Anda di halaman 1dari 87

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Gambaran Umum Perusahaan 1. Sejarah Singkat Perusahaan Perkebunan Mata Pao merupakan salah satu perkebunan PT. Socfin Indonesia (SOCFINDO) Medan yang didirikan tahun 1927 dengan menanam komoditi sawit. Perkebunan ini dahulunya dimiliki oleh Negara Belgia yang menamakan dirinya SOCFIN Medan SA yang mempuyai hak konsesi dan berada dalam naungan Pemerintah Hindia Belanda. Diawali pada tahun 1909, Societe Financiere des Caouchoucs Medan Societe Anonyme (Socfin) didirikan oleh M. Bunge. Pada saat yang bersamaan juga, Adrian Hallet mendirikan Plantation Fauconnier & Posth bersama Henry Fauconnier. Sementara itu, aktivitas pembukaan dan pembangunan perkebunan PT. Socfin Indonesia pertama sekali sudah dimulai pada tahun 1906 di Kebun Sei Liput, Aceh Timur, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (sekarang). Pada tanggal 7 Desember 1930, berdasarkan akta notaris William Leo No.45, nama dan legalitas PT. Socfin Medan S.A. (Societe Financiere des Caoutchoucs Medan Societe Anonyme) resmi digunakan. Berdasarkan akta notaris tersebut, PT. Socfin Medan S.A. berkedudukan di Medan dan mengelola perkebunan di daerah Sumatera Timur, Aceh Barat, Aceh Selatan dan Aceh Timur. Perkembangan selanjutnya, berdasarkan penetapan Presiden No.6 tahun 1965, Keputusan Kabinet Dwikora No.A/D/58/1965, No.SK.100/Men.Perk/1965

menyatakan bahwa perusahaan perkebunan yang dikelola oleh PT. Socfin Medan S.A diletakkan di bawah pengawasan pemerintah, kemudian pada tahun 1966 diadakan serah terima hak milik perusahaan kepada pemerintah Indonesia atas dasar penjualan perkebunan dan harta PT. Socfin Medan S.A. Pada tahun 1968, tepatnya tanggal 29 April 1968 dicapai kesepakatan antara pemerintah R.I. dengan pemilik saham PT. Socfin Medan S.A, diperkuat dengan Surat Keputusan Presiden R.I. No.B.68/PRES/6/1968 tanggal 13 Juni 1968 dan

surat keputusan Menteri Pertanian No.94/Kpts/Op/6/1968 tanggal 17 Juni 1968 yang berisikan patungan antara pemerintah R.I. dengan Perusahaan Asal Belgia yaitu Plantation Nord Sumatera (PNS) dimana komposisi permodalan 40% pemerintah Republik Indonesia dan 60% PNS. PNS kemudian memberi nama PT. Socfin Indonesia (SOCFINDO), didirikan melalui Akte Notaris Chairil Bahri di Jakarta pada tanggal 21 Juni 1968 No.23 dan Akte Perubahan No.64 tanggal 12 Mei 1968. Disahkan oleh Menteri Kehakiman pada tanggal 3 September 1969 dan diumumkan dalam tambahan berita negara RI No.68/69 tanggal 31 Oktober 1969. Sesuai akta tanggal 3 Mei 2002 No.5, PERNYATAAN KEPUTUSAN PARA PEMEGANG SAHAM P.T. SOCFIN INDONESIA, yang diterbitkan oleh Notaris Ny. R. Arie Soetarjo SH, pemerintah R.I. telah melepas 30% sahamnya kepada PNS, sehingga saham pemerintah R.I. di bawah kementerian BUMN saat ini hanya 10%.

2. Perkebunan dan Lokasi Perkebunan PT. Socfindo Medan PT. Socfindo mempunyai beberapa perkebunan yang tersebar di Sumatera dan Aceh. Untuk lebih jelas, dapatdilihat seperti tabel di bawah ini. Tabel 1.1. Lokasi Operasional Perkebunan PT. Socfin Indonesia No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Perkebunan Seunangan Semayam Lae Butar Sei Liput Mata Pao Bangun Bandar Tanjung Maria Tanah Besi Lima Puluh Tanah Gambus Aek Loba Padang Pulo Negeri Lama Aek Pamingke Halimbe Komodisi Kelapa Sawit Kelapa Sawit Kelapa Sawit Kelapa Sawit Kelapa Sawit Kelapa Sawit Karet Karet Karet Kelapa Sawit Kelapa Sawit Kelapa Sawit Kelapa Sawit Karet Karet Lokasi/Provinsi Aceh Barat Aceh Aceh Barat Aceh Aceh Selatan Aceh Aceh Timur Aceh Serdang Bedagai Sumut Serdang Bedagai Sumut Serdang Bedagai Sumut Serdang Bedagai Sumut Batu Bara Sumut Batu Bara Sumut Asahan Sumut Asahan Sumut Labuhan Batu - Sumut Labuhan Batu Sumut Labuhan Batu Sumut

Gambar 1.1 Peta Lokasi Operasional Perkebunan PT. Socfin Indonesia 3. Visi Dan Misi Perusahaan Visi Menjadi perusahaan industri perkebunan kelapa sawit dan karet kelas dunia yang efisien dalam produksi dan memberikan keuntungan kepada para stake holder. Misi a. Mengembangkan bisnis dan memberikan keuntungan bagi pemegang saham. b. Memberlakukan sistem manajemen yang mengacu pada standar internasional dan acuan yang berlaku di bisnisnya c. Menjalankan operasi dengan efisien dan hasil yang tertinggi (mutu dan produktivitas) serta harga yang kompetitif. d. Menjadi tempat kerja pilihan bagi karyawannya, aman dan sehat. e. Penggunaan sumber daya yang efisien dan minimalisasi limbah. f. Membagi kesejahteraan bagi masyarakat dimana kami beroperasi.

4. Lokasi dan Letak Geografis Perusahaan PT. Socfindo Mata Pao terletak di Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara dengan ketinggian 20 m di atas permukaan laut dan berjarak 53 km dari kota Medan. Perkebunan Mata Pao berlokasi di tiga kecamatan, yaitu : Divisi I , meliputi : 1. Pelintahan Kecamatan Kabupaten Luas Areal Divisi II, meliputi : 2. Mata Pao Kecamatan Kabupaten Luas Areal Divisi III, meliputi : 3. Tanjung Buluh Kecamatan Kabupaten Luas Areal : Perbaungan : Serdang Bedagai : 726.40 Ha : Teluk Mengkudu : Serdang Bedagai : 816.22 Ha : Sei Rampah : Serdang Bedagai : 750.96 Ha

6 5. Lay Out PKS PT Socfindo Kebun Mata Pao

Gambar 1.2 Lay Out PKS PT Socfindo Kebun Mata Pao

7 6. Struktur Organisasi Di Kantor Pengurus PT Socfin Indonesia Kebun Mata Pao

Gambar 1.3 Struktur Organisasi Di Kantor Pengurus PT Socfin Indonesia Kebun Mata Pao

8 7. Struktur Organisasi Di Kantor Pabrik PT Socfin Indonesia Kebun Mata Pao


Pengurus

Tekniker I

Tekniker II

Tekniker II

Tekniker II/ Traksi

Mandor pengolahan MKS/IKS

Kepala Kerja boiler

Kepala kamar mesin

Kepala kerja water treatment

Kepala bengkel umum

Kepala bengkel listrik

Krani-I Pabrik

Mandor Transport

Kepala Bengkel Motor

Kepala Bengkel LOCO

Operator Mesin 2

Operator Boiler

Operator Genset

Petugas Water Treatmen t

Tukang -Tukang

Tukang Listrik

Krani pabrik

Krani Expidisi

Krani
Timbang

Krani Keliling

Krani Transport

Supir/ Kenek/ Operator

Tukang/ Mekanik

Tukang/ Mekanik

Gambar 1.4 Struktur Organisasi Di Kantor Pabrik PT Socfin Indonesia Kebun Mata Pao

8. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab dari Sruktur Organisasi PT Socfin Indonesia Kebun Mata Pao PT. Socfindo Mata Pao dikepalai oleh seseorang pengurus atau ADM yang bertanggung jawab kepada Group Manager dan Direksi. Dalam pelaksanaan tugas, pengurus dibantu oleh Asisten Divisi di Lapangan dan Tekniker I di Pabrik serta KTU. Tugas dan tanggung jawab masing-masing orang yang terlibat dalam organisasi di PT. Socfindo kebun Mata Pao adalah sebagai berikut : a. Pengurus / ADM Pengurus diangkat langsung oleh Direksi dan merupakan pimpinan tertinggi di PT. Socfindo Kebun Mata Pao. Pengurus mempunyai kekuasaan dan tanggung jawab di dalam maupun di luar perusahaan dan memegang wewenang dalam memutuskan setiap kebijaksanaan. b. Asisten Divisi (Afdeling) I, II, III Pimpinan tertinggi pada divisi dan bertanggung jawab kepada pengurus. Dalam kegiatan pelaksanaan kerja sehari-hari dibantu oleh Mandor. c. Tekniker I Bertanggung jawab atas segala proses pengolahan dan kegiatan yang terjadi di pabrik dan merupakan pimpinan tertinggi di bagian pabrik dengan dibantu oleh Tekniker II. d. Tekniker II Tekniker II bertugas mengawasi kegiatan yang terjadi di pabrik seperti di bagian listrik, transportasi, pengolahan sampai pengangkutan dan

bertanggung jawab atas kegiatan yang terjadi setiap harinya. e. Kepala Tata Usaha (KTU) Kepala Tata Usaha membawahi bagian pembukuan, keuangan, dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan administrasi pembukuan dan keuangan dengan teliti dan rapi, mengawasi penyimpanan dan pengeluaran uang kontan, cek dan surat-surat beharga serta menyusun laporan realisasi bulanan, triwulan, tahunan,maupun incidental.

10

f. Krani I Pabrik Mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam mengkordinasi dan membuat nota serta surat-surat yang berhubungan dengan kepegawaian, membuat daftar gaji, nota pembayaran, biaya kantor, keperlan alat tulis, urusan kendaraan dan mengadakan seleksi atas penerimaan / Perombakan pegawai. g. Bagian Buku Gaji Mempunyai tugas mencatat semua penerimaan gaji tiap karyawan yang diberikan perusahaan kepada pekerja tiap 2 minggu sekali sehingga dapat dilihat beberapa total anggaran yang harus dikeluarkan oleh perusahaan dalam membayar gaji karyawan. h. Kepala Laboratorium Menganalisa semua mutu produksi yang dihasilkan pabrik secara angkaangka kerugian dan waktu pengolahan kelapa sawit. i. Mando Kamar Mesin Sebagai penjaga alat-alat mesin Black Stone dan peralatan yang ada di Pabrik serta yang bersangkutan dengan mesin. j. Mandor Bagian IKS (Inti Kelapa Sawit) dan MKS (Minyak Kelapa Sawit) Mempunyai tanggung jawab atas segala kegiatan pengolahan produksi IKS (Inti Kelapa Sawit) dan MKS (Minyak Kelapa Sawit). k. Mandor Bagian Transportasi Pengawas kegiatan truk-truk yang keluar dari pabrik ke lapangan dan mengecek kegiatan yang terjadi baik menyangkut sopir, kernet ataupun yang lainnya. l. Mandor Bengkel Bertugas dan merawat mesin-mesin pabrik,truk-truk dan kendaraan.

11

9. Ketenagakerjaan Tabel 1.2 Jumlah tenaga kerja di PT. Socfindo Kebun Mata Pao No 1 2 3 4 Staf Karyawan Mandor Pegawai lain Total Ketenagakerjaan Jumlah 7 368 33 56 464 (%) 1,51 79,31 7,11 12,07 100

Sumber : Kantor PT. Socfindo Kebun Mata Pao (Desember 2013) Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar tenaga kerja di PT. Socfindo Kebun Mata Pao adalah sebagai staf yaitu sebanyak 7 orang (1,51 %) karyawan sebanyak 368 orang (79,31 %), mandor sebanyak 33 orang (7,11 %), dan pegawai lain sebanyak 56 orang (12,07 %). Tabel 1.3 Distribusi jumlah tenaga kerja berdasarkan status ketenagakerjaan di PT. Socfindo Kebun Mata Pao Tenaga Kerja No Divisi Staf Karyawan Lk 1 2 3 4 5 I (Pelintahan) II (Mata Pao) III (Tj. Buluh) Pabrik Kantor Total 1 1 1 3 1 7 74 99 71 67 10 321 Pr 20 20 4 3 47 Mandor Lk 7 11 10 4 32 Pr 1 1 Pegawai lain Lk 7 8 6 18 14 53 Pr 1 2 3 109 140 93 92 30 464 Total

Sumber : Kantor PT. Socfindo Kebun Mata Pao (Desember 2013) Dari Tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar karyawan di PT. Socfindo Mata Pao banyak terdapat di divisi II di Mata Pao Sebnyak 140 orang, sedangkan untuk pegawai banyak terdapat di pabrik yaitu sebanyak 18 orang.

12

10. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) a. Pengenalan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) kepada tamu yang dilakukan oleh SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang berada di bawah P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja). b. Lingkungan P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yaitu 14001:2004 c. Sistem izin kerja d. Prosedur keadaan darurat. e. Pelapor sumber bahaya/cidera f. Menyediakan kotak P3K sebanyak dua buah di setiap pabrik. g. Setiap memasuki pabrik diharuskan menggunakan Alat Pelindung Diri. h. Mematuhi pembatas akses yaitu merupakan garis berwarna kuning yang berada di lantai merupakan daerah terlarang bagi tamu. 11. Jam Kerja Jam kerja yang berlaku pada PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Unit Usaha Adolina dibagi atas dua bagian, yaitu : a. Bagian Kantor Untuk bagian ini hanya ada satu shift dengan 7 jam/hari dan 40 jam/minnggu adalah sebagai berikut: Hari Senin s/d Kamis Pukul 07.00 12.00 Pukul 12.00 14.00 Pukul 14.00 15.00 : kerja aktif : istirahat : kerja aktif

Hari Jumat Pukul 07.30 12.00 Pukul 07.00 12.00 Pukul 12.00 14.00 Pukul 14.00 15.00 : kerja aktif

Hari Sabtu : kerja aktif : istirahat : kerja aktif

13

b. Bagian Pabrik Adapun ini : Tabel 1.4 Tabel Jumlah pekerja dalam dua shift di PKS PT Socfindo Mata Pao No. Stasiun Jumlah Tenaga Kerja (orang) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Mandor Shift Wacht Tukang FFB Elevator Rebusan Stripper Pressan Klarifikasi Sludge Seperator Refericarfing dan Kernel Boiler Operator Kamar Mesin Water Treatment Laboratorium/Demin Plant Limbah Jumlah 2 4 12 14 2 2 2 2 6 8 2 2 8 1 67 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 1 Jumlah Shift jumlah operator yang dibutuhkan dalam satu shift seperti dibawah

Sumber : PKS PT. Socfindo Kebun Mata Pao (Desember 2013) Untuk bagian pabrik pekerja dibagi atas shift, yaitu :

Shift I Shift II

(pukul 07.00 19.00) (pukul 19.00 07.00)

14

12. Sistem Pengupahan dan Lainnya Pembagian upah/gaji karyawan PT Socfin Indonesia (Socfindo) Kebun Mata pao dilakukan 2 kali setiap bulanya yang disebut Remisi I dan Remisi II. Jumlah upah/gaji yang diberikan kepada karyawan disesuaikan dengan jabatannya. Selain gaji bulanan, karyawan juga mendapat upah lembur dihitung luar jam kerja ditambah dengan detiap karyawan juga mendapat 15 Kg beras. Untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan, perusahaan juga

menyediakan fasilitas seperti : Perumahan untuk setiap karyawan pimpinan dan karyawan pelaksana yang berada di lokasi perkebunan di sekitar pabrik. Air dan listrik untuk keperluan rumah tangga. Tunjangan keselamatan kerja, duka cita dan tunjangan harian. Rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan bagi karyawan. Tempat penitipan bayi. Sarana pendidikan/sekolah bagi anak karyawan. Tempat ibadah di sekitar perumahan karyawan. Sarana olah raga.

B. Tujuan dan Manfaat Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan Industri (PKLI) Berdasarkan buku bimbingan Praktek Kerja Lapangan Industri (PKLI) menjelaskan bahwa Praktek Kerja Lapangan Industri merupakan mata kuliah wajib yang harus diselesaikan oleh mahasiswa dengan melakukan praktek, atau observasi di industri. Rasional dari pelaksanaan PKLI adalah untuk mengikuti perkembangan teknologi yang ada di industri. Hal tersebut dikarenakan perkembangan teknologi di industri selalu lebih cepat dari pada di Perguruan Tinggi. Perkembangan teknologi yang demikian pesat tidak dapat diikuti oleh Perguruan Tinggi dikarenakan fasilitas yang kurang memadai seperti sarana praktek, buku teks dan hal lainnya. Dari itu mahasiswa perlu diperkenalkan dengan perkembangan teknologi yang ada di industri melalui mata kuliah PKLI.

24

1. Tujuan Pelaksanaan PKLI Adapun tujuan dari kegiatan Praktek Kerja Lapangan Industri (PKLI) ini adalah: a. Memberi pengalaman bagi mahasiswa dalam hal penerapan IPTEK di dunia industri. b. Memberi pengalaman bagi mahasiswa menemukan IPTEK di dunia industri. c. Memberi pengalaman bagi mahasiswa membuat suasana kerja praktek industri yang harmonis di dunia usaha dan dunia industri. d. Memberi pengalaman bagi mahasiswa membuat laporan kegiatan Praktek Kerja Lapangan Industri. e. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dilingkungan Jurusan Teknik Mesin FT Unimed. Adapun tujuan ketika melaksanakan PKLI adalah: a. Memahami dan mengetahui manajemen perusahaan yaitu meliputi struktur organisasi perusahaan, tugas dan fungsinya dan tata letak perusahaan. b. Mengetahui dan mempelajari proses produksi industri. c. Memahami teknik pengendalian mutu kerja. d. Memahami pekerja industri yang memenuhi standar perusahaan. 2. Manfaat Pelaksanaan PKLI a. Manfaat Bagi Mahasiswa 1. Mahasiswa dapat memahami dan mengaplikasikan pengetahuan yang didapat dalam perkuliahan ke dunia industri. 2. Mahasiswa dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dunia industri dengan melakukan observasi langsung ke industri. 3. Mahasiswa dapat memahami proses industri dengan teori dan praktek yang didapat dalam perkuliahan serta mampu dalam praktek. 4. Mahasiswa dapat memperoleh kesempatan untuk melatih kemampuan dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan lapangan. 5. Mahasiswa dapat memahami proses kerja yang sebenarnya secara langsung pada dunia industri.

25

b. Manfaat Bagi Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan 1. Dapat terjalin kerjasama antara Fakultas Teknik UNIMED dengan dunia industri. 2. Fakultas Teknik dapat meningkatkan mutu lulusannya dengan memadukan pengetahuan dalam kampus dengan dunia industri. 3. Dapat mengetahui keberadaan perusahaan dari sudut pandang mahasiswa yang melakukan Praktek Kerja Lapangan Industri di perusahaan tersebut. c. Manfaat Bagi Perusahaan 1. Ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan dapat meningkatkan kualitas manusia yang mengarahkan pada peningkatan intelektual dan profesionalisme. 2. Terjalinnya hubungan baik antara masyarakat perusahaan dengan masyarakat sekitarnya pada bidang-bidang pendidikan, seperti mahasiswa. 3. Sebagai bahan masukan bagi perusahaan dalam rangka memajukan pembangunan di bidang pendidikan. C. Dasar Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan Industri (PKLI) 1. Melaksanakan TRI DARMA perguruan tinggi sebagai mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED). 2. Program mata kuliah bersyarat yang harus dilaksanakan mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan (FT. UNIMED). D. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan Industri (PKLI) Kegiatan Peraktik Industri dilaksanakan pada: Bulan Tempat : 23 Desember 2013 s/d 23 Januari 2014 : PKS Socfindo Mata Pao PT. Perkebunan Socfindo Mata Pao Kab. Serdang Bedagai, Kec. Teluk Mengkudu

26

BAB II LANDASAN TEORI


A. Kelapa Sawit Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.

Gambar 2.1 Kelapa Sawit B. Pemeliharaan Botani Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi. Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa. 26

27

Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar. Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya. Buah terdiri dari tiga lapisan: 1. Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin. 2. Mesoskarp, serabut buah 3. Endoskarp, cangkang pelindung inti Inti sawit (kernel, yang sebenarnya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi. Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).

Gambar 2.2 Pembibitan Kelapa Sawit

28

C. Syarat Hidup Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15 LU - 15 LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu 17 daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit. D. Tipe Kelapa Sawit Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis yaitu : E. guineensis dan E. olefiera. Jenis yang pertama yang terkuas dibudidayakan orang, dari kedua spesies kelapa sawit ini memiliki keunggulan masing masing. E. guineensis memiliki produksi yang sangat tinggi dan E. olefiera memiliki tinggi tanaman yang rendah. Banyak orang sedang menyilang kedua spesies ini untuk mendapatkan spesies yang tinggi produksi dan gampang dipanen. E. olifiera sekarang mulai di budidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sunber daya genetik. Berdasarkan tebal tipisnya cangkang, dikenal tipe tipe : 1. Tipe Dura, dengan ciri ciri yaitu : Daging buah (mesocarp) tipis, cangkang (endocarp) setebal 2 8 mm. Intinya besar dan tidak terdapat cincin serabut. Persentase daging buah 35 60 % dengan rendeman minyak 17 18 %. 2. Tipe Pisifera, dengan ciri ciri yaitu : Daging buah (mesocarp) tebal, tidak mempunyai cangkang (endocarp), tetapi terdapat cincin serabut yang mengelilingi inti. Intinya kecil sekali bila dibandingkan dengan tipe Dura maupun Tenera. Perbandingan daging buah terhadap buahnya tinggi, dan kandungan minyaknya tinggi. Tipe ini hanya dipakai sebagai pohon bapak dalam persilangan dengan tipe Dura. 3. Tipe Tenera, Merupakan hasil persilangan antara tipe Dura dan Pisifera. Sifat tipe Tenera merupakan kombinasi sifat khas dari kedua induknya. Tipe ini mempunyai tebal cangkang sekitar 0,5 4 mm, mempunyai cincin serabut walaupun tidak sebanyak Pisifera, sedangkan intinya kecil. Perbandingan daging buah 60 90 %, rendemen minyak 22 24 %.

29

Dura

Pisifera

Tenera Gambar 2.3 Jenis Kelapa Sawit E. Hasil Tanaman Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak goreng, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik. Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin. Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng,

30

sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang. Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90 C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur. Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos. F. Produk Kelapa Sawit Beberapa produk dari kelapa sawit yang umum diperdagangkan adalah : 1. Minyak Sawit Kasar atau Crude Palm Oil (CPO) Merupakan Minyak yang agak kental berwarna kuning jingga kemerah merahan. CPO mengandung asam lemak bebas (EFA) 5% dan banyak menagndung Carolene atau pro vitamin E (800 900 ppm). Titik lunak berkisar antara 33 34oC. 2. Inti Kelapa Sawit atau Palm Kernel Merupakan buah tanman kelapa sawit yang telah dipisahkan dari daging buah tempurungnya serta selanjutnya dikeringkan. Kandungan minyak yang terkandung di dalam inti sekitar 50 % dan kadar FFA nya sekitar 5 %. G. Sejarah Perkebunan Kelapa sawit Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura". Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama

31

berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besarbesaran baru dimulai tahun 1910. Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940. Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia). Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif. Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12 m, dan merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.

32

BAB III PROSES PENGOLAHAN KELAPA SAWIT


A. Bahan Baku Tanaman kelapa sawit (Elaeis Guinensis Jacq) merupakan tanaman palma yang berasal dari Afrika dan cocok untuk ditanam di daerah tropis, seperti di Indonesia. Elaeis yang berarti minyak dan guinensi merupakan spesies tanaman yang diambil dari nama sebuah pantai di Nigeria atau Afrika Barat, dimana pertama kali sawit ditemukan. {Sumarno S, (1996). Perkembangan Tanaman Perkebunan Sawit di Indonesia. UGM. Jogyakarta, 1999}. Kelapa Sawit pertama kali ditanam di Indonesia pada pertengahan abad ke-19 yang dibawa oleh bangsa Belanda, tanaman ini untuk pertama kali tumbuh sebagai koleksi di kebun raya Bogor. Buah kelapa sawit (TBS) adalah tandan dengan berat berkisar 3-50 Kg dan terdiri dari susunan berondolan, gagang buah (stalk) dan janjang kosong. Pada saat baru menghasilkan berat tandan relatif rendah dan mulai meningkat sesuai bertambahnya usia tanaman. Bahan baku pabrik kelapa sawit PT. Socfin Indonesia (SOCFINDO) Kebun Mata Pao berasal dari kebun sendiri dan masyarakat (pihak III). Minyak kelapa sawit adalah hasil pengolahan tandan buah segar (TBS), pengolahan yang dilakukan adalah pemisahan minyak yang terkandung dalam daging buah dengan intinya, serta prosesnya tidak mengubah sifat kimia buah kelapa sawit, sehingga hasilnya murni tergantung dari pada bahan baku TBS yang ada. Buah kelapa sawit mempunyai jenis atau varietas yang disebut Dura(D), Pisifera(P) dan Tanera(T). Tanera adalah tanaman komersil saat ini dan terdapat di PT. Socfin Indonesia (SOCFINDO) Kebun Mata Pao, yang merupakan hasil persilangan antara Dura dan Pisifera. 1. Jenis a. Dura : Daging tipis, tempurung tebal, dan inti besar.

b. Pisifera : Daging tebal, tempurung tipis, dan inti kecil. c. Tenera : Daging sedang, tempurung sedang, dan inti sedang

32

33

2. Asal buah a. Kebun PT. Socfindo Mata pao b. Masyarakat (Pihak III) 3 Kriteria buah a. Buah masak : Minimal 8 brondolan terlepas dari 1 janjang. b. Buah busuk : Brondolan lepas lebih dari 50 % dan batang busuk. c. Buah bernas : Buah yang kurang sempurna d. Buah balen : Buah yang tidak terpipil secara keseluruhan. 3. Hal yang perlu diperhatikan a. Buah yang telah dipanen harus segera diolah, maksimal menunggu selama 8 jam untuk menghindari meningkatnya asam lemak bebas (FFA). b. Buah yang datang dari pihak III disortir, jika terdapat buah busuk, buah bernas dan tangkai yang panjang maka akan dikembalikan. c. Jenis tanaman PT. Socfin Indonesia (SOCFINDO) Kebun Mata Pao adalah jenis tenera, hal ini dikarenakan banyak memproduksi CPO (Crude Palm Oil).

34

Material Balance TBS


TBS 100 %

Empty Bunch 24 %

Fruitless 66 %

Evaporation 10 %

Fruitless 66 %

TBS 100 %

Fruitless 66 %

Evaporation 10 %

TBS 100 %

TBS 100 %

Evaporation 10 %

Gambar 3.1 Material Balance

35

B. PROSES PRODUKSI DAN MESIN-MESIN PRODUKSI Tahapan proses pengolahan kelapa sawit dari TBS (Tandan Buah Sawit) hingga di hasilkan CPO dan Kernel melalui beberapa tahapan sebagai berikut : 1. Fruit Reception Station (Stasiun Penerimaan Buah) 2. Sterilizing Station (Stasiun Rebusan) 3. Stripper Station (Stasiun Penebah) 4. Pressing Station (Stasiun Kempa) 5. Clarification Station (Stasiun Pemurnian Minyak) 6. Oil Storage Station (Stasiun Penimbunan Minyak) 7. Stasiun Pengolahan Inti Kelapa Sawit 8. Boiler Station (Stasiun Ketel Uap) 9. Power Plant Station (Stasiun Sumber Tenaga Listrik) 10. Water Supply Station (Stasiun Penyediaan Air) 11. Laboratorium 12. Pengolahan Limbah

36

1. FRUIT RECEPTION STATION (STASIUN PENERIMAAN BUAH) a. Proses Penerimaan Buah

Gambar 3.2 Penerimaan Buah Proses penerimaan TBS yang dilakukan di PT. Socfin Indonesia (SOCFINDO) Kebun Mata Pao selalu dilakukan pemeriksaan (penyortiran) oleh petugas atau krani laboratorium. TBS yang datang dari kebun sendiri disortir dengan cara pengambilan sampel baik yang langsung dari lapangan maupun dari truk yang masuk. Lain halnya dengan TBS yang berasal dari masyarakat (pihak III), setiap truk yang masuk harus disortir menurut ketentuan sebagai berikut: 1. Pembongkaran TBS dilakukan oleh SPSI sedangkan sortasi dilakukan oleh mandor pengolahan disaksikan Tekniker II. 2. Tidak diperbolehkan melakukan pembongkaran TBS langsung dituang ketimba buah tapi harus berjarak minimal 1 meter dari bibir tuang untuk memudahkan proses sortasi. 3. Tidak boleh menerima TBS yang diindikasikan berasal dari hasil kejahatan sehingga harus disertai dokumen resmi, yaitu formulir dan Surat Pengantar (SP) sebagai surat jalan. 4. Waktu pembongkaran TBS dilaksanakan pada hari kerja dari Pukul 07.00 WIB Selesai.

37

5. Jika terjadi keadaan force majeure atau kerusakan maka pabrik pengolahan dapat menolak atau menerima/membeli TBS dari masyarakat (pihak III). Hal yang perlu diperhatikan dalam penerimaan TBS, yaitu : Fraksi 00 = Buah cangkir yang belum berondol (tidak diterima) Fraksi 0 = 1 9 Berondolan (tidak diterima) (diterima) (diterima) (diterima) (diterima) (diterima) Fraksi 1 = 10 25 Berondolan Fraksi 2 = 26 50 Berondolan Fraksi 3 = 51 75 Berondolan Fraksi 4 = 76 100 Berondolan Fraksi 5 = 101 Seluruh lapisan TBS

b. Jembatan Timbang

Gambar 3.3 Jembatan Timbang dan Timbangan Sistem Komputerisai Jembatan timbang yang digunakan di Pabrik Kelapa Sawit PT. Socfin Indonesia (SOCFINDO) Kebun Mata Pao yaitu tipe digital yang dihubungkan dengan perangkat komputer dan printer dengan kapasitas penimbangan

38

maksimum 40 ton, lebih dari itu dilakukan dua kali penimbangan Jembatan timbang ditera oleh bidang metrologi minimal 1 kali setahun. Timbangan adalah alat ukur yang berfungsi untuk mengetahui jumlah berat dari tandan buah yang akan diolah, jumlah produksi buah yang dihasilkan oleh kebun dan mengetahui jumlah buah masuk dari masyarakat (pihak III). Fungsi jembatan timbang adalah untuk menimbang hasil produksi TBS, CPO, Inti, dan lain - lain. Pelaksanaan penimbangan buah dilakukan sewaktu buah masih berada dalam truk pengangkut buah. Penimbangan yang lebih akurat dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Pada awal penimbangan timbangan harus pada titik Nol (setiap hari). Timbangan dibaca pada posisi titik/angka maximum (saat menimbang). Keluar dan masuk kendaraan harus perlahan - lahan sehingga terhindar dari goncangan. Pemeriksaan kebersihan timbangan dilakukan setiap hari. Dalam musim hujan air yang ada didalam pit harus dipompa terus menerus untuk menghindar penyimpangan timbangan dan kerusakan - kerusakan pada alat. Pemeriksaan total dilakukan satu minggu sekali dan tera ulang dilakukan satu kali satu tahun sesuai petunjuk Jadwal Metrologi. Langkah - langkah penimbangan dilakukan sebagai berikut: 1) Supir turun dari kendaraan dan menyerahkan surat penghantar barang (SPB) kepada petugas timbangan 2) Kemudian truck ditimbang (pencatatan: nama supir, nomor SIM, nomor kendaraan, keterangan barang, tanggal dan berat) 3) Contoh: a) Timbang I: Berat Bruto = 2585 Kg b) Selanjutnya truk naik ke lantai penimbunan buah; setelah melalui proses sortir buah.

39

c) Truk turun dengan berat beban kosong dan menuju ke timbangan kembali. d) Timbang II: Berat Tarra = 185 kg NETTO = BRUTO TARRA NETTO = 2585 Kg 185 kg = 2400 Kg Untuk Spesifikasi Teknis dari Jembatan Timbang adalah : a. Merk b. Kapasitas c. Platform d. Electric supply requered : Avery Weigh Tronic Model E1205 : 40.000 Kg : 12 m x 3 m x 12,5 mm : 110 240 V 50/60 Hz 1.85 A

e. Thick slip resitance chequered plate f. Pit less dan tanpa fit g. Load cell Avery Weigh Tronic E1205, 4 bh @ 10.000 Kg Pengendalian Mutu : a. Setelah ditimbang lalu TBS dibongkar dan disortir untuk menentukan TBS yang sesuai dengan kriteria matang panen : buah sangat mentah (fraksi 00 = 0%), buah mentah (fraksi 0 maksimum 3 %), buah matang = 97 %, buah busuk = 0% dan brondolan minimum 5 %. b. Sementara untuk sortir pembelian yang tidak sesuai dengan kriteria matang panen TBS dikembalikan ke pemasok. c. Untuk kebun sendiri bila ditemui TBS yang tidak sesuai kriteria akan ditindaklanjuti.

40

c. FFB Elevator (Elevator TBS)

Gambar 3.4 FFB Elevator (Elevator TBS) FFB Elevator (Elevator TBS) adalah alat untuk mengangkut/ membawa TBS dari lantai penimbunan buah diangkut dengan timbah TBS masuk ke Sterilizer untuk direbus. Alat ini terdiri dari sejumlah timba yang diikat

pada rantai yang digerakkan oleh Elektromotor. Setiap FFB Elevator (Elevator TBS) memiliki 2 operator yang bertugas untuk memasukkan TBS ke dalam timbah Elevator TBS. TBS dari lantai penimbunan buah diangkut dengan timbah TBS masuk ke dalam Sterilizer (Rebusan). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian : Baut-baut timba agar tetap terikat kuat Jika rantai kendor distel Pengisian merata sesuai dengan ketentuan Apabila terlalu penuh, dapat mengakibatkan beban lebih pada motor penggerak Pembersihan dan Pemeriksaan menyeluruh dilakukan setiap minggu

41

Kondisi Fisik FFB Elevator (Elevator TBS) adalah 3 unit FFB Elevator yang menggunakan rantai Renold 6/pitch dan dilengkapi oleh timba-timba yang digerakkan oleh elektromotor bertenaga 5,5 HP dengan Gear Box Size 135 dengan Ratio 1 : 40. Spesifikasi Teknis FFB Elevator (Elevator TBS) adalah : Merk Putaran Kapasitas Tinggi elevator Kapasitas timba Rantai Elektromotor : Flender Himmel Jumlah Elevator TBS : 3 unit : 50 rpm : 12 TBS/jam : 10 m

Jumlah timba per unit : 46 buah : 50 Kg : Renold 6 : 5,5 HP, Rpm 1500

Gear Box Size 135 Ratio 1 : 4

42

2. STERILIZER STATION (STASIUN REBUSAN)

Gambar 3.5 Strerilizer Sterilizer adalah bejana uap tekan yang digunakan untuk merebus buah. Proses perebusan ini sangat penting karena akan mempengaruhi mutu minyak sawit nantinya.Dalam proses ini buah kelapa sawit dimasukkan ke dalam sterilizer dengan waktu tertentu. Untuk Spesifikasi Teknis dari Sterilizer adalah : Perebusan konvensional yaitu sistem tegak/vertikal dengan steam basah. Jumlah rebusan Panjang Sterilizer Diameter Sterilizer : 9 unit @ 2,8 ton TBS : 4m : 2,1 m

Dilapis dengan slyt plat tebal 6 mm Dilengkapi dengan kran - kran steam masuk/keluar serta pemipaan dan alat kontrol tekanan (Manometer) Sistem perebusan 3 puncak (triple peak)

43

Tekanan Waktu Temperatur

: 2 kg/cm2 (tekanan operasi) : 70 75 menit : 132,9 oC

Waktu perebusan per siklus : Loading Unloading : 30 menit : 30 menit

Waktu Perebusan : 75 menit Total : 130 menit : (9 x 2,8) x = 12 ton/jam

Kapasiatas

TBS dari lantai penimbunan buah diangkat dengan timbah TBS masuk ke dalam rebusan, waktu yang diperlukan 15 menit. Sterilizer berbentuk silinder berdiameter 2,1 m dengan panjang 4 m berjumlah 9 unit dengan waktu merebus buah 75 menit dengan menggunakan uap basah dan tekanan rendah yaitu 0-2 kg/cm2 pada suhu sampai 132,9 oC dengan sistem perebusan tiga puncak (three peak system), yaitu : Puncak I Puncak II Puncak III : 2,0 kg/cm : 2,5 kg/cm : 3,0 kg/cm

Yang bertujuan untuk menguras udara dingin yang terdapat dalam sterilizer yang berperan sebagai isolator yang menghambat kenaikan panas pada rebusan, sehingga jika tidak dikeluarkan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai temperatur dan tekanan yang diinginkan akan lebih lama. Masingmasing Sterilizer berkapasitas 2,8 ton. Kemudian uap dipertahankan selama 45 menit (masa tahan perebusan) pada tekanan 2 kg/cm2 kemudian uap dibuang, dan pintu sterilizer dibuka untuk mengeluarkan TBS yang telah direbus dari dalam.

44

Gambar 3.6 Grafik perebusan sistem tiga puncak Keterangan gambar : 1. 0 - 8 menit Pemasukan uap pertama dari 0-2 kg/cm2 termasuk menguras udara. 2. 0 - 2 menit Pembuangan uap (afblas) pertama, dari tekanan 2 -0 kg/cm2. 3. 0 8 menit Pemasukan uap kedua, dari 0 2,5 kg/cm2, T = 132,9 oC. 4. 0 2 menit Pembuangan uap (afblas) kedua, dari tekanan 2 - 0 kg/cm2. 5. 0 5 menit Pemasukan uap ketiga, mulai dari 0 2 kg/cm2, T = 132,9 oC. 6. 45 menit Uap ditahan pada tekanan 2,8 kg/cm2 dengan T = 132,9 oC. 7. 0 5 menit Pembuangan uap (afblas) terakhir yang masih tertinggal, dari tekanan 2 0 kg/cm2. Pembuangan uap pada proses terakhir ini disebut dengan blowdown

dimana uap yang dibuang masih mengandung minyak hasil dari perebusan tersebut yang akan dipompakan ke bak dekantasi.

45

Tujauan dari perebusan atau sterilizer dari tandan buah segar adalah : 1. Melunakan buah agar daging buah mudah lepas dari biji dan untuk memudahkan pelepasan minyak dari sel selnya pada waktu pemersan di dalam di gester 2. Menghentikan aktifitas enzim lipase yang menguraikan minyak menjadi asam lemak bebas dan menghentikan kegiatan hidrolisa yang sudah terjadi. 3. Memudahkan pelepasan buah dari tandan pada waktu proses penebahan. 4. Mengkoagulasi zat zat albumin agar tidak terikut dengan cairan kempa, karena dapat menyebabkan campuran minyak dan air menjadi emulsi yang menyulitkan pemisahan minyak pada stasiun klarifikasi. 5. Mengurangin kadar air dalam buah. Adapun hal hal yang perlu di perhatikan dalm perebusan adalah : Pengisian uap dan pembuangan uap pada tingkat pertama dan kedua bertujuan untuk membuang udara dan kandungan air pada TBS. Pembuangan uap harus sampai 0 kg/cm2. Waktu perebusan - Terlalu cepat - Terlalu lama : Kadar air masih banyak. : Janjangan kosong banyak menghisap minyak.

46

3. STRIPPER STATION (STASIUN PENEBAH) a. Bunch Conveyor (Trans Buah Masak)

Gambar 3.7 Bunch Conveyor Bunch Conveyor (Trans Buah Masak) ini mengatur pemasukan buah masuk kedalam alat penebah (Stripper). Buah yang telah dibongkar dari rebusan akan jatuh ke Bunch Conveyor dengan sistem rantai yang bergerak perlahan membawa buah yang telah direbus masuk ke dalam Stripper (penebah). Halhal yang perlu diperhatikan selama beroperasi : Adanya benda - benda asing yang terikut dengan buah yang dapat merusak peralatan jika ada yang harus dibuang. Jika rantai kendor distel. Pembersihan dan Pemeriksaan menyeluruh dilakukan setiap minggu. Cek kondisi keausan rantai dan sporket. Spesifikasi Teknis dari Bunch Conveyor ini adalah : Merk Jumlah Putaran Panjang Kapasitas Rantai Elektromotor : Sumitomo : 1 unit : 11 rpm : 12 m : 12 ton/jam : Renold 4 : 15 HP, Rpm 1460

Gear Box Size 120 Ratio 1 : 4

47

b. Stripper (Penebah)

Gambar 3.8 Stripper Alat ini digunakan untuk melepas dan memisahkan buah dari tandan dengan cara sebagai berikut : Janjangan yang telah direbus dari rebusan masuk ke stripper. Setelah janjangan masuk ke stripper maka janjangan akan ikut berputar searah dengan putaran putaran stripper. Janjangan dibawah menuju ke bagian atas / sumbu vetikal dari stripper oleh pembalik. Sampai pada sumbu vertikal maka janjangan akan jatuh akibat gaya beratnya dan brondolan akan terlepas dari janjangan Selain membawa janjangan ke bagian atas, pembalik juga mendorong janjangan ke bagian luar. Janjangan berputar, dibanting dan menuju conveyor janjangan kosong. Stripper yang berdiameter 1.700 s/d 2.100 mm dengan panjang 4.050 s/d 4.500 mm. Putaran rata - rata Stripper adalah 28 rpm dilengkapi dengan kisi-kisi yang dibuat dari besi U dengan jarak satu sama lain 50 mm.

48

Fungsi Stripper adalah : 1. Membanting buah yang telah direbus agar brondolan terpisah dari janjangan. 2. Memisahkan antara brondolan dengan janjangan kosong. Hal-hal yang harus diperhatikan : Aliran janjangan yang masuk ke stripper harus stabil Janjangan harus jatuh setelah sampai sumbu vertikal Pengisian merata dan tidak terlalu penuh Adakan pembersihan kisi-kisi setiap berhenti mengolah Setiap minggu dilakukan pembersihan dan pemeriksaan menyeluruh, pada komponen-komponen penebah tersebut. Kondidi Fisik Stripper adalah 1 unit terdiri dari tromol yang mempunyai 2,1 m terpasang besi-besi dengan spasi 3 cm agar brondolan jatuh kebagian bawah. Digerakkan oleh elektromotor bertenaga 30 HP dilengkapi dengan Gear Box serta Fluid Koppel sebagai Pengaman. Spesifikasi Teknis Stripper adalah : Tipe Jumlah Stripper Putaran Stripper Panjang Stripper Diameter Stripper Jarak antar ram Pembalik - Jumlah - Lebar : 9 buah : 300 mm : Rotary drum stripper : 1 unit : 28 rpm : 4050 mm : 2100 mm : 50 mm

Electromotor 30 HP, Rpm 1445 Gear Box size 200, Ratio 1 : 60

49

c. Empty Bunch Conveyor (Conveyor Janjangan Kosong)

Gambar 3.9 Empty Bunch Conveyor Empty Bunch Conveyor yang lazim disebut Krapyak ada 1 (satu) unit. Krapyak ini menggunakan rantai (Conveyor Chain) yang memakai Schraper untuk mendorong/membawa janjangan kosong ke Hopper Tandan Kosong. Empty Bunch Conveyor berfungsi untuk menerima janjangan kosong dari Stripper yang kemudian dibawa ke Hopper Tandan Kosong. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : Baut - baut pengikat Scrapper terikat kuat. Scrapper tidak boleh kurang. Adakan penyetelan rantai apabila kendor. Pembersihan dan pemeriksaan menyeluruh dilakukan setiap minggu. Kondisi Fisik Empty Bunch Conveyor adalah 1 unit conveyor digerakkan elektromotor bertenaga 9 HP, Gear Box Size 135 Ratio 1 : 40 dengan diameter conveyor 450 600 mm bahan dari plat 3 mm dan 2 unit Horizontal Empty Bunch Conveyor dilengkapi dengan rantai pembawa ukuran 4.

50

Spesifikasi Teknis Empty Bunch Conveyor adalah : Merk Jumlah Putaran Kapasitas Rantai Renold 4 Sprocket 8 gigi x 4 Electromotor 9 HP Gear Box Size 135 Ratio 1 : 40 d. Fruit Conveyor (Conveyor Buah) : E. Bauer : 1 unit : 46 rpm : 6 ton empty bunch/jam

Gambar 3.10 Fruit Conveyor Conveyor pengangkat buah adalah alat pengangkat brondolan/buah masak. Pada umumnya conveyor buah terdiri dari : Conveyor buah dibawah Penebah (Bottom Fruit Conveyor) dipakai untuk menghantar buah dari Penebah ke Conveyor Silang (Bottom Cross Fruit Coveyor). Conveyor buah silang bawah membawa buah ke timba buah (Bottom Cross Fruit Conveyor).

51

Conveyor buah silang (Top Cross Fruit Conveyor) pada bagian atas timba buah dipakai untuk menerima buah dari timba buah dan mengantar ke Conveyor Pembagi (Distributing Conveyor). Conveyor Pembagi, dipakai untuk menghantar dan membagi buah ke dalam Ketel Adukan (Digester). Conveyer Ulangan (Recycling Conveyor) dipakai untuk menghantar buah yang lebih dari Ketel Adukan kembali ke Timba Buah. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama operasi : Sampah-sampah yang tersangkut pada metalan gantung dan poros, agar selalu dibuang setiap sesaat. Baut-baut metalan gantung dan kopling jika longgar agar diikat Pembersihan dan pemeriksaan menyeluruh dilakukan setiap minggu Spesifikasi Teknis Conveyor Buah (Fruit Conveyer) adalah : Bottom Cross Conveyer Merk Jumlah Putaran : Sumitomo : 1 unit : 40 rpm

Diemeter conveyer 500 mm bahan dari plat 5 mm Elektromotor bertenaga 9 HP, Rpm 1410 Gear Box Size 120, Ratio 1 : 40 Top Cross Conveyer Merk Jumlah Putaran : Sumitomo : 1 unit : 40 rpm

Diemeter conveyer 500 mm bahan dari plat 5 mm Elektromotor bertenaga 9 HP, Rpm 1410 Gear Box Size 120, Ratio 1 : 40

52

e. Fruit Elevator (Elevator Buah/Brondolan)

Gambar 3.11 Fruit Elevator Fruit Elevator adalah alat untuk mengangkut buah/brondolan dari conveyer silang bawah ke conveyer silang atas, untuk kemudian dibawa ke Conveyer Pembagi. Alat ini terdiri dari sejumlah timba yang diikat pada rantai yang digerakkan oleh Elektromotor. Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian : Baut - baut timba agar tetap terikat kuat. Jika rantai kendor distel. Pengisian merata sesuai dengan ketentuan. Apabila terlalu penuh, dapat mengakibatkan beban lebih pada motor penggerak. Pembersihan dan Pemeriksaan menyeluruh dilakukan setiap minggu. Kondisi Fisik Timba Buah (Fruit Elevator) adalah 2 unit Fruit Elevator yang menggunakan rantai Renold 6/pitch dan dilengkapi oleh timba-timba yang digerakkan oleh elektromotor bertenaga 5,5 HP dengan Gear Box Size 135 dengan Ratio 1 : 40.

53

Spesifikasi Teknis Fruit Elevator (Elevator Buah/Brondolan) adalah : Merk Jumlah Elevator Buah Putaran Kapasitas Tinggi elevator Jumlah timba per unit Rantai Elektromotor : Flender Himmel : 2 unit : 50 rpm : 12 TBS/jam : 10 m : 46 buah : Renold 6 : 5,5 HP, Rpm 1450

Gear Box Size 135 Ratio 1 : 40

54

4. PRESSING STATION (STASIUN KEMPA) Stasiun Pressan adalah stasiun pertama dimulainya pengambilan minyak dari buah dengan jalan melumat dan mengempa. Baik buruknya pengoperasian peralatan mempengaruhi efisiensi pengutipan minyak. a. Digester (Ketel Adukan)

Gambar 3.12 Digester Digester adalah suatu alat yang duduk vertikal berbentuk silinder berdiameter 1.200 mm dan tinggi 2.800 s/d 3.000 mm dengan volume 3.200 liter yang dilengkapi 6 set pisau pengaduk dan 1 set pisau pelempar yang diikatkan di Shaft (As) berdiameter 6 inchi dengan kecepatan putaran 25 rpm. Digester (Ketel adukan) ini terdiri dari tabung silinder yang berdiri tegak yang didalamnya dipasang pisau-pisau pengaduk (Stirring Arms) sebanyak 6 tingkat yang diikatkan pada poros dan digerakkan oleh motor listrik. 5 tingkat pisau bagian atas digunakan untuk mengaduk/melumat, dan pisau bagian bawah (stirring arms) disamping pengaduk juga dipakai untuk pendorong massa keluar dari ketel adukan. Untuk memudahkan proses pelumatan diperlukan panas 90C - 95C, yang diberikan dengan cara menginjeksikan uap langsung ataupun pemanasan mantel (jacket). Jarak pisau dengan dinding Digester maksimum 15 mm.

55

Fungsi Digester adalah : Mencincang dan melumat brondolan sehingga daging dengan biji (noten) mudah dipisahkan. Mengeluarkan sebagian minyak dari berondolan yang timbul akibat proses pengadukan. Memudahkan untuk pengeluaran minyak (Oil) di Pressan dengan sistem screw yang berlawanan arah dengan kecepatan putaran antara 10 12 rpm. Pelumatan dilakukan dengan cara : 1. Buah masak (brondolan) dari conveyer pembagi dimasukkan dalam ketel aduk, setelah ketel adukan berjalan. 2. Isian harus penuh, pintu Digester harus tertutup. 3. Setelah pengadukan berjalan 15 menit, baru pintu dibuka . Hal-hal yang perlu diperhatikan selama proses ini adalah sebagai berikut: Tinggi isian digister, isian harus tetap penuh minimal tiga perempat dari digester itu sendiri, beban berat brondolan akan mempertinggi gaya gesekan pengadukan sehingga pengadukan akan semakin efektif. Pengaruh suhu pemanasan, suhu efektif yang digunakan antara 95 1000C. Pengaruh kecepatan lengan pengadukan, kecepatan lengan pengadukan efetif adalah 20 25 rpm. Waktu pengadukan , efektifnya waktu yang dilakukan untuk pengadukan berkisar 15 20 menit. Pemeliharaan unit digester itu sendiri. Pipa minyak keluar harus tetap bersih, agar minyak lancar mengalir ke talang minyak (Oil Gutter). Pembersihan dan pemeriksaan menyeluruh dilakukan setiap minggu. Kondisi Fisik Digester (Ketel Adukan) adalah 2 unit digester, yang dilengkapi As dan pisau-pisau pengaduk serta mantel pemanas digerakkan oleh elektromotor bertenaga 30 HP dan dilengkapi oleh Cyclo Drive merk Electrim dan Fluid Kopel sebagai pengaman. Pintu pengeluaran massa yang terpasang dibagian bawah terbuka dan menutup diatur melalui roda gigi pintu. Untuk mengetahui temperatur massa didalam Digester dipasangkan Manometer ukuran 6 tekanan 0 6 Kg/Cm3 dan sebagai pembatas tekanan sistem

56

dipasangkan Safety Valve. Digester diisolasi dengan Rockwool setebal 2 dibungkus dengan plat aluminium. Dibagian atas platform digester dilengkapi dengan chains block 3 ton komplit rail untuk maintenance digester tersebut. Spesifikasi Teknis Digester (Ketel Adukan) adalah : Merk Jumlah Digester Jumlah Pisau Volume Temperatur : Electrim : 2 unit : 6 set : 3200 L : 90oC - 95oC

Elektromotor bertenaga 30 HP, Rpm 970 Fluid Koppel type Hydroflow Coupling Gear Box Cyclo Drive Electrim Stirrer dan Expeller Arm dari baja tuang Safety Valve 1 b. Screw Press (Pengempa)

Gambar 3.13 Screw Press Pengempa dipakai untuk memisahkan minyak kasar (Crude Oil) dari daging buah (Pericap). Screw Press berpasangan dengan Digester yang duduk Horizontal dengan panjang 4.850 mm, lebar 1.450 mm dan tinggi 950 mm dilengkapi peralatan seperti Press Cylinder dan pasang Worm Screw berputar berlawanan arah. Tekanan kempa diatur oleh 2 buah Konus (Cones) berada pada bagian ujung Pengempa, yang dapat digerakkan maju mundur secara hidrolis. Masa yang keluar dari ketel adukan melalui Feeder Screw bagi Kempa yang memakainya (sebahagian minyak keluar) masuk dalam Main Screw untuk

57

dikempa lebih lanjut. Minyak yang keluar dari Feed Screw dan Main Screw ditampung dalam talang minyak (Oil Gutter). Untuk mempermudah pemisahan dan pengaliran minyak pada Feed Screw dilakukan Injeksi Uap dan penambahan air panas. Fungsi Screw Press adalah: Mengepres brondolan dari adukan agar daging buah terpisah dengan biji Daging buah yang dipress menghasilkan minyak kasar dan dikirim ke tangki minyak kasar melalui Oil Gutter dan Sand Trap Tank Mengirimkan biji (Noten) yang telah terpisah dari daging buah ke Cake Brake Conveyor (CBC) untuk memisahkan Noten dengan Fiber. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada proses pengempaan antara lain adalah sebagai berikut: Tekanan hidrolik pada akumulator 30 40 kg/cm2. Temperatur air panas 1000C. Volume air panas 150 liter/ton atau 1,8 2,0 m3/jam. Jarak clearance silinder presasan dengan worm screw maksimum 6 mm. Ampas pressan harus keluar merata disekitar konus. Pada akhir pengoperasian ataupun bila terjadi gangguan/kerusakan, sehingga Screw Press harus berhenti untuk waktu yang lama, Screw Press harus dikosongkan. Bila tekanan Kempa terlalu rendah akan mengakibatkan : Cake basah. Kerugian minyak pada ampas dan biji bertambah. Pemisahan ampas dan biji tidak sempurna dalam proses. Pengolahan biji mengalami kesulitan. Bahan bakar ampas basah, sehingga pembakaran dalam dapur tidak sempurna. Perawatan : Kebersihan alat-alat dilakukan setiap hari Pembersihan menyeluruh dan pemeriksaan dilakukan setiap minggu.

58

Kondisi Fisik Screw Press adalah 2 Unit Screw Press yang dilengkapi Gear Box merk Hansen digerakkan oleh Elektromotor bertenaga 30 HP dan gear box size ratio 1 : 40. Untuk adanya tekanan lawan dipasang 1 unit Hydraulic Power Pack dilenggkapi Pompa Hydraulic yang digerakkan oleh Elektromotor bertenaga kw. Spesifikasi Teknis Screw Press adalah : Merk Jumlah Screw Press : Electrim : 2 unit

Volume aliran air panas : 150 L/ton : 12 ton/jam x 150 L/ton = 1800 L/jam Hydraulic Power Pack merk Electrim Elektomotor penggerak bertenaga 30 HP Gear Box merk Hansen Reduction Ratio 110 : 1 Pendingin Oil Reservoir dan udara pendingin Cake Press Adjusment dikontrol oleh 2 Conical Piece yang dioperasikan dengan Hydraulic Hydraulic system buatan Electrim Hydraulic yang terdiri dari : Cylinder Hydraulic Motor Hydraulic Pump Hydraulic Reservoir Manual Over Riding Control Valve 3 pintu Kilowatt Control Meter. c. Cake Breaker Conveyor (Pemecah Ampas Kempa) Ampas pres yang masih bercampur biji dan berbentuk gumpalan gumpalan dipecah dan dibawa oleh alat pemecah kempa ini kepada alat selanjutnya untuk dipisah antara ampas dan biji. Alat ini terdiri dari pedalpedal yang diikatkan pada poros yang berputar. Kemiringan Pedal diatur sehingga pemecahan gumpalan - gumpalan terjadi dengan sempurna dan penguapan air dapat berlangsung dengan lancar. Untuk mempercepat/mempermudah penguapan air, diberikan pemanasan dengan uap sistem mantel.

59

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: Spriklet maupun benda - benda lain yang melekat pada poros dan metalan gantung harus dibuang. Baut - baut pedal longgar harus diperbaiki. Pembersihan dan pemeriksaan secara menyeluruh dilakukan. Kondisi Fisik Pemecah Ampas Kempa (Cake Breaker Conveyor) adalah 1 unit Cake Breaker Conveyor 600 mm dilengkapi dengan mantel pemanas; untuk menggemburkan Press Cake dipasangkan Padle - Padle serta untuk membatasi tekanan Steam pada Mantel Uap dipasangkan Safety Valve. Conveyer ini dibalut dengan rockwool dan dilapisi dengan plat aluminium setebal 1mm; Conveyor ini digerakkan oleh Elektromotor 15 HP dengan Gear Box size 135 ratio 1 : 60. d. Depericarper (Pemisah Ampas dan Biji) Depericarper adalah alat untuk memisahkan ampas dan biji, serta membersihkan biji dari sisa - sisa serabut yang masih melekat pada biji. Alat ini terdiri dari kolom pemisah (Separating Colum) dan drum Pemolis (Polishing Drum) Amas dan Biji dari Conveyer pemecah Ampas Kempa (Cake Breaker Conveyor) masuk kedalam kolom pemisah. Sistem pemisah terjadi karena hampa udara didalam kolom pemisah, yang disebabkan oleh isapan blower. Ampas kering (berat jenis kecil) terhisap kedalam siklon amplas (Fibre Cyclone) dan melalui Air Lock masuk kedalam conveyor bahan bakar, sedangkan biji yang berat jenisnya lebih besar jatuh kebawah dan dihantar oleh conveyor kedalam drum pemolis. Drum pemolis berputar dengan kecepatan 32 rpm. Akibat adanya putaran ini terjadi gesekan yang menyebabkan serabut lepas dari biji. Kondisi Fisik Stasiun Kempa (Pressing Station) yang lain adalah : 1 unit distributor fruit conveyor 500 mm terbuat dari bahan plat 5 mm serta wearing plate setebal 5 mm digerakkan oleh electromotor 7,5 HP dan gear box size 120 ratio 1 : 40

60

1 unit overflow conveyor juga 500 mm terbuat dari bahan plat 5 mm serta wearing plate setebal 5 mm digerakkan oleh electromotor 7,5 HP dan gear box size 120 ratio 1 : 40 Press structure yang dapat memuat 4 unit screw press dan 4 unit digester, platform terbuat dari bahan plat tebal , dilengkapi dengan hand rail dan tangga juga anak tangga dibuat dari open grid pattens. Bahan plat 5 mm serta wiring plate setebal 5 mm. 1 unit crude oil gutter yang terbuat dari bahan plat stainless steel tebal 3 mm dipasang miring bertujuan mengalirkan crude oil ke sand trap. Dilengkapi dengan hot water delution.

61

5. CLARIFICATION STATION (STASIUN PEMURNIAN MINYAK) Stasiun pemisah minyak ini adalah stasiun terakhir untuk pengolahan minyak. Minyak kasar hasil stasiun pengempaan, dikirim ke stasiun ini untuk diproses lebih lanjut, sehingga diperoleh minyak produksi dengan mutu yang baik dengan batasan sbb : ALB minyak produksi : 3 4 % Kadar air produksi : 0,09 0,10 % Kadar kotoran produksi : 0.01 % Proses pemisah minyak, air dan kotoran dilakukan dengan sistem pengendapan sentripusi dan penguapan. Pemisahan minyak sawit dengan lumpur/serat berdasarkan perbedaan berat jenis pada temperatur 90 95 C di dalam CST (Continuous Setting Tank). Minyak yang berasal dari CST dialirkan dan dipanaskan di Oil Tank pada temperatur 90 95 C dan sludge (lumpur) dari CST dimasukkan ke Sludge Tank kemudian diolah di Sludge Separator untuk mengurangi kadar kotoran dan minyak yang dihasilkan kembali ke CST.

Vibrating Screen

Daily Tank

Crude Oil Tank

o i l

d r i e r

Water Phase Tank

Balance Tank

CST
Oil Tank Sludge Tank I Sludge Tank II

Bak Dekantasi

Sludge Seperator

Oil Tank

Gambar 3.14 Skema Klarifikasi Pemurnian Minyak

O i O l i l T a n k T a n k

62

Minyak yang berasal dari Oil Tank dialirkan ke tangki masakan dan selanjutnya dialirkan ke Oil Purifier untuk mengurangi kadar kotoran dan kadar air selanjutnya. Minyak dipompa ke Oil Drier untuk mengurangi kadar air sampai kandungan air dalam minyak 0,150 %. Minyak olahan (CPO : Crude Palm Oil) sebelum dikirim disimpan di Tangki Timbun (Daily Tank). Sedangkan sludge dialirkan ke Sludge Tank dan diproses lanjut ke Sludge Separator, setelah mendapatkan perlakuan penyaringan pada Brush Strainer dan Pre Cleaner, hasil olahan minyak dari Sludge Separator dipompakan ke CST dan sludgenya dialirkan ke bak Fat Pit untuk proses lebih lanjut dengan sistem perbedaan berat jenis, minyak yang timbul ke permukaan dikutip dan dipompakan ke bak dekantasi. Untuk pengendalian mutu, pihak Laboratorium PKS PT. Scfindo Mata Pao mengambil titik sampel sebagai berikut: Sludge hasil olahan dari Sludge Separator diambil contohnya 1 x 2 jam untuk dianalisa losis minyak, maksimum 0,8 %. Sludge di Sludge Tank diambil contohnya 1 x 2 jam untuk dianalisa kandungan minyaknya masksimum 6%. Produksi minyak yang akan dikirim ke Tangki Timbun diambil contohnya 1 x 1 jam untuk mengetahui ALB = 3,00 % kadar air = 0,150% dan kadar kotoran = 0,020%. a. Vibrating Screen (Saringan Getar)

Gambar 3.15 Vibrating Screen

63

Saringan bergetar dipakai untuk memisahkan benda-benda padat yang terikut minyak kasar Benda-benda padat berupa ampas yang disaring pada saringan ini dikembalikan ke timba buah untuk diproses kembali. Cairan minyak ditampung dalam tangki minyak kasar (Crude Oil Tank). Saringan getar terdiri dari 2 tingkat. Tingkat atas memakai kawat saringan mesh 30, dan tingkat bawah memakai mesh 40. Untuk memudahkan penyaringan, saringan getar tersebut disiram dengan air panas. Fungsi Vibrating Screen adalah : 1. Memisahkan minyak kasar dari ampas yang berbentuk serat daging buah dan pasir 2. Selain untuk mempercepat proses penyaringan, getaran CVS ini juga untuk membuang sampah yang ada dari sisi penyaringan 3. Mempercepat pemisahan kadar kotoran dan minyak pada proses selanjutnya Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian adalah : Pengenceran dengan air diatur sedemikian rupa, sehinga cairan dalam tangki mempunyai perbandingan kira-kira 1 (satu) bagian minyak dan 2 (dua) bagian air lumpur (sludge) Khusus untuk Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang telah mempergunakan Decanter, perbandingan minyak dengan Sludge 1-1. Kawat kawat saringan yang rusak segera diganti. Pembersihan dan pemeriksaan menyeluruh dilakukan setiap minggu. Kondisi Fisik Vibrating Screen adalah 1 unit peralatan yang dilengkapi dengan saringan (wire mess); bergetar sedemikian rupa sehingga minyak terpisah dari ampas - ampas bahan yang digerakkan oleh elektromotor 2,5 HP. Spesifikasi Teknis Vibrating Screen adalah : Saringan getar dilengkapi wire mess ukuran 20 x 40 digerakkan oleh elektromotor 2,5 HP dengan sistem excentrik untuk vibro separator ada merk Jinsheng ada merk Internasional LS 60 S 8988 dilengkapi dengan saringan bucket kapasitas 12 ton/jam ukuran 60 mesh 30 single deck dilengkapi 1 unit pondasi lengkapi bordes dan hand rail digerakkan elektromotor 2,5 HP Rpm 1500.

64

b. Crude Oil Tank (Tangki Minyak Kasar)

Gambar 3.16 Crude Oil Tank Tangki minyak kasar adalah tangki penampung minyak kasar, yang telah disaring, untuk dipompakan ke dalam tangki pisah (Continuous Setting Tank) dengan minyak kasar. Untuk menjaga agar suhu cairan tetap, diberikan penambahan panas dengan menginjeksikan uap. Pembersihan secara menyeluruh (luar dan dalam) dilakukan setiap minggu pada jam akhir setelah mengolah. Crude Oil Tank (Tangki Minyak Kasar) berbentuk empat persegi yang berukuran panjang = 2.500 mm, lebar = 1.750 mm, dan tinggi = 1.350 mm sehingga memiliki kapasitas 6 m3 Fungsi Crude Oil Tank adalah : 1. Mengendapkan minyak sementara sehingga dapat mengurangi kadar kotoran pada minyak kasar. 2. Melalui Pompa, minyak dikirim ke Continuous Setting Tank (CST) 3. Penampungan sementara sebelum dipompakan ke tangki CST dan pemanasan awal pada minyak kasar. Kondisi Fisik Crude Oil Tank adalah tangki yang terbuat dari plat stainless steel tebal 3 mm dilengkapi dengan spiral pemanas didalamnya serta supply air panas dan terpasang Thermostatic control valve untuk mempertahankan suhu tetap dicapai 90 95C.

65

Spesifikasi Teknis Crude Oil Tank adalah : Volume 6 m3 terbuat dari bahan plat stainless steel tebal 3 mm pada bagian dalam ada steam coil dengan pompa worm
3 2

degs digerakkan oleh

elektromotor 1,5 HP Rpm 1450 kapasitas 6 m3/jam. c. Continuous Setting Tank (Tangki Pisah)

Gambar 3.17 Continuous Setting Tank Continuous Setting Tank (CST) adalah berbentuk silinder dengan diameter 3.000 mm dan tinggi 5.650 mm. Tangki CST dilengkapi dengan pipa masuk ukuran 8 dan pipa keluar ukuran 12 . Disamping pipa pemanas yang berbentuk segi empat danjuga Pengaduk (Sterer). Pemisahan pertama minyak dengan sludge, secara pengendapan (sistem pemisahan berlangsung secara gravitasi) dilakukan didalam tangki ini. Untuk mempermudah pemisahan, suhu dipertahankan 95 C dengan sistem injeksi uap pada ruang pertama. Tangki pisah ini terdiri dari 3 (tiga) ruang yaitu : 1. Ruang pertama untuk penampungan minyak dari crude oil tank (tangki minyak kasar) melalui pompa. 2. Ruang kedua merupakan ruang pemisah. Pada ruang ini minyak yang terpisah secara gravitasi, dimana minyak yang terdapat pada lapisan atas dikutip melalui alat pengutip (Oil Skimmer) yang dapat distel naik turun

66

sesuai dengan ketebalan minyak yang terapung, yang selanjutnya dialirkan ke oil tank. 3. Ruang ketiga merupakan ruang penampung Sludge, sebelum dialirkan kedalam tangki sludge (Sludge Tank). Fungsi Continuous Setting Tank (CST) adalah : 1. Mengendapkan minyak kasar agar terpisah dari kotoran lumpur (Sludge) dengan cara mengaduk dengan putaran 5 rpm, sehingga minyak dapat terangkat ke atas dan sludge berada di bawah 2. Minyak dipanaskan hingga temperatur 95 C untuk memisahkan minyak, air dan lumpur. Kondisi Fisik Continuous Setling Tank (CST) adalah berbentuk silinder tegak ada yang berupa tangki/bak yang horizontal, didalamnya terpasang coil pemanas serta bagian atas terpasang skimmer untuk pengutipan minyak dibagian bawahnya dipasangkan kran - kran 4 untuk membuang endapan endapan kotoran - kotoran, 1 buah Thermometer dipasang untuk mengetahui suhu didalam CST tersebut. Spesfikasi Teknis Continuous Setting Tank (CST) adalah : Type cylinder tegak kapasitas 40 ton Bagian dalam dilengkapi steam coil, body CST tersebut dari plat tebal 6 s/d 9 mm dibungkus dengan rackwall dan plat aluminium. d. Sludge Tank (Tangki Sludge)

Gambar 3.18 Sludge Tank

67

Tangki ini dipergunakan untuk penampungan Sludge dari hasil pemisahan tangki pisahan yang masih mengandung minyak 9 14 %. Alat ini berbentuk tabung silinder dengan kapasitas 15 ton ukuran diameter 2.500 mm, tinggi = 3.100 mm. Pemanasan dalam tangki ini dilakukan dengan steam coil, untuk mempermudah pemisahan minyak dari sludge dan suhu cairan dalam tangki 90 C 100 C. Fungsi Sludge Tank adalah : Sludge Tank menerima Sludge dari CST yang masih mengandung minyak kemudian diolah dengan temperatur yang cukup. Dengan menggunakan pompa buffer, cairan sludge dipompakan ke buffer tank yang merupakan umpan decanter untuk diproses lebih lanjut. Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam operasi adalah : Kran satu arah (Not Return Valve/Check Valve) dalam keadaan baik Pengisian tangki minimum 2/3 Pembersihan dan pemeriksaan meyeluruh dilakukan setiap minggu. Kondisi Fisik Sludge Tank adalah Sludge Tank dilengkapi dengan Steam Coil serta Thermometer untuk mengetahui suhu, dibawahnya dipasangkan keran 4 untuk pembuangan kotoran Spesifikasi Teknis Sludge Tank adalah : Type tangki berbentuk silinder dengan kapasitas 15 ton Bagian dalamnya dilengkapi Steam Coil Body terbuat dari plat tebal 6 s/d 8 mm. e. Decanter

Gambar 3.19 Decanter

68

Decanter adalah alat untuk memisahkan minyak, water phase decanter dan padatan (solid) secara sentripusi datar. Alat ini terdiri dari 2 (dua) bagian, yakni : Bagian yang diam (Casing) Bagian yang berputar Bagian yang berputar merupakan tabung (bowl) yang dengan putaran 2000-6000 rpm, dan didalamnya terdapat ulir (Screw Conveyor) dengan putaran sedikit lebih lambat dari putaran tabung. Minyak kasar dari tangki penampungan dipompakan melalui saringan berputar (Brush Strainer) dan pemisahan awal (Desander) masuk ke dalam Buffer Tank untuk dipanasi dengan sistem injeksi uap sampai suhu 95C 100C. Setelah cairan mencapai suhu tersebut, alirkan ke dalam Decanter. Akibat gaya sentrifugal, maka padatan bergerak ke dinding : Bowl. Didorong oleh ulir kebawah pangkal dan keluar melalui Bushing, cairan dengan bergerak berlawanan arah dengan padatan, dan terjadi pemisahan lebih lanjut akibat gaya sentrifugal. Cairan dengan Berat Jenis (BJ) lebih kecil (minyak) menuju kearah poros yang keluar melalui Wear Plate Light Phase dan keluar melalui Wear Plate Heavy Phase. Untuk memperoleh hasil pemisah yang baik, diadakan penyetelan pada kedua Wear Plate. Spesifikasi Teknis Decanter adalah : Merk Jumlah Decanter Kapasitas Putaran screw Putaran drum : Asea : 1 unit : 7 ton/jam : 3000 rpm : 3000 rpm

Putaran drum dan srew berlawanan sehingga putaran decanter menjadi 6000 rpm. Elektromotor bertenaga 30 HP, Rpm 2910

69

f. Balance Tank

Gambar 3.20 Balance Tank Balance tank berfungsi untuk menampung fase cair/water phase dari mesin decanter untuk dilanjutkan ke seperator. Balance tank berbentuk empat persegi yang berukuran panjang = 1.250 mm, lebar = 1.250 mm, dan tinggi = 1.250 mm sehingga memiliki kapasitas 2 m3 g. Sludge Seperator (Sentripusi Sludge)

Gambar 3.21 Sludge Seperator Cairan Sludge yang telah melalui Balance Tank, dimasukkan kedalam Sludge Separator ini untuk dikutip minyaknya. Sludge Separator ada 1 (satu) unit dengan kapasitas 7.000 liter minyak/jam. Dengan gaya Sentrifugal minyak yang berat jenisnya lebih kecil akan bergerak menuju ke poros dan terdorong keluar melalui sudu-sudu (disc) ke

70

ruang pertama tangki pisah (Continous Tank). Cairan dan ampas yang mempunyai berat jenis lebih berat daripada minyak, terdorong ke bagian dinding Bowl, dan keluar melalui Nozzle. Padatan yang menempel pada dinding Bowl dibersihkan/dicuci secara manual. Fungsi Sludge Separator adalah : 1. Menerima Sludge yang mengandung minyak 7 % dari Sludge Tank dengan temperatur antara 80 -90 C 2. Memisahkan lumpur dan kotoran minyak dengan gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh putaran bowl 7.000 rpm. Hal - hal yang perlu diperhatikan adalah : Suhu sludge yang masuk dijaga ketat 95 - 115C Penambahan air untuk dilusi dengan air panas (95C - 115C) dengan besarnya aliran 10C - 15C pada gelas duga (Alfa Laval) atau berpedoman pada pelampung (Westfalia) Pembebanan baru dapat dilakukan setelah mesin berputar normal dengan menghitung petunjuk putaran (Revolution Counter) 62-65 rpm. Pembersihan dan pemeriksaan menyeluruh dilaksanakan setiap hari. Kondisi Fisik Sludge Separator adalah : 1 unit Sludge Separator, alat pemisah minyak dari sludge bekerja secara sentrifugal, letak mesin vertikal; bekerja gaya sentrifugal hasil

pemisahannya terdiri dari 2 phase yaitu minyak dan cairan bercampur solid digerakkan oleh elektromotor bertenaga 30 HP. Spesifikasi Teknis Sludge Separator adalah : Merk : Asea Elektromotor 30 HP Rpm 1.440

71

h. Decanting (Dekantasi)

Gambar 3.22 Decanting Decanting adalah alat yang berfungsi untuk menampung air kondensat yang akan digunakan pada proses pengepresan di screw press. Bak decanting berfungsi untuk memisahkan palm oil water phase out put sludge seperator yang masing mengandung minyak sebesar 0,6 % menjadi 0,4 % dengan temperatur 90oC. Kandungan palm oil yang berada dipermukaan, dikutip dan dikumpulkan pada bak reycling yang selanjutnya dipompakan lagi ke Continuous Setting Tank. Water phase yang masih mengandung palm oil sebesar 0,4 % dialirkan ke kolam fat fit melalui parit buangan. i. Bak Fat Fit (Bak Penampung Sludge)

Gambar 3.23 Bak Fat Fit

72

Bak ini dipergunakan untuk menampung cairan - cairan yang masih mengandung minyak, dari paret klarifikasi dan air kondensat rebusan dikutip dan dikumpulkan pada bak reycling untuk kemudian dipompakan lagi ke bak Decantasi. Bak Fat Fit terdiri 4 bak yang berbentuk empat persegi yang berukuran panjang = 3.000 mm, lebar = 2.00 mm, dan tinggi = 1.500 mm sehingga memiliki kapasitas 9 m3. Fungsi Bak Fat Pit adalah : 1. Menerima limbah dari buangan stasiun klarifikasi. 2. Mengambil sisa - sisa minyak dari limbahan stasiun klarifikasi. 3. Mengirimkannya kembali ke stasiun klarifikasi 4. Memisahkan kandungan palm oil dari out put Decantasi hingga kandungan palm oil yang tersisa pada limbah buangan maks 3 %. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : Pompa digerakkan oleh motor listrik yang disambung dengan saklar otomatis harus berfungsi baik agar cairan dalam bak dapat dipompakan ke bak Decantasi. Hindarkan sampah - sampah biji brondolan dan lain - lain agar tidak masuk ke dalam bak ini, supaya pipa - pipa pompa tidak tersumbat. Hindarkan bocoran - bocoran pada pipa, kran dan pompa yang dapat menyebabkan sebagian minyak terbuang dan pengotoran dibagian bak tersebut. Pembersihan bak dan pembersihan dilakukan setiap 1 (satu) bulan. Kondisi Fisik Bak Fat pit adalah : 1 unit merupakan kolom atau tangki dari bahan plat 6 mm, dilengkapi steam coil sehingga minyak masih dapat dikutip, diharapkan sludge yang bebas akan mengalir ke Effulent Treatment. Spesifikasi Teknis Bak Fat Pit adalah : Kapasitas 4 x 9 m dilengkapi dengan Steam Coil dan bagian atasnya skimer untuk memompa minyak c/w pompa norma 3/2 digerakkan elektromotor bertenaga 4 HP Rpm 1420.

73

j. Oil Tank (Tangki Minyak)

Gambar 3.24 Oil Tank Minyak yang telah dipisahkan pada tangki pemisah ditampung dalam tangki ini untuk dipanasi lagi. Tangki ini berbentuk silinder berdiameter 1.900 mm dan tinggi 3.500 mm dengan kapasitas 10 m. Diusahakan agar tangki ini tetap berisi untuk menjaga agar pemanasan tetap 90 - 95C. Sistem pemanasan dilakukan dengan pipa spiral yang dialiri uap dengan tekanan 2 Kg/Cm tangki ini berbentuk silinder, dengan bagian dasar berbentuk kerucut. Fungsi Oil Tank adalah Menerima mnyak dari CST yang kandungan minyaknya 90 %. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : Saringan uap (Strainer) dan Steam Trap harus berfungsi baik. Kadar air dalam minyak diusahakan 0,40 0,80 % dan kadar kotoran dalam minyak diusahakan 0,20 0,40 %. Pembuangan endapan pada kerucut tangki dilakukan pada setiap awal jalan pabrik. Pembersihan dan pemeriksaan secara menyeluruh dilakukan seminggu sekali. Kondisi Fisik Oil Tank adalah 1 buah untuk menampung minyak sawit dan sludge hasil pemisahan dari CST yang dilengkapi dengan Steam Coil serta

74

Termometer untuk mengetahui suhu, dibawahnya dipasangkan keran 4 untuk pembuangan kotoran. Spesifikasi Teknis Oil Tank adalah : Type tangki berbentuk silinder dengan kapasitas 7 m s/d 10 m Bagian dalamnya dilengkapi Steam Coil Body terbuat dari plat tebal 6 s/d 8 mm. k. Oil Dryer (Pengeringan Minyak)

Gambar 3.25 Oil Dryer Pengeringan minyak dipergunakan untuk memisahkan air dari minyak dengan cara penguapan hampa. Oil Dryer ada 1 unit dengan kapasitas 6 m/jam dilengkapi dengan Pompa air dan Pompa minyak. Fungsi Vacuum Drier adalah : 1. Menerima minyak dari Oil Tank 2. Mengurangi kadar air pada minyak sewaktu dilakukan penyimpanan. 3. Mengirim minyak bersih (CPO) ke Tangki Timbun dengan memakai alat ukur yang dipasang pada pipa pengiriman. Spesifikasi Teknis Vacuum Drier adalah : Kapasitas 6 ton minyak/jam Maximum kevacuman 50 mm Hg Maximum kadar air yang diturunkan 0,5 0,1 % pada temperatur masuk 85 - 90C.

75

6. OIL STORAGE STATION (STASIUN PENIMBUNAN MINYAK)

Gamabar 3.26 Storage Tank Tangki Penimbunan minyak dipakai sebagai penampungan/penimbunan minyak produksi dan pengukuran minyak produksi harian. Alat ini terdiri dari tangki berbentuk silinder yang didalamnya dilengkapi dengan pipa pemanas berbentuk spiral dan bagian atas terdapat lubang untuk pengukuran dan lubang penguapan air. Minyak dari stasiun penerimaan minyak dipompakan kedalam tangki ini, dan suhu minyak dalam tangki harus tetap dijaga 45 - 50C. Endapan - endapan dari tangki pemisah, tangki masakan minyak, tangki sludge, ditampung didalam tangki ini. Demikian juga minyak kutipan dari bak penampung sludge (Fat Fit). Tangki ini dilengkapi dengan sistem pemanas uap injeksi untuk tujuan pemanasan. Minyak yang terapung di bagian atas dialirkan ke tangki pemisah minyak (Continous Tank), sedangkan lumpur pekat dibuang ke Bak Penampung Sludge (Fat Fit). Tangki Timbun atau Opslag Tank terdiri dari 2 unit dengan kapasitas 50 ton dan 1 unit berkapasitas 700 ton. Setiap tangki dilengapi dengan pipa pemanas dari pipa uap dengan dimeter 2 . Tangki juga dilengkapi dengan Pompa sebanyak 2 unit. inyak

76

Fungsi Storage Tank adalah : 1. Tempat penimbunan minyak CPO 2. Tempat pengukuran berapa hasil CPO pada setiap mengolah 3. Tempat pengiriman minyak via truck tangki Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : Jika ternyata cairan didalam tangki ini terlalu kental, perlu diadakan penambahan air panas Pengutipan dalam tangki ini tidak mesti minyak murni saja, karena cairancairan yang dikutip ini masih akan diolah kembali di dalam pemisah minyak (Continous Tank) Penambahan panas di dalam tangki ini harus tetap dilaksanakan agar pemisahan cairan berat jenis rendah (minyak) dengan cairan berat jenis yang tinggi dapat terlaksana dengan baik. Bila dijumpai pipa spiral bocor, harus segera diperbaiki. Pembersihan dan pemeriksaan keseluruhan dilaksanakan sekali seminggu Kondisi Fisik Storage Tank adalah : 2 unit Tangki Timbun (Storage Tank) minyak sawit dilengkapi dengan Steam Coil didalamnya terdiri dari bahan plat 10 mm, 8 mm, 6 mm, dilengkapi dengan tangga dan hand rail serta kran - kran minyak keluar. Spesifikasi Teknis Storage Tank adalah : 2 unit dengan kapasitas 50 ton dan 1 unit berkapasitas 700 ton. Pipa dan keran pengeluaran 2 Dilengkapi pipa spiral pemanas Tangki ditera oleh badan Metrologi Dilengkapi pipa dan keran pemasukan Dilengkapi pipa pengurasan/pembuangan air.

77

7. STASIUN PENGOLAHAN INTI KELAPA SAWIT a. Cake Brake Conveyor (CBC)

Gambar 3.27 Cake Brake Conveyor (CBC) CBC ada 1 (satu) unit dengan panjang 30.000 mm dan lebar 700 mm yang berbentuk U. CBC memiliki pisau - pisau yang disebut padle yang diatur sedemikian rupa sehingga merupakan satu garis ulir. Fungsi CBC adalah : 1. Membawa campuran ampas dengan Noten dari Screw Press. 2. Pada waktu membawa sampah yang bercampur Noten juga sambil mengeringkannya, agar ampas kering dan menjadi ringan. 3. Mengirimkan Noten ke Depericarper untuk disortir. 4. Memberikan amplas ke Cyclone yang dihisap dengan Fibre Cyclone. b. Fibre Cyclone

Gambar 3.28 Fibre Cyclone

78

Fibre Cyclone adalah alat yang berfungsi untuk memisahkan fraksi berat dan fraksi ringan dari keluaran cake braker conveyor. Fraksi berat yaitu biji utuh, biji pecah, inti utuh, dan inti pecah. Sedangkan fraksi ringan yaitu serat, inti pecah halus, pecahan tempurung tipis dan debu. c. Depericaper

Gambar 3.29 Depericaper Depericaper ada 1 unit dengan 1.000 mm, panjang 5.700 mm dan putaran 18 rpm. Depericaper dilengkapi dengan Plat Perforasi fraksi berat dengan lubang 50 mm dan fraksi ringan dengan lubang 38 mm x 50 mm. Fungsi Depericaper adalah untuk mengolah fraksi berat yang bertujuan untuk menghilangkan serat serat yang masih melekat pada biji. Proses kerja Depericaper adalah : Gumpalan ampas dan noten/biji keluar dari screw press jatuh ke cake braker conveyor. Selanjutnya gumpalan dipecah dan dibawa menuju fibre cyclone. Di fibre cyclone fraksi ringan akan terhisap dan fraksi berat jatuh ke depericaper. Fraksi berat dalam depericaper diputar dan dipoles untuk menghilangkan serat serat yang masih tersisa. Sambil berputar fraksi berat akan terbawa keluar menuju timba biji.

79

Hal hal yang perlu diperhatikan adalah : Serat pada biji karena akan mengurangi gaya pental pada nut cracker. Lama biji dipoles maka akan semakin baik. Serat pada biji semakin sedikit. Kecepatan putaran depericarper yang berpengaruh terhadap gesekan antara drum dengan biji. Putaran 13 rpm. Hasil dari Depericaper yaitu : Ampas (fraksi ringan) >>>>> Penampungan bahan bakar Biji (fraksi berat) d. Nut Silo (Silo Biji) >>>>> Silo biji

Gambar 3.30 Silo Biji Silo Biji adalah alat yang dipakai untuk tempat pemeraman biji, yang selanjutnya bila biji tersebut sudah cukup kering akan dipecah didalam alat pemecah. Silo Biji ada 2 unit dengan kapasitas 16 ton. Setiap Silo Biji dilengkapi dengam Blower (Fan) pemanas yang dilengkapi dengan Heater dan pengatur biji masuk ke Nut Grading. Fungsi Silo Biji adalah mengurangi kadar air yang terdapat pada inti 17% menjadi 10% - 12%. Hal ini bertujuan agar kulit bagian inti mengerut dan terlepas dari cangkang untuk mempermudah proses pemecahan.

80

Proses kerja Silo Biji adalah : Setelah melalui depericarper, biji dinaikan ke atas untuk mengisi silo biji dengan kapasitas 16 ton. Dalam silo, biji dipanaskan 24 48 jam. Uap apanas dari steam di salurkan ke fitting dan ditiup oleh blower dengan temperatur 60oC. Biji akan bergerak ke bawah secara perlahan akibat adanya bagian yang keluar dan gaya gravitasi dari biji sendiri. Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian adalah : Pengisian Silo Noten harus penuh agar agar kalori tidak banyak terbuang Kipas dijalankan terus menerus dengan kekuatan tiup yang tepat selama pabrik beroperasi Bidang penurunan (Shaking Grade) harus bersih sehingga penurunan biji merata Bila bidang penurunan kotor, penurunan biji tidak merata, pengeringan tidak sempurna, yang mengakibatkan inti pecah dan inti melekat pada cangkang bertambah. e. Nut Grading

Gambar 3.31 Nut Grading Nut Grading adalah alat yang berfungsi untuk melakukan seleksi terhadap biji yang datang dari timba biji dengan cara diputar. Biji akan masuk ke lubang sesuai dengan besarnya.

81

f. Nut Craker

Gambar 3.32 Nut Craker Pemecah Biji adalah alat yang dipakai untuk memecah biji yang telah diperam dan dikeringkan didalam Silo. Pemecah ini terdiri dari pada Rotor dengan kecepatan 750 1000 rpm didalam Stator yanng dapat distel melalui variable speed pully. berjumlah 2 unit. Fungsi Nut Cracker adalah memecahkan inti yang telah diseleksi oleh nut grading dengan cara memutarnya. Putaran menyebabkan gaya sentrifugaldan melempar biji ke dinding untuk dipecahkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian : Putaran rotor disesuaikan agar inti pecah tidak lebih dari 20 % (Standard = 20 %) Isian merata dan sesuai dengan kapasitas pemecah biji yang dapat diatur/distel melalui Shaking Grate. Persentase biji utuh tinggi, disebabkan oleh : Biji mentah Isian craker terlalu penuh Putaran motor kurang Rotor dan Stator aus Lubang pemasukan biji kedalam rotor aus, sehingga biji masuk melalui samping rotor Persentase inti pecah tinggi disebabkan oleh : Putaran rotor terlalu tinggi Isian pemecah biji terlalu sedikit

82

g. Winnower

Gambar 3.33 Winnower Winnower berfungsi untuk melakukan hisapan terhadap biji biji yang telah dipecahkan. h. Claybath

Gambar 3.34 Claybath Claybath merupakan bak lumpur yang bertujuan untuk memisahkan cangkang degan inti. Claybath memanfaatkan massa jenis dari lumpur. Massa jenis lumpur dibuat menjadi 1,12 gr/cm3, sedangkan inti 1,08 gr/cm3 dan cangkang 1,2 gr/cm3. Akibatnya inti akan naik ke atas dan cangkang akan tenggelam ke bawah. Hasil dari Claybath yaitu : Inti >>>>> Kernel Dryer Cangkang >>>>> Tempat penampungan bahan bakar

83

i. Kernel Dryer

Gambar 3.35 Kernel Dryer Kernel Dryer dipakai untuk mengeringkan inti yang berasal dari Claybath sampai kadar air sesuai dengan ketentuan 6 %. Pengeringan dilakukan dengan meniupkan uap panas dari steam. Suhu pemanas diantara sebagai berikut : Tingkat I (paling bawah) : 60 - 70C Tingkat II (paling tengah) : 50 - 60C Tingkat III (paling atas) : 40 - 50C

Inti yang sudah kering diturunkan melalui Shaking Grade . Tersedia sebanyak 2 (empat) unit dengan kapasitas 9 ton. Untuk pemanasan, Kernel Dryer dilengkapi denga masing - masing 1 unit Blower dan Heater. Juga dilengkapi dengan Shaking Grade untuk pengaturan pengiriman Inti ke Kernel Bin.

84

j. Kernel Bin

Gambar 3.36 Kernel Bin Kernel Bin adalah sebagai temapat penyimpanan inti kelapa sawit yang telah kering/matang diproses. Ada unit Kernel Bin dengan kapasitas 40 ton. Selanjutnya inti Kelapa sawit yang telah matang ini dikirim ke PKS Socfindo Tanah Gambus.

85

M ATA PAO OIL MASS BALANCE


FFB

Sterilizer Empty Bunch Stripper

Condensate

Unstrip Bunch Empty Bunch

Digester

Hot Water 1.8 T/Hour 0.150 Ton Water/FFB

Screw Press

Vibrating Screen

Crude Oil Tank

Continous Setting Tank

Sludge Tank

Oail Tank

Solid

Decanter

OIL

Oil Dryer

Water Phase

Daily Tank

Stock Tank

Sludge Seperator

OIL

Water

Nut

Nut Silo

Decanting Plate

OIL
Nut Granding

Fat Fit

OIL

Ripple Mill Nut Cracker

Effluent

Winnower

Claybath

Wet Vibrating Kernel

Cracked Kernel

Shell Granding

Sheel

Kernel Dryer

Pneumatic Transport

Kernel Bin

Gambar 3.37 Mata Pao Oil Mass Balance

86

8. STASIUN KETEL UAP (BOILER STATION)

Gambar 3.38 Boiler (Ketel Uap) 1. Spesifikasi Merk Volume Tekanan Uap Tipe Jumlah unit Bahan bakar : Boilling : 100 m3 : 10 12 kg/cm2 (Tekanan Operasi) : Pipa api : 4 buah : Fiber + Shell + Empty bunch

87

2. Fungsi Menghasilkan uap panas (steam) untuk perebusan. 3. Proses kerja Ketel uap yang digunakan adalah sistem air dalam pipa. Pipa - pipa dibakar di dalam ketel lalu udara yang dihasilkan pipa disalurkan ke tabung gas. Perbandingan air dan gas dalam tabung gas ialah 3 : 1. Setelah itu gas yang berupa uap basah dialirkan ke Superheater agar menghasilkan uap kering. Dalam kondisi standby (rebusan belum beroperasi) tekanan dalam tabung gas adalah sebesar 5 kg/cm. Gas dengan tekanan sebesar ini digunakan untuk menyuplai sistem pemanasan pada pabrik. 4. Hasil Uap Panas (Steam) >>>>> Sterilizer

88

9. STASIUN SUMBER TENAGA LISTRIK (POWER PLANT STATION) Untuk mensuplay kebutuhan listrik pabrik dan emplasmen digunakan pembangkit tenaga listrik yang bersumber dari : 1. PLN Pembangkit PLN digunakan sebagai sumber utama tenaga listrik pada PKS PT SOCFINDO Kebun Mata Pao. Daya yang diperlukan dalam pengolahan kelapa sawit yaitu 300 kW. power ke mesin/instalasi pabrik. 2. Diesel Genset Pembangkit ini digunkan untuk mensuplay

Gambar 3.39 Diesel Genset Pada PKS PT SOCFINDO Kebun Mata Pao terdapat 2 (dua) unit Diesel Genset dengan daya per unit 350 kW 400 kW. Dalam pelaksanaannya diesel genset ini digunakan sebagai pembangkit cadangan jika aliran listrik dari PLN terputus. Sebelum mengoprasikan Diesel Genset ada beberapa hala yang perlu diperhatikan antara lain : Periksa pelumas pada mesin sesuai dengan batas yang diizinkan Periksa pendingin pada radiator apakah mencukupi Periksa baterai apakah mencukupi Periksa persediaan bahan bakar apakah mencukupi

89

10. WATER SUPPLY STATION (STASIUN PENYEDIAAN AIR) a. Pompa Sumur Bor

Gambar 3.40 Pompa Sumur Bor Pompa ini digunakan untuk memompa air dari bawah tanah (sumber air) ke bak penampungan air. Kapasitas pompa disesuaikan dengan kebutuhan air pabrik dan domestik sebesar 1,5 m3/ton dan 150 liter/orang/air. Fungsi Pompa Sumur Bor adalah : Menghisap air dari bawah tanah Mengirimkannya ke Water Treatment yang diterima bak penampung. Hal hal yang perlu diperhatikan adalah mencegah terisapnya lumpur dibawah pipa isap pompa. Pemeriksaan dan pembersihan menyeluruh dilakukan setiap bulan. b. Bak Air Penampung

Gambar 3.41 Bak Air Penampung

90

Bak Air Penampung yang berkapasitas 10 m3 memiliki panjang 3.500 mm, lebar = 2.250 dan kedalaman = 1.250 mm Fungsi Bak Water adalah : Sebagai tempat stock persediaan air Mengirimkan air ke menara air c. Water Tower (Menara air)

Gambar 3.42 Menara Air Menara air dipergunakan untuk menimbun dan membagi air kepada peralatan yang memerlukan air. Menara air yang berjumlah 1 (satu) unit untuk air bersih. Fungsi menara air adalah : Menerima supply air dari bak penampung. Mengirimkan air ke pabrik untuk pencucian dan pembersihan. Mengirim air ke Internel Treatment (air bersih). Mengatur supply air ke kantor kantor.

91

11. LABORATORIUM Laboratorium adalah suatu tempat dan sarana untuk melakukan kegiatan penelitian atau analisa di pabrik kelapa sawit. Keberadaannya sangat penting, sebab hasil dari analisa laboratorium merupakan barometer dan petunjuk dalam proses pengolahan, serta dapat menjadi pemeriksaan mutu hasil produksi. Di PKS PT. SOCFINDO Kebun Mata Pao, analisa ini untuk mengetahui tingkat mutu dan loses, juga kadar ALB (Asam Lemak Basah) yang terkandung dari kelapa sawit hasil olahan. Biasanya loses atau kehilangan minayak pada proses pengolahan di PKS terjadi pada : 1. Minyak pada janjangan kosong. 2. Brondolan pada janjangan kosong. 3. Minyak pada fibre. 4. Minyak pada solid 5. Fat Fit 6. Minyak pada biji 7. Inti pada fibre cyclone 8. Inti basah 9. Inti kering Adapun anggaran yang perlu diperhatikan, antara lain : 1. Buah balen 2. Brondolan pada janjangan kosong 3. MKS dalam janjangan kosong 4. MKS dalam ampas pressan 5. MKS dalam biji 6. MKS dalam solid 7. MKS dalam lumpur fat fit 8. IKS dalam ampas cyclone 9. IKS dalam cangkang kering 10. IKS dalam cangkang basah : 3,00 : 0,30 : 3,00 : 7,00 : 0,50 : 3,00 : 0,30 : 0,50 : 0,50 : 1,00

92

12. PENGOLAHAN LIMBAH Proses pengolahan limbah dapat dibagi 4, yaitu : 1. Kolam anaerobik/fakultatif 2. Digestion Tank dan Facultative Ponds 3. Digester Tank dan Mechanicalaeration 4. Decanter Aplication (Pemakain sebagai bahan pupuk)

Gambar 3.43 Kolam Limbah Proses yang diterapkan PT. SOCFINDO Kebun Mata Pao adalah pengolahan air limbah dengan sistem kolam anaerobik. Dalam penerapan sistem ini, air limbah dilewatkan melalui penagkapan minyak (Oil Trap) Kemudian dialirkan kedalam ponding atau kolam limbah yang dihubungkan seri. Faktor faktor yang diperhatikan untuk mengatur air limbah yang masuk kedalam kolam limbah yaitu : 1. Suhu Suhu tidak boleh terlalu tinggi. Sebelum masuk ke dalam kolam, limbah melewati saluran panjang dan terbuka sehingga suhu limabah yang masuk kedalam kolam limbah tidak terlalu tinggi. 2. PH (Derajat keasaman)

93

PH yang baik untuk limbah adalah 6,5 7,5. Limbah air buangan boleh bersifat asam kuat atau basa kuat. Dalam pengendalian air buangan perombakan anaerobik dari zat zat organik. Nilai PH 4,5 dapat dinaikan menjadi 6,5 dengan mengadakan sirkulasi air dari kolam III (nilai PH = 8,5) ke kolam I. 3. Waktu Pembusukan anaerobik dalam menangani endapan kotoran sangat penting. Pembusukan memerlukan waktu yang lama dengan masa perbandingan pada kolam anaerobik 50 60 hari. Proses pembusukan anaerobik tidak berhubungan dengan udara, untuk itu diperlukan kolam yang dalamnya minimum 3 meter 4. Zat zat yang berbentuk lemak tidak terlalu tinggi Dengan mengaktifkan bak dekantasi dalam pabrik maupun luar pabrik diharapkan minyak masuk ke effluent, persentasenya kecil. Kandungan minyak dalam air buangan masih dapat dikumpulkan dalam bak dekantasi sebelum masuk ke effluent treatment. Zat zat yang masuk ke dalam kolam limbah maksimum 0,05 %. 5. Zat zat yang menegendap Dimana ber daya berat spesifikasi tinggi seperti pasir tidak boleh ke effluent. Untuk itu pencucian bak dekantasi sangat penting dan zat padat dibuang ke tempat tersendiri. Proses pengoalahan limbah di dalam kolam anaerobik, yaitu limbah ditampung di dalam bak pengumpul. Disini dilakukan perlakuan penurunan suhu, pengaturan PH dan penambahan bakteri. Pengolahan limbah ini dapat berjalan dengan baik apabila telah memenuhi syarat syarat suhu berkisar antara 33 40oC, PH 6,5 7,5 waktu 50 60 hari. Zat zat yang dikandung tidak boleh terlalu tinggi juga demikian halnya untuk kedalaman dari kolam limbah anaerobik merupakan hal yang penting minimum 3 m agar proses anaerobik dapat berlangsung dengan sempurna.

94

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan Pabrik kelapa sawit PT SOCFINDO Kebun Mata Pao adalah pabrik kelapa sawit dengan kapasitas pengolahan 12 ton/jam. Sebagian peralatan pada pabrik ini sudah tidak tidak digunakan pada PKS lainnya. Hal ini dikarenakan pabrik ini telah berdiri cukup lama yaitu tahun 1927. Adapun renovasi yang dilakukan hanya terbatas pada peralatan tertentu dan dilakukan per unitnya. Setelah dilakukan pengumpulan data dan informasi, maka dapat diambil beberapa kesimpulan : 1. Pengolahan kelapa sawit atau Tandan Buah Segar (TBS) adalah berdasarkan sifat fisis dan mekanis yaitu melepaskan buah dari tandan dan mengambil minyak serta pemurnian minyak dari kotoran kemudian pemisahan dari cangkang. 2. Agar diperoleh ekstraksi minyak dan inti kelapa sawit sesuai dengan yang diharapkan, maka klasifikasi kualitas buah sawit dilapangan dilakukan dengan baik, begitu pula dengan tuangan (penimbunan buah) sesuai dengan kriteria yang berlaku, serta seluruh sampah dan material lain yang dapat menyerap minyak kelapa sawit (MKS) harus dibuang tidak ikut ke pabrik. 3. Efisiensi pengolahan pabrik dapat dimaksimalkan dengan cara menekan kerugian sampai batas minimum, mengoptimasikan kapasitas pabrik, dan menjaga mutu produksi. 4. Pengolahan limbah yang dilakukan oleh PT SOCFINDO Kebun Mata Pao dalam hal ini dapat dikategorikan baik, limbah yang dihasilkan terdiri dari limbah padat dan cair. Limbah padat berupa cangkang yang digunakan sebagai bahan bakar ketel, sedangkan limbah cair berupa campuran air dan sisa minyak telah mengalami proses sehingga tidak mencemari lingkungan. 5. Sumber energi dalam hal ini energi listrik yang disuplay ke pabrik selain pemanfaatan uap dan ketel adalah energi yang diperoleh PLN (bila mengalami ganguan).

94

95

B. Saran Dalam kesempatan ini saran saran yang dapat penulis sampaikan, antara lain : 1. PKS PT SOCFINDO Kebun Mata Pao hendaknya tetap mempertahankan prestasi perusahaan yang telah diterima seperti ISO 9001 untuk kualitas produk perusahaan dan ISO 14001 sebagai jaminan menjaga lingkungan hidup. 2. Perawatan keseluruhan secara berkala sesuai spesifikasi pabrik akan membuat kerja setiap unit jauh menjadi maksimal dan dapat menekan biaya perbaikan (Maintenance) yang juga lebih kecil, serta mesin jauh lebih awet, agar tetap dipertahankan jug. 3. Demi meningkatkan efisiensi dengan ketersediaan bahan bakar boiler (fibre) yang cukup banyak, kami menyarankan agar sebaiknya digunakan turbin dan superheater untuk menambah daya listrik dan kapasitas pabrik.

96

DAFTAR PUSTAKA
Basir Abdul. (2000). Mesin-Mesin Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit. Medan : Teknik Mesin ITM Harianto. (2001). Upaya Meningkatkan Kinerja Pabrik Kelapa Sawit. Asahan : PT. Perkebunan Nusantara IV Air Batu-Asahan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia. Sistem Managemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. Jakarta : Departemen Tenaga Kerja Soehardjo, dkk. (1998). Vadernecum : Bidang teknik dan teknologi kelapa sawit. Pematang Siantar : PT. Perkebunan Nusantara IV Bah Jambi-Pematang Siantar Sumarno S. (1996). Perkembangan Tanaman Perkebunan Sawit di Indonesia. Djogjakarta : Universitas Gadjah Mada Zulham . (2007). Panduan Kelapa Sawit : Tutorial Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit. Pelatihan Serta Konsultasi Perkebunan Literature PT Socfin Indonesia