Anda di halaman 1dari 2

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan lokasi pabrik nata de coco adalah : 1.

Lokasi pasar Industri nata de coco lebih baik dekat dengan pasar, dengan permintaan yang tinggi. Karena jenis usaha nata de coco tidak harus dekat dengan bahan baku. contoh lokasi pasar yang sesuai untuk permintaan nata de coco adalah misalnya dekat dengan industri minuman. Sehingga memungkinkan kita sebagai pemasok nata de coco. 2. Sumber bahan baku Lokasi usaha untuk semua jenis usaha nata de coco tidak menuntut tempat khusus dan tidak harus dekat dengan sumber inputnya. Usaha nata de coco lembaran tidak harus dekat dengan sumber pasokan air kelapa mengingat air kelapa yang digunakan tidak harus air kelapa segar. Air kelapa bisa ditampung selama kurang lebih 5-6 hari sebelum memasuki proses produksi. Begitu juga usaha nata de coco kemasan tidak harus dekat dengan sumber nata de coco lembaran mengingat nata de coco lembaran dapat disimpan dengan teknologi yang sederhana yaitu, mengganti air rendaman dan perebusan. 3. Transportasi menghemat biaya transportasi, lokasi pasar menjadi pertimbangan penting. Maka lebih baik industri nata de coco dekat dengan pasar dimana banyak permintaan akan nata de coco. Akses jalan ke pasar harus dapat dilalui oleh transportasi berat seperti truk dan sebagainya. Mengingat dalam kemudahan saat pengangkutan dan pengiriman. 4. Sumber energy atau tenaga listrik Teknologi produksi nata de coco adalah teknologi sederhana dan tepat guna. Untuk usaha nata de coco lembaran atau kemasan bisa dilakukan tanpa peralatan mekanis. Kalaupun menggunakan peralatan mekanis, peralatan tersebut dapat dirancang sendiri. Sebagai contoh, pisau/mesin pemotong nata lembaran menjadi kubus ukuran 1x1x1 cm3 dapat dirancang sendiri dan dipesan di pasar lokal. Jadi untuk industri dalam skala kecil masih bisa menggunakan listrik dari PLN tanpa harus memiliki pembangkit listrik sendiri. 5. Iklim Di lihat dari kendala produksi utama yang dihadapi oleh produsen adalah cuaca yaitu musim penghujan. Pada musim penghujan input air kelapa mengalami penurunan supply, musim hujan juga akan mengganggu suhu udara yang bisa sangat mempengaruhi proses fermentasi. Kestabilan suhu kamar 28 - 31 C dibutuhkan dalam proses fermentasi. Maka lokasi dengan curah hujan rendah adalah pilihan yang baik sebagai faktor pertimbangan pendirian lokasi industri nata de coco. 6. Buruh dan tingkat upah Produksi nata de coco tidak membutuhkan pendidikan formal atau pengetahuan khusus tetapi lebih memerlukan ketrampilan dan ketekunan. Kebutuhan tenaga dapat dipenuhi dari keluarga sendiri atau dari tetangga sekitar. Tenaga kerja biasanya ada yang tetap dan tidak tetap (borongan). Tenaga kerja tetap bekerja kurang lebih 8 jam per hari, sedangkan tenaga tidak tetap biasanya berdasarkan borongan. Misalnya untuk membersihkan nata de coco lembaran tenaga kerja diupah Rp 50 per lempeng. (upah umum buruh nata de coco). Contoh :Dalam proses pembuatan nata de coco di industri rumahan yang dimiliki bapak Ari, terdapat 3 karyawan yang membantu. Para karyawan tersebut telah dididik oleh bapak Ari menjadi sumber daya manusia yang ahli dalam pembuatan nata de coco. Setiap karyawan menerima gaji sebesar Rp 10.000,- /hari. Pemberian gaji tersebut dilakukan setiap satu minggu sekali. Bapak Ari kadang juga membarikan para karyawan bonus seperti makanan, es, dan rokok.

7. Undang-undang & sistem perpajakan Tidak terdapat hambatan legal (legal barriers) khusus untuk perusahaan baik pemerintah daerah maupun penguasaan input. Perusahaan formal hanya perlu mendapatkan izin usaha dari pemerintah daerah. Bahkan banyak yang informal karena merupakan usaha rumah tangga yang berproduksi secara sporadis. Pasokan nata de coco tidak tergantung dari musim mengingat pasokan kelapa yang bisa sepanjang tahun. 8. Sikap masyarakat Industri rumahan nata de coco pada umumnya merupakan industri kecil. Industri ini dapat didirikan dimana saja karena tidak memerlukan area yang luas. Namun mendirikan industri rumahan ini sedapat mungkin dijauhkan dari pemukiman penduduk. Sebab jika industri rumahan ini lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk, akan menjadikan pencemaran lingkungan. Karena bau limbah yang tidak enak dari industri rumahan tersebut. Contoh : Untuk industri rumahan nata de coco milik bapak Ari, bertempat di Dusun Sampangan, Desa Jambidan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Sekitar 5 km ke arah selatan dari terminal kota Jogja. Dan bertempat agak jauh dari pemukiman warga, sehingga pencemaran lingkungan pedesaan dapat di hindarkan. 9. Air dan limbah industri Usaha nata perlu dilengkapi dengan sarana penanganan limbah. Untuk limbah padat perlu dibangun bak yang kuat dan kedap air dan mempu-nyai tutup. Khusus untuk penanganan limbah cair, perlu dibangun kolam pe-nampung yang cukup jauh dari ruang pengolahan. Limbah cair tersebut dialir-kan melalui saluran yang tertutup. Air digunakan untuk membersihkan bahan mentah, merendam dan merebus nata potongan, melarutkan BTM, sterilisasi produk dan sanitasi. Air tersebut harus memenuhi persyaratan untuk industri makanan, seperti tidak berwarna (jernih), tidak berbau, tidak berasa, tidak mengandung logam berat dan bebas dari jasad renik patogen (penyebab penyakit). Penggunaan air sumur atau air sunga harus diberi blow (anti bakteri). Lalu diendapkan dan disaring berulang kali (lihat bagian sanitasi dan higiene).