Anda di halaman 1dari 6

PENGGABUNGAN USAHA BANK CIMB NIAGA DAN BANK LIPPO

OLEH : ANNASTRY WIDYAKUSUMA ( C301 10 065)


TUGAS MATA KULIAH AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN II UNIVERSITAS TADULAKO

Latar Belakang/Alasan
Di Indonesia sistem perbankan diatur oleh Undang-Undang Pokok Perbankan No. 10 Tahun 1998. Definisi bank dalam undang-undang ini disebutkan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Memasuki tahun 2007, Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan mengenai single presence policy (kepemilikan tunggal) pada perbankan Indonesia. Kebijakan ini diambil untuk mewujudkan struktur perbankan yang kuat dan kokoh serta untuk memperkuat konsolidasi perbankan yang akan mendukung efektivitas di dalam pengawasan bank. Penerapan kebijakan kepemilikan tunggal, termasuk kewajiban penyesuaian struktur kepemilikan bagi pemegang saham pengendali yang telah mengendalikan lebih dari satu bank, memberikan pengecualian bagi kantor cabang bank asing dan bank campuran. Kebijakan ini juga dimaksudkan agar proses pemeliharaan stabilitas sistem keuangan melalui proses monitoring risiko perbankan terhadap sistem keuangan lebih mudah dilakukan. Dalam kebijakan ini dinyatakan bahwa setiap pihak hanya dapat
1

menjadi pemegang saham pengendali (PSP) pada satu bank umum. Dan kebijakan ini berlaku ke depan untuk para calon investor di perbankan Indonesia. Untuk PSP yang saat ini telah mengendalikan lebih dari satu bank di Indonesia diberikan tiga opsi, yakni mengurangi kepemilikannya pada bank lain sehingga hanya menjadi pengendali satu bank, melakukan merger atau konsolidasi dari bank-bank yang dikendalikannya, atau membentuk perusahaan induk di bidang perbankan. Terlepas dari adanya Peraturan Kepemilikan Tunggal Bank tersebut, baik PT. Bank Niaga Tbk. sebagai bagian dari CIMB Group, maupun PT. Bank Lippo Tbk. sebelumnya telah menetapkan dan menyatakan dalam beberapa kesempatan, misi masing-masing bank adalah menjadi salah satu dari lima bank terbesar di Indonesia dan mencapai beberapa target perkembangan dan keuntungan pada tahun 2010. Untuk mencapai tujuan tersebut, kedua bank secara terpisah dan dengan agresif menitik beratkan kegiatan usahanya pada inovasi produk baru dan penetrasi pada segmen pasar yang belum tersentuh, dalam memperluas usahanya secara organik, dan secara bersamaan mempertimbangkan kemungkinan penggabungan atau merger sebagai strategi perkembangan anorganik. Direksi dan Dewan Komisaris PT. Bank Niaga Tbk. dan PT. Bank Lippo Tbk. berpendapat bahwa rencana merger akan memberikan kesempatan yang unik dan merupakan dasar atau platform untuk menyatukan kekuatan dari kedua bank tersebut sebagaibagian dari rencan Penggabunga demi

Pertumbuhan (Merger for Growth). Perlu diwaspadai penggabungan usaha akan mengakibatkan penurunan

persentase kepemilikan saham (dilusi) para pemegang saham dikarenakan adanya peningkatan modal saham bank yang menerima penggabungan. Persentase kepemilikan para pemegang saham PT. Bank Niaga Tbk. dan PT. Bank Lippo Tbk. akan terdilusi
2

secara proporsional sesuai dengan besarnya kepemilikan mereka masing-masing berdasarkan faktor konversi. Namun demikian manfaat dari penggabungan kedua bank ini adalah sinergi pendapatan yang substansial yang diharapkan timbul dari kombinasi kegiatan usaha kedua bank. Penggabungan kedua bank tersebut akan memanfaatkan kekuatan PT. Bank Niaga Tbk. dalam corporate banking, UKM (Usaha Kecil dan Menengah) dan kredit pemilikan rumah serta keunggulan PT. Bank Lippo Tbk. dalam kredit UKM (Usaha Kecil dan Menengah) dan sistem proses pembayaran.

Proses Penggabungan
Merger Bank Lippo dan Bank Niaga, dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2008 dengan nama baru PT CIMB Niaga Tbk dan selanjutnya seluruh aset dan kewajiban Bank Lippo di alihkan ke CIMB Niaga. Berdasarkan data BI triwulan 1-2008, nilai aset CIMB Niaga sebesar Rp 54,82 triliun, sedangkan nilai aset Lippo sebesar Rp 39,73 triliun. merujuk pada data BI tersebut, total aset kedua bank setelah merger diperkirakan menjadi RP 94,55 triliun. Merger Niaga dan Lippo merupakan dampak dari diterapkannya aturan kepemilikan tunggal (single presence policy/spp) yang ditetapkan Bank Indonesia. Sebelum merger, Khazanah memiliki 93% saham bank Lippo melalui Santubong Investment BV dan Greatville Pte Ltd. Sedangkan di Bank Niaga sebesar 62,41% melalui CIMB Group penyedia jasa keuangan terbesar kedua di Malaysia milik BumiputeraCommerce Holding Berhad (BCHB). Setelah merger, CIMB dan Khazanah masingmasing menguasai saham sebesar 58,7% dan 18,7%.

Jenis Penggabungan
Jenis penggabungan yang dilakukan CIMB Niaga dengan Lippo adalah Merger Statutori. Dimana entitas Bank CIMB Niaga dipertahankan karena memiliki asset lebih
3

besar, sedangkan nama Lippo Bank masuk dalam kotak sejarah. penggabungan itu akan menguatkan posisi CIMB-Niaga dalam persaingan industry keuangan di Indonesia. Ujar Grup Chief Executive CIMB Group, Dato Nazir Razak.

Bentuk Penggabungan
Bentuk penggabungan dari CIMB Niaga dan Lippo Bank adalah Merger Horizontal yaitu CIMB Niaga dan Lippo Bank adalah perusahaan yang memiliki jenis dan tingkat kegiatan usaha sama, dan sebelumnya saling bersaing dalam bidang usaha perbankan.

Metode pelaksanaan
Metode pelaksanaan merger yang dilakukan CIMB Niaga dengan Lippo adalah CIMB Group membeli 51% saham Lippo Bank milik Santubong Ventures, anak usaha Khazanah Berhad senilai 5,9 triliun. Sebagai gantinya CIMB Group menerbitkan saham baru 207,1 juta lembar di bumi putera-commerce holdings bhd, anak perusahaan CIMB Group. Dengan begitu, saham Khazanah di BHCB akan meningkat dari 22,7 persen menjadi 27,1 persen. Dalam penggabungan usaha antara Bank CIMB Niaga dan Bank Lipppo (dimana Bank CIMB Niaga akan menjadi instuisi yang dipertahankan dalam proses ini). Pemegang saham Bank Lipppo akan menerima 2.822 saham baru Bank CIMB Niaga sebagai kompensasi dari setiap 1000 saham Bank Lippo yang dimilikinya. CIMB Group akan menjalankan fasilitas siaga untuk membeli saham Bank CIMB Niaga dan Bank Lippo senilai masing-masing Rp 1052 dari Rp 2969 per saham dari pemegang saham minoritas kedua bank tersebut yang memilih untuk tidak memiliki saham di Bank CIMB Niaga, bank hasil penggabungan usaha.

Proses merger diperkirakan menelan dana sebesar Rp 1,112 triliun yang diambil dari dana internal CIMB, dengan perincian pengeluaran, 30 persen dikeluarkan pada tahun 2008. Pada 2009 dialokasikan 38% dan sisanya dikeluarkan pada 2010.

Dampak Positif
1. Pertukaran cadangan cash flow secara internal antar perusahaan yang melakukan merger, sehingga bank hasil merger dapat memanage risiko likuiditas dengan lebih fleksibel. 2. Diperolehnya peningkatan modal perusahaan (biasanya CAR akan meningkat tetapi tidak terlalu cukup tinggi) dan adanya keunggulan dalam memanage biaya akibat bertambahnya skala usaha.Efisiensi perusahaan dapat dilakukan lebih lanjut, khususnya dalam efisiensi biaya provisi kredit. 3. Dicapainya keunggulan market power dalam persaingan, yang kemudian dapat memperbesar margin bunga pinjaman.

Dampak Negatif
1. Kemungkinan timbulnya kesenjangan antara proses akumulasi dana pihak ketiga dan proses penyalurannya untuk kepentingan perekonomian lokal dan nasional. 2. Proses merger perbankan nasional di Indonesia biasanya diikuti dengan pengurangan jumlah pegawai dan staf kurang profesional di perusahaan perbankan hasil merger. 3. Terjadinya benturan kepentingan, kondisi saling curiga dan bahkan konflik diantara para anggota komisaris dan direksi. Hal ini terjadi jika bank hasil merger tersebut dikuasai oleh lebih satu pemegang saham pengendali.
5

DAFTAR PUSTAKA
Koryanto, Lucky.2009.Tugas Komputerisasi Akuntansi Keuangan dan Manajemen.Universitas Gunadharma. http://maindakon.blogspot.com/2012/06/merger-perusahaan-cimb-niaga-merger.html http://www.cimbniaga.com http://www.anneahira.com/bank-niaga.htm http://id.wikipedia.org/wiki/Bank_CIMB_Niaga