah tidak ada, dan tidak ada pengawasan oleh petugas pengelola atau sanitarian yang turun langsung untuk memperhatikan kondisi tempat sampah yang ada disetiap ruangan medis. Adapun syarat kesehatan menurut permenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 yaitu Memenuhi syarat jika a. Tempat sampah anti bocor dan anti tusuk b. Memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang c. Sampah medis padat yang akan dimanfaatkan harus melalui Sterilisasi. d. Pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer) : a. Sampah radioaktif menggunakan warna merah

b. c. d. e.

Sampah sangat infeksius menggunakan warna kuning Sampah/limbah infeksius, patologi dan anatomi menggunakan warna kuning Sampah sitoksis menggunakan warna ungu Sampah/limbah kimia dan farmasi menggunakan warna cokelat

Dibandingkan dengan Penelitian yang telah dilakukan oleh Andi Ernawati mengenai Studi tentang sistem pengelolaan sampah perjan di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun 2003, dari 10 tempat sampah 7 diantaranya memenuhi syarat dan 3 tidak memenuhi syarat, kepemenuhan syarat disebabkan wadah mudah dikosongkan , dibersihkan, sebagain sudah memenuhi syarat dan jumlah tempat sampah sudah tersebar merata di tiap bagian dan ada satu ruangan yang belum punya tempat sampah. 3. Pengumpulan

Berdasarkan hasil penelitian proses pengumpulan sampah di rumah sakit ini sudah memenuhi syarat kesehatan, sesuai dengan yang ditetpakan oleh Departemen Kesehatan R.I yakni penyimpanan limbah medis padat harus sesuai dengan iklim tropis yaitu pada musim hujan paling lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam, dan yang terjadi dirumah sakit sampah yang dihasilkan setiap harinya dalam jangka waktu 1 x 24 Jam akan dikumpulkan dan dibuang ketempat pembuangan sementara. Proses pengumpulan sampah biasanya dimulai pada pagi hari pukul 07.00 Wita sampai selesai. dan sampah sampah yang sudah penuh ditempat sampah langsung dikumpulkan kemudian dibuang ketempat pembuangan sementara oleh petugas kebersihan rumah sakit. 4. Pengangkutan

Berdasarkan hasil penelitian proses pengankutan yang terjadi di rumah sakit tidak memenuhi syarat kesehatan dikarenakan dimana alat angkut sampah untuk menuju ke tempat pembuangan sementara yakni tempat sampah yang berada di ruangan perawatan yang mempunyai roda, terkadang sampah menempel pada alat angkut tersebut,jarang dibersihkan, jarang dikeringkan, dan pengankutannya terkadang tempat sampah diangkat langsung menggunakan tenaga sendiri oleh petugas kebersihan rumah sakit untuk dibuang ketempat pembuangan sementara. Dampak negatif bisa saja terjadi pada petugas kebersihan rumah sakit, ditambah lagi petugas kebersihan tidak memakai alat pelindung diri contohnya kaos tangan, dan masker, sehingga mudah untuk terkontaminasi dengan sampah medis. Begitupun yang terjadi pada penelitian di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun 2003, oleh Andi ernawati Proses pengankutannya belum memenuhi syarat dimana Trolly Pengankutannya sulit untuk dipindahkan ke TPS. Yang dimana harus sesuai dengan syarat kesehatan Adapun yang disarankan menurut syarat kesehatan yaitu Kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga : 1. Permukaaan harus licin, rata, dan tidak tembus 2. Tidak akan menjadi sarang serangga

3. Mudah dibersihkan dan dikeringkan 4. Sampah tidak menempel pada alat angkut 5. Sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali Bila tidak tersedia sarana setempat dan sampah klinis harus diangkut ketempat lain : a. Harus disediakan bak terpisah dari sampah biasa dalam alat truk pengankut. Dan harus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi sampah lain yang dibawa. b. Harus dapat dijamin bahwa sampah dalam keadaan aman dan tidak terjadi kebocoran atau tumpah dimana. 5. Penanganan

Berdasarkan hasil penelitian sampah sampah medis yang telah diangkut dari ruangan Unit Gawat Darurat (UGD), Radiologi, Ruangan bedah/operasi, Laboraturium, Fisioterapi, dan Ruangan perawatan, semuanya tidak melalui proses pemusnahan yang sesuai dengan syarat kesehatan, penyebab tidak terpenuhinya syarat kesehatan yakni disebabkan incenerator yang berada di rumah sakit sudah tidak berfungsi selama 1 tahun lebih, dan pihak rumah sakit tidak ada kesadaran untuk memperhatian alat incenerator tersebut, ini dikarenakan sistem management yang ada dirumah sakit sedikit tidak berjalan tidak baik,dan menurut hasil wawancara dengan tenaga pengelola/sanitarian, permohonan untuk perbaikan incenerator dan pengadaan incenerator yang baru sudah dihadapakan kepada kepala rumah sakit, dan selanjutnya Kepala rumah sakit sudah menghadapkan ke Dinas Kesehatan Kab. Barru, dan sampai saat ini jawaban dari permohonan belum di tanggapi. sampah - sampah yang dari ruangan medis hanya langsung di buang Tempat Pembuangan Sementara Rumah Sakit bercampur dengan sampah sampah yang dari ruangan umum lainnya, dampak yang ditimbulkan Di RS sering kali terjadi infeksi silang (nosokomial). Sebagai contoh, limbah medis tajam seperti alat suntik. Karena berhubungan langsung dengan penderita, alat itu mengandung mikroorganisme, atau bibit penyakit. Bila pengelolaan pembuangannya tidak benar, alat suntik dapat menularkan penyakit kepada pasien lain, pengunjung RS, petugas kesehatan, maupun masyarakat umum. Dan jika langsung dibuang ke TPA dapat mengakibatkan para pemulung sampah yang sering datang ke Tempat pembuangan Akhir sampah dapat terkena penyakit infeksius akibat sampah medis yang tidak di musnahkan dengan baik sebelum dibuangan ke TPA. Contoh kasus yang terjadi di TPA Ciangir Tasikmalaya. Akibatnya beberapa pekerja terpaksa dirawat beberapa minggu karena menginjak sampah alat suntik. Kejadian ini selain merugikan pekerja tersebut juga merugikan pihak TPA karena harus bekerja ekstra untuk memisahkan sampah medis dari sampah rumah tangga. Adapun penanganan yag harus sesuai dengan syarat kesehatan yakni : a. Tidak membuang langsung ketempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan. b.Menggunakan Insenerator c. Menggunakan otoklaf

6.

Tenaga Pengelola

Berdasarkan hasil penelitian pengelola sampah medis yang bekerja di rumah sakit sudah memenuhi tingkat kualifikasi. Kualifikasi untuk rumah sakit tipe C,dan D setingkat pemerintahan yakni dari program D3 Kesehatan Lingkungan. Di rumah sakit umum daerah kabupaten barru sudah memenuhi kualifikasi tenaga pengelola atau sanitarian yakni dari program D3 Kesehatan Lingkungan, adapun jumlah tenaga pengelola atau sanitarian sebanyak 3 orang, tenaga pengelola atau sanitarian sudah memiliki deskripsi tugas mengenai pekerjaanya, dan setiap staf pengelola sampah yang baru masuk diberikan semacam pelatihan singkat mengenai pekerjaannya. Tetapi untuk tenaga pengelola masih kurang loyal dalam menjalankan tugasnya ini dikarenakan jarang mengontrol sistem pengelolaan sampah medis yang berada disetiap rungan medis.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari hasil analisis terhadap permasalahan penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut : Proses pemilahan sampah medis dan non medis yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru seluruhnya tidak terjadi proses pemilahan antara sampah medis dan non medis Pewadahan yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru seluruhnya tidak memenuhi syarat kesehatan. Pengumpulan sampah yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru sudah memenuhi syarat kesehatan.

Pengangkutan sampah yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru menggunakan alat atau trolly yang tidak sesuai dengan syarat kesehatan. Proses penanganan sampah medis yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah tidak sesuai dengan syarat kesehatan Tenaga Pengelola yang berada di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru sudah memenuhi minimal klasifikasi pendidikan yang disyaratkan kesehatan yakni program diploma (D3) Kesehatan Lingkungan.

B.

Saran

Dengan melihatnya permasalahan yang ditemui maka perlu disarankan sebagai berikut : 1. Sebaiknya di setiap ruangan medis diadakan proses pemilahan antara Sampah medis dan non medis, dan memberikan pengetahuan tentang perlunya pemilahan antara sampah medis dan non medis terhadap para petugas kesehatan yang berada di rumah sakit umum daerah kabupaten barru 2. Sebaiknya wadah sampah medis yang berada diruangan medis harus disesuaikan dengan syarat kesehatan yakni Memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang dan Pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer) : a. b. c. d. e. Sampah radioaktif menggunakan warna merah Sampah sangat infeksius menggunakan warna kuning Sampah/limbah infeksius, patologi dan anatomi menggunakan warna kuning Sampah sitotoksis menggunakan warna ungu Sampah/limbah kimia dan farmasi menggunakan warna cokelat

3. Untuk pengumpulan sampah sudah baik, karena sampah dikumpulkan tiap 1 x 24 jam, dan pengumpulan dilakukan jika sampah medis sudah penuh dalam tempat sampah medis. 4. Untuk pengangkutan sebaiknya menggunakan Trolly atau alat khusus yang di desian sedemikian rupa, permukaan harus licin, rata, dan tidak tembus, tidak akan menjadi sarang serangga, mudah dibersihkan dan dikeringkan, sampah tidak menempel pada alat angkut atau trolly, sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali. 5. Untuk penanganan sampah medis sebaiknya melalui sterilasi, contohnya dimusnahkan dengan memakai alat incenerator, agar tidak menjadi bahan penyakit buat petugas kesehatan di rumah sakit, pasien, keluarga pasien, maupun masyarakat sekitarnya.

6. Untuk Tenaga Pengelola sampah medis agar pengetahuannya lebih ditingkatkan melaui pelatihan perlatihan mengenai sanitasi dan proses pengelolaan limbah medis yang syaratkan oleh Departemen Kesehatan R.I