Anda di halaman 1dari 17

Penghawaan alami sangalah diperlukan bagi suatu bangunan beserta penghuninya.

Hal ini karena jika dihitung, efisiensi dari penghawaan alami juga lebih besar dari penghawaan buatan. Serta kalitasnya pun masih jauh lebih baik jika menggunakan penghawaan alami. Selain itu, ungkapan pepatah yang menyampaikan alami lebih baik dari buatan kian menunjukkan bahwa hal-hal yang terbuat dari bahan alami itu jauh lebih baik. Tak terkecuali urusan penghawaan di suatu bangunan. Dalam hal ini, penghawaan alami erat kaitannya dengan beberapa opsi di bawah : 1. Pencahayaan Yaitu suatu intensitas kebutuhan penerangan pada suatu ruang yang telah dibuat, terutama untuk pemanfaatan penerangan dari cahaya alami, karena berhubungan dengan pembukaan terhadap lingkungan luar. 2. Kelembaban Yaitu intensitas banyaknya uap air pada udara dalam ruangan. Hal ini biasanya berhubungan dengan tingkat kelembaban dalam ruangan tersebut. Oleh karenanya perhitungan untuk tingkat kelembaban dalam membuat penghawaan alami juga cukup diperlukan. 3. Luas bukaan Luas bukaan adalah ukuran luas suatu bukaan yang juga menjadi titik adanya pergantian udara, dan masuknya cahaya. Bukaan dapat berupa pintu, jendela, jalusi, lubang angin atau kisi-kisi, dan lubanglubang lain yang mungkin ada pada suatu ruangan. Dalam perencanaan bangunan dihindari suatu ruang yang gelap dan pengap sehingga perlu adanya suatu penghawaan alami. Untuk itu perlu adanya penyelesaian dalam perencanaan yang baik dan sesuai dengan yang dibutuhkan serta semaksimal mungkin menggunakan sumber daya yang ada dari alam yang memang telah tersedia untuk kebutuhan manusia. Pada kenyataannya, saat ini sulit didapatkan ruang terbuka yang cukup, terutama di kota besar atau daerah industri, untuk mendapatkan tangkapan udara segar agar dapat masuk ke dalam ruangan, karena semua lahan telah yang ada dimanfaatkan untuk bangunan, atau ruang tertutup. Apalagi adanya polusi udara pada daerah tempat bangunan itu berada. Untuk itu pemanfaatan lahan yang sempit untuk penghawaan alami sangat penting untuk dipikirkan dan diteliti agar dapat membantu kita dalam membuat desain bangunan arsitektur yang bagus dengan kenyamanan yang terjamin. Atau bagaimana memanfaatkan atau mengolah udara yang telah kotor dan berdebu sehingga masih dapat dimanfaatkan untuk penghawaan alami. Karena bagaimanapun juga dalam suatu ruangan yang misalnya telah menggunakan penghawaan buatan, masih tetap memerlukan pergantian udara.

Beberapa cara dalam membuat penghawaan alami adalah : 1. Pemberian bukaan dari atas. Salah satu cara untuk mendapatkan penghawaan alami adalah dengan membuat bukaan pada atap yang kita buat. Untuk membuat bukaan pada atap ada banyak cara yang dapat kita gunakan, antara lain adalah seperti pada gambar-gambar berikut ini.

Dari gambar di atas, dapat dilihat bagaimana bukaan bisa dibuat tidak hanya melalui dinding samping. Aliran udara pun bisa masuk dan menyejukkan ruangan di dalamnya. 2. Pemberian Bukaan di Tengah Bangunan Dalam suatu bangunan di lingkungan yang produktif dimana lahan menjadi sangat mahal, sering semua tempat yang ada dipenuhi untuk bangunan demi mendapat ruang kerja yang banyak untuk kepentingan komersil. Oleh karenanya, untuk dapat memanfaatkan sedikit lahan terbuka yang dapat digunakan pada seluruh ruangan yang ada, kita dapat membuat lahan terbuka di tengah-tengah bangunan. Dengan bukaan yang ada di tengah, maka dapat dimanfaatkan pada semua ruangan yang berada di kanan dan di kiri lahan terbuka tersebut. Contoh bukaan yang dibuat di tengah bangunan adalah sebagai berikut :

Dari gambar tersebut, terlihat ada sebuah taman di tengah-tengah bangunan tersebut. Hal ini ternyata efektif bisa memberikan penghawaan alami yang cukup baik untuk bangunan dan ruangan di sampingnya. 3. Membuat dinding bernafas dan lubang angin Kemudian, ada istilah yang dinamakan dinding bernafas yaitu dinding pembatas yang mempunyai lubang-lubang sehingga memungkinkan adanya aliran udara. Dinding bernafas sangat penting sebagai salah satu cara untuk mendapatkan adanya pergantian udara demi kenyamanan pada ruangan. Kemudian lubang angin sudah sangat umum dipakai pada bangunan sebagai sarana untuk pergantian udara. Bahkan lubang ini juga sering dimanfaatkan untuk estetika, mendampingi pintu dan jendela. Salah satu bentuk lubang angin adalah kisi-kisi , yang biasanya diletakkan di atas pintu atau jendela. Selain untuk keindahan, lubang ini dapat memasukkan atau mengeluarkan udara alami, sehingga ruangan yang ada di dalamnya menjadi segar dan sehat.

Gambar salah satu lubang angin yang digunakan juga sebagai elemen estetis eksterior rumah.

Dari urain tadi kesimpulan yang bisa diambil adalah salah satu cara yang paling mudah untuk mendapatkan aliran udara di dalam bangunan adalah dengan membuka dinding ke arah angin datang. Dalam keadaan demikian maka kita tinggal mengatur besar kecilnya pembukaan untuk mengalirkan udara ke dalam bangunan sehingga kita bisa mendapatkan tingkat kenyamanan yang sesuai dengan keinginan kita. Tetapi adakalanya kita terpaksa menutup dinding ke arah datangnya angin. Dalam hal demikian maka kita bisa mengupayakan agar angin tersebut berbelok dari samping bangunan dan barulah kemudian kita masukkan ke dalam ruang-ruang dalam bangunan itu.

Angin yang terlalu kencang masuk ke dalam bangunan kita tentu saja akan terasa kurang nyaman bagi kita. Untuk itu kita dapat memperlambat kecepatan angin yang dimaksud dengan cara memasang tabir-perlambatan.

Tabir seperti gambar diatas pun bisa dibuat sebagai elemen estetika di dalam ruangan selain juga untuk menghalangi arah angin apabila di tempat bangunan itu berada angin yang diterima cukup kencang sehingga membuat tidak nyaman penghuninya. Oleh Texas Engineering Experiment Station, telah dilakukan penelitian tentang ventilasi silang dengan hasil sebagai gambar-gambar di bawah ini: a) Tak ada arus, karena tak ada jalan keluar. b) Lubang keluar sama luas dengan lubang masuk. Arus ventilasi yang terjadi baik untuk daerah kedudukan tubuh manusia. Lebih baik bila lubang keluar diperluas lagi. c) Lubang masuk tinggi sedangkan lubang keluar rendah adalah tidak baik, karena menimbulkan daerah udara-mati di bawah lubang masuk, yang justru merupakan tempat yang baik dan dibutuhkan oleh tubuh manusia. Apabila dibuat lubang-lubang yang cukup luas, maka ventilasi akan berdampak baik pula. d) Penambahan lubang keluar, memperbaiki situasi pada daerah tubuh manusia. e) Pada lubang masuk diberikan semacam overstek dan angin langsung keluar lewat lubang sisi keluar. Pada sisi keluar ditambahkan satu lubang di bagian bawah, dan terjadilah perbaikan aliran udara pada daerah tubuh manusia. f) Dengan melepas sedikit overstek, aliran udara menjadi lebih baik lagi. g) Secara umum dapatlah disebutkan bahwa kecepatan aliran udara di dalam bangunan ditentukan antara lain oleh perbandingan besarnya lubang keluar terhadap lubang masuk. Makin besar angka perbandingan ini, semakin cepat aliran udara terjadi di dalam bangunan. Tentu saja juga harus dihindarkan adanya aliran yang terlalu keras karena hal demikian akan merupakan gangguan terhadap fungsi dan kenyamanan tubuh manusia.

Sumber : http://www.omasae.com/2012/10/penghawaan-alami.html

Pergantian udara panas dengan udara dingin dari luar merupakan proses yang diharapkan pada waktu musim panas. Namun dibeberapa kondisi iklim hal tersebut tidak memungkinkan karena temperatur luar justru lebih panas daripada temperatur dalam bangunan. Hal tersebut sangat penting diperhatikan jika akan melakukan teknik penghawaan alami. Sebab dibutuhkan udara dengan temperatur yang lebih rendah untuk efektifitas pendinginan permukaan tubuh. Proses penghawaan alami membutuhkan pendorong terjadinya proses tersebut. Bentuk bangunan menentukan kekuatan terjadinya penghawaan alami. Secara mendasar, ukuran dan lokasi dari tempat masuknya udara kedalam bangunan menentukan kemampuan untuk menangkap dan mengarahkan aliran udara kedalam bangunan. Perancangan bangunan dapat menggunakan ventilasi, atrium, bentuk bangunan ramping , lingkungan denah terbuka, struktur bangunan massif, cerobong, sirip, dan dinding ganda. Pada hybrid system digunakan jendela yang dapat dikontrol secara motorik. Proses aliran udara dapat didorong dengan beberapa kondisi antara lain adalah mengarahkan aliran udara, pemanasan dan pendinginan yang dilakukan oleh radiasi matahari evaporasi atau thermal mass. Prinsipnya dengan melakukan variasi terhadap tekanan udara (wind driven ventilation) dan temperatur (stack.effect ventilation dan thermo syphon effect).

Pendinginan udara sebelum masuk kedalam bangunan juga dapat dilakukan untuk mendapatkan udara dingin. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan evaporative cooling atau geothermal cooling. Bangunan dengan tingkat ekspos thermal mass yang besar, sangat memungkinkan untuk melakukan pendinginan dengan strategi natural ventilation dengan teknik pendinginan waktu malam hari (night purge ventilation). Teknik tersebut dapat dilakukan dengan rentang relatif diurnal dimana temperatur malam hari mempunyai selisih 20-22 derajat Celcius. Karakteristik : Secara umum panas, kelembaban tinggi disebabkan adanya angin dari arah utara dan selatan hemisphere mengumpul dan naik pada pertemuan permukaan tropis, menyebar kemudian dingin pada saat bersamaan. Karakteristik antara lain : kelembaban dan curah hujan tinggi sepanjang tahun temperatur tinggi sepanjang tahun temperatur diurnal bervariasi sekitar 8 der Cel. Sedikit variasi dalam temperatur Lahan datar dan angin laut mempunyai peranan utama wilayah pantai Intensitas radiasi matahari bervariatif dengan kondisi berawan Tujuan dari perancangan bangunan pada iklim tropis lembab ini adalah mereduksi temperatur panas, memaksimalkan rata-rata ventilasi udara untuk meningkatkan efektifitas dari evaporasi, dan mengusahakan proteksi terhadap sinar matahari, hujan dan serangga. Prinsip-prinsip tersebut antara lain adalah :

Gunakan pintu dan jendela yang besar untuk menjalankan ventilasi silang. Perencanaan secara terbuka dan luas, usahakan terdapat jarak antar bangunan Angkat bangunan (panggung) aga lantai dingin dan menaikkan jendela untuk ventilasi yang lebih baik. Orientasi bangunan diusahakan memperhitungkan aliran datangnya udara segar Overhang yang panjang untuk melindungi dari sinar matahari langsung Gunakan sliding screen untuk melindungi dari badai dan serangga di malam hari. Gunakan material dengan thermal mass rendah untuk meminimalkan heat storage. Gunakan double roofs dengan 2 layer dan ventilasi. Gunakan material atap dengan insulasi tinggi.

Sumber :
http://pourpre-architecturetips.blogspot.com/2010/03/penghawaan-alami-natural-ventilation_27.html

PENGHAWAAN ALAMI
============================================== 1. Pengertian Angin yaitu udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara(tekanan tinggi ke tekanan rendah) di sekitarnya. Anginmerupakan udara yang bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah atau dari suhu udara yang rendah ke suhu udara yang tinggi. Sifat Angin

Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun kerena udaranya berkurang. Udara dingin disekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Diatas tanah udara menjadi penas lagi dan naik kembali. Aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin ini dinamanakan konveksi Terjadinya Angin Angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara atau perbedaan suhu udara pada suatu daerah atau wilayah. Hal ini berkaitan dengan besarnya energi panas matahari yang di terima oleh permukaan bumi. Pada suatu wilayah, daerah yang menerima energi panas matahari lebih besar akan mempunyai suhu udara yang lebih panas dan tekanan udara yang cenderung lebih rendah. Perbedaan suhu dan tekanan udara akan terjadi antara daerah yang menerima energi panas lebih besar dengan daerah lain yang lebih sedikit menerima energi panas, yang berakibat akan terjadi aliran udara pada wilayah tersebut. Penghawaan alami atau ventilasi alami adalah proses pertukaran udara di dalam bangunan melalui bantuan elemen-elemen bangunan yang terbuka. Sirkulasi udara yang baik di dalam bangunan dapat memberikan kenyamanan. Aliran udara dapat mempercepat proses penguapan di permukaan kulit sehingga dapat memnerikan kesejukan bagi penghuni bangunan. Pertukaran udara di dalam bangunan juga sangat penting bagi kesehatan. Di dalam bangunan banyak terbentuk uap air dari berbagai macam aktivitas seperti memasak, mandi, dan mencuci. Uap air ini cenderung mengendap di dalam ruangan. Aneka zat berbahaya juga banyak terkandung pada cat, karpet, atau furnitur, yang timbul akibat reaksi bahan kimia yang terkandung di dalam benda-benda tersebut dengan uap air. Jika bangunan tidak memiliki sirkulasi udara yang baik, zat-zat kimia tersebut akan tertinggal di dalam ruangan dan dapat terhirup oleh manusia. Angin adalah udara yang bergerak. Udara bergerak dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah. Karena itu perletakan bukaan dinding/lubang angin juga harus diperhatikan fungsinya Jika fungsinya untuk mengalirkan udara panas dari dalam ruangan keluar, maka lubang angin diletakkan di bagian tertinggi. Misalnya lubang berkipas angin di plafon kamar mandi (exhaust fan). Lubang angin demikian, efektif untuk mengalirkan udara panas akibat penggunaan air panas untuk mandi. Selain bukaan pada dinding, perlu diperhatikan adanya angin yang mengalir di bawah atap. Dengan demikian suhu udara di dalam ruangan menjadi lebih rendah.

jendela nako dapat menghasilkan sirkulasi udara yang optimal. Bilah -bilah pada jendela dapat diubah posisinya sehingga aliran udara dapat diarahkan sesuai keinginan. Pada saat kecepatan angin tinggi jendela nako dapat menjadi penahan angin sehingga kecepatan angin yang masuk dapat berkurang Selain bukaan pada dinding, penghawaan alami dapat ditambah dengan cara membuat daun pintu yang tidak massif. Daun pintu dibuat dengan desain semi terbuka, bagian atasnya berbentuk jeruji yang ditutup dengan kawat nyamuk. Dengan demikian, dalam keadaan pintu tertutup dan terkunci pun aliran angin tetap masuk ke dalam ruangan. Apabila diperlukan lebih banyak privasi, cukup ditambahkan gorden, dan aliran udara tetap masuk. Bukaan pada sopi-sopi mengalirkan udara dari ruang atap keluar. Ventilasi pada plafon di dapur mengalirkan udara panas ruangan ke ruang di bawah atap Lubang angin untuk mengalirkan udara panas dari ruangan keluar. Untuk memaksimalkan potensi angin untuk penghawaan, perlu adanya aliran udara di dalam bangunan. Untuk itu diperlukan bukaan yang lebih dari satu buah dalam satu ruangan, dengan posisi yang berhadapan, agar tercipta ventilasi silang (cross ventilation).

2. Penghawaan Alami untuk Daerak Tropis Iklim Tropis Indonesia : Suhu antara 28-38 C musim kemarau, 25-29 C musim hujan. Bukaan lebar diperlukan untuk sirkulasi udara ( panas, kotor, lembab ke luar rumah ) dalam ruang. Jika kanan kiri belakang bangunan terhalang bangunan tetangga, bisa digunakan menara angin, tekanan udara panas akan tertarik keluar dari menara ini digantikan udara segar. Sebaiknya bhangunan memiliki beranda beratap yang cukup lebar sebagai penahan, penyaring udara panas antara ruang luar dan ruang dalam, selain sebagai penegas pintu masuk dan tempat penerima tamu. Sebaiknya di sekeliling bangunan ditanami pepohonan, perdu dan semak untuk menyaring udara, debu dan polusi. Kelembaban udara 40-70 % di musim hujan, 80-100 % di musim hujan. Curah hujan mencapai 3000 mm/ tahun ( tinggi ). Atap bersudut besar ( 35 atau lebih/ kemiringan curam adalah solusinya, agar air hujan cepat mengalir ke bawah. Kecepatan angin 5 m/ detik ( lemah ). Makin lembab makin lemah anginnya. Manusia di iklim tropis lembab mampu beradaptasi pada suhu antara 24-30 C, merasa kurang nyaman di ruangan bersuhu di atas 28 C. Sinar matahari menyinari alam tropis/ khatulistiwa sekitar 12 jam perharinya.

3. Pergerakan Angin Dalam Bangunan Penerapan sistem ventilasi silang (cross ventilastion) Sistem cross ventilation atauventilasi silang adalah system penghawaan ruangan yang ideal dengan cara memasukkan udara ke dalam ruangan melalui bukaan penangkap angin dan mengalirkannya ke luar ruangan melalui bukaan yang lain. System ini bertujuan agar selalu terjadi pertukaran udara di dalam ruangan sehingga tetap nyaman bagi penghuninya. Udara di dalam ruangan harus selalu diganti oleh udara segar karena udara di dlaam ruangan ini banyak mengandung CO2 (karbondioksida)hasil aktivitas penghuni ruangan seperti bernapas, merokok, menyalakan lilin,memasak, dan sebagainya. Sementara itu, udara bersih yang dimasukkan ke dalam ruangan adalah udara yang banyak mengandung O2(oksigen). Dalam system cross ventilation ini dikenal dua macam bukaan, sebagai berikut : Inlet, merupakan bukaan yang menghadap ke arah datangnya angin sehingga berfungsi untuk memasukkan udara ke dalam ruangan. Outlet, merupakan bukaan lain di dalam ruangan yang berfungsi untuk mengeluarkan udara.

Bukaan yang dimaksud di atas dapat berupa lubang angin, kisi-kisi, jendela yang bias dibuka, pintu yang senantiasa terbuka atau pintu tertutup yang bias mengalirkan udara (misalnya pintu kasa atau pintu berjalusi.
Agar ruangan dapat teraliri udara secara optimal maka perletakan bukaan harus disesuaikan dengan arah datangnya angin. Perletakan/posisi bukaan inlet dan outletdalam system cross ventilation dapat dibedakan menjadi dua jenis, sebagai berikut.

Posisi diagonal (cross). Bukaan inlet dan outletdiletakkan dengan posisi ini apabila angin dating secara tegak lurus (perpendicular) ke arah bukaaninlet.

Posisi berhadapan langsung. Bukaan inlet dan outletdiletakkan pada posisi ini mana kala angin dating bersudut/tidak tegak lurus (obligue) ke arah bukaaninlet.

Namun ada kalanya perletakan bukaan ini tidak dapat disusun seperti teknik di atas. Hal ini mungkin terjadi karena bidang yang mengarah ke luar tidak saling berhadapan. Disamping itu, sebab lain yang mungkin timbul adalah faktor keterbatasan lahan sehingga ruang tersebut hanya memiliki satu bidang saja yang menghadap kea rah luar bangunan. Pada kondisi-kondisi semacam ini, cross ventilation tetap dapat dilakukan yaitu dengan menambahkan sirip-sirip vertikal di tepi bukaan sebagai

pengarah udara untuk masuk atau keluar ruangan. Sirip-sirip vertikal ini bisa terbuat dari batu bata, kayu, maupun beton.

Pada inlet dan outlet secara vertikal juga harus diperhatikan. Posisi inlet yang lebih rendah daripadaoutlet akan mengalirkan udar pada ketinggian tubuh manusia sehingga tubuh manusia bias merasakan kesejukan dari udara tersebut. Sebaliknya,posisi inletyang lebih tinggi daripada outlet justru akan membuat aliran udara hanya menjangkau sebagian kecil tubuh manusia bagian atas sehingga kesegaran tidak dapat dirasakan penghuni rumah tersebut.

etail pemasangan bukaan juga harus diperhatikan agar diperoleh cross ventilation yang sempurna. Posisi bukaan penangkap udara (inlet) sebaiknya berada pada ketinggian aktivitas manusia, yaitu sekitar 0,5-0,8 m, sementara bukaan outlet sebaiknya dibuat lebih tingggi karena udara yang akan dikeluarkan dari ruangan itu adalah udara yang panas dan udara yang panas selalu berada di bagian atas ruangan.
Alternatif lain perletakan outlet adalah pada atap apabila menggunakan atap bertipe jack roof. Lubang antara atap induk dengan atap topi pada jack roofdapat diberi kisi-kisi sebagai bukaan keluarnya udara (outlet). Posisi outlet pada atap inilebih efektif

untuk mengeluarkan udara panas yang banyak berkumpul di bagian atas ruangan tersebut.

Dimensi atau kecepatan aliran udara dari bukaan inlet dan outlet juga harus diperhatikan. Jika bukaaninlet memiliki dimensi atau kecepatan aliran udara lebih kecil daripada bukaan outlet maka kecepatan aliran udara di dalam ruangan akan meningkat 30% dari kecepatan udara di luar ruang. Namun, jika bukaan inletmemiliki dimensi atau kecepatan aliran udara lebih besar daripada bukaan outlet maka kecepatan aliran udara di dalam ruang akan turun 30% dari kecepatan di luar ruangan.

Dari kedua tipe dia atas, pemilihan dimensi bukaan inlet yang lebih kecil dari bukaan outlet atau memakai dimension yang sama besar namun dengan model yang berbeda (kemampuan alir udara berbeda) lebih direkomendasikan. Sumber : http://slendroo.blogspot.com/2011/10/penghawaan-alami.html

Penghawaan Alami
Oleh Kevin

Mengajak Angin Masuk Ke Dalam Rumah

Jakarta yang amat padat dan panas ini menyebabkan pemakaian pendingin ruangan atau AC seolah tak dapat dihindari. Pengaturan jendela, ventilasi, dan material ruang semakin tidak diperdulikan. Toh, ada AC!

Akan tetapi, bagaimana bila AC rusak atau listrik mati? Mari, sebelum membangun rumah, ktia atur sedikit desinnya agar udara lebih mengalir, nayaman, dan hemat energi. Caranya, pelajari dulu arah datangnya angin yang menyapu rumah kita.

Semisal, lingkungan kita pnya banyak potensi angin dari arah timur laut, timur, dan tenggara, maka kita buat banyak bukaan, seperit jendela, pintu, angin-angin, jalusi, dan lain-lain, yang menghadap arah itu. Bukaan itu untuk emenerima angin (windward).

Angin yang datang ktia dinginkan dulu sebelum masuk rumah, dengan membuat teduah dan bayangan di depan bukaan itu. Teras, ovehrang panjang, atau kanopi amat berguna. Tanaman besar juga banyak membantu. Rumah-rumah bergaya minimalis modern saat ini banyak yang tidak mengindahkan hal ini. Dengan jendela terpapar langsung cahya matahari, angin yang masuk menjadi panas.

Udara akan memuai bila terkena panas. Oleh karena itu, angin yang masuk bisa kita arahkan dari area dinding bawah. Semisal, dengan desain jendela berjalusi di bawah. Stelah punya banyak bukaan untuk memasukkan udara, rumah juga harus punya bukaan untuk mengeluarkan udara.

Sebaiknya, angin mengalir dari area depan rumah, melewati ruang-ruang, dan keluar lewat di belakang rumah. Semakin luas bukaan, semakin kuat juga angin yang terhisap masuk rumah kita. Ventilasi di atas jendela sisi belakang ini banyak berperan karena angin naik setelah menyapu panas di dalam rumah.

Bila bagian belakang rumah sudah habis tertutup bangunan, udara panas dapat diarahkan ke atas. Bila kurang lancar, pasang kipas mekanis untuk emnyedot udara ke atas (exhauster).

Rumah punay volume besar di dalamnya, terbukti lebih dingin. Tinggai plafon di atas 340 cm akan banyak membantu. Volume ruang atas plafon bawah genteng yang besar juga menguntungkan. Guankan sesedikit mungkin penyekat ruang agar volume dan aliran udara tidak banyak terganggu.
Sumber : http://ornamenlandscape.blogspot.com/2012/11/penghawaan-alami.html