Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kalimantan Barat dengan wilayah 146.

807 km2 atau 7,6 % dari luas daratan Indonesia, merupakan wilayah yang sangat kaya akan sumber daya alam, yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidupnya. Dengan demikian

sumber daya alam memiliki peran ganda, yaitu sebagai modal pertumbuhan ekonomi (resource based economy) dan sekaligus sebagai penopang sistem kehidupan (life support system). Sebagai modal SDA lebih menekankan aspek pengelolaan dan pendayagunaan bumi,air,dan dirgantara, sedangkan sebagai penopang sistem kehidupan lebih menitikberatkan pada aspek pelestarian dan perlindungan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Keduanya mengandung tujuan yang sama yaitu upaya terpadu untuk melestarikan dan memanfaatkan sumber daya yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup. Berkembang atau majunya suatu tempat/negara tergantung pada Keadaan ketenaga kerjaan, sangat berpengaruh pada penduduk yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan memiliki pengalaman kerja, serta umur yang sudah dianggap boleh kerja. Semakin banyaknya pertumbuhan penduduk maka lapangan pekerjaan sangat diperlukan oleh penduduk. Apabila lapangan pekerjaannya kurang maka akan menyebabkan pengangguran dan kemudian akan terjadi kemiskinan pada suatu provinsi tersebut. Ketenaga kerjaan membutuhkan pendidikan dalam menjalankan suatu visi dan misi. Karena majunya suatu negara itu tergantung pada tingkat pendidikan yang dimiliki oleh penduduk disekitarnya. Oleh sebab itu pentingnya suatu negara memiliki tingkat pendidikan yang baik, lapangan pekerjaan, agar dapat menciptakan ketenaga kerjaan yang terkualifikasi, dan juga suatu negara dapat menjadi makmur. Kenyataan yang terjadi, dimana kondisi Kalimantan Barat dengan tingkat pengangguran yang relatif rendah dibandingkan dengan Kalimantan lainnya, tetapi tingkat kemiskinan paling tinggi dari provinsi Kalimantan lainnya.

Berdasarkan data BPS, tahun 2009 tingkat pengangguran terbuka di Kalimantan Barat (5,44%) relatif lebih rendah di bandingkan Kalimantan Selatan (6,36%) dan Kalimantan Timur (10,83%), lebih tinggi dari Kalimantan Tengah (3,39%). Tingkat kemiskinan di Kalimantan Barat (9,30%) lebih tinggi dari Kalimantan lainnya, dimana Kalimantan Tengah (7,02%), Kalimantan Selatan (5,12%) dan Kalimantan Timur (7,73%). Fenomena lain yang terjadi di Kalimantan Barat adalah penyerapan tenaga kerja tertinggi Kabupaten Pontianak (304.761 jiwa) dan terendah Kota Singkawang (68.363 jiwa) tetapi tingkat kemiskinan tertinggi Kabupaten Landak (18,65%) dan terendah Kabupaten Sanggau (6,25%). Kota/Kabupaten dengan tingkat penyerapan tenaga kerja terbesar ternyata tidak diimbangi dengan tingkat kemiskinan yang rendah. B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalahnya adalah: 1. Keadaan ketenaga kerjaan 2. Masalah-masalah ketenaga kerjaan dipengaruhi oleh: a. Aktivitas Perekonomian b.Menejemen Sumber Daya Manusia c. Pendidikan 3. Bagaimana mengatasi masalah ketenaga kerjaan? 4. Bagaimana kebijakan pemerintah? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui keadaan ketenaga kerjaan di provinsi kalimantan Barat 2. Untuk mengetahui masalah-masalah dalam ketenaga kerjaan 3. Untuk mengetahui cara mengatasi masalah-masalah ketenaga kerjaan 4. Untuk mengetahui cara mengatasi masalah-masalah ketenaga kerjaan tersebut

BAB II PEMBAHASAN A. Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi Kalimantan Barat Jumlah angkatan kerja pada Februari 2012 mencapai 2.258 ribu Orang, bertambah sekitar 25 ribu. orang dibandingkan jumlah angkatan kerja pada Agustus 2011 sebesar 2.233 ribu orang, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) keadaan Februari 2012 sebesar 74,5 persen, kondisi ini naik sedkit dibandingkan dengan keadaan Agustus 2011 yaitu sebesar 73,9 persen. Jumlah Penduduk yang bekerja pada Februari 2012 mencapai 2.182 ribu orang, bertambah 32,3 ribu orang jika dibandingkan dengan keadaan Agustus 2011 sebesar 2.150 ribu orang, dan naik 42.8 ribu orang jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2011 sebesar 2.100 ribu orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Kalimantan Barat pada Februari 2012 mencapai 3,4 persen, turun 0,5 poin dibandingkan keadaan Agustus 2011 yang besarnya 3,9 persen, dan mengalami penurunan 1,6 poin terhadap keadaan Februari 2011 yang besarnya 5,0 persen. Situasi ketenagakerjaan setahun terakhir (Februari 2012 Februari 2011) ditandai dengan naiknya penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian naik 37 ribu orang, sektor industri 27 ribu orang, tetapi mengalami penurunan pada sektor Jasa jasa yaitu sebesar 36 ribu orang. Pada Februari 2012, jumlah penduduk yang bekerja sebagai buruh/karyawan sebesar 571 ribu orang (26,2 persen), berusaha dibantu buruh tidak tetap sebesar 502 ribu orang (22 persen) dan berusaha sendiri sebanyak 388 ribu orang (17,8 persen). Berdasarkan jumlah jam kerja pada Februari 2012, sebesar 1.294 ribu orang (59,3 persen) bekerja diatas 35 jam perminggu naik 0,7 persen dibandingkan dengan Februari 2011, sedangkan yang bekerja kurang dari 8 jam sebanyak 19,9 ribu orang (1 persen), turun 0,5 persen dibanding Februari 2011.

Pada Februari 2012, pekerja pada jenjang pendidikan SD kebawah masih tetap mendominasi yaitu sebesar 1.358 ribu orang (62,2 persen), naik 1,9 persen dibanding tahun sebelumnya, sementara yang berpendidikan SLTP & SLTA sebanyak 748 ribu orang (34,3 persen), dan Diploma dan Sarjana sebanyak 76 ribu orang( 3,5 persen). B. Masalah-Masalah Dalam Ketenaga Kerjaan Kondisi Kalimantan Barat dengan tingkat pengangguran yang relatif rendah dibandingkan dengan Kalimantan lainnya, tetapi tingkat kemiskinannya paling tinggi dibandingkan dengan Kalimantan lainnya. Pontianak (304.761 jiwa) dan terendah Kota Singkawang (68.363 jiwa) tetapi tingkat kemiskinan tertinggi Kabupaten Landak (18,65%) dan terendah Kabupaten Sanggau (6,25%). Kota/Kabupaten dengan Fenomena lain yang terjadi di Kalimantan Barat adalah penyerapan tenaga kerja tertinggi Kabupaten tingkat penyerapan tenaga kerja terbesar ternyata tidak diimbangi dengan tingkat kemiskinan yang rendah. Hal ini dipengarhi oleh manajemen ketenaga kerjaan, pendidikan dan aktivitas perekonomian. a. Aktivitas Perekonomian Untuk Tantangan perekonomian Kalbar dalam 20 Tahun mendatang adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi secara berkelanjutan dan berkualitas mewujudkan secara nyata peningkatan kesejahteraan sekaligus mengejar ketertinggalan dari daerah-daerah lain yang lebih maju. Secara eksternal, tantangan pembangunan daerah dihadapkan pada situasi semakin kompetitifnya perekonomian antar daerah dan regional serta semakin derasnya mobilitas sumber daya ekonomi. Basis kekuatan ekonomi daerah yang mengandalkan ekspor bahan mentah, ke depan perlu diubah menjadi perekonomian daerah yang mengandalkan keterampilan SDM dan produk bernilai tambah tinggi serta berdaya saing.

Perkembangan ekonomi di kawasan regional dan negara tetangga SarawakMalaysia merupakan salah satu fokus utama yang perlu dipertimbangkan didalam mengembangkan daya saing perekonomian daerah. Globalisasi membawa konsekwensi bagi Kalbar untuk menciptakan lingkungan perekonomian yang semakin kondusif. Tantangan demikian perlu diantisipasi dengan perbaikan infrastruktur sosial ekonomi dan pengembangan kelembagaan yang efisien untuk meningkatkan kegiatan investasi swasta (domestik dan asing). Tantangan lainnya pengembangan subsistem agribisnis untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk pertanian. Kontribusi sektor pertanian Kalbar yang relatif besar selama selama ini menjadikan sektor pertanian terutama subsektor perkebunan menjadi dasar yang kuat yang harus dikembangkan ke depan. Tantangan struktural lainnya adalah pengembangan kegiatan industri daerah, yakni dengan memperkuat basis industri pengolahan hasil pertanian, perkebunan, kelautan/perikanan, dan hasil tambang/galian lokal. Pengembangan UMKM dan Koperasi semakin dihadapkan pada upaya untuk menjadikannya sebagai pelaku ekonomi yang produktif dan berdaya saing. Pengembangan dilaksanakan dengan meletakkan ekonomi kerakyatan sebagai tulang punggung perekonomian daerah, dengan meningkatkan kemandirian usaha, meningkatkan skala ekonomi, memantapkan kemitraan pada sesama pelaku ekonomi/dunia usaha, penguatan jaringan pemasaran dan promosi hasil produksi. Tantangan untuk memecahkan masalah kemiskinan di Kalbar perlu dilaksanakan secara berkesinambungan pada pemenuhan hak-hak dasar rakyat yaitu hak sosial, budaya, ekonomi dan politik, serta keberpihakan dalam perencanaan dan penganggaran, peningkatan sinergi dan koordinasi kebijakan pemerintah provinsi dan kabupaten dalam berbagai upaya penanggulangan kemiskinan. b. Manejemen Sumber Daya Manusia

Sumber Daya Manusia sangat diperlukan dalam ketenaga kerjaan untuk mengelola Sumber Daya Alam yang tersedia. Maka dari itu untuk mengelola sumber Daya diperlukan SDM yang berkualitas, agar terciptanya ketenaga kerjaan yang maksimal. Menejemen Sumber Daya Manusia. Untuk mengelola sumber daya diperlukan penyusunan kepegawaian organisasi, memotivasi pegawai, memimpin pegawai, komunikasi dengan pegawai, mengatur kelompok kerja dan mengevaluasi kinerja yang disebut dengan fungsi manajemen. Manajemen sumber daya manusia strategis merupakan suatu kunci bagi perusahaan untuk memperoleh persaingan yang berkelanjutan dengan mengintegrasikan manajemen sumber daya manusia dan strategi bisnis. Peningkatan kompetensi dalam perusahaan khususnya sumber daya manusia (SDM) adalah elemen utama untuk mencapai kesuksesan perusahaan dan keterlibatan SDM dalam pengembangan dan pelaksanaan strategi bisnis akan menciptakan efektifitas organisasi dalam industri. Manajemen sumber daya manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari manajemen suatu organisasi. Kegunaan manajemen sumber daya manusia adalah untuk meningkatkan kontribusi orang pada organisasi dalam cara-cara yang secara strategis, etis, dan sosial dapat dipertanggung jawabkan. Manajemen sumber daya manusia memberikan sumbangan secara langsung pada peningkatan produktivitas melalui penemuan cara-cara yang lebih efisien dan efektif untuk mencapai tujuan dan secara tidak langsung melalui peningkatan mutu kehidupan kerja karyawan. Fungsi dari manajemen sumber daya manusia menurut Fisher (1993) adalah setiap fungsional dalam sumber daya manusia dengan banyak aktivitas harus unggul sehingga organisasi dapat memberikan kontribusi yang optimal menuju organisasi sukses. Manajemen sumber daya manusia merupakan suatu sistim yang terdiri dari banyak kegiatan yang saling tergantung (interdependent).

Kinerja Perusahaan Kinerja adalah suatu hasil prestasi kerja optimal yang dilakukan oleh seseorang ataupun kelompok ataupun badan usaha. Pengukuran kinerja secara tradisional adalah pengukuran kinerja yang berorientasi kepada bidang keuangan dan kemampuan untuk mendapatkan laba. Suatu perusahaan dikatakan mempunyai

kinerja yang baik kalau dalam laporan keuangannya mendapat keuntungan, sesuai dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya. Menejemen SDM sangat berpengaruh pada kinerja.

Pendidikan Tingkat pendidikan juga diperlukan dalam ketenaga kerjaan, karena untuk menciptakan kinerja dalam suatu provinsi untuk menjadi lebih baik. Untuk menjadikan suatu provinsi agar lebih makmur dari provinsi lainnya, maka diperlukan lapangan kerja, tingkat pendidikan, serta Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia. Sedangkan diketahui Kalimantan Barat tingkat pendidikannya masih rendah.

Data pendidikan di Kalimantan Barat

Permasalahan Pokok Pendidikan Kalimantan Barat 1. Keterbatasan akses pendidikan, 2. Rendahnya mutu, relevansi, dan daya saing keluaran (output) pendidikan, dan 3. Tata kelola, pencitraan publik, dan akuntabilitas berbagai kegiatan yang ada di sekolah. Arah Pembangunan Pendidikan Kalbar 1. Perluasan akses dan pemerataan layanannpendidikan 2. Peningkatan mutu dan daya saing lulusan 3. Penguatan tata kelola, pencitraan publik, dan akuntabilitas persekolahan

Tingkat Pengangguran Pengertian pengangguran adalah penduduk yang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan atau sedang mempersiapkan suatu usaha atau penduduk yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan atau yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum memulai bekerja (BPS:2010). Tabel 1, menggambarkan tingkat pengangguran terbuka di kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat selama tahun 2005 sampai tahun 2010, dengan tingkat

pengangguran rata-rata 6,43%. Selama beberapa tahun, tingkat pengangguran di Kalimantan Barat turun, dimana tahun 2005 sebesar 8,13% dan tahun 2010 sebesar 4,62% dan semua kabupaten/kota tingkat penganggurannya turun. Beberapa daerah mampu menekan tingkat penganggurannya sehingga turun dengan cukup tinggi. Seperti Kota Pontianak tahun 2005 dengan tingkat pengangguran 16,86% dan tahun 2010 turun menjadi 7,79%. Kabupaten Bengkayang tahun 2005 tingkat pengangguran 8,52% dan tahun 2010 dengan tingkat pengangguran 3,21%. Kabupaten Ketapang tahun 2005 dengan tingkat pengangguran 10,27% dan tahun 2010 menjadi 3,90%. Kabupaten Sintang tahun 2005 sebesar 7,03% dan tahun 2010 turun menjadi 2,32%. Tahun 2010 hanya Kota Pontianak (7,79%), Kota Singkawang (8,05%) dan Kabupaten Pontianak (7,80%) dengan tingkat pengangguran di atas tingkat pengangguran Provinsi Kalimantan Barat (4,62%). Sedangkan kabupaten lainnya dengan tingkat pengangguran rendah dibawah provinsi. Tingkat pengangguran terendah Kabupaten Melawi (1,33%).

Jika diperbandingkan antara daerah kabupaten dengan kota, ternyata tingkat pengangguran di Kota Pontianak dan Kota Singkawang relatif lebih tinggi di bandingkan dengan daerah kabupaten. Hal ini dikarenakan, sebagai daerah perkotaan tidak bisa menghindari arus urbanisasi (migrasi), sehingga

perkembangan jumlah penduduk yang cepat diperkotaan tidak diikuti dengan

tersedianya lapangan pekerjaan yang cukup, akibanya timbul pengangguran. Sedangkan untuk daerah kabupaten yang sebagian besarnya tingkat pengangguran relatif rendah. Walaupun dengan pendidikan yang relatif rendah, tersedianya sektor primer di pedesaan yang untuk memasuki lapangan pekerjaan ini tidak dengan persyaratan khusus, sehingga mempermudah penduduk untuk bekerja, dengan demikian tingkat pengangguran kabupaten lainnya relatif lebih rendah. Tingkat kemiskinan Pengangguran di Kalimantan Barat lebih rendah dibandingkan dengan kalimantan lainnya. Sedangkan tingkat kemiskinannya lebih banyak dibandingkan dengan kalimantan lainnya. Kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar, karena kemiskinan menyangkut pemenuhan kebutuhan yang paling mendasar dalam kehidupan. Dan kemiskinan merupakan masalah global karena kemiskinan merupakan masalah yang dihadapi banyak negara. Kemiskinan juga merupakan problema

kemanusiaan yang menghambat kesejahteraan dan peradapan, sehingga semua orang sepakat bahwa kemiskinan harus ditanggulangi. Strategi penanggulangan kemiskinan berhubungan dengan tersedianya data kemiskinan yang akurat, supaya kebijakan yang dilakukan pemerintah menjadi tepat sasaran.

Tabel 2, menggambarkan tingkat kemiskinan kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat. Secara rata-rata tingkat kemiskinan di Kalimantan Barat 11,90%, artinya 11,90% dari penduduk Kalimantan Barat adalah penduduk miskin. Sejak tahun 2005 sampai tahun 2010 rata-rata tingkat kemiskinan turun walaupun berfluktuasi. Tahun 2005 tingkat kemiskinan di Kalimantan Barat sebesar 14,24% dan tahun 2010 sebesar 9,10%. Secara umum tingkat kemiskinan kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat turun. Ada 7 (tujuh) kabupaten dengan tingkat kemiskinan di atas tingkat kemiskinan rata-rata Provinsi Kalimantan Barat yaitu Kabupaten Sambas (12,90%), Kabupaten landak (21,14%), Kabupaten Pontianak (21,45%), Kabupaten Ketapang (16,65%), Kabupaten Sintang (15,15%), Kabupaten Kapuas Hulu (13,75%) dan Kabupaten Melawi (17,23%). Sedangkan Kabupaten/kota lainnya dengan tingkat kemiskinan di bawah tingkat kemiskinan Provinsi Kalimantan Barat. Tahun 2010 tingkat kemiskinan tertinggi di kabupaten Landak (14,06%) dan tingkat kemiskinan terendah (5,02%). 3. Mengatasi masalah ketenaga kerjaan Dengan perluasan akses dan pemerataan memperoleh peroleh layanan pendidikan, Mensosialisasikan Wajar dikdas dan pemberantasan buta aksara. Membangun USB mulai dari TK s.d. SLTA. Menyelenggarakan program PAUD. Membangun persekolahan satu atap. Memberikan beasiswa dan bantuan bagi siswa kurang mampu. Merehabilitasi sekolah. Membangun asramaasrama di daerah pemukiman yang terpencar untuk siswa maupun guru. Menggalakkan proram orang tua asuh. Mendorong pemerintah daerah untuk segera melaksanakan program mobile teacher untuk mengatasi masalah pemerataan penempatan tenaga guru.

Mendorong pemerintah daerah untuk merancang regulasi tentang pemutasian guru berdasarkan lama bertugas pada suatu tempat. Meningkatkan mutu, relevansi, dan daya saing 1. Memberikan subsidi peralatan laboratorium dan TIK, buku perpustakaan, alat kesenian dan olah raga, dll. 2. Memberikan bantuan kesejahteraan bagi tenaga didik, yang bertugas di daerah terpencil. 3. Melaksanakan kegiatankegiatan diklat dan lokakaya guru untuk guru. 4. Meningkatkan kualifikasi dan kompetensi tenaga didik melalui pendidikan lanjut (S1) bekerja sama dengan perguruan tinggi. 5. Melaksanakan lombalomba, festival, dan olimpiade berbagai bidang pembelajaran. 6. Mengintensifkan persiapan dan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dan UASBN yang semakin berkualitas berdasarkan prinsip fairness (jujur dan obyektif). 7. Meningkatkan jumlah sekolah yang berkategorikan Mandiri (SSN), RSBI, dan SBI di semua kabupaten/kota. Penguatan tata kelola, pencitraan publik, dan akuntabilitas 1. Meningkatkan kualitas pelaksanaan Monev Internal ditingkat sekolah dan kabupaten/kota secara periodik dan berkelanjutan. 2. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana yang efisien, tepat sasaran, dan tepat waktu.

4. Kebijakan pemerintah dalam mengatasi masalah ketenaga kerjaan

BAB III PENUTUP Kesimpulan Jadi semakin banyak pertumbuhan penduduk maka lapangan kerja yang tersedia juga banyak, serta dalam ketenaga kerjaan sangat diperlukan tingkat pendidikan yang berkulitas agar dapat terciptanya negara/provinsi yang makmur. Agar sumber daya yang ada dapat dikelola dengan baik oleh ketenaga kerjaan yang memiliki Sumber Daya Manusia.

Saran Pemerintah sebaiknya segera menciptakan lapangan kerja yang secukupnya, dan memberi kesempatan kerja pada penduduk/masyarakat yang telah lulus atau tamat sekolah. Agar sumber daya yang ada dapat terolah dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA BPS Provinsi Kalimantan Barat. 2012. Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi

Kalimantan Barat. No. 28/05/61/Th. XIV, 7 Mei 2012